Selisih Tipis Pilkada Sumenep Berbuah Saling Klaim Kemenangan

PILKADA SUMENEP

Pasangan A Busyro Karim dan A Fauzi (kiri), pasangan Zainal Abidin-Dewi Khalifah (kanan)

Sumenep (Sergap) – Pilkada Kabupaten Sumenep terasa lebih hangat dibanding Pilkada Serentak lainnya di Jawa Timur. Pasalnya dua pasangan calon bupatinya, yaitu A Busyro Karim-A Fauzi dan Zainal Abidin-Dewi Khalifah, saling menyatakan memenangi pilkada sesuai hasil penghitungan internal mereka masing-masing.

Tim Pemenangan Busyro-Fauzi menggelar jumpa pers tentang hasil hitung cepat yang dilakukan konsultannya dan hasil hitung riil berbasis laporan saksi di masing-masing tempat pemungutan suara (TPS).

“Kami tidak dalam posisi ingin mendahului rekapitulasi penghitungan perolehan suara pilkada yang akan dilakukan KPU Sumenep. Namun, sesuai hasil hitung cepat maupun hitung riil, perolehan suara kami memang unggul,” ujar Busyro di Sumenep, Kamis (10/12/2015).

“Saat ini memang terjadi saling klaim memenangi pilkada dan itu boleh-boleh saja. Sekali lagi, kami siap menunggu rekapitulasi perolehan suara di KPU Sumenep yang merupakan hitungan resmi. Namun, klaim kami didukung dengan data riil,” kata Busyro.

Sementara itu Direktur Lembaga Survei “Terukur”, A Hasan Ubaid dalam jumpa pers menjelaskan, sesuai hasil hitung cepat berdasar hasil perolehan suara di 400 TPS yang menjadi sampel, pasangan Busyro-Fauzi meraih 50,97 persen dan Zainal Abidin-Dewi Khalifah meraih 49,03 persen.

“Hasil hitung cepat tersebut linier dengan hasil hitung riil berdasar fomulir hasil penghitungan perolehan suara di masing-masing TPS dari saksi pasangan Busyro-Fauzi,” ujarnya.

Sesuai hasil hitung riil dari saksi di 2.400 TPS itu, pasangan Busyro-Fauzi memperoleh 299.274 suara atau 50,79 persen dan Zainal Abidin-Dewi Khalifah memperoleh 289.884 suara atau 49,21 persen.

“Dalam konteks itu, kami optimistis pasangan Busyro-Fauzi yang akan memenangi pilkada. Kami juga telah meminta pasangan Busyro-Fauzi untuk benar-benar mengawal proses yang berlangsung di KPU Sumenep dan jajarannya guna mengamankan perolehan suara tersebut,” kata Hasan yang lembaga surveinya menjadi konsultan pasangan Busyro-Fauzi.

Sementara itu, Sekretaris Tim Pemenangan Zainal Abidin-Dewi Khalifah, A Zahrir Ridla memastikan perolehan suara kandidatnya unggul dibanding pasangan Busyro-Fauzi. “Perolehan suaranya pada posisi 52,7 persen untuk pasangan Zainal Abidin-Dewi Khalifah dan 47,3 persen untuk Busyro-Fauzi,” ujarnya.

Ia berharap warga Sumenep tidak terpengaruh dengan adanya saling klaim memenangi pilkada, karena hitungan resmi atas hasil pilkada adalah rekapitulasi perolehan suara yang dilakukan KPU Sumenep sebagai penyelenggara pilkada.

“Mari bersama-sama menunggu rekapitulasi perolehan suara hasil pilkada tingkat kabupaten di KPU Sumenep. Saling klaim itu merupakan hal yang wajar,” kata Zahrir Ridla menambahkan.

Sebelumnya, Komisioner KPU Sumenep, A Zubaidi meminta warga setempat untuk menunggu hasil penghitungan perolehan suara secara resmi yang akan dilakukan oleh lembaganya guna mengetahui pasangan calon yang memenangi pilkada.

Sesuai jadwal di KPU Sumenep, rekapitulasi penghitungan perolehan suara tingkat kecamatan oleh masing-masing PPK dan penyampaian hasilnya ke KPU kabupaten pada 10-16 Desember 2015.

Sementara rekapitulasi penghitungan dan penetapan perolehan suara di tingkat kabupaten oleh KPU setempat dan penyampaian hasilnya ke KPU provinsi pada 16-18 Desember 2015.

Pilkada Sumenep 2015 yang digelar pada Rabu (9/12/2015) diikuti oleh dua pasangan, yakni A Busyro Karim-A Fauzi di nomor urut 1 (satu) dan Zainal Abidin-Dewi Khalifah di nomor urut 2 (dua). (hosni)

 

Sudah Praktek 15 Tahun, Dokter Gadungan Ditangkap Polisi

dokter gadungan wbSumenep (Sergap) – Mahmud Wuhaibi (51), warga Dusun Lebak, Desa Jungtorodaya, Kecamatan Ambunten Timur, Sumenep, Madura, sekitar pukul 21.00 WIB digerebek aparat Subdit Tipiter Ditreskrimsus Polda Jatim. Mahmud Wuhaib digelandang ke Mapolda Jatim katena telah membuka praktik layaknya dokter hanya berbekal pernah menjadi perawat selama dua tahun di RS Syaiful Anwar, Malang.

“Tersangka langsung dibawa dan sudah ditahan di Polda Jatim. Sejumlah peralatan medis, rekam medis pasien, beserta berbagai obat dari balai pengobatan tersebut juga disita sebagai barang bukti. Penggerebekan ini berdasar laporan masyarakat. Dan ternyata benar, bahwa praktik tersebut ilegal,” kata Kabid Humas Polda Jatim, Kombes Pol Awi Setiyono, Senin, (08/09/2014). Saat penggerebekan, ada dua orang pasien yang sedang menjalani perawatan di sana. Keduanya pun harus dirujuk ke puskesmas setempat karena tempat ini digeledah polisi.

Kepada aparat, Mahmud Wuhaibi mengaku sudah melakukan praktik layaknya dokter selama 15 tahun.  Mahmud Wuhaibi mengakui, dirinya sama sekali tidak memiliki surat tanda resgistrasi dokter, karena memang dia bukan seorang dokter.

Tersangka juga Wuhaibi mengaku bisa mengobati pasien hanya bermodal pengalaman. Ia pernah kuliah di Akademi Perawat (Akper) Malang lulus tahun 1984, kemudian dua tahun di RS Syaiful Anwar, Malang. “Setiap saya pulang, tetangga yang tahu saya kerja di rumah sakit minta diperiksa. Dan ternyata banyak yang jodoh, banyak yang sembuh setelah saya periksa dan saya kasih obat,” ujarnya.

Balai pengobatan milik Mahmud Wuhaibi, selain melayani pengobatan umum, juga melayani rawat inap, karena itu berbagai peralatan medis dan beragam jenis obat juga disediakan di balai pengobatan itu. Praktik layaknya dokter dilakukannya sejak tahun 1999 dan semakin hari, praktiknya semakin laris, karena itu sejak tahun 2010, ia mulai melayani rawat inap.

Seakan menggambarkan “kesuksesannya” rumah dokter gadungan ini bertingkat menjulang tinggi, paling tinggi dibanding rumah tetangga sekitarnya. Usai penggrebekan rumah itu nampak sepi. Terlihat ada empat motor yang diparkir di depan ruang praktek dan dua mobil terparkir di sisi barat. Penerangan lampu dari berbagai sudut rumah, baik dilantai dasar maupun di lantai atas cukup banyak, sehingga kemegahan rumah dokter gadungan terlihat jelas.

Sebelumnya, petugas Polda Jatim membekuk Wahbi (43), warga Dusun Lebak, Desa Ambunten Timur, Kecamatan Ambunten, Kabupaten Sumenep, pukul 21.15 Wib, Senin (8/9/2014) yang diduga kuat menjalankan praktek penyembuhan pada pasien dengan cara menggunakan alat-alat medis. Wahbi akhirnya digelandang ke Polda Jatim berikut barang bukti, antara lain perangkat alat praktek dokter dan tabung oksigen

“Warga disini memang mengenal dia sebagai perawat. Tapi kabarnya, dia itu tidak sampai lulus sekolah keperawatan karena berhenti di tengah jalan,” kata Kadar, salah satu warga Ambunten, Selasa (09/09/14). Tetapi tempat praktiknya selalu dibanjiri pasien, meski tidak memasang papan resmi klinik pengobatan. Pasien yang datang tidak hanya warga Ambunten, tetapi juga dari kecamatan-kecamatan lain. Bahkan tidak sedikit pasien yang menjalani rawat inap di tempat praktek Wahbi.

“Setiap hari pasiennya banyak. Ada yang cuma rawat jalan, tapi tidak sedikit juga yang rawat inap. Kan di rumahnya itu memang ada banyak kamar untuk rawat inap,” ujarnya.

Menurutnya, banyak warga yang merasa cocok dan sembuh setelah berobat ke tempat praktek Mahmud Wuhaibi. “Orang sini bilang, banyak yang jodoh. Jadi orang-orang itu malah lebih suka berobat ke Wahbi daripada ke Puskesmas,” ungkapnya.

Kadar menambahkan, bahwa Mahmud Wuhaibi tidak sekedar untuk berobat biasa, tetapi juga melakukan operasi pengangkatan tumor. “Peralatannya lengkap kok. Obat-obatannya juga pakai resep,” paparnya. (hos)

Gudang Garam Dianggap Lambat Membeli Tembakau

Tembakau Madura

Sumenep, Sergap  – Petani tembakau mengeluhkan rendahnya harga tembakau yang dibeli oleh gudang perwakilan PT Gudang Garam Tbk Kediri di Desa Gedungan, Sumenep. Mereka menduga ada permainan harga yang membuat harga tembakau menjadi murah.

Freddy Kustianto, Wakil Kuasa Pembelian Tembakau PT Gudang Garam Tbk Kediri di Desa Geddungan, Sumenep, Sabtu (1/9), mengatakan bahwa memang masih menyerap tembakau rajangan gunung dan tegal gunung sebanyak 225 ton, dari target pembelian tahun 2012 yang dipatok 2.000 ton tembakau. “Sudah 225 ton tembakau yang terbeli. Proses pembelian tetap berlangsung dari pagi hingga sore hari. Ini jumlah sementara yang sempat kita catat hingga saat ini,” kata Freddy.

Tentang harga, Freddy menjelaskan, harga tertinggi saat ini Rp 35.000 per kilo gram (kg) dan mayoritas tembakau yang masuk ke PT Gudang Garam Tbk adalah dengan harga Rp 27.000 per kg. “Karena kualitas tembakau terus membaik, maka harga juga ada kenaikan dari patokan awal yakni dari Rp 33.000 naik menjadi Rp 35.000 per kg,” ujarnya.

Menurut dia, kualitas tembakau semakin bagus, karena petani panen tepat waktu. “Kalau diawal panen, banyak tembakau yang belum waktunya sudah di panen, sehingga hasil rajangannya juga tidak bagus dan kelihatan hijau,” terangnya.

Dia berharap mudah-mudahan tidak terjadi penguapan air bawah tanah sampai panen tembakau tuntas. Sebab, jika terjadi penguapan air akan berdampak tidak bagus terhadap kualitas tembakau. “Penguapan air bawah tanah sebenarnya terjadi setiap tahun, harapan saya semoga panen tembakau selesai dulu la,” katanya.

Harga tembakau yang dipatok PT Gudang Garam Tbk disesuaikan dengan kualitas tembakau yang dipanen saat itu. “Jadi, tidak ada kenaikan harga karena tekanan. Kalau memang kualitas tembakaunya bagus ya harganya juga naik. Kalau memang kualitasnya tidak cocok dengan selera GG tentu tidak akan dibeli,” pungkasnya.

Sumenep sempat digoyang dua unjuk rasa terkait dengan murahnya harga tembakau di wilayah itu dan adanya dugaan permainan harga yang dilakukan kuasa pembelian dari pabrikan. Pabrikan mematok harga Rp 21.000 sampai Rp 33.000 per kg, namun harga ditingkat petani tertinggi hanya kisaran Rp 12.000 sampai Rp 26.000. (hos)

Dana Sertifikasi Guru Hanya Cair 90 Persen

Pencairan dana sertifikasi (ill)

Sumenep, Sergap – Profesi guru saat ini penuh fasilitas dan berbagai tunjangan. Namun tampaknya para guru itu belum bisa menikmatinya secara maksimal. Berbagai berita tentang dugaan pungli mewarnai pembayarannya. Rata-rata mereka tak berani protes terhadap tindakan curang para atasannya.

Di Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur, para guru yang berhak menerima tunjangan profesi pendidik, hanya akan menerima 90 persen dari hak mereka. Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Sumenep, A Masuni, Selasa, (12/06/2012) menjelaskan, besaran dana sertifikasi bagi guru penerima seharusnya satu kali gaji pada bulan Desember 2009 lalu ditambah kenaikan gaji lima persen.

“Namun, untuk sementara dana sertifikasi yang akan dicairkan kepada guru penerima hanya 90 persen dari gaji bulan Desember 2009, karena dana dari pemerintah pusat yang masuk ke kas daerah memang belum 100 persen,” katanya di Sumenep.

Guru yang berstatus pegawai negeri sipil (PNS) di Sumenep yang akan menerima dana sertifikasi pada tahun ini sebanyak 2.066 orang. “Dana sertifikasi dari pemerintah pusat yang sudah masuk ke kas daerah sebesar Rp. 29,81 miliar lebih yang merupakan jatah Januari-Maret dan April-Juni 2011,” ujarnya menerangkan.

Setelah dihitung dengan jumlah guru yang akan menerima dana sertifikasi, ternyata nominalnya tidak sampai satu kali gaji pada bulan Desember 2009 lalu.

“Oleh karena itu, kami memutuskan dana sertifikasi tetap dicairkan dengan besaran hanya 90 persen dari gaji bulan Desember 2009 sekaligus melaporkan kepada pemerintah pusat tentang belum 100 persennya realisasi pencairan dana sertifikasi bagi guru di Sumenep,” paparnya.

Ia mengatakan, kekurangan dana sertifikasi jatah Januari-Maret dan April-Juni 2011 akan dikompensasi pada pencairan dua triwulan berikutnya (Juli-September dan Oktober-Desember).

“Kami sudah menyosialisasikan rencana pencairan dana sertifikasi yang hanya 90 persen itu kepada jajaran kami di kecamatan sekaligus supaya dimaklumi. Pencairan 90 persen dana sertifikasi itu bukan karena 10 persennya dipotong oleh kami, melainkan memang ada kekurangan dana,” ucapnya menegaskan.

Masuni juga mempersilakan para guru di Sumenep yang merasa kebingungan tentang rencana pencairan dana sertifikasi jatah Januari-Maret dan April-Juni 2011 yang hanya 90 persen itu untuk mendatangi dirinya di Kantor Dinas Pendidikan Sumenep.

“Untuk menghindari fitnah atau hal-hal tak diinginkan, kami minta para guru penerima dana sertifikasi yang masih bingung soal itu untuk bertanya langsung kepada kami di kantor. Tidak akan ada pemotongan dana sertifikasi bagi guru,” katanya mengungkapkan.

Saat ini, pihak terkait di Disdik Sumenep masih berusaha menyelesaikan proses administrasi guna mencairkan dana sertifikasi bagi guru yang telah menerima surat keputusan (SK) sebagai penerima tunjangan profesi pendidik (TPP).

“Untuk sementara hingga sekarang, baru 1.492 dari 2.066 guru PNS yang telah mengantongi SK TPP. Nantinya, pencairana dana sertifikasi melalui transfer rekening melalui bank yang telah ditunjuk,” ujar Kasi Ketenagaan dan Kepengawasan Disdik Sumenep, M Kadarisman, menambahkan. (hosni)