Buyut Gus Dur dan Mitos Sunan Kalijaga Dalam Susur Wisata Religi Grobogan

Masjid Sirojudin

Masjid Sirojudin

Grobogan (Sergap) – Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai sejarah bangsanya. Berawal dari itu, maka Komunitas Grobogan Corner (GC), Komunitas I Love Gubug (KILG), Forum Masyarakat Peduli Grobogan (FMPG), Komunitas DarmarRaja dan Komunitas Ngroto Net, secara bersam-sama melakukan Susur Wisata ke 4 yang bernuansa religi di Kecamatan Gubug dan Kecamatan Tanggungharjo, Kabupaten Grobogan, JawaTengah, pada hari Minggu (5/4/2015).

Beberapa tempat yang disinggahi di antaranya Masjid Sirojudin dan Makam Mbah Khoiron, buyut Presiden RI ke 4 KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) di Desa Ngroto, Kecamatan Gubug Kabupaten Grobogan. Juga Sendangsari yang merupakan peninggalan sejarah Sunan Kalijaga, salah satu dari Walisanga yang terletak di Desa Sugihmanik, Kecamatan Tanggungharjo, Kabupaten Grobogan.

Menurut Heru Wardono yang akrab disapa Mbah Bejo, seorang pemerhati sejarah dan budaya Kabupaten Grobogan, Gus Dur adalah keturunan dari Mbah Khoiron. Konon dulu, ada salah satu santri di Pondok Pesatren Ngroto yang dipimpin Kyai Siradjudin, yang bernama Khoiron. Setelah tamat mengaji, dia menjadi Kyai di Ngroto juga. Karena badannya kecil dan pendek, dia mendapat julukan Mbah Gareng.

Kyai Khoiron mempunyai 2 anak laki-laki, yang bernama Asy’ari dan Asngari. Asy’ari menambah ilmu agama di Jombang, Jawa Timur, menjadi Kyai dan berkeluarga di sana. Kyai Asy’ari menurunkan KH. Hasyim Asy’ari pendiri Nadlathul Ulama. Hasyim Asy’ari menurunkan KH. Wahid Hasyim, Menteri Agama Pertama Republik Indonesia, yang merupakan ayah dari Presiden ke 4 Republik Indonesia KH. Abdurrahman Wahid yang juga disapa Gus Dur.

Sedangkan Asngari, yang tetap tinggal di Ngroto, menurunkan Baedlowi (Kades Ngroto pertama). Baedlowi menurunkan Sukemi, dan Sukemi menurunkan Zuhri (Mbah Zuhri Kuwaron).

“Di saat Gus Dur menjabat Presiden, beliau bersama wakilnya Megawati, pada tahun 2002 pernah datang ke Desa Ngroto“, kata Mbah Bejo yang didampingi juru kunci makam, kepada Peserta Susur Wisata.

Selanjutnya, Peserta Susur Wisata meneruskan perjalan ke lokasi wisata Sendang Sari, Desa Sugihmanik dan Balaipanjang, Kecamatan Tanggungharjo, Kabupaten Grobogan. Rombongan disambut oleh jajaran Pemerintah Desa Sugihmanik, dipimpin langsung oleh Kepala Desa (Kades) Imam Santoso.

1. Sendangsari. 2. Bende. 3. Kentongan. 4. Wartawan Tabloid Sergap, Ansori (kiri) mengapit  Grobog (lemari kayu) bersama Kades Imam Santoso

1. Sendangsari. 2. Bende. 3. Kentongan. 4. Wartawan Tabloid Sergap, Ansori (kiri) mengapit Grobog (lemari kayu) bersama Kades Imam Santoso (kanan)

Mitos sejarah Sendangsari merupakan situs sejarah peninggalan Sunan Kalijogo, salah satu Walisanga. Ketika Sunan Kalijaga mencari bahan baku sirap untuk pembangunan Masjid Demak, ia bersemedi di atas batu dan terdengarlah suara ikan dari bawah batu itu.

Ketika batu diangkat,  muncullah mata air yang kemudian dikenal sebagai Sendangsari. Di area ini juga terdapat Masjid Baiturorohman yang di dalamnya terdapat sebuah grobog (almari kayu) bertuliskan tahun 1353 dalam huruf Arab, kentongan dan bende (gong kecil).

Kades Imam Santoso dalam kesempatan ini mengajak untuk bersama melestarikan peninggalan sejarah yang kebetulan ada di wilayah nya. “Mari kita bersama melestarikan dan saya menyampaikan terimakasih atas perhatian dari club/komunitas ini,“ tutur Pak Kades.

Ajakan ini, senada seirama dengan semangat para peserta Susur Wisata Religi. Siswanto, peserta juga, menilai kegiatan ini membuka hati untuk lebih mencintai Grobogan. Abdul Rozak peserta lain, melihat potensi besar yang dapat mengembangkan wisata Grobogan. Sahidat Puji, peserta lainnya menilai perlunya publikasi, agar lebih banyak dikenal oleh masyarakat. Simon Wiji Widodo, salah satu peserta juga, berharap peningkatan peran serta masyarakat untuk dalam menjaga kelestarian peninggalan bersejarah ini.

Sementara itu, Muhlisin Asti Ketua GC menyimpulkan besarnya potensi wisata di Grobogan yang seharusnya bisa dikembangkan. “Sejarah Desa Ngroto dengan Mbah Khoiron dan petilasan Sunan Kali Jogo, kita harap dapat abadi sebagai pengingat sejarah bagi generasi muda,” kata Muhlisin Asti didampingi Taufik Ketua FMPG. (ans)

Iklan

Carut Marut Honor Juru Pelihara Benda Purbakala di Kalteng

 Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kalimantan Tengah, Jalan Tjilik Riwut Km 5 Palangkaraya.


Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kalimantan Tengah, Jalan Tjilik Riwut Km 5 Palangkaraya.

Palangkaraya (Sergap) – Juru Pelihara Benda Purbakala/Situs yang ada di wilayah Kalimantan Timur (Kaltim), Kalimantan Selatan (Kalsel), dan Kalimantan Tengah (Kalteng), semuanya berada di bawak koordinasi Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala, di Samarinda, Kalimantan Timur. Saat ini Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala tersebut dikepalai oleh Drs. I Made Kusumajaya. M.Si.

Untuk urusan Juru Pelihara Benda Purbakala/Situs di Kalimantan Tengah, Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala menugaskannya kepada Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kalimantan Tengah, yang berkantor di Jalan Tjilik Riwut Km 5 Palangkaraya.

Persoalan muncul, ketika seorang Juru Pelihara Benda Purbakala/Situs yang bertugas di Kabupaten Kotawaringin Barat mengaku bahwa honornya dipotong dengan semena-mena. Pemotongan tersebut terjadi sejak tahun 2007 hingga tahun 2014.

“Honor saya sebagai Juru Pelihara Rp. 600.000,- sebulannya, yang dicairkan setiap 4 bulan sekali. Jadi setiap 4 bulan seharusnya, saya menerima honor Rp. 2.400.000,- Tapi kenyataannya, saya hanya menerima 1 juta rupiah saja,” kata Juru Pelihara yang namanya untuk sementara minta tidak ditulis. Dijelaskan pula, bahwa Juru Pelihara tersebut juga diminta untuk menandatangani kuitansi kosong.

Setelah selama ± 5 tahun, terjadi hal seperti di atas, titik terang barulah muncul ketika ada pertemuan yang membahas masalah museum dan benda-benda bersejarah, di Palangkaraya yang dihadiri oleh  Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Samarinda.

Pada tahun 2012 itulah, para Juru Pelihara Benda Purbakala/Situs, muncul keberaniannya untuk menanyakan kejelasan tentang honor mereka, kepada orang Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Samarinda yang datang di pertemuan tersebut.

Tetapi pertanyaan para Juru Pelihara ini juga tidak dijawab secara langsung, petugas dari Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Samarinda itu minta waktu untuk mempelajarinya.

Untuk diketahui, sejak menerima honor pada tahun 2012 hingga tahun 2012, honor tersebut dibagikan oleh Juru Bayar yang bernama Dra. Hesti Seni, yang juga menjabat sebagai Kepala Seksi Permuseuman dan Keperbukalaan pada Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kalimantan Tengah.

Setelah masalah honor dipertanyakan, honor para Juru Pelihara tersebut tidak lagi disalurkan oleh Hesti Seni, tetapi langsung diambil ke Bendahara Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kalimantan Tengah.

Yuel Tanggara, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Kalimantan Tengah, saat ditemui mengatakan bahwa, dirinya tidak tahu tentang carut-marutnya pembayaran Juru Pelihara ini. “Berhubung saya masih baru menjabat, maka saya belum tahu dan bahkan tidak tahu tentang masalah ini. Saya mengucapkan terima kasih kepada teman–teman media atas informasinya”, katanya,

Kepala Dinas berjanji, di bawah kepemimpinannya akan tegas menindak sesuai dengan peraturan pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah. “Saya akan rapatkan dengan staf dan jika terbukti ada kesalahan, saya tindak sesuai peraturan pemerintah,” katanya menegaskan.

Pada tahun 2013, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Kalimantan Tengah membuat Surat  Keputusan Nomor : 20.DPK-SK/VI/2013 tentang Pembentukan Panitia Penyelenggara Bimbingan Teknis Juru Pelihara Peninggalan Sejarah dan Purbakala Tahun Anggaran 2013.

Dengan demikian, untuk selanjutnya nasib para Juru Pelihara lebih terjamin. Tapi sekitar ratusan juta rupiah honor Juru Pelihara yang telah “hilang” dipotong selama ±5 tahun, tentunya juga harus diurus dan diberikan kepada yang berhak menerimanya. (ab)

Misteri Situs Gunung Padang

ICON Lapsus wpSitus Megalithic Gunung Padang masih menyimpan misteri. Penyelidikan terhadap situs ini juga belumlah selesai. Namun penemuan-penemuannya, membuat kita tercengang, karena secara ilmiah terbukti lebih tua dibandingkan peradaban Mesopotamia, lembah Sungai Indus, China, Mesir, dan Yunani yang selama ini dianggap sebagai induk peradaban manusia modern. Benarkah Nusantara kita ini merupakan pusat peradaban dunia?

87 lipsus misteri g padangSitus Gunung Padang merupakan situs prasejarah peninggalan kebudayaan Megalitikum di Jawa Barat. Tepatnya berada di perbatasan Dusun Gunung Padang dan Panggulan, Desa Karyamukti, Kecamatan Campaka, Kabupaten Cianjur. Lokasi dapat dicapai 20 kilometer dari persimpangan kota kecamatan Warungkondang, di jalan antara Kota Kabupaten Cianjur dan Sukabumi.

Luas kompleks situs ini ±900 m², terletak pada ketinggian 885 m dari permukaan laut, dengan areal situs sekitar 3 ha, menjadikannya sebagai kompleks punden berundak terbesar di Asia Tenggara. Pada bagian Pendahuluan dalam buku Peninggalan Tradisi Megalitik di Daerah Cianjur, Jawa Barat , susunan Haris Sukendar, tertulis :

“Penemuan kembali bangunan berundak oleh tiga petani, Endi, Soma dan Abidin di Gunungpadang yang dilaporkan kepada Kepala Seksi Kebudayaan Kabupaten Cianjur R. 87 lokasi situsAdang Suwanda pada tahun 1979,  telah menggugah para arkeolog untuk mengadakan penelitian. Bangunan ini telah dicatat oleh N.J. Krom pada tahun 1914, tetapi penelitian yang intensif belum pernah dilaksanakan. Pada tahun 1979 tim Puspan yang dipimpin oleh D.D. Bintarti mengadakan penelitian  di daerah tersebut. Selajutnya pada tahun 1980 diadakan pula penelitian ulang yang dipimpin oleh R.P. Soejono.

Dr. N.J. Krom sudah menulisnya pada tahun 1914 dalam Rapporten Oudheidkundige Dienst tahun 1914 (Laporan Layanan Kepurbakalaan), sebagai berikut : “Op dezen bergtop nabij Goenoeng Melati vier door trappen van ruwe steenen verbonden terrassen, ruw bevloerd en met scherpe opstaande zuilvormige andesict steenen versierd. Op elk terras een heuveltje (graf), met steenen omzet en bedekt en voorzien van twee spitse steenen.”

Sumber lain yang menyebutkan keberadaan Situs Gunung Padang adalah sebuah buku berjudul Oudheden van Java yang disusun oleh R.D.M. Verbeek dan diterbitkan oleh Landsdrukkerij pada tahun 1891, atau 23 tahun sebelum laporan yang dibuat oleh N.J. Krom.

Rogier Diederik Marius Verbeek

Rogier Diederik Marius Verbeek

Rogier Diederik Marius Verbeek (1845-1926) adalah orang pertama yang melakukan penelitian tentang gunung Krakatau yang dimulainya 7 minggu setelah letusannya yang yang mengguncang dunia itu pada 27 Agustus 1883. Hasil penelitiannya yang mendalam ini dibukukan dengan judul Krakatau (Government Printing Office, Batavia, 1886) dan masih menjadi acuan utama untuk penelitian-penelitian tentang gunung  Krakatau selanjutnya.

Buku Oudheden van Java ini merupakan kumpulan catatan tentang artefak-artefak peninggalan kebudayaan Hindu di Java. Di sini telah disebutkan mengenai keberadaan situs Gunung Padang berdasarkan kunjungan dan laporan oleh De Corte pada tahun 1890.

Catatan itu diberi sub judul Goenoeng Padang, District Peser, afdeeling Tjiandjoer, Blad K. XIII yang kutipannya sebagai berikut :  “Op den bergtop Goenoeng Padang, nabij Goenoeng Melati, eene opeenvolging van 4 terrassen, door trappen van ruwe steenen verbonden, met ruwe platte steenen bevloerd en met talrijke scherpe en zuilvormige rechtopstaande andesietsteenen versierd. Op ieder terras een heuveltje, waarschijnlijk een graf, met steenen omzet en bedekt, en van boven met 2 spitse steenen voorzien. In 1890 door den heer De Corte bezocht.”

Buku Oudheden van Java

Buku Oudheden van Java

Kurang lebih terjemahannya  adalah : “Di puncak Gunung Padang, di dekat Gunung Melati, sebuah undakan yang terdiri dari 4 buah teras dihubungkan oleh jalan setapak berbahan batu kasar, batu datar yang diatur, lalu berhenti pada kolom andesit yang disusun berdiri. Pada gundukan teras mungkin terdapat sebuah kuburan yang ditutupi oleh batu2an dan di atasnya terdapat dua buah batu tajam, (seperti yang dilaporkan) kunjungan De Corte pada tahun 1890.

Melihat salinannya ternyata tidak jauh berbeda dengan yang ditulis dalam laporan N.J. Krom. Jadi kemungkinannya, N.J. Krom mencatat menggunakan bahan dari buku Verbeek ini namun tanpa menyebutkan sumber baik Verbeek maupun De Corte sehingga lama dikira bahwa penemuan pertama situs Gunung Padang adalah sesuai dengan catatan N.J. Krom, tahun 1914.

Lokasi situs ini berbukit-bukit curam dan sulit dijangkau. Kompleksnya memanjang, menutupi permukaan sebuah bukit yang dibatasi oleh jejeran batu andesit besar berbentuk persegi. Situs ini dikelilingi oleh lembah-lembah yang sangat dalam. Tempat ini sebelumnya memang telah dikeramatkan oleh warga setempat. Penduduk menganggapnya sebagai tempat Prabu Siliwangi, raja Sunda, berusaha membangun istana dalam semalam.

Bukit buatan manusia

Pada bulan Sejak Maret 2011, Andi Arif, Staf Khusus Presiden Bidang Bantuan Sosial dan Bencana, membentuk Tim Peneliti Katastrofi Purba, yang melakukan survei gempa bumi untuk melihat aktifitas sesar aktif Cimandiri yang melintas dari Pelabuhan Ratu sampai Padalarang melewati Gunung Padang.

Andi Arief

Andi Arief

Ketika tim melakukan survei bawah permukaan Gunung Padang diketahui tidak ada intrusi magma. Kemudian tim peneliti melakukan survei bawah permukaan secara lebih lengkap dengan metodologi geofisika, yakni geolistrik, georadar, dan geomagnet di kawasan situs tersebut.

Hasilnya, semakin meyakinkan bahwa Gunung Padang sebuah bukit yang dibuat atau dibentuk oleh manusia. Pada November 2011, tim yang dipimpin oleh Dr. Danny Hilman Natawidjaja yang terdiri dari pakar kebumian ini semakin meyakini bahwa Gunung Padang dibuat oleh manusia masa lampau yang pernah hidup di wilayah itu.

Hasil survei dan penelitian kemudian dipresentasikan pada berbagai pertemuan ilmiah baik di tingkat nasional maupun internasional, bahkan mendapat apresiasi dari Prof. Dr. Oppenheimer.

Kemudian Tim Katastrofi Purba menginisiasi pembentukan tim peneliti yang difokuskan untuk melakukan studi lanjutan di Gunung Padang, di mana para anggota penelitinya diperluas dan melibatkan berbagai bidang disiplin ilmu dan berbagai keahlian.

Dr. Ali Akbar

Dr. Ali Akbar

Sebut saja misalnya Dr. Ali Akbar seorang peneliti prasejarah dari Universitas Indonesia, yang memimpin penelitian bidang arkeologi; Pon Purajatnika, M.Sc, memimpin penelitian bidang arsitektur dan kewilayahan; Dr. Budianto Ontowirjo memimpin penelitian sipil struktur dan Dr. Andang Bachtiar seorang pakar paleosedimentologi, memimpin penelitian pada lapisan-lapisan sedimen di Gunung Padang.

Seluruh tim peneliti itu tergabung dalam Tim Terpadu Penelitian Mandiri (TTRM) Gunung Padang yang difasilitasi kantor Staf Khusus Presiden Bidang Bantuan Sosial dan Bencana. Menariknya seluruh pembiayaan penelitian dilakukan secara swadaya para anggota tim peneliti.

Berbagai temuan tim terpadu penelitian mandiri Gunung Padang ini akhirnya dilakukan uji radiometrik karbon (carbon dating, C14). Hasil uji karbon pada laboratorium Beta Miami, di Florida AS, menemukan bahwa karbon yang didapat dari pengeboran pada kedalaman 5 meter sampai dengan 12 meter itu berusia 14.500-25.000 tahun.

Itu artinya, peradaban di Situs Gunung Padang lebih tua dari peradaban Mesopotamia dan Pyramid Giza di Mesir, yang selama ini dipercaya sebagai peradaban tertua di dunia. Sehingga temuan Situs Gunung Padang yang hingga saat ini masih dalam proses penelitian tersebut, bisa mengubah peta peradaban dunia.

Prof. Danny Natawidjaja

Prof. Danny Natawidjaja

Koordinator TTRM Gunung Padang, Prof. Danny Natawidjaja juga mengatakan, “Peradaban dunia yang dikenal manusia itu ‘kan yang majunya baru sekitar 6.000 tahun, Mesopotamia, kemudian yang di Mesir, (Piramida) Giza itu, yang 2.500-2.800 tahun Sebelum Masehi. Itu yang dianggap sebagai peradaban tertua di dunia. Kalau kita bilang Gunung Padang usianya 13.000 tahun, tumbang semua. Itu tentunya akan menjadikan kita (Indonesia) yang menjadi pusat peradaban di masa lalu.”

Prof. Danny Hilman Natawidjaja juga mengatakan, berdasarkan penelitian yang dilakukan selama ini terlihat bahwa susunan batu pada Situs Gunung Padang sudah cukup maju. Susunan batu tersebut mirip dengan teknologi Situs Machu Pichu di Peru. Menurut Danny, yang lebih mengejutkan dari penemuan Situs Gunung Padang ini yaitu umur susunan batu yang berbeda-beda dari setiap lapisannya.

Situs Machu Pichu di Peru

Situs Machu Pichu di Peru

Lapisan teratas berumur lebih muda, yaitu 500 tahun Sebelum Masehi, ada pula lapisan yang berumur 7.000 tahun Sebelum Masehi. Bahkan, jika dihitung hingga lapisan terbawah, Situs Gunung Padang diperkirakan usianya sekitar 13.000 tahun.

“Gunung Padang itu suatu monumen yang besar. Punden berundaknya yang lapisan pertamanya itu tingginya sampai 100 meteran, jadi luasnya 150 hektar, yang jelas 10 kali lebih besar dari bangunan Candi Borobudur”, kata Prof. Danny menambahkan.

Cawan raksasa dan ruang kosong

Dengan teknologi geolistrik, tim menemukan struktur high resistivity (batuan keras) berbentuk seperti cekungan atau “cawan raksasa” di perut Gunung Padang.  Posisi cawan ini kira-kira sekitar 100 meter dari puncak, atau setara level tempat parkir di permulaan tangga untuk naik ke situs.

Kejutan lain yang membuat para ahli terperangah adalah penampakan tiga tubuh “very-high resistivity” di bawah situs.  Dalam konteks struktur di sekitarnya, yang paling mungkin penampakan itu adalah ruang kosong atau chamber.

Perkiraan perbandingan Candi Borobudur dan Situs Gunung Padang

Perkiraan perbandingan Candi Borobudur dan Situs Gunung Padang

Apa fungsi kamar itu belum terjawab. Danny mengatakan, perlu penelitian lanjutan membongkar fungsi kamar besar itu. “Belum bisa diketahui karena tidak ada catatan. Tim tidak ingin berspekulasi sebelum bisa membukanya,” katanya.

Apapun itu, naluri keilmuwan tim menuntut rahasia itu dikuak. “Kami ingin membuka tabir chamber ini. Kami tidak peduli isinya apa, karena dengan terkuaknya chamber (kamar, red), apapun misteri akan bisa dipecahkan,” kata ahli gempa LIPI itu. Selain memperkuat kesimpulan awal, tim juga mencari jalan masuk ke ruang itu.

Tak sekedar ruang kosong, hasil survei geomagnet memperlihatkan anomali magnetis yang tinggi di beberapa lokasi.  Salah satunya persis di samping struktur yang diduga chamber besar. Untuk diketahui, anomali magnetis tinggi bisa berasosiasi dengan timbunan barang-barang terbuat dari bahan metal atau logam.

Anggota tim lainnya, Dr Boediarto Ontowirjo mengatakan, dari survei pencitraan bawah permukaan yang sudah dilakukan, ada indikasi struktur bangunan tidak hanya setinggi 15  meteran di bagian atasnya saja, tapi sampai setinggi 100 meteran ke bawahnya, sampai level parkir-pintu masuk. Atau bahkan sampai 300 meteran ke Level Sungai Cimanggu.

“Ini memang masih perlu survei yang lebih komprehensif. Tapi kalau ternyata hal ini benar, maka dia sesuatu yang “truly extraordinary”,” kata dia. Singkatnya, Situs Gunung Padang ini bukan produk artefak dari masyarakat purba yang masih primitif. Ia adalah produk peradaban tinggi, mahakarya arsitektur dari zaman pra-sejarah.

Semen purba

Yang lebih mengejutkan adalah ditemukannya material pengisi di antara batu-batu kolom ini. Bahkan di antaranya ada batu kolom yang sudah pecah berkeping-keping, namun ditata dan disatukan lagi oleh material pengisi, atau kita sebut saja sebagai semen purba.

Makin ke bawah kotak gali, semen purba ini terlihat makin banyak, dan merata setebal ±2 cm di antara batu-batu kolom. Selain di kotak gali, semen purba ini juga sudah ditemukan pada tebing undak antara teras satu dan dua, dan juga pada sampel inti bor dari kedalaman 1 sampai 15 meter dari pemboran yang dilakukan oleh tim pada tahun 2012 lalu di atas situs.

Dr. Andang Bachtiar

Dr. Andang Bachtiar

Ahli geologi tim yang juga pembina pusat Ikatan Ahli Geologi Indonesia pusat, Dr. Andang Bachtiar mengatakan, berdasarkan hasil analisis kimia yang dilakukannya pada sampel semen purba dari undak terjal teras satu ke dua, menemukan fakta lebih mengejutkan lagi. Ternyata material semen ini mempunyai komposisi utama 45% mineral besi dan 41% mineral silika. Sisanya adalah 14% mineral lempung, dan juga terdapat unsur karbon. Ini adalah komposisi bagus untuk semen perekat yang sangat kuat.

Barangkali ia menggabungkan konsep membuat resin, atau perekat modern dari bahan baku utama silika, dan penggunaan konsentrasi unsur besi yang menjadi penguat bata merah. Tingginya kandungan silika mengindikasikan semen ini bukan hasil pelapukan dari batuan kolom andesit di sekelilingnya yang miskin silika.

Kemudian, kadar besi di alam, bahkan di batuan yang ada di pertambangan mineral bijih sekalipun umumnya tak lebih dari 5% kandungan besinya, sehingga kadar besi “semen Gunung Padang” ini berlipat kali lebih tinggi dari kondisi alamiah.

Oleh karena itu dapat disimpulkan material di antara batu-batu kolom andesit ini adalah adonan semen buatan manusia. Artinya, teknologi masa itu kelihatannya sudah mengenal metalurgi. Doktor Andang menjelaskan, bahwa satu teknik umum untuk mendapatkan konsentrasi tinggi besi adalah dengan melakukan proses pembakaran dari hancuran bebatuan dengan suhu sangat tinggi. Mirip pembuatan bata merah, yaitu membakar lempung kaolinit dan illit untuk menghasilkan konsentrasi besi tinggi pada bata tersebut.

Metalurgi purba

Indikasi adanya teknologi metalurgi purba ini diperkuat lagi dengan ditemukannya segumpal material seperti logam sebesar 10 cm oleh tim Ali Akbar pada kedalaman 1 meter di lereng timur Gunung Padang. Material logam berkarat ini mempunyai permukaan kasar berongga-rongga kecil dipermukaannya. Diduga material ini adalah adonan logam sisa pembakaran (“slug”) yang masih bercampur dengan material karbon yang menjadi bahan pembakarnya, bisa dari kayu, batu bara atau lainnya. Rongga-rongga itu kemungkinan terjadi akibat pelepasan gas CO2 ketika pembakaran. Tim akan melakukan analisa lab lebih lanjut untuk meneliti hal ini.

Tim Ahli sedang melakukan pengeboran

Tim Ahli sedang melakukan pengeboran

Yang tidak kalah mencengangkan adalah perkiraan umur dari semen purba ini. Hasil analisis radiometrik dari kandungan unsur karbonnya pada beberapa sampel semen di bor inti dari kedalaman 5 – 15 meter yang dilakukan pada 2012 di Laboratorium bergengsi BETALAB, Miami, USA pada pertengahan 2012 menunjukan umur dengan kisaran antara 13.000 sampai 23.000 tahun lalu. Kemudian, hasil carbon dating dari lapisan tanah yang menutupi susunan batu kolom andesit di kedalaman 3-4 meter di Teras 5 menunjukkan umur sekitar 8700 tahun lalu.[18]

Sebelumnya hasil carbon dating yang dilakukan di laboratorium BATAN dari pasir dominan kuarsa yang mengisi rongga di antara kolom-kolom andesit di kedalaman 8-10 meter di bawah Teras lima, juga menunjukkan kisaran umur sama yaitu sekitar 13.000 tahun lalu.

Fakta itu sangat kontroversial karena pengetahuan secara umum sekarang belum mengenal atau mengakui ada peradaban (tinggi) pada masa se-purba ini, di manapun di dunia, apalagi di Nusantara yang konon masa pra-sejarahnya banyak diyakini masih primitif walaupun alamnya luar biasa indah dan kaya, sementara di wilayah tandus gurun pasir Mesir orang bisa membuat bangunan piramida yang sangat luar biasa itu. Tapi fakta di Gunung Padang berbicara lain. Rasanya bukan mustahil lagi bangsa Nusantara mempunyai peradaban yang semaju peradaban Mesir purba, bahkan pada masa yang jauh lebih tua lagi.

Struktur bangunan dari susunan batu-batu kolom berdiameter sampai 50 cm dengan panjang bisa lebih dari 1 meter ini sudah sangat spektakuler karena bagaimanakah masyarakat purbakala dapat menyusun batu-batu besar yang sangat berat ini demikian rapi dan disemen pula oleh adonan material yang istimewa.

Ini hasil penelitian dan ekskavasi arkeologi yang dilakukan pada bulan Agustus 2012, Maret 2013, dan terakhir Juni-Juli 2013. Bahkan sebenarnya lapisan kedua ini sudah terlihat ketika penggalian arkeologi yang dilakukan oleh Balai Arkeologi Bandung tahun 2005, hanya waktu itu disalah-tafsirkan sebagai batuan dasar alamiah (quarry) karena belum ditunjang oleh penelitian geologi yang komprehensif dan tidak ditunjang oleh survei geofisika bawah permukaan.

Lapisan kedua ini juga disusun oleh batu-batu kolom andesit yang sama dengan yang diatasnya namun susunannya terlihat lebih rapi dan kelihatannya menggunakan semacam material semen atau perekat.

Semen purba ini mempunyai komposisi 45% mineral besi, 40% mineral silika dan sisanya mineral lempung dan sedikit karbon. Komposisi ini tidak bisa ditafsirkan sebagai tanah hasil pelapukan batuan atau hanya merupakan infiltrasi material yang dibawa air ke dalam tanah.

Hasil analisa umur dengan radiokarbon dating dari beberapa sampel bor menunjukkan bahwa umur lapisan budaya di bawah permukaan ini adalah sekitar 4.700 tahun SM atau lebih tua.

Sampai lapisan kedua saja sudah cukup alasan agar Situs Gunung Padang menjadi prioritas nasional dan benar-benar ditangani secara sangat serius untuk menjadi proyek pemugaran situs kebanggaan nasional.

Terlebih lagi temuan ini adalah hasil kerja bangsa sendiri tanpa bantuan pihak asing. Penemuan lapisan budaya kedua ini sudah akan merubah sejarah tidak hanya Indonesia dan Asia Tenggara tapi sejarah peradaban dunia!

Peradaban tinggi di masa lalu

Tim peneliti yang bergabung dalam TTRM, mulai disorot saat meneliti Gunung Sadahurip di Garut, Jawa Barat, yang diduga sebagian kalangan mengandung bangunan piramida di bawahnya.

Awalnya, soal dugaan piramida di Sadahurip itu pernah diungkap Yayasan Turangga Seta. Itu adalah lembaga yang peduli kegemilangan sejarah nenek moyang di masa lalu.

Selain Sadahurip, Turangga Seta juga menyebut adanya piramida di Gunung Lalakon, Soreang, Bandung, Jawa Barat. Keraguan pun muncul. Apalagi, Turangga Seta dianggap memadukan unsur mistis dalam pencarian piramida, dengan istilah keren yang mereka pakai: parallel existence.

Bantahan  tajam diungkap oleh ahli geologi, Sujatmiko. Di Bandung, dia mengatakan bentuk piramida dari Gunung Sadahurip adalah hasil alamiah. Sadahurip, kata Sujatmiko, adalah gunung jenis cumulo dome yang terbentuk dari aliran lava, batuan intrusif, dan piroklastik. Pro dan kontra pun kian ramai.

Btuan megalitik berserakan di Gunung Padang, diperkirakan merupakan reruntuhan bangunan ritual berusia hingga 13.000 SM

Batuan megalitik berserakan di Gunung Padang, diperkirakan merupakan reruntuhan bangunan ritual berusia hingga 13.000 SM

Menjawab hal itu, Prof Danny mengatakan tujuan tim bukanlah berburu piramida. Mereka meneliti siklus bencana, yang terjadi di Nusantara sejak masa lalu. Dalam penelitian itu, tim juga menelisik jejak peradaban lama yang musnah akibat bencana. Itu penting, kata Danny, agar pola mitigasi bencana dipahami.  “Tim ini terbentuk, bukan dibentuk. Kami juga hanya difasilitasi dalam melakukan penelitian ini,” ujar Danny Hilman.

Itu sebabnya, mereka menelisik dari Banda Aceh di ujung Sumatera, Batujaya di Karawang, dan Trowulan di Jawa Timur. Temuan sejumlah penelitian itu membuat  para peneliti itu percaya ada peradaban tinggi di Indonesia di masa lalu. “Raflles pernah bilang, kerajaan di Sumatera dan Jawa lebih mundur dari pendahulunya,” ujar Danny, mengutip Sir Thomas Stamford Bingley Raffles (1781-1826), Gubernur Hindia Belanda di abad ke-19.

Sedangkan Gunung Padang, kata Danny, adalah ‘kompleks bangunan’ besar terletak di dekat patahan Cimandiri, sebuah patahan aktif. Sebagai bekas peradaban megalitikum, mereka ingin melihat adakah bencana purba menghancurkan peradaban di gunung itu. Pengeboran di Gunung Padang dilakukan setelah hasil survei geolistrik, geomagnet, dan georadar. Hasilnya: ada tanda-tanda tak alamiah di bawah permukaan Gunung Padang.

“Mungkin selama ini arkeolog meneliti berdasarkan ‘what you see is what you get’. Tapi di geologi berbeda. Kami harus melakukan pengeboran agar mendapatkan apa yang tak terlihat di permukaan,” kata Danny Hilman.

Andang Bachtiar mengatakan tak begitu peduli anggapan orang yang menyebut timnya mencari piramida. “Masih terlalu dini juga menyebut piramida,” ujarnya. Andang berharap penelitian lanjutan akan terus dilakukan di Gunung Padang. “Ini memang dari dana kami sendiri, karena itu hasilnya masih terbatas. Alat yang digunakan pun masih pinjaman, karena itu hanya bisa mengebor sampai kedalaman sekitar 25 meter,” tutur peraih gelar Master of Science dari Geology Department, Colorado School of Mines di Amerika Serikat pada 1991 ini.

Untuk menjernihkan pelbagai tudingan, Danny Hilman dan Andang Bachtiar mengungkap hasil penelitian Tim itu pada acara diskusi di Gedung Krida Bhakti, Sekretariat Negara, Jakarta, Selasa, 7 Februari 2012. Di acara ini, keduanya memaparkan tujuan, metode, dan hasil penelitian awal mereka.

Struktur piramida?

Dikatakan, hasil survei georadar, geolistrik dan geomagnet di Gunung Padang diketahui adanya struktur bangunan besar dan masif.  Ini juga terbukti dengan pengeboran geologi. “Kami menemukan struktur batuan hingga kedalaman 20 meter. Ada seperti sesuatu yang dipangkas,” kata Danny Hilman.

Andang Bachtiar mengatakan hal serupa, “Ini constructed. Dari kedalaman 18 meter ke atas, ini merupakan bangunan. Jadi bukan sesuatu yang natural.” Di acara diskusi ini, tim kemudian menyorot teknologi konstruksi bangunan.

Sebelumnya, ada dugaan batu itu terbentuk secara alami dari proses vulkanik, yaitu columnar joint basalt. Tapi menurut Andang, dugaan itu gugur. Soalnya, columnar joint basalt tidak ditemukan di sekitar situs Gunung Padang.

Hal menarik lain dari penelitian tim itu adalah cara bangunan ini disusun. Dari temuan bebatuan yang menjadi pemisah Teras 1 dan Teras 2, terlihat ada bahan perekat menyambung bangunan. “Ini bukan pelapukan andesit, tapi semacam semen purba,” Andang menambahkan.

Ada dugaan kuat, jika bangunan purba itu menerapkan semacam teknologi penahan gempa. Ini terlihat dari adanya lapisan buatan yang materinya adalah pasir. “Ini hasil ayakan sangat halus, dan jelas bukan terbentuk secara alami,” jelas Andang. Pasir ditemukan dalam satu lapisan, di kedalaman 8 hingga 10 meter. “Ini seperti teknologi yang mampu menahan gempa”.

Lebih tua dari Machu Picchu

Tim juga menjelaskan hasil carbon dating yang dilakukan terhadap sisa akar tanaman dan sisa arang bekas pembakaran, yang didapat dari hasil pengeboran. Menurut Danny Hilman, hasil carbon dating memperlihatkan bahwa situs Gunung Padang berasal dari 6.700 tahun lalu. “Berarti sekitar tahun 4.700 Sebelum Masehi,” tutur Danny.

Carbon dating adalah analisis kimia yang digunakan untuk menentukan umur bahan organik berdasarkan konten mereka dari radioisotop karbon-14, yang dapat dipercaya bisa mendeteksi umur bahan organik  sampai dengan 40.000 tahun.

Jika hasil carbon dating itu tepat, hasil ini terbilang menakjubkan. Artinya, di masa prasejarah, sudah dikenal teknologi bangunan maju di wilayah nusantara. “Ini seperti Machu Picchu, di Peru. Tapi ini berasal dari abad yang jauh lebih tua. Bisa jadi teknologi Machu Picchu juga berasal dari sini,” kata Danny menambahkan. Machu Picchu diperkirakan berasal dari abad 14 atau 15.

Ilmuwan lain menyambut baik temuan ini. Arkeolog Universitas Indonesia, Ali Akbar, misalnya, mengatakan perlu dilakukan penelitian lanjutan untuk melihat konteks hasil pengeboran dengan lapisan budayanya. “Ambil sampelnya di mana, kedalaman berapa ditemukan pasir itu. Apa ada hal serupa di titik lain. Ini perlu diketahui lagi untuk mengetahui konteks lapisan budaya dengan bangunannya,” ujar Ali Akbar. “Sebaiknya dicek lagi di teras lain,” lanjutnya.

Pusat peradaban dunia

Dugaan tentang struktur apa yang dikandung di Gunung Padang menarik didiskusikan. Ahli kompleksitas Hokky Situngkir, menyebut adanya kemungkinan bentuk piramida kecil di Gunung Padang. Dengan metode kompleksitas, Hokky mencari dugaan keterkaitan Gunung Padang dengan situs megalitik lain.

Dari perspektif Arkeo-Geografi, Hokky mereka-reka suatu struktur piramida kecil yang dapat dicocokkan dengan lanskap geografis Gunung Gede. Struktur piramida ini sendiri sekarang terlihat reruntuhannya di Teras 1, yang ada di Gunung Padang.

Mengenai bentuk piramida,  perdebatan masih mencuat: apakah Gunung Padang bukit buatan berbentuk piramida (piramidal), atau ia hanya struktur bangunan akibat kontur geografis gunung yang terbentuk secara alami.

Danny Hilman menyebut Gunung Padang adalah buatan manusia (man-made) hingga kedalaman 20 meter. Namun, kesimpulan ini dibuat dengan catatan pengeboran baru dilakukan hingga kedalaman sekitar 25 meter. Danny yakin bukit ini tak terbentuk alamiah. “Ada yang bilang ini gunung purba, tapi saya melihat tidak ada intrusi magma,” ujar Danny.

Ahli geologi Awang Satyana mengatakan struktur punden berundak punya bentuk sama dengan piramida berjenjang atau step pyramid. “Piramida adalah bangunan yang semakin kecil mendekati puncak,” jelas Awang. Dia mencontohkan Borobudur yang juga punya struktur piramida.

Arkeolog UI Ali Akbar juga mengatakan model piramida sudah dikenal sejak masa prasejarah di Indonesia. “Tapi bukan seperti di Mesir. Di sana kan bangunan di tanah datar yang ditumpuk ke atas,” kata Ali Akbar. “Di Indonesia bentuknya seperti punden berundak yang biasa ambil lokasi di gunung alami. Sehingga batu yang dibutuhkan tidak sebanyak yang di Mesir. Jadi lebih memanfaatkan alam,” jelasnya.

Ali menambahkan, ekskavasi Gunung Padang bakal makan waktu lama. Pelan-pelan, sedikit demi sedikit lapisan tanah disingkap, agar batu yang ada tak bergeser. “Kami harapkan ini bisa ditindaklanjuti oleh para pemangku kepentingan. Bisa dibayangkan, saat Borobudur ditemukan kondisinya sama, tertutup tanah, ditumbuhi pohon-pohon. Butuh puluhan tahun untuk membukanya, lalu dipugar, dan baru bisa dinikmati. Itu kerja besar yang melibatkan berbagai disiplin ilmu. Kecanggihan teknologi memudahkan pengungkapan,” kata Ali Akbar.

Dalam buku Eden In The East, Oppenheimer menyimpulkan bahwa Indonesia merupakan pusat peradaban dunia

Dalam buku Eden In The East, Oppenheimer menyimpulkan bahwa Indonesia merupakan pusat peradaban dunia

Heboh piramida ini juga menarik ahli asing, semisal Profesor Stephen Oppenheimer, seorang mahaguru dari Universitas Oxford Inggris. Penulis buku laris “Eden in The East” ini pernah mengatakan kawasan Nusantara sebagai daerah peradaban tinggi di masa lalu.

Eden in The East adalah buku yang memberikan wacana yang berbeda dengan tulisan sejarah yang dianut selama ini. Sejarah selalu mencatat bahwa induk peradaban manusia modern itu berasal dari Mesopotamia, lembah Sungai Indus, China, Mesir, dan Yunani karena wilayah ini menyimpan banyak artefak dan peninggalan tertulis.

Namun, kini, tampaknya orang mulai berpikir ulang sejak kehadiran buku “Atlantis” karangan Arysio Nunes dos Santos yang menyebut Atlantis, yang tenggelam dengan peradaban tingginya, ada di Asia Tenggara. Buku Atlantis kini diperkuat dengan Eden In The East karangan Profesor Stephen Oppenheimer, seorang mahaguru dari Universitas Oxford Inggris. Dalam buku Eden In The East, Oppenheimer menyimpulkan bahwa Indonesia merupakan pusat peradaban dunia.

Artinya nenek moyang bangsa-bangsa di dunia ini atau induk peradaban modern sekarang ini berasal dari Indonesia dan menyebar ke seluruh penjuru Bumi. Dalam teorinya, Semenanjung Malaya, Sumatra, Jawa, dan Kalimantan dulu menjadi satu kesatuan dengan sebutan Sundaland. Karena mengalami banjir berkali-kali akibat melelehnya es di Kutub, wilayah ini terpisah oleh lautan.

Tapi soal piramida, dia mengatakan, perlu hati-hati. Soalnya, sulit membedakan struktur monumen hasil modifikasi manusia, dengan struktur geologis oleh alam. “Anda bisa menghabiskan waktu memburunya dan ternyata kemudian adalah gunung, jelas Anda akan mendapat malu,” lanjut Oppenheimer.

Laporan resmi ke presiden

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menerima laporan Tim Terpadu Riset Mandiri Gunung Padang pada, Sabtu 3 Agustus 2013. Menurut Andi Arief, inisiator Tim, Presiden menyatakan hasil riset ini bisa jadi “Big Bang” atau dentuman besar sejarah Indonesia.

Andi menyatakan, dalam siaran pers melalui akun jejaring sosialnya, secara khusus melaporkan perkembangan hasil riset dan ekskavasi arkeologi, pengeboran, dan tomografi sesmik ke Presiden yang berlangsung sejak awal Juli 2013 lalu. Presiden SBY terus memantau riset ini dan mengatakan bangga terhadap apa yang telah dilakukan oleh para periset dari berbagai lintas ilmu.

“Presiden menyetujui rekomendasi pemugaran di dua lapisan kebudayaan, yaitu lapisan terasering seperti Machu Pichu (lapisan berusia 600 tahun sebelum Masehi) dan lapisan budaya II (4.900 tahun sebelum Masehi). Untuk dua lapis kebudayaan 11.500 SM dan 25.000 SM, Presiden SBY menyebut ini Big Bang sejarah Indonesia,” kata Andi.

Sementara itu, tim geofisika yang melakukan tomografi seismik juga sudah mendapatkan beberapa hal penting yang memperkuat dugaan tentang adanya rongga yang sudah dilakukan pemindaian sebelumnya.

Bahkan ada “bonus” kejutan yang masih harus diselidiki lebih lanjutan dari hasil tomografi seismik. Tim menggunakan hampir semua teknologi dan metode ilmiah yang ada. Dengan kehati-hatian, setiap perkembangan dianalisis serius agar dapat disimpulkan dengan akurat.

Temuan Lengkap TTRM Gunung Padang

Dalam siaran persnya, TTRM menyatakan, penelitian Situs Gunung Padang bukan kasus cagar budaya dan riset biasa. Penelitian Gunung Padang adalah untuk menggali peradaban Nusantara secara multidisiplin dan menggunakan metodologi-teknologi mutakhir di bidang eksplorasi geologi-geofisika. Akumulasi hasil riset TTRM yang dilakukan dalam 2 tahun terakhir berhasil membuktikan bahwa situs ini sangat luarbiasa bahkan di luar yang bisa dibayangkan oleh para penelitinya.

Temuan pertama : Situs megalitik ini berupa struktur teras-teras yang tersusun dari batu-batu kolom basaltik andesit yang terlihat di permukaan bukan hanya menutup bagian atas bukit seluas 50×150 meter persegi saja, tapi menutup seluruh bukit seluas minimal 15 hektare. Hal ini sudah terbukti tanpa keraguan lagi setelah dilakukan pengupasan alang-alang dan pohon-pohon kecil di sebagian lereng timur oleh Tim Arkeologi pada bulan Juli 2013.

Batu-batu kolom penyusun ini berat satuannya ratusan kilogram, berukuran diameter puluhan sentimeter dan panjang sampai lebih dari satu meter. Dapat dibayangkan mobilisasi dan pekerjaan menyusun kolom-kolom batu ini sama sekali bukan hal yang mudah.

Kemudian tim  melakukan lagi uji radiocarbon dating dari sampel tanah di dekat permukaan. Hasilnya menguatkan umur radiokarbon sebelumnya bahwa umur dari situs yang terlihat di permukaan ini adalah dalam kisaran 500 sampai 1000 tahun sebelum Masehi. Jadi lapisan atas Gunung Padang adalah monumen megah bergaya seperti Machu Pichu di Peru tapi umurnya jauh lebih tua dan berada pada masa prasejarah Indonesia.

Temuan ini saja sudah luar biasa karena selain monumen megalitik yang besarnya sampai 10x Candi Borobudur juga umurnya membuktikan sudah ada peradaban tinggi di Indonesia pada masa prasejarah yang selama ini dianggap zaman berbudaya masih sederhana.  Dengan kata lain hal ini akan mengubah sejarah Indonesia dan Asia tenggara.

Temuan kedua : Ada struktur bangunan yang lebih tua lagi, berlapis-lapis sampai puluhan meter ke bawah. Situs megalitik Gunung Padang tidak hanya satu lapisan di permukaan saja, seperti disimpulkan oleh penelitian Balai Arkelogi dan Arkenas sebelumnya. Keberadaan struktur ini sudah diidentifikasi dengan baik oleh survei arkeologi, geologi, pengeboran dan geofisika bawah permukaan.

Struktur lebih tua ini bukannya lebih sederhana tapi kelihatannya malah struktur bangunan besar yang dibuat dengan teknologi yang lebih tinggi  dari kenampakan geometri dinding dan ruang-ruang besar. Struktur ini adalah hasil karya sipil-arsitektur purba yang luar biasa hebat.

Temuan ketiga : Telah membuktikan secara visual keberadaan lapisan budaya kedua yang hanya tertimbun satu sampai beberapa meter di bawah permukaan.

Temuan keempat : Struktur lebih tua yang tertutup oleh lapisan budaya kedua kemungkinan akan lebih fantastis lagi.

Tim menemukan keberadaan dinding dan rongga-rongga besar yang diidentifikasi melalui survei geolistrik berupa zona resistivity yang sangat tinggi (puluhan ribu sampai lebih dari 100 ribu ohm) dan juga terefleksikan oleh citra georadar.

Tim juga sudah melakukan survei tomografi seismik.  Hasilnya mengkonfirmasi adanya dinding dan rongga besar di bawah situs yang dicirikan oleh “low seismic velocity zone”.

Temuan kelima : Pengeboran untuk pengambilan sampel pada bulan Februari 2013 di lokasi yang berdekatan dengan dugaan rongga terjadi “partial water loss” yang cukup besar pada kedalaman 8 sampai 10 meter.

Diduga karena bor menembus ‘tunnel‘ yang berisi pasir.  Pengeboran selanjutnya, pada bulan Ramadan 2012 lalu, lebih mengejutkan lagi karena mengalami  “total water lost” yang sangat banyak sampai 32.000 liter air hilang begitu saja ketika menembus kedalaman yang sama (8-10m).

Kemungkinan besar air mengalir mengisi rongga yang besarnya minimal  32 meter kubik atau 4x4x2 meter. Analisa radiocarbon dating  dari tanah yang menimbun lapisan bangunan berongga ini menunjukkan: Umur 6.700 tahun SM.  Jadi umur dari bangunan berongga ini harus lebih tua dari penimbunnya. Umur 9.600 tahun SM. Pada karbon dalam pasir yang mengisi rongga yang ditembus bor 2. Umur 11.000 sampai 20.000 tahun SM. Hasil radiokarbon dating dari beberapa sampel tanah/semen di antara batu-batu kolom pada kedalaman dari 8 sampai 12 meter.

Walaupun demikian, umur-umur ini sebaiknya diuji lebih lanjut dengan analisa radiokarbon dating atau metoda pengujian umur absolut lainnya yang lebih komprehensif karena angka-angka ini memang “beyond imagination” alias seperti tidak masuk akal karena tidak sesuai dengan pengetahuan sejarah dan perkembangan peradaban manusia yang dipercaya umum pada saat ini.  Oleh karena itu pembuktiannya pun harus ekstra yakin.

Gambar asumsi yang dilaporkan TTRM kepada presiden

Gambar asumsi yang dilaporkan TTRM kepada presiden

Karena itu, TTRM menyimpulkan: 1. Gunung Padang adalah mahakarya arsitektur dari peradaban tinggi kuno yang hilang atau belum dikenal saat ini. 2. Temuan bangunan di bawah Gunung padang adalah “breakthrough“ (terobosan, red) untuk dunia ilmu pengetahuan dan sekaligus dapat menjadi tonggak kebangkitan bangsa dan kebanggaan nasional yang tidak ternilai. 3. Keberadaan ruang-ruang memberi harapan untuk menemukan dokumen atau apapun yang dapat menguak misteri sejarah masa lampau.

Selanjutnya, TTRM merekomendasikan pemugaran situs dan pengembangannya untuk wisata dan pusat kebudayaan. Kemudian dilakukan survei lebih detail menyingkap rongga-rongga di bawah tanah termasuk dengan memakai kamera. (Tkr-dari berbagai sumber)

VIDEO TERKAIT :  GUNUNG PADANG – BEYOND IMAGINATION – MAHAKARYA LELUHUR

Ijin Pendirian Pabrik Baja di Trowulan Dibatalkan

Gapura/Candi Bajang Ratu, gapura peninggalan Majapahit yang berada di Desa Temon, Kecamatan Trowulan

Gapura/Candi Bajang Ratu, gapura peninggalan Majapahit yang berada di Desa Temon, Kecamatan Trowulan

Mojokerto (Sergap) – Gubernur Jawa Timur Soekarwo, hari Jumat (18/10/2013) lalu telah membatalkan izin pendirian pabrik besi baja pada lahan seluas 2 hektare di Desa Bejijong dan Wates Umpak, Trowulan. Bupati Mojokerto Mustafa Kemal Pasha pun setuju mendorong investor pabrik baja menjual kembali lahan yang sudah dibeli di kedua desa tersebut dan memindahkan lokasi pabrik ke kawasan industri lain.

Keberhasilan menyelamatkan Trowulan dari pendirian pabrik baja ini dapat dilakukan melalui para seniman lokal hingga nasional yang bersama serentak melancarkan protes secara terus-menerus, selama beberapa bulan terakhir.

Di hari yang sama, puluhan warga Kecamatan Trowulan juga berunjuk rasa ke kantor Bupati Mojokerto, Mustafa Kamal Pasa. Warga yang menamakan diri gerakan Save Trowulan itu mendesak Bupati menghentikan dan mencabut perizinan pendirian pabrik baja. “Kami ke sini ingin ketemu Bupati, dan Bupati harus mencabut izin pabrik baja,” kata koordinator Save Trowulan yang juga pelestari sejarah dan budaya Majapahit, Nanang, Jumat, (18/10/2013).

Mereka datang dengan mengenakan pakaian serba hitam Mojopahitan. Beberapa di antaranya juga menggunakan blangkon. Dengan membentangkan banner bertuliskan “Save Trowulan, Selamatkan Trowulan dari Industrialisasi”, mereka berjalan menuju pendapa Pemerintah Kabupaten Mojokerto.

Tak mendapati sambutan Bupati, warga berupaya merangsek ke ruang kerja Bupati Mojokerto di gedung kantor Pemerintah Kabupaten Mojokerto. Namun Bupati tidak berada di ruang kerjanya. Lantas mereka menuju ruang kerja Wakil Bupati Mojokerto Choirun Nisa. “Silakan ke pringgitan (pendapa), soal itu silakan ke Bupati langsung,” kata Choirun kepada para pengunjuk rasa.

Mereka turun kembali menuju pendapa dan menunggu sampai dua jam. Namun Bupati Mustafa tak kunjung muncul. Ternyata Bupati sedang melakukan pertemuan tertutup dengan sejumlah perwakilan Dewan Pimpinan dan Dewan Penyantun Badan Pelestarian Pusaka Indonesia (BPPI). BPPI juga mendesak Bupati mencabut perizinan pabrik baja di Trowulan.

Kepada wartawan, Hashim Djojohadikusumo dari Badan Pelestarian Pusaka Indonesia (BPPI) mengatakan, “Saya sudah sampaikan kepada Bupati, bahwa November 2013 ini Ditjen Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan sudah akan meresmikan selesainya hasil survei yang akan mengamankan situs Trowulan tak hanya melalui Undang-Undang Cagar Budaya, tetapi juga melalui pengawasan internasional”.

Ketua Dewan Pembina BPPI Luluk Sumiarso mengatakan, pihaknya sudah bertemu dengan Bupati Mojokerto dan Gubernur Jawa Timur untuk membicarakan masalah Trowulan. Pemerintah sepakat untuk tidak mengeluarkan izin berikutnya dan menghentikan pembangunan pabrik baja oleh PT Manunggal Sentral Baja. “Sudah disepakati tidak mengeluarkan izin berikutnya. Tanahnya juga akan dibeli pemerintah agar investor tidak rugi,” kata Luluk.

Sedangkan Bupati Mustafa Kamal Pasa mengaku memberikan izin pendirian pabrik baja kepada PT Manunggal Sentral Baja, tapi izin gangguan (HO) belum beres karena warga sekitar masih menolak. Pemerintah kabupaten telah mengeluarkan izin mendirikan bangunan di lahan yang berada di perbatasan Desa Jatipasar dan Watesumpak, Kecamatan Trowulan.

Upaya penyelamatan situs Trowulan juga dilakukan secara online. Balai Pelestarian Pusaka Indonesia dan Jaringan Pelestarian Majapahit mengunggah Petisi website di change.org dan berhasil mengumpulkan setidaknya  10.200 tanda tangan dukungan untuk menghentikan pembangunan pabrik baja di Trowulan.

“Sampai hari ini sudah ada 10.200 petisi. Tapi ini bukan final, ini justru awal,” kata Adrian Perkasa, Direktur Eksekutif BPPI sekaligus Ketua Jaringan Pelestarian Majapahit dalam jumpa pers di Surabaya Plaza Hotel, Jumat, 18 Oktober 2013.

Komunitas sejarawan dan budayawan yang didukung penuh warga gencar menolak pendirian pabrik baja.

Komunitas sejarawan dan budayawan yang didukung penuh warga gencar menolak pendirian pabrik baja dengan cara demo maupun Petisi online

Selain menyerukan penghentian pembangunan pabrik baja, petisi itu juga meminta pemerintah untuk segera menetapkan Trowulan sebagai kawasan cagar budaya. Menurut Adrian, berdasarkan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010, situs Trowulan seharusnya bisa menjadi kawasan cagar budaya dengan luas 120 kilometer persegi.

Selama ini, BPPI telah mengkampanyekan “Selamatkan Trowulan” dalam berbagai kesempatan. Di antaranya presentasi dalam 15th International Conference of National Trusts di Uganda, Afrika Timur.

World Monumens Fund pada 8 Oktober 2013 telah menyatakan secara resmi bahwa Trowulan termasuk dalam situs pusaka dunia yang terancam kehancuran. Selain Trowulan, Desa Ngada di Flores seta Desa Peceren dan Desa Dokan di Sumatera Utara juga termasuk situs yang terancam di Indonesia.

Gubernur Jawa Timur Soekarwo juga setuju dengan usulan BPPI untuk melakukan restorasi situs Trowulan. Tidak hanya diselamatkan, tapi kawasan Trowulan juga akan dibangun kembali tanpa merusak situs yang sudah ada. Restorasi itu nantinya juga akan melibatkan masyarakat setempat sehingga bisa mendapat nilai tambah. Seperti yang sudah terlihat di Kampung Majapahit, Desa Bejijong. (ang/win)

Ketika Bung Karno Menggebrak Dunia

lipsus 82 cvrPERCAYA DIRI, adalah kata yang tepat untuk menggambarkan sosok Presiden Soekarno saat itu. Terlalu banyak catatan kecil dimana Presiden Soekarno mendobrak Protokoler International untuk mengikuti Protokoler ala Soekarno. Jangankan hanya di Negara kelas 3, Amerikapun harus mampu menekan dada atas dobrakan yang dilakukan oleh Presiden Soekarno. Maka tak heran apabila setiap kunjungan kenegaraan ke berbagai negara sosok Presiden Soekarno selalu menjadi head line berita di berbagai media massa dunia, tak terkecuali ketika tampil di lembaga besar seperti PBB.

Dengan baju kebesaran berwarna putih, lengkap dengan kopiah dan kacamata baca, Bung Karno tidak mempedulikan protokoler Sidang Umum. Biasanya, setiap kepala negara berpidato sendiri saja. Tetapi, untuk pertama kalinya, Bung Karno naik ke podium didampingi ajudannya, Letkol (CPM) M Sabur, berpidato di depan Sidang Umum PBB ke 15 tanggal 30 September 1960 dengan judul “Membangun Dunia Baru”.

Lima tahun kemudian, per tanggal 1 Januari 1965, Bung Karno menyatakan Indonesia keluar dari PBB. Ia memrotes penerimaan Malaysia, antek kolonialisme Inggris, menjadi anggota tidak tetap Dewan Keamanan (DK)-PBB. Ketika mendengar instruksi Pemimpin Besar Revolusi Indonesia itu dari Perwakilan Tetap RI untuk PBB di New York, Sekjen PBB U Thanh menangis sedih, tak menyangka BK begitu marah dan kecewa.

Bung Karno dikenal sering kecewa dengan kinerja DK-PBB. Sampai sekarang pun kewenangan DK-PBB yang terlalu luas masih sering terasa kontroversial. Misalnya, terutama AS, Inggris dan Perancis, bersama Sekjen Koffi Annan, menjatuhkan sanksi-sanksi tak berperikemanusiaan atas Irak.

Sudah lama memang Bung Karno tidak menyukai struktur PBB yang didominasi negara-negara Barat, tanpa memperhitungkan representasi Dunia Ketiga yang sukses unjuk kekuatan dan kekompakan melalui Konferensi Asia-Afrika di Bandung tahun 1955.

Memprediksi kebesaran Cina

Untuk itulah, setiap tahun Bung Karno coba mengoreksi ketimpangan itu dengan memperjuangkan diterimanya Cina, yang waktu itu masih diisolasi oleh negara-negara Barat.

“Kita menghendaki PBB yang kuat dan universal, serta dapat bertugas sesuai dengan fungsinya. Oleh sebab itulah, kami konsisten mendukung Cina,” kata Bung Karno. Wawasan berpikir Bung Karno waktu itu ternyata benar. Cina bukan cuma lalu diterima sebagai anggota, namun juga menjadi salah satu anggota tetap DK-PBB. Puluhan tahun lalu, Bung Karno sudah memproyeksikan Cina sebagai negara besar dan berpengaruh, yang harus dilibatkan dalam persoalan-persoalan dunia. Dewasa ini, Cina sudah memainkan peranan penting dalam mengoreksi perimbangan kekuatan regional dan internasional, bahkan menjadi kekuatan ekonomi dunia yang mengalahkan dunia barat dan Jepang.

Kini hampir semua warga dunia sudah familiar dengan kata “globalisasi” atau saling keterkaitan (linkage) antar-bangsa, baik secara politis maupun ekonomis. Dan dalam pidato To Build the World Anew, Bung Karno sudah pernah mengucapkannya. “Adalah jelas, semua masalah besar di dunia kita ini saling berkaitan. Kolonialisme berkaitan dengan keamanan; keamanan juga berkaitan dengan masalah perdamaian dan perlucutan senjata; sementara perlucutan senjata berkaitan pula dengan kemajuan perdamaian di negara-negara belum berkembang,” ujar Sang Putra Fajar.

Di mana pun di dunia, Bung Karno tak pernah lupa membawakan suara Dunia Ketiga dan aspirasi nasionalisme rakyatnya sendiri. Siapa pun yang tidak suka kepadanya pasti akan mengakui sukses Bung Karno memelopori perjuangan Dunia Ketiga melalui Konrefensi Asia-Afrika atau KTT Gerakan Non Blok. Inilah Soekarno yang serius.

Memarahi Presiden Amerika

Jika sedang santai dalam saat kunjungan ke luar negeri, Bung Karno menjadi manusia biasa yang sangat menyukai seni. Kemana pun, yang tidak boleh dilupakan dalam jadwal kunjungan adalah menonton opera, melihat museum, atau mengunjungi seniman setempat. Hollywood pun dikunjunginya, ketika Ronald Reagan dan Marilyn Monroe masih menjadi bintang film berusia muda.

Ia pun tak segan memarahi seorang jenderal besar jago perang, Dwight Eisenhower, yang waktu itu menjadi Presiden AS dan sebagai tuan rumah yang terlambat keluar dari ruang kerjanya di Gedung Putih dalam kunjungan tahun 1956. Sebaliknya, Bung Karno rela memperpanjang selama sehari kunjungannya di Washington DC, setelah mengenal akrab Presiden John F Kennedy.

Akrab dengan media massa

Waktu berkunjung ke AS, banyak wartawan kawakan dari harian-harian besar di Amerika, mulai dari The New York Times, The Washington Post, LA Times, sampai Wall Street Journal-menulis dan memuat pidato dan pernyataannya yang menggugah, foto-fotonya yang segar, sampai soal-soal yang mendetail dari Bung Karno.

Kunjungan-kunjungannya ke luar negeri, memang membuat Bung Karno menjadi tokoh Dunia Ketiga yang selalu menjadi sorotan internasional. Sikapnya yang charming dan kosmopolitan, kegemarannya terhadap kesenian dan kebudayaan, pengetahuannya mengenai sejarah, bahasa tubuhnya yang menyenangkan, mungkin menjadikan Bung Karno menjadi tamu agung terpenting di abad ke-20, yang barangkali cuma bisa ditandingi oleh Fidel Castro atau JF Kennedy.

Politik bebas aktif

Perumusan politik luar negeri sebuah negara yang baru merdeka setelah Perang Dunia Kedua, lebih banyak dipengaruhi oleh kepala negara/pemerintahan. Mereka sangat berkepentingan untuk menjaga negara mereka masing-masing agar tidak terjerumus ke dalam persaingan ideologis dan militer Blok Barat melawan Blok Timur. Lagi pula, netralitas politik luar negeri semacam ini waktu itu berhasil menggugah semangat “senasib dan sepenanggungan” di negara-negara baru Asia dan Afrika, untuk menantang bipolarisme Barat-Timur melalui Konferensi Asia-Afrika di Bandung tahun 1955.

Di Indonesia, peranan Bung Karno dalam menjalankan politik luar negeri yang bebas dan aktif, jelas sangat dominan sejak ia mulai memerintah sampai akhirnya ia terisolasi menyusul pecahnya peristiwa Gerakan 30 September tahun 1965. Ia bahkan menjadi salah satu founding father pembentukan Gerakan Nonblok (GNB) sebagai kelanjutan dari Konferensi Bandung. Penting untuk digarisbawahi pula, Bung Karno pada awalnya menjadi satu-satunya pemimpin Dunia Ketiga yang dengan sangat santun menjalin serta menjaga jarak hubungan yang sama dan seimbang, dengan negara-negara Barat maupun Timur.

Hubungan Bung Karno dengan Washington pada prinsipnya selalu akrab. Akan tetapi, Bung Karno merasa dikhianati dan mulai bersikap anti-Amerika ketika pemerintahan hawkish Presiden Dwight Eisenhower mulai menjadikan Indonesia sebagai tembok untuk membendung komunisme Cina dan Uni Soviet pada paruh kedua dasawarsa 1950. Sewaktu Moskwa dan Beijing terlibat permusuhan ideologis yang sengit, Bung Karno juga relatif mampu menjaga kebijakan berjarak sama dan seimbang (equidistance) terhadap Cina dan Uni Soviet.

Bersama PM Chou En Lay, Presiden JF Kennedy, PM Fidel Castro dan Presiden Nikita Kruschev. Perhatikan sikap dan bahasa tubuhnya Bung Karno yang sangat percaya diri

Bersama PM Chou En Lay, Presiden JF Kennedy, PM Fidel Castro dan Presiden Nikita Kruschev. Perhatikan sikap dan bahasa tubuhnya Bung Karno yang sangat percaya diri

Lagi pula, Bung Karno dengan sangat pandai menjalankan politik luar negeri yang bebas dan aktif. Bobot Indonesia sebagai negara yang besar dan strategis, peranan penting Indonesia dalam menggagas GNB, dan posisi “soko guru” sebagai negara yang baru merdeka, benar-benar dimanfaatkannya sebagai posisi tawar yang cukup tinggi dalam diplomasi internasional. Oleh sebab itulah, pelaksanaan politik luar negeri yang high profile ala Bung Karno, tidak pelak lagi, membuat suara Indonesia terdengar sampai ke ujung dunia.

Mengapa ia akhirnya kecewa kepada Washington sehingga hubungan bilateral AS-Indonesia semakin hari semakin memburuk? Sebab Bung Karno tahu persis sepak terjang AS-juga Inggris, Australia dan Malaysia-ketika membantu pemberontakan PRRI-Permesta. Lebih dari itu, setelah kegagalan pemberontakan itu, Pemerintah AS memasukkan Bung Karno dalam daftar pemimpin yang harus segera dilenyapkan karena menjadi penghalang containment policy Barat terhadap Cina. Juga ada beberapa alasan domestik yang membuat Washington kesal terhadap Bung Karno, seperti sikapnya kepada Partai Komunis Indonesia (PKI).

Pada lima tahun pertama dekade 1960, hubungan Indonesia dengan Cina meningkat pesat. Mao Zedong sangat menghormati Bung Karno yang memberikan tempat khusus kepada komunis, dan sebaliknya Bung Karno mengagumi perjuangan Mao melawan dominasi AS dan Rusia di panggung internasional. Istimewanya hubungan Bung Karno dengan Mao ini tercermin dari gagasan pembentukan Poros Jakarta-Beijing. Bahkan kala itu poros ini sempat akan diluaskan dengan mengajak pemimpin Korut Kim Il-sung, pemimpin Vietnam Utara Ho Chi Minh, dan pemimpin Kamboja Norodom Sihanouk.

Tatkala memutuskan untuk keluar dari PBB, Bung Karno mencanangkan pembentukan New Emerging Forces sebagai reaksi terhadap Nekolim (Neo Kolonialisme dan Imperialisme). Ia juga bercita-cita membentuk sendiri forum konferensi negara-negara baru itu di Jakarta, sebagai reaksi terhadap dominasi PBB yang dinilainya terlalu condong ke Barat. Sungguh patut disayangkan, wadah kerja sama Dunia Ketiga ini hanya sempat bergulir sampai pesta olahraga Ganefo belaka.

Seperti telah disinggung di atas, dominasi Bung Karno dalam perumusan politik luar negeri yang bebas dan aktif, sangat dominan. Persepsi, sikap, dan keputusan Bung Karno dalam mengendalikan diplomasi Indonesia, bersumber pada pengalaman-pengalamannya dalam kancah perjuangan dan pembentukan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Mungkin karena terlalu banyak krisis yang dihadapi Bung Karno selama ia memimpin, membuat pelaksanaan politik luar negerinya menjadi high profile dan agak bergejolak.

Akan tetapi, gejolak-gejolak tersebut, juga sikap Bung Karno menghadapi politik Perang Dingin, tidak dapat dikatakan sebagai sebuah kelemahan ataupun penyimpangan dari politik luar negeri yang bebas aktif. Justru yang terjadi, Bung Karno senantiasa mencoba menghadirkan gagasan-gagasannya tentang dunia yang damai dan adil, dengan mengedepankan posisi Indonesia sebagai kekuatan menengah yang menyuarakan nasib Asia dan Afrika.

Penting pula untuk ditegaskan, perilaku internasional Bung Karno pada kenyataannya memang berhasil mengangkat derajat masyarakat-masyarakat Dunia Ketiga dalam menghadapi kemapanan politik Perang Dingin. Malahan jika menghitung akibatnya, ada kekhawatiran besar di negara-negara adidaya terhadap internasionalisasi Sukarnoisme yang akan membahayakan posisi mereka.

Jika berbicara mengenai sumber-sumber yang mempengaruhi “politik global” Bung Karno, sesungguhnya mudah untuk memahaminya. Ia lahir dari persatuan antara dua etnis, Bali dan Jawa Timur. Ia menikahi pula gadis dari Pulau Sumatera. Ia beberapa kali dipenjarakan penjajah Belanda di berbagai tempat di Nusantara, membuatnya mengenal dari dekat kehidupan berbagai
etnis. Pendek kata, ia lebih “Indonesia” ketimbang menjadi seorang yang “Jawasentris.”

Dalam pandangan Bung Karno, dunia merupakan bentuk dari sebuah “Indonesia kecil” yang terdiri dari berbagai suku bangsa. Dan ini betul. Bung Karno seakan-akan membawa misi untuk membuat agar semua bangsa berdiri sama tinggi dan setara di dunia ini, sama dengan upayanya berlelah-lelah mempersatukan semua suku bangsa menjadi Indonesia. Meskipun Indonesia cuma menyandang kekuatan menengah, Bung Karno sedikit banyak memiliki sebuah “visi dunia” seperti para pemimpin negara adidaya, yang waktu itu merupakan sebuah utopia belaka.

Pengalaman pahit menghadapi penjajah Belanda serta Jepang, merupakan sumber utama bagi Bung Karno untuk membawa Indonesia menjadi Anti Barat di kemudian hari. Kebijakan anti komunisme yang dijalankan Barat untuk membendung pengaruh Uni Soviet, menurut Bung Karno merupakan sebuah pemasungan terhadap sebuah penolakan terhadap hak kesetaraan semua bangsa di dunia untuk bersuara. Persepsi Bung Karno mengenai perjuangan GNB pun serupa, yakni memberdayakan Dunia Ketiga untuk mengikis ketimpangan antara negara-negara kaya dengan yang miskin.

Pejuang dunia ketiga

Pada hakikatnya, wawasan Bung Karno tentang perlunya memperjuangkan ketidakadilan internasional itu, masih relevan dengan situasi politik dan ekonomi global saat ini. Entah sudah berapa banyak dibentuk fora-fora kerja sama politik dan ekonomi internasional, yang masih gagal menutup kesenjangan antara yang kaya dengan yang miskin, seperti Dialog Utara-Selatan, atau G-15. Sampai saat ini pun, PBB masih belum melepaskan diri dari genggaman kepentingan-kepentingan negara-negara Barat di Dewan Keamanan.

Andaikan saja Bung Karno tidak tersingkir dari kekuasaan, apa yang sesungguhnya telah ia lakukan dalam ruang lingkup politik global? Mungkin saja, satu-satunya kegagalan-kalaupun itu layak disebut sebagai kegagalan-adalah ingin menantang atau mengubah (to challenge) tata dunia yang “stabil” pada masa itu.

Stabilitas, atau equilibrium global pada saat itu, suka atau tidak, diatur oleh perimbangan kekuatan antara Barat dengan Timur. Kedua blok yang berseteru meyakini bahwa perdamaian abadi hanya bisa dicapai dengan sebuah lomba senjata yang seimbang, baik secara kuantitatif maupun secara kualitatif.

Pengaturan perimbangan kekuatan itu bersifat pasti, matematis, dan mengamankan dunia dari ancaman instabilitas. Itulah jadinya pembentukan NATO dan Pakta Warsawa, serta perjanjian hot line dan anti-tes senjata nuklir antara JF Kennedy dengan Nikita Kruschev. Stabilitas global AS-Uni Soviet inilah yang juga menjamin peredaan ketegangan dan tercegahnya perang antara Eropa Barat dengan Eropa Timur, antara Korut dan Korsel di Semenanjung Korea, antara Vietnam Utara dan Vietnam Selatan di daratan Asia Tenggara, dan antara Kuba dengan AS.

Pada prinsipnya, akan selalu ada pemimpin yang ingin mengubah stabilitas semu semacam ini. Upaya-upaya yang membahayakan kemaslahatan perimbangan kekuatan tersebut, akan selalu menimbulkan krisis politik atau krisis militer. Bagi para penjamin stabilitas, seorang Bung Karno memang hanya merupakan sebuah ancaman yang akan menimbulkan krisis politik, bukan krisis militer. Oleh sebab itulah perlu ditekankan sekali lagi, pihak-pihak Barat-khususnya AS dan Inggris-sudah sampai pada kesimpulan bahwa Bung Karno mesti dilenyapkan.

Sayang sekali, inisiatif-inisiatif diplomasi Bung Karno terhenti di tengah jalan saat ia diisolasi dari kekuasaannya. Betapapun, banyak doktrin dari politik luar negeri yang dijalankannya, dilanjutkan oleh para penggantinya. Warisan Bung Karno bukan hanya menjadi diorama yang bagus dilihat-lihat, tetapi juga masih kontekstual untuk zaman-zaman selanjutnya.

Tidak pada tempatnya bagi kita untuk menyesali politik luar negeri Bung Karno, seperti yang pernah dilakukan oleh pemerintahan Orde Baru. Apakah kebijakan lebih buruk ketimbang politik luar negeri yang cuma mengemis-ngemis bantuan luar negeri? Apakah melepas Timor Timur juga merupakan kebijakan yang lebih baik? Apakah berwisata ke luar negeri tanpa tujuan, lalu mendengang-dengungkan poros Cina-Indonesia-India juga lebih hebat dari politik global Bung Karno?

Dunia yang lebih adil

Sesuai dengan julukan Sang Putra Fajar, Bung Karno membuka matanya melihat terang benderang dunia saat fajar menyising, tatkala sebagian dari kita masih terlelap menutup mata. Dunia versi Bung Karno adalah dunia yang mutlak harus berubah menjadi tempat yang lebih adil dan setara bagi semua. Kita pernah beruntung memiliki seorang duta bangsa, yang sekaligus juga seorang diplomat terulung yang pernah dimiliki Indonesia.

Sebagai penerus sejarah bangsa ini, kita hanya mampu bertanya “Apakah masih mungkin akan terlahir kembali sosok pemimpin yang setara Bung Karno?” Sejarah yang akan menjawabnya. DIPERSEMBAHKAN DALAM RANGKA BULAN BUNG KARNO 2013. (Tkr-dari berbagai sumber)

 Naskah lengkap Pidato Bung Karno di Sidang Umum PBB ke 15 tanggal 30 September 1960 dengan judul “Membangun Dunia Baru”.

Situs Patirtan Zaman Jenggala Ditemukan di Madiun

Diperkiran dibangun di era Kerajaan Jenggala

Diperkiran dibangun di era Kerajaan Jenggala

Madiun (Sergap) – Sebuah situs sejarah berupa patirtan (tempat pemandian) yang diperkirakan berumur 700 tahun ditemukan di Desa Dolopo, Kecamatan Dolopo, Kabupaten Madiun.

Situs tersebut ditemukan oleh Darno, salah satu warga setempat saat menggali tanah liat sebagai bahan baku pembuat batu bata di pekarangan belakang rumahnya. Situs tersebut ditemukan terkubur sedalam kurang lebih dua meter.

Setelah digali lebih dalam lagi, ia dan warga desa lainnya yang membantu penggalian, menemukan sebuah arca pada kedalaman sekitar dua meteran. Ia akhirnya melaporkan temuannya tersebut ke kantor desa dan tokoh masyarakat setempat.
“Saat saya menggali tanah, cangkul saya menghantam batu bata. Dan ternyata batu bata tersebut ukurannya tiga kali lipat lebih lebar di banding bata sekarang,” ujarnya, Senin (20/5/2013).

Anto Purba, seorang pemerhati budaya mengatakan, bangunan dari batu bata tersebut diduga sebuah bangunan candi dari zaman Kerajaan Jenggala yang wilayahnya mencapai Madiun sebelum zaman kerajaan Majapahit.

“Jika dilihat dari bentu batu batanya yang lebar dan adanya kendi dengan leher yang panjang, situs ini merupakan tempat mandi atau patirtan dari zaman Kerajaan Jenggala pada masa sekitar 700 tahun yang lalu,” katanya.

Namun untuk lebih pastinya, akan dilaporkan penemuan ini kepada Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Trowulan, Mojokerto dan Pemkab Madiun. Anto berharap agar instansi terkait melakukan peninjauan atas temuan sisa bangunan yang diduga bersejarah tersebut. Sehingga, jika ternyata benar merupakan peninggalan bersejarah, maka aset tersebut tidak disalahgunakan oleh pihak-pihak tertentu yang tidak bertanggung jawab yang hanya mencari keuntungan semata.

Anto Purba juga menambahkan, bahwa sebelumnya di wilayah Dolopo juga pernah ditemukan Yoni dan Lumpang. (hs)