Walikota dan Wakil Walikota Kediri Dilantik Gubernur, di Bawah Pengawalan Lengkap

Walikota Abdullah Abu Bakar dan Wakil Walikota Lilik Muhibbah

Walikota Abdullah Abu Bakar dan Wakil Walikota Lilik Muhibbah

Kediri (Sergap) – Gubernur Jawa Timur DR. Soekarwo, Rabu (02/04/2014) melantik secara resmi Walikota dan Wakil Walikota Kediri terpilih Abdullah Abu Bakar, SE dan Hj. Lilik Muhibbah, S.Sos, MpdI. Sebelum melantik pasangan Walikota dan Wakil Walikota terpilih, Gubernur atas nama Presiden Republik Indonesia, mengingatkan bahwa jabatan kepala daerah mengandung tanggungjawab kepada negara, Pancasila, UUD 1945 dan mengemban tugas untuk mensejahterakan rakyat.

Sumpah jabatan dilaksanakan tepat pada pukul 09.25 WIB, yang kemudian diteruskan dengan penyematan tanda jabatan, penandatangan pakta integritas dan penandatanganan serah terima jabatan dari mantan Walikota dr. H. Samsul Ashar, SpPD kepada Walikota Abdullah Abu Bakar, SE.

Saat Walikota baru, yang sebelumnya menjabat sebagai Wakil Walikota ini berjabatan dan    bercepika-cepiki, tepuk tangan menggema di ruang sidang paripurna DRPD Kota Kediri. Bahkan ada yang nyeletuk, “Meh limang tahun, lagek saiki salaman.” (Hampir lima tahun, baru saat ini mereka bersalaman).

Memang selama ini terdengar kabar bahwa hubungan antara Samsul Ashar dengan Abdullah Abu Bakar sudah lama tak harmonis. Karena itu kemudian Abdullah Abu Bakar kemudian maju mencalonkan diri bersaing dengan Samsul Ashar.

Kabar hoax

PENGAWALAN LENGKAP Motor trail Sabhara, Mobile Security Barrier dan Mobil Taktis yang mesinnya menyala selama acara

PENGAWALAN LENGKAP – Motor trail Sabhara, Mobile Security Barrier dan Mobil Taktis yang mesinnya menyala selama acara

Bahkan beberapa hari menjelang pelantikan, masih beredar rumor bahwa kubu Samsul Ashar akan melakukan demo menentang pelantikan ini. Namun ternyata hanya hoax (kabar bohong). Walaupun demikian Polresta Kediri tidak mau mengambil resiko, sehingga penjagaan pada hari ini terlihat sangat lengkap.

Sehari sebelumnya, Kapolresta Kediri AKBP Budhi Herdi Susianto menjelaskan bahwa pengamanan pelantikan melibatkan 300 personel Kepolisian, TNI AD 100 personel, Satpol PP 100 orang, petugas Dishub 50 orang dan 10 petugas Pemadam Kebakaran. Ring 1 lantai II tempat acara utama pelantikan, akan dijaga anggota Intel. Anggota Sabara Ring II dan Ring III Sat Lantas di lantai bawah. “Semuanya, dibawah pengendalian Kabag Ops Polres Kediri Kota.

Juga tampak siaga kendaraan pembawa kawat berduri (Mobile Security Barrier), satu unit kendaraan taktis siaga di samping utara gedung utama DPRD yang mesinnya dihidupkan selama acara berlangsung. Pasukan Sabhara bermotor trail juga siaga 30 meter di selatan gedung DPRD Kota Kediri.

Disparitas pendapatan

Dalam amanatnya sebagai Gubernur Jawa Timur, Kepala Daerah Provinsi yang biasa dipanggil Pakde Karwo, menekankan pentingnya penguatan jasa keuangan di Kota Kediri. Menurut data statistik pendapatan per kapita Kota Kediri tergolong tinggi, yaitu Rp. 286 juta per tahun. “Tapi disparitasnya juga tinggi, ngumpul di Gudang Garam,” kata Pakde Karwo.

Walikota Abdullah Abu Bakar dan Wakil Walikota Hj. Lilik Muhibbah saat mengucapkan sumpah jabatan dipimpin oleh Gubernur Jawa Timur

Walikota Abdullah Abu Bakar dan Wakil Walikota Hj. Lilik Muhibbah saat mengucapkan sumpah jabatan dipimpin oleh Gubernur Jawa Timur

Karena itu, Pakde Karwo memandang penting untuk memperkuat BPR Kota milik Pemkot Kediri sebagai sarana untuk menyediakan modal murah bagi usaha kecil dan mikro. “BPR milik Kota Kediri, usahakan mampu menyediakan modal usaha dengan bunga 6% per tahun, untuk mengurangi tingkat disparitas pendapatan per kapita di Kota Kediri,” kata gubernur.

Gubernur juga mengingatkan kepada Walikota dan Wakil Walikota yang baru dilantik untuk segera membuat Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RJMD). “Selambat-lambatnya tiga bulan setelah pelantikan harus membuat RPJMD, agar segera disinkronkan dengan RJMD provinsi dan RJMD pusat,” ujarnya.

Pakde Karwo juga mengingatkan eksekutif dan legislatif di Kota Kediri untuk harmonis dan rukun, serta mengutamakan musyawarah mufakat. Terkait hal ini Pakde Karwo juga sempat menyentil ketidakharmonisan hubungan antara Walikota Kediri Abdullah Abu Bakar yang baru dilantik dengan mantan walikota Samsul Ashar.”Kemarin sudah saya buatkan surat agar dokter Samsul pindah kerja di provinsi. Biarlah yang lalu sudah berlalu tidak usah diperpanjang lagi,” kata Pakde Karwo.

Acara pelantikan Walikota dan Wakil Walikota Kediri dihadiri ratusan undangan. Tampak hadir Wakil Ketua DPR RI Pramono Anung Wibowo, Walikota Depok Nurmahmudi Ismail, Bupati Kediri Hj. Haryanti, Wakil Walikota Blitar Purnawan Buchori, Ketua DPRD Kabupaten Kediri Erjik Bintoro, Ketua DPRD Kabupaten Blitar Guntur Wahono, mantan Walikota Kediri HA Maschut, mantan Bupati Kediri Sutrisno dan lainnya. Namun dua anggota kabinet, yaitu Menko Perekonomian Hatta Rajasa dan Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan yang semula akan hadir, mendadak membatalkan kehadiran karena ada agenda rapat kabinet. (tkr)

Pilwali Kediri Digugat ke Mahkamah Konstitusi

pilwali kediri 2013Kediri (Sergap) – Pasangan Calon Walikota (paslon) inkamben dengan nomor urut 4, Samsul Ashar-Sunardi (SAS) akhirnya jadi melayangkan gugatan sengketa Pemilukada ke Mahkamah Konstitusi (MK). Tim Kuasa Hukum Pasangan SAS, telah mengirim surat gugatan ke MK yang tembusannya dikirimkan ke KPUD Kota Kediri. Sedangkan utusan KPUD Kota Kediri ke MK belum secara resmi mendapatkan tembusan surat tersebut.

“Tanda terimanya dikirimkan kepada kami pada 6 September 2013 dengan Pokok Acara Hasil Perselisihan Pemilihan Umum Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah Kota Kediri Tahun 2013. Pemohon dr H Samsul Ashar Sp,PD dan H. Sunardi dan Kuasa Hukumnya, Syamsudin dan kawan. Status berkas pemohon, sesuai sebagian isi tanda terima. Namun sampai dengan hari ini, kami belum menerima surat panggilan sidang. Kami juga belum mengetahui materi apa yang bakal digugat oleh paslon  yang tidak puas, mengingat dalam tembusan pemberitahuan yang kami terima itu tidak ada rincian gugatan”, kata Komisioner KPUD Kota Kediri, Saman Hudi menjelaskan kepada wartawan, Sabtu (7/9/2013).

Saman Hudi

Saman Hudi

Ditambahkan oleh Saman Hudi bahwa pihaknya kini juga tengah menyiapkan bukti-bukti dan pengacara untuk melawan gugatan dari paslon SAS. “Kami telah menyiapkan semua Form C1 yang nantinya dibutuhkan dalam pembuktian di sidang MK. Semua komisioner juga telah siap menghadiri sidang, kuasa hukum dari yang disediakan dan dibiayai negara juga sudah siap”, tegasnya.

Sebagaimana banyak diberitakan sebelumnya, Tim Pemenangan Paslon SAS menyatakan bahwa pelaksanaan Pilwali Kota Kediri penuh permasalahan.

Mulai dari banyaknya surat suara yang ditengarai rusak atau mengarah ke pasangan nomor urut 4, kontrak politik sebelum kampanye yang dilakukan oleh pasangan nomor urut 6, yang dianggap sebagai praktik money politik dan juga KPUD yang dituding tidak netral.

Dalam beberapa unjuk rasa beberapa waktu yang lalu, menyusul kekalahannya Tim Pemenangan, Tim Advokasi dan Relawan Paslon SAS terus-menerus menyuarakan protesnya terhadap penyelenggaraan Pilwali Kota Kediri 2013 ini.

“Sejak awal, kami sudah protes terhadap rusaknya segel dan gembok kotak suara. Tetapi proses ini tidak ada tindak lanjut. Siapa yang melakukan perusakan itu. Padahal kotak suara dari TPS itu selalu dikawal oleh polisi. Fakta ini terungkap oleh Panwaslu Kota Kediri yang dijumpai di Kelurahan Pesantren, Bangsal, Burengan, Dandangan dan Ngampel. Panwas mengirim surat ke KPU dan meminta Polisi melakukan police line kepada 46 wilayah (kelurahan). Tetapi hanya lima kelurahan yang dipolice line. Maka Tim Hukum SAS merekomendasikan Kapolda Jatim untuk memeriksa Kapolres Kediri Kota,” jelas Soleh, juru bicara Tim Advokasi SAS saat itu. (tkr)

Mas Abu-Ning Lik, Pemenang Pilwali Kediri 2013

Mas Abu-Ning Lik

Mas Abu-Ning Lik

Kediri (Sergap) – Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Kediri pada akhirnya menyatakan pasangan Abdullah Abu Bakar-Lilik Muhibbah sebagai pemenang dalam Pemilihan Kepala Daerah (Pemilukada) yang dilaksanakan pada tgl 29 Agustus 2013, untuk memilih Walikota dan Wakil Walikota Kediri masa jabatan 2013-2018.

Ketua KPU Kota Kediri Agus Rofik, Selasa (3/9/2013), mengatakan sesuai dengan ketentuan peraturan dan perundang-undangan yang berlaku, pasangan yang mendapatkan suara tertinggi, setelah lebih dari 30 persen, dinyatakan sebagai pemenangnya.

“Pasangan Abdullah-Lilik Muhibbah mendapatkan suara sebanyak 67.915 (45,09%), sementara pasangan Samsul Ashar-Sunardi mendapatkan suara 63.784 suara (42,34%),” katanya, usai rekapitulasi penghitungan suara yang mendapatkan penjagaan ekstra ketat dari aparat keamanan.

Sedangkan untuk pasangan Arifudinsyah-Sudjatmiko mendapatkan mendapatkan 867 suara (0,58 persen), Bambang Hariyanto-Hartono mendapatkan 13.719 suara (9,11 persen), Imam Subawi-Suparlan mendapatkan 1.362 suara (0,90 persen), Kasiadi-Budi Rahardjo 1.508 suara (1 persen), dan Herry Muller-Ali Imron 1.478 suara (0,98 persen).

Dengan hasil rekapitulasi tersebut maka, yang memperoleh suara terbayak dan memenangi Pemilukada/Pilwali di Kota Kediri adalah pasangan nomor urut enam, Abdullah Abu Bakar-Lilik Muhibbah (Mas Abu-Ning Lik).

Sesuai dengan Surat Keputusan KPU Kota Kediri Nomor : 16/Kpts/KPU-Kota-014.329976/2013, Tanggal : 25 Februari 2013 tentang Tahapan, Program dan  Jadual Penyelenggaraan Pemilihan Walikota Kediri dan Wakil Walikota Kediri Tahun 2013, maka paling lambat tanggal 5 September 2013, KPU Kota Kediri akan menetapkan secara resmi pemenang Pilwali Kota Tahu ini.

Pemilukada Kota Kediri yang dilaksanakan bersamaan dengan Pemilukada Jatim ini 206.340 pemilih, yang moncoblos di 530 TPS. (tkr)

KPU Kota Kediri, Kami Anggap Sebagai Obat Kuat

Tim Pemenang SAS saat demo menuntut penghitungan ulang

Tim Pemenang SAS saat demo menuntut penghitungan ulang

Kediri (Sergap) – Sebagaimana ramai diberitakan di berbagai media massa, Tim Pemenangan pasangan calon (paslon) Samsul Ashar-Sunardi (SAS), menuding bahwa Ketua KPU Kota Kediri Agus Rofiq tidak netral dan memihak salah satu calon.

Saat ditemui di kantornya, Ketua KPU Kota Kediri Agus Rofiq membantah tuduhan tersebut. “Kami dalam melaksanakan atau tidak melaksanakan, mengungkapkan atau tidak mengungkapkan sesuatu, semua sudah kita dasari sesuai perintah. Semenjak kami dilantik sebagai anggota KPU, kami sudah berkeyakinan  dan kami lambari apapun yang kami lakukan atas nama Bangsa Indonesia, bukan untuk kepentingan golongan tertentu apalagi demi kepentingan perorangan”, kata Gus Rofiq, demikian ia akrab dipanggil, menjelaskan.

Agus Rofiq, Ketua KPU Kota Kediri

Agus Rofiq, Ketua KPU Kota Kediri

“Yang penting bukti riil di lapangan, kita tidak melakukan (sebagaimana yang dituduhkan, red) dan waktu yang akan menjawab, sebab mereka akan tahu kalau kami netral. Itu semua kami anggap sebagai obat kuat” tegasnya.

Sebelumnya, bertempat di Sekretariat Bersama SAS jalan Imam Bonjol Nomor 362 Tim Kemenangan SAS dan para kader SAS melakukan orasi mengkritik ketidaknetralan Ketua KPU Kota Kediri. Mereka akan melakukan gugatan sengkata pemilukada ke Mahkamah Konstitusi (MK).

”Yang jelas dengan adanya kecurangan-kecurangan di mulai dari tingkat TPS sampai perhitungan suara di PPS maupun di PPK, apapun kecurangan itu akan kami sertakan bukti-bukti ke MK. Kami menuntut perhitungan ulang atau Pilkada ulang. Hal ini juga kami sampaikan ke KPU baik KPU Kota, KPU Provinsi, termasuk Panwas dan Bawas”, kata Jaka Siswa Lelana Ketua Tim Pemenang yang juga Ketua DPC Partai Demokrat Kota Kediri kepada Tabloid Sergap.

Tuntutan Tim Pemenangan SAS, selengkapnya adalah : 1). Panwas tidak netral, kita menuntut Ketua Panwasda Kota Kediri MUNDUR. 2). Menuntut Ketua KPU Kota Kediri untuk MUNDUR karena tidak netral, memihak pada salah satu calon. 3). Menuntut Kapolresta Kediri MUNDUR karena melebihi kewenangan pengamanan dengan mempolice line di PPS-PPS. 4). Menuntut perhitungan ulang seluruh kotak suara yang ada / pilkada  diulang.

Ditandatangani di Kediri pada 2 September 2013 oleh Edi GD, Pri Wahono, Samsudin, Ali Fauzi, Panggih Widodo, Dani Ragata. (dick/tkr)

Mbah Yai Idris Lirboyo, Jangan Ada Kerusuhan

KH. Idris Marzuki

KH. Idris Marzuki

Kediri (Sergap) – “Baik pemenang Pilgub maupun Pilwali Kediri yang sudah ditetapkan oleh KPUD nanti, saya sangat mendukung. Sehingga jangan sampai ada kegiatan atau tindakan yang menduduki Kantor KPU, baik di Jatim maupun di Kota Kediri,” pesan KH. Idris Marzuki, pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo Kediri, Senin (2/9/2013) di kediamannya usai menerima kunjungan Wakil Gubernur Jawa Timur Saifullah Yusuf.

Pemilihan Gubernur (Pilgub) Jawa Timur maupun Pemilihan Walikota (Pilwali) telah usai. Namun siapa pemenangnya, masih harus menunggu hasil penghitungan resmi dari KPU Jatim dan KPU Kota Kediri. Melihat perkembangan situasi yang masih menghangat, Pengasuh Ponpes Lirboyo Kota Kediri, yang akrab disapa Mbah Yai Idris ini menghimbau semua pihak kembali bersatu dan bersama membangun Jawa Timur.

“Siapapun nanti pemimpin Jatim yang ditetapkan, semua pihak harus bisa menerima kenyataan dan legawa”, tambah Mbah Yai Idris menekankan.

Sekadar diketahui, terkait Pilgub Jatim 2013, paslon Khofifah Indar Parawansa – Herman Suriadirja (Berkah), sepertinya belum mau menerima kenyataan. Kubunya masih mencari data atau bukti kuat untuk mengungkap  dugaan kecurangan.

Demikian pula di Pilwali Kediri, kubu Samsul Ashar –Sunardi (SAS) juga berusaha mengungkap dugaan kecurangan dan akan membawa perkaranya ke Mahkamah Konstitusi (MK).

Cawagub inkumben, juga menginginkan semua pihak untuk kembali bersama-sama menata Jawa Timur menjadi semakin baik ke depannya.  “Pesta demokrasi sudah usai dan Pilkada merupakan proses dalam demokrasi. Dan setelah selesai, mari kita bersama-sama membangun Jatim untuk lebih maju,” kata Gus Ipul menegaskan. (tkr)

Kemenangan Tipis Warnai Pilwali Kediri, KPU Jatim Bongkar Kotak Suara

pilwali kediri buka police line

Pintu Kelurahan Dandangan saat dipolice line. Kapolresta Kediri membuka police line dan masuk ruangan diikuti Ketua KPU Jawa Timur dan KPU Kota Kediri

Kediri (Sergap) – Kemenangan sangat tipis Pasangan Calon (paslon) Mas Abu-Ning atas paslon Samsul-Sunardi membuat Tim Pemenangan Abu-Ning cenderung lebih sensitif dalam memantau tahapan demi tahapan dalam proses Pemilihan Walikota (Pilwali) Kediri.

Hal ini terjadi di Kelurahan Dandangan Kecamatan Kota Kediri, di mana kotak suara dibuka satu per satu sebagai KPU Kota Kediri dipimpin langsung oleh Ketua KPU Provinsi Jawa Timur, Andre Dewanto Ahmad, dikarenakan adanya laporan penghitungan suara di luar jadwal yang ada.

Sebagaimana diketahui, sebelumnya Ketua KPU Kota Kediri Agus Rofik, mengatakan bahwa rapat rekapitulasi suara dimulai 30 Agustus 2013. Namun di Kelurahan Dandangan Panitia Pemungutan Suara (PPS)nya sudah menghitung suara pada tanggal 29 Agustus 2013.

Kuncoro, Anggota PPS Kelurahan mengatakan, rekapitulasi (penghitungan) suara saat itu sudah disetujui oleh semua saksi paslon yang hadir. “Untuk menghemat tenaga dan biaya, langsung dilakukan penghitungan suara dari TPS-TPS yang selesainya lebih awal. Dan semua saksi yang hadir sudah setuju”, kata Kuncoro saat ditemui Tabloid Sergap di Kelurahan Jumat malam (30/08/2013).

Ditambahkan oleh Kuncoro bahwa ia dan teman-temannya tidak tahu secara pasti bahwa penghitungan suara dijadwalkan pada tanggal 30 Agustus 2013. Ia juga mengatakan bahwa tidak ada sosialisasi tentang hal itu.

Penghitungan suara malam itu, diketahui oleh salah seorang anggota PPK (Panitia Pemilihan Kecamatan) yang kebetulan datang ke kantor Kelurahan Dandangan untuk mengantarkan sebuah surat.

Mengetahui hal ini, anggota PPK tersebut memperingatkan dan meminta agar penghitungan suara dihentikan, karena sudah menyalahi jadwal. Seharusnya rekapitulasi baru dilakukan esok harinya.

pilwali kediri 85 bongkar kotak suara

Ketua KPU Jawa Timur Andre Dewanto Ahmad (paling kanan) memimpin “pembongkaran kotak suara”. Ketua KPU Kota Kediri Agus Rofiq (berkopiah putih) memeriksa kotak suara.

Kabar ini dengan cepat berkembang sehingga menyebabkan Tim Pemenangan Mas Abu-Ning Lik mengajukan protes ke Panwaslu. Dan ternyata kejadian serupa juga terjadi paling tidak di Kelurahan Pesantren, Bawang, Tosaren, Burengan dan Ngampel.

Untuk mengantisipasi hal yang tak diinginkan, Polresta Kediri segera melakukan penyegelan di kelurahan-kelurahan tersebut dengan cara memberi police line.

Menanggapi hal ini, Masrukin Komisioner KPU Kota Kediri enggan memberikan tanggapannya. “Nggak, nggak….”, katanya sambil bergerak menjauh.

Baru kemudian pada pukul 21.00 WIB rombongan KPU, Kapolresta, Dandim datang ke Kantor Kelurahan Dandangan datang untuk memeriksa kemungkinan terjadinya hal yang tak diinginkan.

Kapolresta Kediri AKBP Ratno Kuncoro membuka police line, kemudian para komisioner KPU masuk ke dalam, termasuk Ketua KPU Provinsi Jawa Timur, Andre Dewanto Ahmad, yang kemudian memimpin langsung pembukaan dan pemeriksaan kotak suara yang disaksikan oleh para saksi TPS dan PPS.

Kantor Kelurahan Dandangan malam itu tampak ramai. Puluhan anggota Brimob Polda Jatim tempak menjaga di pintu gerbang. Ketika berita ini ditulis, pemeriksaan kotak suara sudah hampir selesai dan tampaknya tidak ada kesalahan sebagaimana dikhawatiran.

Sebagaimana diketahui Lingkaran Survey Indonesia (LSI) telah merilis hasil quick count Pilwali Kediri, di Grand Surya Hotel pada Kamis (29/08/2013) dengan kemenangan sangat-sangat tipis untuk paslon Mas Abu-Ning, sebagai berikut : Nomor Urut 1 : Arifudinsyah-Sudjatmiko (AJI) : 0,64 %; Nomor urut 2 : Bambang Harianto-Hartono (BaHar) 8,88 %; Nomor Urut 2 : Imam Subawi-Suparlan (MaPan) 0,93 %; Nomor Urut 4 : Samsul-Sunardi (SAS) 43.72 %; Nomor Urut 5 : Kasiadi-Budi Raharjo (KasiIbu) 0,91 %; Nomor Urut 6 : Mas Abu-Ning Lik 43.89 %; Nomor Urut 7 : Harry Muller-Ali Imron (HAI) 1,04 %

LSI juga menyampaikan statmen, bisa dikatakan Quick Count Pilwali Kediri ini hasilnya seri. “Secara ilmiah di bawah margin error 1 persen,” ujar Imam Fauzi Surahmad, selaku juru bicara area riset LSI Jawa Timur. “Karena selisihnya dibawah margin error, data quick count hasil Pilwali Kediri sangat bisa berubah. Oleh karena itu, LSI berharap, hasil akhir tetap menunggu perhitungan manual dari Komisi Pemilihan Umum”, kata Imam menjelaskan.

Sesuai dengan statemen LSI tersebut, wajar sekali jika kubu Mas Abu-Ning Lik menjadi sangat konsentrasi dalam menjaga proses dalam tahapan-tahapan penghitungan suara. Karena kesalahan sedikit saja, bisa menyebabkan perubahan pihak yang memenangkan Pilwali Kota Kediri tahun 2013 ini. Mengingat sebagaimana statement LSI selisih suara yang menentukan kemenangan itu hanya 3-4 suara saja. (Tkr)

Inilah Nomor Urut Pasangan Calon Walikota dan Wakil Walikota Kediri 2013

Pasangan Walikota dan Wakil Walikota Kediri dan nomor urutnya

Pasangan Calon Walikota dan Wakil Walikota Kediri dan nomor urutnya

Kediri (Sergap) – Pengundian nomor urut 7 pasangan calon walikota dan wakil walikota Kediri periode 2014-2019 telah dilaksanakan oleh KPU Kota Kediri dalam Rapat Pleno Terbuka yang dilaksanakan di Hotel Insumo, Senin (15/07/2013).

Nomor urut 1 : Arifudinsyah-Ki Sudjatmiko (AJI). Nomor urut 2 : Bambang Harianto-Hartono (BaHar). Nomor urut 3 : Imam Subawi-Suparlan (MaPan). Nomor urut 4 : Samsul Ashar – Sunardi (SAS). Nomor urut 5 : Kasiadi-Budi Raharjo (Kasibu). Nomor urut 6 : Abdullah Abu Bakar-Lilik Muhibah dan terakhir, nomor urut 7 : Harry Muller-Ali Imron (HAI).

Ketua KPU Kota Kediri Agus Rofiq kemudian memastikan masing-masing nama berdasarkan nomor urut yang telah diambil dengan cara memanggil satu per satu. KPU kemudian menetapkan nomor urut tersebut untuk digunakan dalam Pilwali Kediri, 29 Agustus 2013 mendatang.

Sejumlah calon menganggap nomor urut tidak memiliki arti khusus, tetapi ada juga yang menganggapnya sebagai nomor keramat.  Calon incumbent Samsul Ashar, mengaku nomor urut yang ia peroleh memudahkan pemilih untuk mengingat karena berada ditengah. “Tapi semua nomor yang ada bagus dan tidak memiliki arti khusus”, katanya.

Incumbent yang masih menjabat Wakil Walikota Abdullah Abubakar, nomor urut yang ia peroleh merupakan takdir dari yang Maha Kuasa. “Semua nomor baik, bagi kami tidak memiliki arti khusus”, kata calon walikota termuda ini.

Sedangkan Calon Walikota Bambang Harianto menganggap nomor urut 2 yang diperolehnya mempunyai arti khusus, nomor itu sama dengan nomor rumahnya. “Selaim mudah diingat, nomor 2 ini sama dengan nomor rumah saya”, katanya sambil tertawa.

Ratusan massa pendukung tujuh pasangan walikota dan wakil walikota terpaksa hanya bisa menyaksikan pengundian nomor urut melalui layar lebar yang disediakan panitia. ”Mereka tidak diperkenankan masuk, karena tidak membawa undangan,” ujar Kapolsek Kota Kediri Kompol Abraham Sisik. (es/dick)

BaHar “Jokowi-Ahok” Kota Kediri, Ingin Bahagia Bersama Rakyat

Restu keluarga mengiringi. Diantar pendukung dan Barongsai

Restu keluarga mengiringi. Diantar pendukung dan Barongsai

Kediri (Sergap) – Bambang Harianto-Hartono (BaHar) yang diusung PDI Perjuangan menjadi pasangan Calon Walikota dan Wakil Walikota Kediri yang keenam saat mendaftar ke Kantor KPU Kota Kediri, Sabtu (18/5/2012) sore.

Pasangan Calon Walikota dan Wakil Walikota, BaHar datang dengan ratusan simpatisan dan pendukungnya. Selain itu juga diiringi oleh Kesenian Kuda Lumping, Barongsai dan Liong. Seakan menggambarkan pasangan yang mengklaim dirinya sebagai “Jokowi Ahok Kota Kediri”, karena Bambang Harianto berpasangan dengan Hartono, seorang praktisi politik keturunan Tionghwa.

“Kehadiran pak Bambang Harianto dan pak Hartono, bakal calon yang diusung PDI Perjuangan, adalah pasangan keenam. Sebelumnya sudah ada lima pasangan calon lainnya yang mendaftar,” ujar Ketua KPU Kota Kediri Agus Rofiq, memberikan sambutan selamat datang.

BaHar3

Bersama Ketua DPC menuju ke KPU Kota Kediri dan saat berada di KPU

Agus Rofiq menambahkan, bahwa KPU akan melakukan penelitian dan verifikasi. Selain itu, KPU juga bakal melakukan klarifikasi ke sejumlah lembaga-lembaga terkait, untuk mengetahui keabsahan dari persyaratan tersebut. “Jika terdapat kelengkapan yang belum lengkap atau ada yang perlu diperbaiki, maka KPU akan memberitahu. Sehingga pada saatnya nanti, diharapkan bakal pasangan calon bisa memperbaikinya dengan maksimal waktu yang diberikan,” kata Ketua KPU menjelaskan. KPU sendiri akan memberikan kesempatan perbaikan hingga 16 Juni 2013 mendatang.

Bambang Harianto dalam sambutannya mengatakan, bahwa dirinya merasa terhormat karena mewakili PDI Perjuangan untuk memenangkan Pilwali Kediri 2013.  Anggota DPRD Provinsi Jawa Timur itu mengucapkan rasa terima kasih kepada seluruh simpatisan dan pendukungnya.

Bambang juga menyampaikan bahwa dirinya hanya bermodalkan semangat yang kuat. ““Sewaktu saya ditanya kader, bondomu dadi walikota opo? Saya jawab bondo nekat. Targetmu opo, targetku menang”, katanya disambut tepuk tangan pengikutnya. Politisi senior PDI Perjuangan ini merasa bahwa dirinya terpanggil untuk berkompetisi dalam pemilihan Walikota Kediri, karena memegang falsafah hidup itu harus berguna bagi orang lain.

BaHar "Jokowi Ahok Kota Kediri"

BaHar “Jokowi Ahok” Kota Kediri

Kepada wartawan, Ketua DPRD Kota Kediri periode 2004-2009 itu menjelaskan dirinya sengaja menggandeng Hartono karena yang bersangkutan yang bersangkutan adalah kader dan pengurus aktif DPC PDI Perjuangan Kota Kediri. Sebagaimana diketahui Hartono adalah Wakil Ketua DPC Bidang Infokom.

“Selain itu, bersama pak Hartono yang keturunan etnis China, memang kita berharap dapat sukses memenangkan Pilwali Kediri. Target saya tidak muluk-muluk, seperti singkatan Bahar, yakni Bahagia Bersama rakyat,”, kata tokoh yang punya julukan Bambang Ciamik ini.

Sementara itu sebelumnya, Wara Reni Sundari Pramana menyatakan mendukung sepenuhnya pencalonan BaHar. “Dalam waktu dekat saya selaku Ketua DPC PDI Perjuangan Kota Kediri akan mengumpulkan seluruh pengurus partai hingga tingkat ranting untuk menyukseskan pencalonan BaHar,” ujar kakak kandung Pramono Anung ini.

Reni sendiri mengaku  ingin konsentrasi pada jabatan yang diemban saat ini, baik sebagai Ketua DPRD Kota Kediri maupun Ketua DPC PDI Perjuangan Kota Kediri. (tim/adv)

Berita terkait : Bahar “Ciamik” Daftar Sebagai Bakal Calon Walikota Kediri   –   Foto-foto selengkapnya

Bahar “Ciamik” Daftar Sebagai Bakal Calon Walikota Kediri

Ketika Bahar mendaftar di kantor DPC PDI Perjuangan Kota Kediri

Ketika Bahar mendaftar di kantor DPC PDI Perjuangan Kota Kediri

Kediri (Sergap) – Bambang Harianto, SE, mantan Ketua DPC PDI Perjuangan Kota Kediri yang juga mantan Ketua DPRD Kota Kediri, Rabu (10/4/2013) sekitar jam 20.00 WIB mendaftarkan dirinya sebagai Bakal Calon Walikota Kediri melalui PDI Perjuangan.

Tokoh PDI Perjuangan kawakan ini datang ke kantor DPC PDI Perjuangan di jalan Teuku Umar Kota Kediri, dengan mengendarai becak, diiringan dengan massa pendukunganya yang juga mengendarai becak yang ada gambar Bambang Harianto di joknya. Ada 75 becak dari 3 kecamatan di Kota Kediri yang memeriahkan prosesi pendaftaran ini.

Politisi yang kesehariannya duduk sebagai anggota DPRD Provinsi Jawa Timur ini mengembalikan formulir yang telah terisi dan membayar uang pendaftaran sebesar Rp. 50 juta. Pendaftaran Bambang Harianto diterima oleh dua Wakil Ketua DPC, yaitu Bambang Harianto (namanya sama) dan Umamul Hoir.

Sekitar 1 jam dibutuhkan untuk proses pendaftaran bakal calon di kantor DPC partai berlogo banteng moncong putih ini. Ni Made Susilawati, Ketua Panitia Pendaftaran Bakal Calon Walikota dan Wakil Walikota DPC PDI Perjuangan Kota Kediri mengatakan, sudah 2 orang yang mendaftarkan diri sebagai bakal calon walikota melalui PDI Perjuangan.  “Yang pertama mengembalikan formulir adalah Wara Sundari Reny Pramana dan Bambang Harianto yang baru saja mengembalikan formulir hari ini”, kata Ni Made menjelaskan.

Sebagaimana diketahui Wara Sundari Reny Pramana saat ini menjabat sebagai Ketua DPC PDI Perjuangan dan juga Ketua DPRD Kota Kediri. Sementara itu Bambang Harianto yang akrab disapa Bahar, sebelumnya pernah menjadi Ketua DPC Perjuangan dan juga Ketua DPRD Kota Kediri pada era Walikota HA Maschut yang berakhir pada tahun 2009.

Bambang Harianto pernah bekerja di PT Gudang Garam Tbk, sebagai seorang mandor. Di pabrik rokok besar ini, ia dikenal dengan panggilan Bambang Ciamik. Ciamik dalam bahasa Tionghwa artinya baik, bagus. Namun karena memimpin sebuah unjuk rasa di pabrik, ia dipecat dari pekerjaannya. Maklum, unjuk rasa adalah sebuah kegiatan yang haram di era orde baru itu. Namun, panggilan Bambang Ciamik tetap melekat pada dirinya, juga ketika ia mulai aktif sebagai pengurus partai.

Julukan Bahar, yang merupakan kependekan dari namanya baru muncul, setelah ia duduk sebagai anggota DRPD Kota Kediri dan semakin sering muncul di media massa, ketika ia menjabat sebagai Ketua DPRD.

Maju Mapan

Saat ditemui di rumahnya usai mendaftarkan diri sebagai bakal calon walikota, Bahar menjelaskan visi dan misinya yang disingkatnya menjadi “MAJU MAPAN” yang merupakan singkatan dari Maju, Mandiri, Jujur, Amanah dan Transparan.

Bambang Harianto, SE

Bambang Harianto, SE

Mandiri, artinya dengan adanya otonomi daerah, maka setiap kepala daerah dibebani tugas untuk mampu untuk membiayai kebutuhannya sendiri. “Seorang kepala daerah minimal harus mampu menarik investasi ke wilayahnya, sehingga menimbulkan peningkatan kesejahteraan bagi masyarakatnya”, kata Bahar menjelaskan.

Jujur, artinya seorang kepala daerah harus ikhlas dalam usahanya memperjuangkan masyarakat lebih maju. “Ini merupakan sebuah fondasi paling mendasar bagi seorang kepala daerah dan pemimpin”, katanya menegaskan.

Amanah, artinya seorang pemimpin mempunyai tanggung jawab secara moral karena dia dipilih oleh rakyat sehingga apapun yang diperbuatnya, harus selalu mengacu kepada harapan warga Kota Kediri yang sehat dan sejahtera.

Transparan, artinya pemerintah kota, wajib transparan kepada masyarakat. “APBD merupakan uang rakyat, kita upayakan agar masyarakat dapat benar-benar tahu berapa anggaran yang dikelola. Selama ini ABPD seperti produk yang ekslusif, sehingga hanya orang-orang tertentu saja yang bisa mengetahuinya”, kata Bahar. (Dicky/editor:Tkr)

Berita terkait :  – BaHar “Jokowi-Ahok” Kota Kediri, Ingin Bahagia Bersama Rakyat