Air Terjun Sedudo Longsor, 3 Orang Meninggal

Kondisi pemandian di bawah air terjun setelah longsor dan evakuasi korban oleh petugas dan pengunjung.

Kondisi pemandian di bawah air terjun setelah longsor dan evakuasi korban oleh petugas dan pengunjung. (sumber : BBM)

Nganjuk (Sergap) – Dalam suasana libur Lebaran, terjadi musibah longsor di objek wisata air terjun Sedudo, Nganjuk, Jawa Timur, sekitar pukul 16.00 WIB, Selasa (21/7/2015).

Menurut Kapolres Nganjuk, AKBP Muhammad Anwar Nasir ada 12 korban yang terkena efek dari longsor air terjun. Sedangkan ada 3 korban meninggal dunia yang terdata oleh pihak RSU Nganjuk dan RS Bhayangkara Nganjuk.

“Tiga pengunjung meninggal dunia dan 9 penguinjung luka ringan. Semua korban saat ini sedang dirawat di dua rumah sakit, yaitu RSU Nganjuk dan RS Bhayangkara Nganjuk, Jawa Timur,” kata AKBP Muhammad Anwar Nasir.

Masih menurut Kapolres, tiga nama korban yang meninggal dunia itu adalah M. Sofiyah Sahmi (25) Warga Kapas Jaya Surabaya. Kedua, Subhan Anas Masbowo (35) warga Jepara Surabaya. Ketiga, Hendra Pramana Setiawan (13), warga Dipenogoro Karang Waru, Tulungagung, Jawa Timur.

Kedua korban meninggal dunia yang berasal dari Surabaya yang bernama M. Sofyan dan Subhan dirawat di RSU Nganjuk. Sedangkan, korban meninggal dunia Hendra dirawat di RS Bhayangkara, Nganjuk, Jawa Timur.

Ditanya soal kronologi kejadian longsor yang mengakibatkan korban luka dan meninggal dunia yang menimpa pengunjung wisata air terjun Sedudo, Kapolres Nganjuk mengatakan bahwa debit air di air terjun Sedudo dalam kondisi stabil, dan tidak ada tanda-tanda akan longsor.

“Dilaporkan oleh saksi mata, bahwa 3 korban yang meninggal persis di lokasi air terjun. Korban meninggal akibat tertimpa pohon kecil dan bebatuan yang jatuh diatas air terjun dengan ketinggian 103 meter,” terangnya.

“Dua orang langsung meninggal di TKP, sedangkan 1 orang sempat dirawat dan akhirnya meninggal di RS Bhayangkara Nganjuk,” tambah Kapolres.

Sedangkan untuk korban luka ringan dan berat, Kapolres Nganjuk belum bisa mendata lebih detail. Namun, beberapa korban luka berasal dari beberapa daerah di Jatim. “Korban yang luka ringan dan berat berasal dari Kediri, Surabaya, Madiun, dan Nganjuk,” katanya.

Saat ini, pihak Polres Nganjuk terus mendata korban longsor baik yang luka ringan, berat dan meninggal dunia. Sedang, untuk penutupan tempat wisata air terjun Sedudo pihak Polres Nganjuk masih berkoordinasi dengan pihak Perhutani.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Nganjuk Sukoyono, material yang jatuh dari atas air terjun Sedudo itu berupa pepohonan. “Saat itu, ada pohon jatuh dan kebetulan ada beberapa pengunjung yang mandi, sehingga mereka tertimpa,” kata Sukoyono.

Sukoyono menambahkan, pohon dengan diameter 30 sentimeter tiba-tiba jatuh dari ketinggian 90 meter dan tepat mengenai para pengunjung yang mandi di bawahnya.

Dengan kejadian ini, maka kawasan air terjun Sedudo, Nganjuk, dalam kurun 9 tahun sudah tercatat 4 kali longsor.

Pertama, terjadi pada 8 Januari 2007. Akibat dari longsor tersebut menyebabkan 14 bangunan kios, dua gazebo dan pepohonan di sekitar air terjun hancur, termasuk tangga utama dan pagar besi menuju lokasi air terjun. Kedua, 21 Januari 2011, longsor mengakibatkan ribuan warga di empat dusun di daerah itu terisolasi Ketiga, 13 Februari 2013 batu besar yang berada di kawasan wisata Sedudo jatuh ke jalan akibat tanah longsor. Akibatnya, jalan menuju lokasi wsiata ditutup dan dilakukan evakuasi memindahkan batu besar yang mengahalangi jalan. Yang keempat, terakhir 21 Juli 2015 tadi sore. (tim)

Update berita : 

Ada 9 korban yang teridentifikasi yang mengalami luka berat patah tangan, dan luka ringan di bagian kepala dan pelipis akibat kejatuhan pohon dan batu tersebut adalah M Hasim (20), Mohammad Rifai (29), Bagus (29) warga Semare Kernel Nganjuk, Prasetyo (15), Hafidz (20) warga Desa Peluh Kridosono, Siti Manggison (38), Rosita (35) warga Surabaya, Galuh (27) warga Lamongan dan Subekti (37) warga Jakarta Selatan mengalami luka berat dan patah tangan kanannya.

Iklan

Rp. 12,2 Milyar Uang Palsu di Jember, Diduga Dicetak di Nganjuk

Anggota Polres Jember tunjukkan barang bukti Upal

Anggota Polres Jember tunjukkan barang bukti Upal

Jember (Sergap) – Jajaran Kepolisian Resor (Polres) Jember, Jawa Timur berhasil dengan gemilang membongkar peredaran uang palsu (upal) sebanyak Rp. 12,2 milyar dan mengamankan empat orang pelaku, berkat pengembangan penyelidikan atas kasus uang palsu yang sebelumnya ditemukan di Bondowoso.

“Konsentrasi kami antisipasi peredaran uang palsu, di waktu Pilkada. Apalagi sebelumnya sempat kami temukan upal di Bondowoso sebesar Rp. 5 juta, saya yakin peredarannya dari Jember,” kata Kapolres Jember, Ajun Komisaris Besar Polisi (AKBP) Sabilul Alif, Senin (26/1/2015).

Kronologi penangkapan berawal sekitar pukul 19.30 WIB, Sabtu (24/1/2015), di Terminal Bus Tawangalun, Kecamatan Rambipuji, polisi menangkap tersangka Aman dengan barang bukti sebanyak Rp. 116 juta uang palsu.

Setelah melakukan introgasi terhadap Aman, polisi menangkap lagi tersangka Sugiyoto di Rumah Makan Pujasera, Jalan Hayam Wuruk, Kecamatan Kaliwates, dengan barang bukti Rp 1,8 milyar dan mobil Toyota Avanza.

Kemudian petugas kembali menangkap Karim dan Kasmari dengan barang bukti uang palsu senilai Rp12 miliar yang tersimpan di dalam mobil Toyota Innova yang diparkir, di Hotel Beringin Indah Kecamatan Ajung.

Sugiyoto mengaku baru membuat uang palsu itu pada awal Januari 2015 karena ada orang Jember yang memesan uang palsu itu. Ia membuat uang palsu sebanyak Rp. 12 milyar lebih dalam waktu dua minggu.

“Jadi total barang bukti yang berhasil kami secara keseluruhan sebesar Rp 12,2 miliar,” kata mantan Kapolres Jember yang sebelumnya menjabat di Bondowoso ini.

Polres Jember terus terus melakukan penyelidikan mendalam. Dari hasil pemeriksaan sementara, uang palsu sebanyak itu akan diedarkan ke wilayah Indonesia bagian timur.

“Jadi mereka ini diduga kuat merupakan sindikat nasional pelaku pemalsuan uang, sebab rencananya, Upal sejumlah Rp 12,2 miliar akan dikirimkan kepada seseorang di Bali, untuk kemudian diedarkan ke wilayah Indonesia timur,” ungkap Kapolres.

Menurut pengakuan pelaku, uang tersebut katanya untuk Ngaben, tetapi polisi tidak percaya begitu saja, sebab jumlahnya sangat besar. Untuk modus operandi para pelaku, Rp 100 juta uang palsu, ditukar dengan Rp 50 juta uang asli.

Kualitas Upal yang berhasil disita tersebut tergolong bagus. “Jika tidak seksama memeriksanya, pasti akan dikira uang asli, sangat mirip dengan uang asli,” tambah Kapolres. Terkait itu polisi kemudian mengejar keberadaan mesin pencetak Upal tersebut.

Kabar keberadaan mesin cetak itu, diungkapkan oleh Komisaris Besar Polisi (Kombespol) Awi Setiyono, Kabid Humas Polda Jatim. “Masih dikembangkan, untuk mencari bukti baru yaitu mesin cetak, yang informasinya berada di daerah Nganjuk,” katanya kepada wartawan, Senin (26/1/2015).

Empat pelaku yang kini ditahan di Polres Jember itu, adalah Sugiyoto (48), pecatan polisi berpangkat AKP  yang merupakan warga Kabupaten Jombang, Aman (35) seorang guru honorer di Sumatera Selatan, Abdul Karim (46) warga Kabupaten Jombang, dan Kasmari (50) warga Kabupaten Kediri.

Polres Jember nantinya akan melakukan koordinasi dengan Polres Nganjuk. “Polda hanya membackup saja. Jika nantinya itu peredaran uang palsu sampai di luar Jawa Timur, tim Polda akan ikut membantu Polres Jember,” kata Awi Setiyono. (af/ang)

Seminggu Gratis Masuk Jalan Tol Kertosono – Mojokero

Pintu masuk tol di wilayah Jombang

Pintu masuk tol di wilayah Jombang

Jombang (Sergap) – Jalan tol Trans Jawa di ruas Kertosono–Mojokerto seksi I sepanjang 14,7 Km di Kecamatan Tembelang, Kabupaten Jombang, Jawa Timut, telah diresmikan oleh Menteri Pekerjaan Umum (PU), Djoko Kirmanto, Senin (13/10/2014). Ruas jalan tol tersebut, adalah bagian dari total jarak 40,5 Km yang merupakan ruas tol terpanjang di Jawa Timur.

Menteri Pekerjaan Umum (PU), Djoko Kirmanto mengatakan, ruas tol Kertosono – Mojokerto adalah bagian dari tol Trans Jawa. Namun, untuk saat ini yang diresmikan masih seksi satu, yang dimulai dari Desa Kayen, Kecamatan Bandar Kedungmulyo, hingga Desa Tampingmojo, Kecamatan Tembelang, Jombang, sepanjang 14,7 kilometer. Proyek itu telah selesai pada Oktober 2014.

Menteri PU berharap, peresmian Seksi I ini bisa mempercepat pengerjaan ruas tok Seksi II, III dan seksi IV. Seksi II di Desa Tampingmojo-Desa Pagerluyung Mojokerto sepanjang 19,9 kilometer dan saat ini juga masih dalam tahap pembebasan lahan.

Hingga saat ini, untuk seksi 2 dari Desa Kemantren-Desa Canggu Mojokerto sepanjang 5 kilometer dan seksi 4 dari Desa Brodot-Desa Gondang Manis, Kabupaten Jombang sepanjang 0,9 kilometer dan sedang dalam proses pembebasan lahan.

Merespon permintaan Pemkab Jombang untuk mengubah nama tol tersebut dari Kertosono – Mojokerto menjadi Jombang – Mojokerto atau disingkat “Joker”, karena lokasi tol tersebut bukan berada di Kertosono, melainkan di Kabupaten Jombang, Menteri  PU masih mempertimbangkan. “Sesuai SK di Kementrian PU, nama ruas tol tersebut Kertosono – Mojokerto, bukan Jombang – Mojokerto,” ujarnya.

Presiden Direktur  (Presdir) PT Marga Harjaya Infrastruktur (MHI), Wiwiek D Santoso mengatakan, Seksi I sepanjang 14,7 Km ini diharapkan dapat menjadi solusi bagi kepadatan lalu lintas di sekitar Jombang, khususnya dari arah Kertosono ke Ploso dan sebaliknya, juga dari Jombang ke Kertosono dan sebaliknya.

Menurutnya, momen ini menjadi tanda kesiapan beroperasinya ruas tol yang menghubungkan Bandarkedungmulyo-Jombang. Adapun gerbang sisi barat disebut Gerbang Bandar, berada di Kecamatan Bandarkedungmulyo, sedangkan gerbang sisi timur yang disebut Gerbang Jombang berada di Tembelang.

“Kami memiliki target untuk bisa mengoperasikan seksi I ini sebelum akhir tahun 2014. Target tersebut akhirnya terpenuhi, berkat dukungan dari banyak pihak, pemerintah pusat maupun pemerintah daerah serta masyarakat Jombang,” ujarnya.

Ditambahkan oleh Wiwiek, pembangunan seksi 2, 3, dan 4 terkendala pembebasan lahan. Seksi 2 ruas tol Mojokerto-Kertosono akan dibangun sepanjang 19,9 km mulai Desa Tampingmojo Kecamatan Tembelang-Desa Pagerluyung Kecamatan Gedeg. Sampai September tahun ini, lahan yang dibebaskan baru 83% dari kebutuhan.

Seksi 3 sepanjang 5 km dari Desa Kemantren-Desa Canggu Kabupaten Mojokerto, lahan yang belum dibebaskan sekitar 13%. Sedangkan seksi 4 sepanjang 0,9 km dari Desa Brodot-Desa Gondang Manis, Kabupaten Jombang, pembebasan lahan baru 80%.

“Kami berharap kebutuhan lahan untuk seksi 2, 3, dan 4 dapat kami terima tahun ini, sehingga ruas tol Mojokerto-Kertosono ini dapat dioperasikan pada 2015,” ucap Wiwiek dalam acara peresmian ruas tol Mojokerto-Kertosono seksi 1 di gerbang tol Jombang, Desa Pesantren, Kecamatan Tembelang, Jombang, Senin (13/10/2014).

Menanggapi keluhan tersebut, Menteri Pekerjaan Umum, Djoko Kirmanto meminta agar pemerintah daerah membantu pembebasan lahan. Caranya, pemerintah daerah ikut memberikan penjelasan kepada warga yang terdampak proyek tol bahwa pembebasan lahan bukan untuk kepentingan pemerintah atau pengusaha jalan tol, melainkan untuk kepentingan masyarakat luas.

Selain itu, Djoko mengimbau agar pemberian ganti rugi lahan dan bangunan milik warga dengan nilai wajar. “Mereka (pemerintah daerah) harus kerja keras. Saya sudah bicara dengan Pak Gubenur, Pak Bupati agar pembebasan lahan bisa dipercepat,” tuturnya.

Rumitnya pembebasan lahan, menurut Djoko, juga terjadi di ruas tol lainnya yang masuk dalam jaringan Tol Trans Jawa. Antara lain ruas tol Brebes-Semarang, Bawen-Solo, Solo-Ngawi, Ngawi-Kertosono, Mojokerto-Kertosono, dan Mojokerto-Surabaya. Ruas tol tersebut hingga kini masih proses pembebasan lahan.

“Tol Trans Jawa mulai dari Serang-Jakarta sudah selesai 100%, Jakarta-Karawang sudah selesai, Karawang-Cirebon dan Cirebon-Brebes tahun depan selesai, Semarang-Solo-Bawen sudah selesai,” pungkasnya.

Gratis seminggu

Meski peresmian dilakukan, Senin (13/10) namun penarikan tarif tol baru akan diberlakukan efektif mulai 20 Oktober. “Jadi dari peresmian hingga 19 Oktober pengguna jalan tol masih digratiskan,” kata Presdir PT MHI menjelaskan.

Adapun tarif tol, untuk kendaraan golongan I Rp 10.000. Selanjutnya Rp 15.500 untuk golongan II, Rp 20.500 golongan III, Rp 25.500 untuk golongan IV, dan termahal kendaraan golongan V sebesar Rp 30.500.

Direktur PT Astra International Tbk, Paulus Bambang Widjanarko menjelaskan, pembangunan  tol ini diharapkan bisa menjadi salah satu tol terbaik di Indonesia. “Desain gerbang dan kantornya dibuat dengan memperhatikan budaya setempat, namun dalam nuansa modern. Sirip-sirip pada atap menyerupai susunan batu pada candi-candi di Jawa Timur,” imbuhnya.

Paulus mengungkapkan, ruas tol Mojokerto-Kertosono seksi 1 ini seluruhnya dibangun dengan perkerasan beton baik lajur utama (dua lajur, dua arah) maupun bahu jalannya.  “Karena direncanakan di masa yang akan datang, ruas tol ini akan menjadi tiga lajur. Maka di sebagian besar seksi ini median jalannya sangat lebar,” tambahnya.

MHI sebagai Badan Usaha Jalan Tol pemegang hak konsesi ruas tol ini merupakan bagian dari Grup Astra melalui PT Astratel Nusantara, anak perusahaannya di bidang Infrastruktur dan Logistik. Sebelumnya, PT Astra International Tbk melalui PT Marga Mandala Sakti mengoperasikan jalan tol untuk ruas Tangerang-Merak sepanjang 72,5 Km. Dalam acara itu, selain dihadiri Menteri PU, juga dihadiri Gubernur Jatim Soekarwo, Bupati Jombang Nyono Suharli Wihandoko. (yus/gus)

Kades Hajar Warganya, Polsek Ngronggot Masuk Angin?

Nganjuk (Sergap) – Seorang Kepala Desa (Kases), salah satu tugasnya adalah melindungi warganya. Namun hal yang sebaliknya terjadi di Desa Kaloran, Kecamatan Ngronggot, Kabupaten Nganjuk. Sang Kades yang bernama Karjono, justru menghajar sampai dengan babak belur salah satu warganya, Robian (32th) sehingga harus dirawat di RSUD Kertosono.

90 ilustrasi-penganiayaanKejadian berawal ketika, Karjono dan Robian sama-sama melayat salah satu warga yang meninggal dunia, pada hari Minggu, 11 Mei 2014. Di saat mengusung jenazah, Karjono yang memanggul di bagian depan hampir jatuh. Karjono marah-marah karena menganggap jalannya usungan keranda itu terlalu cepat.

Robian yang kebetulan memanggul tepat di belakang Karjono, menjadi sasaran kemarahan. Lantas Karjono meminta pada salah satu temannya untuk menggantikan posisi korban. Setelah prosesi pemakaman selesai, korban dipanggil oleh Karjono dan dibonceng sepeda motor, diajak ke lokasi pembuatan batu merah miliknya.

Sesampainya di lokasi, korban langsung diajak masuk ke kamar. Saat itu, Roso Suwito, paman korban dan Jumakir Irawan, kakak korban sempat berusaha melerai. Akan tetapi Karjono malah membentak keduanya. Tanpa bicara banyak, dengan menjambak rambut korban, Karjono langsung menghujamkan bogem mentah ke tengkuk dan dada korban bertubi-tubi sampai tidak bisa dihitung berapa kali. Tak hayal korban jatuh tersungkur, sampai muntah-muntah lalu pingsan.

Usai melampiaskan kemarahanya dengan memukuli korban, Karjono langsung pergi begitu saja dan meninggalkan korban tergeletak tak berdaya. Roso Suwito dan Jumakir Surawan yang terus membuntuti dari belakang dan langsung membawa korban pulang ke rumah. Karena kondisi korban sangat menghawatirkan, lalu dibawalah ke RSUD Kertosono untuk perawatan intensif.

Jumangi (56th), paman korban membenarkan kejadian yang menimpa Robian. Jumangin sangat menesalkan kejadian yang menurutnya sangat kejam. “Keponakan saya Robian itu orangnya sederhana, kesehariannya hanya bekerja sebagai pembuat batu bata. Pak Kades harus bertanggungjawab terhadap pemukulan yang dilakukannya kepada keponakan saya”, kata Jumangin kepada Tabloid Sergap. Saat berita ini ditulis, Robian sudah pulang dari rumah sakit. Namun ia masih diungsikan keluarganya di Surabaya karena mengalami trauma atas kejadian pemukulan yang dialaminya. Bahkan ibu korban juga shock melihat nasib sial yang menimpa anaknya.

Warga dan keluarga Robian, mengaku sudah melaporkan kejadian ini ke Kepolisian Sektor Ngronggot. Kapolsek Ngronggot AKP Totok saat dikonfirmasi membenarkan kejadian kekerasan ini. Kapolsek mengatakan proses hukumnya sedang berjalan. “Penyidik sedang dalam proses pembuatan BAP. Semuanya masih dalam proses”, katanya saat ditemui di kantornya.

Merasa penanganan oleh Polsek Ngronggot dianggap lambat, maka pada hari Senin, tgl 19 Mei 2014 warga Desa Kaloran melakukan unjuk rasa ke Kantor Bupati Nganjuk. Warga menuntut agar Bupati memberikan sanksi kepada Kades Karjono yang dianggap telah melakukan pemukulan dan penyiksaan kepada warganya sendiri.

Bupati Nganjuk Taufiqurrahman menjanjikan untuk menyelesaikan tuntutan warga. Mendengar janji bupati tersebut, akhirnya warga membubarkan diri. Namun mereka juga mengatakan akan melakukan demo dalam jumlah yang lebih besar lagi, jika tuntutannya tidak dipenuhi. “Jika tuntutan kami tidak segera dipenuhi, kami akan datang lagi dengan jumlah lebih banyak dan melaporkan banyak permasalahan lainnya di Desa Kaloran”, kata salah seorang warga yang namanya minta untuk sementara tidak ditulis.

Akankah ini akan menjadi contoh penegakkan hukum di Indonesia yang tajam ke bawah, namun tumpul ke atas? Kita ikuti perkembangan kasusnya ke depan. (gus)

Prosesi Simbolis Perluasan Areal Kedelai Jatim di Nganjuk

Ir. Wibowo Eko Putro, MMT

Ir. Wibowo Eko Putro, MMT

Nganjuk (Sergap) – Kebutuhan konsumsi kedelai yang cukup tinggi masih belum diimbangi dengan produksi yang seimbang. Hal tersebut memicu Kementerian Pertanian (Kementan) untuk memperluas areal tanam kedelai. Salah satu yang menjadi sasaran perluasan yakni Jawa Timur. Tahun ini ditargetkan perluasan lahan tanam kedelai seluas 72 hektare.

“Tanam kedelai 72 hektare ini digagas Kementan bersama TNI-AD. Penanaman ini telah dimulai dan diselesaikan sampai Desember. Target terdekat sampai September setidaknya mencapai 49 hektare,” kata Kepala Dinas Pertanian Jatim, Ir. Wibowo Eko Putro, MMT saat ditemui di Nganjuk, Rabu (2/7/2014).

Menurut dia, benih kedelai yang ditanam ini merupakan jenis Wilis yang diharapkan mampu membantu peningkatan produksi. “Selama ini Jatim memberikan kontribusi 43 persen dari stok produksi nasional, sehingga simbolis tanam kedelai Kementan dan TNI AD ini digelar di Nganjuk yang mendapatkan alokasi perluasan 5 ribu hektare,” katanya.

Dalam prosesi tanam kedelai di Nganjuk juga dihadiri Menteri Pertanian, Suswono dan Kepala Staf Angakatan Darat, Jenderal TNI Budiman, serta Pangdam V Brawijaya, Mayjend TNI Eko Wiratmoko, serta Bupati Nganjuk, Taufiqurrahman.

Seperti diketahui, setiap tahun kebutuhan kedelai di Indonesia sebesar 1,9 juta ton biji kering.Namun kemampuan produksi dalam negeri dalam dua tahun terakhir tak sampai setengahnya. Menteri Pertanian, Suswono menjelaskan, untuk meningkatkan produksi maka pemerintah mencanangkan swasembada kedelai bekerjasama dengan TNI AD sejak 2012.

“Kerja sama antara Kementan dan TNI-AD ini dalam perluasan tanam kedelai patut didukung dan harus berhasil. Melalui kerja sama ini direncanakan perluasan areal tanam kedelai di 2014 secara nasional mencapai 340 ribu hektare. Perluasan ini berada di 115 kabupaten dan 15 provinsi,” ujar Suswono.

Diharapkannya, dengan kerjasama tersebut maka TNI-AD dapa terus melakukan pengawalan dan pendampingan bersama petugas teknis pertanian di lapangan hingga tanaman kedelai berhasil panen dengan baik.

Kerja sama antara Kementerian Pertanian dengan TNI tak hanya kegiatan perluasan areal tanam kedelai. Akan tetapi mencakup hal lainnya termasuk perluasan areal sawah, optimasi lahan, System of Rice Intensification (SRI) dan perbaikan pengembangan sarana irigasi. Beberapa kegiatan yang diimplementasikan di 2014, antara lain kegiatan SRI di 20 provinsi dan 144 kabupaten, kegiatan optimasi lahan di 26 provinsi dan 158 kabupaten, serta pencetakan sawah seluas 40 ribu hektar di 23 provinsi dan 83 kabupaten. (ang/gus)

 

Akhirnya Eny Sagita “Oplosan” Dihukum 4 Bulan Penjara

Eny Sagita

Eny Sagita

Nganjuk (Sergap) – Dianggap sering menyanyikan lagu “Oplosan” di panggung, membuat Eny Sagita berurusan dengan hukum dan harus duduk sebagai terdakwa di meja hijau. Penyanyi yang juga pimpinan Orkes Melayu Sagita, asal Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur itu akhirnya dijatuhi hukuman 4 bulan penjara dan 6 bulan masa percobaan atas dakwaan pelanggaran hak cipta dan mendapatkan keungtungan terhadap lagu berjudul “Oplosan”, ciptaan Nurbayan seorang penyanyi dan pencipta lagu asal Kota Kediri.

Selain itu, penyanyi Dangdut Jaranan ini juga dihukum denda Rp 1 juta subsider 1 bulan penjara dan membayar biaya perkara Rp 500. Sedangkan barang bukti berupa tujuh keping VCD juga dimusnahkan.

Dalam pertimbangan hukumnya, Hakim Ketua Majelis Pengadilan Negeri (PN) Nganjuk, Pujo Saksono, SH mengatakan bahwa Eny terbukti secara sah dan meyakinkan menyanyikan lagu tanpa meminta izin penciptanya.

Vonis yang dijatuhkan ini, persis samadengan tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Lukas Rohman, SH.Ini artinya bukti telah adanya perdamaian antara Eny Sagita dan Nurbayan, tidak dijadikan pertimbangan oleh Majelis Hakim dalam memberikan vonisnya.

Sebagaimana telah diberitakan Tabloid Sergap, Eny Sagita sempat mengatakan telah berdamai dan bahkan berencana melakukan rekaman bersama Nurbayan. “Rencananya setelah persidangan ini selesai, kami akan tampil bareng dengan Mas Nurbayan di Jakarta. Malahan sudah ada rencana membuat album bersama-sama,” ungkap Eny Sagita, Selasa (15/4/2014) yang lalu.

Menanggapi vonis Majelis Hakim ini, hakim ini, melalui pengacaranya Bambang Koco, SH, Eny Sagita mengaku masih pikir-pikir. Ia menilai vonis yang dijatuhkan kepada Eny tidak benar. Pasalnya, lagu “Oplosan” banyak dinyanyikan artis dangdut lain, yang juga tanpa meminta persetujuan pencipta lagu.“Mbak Eny hanya korban, ia menyanyikan lagu Oplosan atas permintaan dan untuk menghibur penontonnya. Bukan semata-mata untuk mendapatkan upah saja,”jelas Bambang.

Sedangkan atas tuduhan menyebarluaskan karya tanpa izin, Bambang Koco menjelaskan bahwa yang merekam dan mengedarkan VCD tersebut, adalah suami Eny Sagita yang sampai saat ini belum jelas keberadaannya. “Dia bukan PH (Production House, red) yang merekam dan mengedarkan VCD. Dia hanya menyanyi saja, tidak bertindak sebagai produser,” jelasnya. (gus)

Eny Sagita dan Nurbayan Akhirnya Berdamai

Eny Sagita dan Nur Bayan

Eny Sagita dan Nur Bayan

Nganjuk (Sergap) – Sengketan lagu berjudul Oplosan, yang melibatkan penyanyi Jaranan Dangdut (Jardut) campursari Eny Sagita, dengan Nurbayan bakal berakhir dengan damai dan bahagia.Kedua seniman asal Nganjuk dan Kediri itu telah sepakat untuk membikin album bersama yang bakal direkam studio terkemuka di Jakarta.

Eny Sagita yang dikerumuni wartawan di Pengadilan Negeri (PN) Nganjuk mengatakan bahwa, rekaman bersama tersebut akan dilaksanakan setelah proses sidang pengadilan selesai. “Rencananya setelah persidangan ini selesai, kami akan tampil bareng dengan Mas Nurbayan di Jakarta. Malahan sudah ada rencana membuat album bersama-sama,” ungkap Eny Sagita, Selasa (15/4/2014).

Album bersama itu masih mengusung jalur musik  Jaranan Dangdut yang menjadi ciri khasnya selama ini. Hanya saja, album barunya nanti membawakan lagu-lagu yang benar-benar baru. “Ini album nasional yang akan direkam di Jakarta. Jadi aransemen musiknya memang berbeda, ada lagu yang saya nyanyikan sendiri dan lagu yang kami bawakan bersama Mas Nurbayan,” kata penyanyi Nganjuk berputra satu ini.

Eny Sagita juga mengakui, perseteruannya dengan Nurbayan sudah mencapai anti klimak karena sudah ada akta perdamaian antara keduanya. “Sekarang kami sudah berdamai, mudah-mudahan nanti bisa bersatu untuk membuat album baru,” tambahnya.

Eny juga membantah isu bahwa perdamaian tersebut terjadi karena ada kompensasimateriilnya. “Saya dan Mas Nurbayan kan sama-sama seniman, hikmah dari ini kami lebih saling mengenal dan akan membuat album bareng,” ungkapnya.

Eny mengaku mengagumi Nurbayan sebagai seniman yang berhati mulia. Sebelum dirinya bertemu secara langsung dengan Nurbayanada asumsi yang salah. Namun dugaan itu ternyata sangat bertolak belakang. “Mas Nurbayan itu ternyata orangnya baik dan hebat, tidak seperti yang saya perkirakan semula,” tambahnya.Eny Sagita yang namanya melambung setelah serial album “Ngamen” laris manis, Saat disinggung adanya sinyalemen hubungan khusus dengan Nurbayan, Eni juga menampiknya. “Hubungan kami pertemanan biasa, tapi tidak tahu ke depan nanti seperti apa,” ujarnya sambil tersenyum.

Bambang Koco SH, pengacara Eny Sagita menjelaskan, saat Eni Sagita menggelar show memang menyanyikan lagu-lagu ciptaan Nurbayan seperti Oplosan dan Pokoke Joget. Dasar dilakukannya perdamaian itu karena Nurbayan sudah memahami saat Eny Sagita membawakan lagunya untuk memenuhi permintaan penggemarnya. “Lagu yang dipermasalahkan dinyanyikan Mbak Eny, karena ada request (permintaan) dari penggemar. Masalah ini dianggap kekhilafan, bukan kesalahan. Atas dasar inilah Eny Sagita dan Nurbayan berdamai,” jelasnya.

Sementara itu, kelanjutan perkara gugatan Nurbayan, Jaksa Lukas Rohman menjelaskan, perkara pidana yang telah disidangkan tidak dapat dicabut. Sedangkan akta perdamaian yang telah disepakati Nurbayan dengan Eny Sagita hanya akan meringankan putusan. (gus)

Menyanyikan “Oplosan” Eny Sagita Terancam Hukuman 7 Tahun

Eny Sagita dan Nur Bayan

Eny Sagita dan Nur Bayan

Nganjuk (Sergap)Penyanyi dangdut Eni Setyaningsih, (28) alias Eni Sagita asal Desa Pacekulon, Kecamatan Pace, Kabupaten Nganjuk, hari Senin (20/01/2014) dihadapkan di meja hijau karena dituduh melanggar Pasal 72 ayat 1 dan 2 Undang-Undang Nomor 19 tahun 2002 tentang Hak Cipta, karena dianggap telah menyanyikan lagu Oplosan ciptaan Nur Bayan, seorang seniman asal Kediri.

Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejaksaan Negeri (Kejari) Nganjuk Luchas Rohman mengatakan, Eny Sagita yang bernama dijerat dengan pasal pelanggaran hak cipta dengan ancaman hukuman yang cukup berat. Sesuai Undang-Undang Hak Cipta, terdakwa bisa dijatuhi hukuman penjara maksimal 7 tahun serta denda sebesar Rp 5 miliar jika terbukti bersalah. “Terdakwa telah menyanyikan lagu karya orang lain, merekam, kemudian menggandakan tanpa mendapatkan ijin dari penciptanya. Terdakwa terancam hukuman penjara maksimal 7 tahun, serta denda maksimal Rp. 7 milyar,” kata Luchas dalam dakwaannya.

Kasus berawal ketika Nur Bayan melaporkan Eny Sagita ke Polda Jatim, kemudian oleh Polda Jawa Timur dilimpahkan ke Kejaksaan Tinggi (Kejati) Jatim di Surabaya sekitar awal tahun 2013. Karena tempat kejadian perkaranya di wilayah hukum Kabupaten Nganjuk, maka berkas perkara dan barang bukti berupa 8 keping CD yang berisi lagu Oplosan yang dinyanyikan Eni Sagita diiringi Orkes Dangdut Sagita yang dipimpinnya.

“Terdakwa tidak kami tahan, dengan pertimbangan, yang bersangkutan punya anak kecil, berjanji tidak akan melarikan diri, tidak akan menghilangkan barang bukti, dan dijamin oleh orang tuanya,” jelas Lucas Rohman kepada wartawan, usai sidang di Pengadilan Negeri Nganjuk.

Dikonfirmasi terkait kasus dugaan perampasan hak cipta yang melibatkan dirinya, Eni Sagita menuturkan, dirinya merasa tidak bersalah sama sekali. Ia hanya menyanyikan lagu berjudul Oplosan itu saat pentas dalam acara Expo tahun 2011 lalu. Dia mengelak telah dituduh merekam dan menggandakan untuk dijual bebas.

Eni mengakui, saat menyanyikan lagu Oplosan tersebut tidak minta ijin atau menyebutkan penciptanya. Masalahnya, sejak mulai menjadi penyanyi sekitar 1996, Eni tidak pernah minta ijin kepada pencipta lagu-lagu yang dia bawakan. Yang dia lakukan sebagai artis penyanyi, hanyalah menyanyikan lagu-lagu karya orang lain seperti penyanyi-penyanyi lainnya. “Saya tidak tahu kalau harus ijin atau menyebutkan nama penciptanya. Yang menyanyikan lagu Oplosan itu bukan saya saja, penyanyi-penyanyi lain juga menyanyikan, tapi kenapa kok cuma saya saja yang kena,” jelas Eni kepada wartawan.

Penasehat hukum Eny, Bambang Sukoco menambahkan, kasus ini sangat memukul Eny. Selain kewajiban memimpin grup musiknya, dia juga harus menghidupi anak tunggalnya yang saat ini duduk di kelas 3 SD. Sementara sejak tiga tahun lalu dia sudah menjalani pisah ranjang dengan sang suami. “Eny berharap tak dipenjara terkait lagu Oplosan yang dinyanyikannya”, katanya.

Sebelum dikenal masyarakat seperti sekarang ini, lagu tersebut sudah dipopulerkan oleh penciptanya sendiri bersama grup Trio Gimix. Namun demikian, lagu tersebut ternyata tidak begitu populer karena hanya dikenal di kalangan pecinta kesenian jaranan di Kediri. “Lagu itu memang bentuk aslinya musik jaranan,” kata Bambang.

Sejak itu pula, banyak penyanyi lain yang menyanyikannya secara bebas. Salah satunya adalah Eny yang kerap membawakannya dalam bentuk Dangdut Koplo bersama Orkes Dangdut Sagita. Dan tanpa diduga, lagu tersebut meledak hingga dinyanyikan para artis di stasiun televisi. Lagu tersebut bak mengulang ketenaran Iwak Peyek yang juga pernah Eny populerkan. “Harusnya Nur Bayan berterima kasih kepada Eny,” Bambang menambahkan.

Masih menurut Bambang, hingga kini pihak Nur Bayan selaku pelapor juga belum bisa membuktikan bahwa lagu tersebut adalah ciptaannya, atau setidaknya didaftarkan sebagai hasil kreatifnya. Ini berarti siapa pun bebas menyanyikannya di atas panggung. “Penyanyi lain juga banyak yang menyanyikan, sampai di televisi,” tambah Bambang.

Namun demikian, dia mengakui bahwa kliennya memang bukan pencipta lagu tersebut. Hanya, bukan berarti ketika menyanyikan di panggung dia harus mengajukan izin terlebih dulu kepada penciptanya.

Soal keberadaan keping tersebut, Bambang membantah kliennya melakukan pembajakan. Sebab, hingga kini tak ada upaya sama sekali dari Eny Sagita untuk merekam dan memperjualbelikan lagu itu ke masyarakat. VCD yang beredar merupakan rekaman aksi panggung Eny ketika tampil secara terbuka. Adapun rekaman itu dibuat oleh orang lain yang kemudian memperjualbelikannya.

Lagu Oplosan makin dikenal setelah ditampilkan di acara YKS TransTV. Lirik Oplosan sarat makna yang berisi ajakan untuk menghentikan konsumsi minuman keras yang dicampur (dioplos) dengan kandungan lain hingga meningkatkan kadar alkoholnya di atas kemampuan tubuh. (acs)

Guru SMP di Nganjuk Perkosa 6 Muridnya

illustrasi

illustrasi

Nganjuk (Sergap) – Seorang guru tidak tetap/honorer yang mengajar mata pelajaran Kesenian di SMP Negeri 3 Rejoso, Kecamatan Rejoso, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur melakukan perbuatan tidak terpuji, ibarat pagar makan tanaman. RT (35th) oknum guru yang seharusnya mendidik dan melindungi murudnya, justru telah memerkosa didiknya sendiri, yang masih duduk di bangku kelas 2.

Saat ini,  RT sudah ditahan di Mapolresta Nganjuk, sebagai tersangka tindak pidana perkosaan terhadap RY (15), muridnya sendiri itu.

AKP Bambang Sutikno, Kasubag Humas Polres Nganjuk menjelaskan perbuatan tersebut dilakukan tersangka dengan modus memberi les kesenian pada muridnya setelah pulang dari sekolah.

Kepada murid yang menjadi korbannya, tersangka memberi perintah untuk datang lebih awal. Pada saat situasi sekolah sedang sepi dan keduanya berada di dalam ruang laboratorium, tersangka langsung memperkosa muridnya tersebut dengan ancaman akan memberi nilai jelek jika tidak mau di ajak berhubungan badan.

Berdasarkan hasil penyelidikan polisi, saat ini baru satu korban yang sudah selesai di tangani dan diakui tersangka. Namun beredar kabar, bahwa selain RY, masih ada 5 siswi lainnya di SMP Negeri 3 Rejoso yang diduga juga menjadi korban perkosaan oknum guru RT. Jika benar, maka keseluruh ada 6 siswa yang telah diperkosanya. Namun polisi masih belum dapat memastikannya karena korban enggan melapor, sehingga perlu dilakukan penyelidikan lebih lanjut.

Akibat perbuatannya tersebut, oknum guru honorer kesenian ini akan di jerat dengan UU NOMOR 23 TAHUN 2002 PERLINDUNGAN ANAK, dengan ancaman hukuman maksimal 15 tahun penjara. (Sw)

Kemenangan Taufiq – Badrus Diperkuat MK

Pasangan Taufiqurrahman dan Abdul Wachid Badrus (TAQWA)

Pasangan Taufiqurrahman dan Abdul Wachid Badrus (TAQWA)

Nganjuk, Sergap – Mahkamah Konstitusi (MK)  menilai hasil hasil Pemilukada Kabupaten Nganjuk sah, tidak ada pelanggaran yang sistematis, terstruktur, dan masif. Sehingga MK memutuskan menolak gugatan hasil Pemilukada Kabupaten Nganjuk, yang diajukan pasangan cabup Siti Nurhayati dan cawabup Sumardi (SIMA) serta pasangan independen cabup Njono Djojo Astro dan cawabup Syaiful Anam (Netral), Jumat (25/1/2013)

Putusan ini dibacakan dalam sidang MK di Jakarta, oleh Majelis Hakim yang terdiri 7 hakim MK. Ketujuh hakim MK secara bergiliran membacakan putusan. Di antaranya mengenai soal pembagian buku dinilai tidak secara meyakinkan terbukti perbuatan termohon karena berdasar keterangan saksi itu adalah kegiatan tahunan Gerakan Pemuda Ansor.

Demikian pula mengenai netralitas Pegawai Negeri Sipil (PNS) dan dugaan politik uang (money politic) yang tidak ada buktinya. Mengenai netralitas PNS, juga tidak terbukti secara meyakinkan. Begitu juga soal gugatan adanya money politik, itu dinilai hanya seporadis tidak ada bukti yang meyakinkan bahwa hal tersebut sistematik, terstruktur dan massif yang mempengaruhi secara signifikan perolehan suara.

“Berdasarkan hal itu, hakim MK memutuskan menolak gugatan para penggugat hasil Pemilukada Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur dengan nomor register 104/PHPU.D-X/2012 dan 105/PHPU.D- X/2012.” kata Agus Rachman, Anggota KPU Nganjuk Bidang Humas, hari Jumat yang sama kepada wartawan.

Sebelumnya, Pemilukada Nganjuk yang dilakukan 12 Desember 2012 lalu dan hasil rekapitulasi manual KPU Nganjuk 18 Desember 2012 menunjukkan pasangan incumbent cabup H Taufiqurrahman dan cawabup Abdul Wachid Badrus (Taqwa) mendapatkan suara terbanyak (31,96 persen). Namun hasil tersebut digugat calon lainnya. (sw/gus)