Pemkab Magetan Terus Tingkatkan Akses Jalan Menuju Area Wisata

Suyitno, ST (kiri). Ruas jalan Bangsri-Plaosan, jalur alternatif menuju Telaga Sarangan

Suyitno, ST (kiri). Perbaikan ruas jalan Bangsri-Plaosan, jalur alternatif menuju Telaga Sarangan

Magetan (Sergap) – Tidak dapat dipungkiri bahwa hampir diseluruh daerah Indonesia terdapat potensi wisata. Namun semua potensi itu membutuhkan infrastruktur untuk dapat berkembang dan menimbulkan dampak ekonomi. Yang pada gilirannya, akan mampu mendorong peningkatan kesejahteraan warga di sekitarnya.

Infrastruktur tersebut tentunya adalah sarana dan prasarana tersebut yang dapat memberikan dukungan akses ke area wisata dan sarana yang mendukung keamanan dan kenyamanan wisatawan, sehingga dapat menikmati potensi wisata yang ada.

Sarana transportasi, adalah sarana pariwisata yang utama dan pertama harus disediakan oleh pemerintah untuk dapat mengembangkan potensi wisata, sehingga mampu berkembang menjadi komoditas yang mampu memberi dampak ekonomi yang positif.

Pemerintah Kabupaten Magetan sangat menyadari hal ini, sehingga peningkatan dan pembangunan jalan akses menuju tujuan wisata tak pernah henti dilakukan dari tahun ke tahun.

Pemerintah Kabupaten Magetan di bawah kepemimpinan Bupati Drs. H. KRA Sumantri Noto Adinagoro, MM, dalam Program Prioritas Pembangunannya mendudukkan Bidang Pariwisata pada posisi ketiga, setelah Pendidikan dan Pertanian.

Terkait itu maka jalan-jalan menuju area wisata menjadi prioritas pula bagi Dinas Pekerjaan Umum, Bina Marga dan Cipta Karya (Dinas PUBMCK) Kabupaten Magetan. Kepala Dinas PUBMCK Ir. Hegunadi, MT melalui Kepala UPTD Pemeliharaan Jalan, Jembatan dan Keciptakaryaan Wilayah II, Suyitno, ST mengatakan bahwa, salah satu jalan prioritas yang menjadi tanggungjawabnya adalah ruas jalan Bangsri-Plaosan.

“Perbaikan dan pemeliharaan ruas jalan Bangsri-Plaosan, sepanjang 5 Kilometer ini juga menjadi prioritas utama. Sebagaimana kita ketahui jalan tersebut adalah jalur alternatif menuju ke area wisata Telaga Sarangan. Bapak Bupati berharap dengan perawatan yang bagus dan rutin, jalan-jalan di Magetan mulus, sehingga para wisatawan yang berkunjung akan terus bertambah,” kata Suyitno, ST kepada Tabloid Sergap.

Jika jalan-jalan di Magetan mulus, wisatawan yang berkunjung akan terus bertambah

Jika jalan-jalan di Magetan mulus, wisatawan yang berkunjung akan terus bertambah

Pemasukan restribusi dari area wisata Telaga Sarangan ini, merupakan andalan utama Pemerintah Kabupaten Magetan dalam mendukung PAD dari Bidang Pariwisata.

Telaga Sarangan, juga dikenal sebagai Telaga Pasir, adalah telaga alami yang berada di ketinggian 1.200 meter di atas permukaan laut dan terletak di lereng Gunung Lawu, Kecamatan Plaosan, Kabupaten Magetan, Jawa Timur. Telaga ini berjarak sekitar 16 kilometer arah barat Kota Magetan. Telaga ini luasnya sekitar 30 hektare dan berkedalaman 28 meter. Dengan suhu udara antara 15 hingga 20 derajat Celsius, Telaga Sarangan mampu menarik ratusan ribu pengunjung setiap tahunnya.

Telaga Sarangan juga memiliki beberapa kalender event penting tahunan, yaitu Labuh Sesaji pada Jumat Pon bulan Ruwah, liburan sekolah di pertengahan tahun, Ledug Sura 1 Muharram, dan Pesta Kembang Api di malam pergantian tahun.

Pemerintah Kabupaten Magetan, telah menunjukkan komitmennya untuk mewujudkan jalan sebagai salah satu prasarana transportasi yang merupakan urat nadi kehidupan masyarakat yang mempunyai peranan penting dalam usaha pengembangan kehidupan berbangsa dan bernegara.

Dalam kerangka tersebut, jalan mempunyai peranan untuk mewujudkan sasaran pembangunan seperti pemerataan pembangunan dan hasil-hasilnya, pertumbuhan ekonomi, dan perwujudan keadilan sosial bagi warga Kabupaten Magetan.

Dengan semboyan “Memayu Hayuning Bawana Suka Ambangun”, Kabupaten Magetan terus-menerus dan berkelanjutan bekerja keras untuk terwujudnya kesejahteraan masyarakat Magetan yang adil, mandiri dan bermartabat. (hadi/adv)

Buyut Gus Dur dan Mitos Sunan Kalijaga Dalam Susur Wisata Religi Grobogan

Masjid Sirojudin

Masjid Sirojudin

Grobogan (Sergap) – Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai sejarah bangsanya. Berawal dari itu, maka Komunitas Grobogan Corner (GC), Komunitas I Love Gubug (KILG), Forum Masyarakat Peduli Grobogan (FMPG), Komunitas DarmarRaja dan Komunitas Ngroto Net, secara bersam-sama melakukan Susur Wisata ke 4 yang bernuansa religi di Kecamatan Gubug dan Kecamatan Tanggungharjo, Kabupaten Grobogan, JawaTengah, pada hari Minggu (5/4/2015).

Beberapa tempat yang disinggahi di antaranya Masjid Sirojudin dan Makam Mbah Khoiron, buyut Presiden RI ke 4 KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) di Desa Ngroto, Kecamatan Gubug Kabupaten Grobogan. Juga Sendangsari yang merupakan peninggalan sejarah Sunan Kalijaga, salah satu dari Walisanga yang terletak di Desa Sugihmanik, Kecamatan Tanggungharjo, Kabupaten Grobogan.

Menurut Heru Wardono yang akrab disapa Mbah Bejo, seorang pemerhati sejarah dan budaya Kabupaten Grobogan, Gus Dur adalah keturunan dari Mbah Khoiron. Konon dulu, ada salah satu santri di Pondok Pesatren Ngroto yang dipimpin Kyai Siradjudin, yang bernama Khoiron. Setelah tamat mengaji, dia menjadi Kyai di Ngroto juga. Karena badannya kecil dan pendek, dia mendapat julukan Mbah Gareng.

Kyai Khoiron mempunyai 2 anak laki-laki, yang bernama Asy’ari dan Asngari. Asy’ari menambah ilmu agama di Jombang, Jawa Timur, menjadi Kyai dan berkeluarga di sana. Kyai Asy’ari menurunkan KH. Hasyim Asy’ari pendiri Nadlathul Ulama. Hasyim Asy’ari menurunkan KH. Wahid Hasyim, Menteri Agama Pertama Republik Indonesia, yang merupakan ayah dari Presiden ke 4 Republik Indonesia KH. Abdurrahman Wahid yang juga disapa Gus Dur.

Sedangkan Asngari, yang tetap tinggal di Ngroto, menurunkan Baedlowi (Kades Ngroto pertama). Baedlowi menurunkan Sukemi, dan Sukemi menurunkan Zuhri (Mbah Zuhri Kuwaron).

“Di saat Gus Dur menjabat Presiden, beliau bersama wakilnya Megawati, pada tahun 2002 pernah datang ke Desa Ngroto“, kata Mbah Bejo yang didampingi juru kunci makam, kepada Peserta Susur Wisata.

Selanjutnya, Peserta Susur Wisata meneruskan perjalan ke lokasi wisata Sendang Sari, Desa Sugihmanik dan Balaipanjang, Kecamatan Tanggungharjo, Kabupaten Grobogan. Rombongan disambut oleh jajaran Pemerintah Desa Sugihmanik, dipimpin langsung oleh Kepala Desa (Kades) Imam Santoso.

1. Sendangsari. 2. Bende. 3. Kentongan. 4. Wartawan Tabloid Sergap, Ansori (kiri) mengapit  Grobog (lemari kayu) bersama Kades Imam Santoso

1. Sendangsari. 2. Bende. 3. Kentongan. 4. Wartawan Tabloid Sergap, Ansori (kiri) mengapit Grobog (lemari kayu) bersama Kades Imam Santoso (kanan)

Mitos sejarah Sendangsari merupakan situs sejarah peninggalan Sunan Kalijogo, salah satu Walisanga. Ketika Sunan Kalijaga mencari bahan baku sirap untuk pembangunan Masjid Demak, ia bersemedi di atas batu dan terdengarlah suara ikan dari bawah batu itu.

Ketika batu diangkat,  muncullah mata air yang kemudian dikenal sebagai Sendangsari. Di area ini juga terdapat Masjid Baiturorohman yang di dalamnya terdapat sebuah grobog (almari kayu) bertuliskan tahun 1353 dalam huruf Arab, kentongan dan bende (gong kecil).

Kades Imam Santoso dalam kesempatan ini mengajak untuk bersama melestarikan peninggalan sejarah yang kebetulan ada di wilayah nya. “Mari kita bersama melestarikan dan saya menyampaikan terimakasih atas perhatian dari club/komunitas ini,“ tutur Pak Kades.

Ajakan ini, senada seirama dengan semangat para peserta Susur Wisata Religi. Siswanto, peserta juga, menilai kegiatan ini membuka hati untuk lebih mencintai Grobogan. Abdul Rozak peserta lain, melihat potensi besar yang dapat mengembangkan wisata Grobogan. Sahidat Puji, peserta lainnya menilai perlunya publikasi, agar lebih banyak dikenal oleh masyarakat. Simon Wiji Widodo, salah satu peserta juga, berharap peningkatan peran serta masyarakat untuk dalam menjaga kelestarian peninggalan bersejarah ini.

Sementara itu, Muhlisin Asti Ketua GC menyimpulkan besarnya potensi wisata di Grobogan yang seharusnya bisa dikembangkan. “Sejarah Desa Ngroto dengan Mbah Khoiron dan petilasan Sunan Kali Jogo, kita harap dapat abadi sebagai pengingat sejarah bagi generasi muda,” kata Muhlisin Asti didampingi Taufik Ketua FMPG. (ans)

Surabaya Akan Membangun Taman Komodo

Biawak Komodo (Varanus Komodoensis)

Biawak Komodo (Varanus Komodoensis)

Surabaya (Sergap) – Komodo adalah kadal raksasa peninggalan jaman purba, binatang langka yang populasi aslinya hanya terdapat di Pulau Komodo, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Komodo juga telah terpilih sebagai salah satu dari 7 Keajaiban Dunia dan tak lama lagi, Kota Surabaya, Jawa Timur, akan membangun Taman Komodo.

Ide ini muncul, ketika populasi komodo di Kebun Binatang Surabaya (KBS) terus bertambah dan melebihi kapasitas kandang yang tersedia. Untuk itu, maka Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya merencanakan akan membangun Taman Komodo di wilayah Kenjeran.

Sebenarnya, ada solusi untuk mengatasi populasi yang berlebihan satwa langka yang sangat dilindungi ini, yaitu mengembalikannya ke habitat asalnya. Tapi biaya untuk pengiriman ke pulau tersebut mahal dan dinilai tidak ekonomis.

“Jadi, ada kemungkinan kami akan bikin Taman Komodo sendiri. Komodo di KBS kan semakin banyak. Sekarang sudah ada lagi yang kecil-kecil,” kata Wali Kota Surabaya, Tri Rismaharini, di Surabaya, Jumat (3/4/2015).

Tentang pemilihan wilayah Kenjeran sebagai tempat pembangunan Taman Komodo, Pemkot masih perlu melakukan kajian lebih lanjut, apakah struktur tanah di daerah tersebut layak untuk komodo atau tidak.

Ditambahkan oleh Walikota Risma, bahwa dalam periode 21 Februari-7 Maret 2015 saja, 12 telur Komodo di KBS telah menetas. Bayi-bayi Komodo tersebut lahir dari satu induk yang bertelur pada 23 Juli 2014.

Induk Komodo itu sebenarnya bertelur 29 butir, tetapi hanya 12 butir yang bisa menetas.
Saat ini, jumlah total komodo di kebun binatang yang berlokasi di Jalan Setail itu sudah mencapai 70 ekor dan 53 ekor di antaranya berusia dewasa.

Komodo, atau yang selengkapnya disebut Biawak Komodo (Varanus Komodoensis), adalah spesies kadal terbesar di dunia yang hidup di pulau Komodo, Rinca, Flores, Gili Motang, dan Gili Dasami di Nusa Tenggara.

Biawak yang oleh penduduk asli pulau Komodo juga disebut dengan nama Ora, termasuk anggota famili biawak Varanidae, dan klad Toxicofera, komodo merupakan kadal terbesar di dunia, dengan rata-rata panjang 2-3 m. Ukurannya yang besar ini berhubungan dengan gejala Gigantisme Pulau, yakni kecenderungan meraksasanya tubuh hewan-hewan tertentu yang hidup di pulau kecil, karena tidak adanya mamalia karnivora di pulau tempat hidupnya, dan laju metabolisme komodo yang kecil.Karena besar tubuhnya, kadal ini menduduki posisi predator puncak yang mendominasi ekosistem tempatnya hidup.

Komodo ditemukan oleh peneliti barat tahun 1910. Tubuhnya yang besar dan reputasinya yang mengerikan membuat mereka populer di kebun binatang. Habitat Komodo di alam bebas telah menyusut akibat aktivitas manusia dan karenanya International Union for Conservation of Nature and Natural Resources (IUCN) memasukkan komodo sebagai spesies yang rentan terhadap kepunahan.

Biawak besar ini kini dilindungi di bawah peraturan Pemerintah Republik Indonesia dan sebuah taman nasional, yaitu Taman Nasional Komodo, didirikan untuk melindungi mereka dari kepunahan. (win)

Susur Wisata Grobogan Corner, Mencari Potensi Baru Wisata Alam

Rombongan Susur Alam Grobogan Corner III

Rombongan Susur Alam Grobogan Corner III

Grobogan (Sergap) – Upaya untuk terus menggali potensi wisata di Kabupaten Grobogan terus dilakukan oleh Grobogan Corner (GC). Terkait itu, pada Minggu (8/3/2015), sejumlah aktivis GC kembali melakukan susur wisata. Kali ini menyusuri berbagai potensi wisata di Kecamatan Grobogan, bersama dengan Scout Adventure Communty (SAC) dan belasan mahasiswa STAIN Kudus yang sedang KKN di Desa Godong.

Aktivis GC mengunjungi lima objek yang berpotensi, yakni makam Adipati Puger Martopuro, Sumber Jatipohon, wana wisata Gunung Lamping, Gua Macan dan Gua Lawa, serta Air Terjun Gulingan.

Pengurus GC bidang pariwisata Muhammad Nurul Hidayat dan Irkam Asnawi menyatakan, GC melihat adanya sejumlah potensi wisata alam yang sangat indah dan eksotis. Gua Macan dan Gua Lawa yang berada di Dusun Watusong, Desa Sedayu, misalnya, merupakan objek wisata alam yang menawarkan eksotisme ornamen stalaktik dan stalakmit.

“Keindahan dan eksotisme objek wisata kedua gua itu tidak diragukan lagi dan setiap pengunjung pasti takjub ketika memasuki gua itu. Sayangnya masih banyak yang belum mengetahui keberadaan objek wisata ini karena minimnya promosi,” tutur Hidayat yang disepakati pulah oleh Asnawi.

Ditambahkan Hidayat, objek wisata gua alam tersebut bisa dikembangkan, misalnya sebagai area outbound. Karena itu pihaknya berharap kepada para pihak terkait untuk bersungguh-sungguh mengoptimalkan pengelolaan objek wisata ini dan gencar mempromosikannya sehingga objek wisata ini semakin dikenal luas dan menjadi salah satu destinasi wisata alternatif di Kabupaten Grobogan.

Berjarak 2 Km dari Gua Macan dan Gua Lawa terdapat potensi wisata alam benar-benar masih “perawan”. Yakni Air Terjun Gulingan yang terletak di Dusun Candi, Desa Sedayu. Sayangnya, akses jalan menuju sana sangat parah dan sangat licin di musim hujan.

“Air terjun gulingan sangat indah. Menawarkan eksotisme air terjun alami yang sangat memesona. Jika dikelola dengan baik akan menjadi destinasi wisata favorit di Kabupaten Grobogan, sepaket dengan Gua Macan dan Gua Lawa,” tutur Hidayat.

Sementara itu, Ketua GC Badiatul Muchlisin Asti berharap pemerintah daerah, dalam hal ini Disporabudpar, serius untuk menggali dan mengembangkan potensi wisata di Kabupaten Grobogan. “Potensi-potensi wisata tersebut membuat kami optimis, akan menjadikan Grobogan sebagai tujuan wisata yang menarik,” tuturnya. (ans)

Rangkaian Hari Jadi Kota Kediri Tahun 2014

Lampu Hias Hari Jadi Kota Kediri

Lampu-lampu hias memperindah sudut-sudut Kota Kediri

Kediri (Sergap) – Kota Kediri  adalah sebuah kota di Provinsi Jawa Timur, Indonesia. Kota Kediri dengan luas wilayah 63,40 km² terbelah oleh sungai Brantas yang membujur dari selatan ke utara sepanjang 7 kilometer.

Industri rokok Gudang Garam menjadi penopang mayoritas perekonomian warga Kediri, yang sekaligus merupakan perusahaan rokok terbesar di Indonesia. Sekitar 16.000 warga kediri menggantungkan hidupnya kepada perusahaan ini. Gudang Garam menyumbangkan pajak dan cukai yang relatif besar terhadap pemkot Kediri.

Di bidang ekonomi pariwisata, kota ini mempunyai beragam tempat wisata untuk masyarakat lokal menengah kebawah seperti Kolam Renang Pagora, Water Park Tirtayasa, Dermaga Jayabaya, Goa Selomangleng, dan Taman Sekartaji. Di area sepanjang jalan Dhoho menjadi pusat pertokoan terpadat di Kediri, juga di berbagai area kota banyak didirikan minimarket, cafe, resort, hiburan malam dan banyak tempat lain yang menjadi penopang ekonomi sekaligus memenuhi kebutuhan masyarakat.

Kota Kediri menerima penghargaan sebagai kota yang paling kondusif untuk berinvestasi dari sebuah ajang yang berkaitan dengan pelayanan masyarakat dan kualitas otonomi.[butuh rujukan] Kediri menjadi rujukan para investor yang ingin menanamkan modalnya di kota yang sedang berkembang. Beberapa perguruan tinggi swasta, pondok pesantren, tempat ibadah dan ziarah Katolik berupa Gua Maria Puhsarang juga memberi dampak ke sektor perekonomian kota ini.

Di bawah kepemimpinan Walikota H.A. Maschut, Kota Kediri mengalami berbagai perubahan, misalnya pembangunan mal terbesar, hotel bintang 4 pertama (2005) dan kawasan wisata Selomangkleng bertaraf nasional. Maschut juga merencanakan pembangunan jembatan baru, meresmikan pasar grosir pertama di Kota Kediri, merencanakan jalur lingkar luar Kota Kediri dan pembangunan ruko.

Pada tanggal 27 Juli 2014 ini Kota Kediri merayakan Hari Jadi Kota Kediri yang ke 1135. Berbagai acara digelar terkait itu. Untuk mengetahui secara lengkap klik tautan ini :   Rangkaian_Hari_Jadi_Kota_Kediri_Tahun_2014

Ribuan Pandhu Onthel Meriahkan Hari Jadi Kota Blitar Ke 108

Wali Kota Blitar Muh. Samanhudi Anwar SH, saat memberangkatkan para Onthelis

Wali Kota Blitar Muh. Samanhudi Anwar SH, saat memberangkatkan para Onthelis

Blitar Sergap; Dalam rangka menyambut Hari Jadi Kota Blitar ke-108 tahun, hari Sabtu dan Minggu tgl. 17-18 Mei 2014 bertempat di halaman depan Stadion Sudancho Supriadi Kota Blitar, Paguyuban Sepeda Angin (Pit Onthel) Kota Blitar yang tergabung dalam Komunitas Sepeda Tua Indonesia (KOSTI) cabang Kab./Kota Blitar dibawah pimpinan Bambang Prijo Witjahjo ST. dan sekaligus sebagai ketua pelaksana telah mengadakan acara Temoe Onthel Nasional 2014 dengan tema Temoe Onthelis 2014.

Antusias peserta terlihat jelas dari animo dan atribut yang dikenakan ketika kegiatan berlangsung selama dua hari itu. Berbagai atribut seperti pakaian TNI, suster, anak sekolah, pakaian wayang orang, hingga pakaian tradisional membuat kegiatan yang dimaksudkan sebagai ajang silaturohmi antar komunitas sepeda onthel se-Jawa – Bali berlangsung meriah. Terlebih tidak hanya orang dewasa maupun kaum pria saja tapi juga diikuti anak-anak dan kaum wanita.

Kemeriahan kian bertambah ketika Wali Kota Blitar Muh. Samanhudi Anwar SH datang ke lokasi kegiatan. Orang nomor satu di Pemkot. Blitar ini didaulat untuk membuka dan memberangkatkan peserta ngonthel bareng tepat pukul 06.00 WIB para ontheles diberangkatkan. Ketika ditemui wartawan Sergap disela-sela kegiatan Wali Kota mengatakan bahwa, pihaknya sengaja mengundang ribuan peserta dari berbagai komunitas Sepeda Onthel se-Jawa-Bali selain untuk mempererat tali silaturohmi antar daerah juga untuk mempertahankan budaya tradisional. “Ngonthel bareng juga menjadi salah satu cara kita nguri-uri budaya leluhur” kata Muh. Samanhudi Anwar SH. Menurut dia, merasa perlu menggiatkan temoe onthelis, karena saat ini sepeda onthel kian terlupakan oleh masyarakat. Padahal sepeda onthel memiliki nilai sejarah yang tidak boleh dilupakan. Sebab sepeda onthel selain menjadi alat transportasi andalan masyarakat Indonesia di era perjuangan baik sebelum maupun sesudah Kemerdekaan, sepeda onthel juga salah satu alat transportasi yang sehat dan ramah lingkungan. “Sepeda onthel menjadi salah satu sejarah perjuangan kita, terlebih kita berada di Blitar yang nota bene-nya Kota tempat Presiden pertama RI berada” jelas Komandan Kawula Alit ini.

Selanjutnya Muh. Samanhudi Anwar SH. Mengatakan bahwa temoe onthelis dijadikan agenda rutin tahunan dengan harapan agar generasi muda dapat melanjutkan budaya asli leluhur sehingga dapat mempertahankan salah satu warisan leluhur. “Saya berharap pengguna sepeda onthel terus bertambah agar budaya tersebut tidak punah” harap Muh. Samanhudi Anwar SH.

Peserta ngonthel bareng itu menempuh jarak sekitar 10 Km. Menyusuri jalan yang melewati Makam Bung Karno, Istana Gebang dan tempat-tempat wisata religius di Kota Blitar, dengan start dan finis di muka stadion Sudancho Supriadi Blitar. Sementara itu ketua panitia Bambang Prijo Witjahjo ST, mengatakan bahwa temu onthelis merupakan salah satu rangkaian kegiatan dalam HUT ke-108 tahun Kota Blitar tahun 2014. Kegiatan kali ini lebih meriah dibandingkan tahun lalu, karena jumlah peserta melebihi target. “Tahun ini jumlah peserta temu onthelis mencapai 2.000 orang se-Jawa-Bali” jelas Bambang Prijo Witjahjo ST yang juga menjadi Caleg. Terpilih dari PDIP Kota Blitar. Sebagai bentuk kepedulian terhadap budaya tradisional khususnya pecinta sepeda onthel, panitia memberikan layanan fasilitas kepada ribuan peserta temu onthelis. Fasilitas yang diberikan yakni menyediakan tempat menginap. “Meski tempat penginapan yang disediakan sangat sederhana, yakni ditempat Kantor Kelurahan, stadion maupun gedung pertemuan. Tapi hal ini tidak mengurangi kenyamanan” terang Bambang Prijo Witjahjo ST.

Sedangkan sebagai rasa trimakasih terhadap peserta temu onthelis, panitia menyediakan hadiah utama satu unit sepeda motor dan door prize bagi peserta yang beruntung. “Intinya silaturohmi antar komunitas sepeda onthel terus terjalin agar kita bisa melestarikan sepeda onthel sebagai budaya leluhur” jelas Bambang Prijo Witjahjo ST.   (oke)