Akhirnya Eny Sagita “Oplosan” Dihukum 4 Bulan Penjara

Eny Sagita

Eny Sagita

Nganjuk (Sergap) – Dianggap sering menyanyikan lagu “Oplosan” di panggung, membuat Eny Sagita berurusan dengan hukum dan harus duduk sebagai terdakwa di meja hijau. Penyanyi yang juga pimpinan Orkes Melayu Sagita, asal Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur itu akhirnya dijatuhi hukuman 4 bulan penjara dan 6 bulan masa percobaan atas dakwaan pelanggaran hak cipta dan mendapatkan keungtungan terhadap lagu berjudul “Oplosan”, ciptaan Nurbayan seorang penyanyi dan pencipta lagu asal Kota Kediri.

Selain itu, penyanyi Dangdut Jaranan ini juga dihukum denda Rp 1 juta subsider 1 bulan penjara dan membayar biaya perkara Rp 500. Sedangkan barang bukti berupa tujuh keping VCD juga dimusnahkan.

Dalam pertimbangan hukumnya, Hakim Ketua Majelis Pengadilan Negeri (PN) Nganjuk, Pujo Saksono, SH mengatakan bahwa Eny terbukti secara sah dan meyakinkan menyanyikan lagu tanpa meminta izin penciptanya.

Vonis yang dijatuhkan ini, persis samadengan tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Lukas Rohman, SH.Ini artinya bukti telah adanya perdamaian antara Eny Sagita dan Nurbayan, tidak dijadikan pertimbangan oleh Majelis Hakim dalam memberikan vonisnya.

Sebagaimana telah diberitakan Tabloid Sergap, Eny Sagita sempat mengatakan telah berdamai dan bahkan berencana melakukan rekaman bersama Nurbayan. “Rencananya setelah persidangan ini selesai, kami akan tampil bareng dengan Mas Nurbayan di Jakarta. Malahan sudah ada rencana membuat album bersama-sama,” ungkap Eny Sagita, Selasa (15/4/2014) yang lalu.

Menanggapi vonis Majelis Hakim ini, hakim ini, melalui pengacaranya Bambang Koco, SH, Eny Sagita mengaku masih pikir-pikir. Ia menilai vonis yang dijatuhkan kepada Eny tidak benar. Pasalnya, lagu “Oplosan” banyak dinyanyikan artis dangdut lain, yang juga tanpa meminta persetujuan pencipta lagu.“Mbak Eny hanya korban, ia menyanyikan lagu Oplosan atas permintaan dan untuk menghibur penontonnya. Bukan semata-mata untuk mendapatkan upah saja,”jelas Bambang.

Sedangkan atas tuduhan menyebarluaskan karya tanpa izin, Bambang Koco menjelaskan bahwa yang merekam dan mengedarkan VCD tersebut, adalah suami Eny Sagita yang sampai saat ini belum jelas keberadaannya. “Dia bukan PH (Production House, red) yang merekam dan mengedarkan VCD. Dia hanya menyanyi saja, tidak bertindak sebagai produser,” jelasnya. (gus)

Iklan

Eny Sagita dan Nurbayan Akhirnya Berdamai

Eny Sagita dan Nur Bayan

Eny Sagita dan Nur Bayan

Nganjuk (Sergap) – Sengketan lagu berjudul Oplosan, yang melibatkan penyanyi Jaranan Dangdut (Jardut) campursari Eny Sagita, dengan Nurbayan bakal berakhir dengan damai dan bahagia.Kedua seniman asal Nganjuk dan Kediri itu telah sepakat untuk membikin album bersama yang bakal direkam studio terkemuka di Jakarta.

Eny Sagita yang dikerumuni wartawan di Pengadilan Negeri (PN) Nganjuk mengatakan bahwa, rekaman bersama tersebut akan dilaksanakan setelah proses sidang pengadilan selesai. “Rencananya setelah persidangan ini selesai, kami akan tampil bareng dengan Mas Nurbayan di Jakarta. Malahan sudah ada rencana membuat album bersama-sama,” ungkap Eny Sagita, Selasa (15/4/2014).

Album bersama itu masih mengusung jalur musik  Jaranan Dangdut yang menjadi ciri khasnya selama ini. Hanya saja, album barunya nanti membawakan lagu-lagu yang benar-benar baru. “Ini album nasional yang akan direkam di Jakarta. Jadi aransemen musiknya memang berbeda, ada lagu yang saya nyanyikan sendiri dan lagu yang kami bawakan bersama Mas Nurbayan,” kata penyanyi Nganjuk berputra satu ini.

Eny Sagita juga mengakui, perseteruannya dengan Nurbayan sudah mencapai anti klimak karena sudah ada akta perdamaian antara keduanya. “Sekarang kami sudah berdamai, mudah-mudahan nanti bisa bersatu untuk membuat album baru,” tambahnya.

Eny juga membantah isu bahwa perdamaian tersebut terjadi karena ada kompensasimateriilnya. “Saya dan Mas Nurbayan kan sama-sama seniman, hikmah dari ini kami lebih saling mengenal dan akan membuat album bareng,” ungkapnya.

Eny mengaku mengagumi Nurbayan sebagai seniman yang berhati mulia. Sebelum dirinya bertemu secara langsung dengan Nurbayanada asumsi yang salah. Namun dugaan itu ternyata sangat bertolak belakang. “Mas Nurbayan itu ternyata orangnya baik dan hebat, tidak seperti yang saya perkirakan semula,” tambahnya.Eny Sagita yang namanya melambung setelah serial album “Ngamen” laris manis, Saat disinggung adanya sinyalemen hubungan khusus dengan Nurbayan, Eni juga menampiknya. “Hubungan kami pertemanan biasa, tapi tidak tahu ke depan nanti seperti apa,” ujarnya sambil tersenyum.

Bambang Koco SH, pengacara Eny Sagita menjelaskan, saat Eni Sagita menggelar show memang menyanyikan lagu-lagu ciptaan Nurbayan seperti Oplosan dan Pokoke Joget. Dasar dilakukannya perdamaian itu karena Nurbayan sudah memahami saat Eny Sagita membawakan lagunya untuk memenuhi permintaan penggemarnya. “Lagu yang dipermasalahkan dinyanyikan Mbak Eny, karena ada request (permintaan) dari penggemar. Masalah ini dianggap kekhilafan, bukan kesalahan. Atas dasar inilah Eny Sagita dan Nurbayan berdamai,” jelasnya.

Sementara itu, kelanjutan perkara gugatan Nurbayan, Jaksa Lukas Rohman menjelaskan, perkara pidana yang telah disidangkan tidak dapat dicabut. Sedangkan akta perdamaian yang telah disepakati Nurbayan dengan Eny Sagita hanya akan meringankan putusan. (gus)

The Salemba Band Menembus TV Nasional

Ketika The Salemba Band diundang di Bukan Empat Mata dan Hitam Putih

Ketika The Salemba Band diundang di Bukan Empat Mata dan Hitam Putih

MELIHAT dengan kacamata normal, mungkin suatu hal yang sangat mustahil jika sekelompok narapidana tampil di layar televisi nasional, mengisi acara talk show yang ratingnya terbukti tinggi dari tahun ke tahun.

Namun, The Salemba Band mampu menunjukkan sebuah fenomena baru, bahwa warga binaan juga mampu tampil di event-event moncer bak selebritis.

“Bukan Empat Mata” yang legendaries dan “Hitam Putih” yang inspiratif, telah mengundang anak-anak asuhan Sutedi, SH untuk unjuk kebolehan menampilkan lagu-lagunya yang ternyata juga mendapatkan aprisiasi dari penonton di studio dan pemirsa di rumah.

Dalam acara talk show “Bukan Empat Mata”, selain unjuk kebolehan, The Salemba Band juga ditanya oleh Tukul Arowana tentang latar belakang para personel band dari dalam penjara ini. Terungkap dalam acara ini, semua awak grup musik ini tersandung masalah narkoba.

Terkait dengan eksistensi sebuah grup musik di dalam penjara, Kepala Kantor Wilayah Kementrian Hukum dan HAM, Rusdianto, Bc.IP, SH, MHum menjelaskan bahwa warga binaan adalah warga negara yang mengalami kealpaan dan tersesat sesaat dalam sebuah kasus pelanggaran hukum. “Karena itu negara dalam hal ini Kementrian Hukum dan HAM wajib melakukan pembinaan. Jadi, LP (Lembaga Pemasyarakatan/Penjara, red) adalah aktivitas pembinaan”, kata Kakanwil menjelaskan.

Dijelaskan pula oleh Rusdianto bahwa tujuan pembinaan tersebut adalah membentuk warga binaan untuk menjadi manusia yang mandiri. “Salah satunya adalah The Salemba Band. Masih banyak yang lain, mereka juga mampu membuat kerajinan tangan, roti, laundry”, ujar Kakanwil dengan  nada bangga.

Dalam acara talk show “Hitam Putih” yang juga dikemas dengan segar, The Salemba Band banyak bikin host Deddy Corbuzier terperangah karena ternyata The Salemba Band sudah menelurkan 8 Album lagu.

Foto bersama host, bintang tamu dan pembina The Salemba Band

Foto bersama host, bintang tamu dan pembina The Salemba Band

Vian, bassit The Salemba band menjawab pertanyaan host mengatakan, kisah terbentuknya band warga binaan ini, berawal ketika Pembina mereka Sutedi, SH mengumumkan semacam sayembara yang ditujukan kepada mereka yang punya nyali, untuk ikut audisi pembentukan band.

Sutedi, SH yang hadir bersama Kalapas Salemba langsung menjelaskan bahwa hidup di penjara itu terasa lebih lama daripada di luar. “Jadi dapat dibayangkan betapa jenuhnya. Jadi dalam rangka pembinaan band ini adalah untuk mengisinya dengan kegiatan yang positif. Secara berkala kita undang band dari luar untuk tampil bersama The Salemba Band”, kata Sutedi menjelaskan.

Tentu saja dalam perjalanannya The Salemba Band tidak langsung mulus. Di masa-masa awalnya banyak yang menganggapnya sebagai sebuah ide gila. Namun dengan semangat, keyakinan, usaha dan doa yang tak terputus kepada Tuhan YME, warga binaan terbukti mampu menyedot simpati berbagai kalangan, sehingga dapat tampil di acara TV Nasional yang terkenal. Tak terasa The Salemba Band telah menjadi sebagian dari selebritas yang lahir dari dalam tembok derita.  (red-sumber Bpk Sutedi, SH)

Ingin menonton kesuksesan The Salemba Band menembus TV nasional? Klik judul di bawah ini :

– Tayangan The Salemba Band di “Bukan Empat Mata”

– Tayangan The Salemba Band di “Hitam Putih”

Menyanyikan “Oplosan” Eny Sagita Terancam Hukuman 7 Tahun

Eny Sagita dan Nur Bayan

Eny Sagita dan Nur Bayan

Nganjuk (Sergap)Penyanyi dangdut Eni Setyaningsih, (28) alias Eni Sagita asal Desa Pacekulon, Kecamatan Pace, Kabupaten Nganjuk, hari Senin (20/01/2014) dihadapkan di meja hijau karena dituduh melanggar Pasal 72 ayat 1 dan 2 Undang-Undang Nomor 19 tahun 2002 tentang Hak Cipta, karena dianggap telah menyanyikan lagu Oplosan ciptaan Nur Bayan, seorang seniman asal Kediri.

Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejaksaan Negeri (Kejari) Nganjuk Luchas Rohman mengatakan, Eny Sagita yang bernama dijerat dengan pasal pelanggaran hak cipta dengan ancaman hukuman yang cukup berat. Sesuai Undang-Undang Hak Cipta, terdakwa bisa dijatuhi hukuman penjara maksimal 7 tahun serta denda sebesar Rp 5 miliar jika terbukti bersalah. “Terdakwa telah menyanyikan lagu karya orang lain, merekam, kemudian menggandakan tanpa mendapatkan ijin dari penciptanya. Terdakwa terancam hukuman penjara maksimal 7 tahun, serta denda maksimal Rp. 7 milyar,” kata Luchas dalam dakwaannya.

Kasus berawal ketika Nur Bayan melaporkan Eny Sagita ke Polda Jatim, kemudian oleh Polda Jawa Timur dilimpahkan ke Kejaksaan Tinggi (Kejati) Jatim di Surabaya sekitar awal tahun 2013. Karena tempat kejadian perkaranya di wilayah hukum Kabupaten Nganjuk, maka berkas perkara dan barang bukti berupa 8 keping CD yang berisi lagu Oplosan yang dinyanyikan Eni Sagita diiringi Orkes Dangdut Sagita yang dipimpinnya.

“Terdakwa tidak kami tahan, dengan pertimbangan, yang bersangkutan punya anak kecil, berjanji tidak akan melarikan diri, tidak akan menghilangkan barang bukti, dan dijamin oleh orang tuanya,” jelas Lucas Rohman kepada wartawan, usai sidang di Pengadilan Negeri Nganjuk.

Dikonfirmasi terkait kasus dugaan perampasan hak cipta yang melibatkan dirinya, Eni Sagita menuturkan, dirinya merasa tidak bersalah sama sekali. Ia hanya menyanyikan lagu berjudul Oplosan itu saat pentas dalam acara Expo tahun 2011 lalu. Dia mengelak telah dituduh merekam dan menggandakan untuk dijual bebas.

Eni mengakui, saat menyanyikan lagu Oplosan tersebut tidak minta ijin atau menyebutkan penciptanya. Masalahnya, sejak mulai menjadi penyanyi sekitar 1996, Eni tidak pernah minta ijin kepada pencipta lagu-lagu yang dia bawakan. Yang dia lakukan sebagai artis penyanyi, hanyalah menyanyikan lagu-lagu karya orang lain seperti penyanyi-penyanyi lainnya. “Saya tidak tahu kalau harus ijin atau menyebutkan nama penciptanya. Yang menyanyikan lagu Oplosan itu bukan saya saja, penyanyi-penyanyi lain juga menyanyikan, tapi kenapa kok cuma saya saja yang kena,” jelas Eni kepada wartawan.

Penasehat hukum Eny, Bambang Sukoco menambahkan, kasus ini sangat memukul Eny. Selain kewajiban memimpin grup musiknya, dia juga harus menghidupi anak tunggalnya yang saat ini duduk di kelas 3 SD. Sementara sejak tiga tahun lalu dia sudah menjalani pisah ranjang dengan sang suami. “Eny berharap tak dipenjara terkait lagu Oplosan yang dinyanyikannya”, katanya.

Sebelum dikenal masyarakat seperti sekarang ini, lagu tersebut sudah dipopulerkan oleh penciptanya sendiri bersama grup Trio Gimix. Namun demikian, lagu tersebut ternyata tidak begitu populer karena hanya dikenal di kalangan pecinta kesenian jaranan di Kediri. “Lagu itu memang bentuk aslinya musik jaranan,” kata Bambang.

Sejak itu pula, banyak penyanyi lain yang menyanyikannya secara bebas. Salah satunya adalah Eny yang kerap membawakannya dalam bentuk Dangdut Koplo bersama Orkes Dangdut Sagita. Dan tanpa diduga, lagu tersebut meledak hingga dinyanyikan para artis di stasiun televisi. Lagu tersebut bak mengulang ketenaran Iwak Peyek yang juga pernah Eny populerkan. “Harusnya Nur Bayan berterima kasih kepada Eny,” Bambang menambahkan.

Masih menurut Bambang, hingga kini pihak Nur Bayan selaku pelapor juga belum bisa membuktikan bahwa lagu tersebut adalah ciptaannya, atau setidaknya didaftarkan sebagai hasil kreatifnya. Ini berarti siapa pun bebas menyanyikannya di atas panggung. “Penyanyi lain juga banyak yang menyanyikan, sampai di televisi,” tambah Bambang.

Namun demikian, dia mengakui bahwa kliennya memang bukan pencipta lagu tersebut. Hanya, bukan berarti ketika menyanyikan di panggung dia harus mengajukan izin terlebih dulu kepada penciptanya.

Soal keberadaan keping tersebut, Bambang membantah kliennya melakukan pembajakan. Sebab, hingga kini tak ada upaya sama sekali dari Eny Sagita untuk merekam dan memperjualbelikan lagu itu ke masyarakat. VCD yang beredar merupakan rekaman aksi panggung Eny ketika tampil secara terbuka. Adapun rekaman itu dibuat oleh orang lain yang kemudian memperjualbelikannya.

Lagu Oplosan makin dikenal setelah ditampilkan di acara YKS TransTV. Lirik Oplosan sarat makna yang berisi ajakan untuk menghentikan konsumsi minuman keras yang dicampur (dioplos) dengan kandungan lain hingga meningkatkan kadar alkoholnya di atas kemampuan tubuh. (acs)

Ketika The Salemba Band Manggung Bersama Menteri Hukum dan HAM

TERIMA KASIH kepada Allah SWT,  Tuhan Yang Maha Esa, karena ini pembuktian dari kerja keras, perjuangan kami yang semuanya kami dapat dari Bpk Sutedi, SH (Pembina The Salemba Band/Staf Keamanan Rutan Salemba) yang selalu berkorban dan berjuang untuk memotivasi, menyemangati kami anak-anak didiknya untuk selalu berusaha dan belajar menjadi manusia yang lebih baik lagi dan tidak akan mengulangi kesalahan yang pernah kami buat.

Menteri Hukum dan HAM, Amir Syamsudin membawakan 2 lagu bersama The Salemba Band

Menteri Hukum dan HAM, Amir Syamsudin membawakan 2 lagu bersama The Salemba Band

Hari ini, merupakan hari yang bahagia bagi teman- teman dari The Salemba Band di mana kami group band yang berasal dari Rutan Salemba Jakarta, diundang untuk tampil bersama di acara Kreasi Seni, dalam rangka HUT HARI DHARMA KARYA DHIKA KEMENTRIAN HUKUM DAN HAM RI.

 Kami bisa menghadiri dan membuktikan hasil karya-karya dari The Salemba Band kepada  bapak Menteri Amir Syamsudin dan seluruh jajarannya serta kepada seluruh masyarakat luas dan keluarga kami serta warga binaan Rutan Salemba.

Dan pada puncak acara, tgl 27 Oktober 2013, kami anak-anak didik Rutan Salemba yang dibina oleh Bpk Sutedi,SH mendapatkan kesempatan bernyanyi bersama Bpk Amir Syamsudin yang membawakan 2 tembang lagu lawas di antaranya Massachusetts yang di populerkan oleh Bee Gees dan Fatwa Pujangga yang dipopulerkan oleh Victor Hutabarat.

Dalam sambutannya Bpk Amir Syamsudin, memuji The Salemba Band dalam sebuah artikell surat kabar tentang kegiatan band anak penjara ini yang sudah mengeluarkan banyak album.

“Walau dalam keadaan serba kekurangan tapi patut di jadikan contoh utk seluruh narapidana, bahwa semua itu dapat dan dilakukan bila ada niat dan kerja keras, pastinya band penjara The Salemba Band yang sudah dikenal masyarakat luas. Saya yakin akan mampu untuk berbicara di blantika musik Indonesia”, tulis Bpk Amir Syamsudin Menteri Hukum dan HAM RI.

Kami, The Salemba Band, group band Rutan Salemba mengucapkan terima kasih kepada rekan-rekan wartawan, media cetak maupun digital dan media televisi dalam membantu publikasi, peliputan, pemberitaan kami serta radio-radio yang sudah memutarkan lagu-lagu kami dan membantu kami dalam segalanya, tanpa kalian semua kami bukan apa-apa dan siapa-siapa.

Singkatnya semua ini berkat Allah SWT Tuhan Yang Maha Kuasa yang di barengi dengan kerja keras team The Salemba Band, sebab kita mempunyai dua motto :  Tuhan tidak akan merubah nasib seseorang bila di tidak berusaha  dan Terus Mengalir Seperti Air .

The Salemba Band juga mengucapkan terima kasih atas dukungan semua pihak, khususnya : 1. Bapak Kepala Rutan Salemba, selaku penasehat The Salemba Band. 2. Bapak Kepala Pengamanan Rutan Salemba, selaku penanggung jawab. 3). Bapak Kasie Pelayanan Tahanan Rutan Salemba, selaku Penanggung Jawab. 4). Seluruh pegawai Rutan Salemba. 5). Seluruh Warga Binaan Rutan Salemba. Atas doa dan restunya sehingga kami dapat menjadi mengenal arti kehidupan melalui The Salemba Band binaan Bpk. Sutedi, SH.

Ingin dengarkan lagu-lagu The Salemba Band?  KLIK DI SINI

“Nada dan Takbir Rutan Salemba”, Single Album Salemba Band

salemba band lebaranPuncak dari bulan Ramadhan ini adalah hari kemenangan di hari Idul Fitri 1434 H. Semua umat muslim merayakan kemenangan di hari yang fitrah, di mana suasana  suka dan cita mewarnai setiap sosok umat muslim.

The Salemba Band ingin suasana bahagia ini di malam takbir dan hari lebaran menjadi lebih syahdu dan bermakna dengan berlatarbelakang“ Single Album dari The Salemba Band Nada dan Takbir Rutan Salemba “

Lagu ini di buat secara khusus untuk menyambut Hari Raya Idul Fitri, seperti sepenggal lirik lagunya : Lebaran hari kemenangan. Lebaran saling memaafkan. Lebaran, yuk kita Lebaran. Minal A’idzin wal Fa’idzin.

Proses penciptaan lagu ini dilakukan 2 minggu dengan kerja keras tim kreatif The Salemba Band yang digawangi oleh : Vocal : Raditya, Drum : Bardoz, Bass : Kiki,  Arransemen : Novian, Vocal Takbir       : Ustadz Rahmat, Promotion : Rio

Akhirnya kami Team The Salemba Band mengucapkan MINAL  A’IDZIN  WALFA’IDZIN, Mohon Maaf Lahir dan Bathin. (Sumber : Bpk. Sutedi.SH )    

Berita terkait :  –   “Uje…Wajahmu Teduhkan Hati Kami” – Ramadhanku Ramadhanmu, Album Religi The Salemba Band –  Meriahnya Natal Bersama The Salemba Band dan Joy Tobing di Rutan Salemba  –   The Salemba Band, Bermusik dari Dalam Rutan  –   Ada yang Lain di Sunday Music Salemba  –  Asyiknya SMS Bersama Diego Michiels di Rutan Salemba  –   Sunday Music Salemba Menggoyang Rutan Salemba  –   Suara Reggea Dari Dalam Penjara 

“Uje…Wajahmu Teduhkan Hati Kami”

ujeSATU LAGI lagi sisi kepedulian group musik dari dalam penjara The Salemba Band terhadap sosok ulama yang penuh kharismatik dan di cintai yaitu Almarhum USTAD JEFRY AL BUCHORY, di mana dakwah yang di sampaikannya selalu menyejukkan hati, bukan saja untuk umat muslim tapi juga non muslim.

USTAD JEFRY AL BUCHORY,  mampu di dalam dakwahnya mengajak umatnya untuk bersatu menghilangkan permusuhan dan mengedepankan perdamaian. Menyejukkan dan membuat bulu roma berdiri ketika membacakan Ayat-Ayat FirmanNya dan Hadist-Hadist Rasul serta piawai dalam membawakan Syair-Syair Shalawat, membuat umat yang mendengarkannya menjadi takjub.

Sisi inilah yang menjadi alasan kuat group musik asal penjara The Salemba Band, melihat sosok USTAD JEFRY AL BUCHORY di dalam berdakwah dan melantunkan syair-syair yang penuh dengan keindahan dan menyentuh qolbu dari vocal dan lantunan shalawatnya.

Semua itu tergambar indah, dalam lagu berjudul “Tentang UJE … WAJAHKU TEDUHKAN HATI KAMI “ di ciptaan SUTEDI.SH dengan Arransemen The Salemba Band semoga dapat menjadi obat kerinduan sebagaimana di kutip dalam syair lagunya.

“ KAU TIDAK PERGI MENINGGALKAN KAMI, KAU HANYA PINDAH KE ALAM YANG INDAH, BERISTIRAHAT DENGAN AMAL KEBAIKANMU “

Berita terkait :  – Ramadhanku Ramadhanmu, Album Religi The Salemba Band –  Meriahnya Natal Bersama The Salemba Band dan Joy Tobing di Rutan Salemba  –   The Salemba Band, Bermusik dari Dalam Rutan  –   Ada yang Lain di Sunday Music Salemba  –  Asyiknya SMS Bersama Diego Michiels di Rutan Salemba  –   Sunday Music Salemba Menggoyang Rutan Salemba  –   Suara Reggea Dari Dalam Penjara

Ramadhanku Ramadhanmu, Album Religi The Salemba Band

Ramadhanku Ramadhanku, Album Religi The Salemba Band

Ramadhanku Ramadhanku

SETELAH melalui perjuangan  dalam segala keterbatasan dan kesederhanaan serta setelah melalui berbagai kendala , maka The Salemba Band akhirnya berhasil menyelesaikan sebuah album religi bertajuk “Ramadhanku Ramadhanmu”.

Ramadhanku Ramadhanmu yang proses pembuatannya membutuhkan waktu kurang lebih 5 bulan ini didedikasikan untuk sahabat – sahabat  radio di seluruh indonesia stasiun televisi, wartawan cetak dan elektronik, serta umat muslim di seluruh dunia.  Semoga album religi The Salemba Band  ini mendapatkan respon yang positif  dari seluruh pencinta musik di tanah air maupun mancanegara.

Sebagai sebuah album religi “Ramadhanmu Ramadhanku” memberi banyak pengalaman bathin bagi pawa awak The Salemba Band. Radit sang vocalis, Kiki, Bardoz dan Vian bagian rekaman serta Pak Sutedi sebagai pencipta lagunya, menangis saat membawakan dan merekam lagu “Sayangi Mamaku Ya Allah”.

“Album religi ini adalah semangat kami sebagai umat muslim yang ingin mempersembahkan karya dari The Salemba Band dalam membina, menghibur dan mencoba  untuk memberikan nuansa baru bagi pencinta musik tanah air dan mancanegara”, kata Bpk Sutedi, SH selaku Pembina The Salemba Band.   (sumber : staf Keamanan Rutan Salemba dan Pembina The Salemba Band)

Berita terkait :  Meriahnya Natal Bersama The Salemba Band dan Joy Tobing di Rutan Salemba  –   The Salemba Band, Bermusik dari Dalam Rutan  –   Ada yang Lain di Sunday Music Salemba  –  Asyiknya SMS Bersama Diego Michiels di Rutan Salemba  –   Sunday Music Salemba Menggoyang Rutan Salemba  –   Suara Reggea Dari Dalam Penjara

Semarak Musik Perdamaian Dari Rutan Salemba

Para penampil di Musik Perdamaian Rutan Salemba, di antaranya Well Willy No Limit, All In, Barock n Roll, Tas Band

Para penampil di Musik Perdamaian Rutan Salemba, di antaranya Well Willy No Limit, All In, Barock n Roll, Tas Band

SELALU ada saja hal yang menarik di musik perdamaian, sebagai sebuag program Program The Salemba Band, seperti di minggu ini guest star Well Willy (mantan vocalisnya Slank angkatan pertama), yang saat ini menggawangi band Neo Limit, tampil dengan lagu barunya dan mendapatkan applause luar biasa  dari narapidana penoton setia acara Musik Perdamaian.

Well Willy juga sempat memberikan baju dan kacamatanya untuk narapidana yang mampu menebak album dan judul lagu Neo Limit, diiringi ucapannya, “All right I love play Rutan Salemba…sukses”

Tak ketinggalan Tas Band yang di gawangi oleh Mas Braw dan kawan-kawan tampil prima serta Barock n Roll yang tak kalah menghiburnya. Demikian juga Bang Napi Band, yang merupakan wadah untuk orang-orang ex Rutan Salemba yang sudah bebas untuk berkreasi), juga tentu saja sang tuan rumah, The Salemba Band semauanya sangat menghibur.

“Keikhlasan dan ketulusan kamilah yang membuat acara Musik Perdamaian ini beraura dan semarak,” kata Bpk. Sutedi, SH, inisiator dan pembina Musik Perdamaian.

Dijelaskan lebih lanjut, bahwa semua penampil di acara ini sepenuhnya gratis. Rutan Salemba akan terus merangkul Event Organizer serta grup-grup band. “Tujuannya hanya satu yaitu untuk membina dan menghibur narapidana dan menjadikan musik Indonesia menjadi maju, untuk Indonesia Satu”, kata Bpk Sutedi.

Dengan segala keterbatasannya, Rutan Salemba bertekad agar dari dalam penjara ini lahir ide-ide dan program-program yang positif untuk semua, dalam bingkai Indonesia Satu.

Musik Perdamaian akan tetap hidup dan berjalan karena program ini lahir dari dalam tembok derita bersama dengan The Salemba Band, TSB Management, Bang Napi Band dan grup My Bony, semua ini adalah ajang kreatifitas narapidana Rutan Salemba.

Atas nama pimpinan Rutan Salemba Bpk Sutedi juga mengucapkan terima kasih kepada menejemen Efek Positif yang banyak membantu menghadirkan band-band ternama, rekan wartawan digital, media cetak dan televisi yang telah turut serta menyebarluaskan program Musik Perdaiaman produk Rutan Salemba ini.

“Untuk Indonesia Satu, bukti keikhalasan dan ketulusan terus kami buktikan”, tegas Bpk Sutedi. (nara sumber : Bpk. Sutedi, SH)

Berita terkait :   Surat Terbuka The Salemba Band di Hari Musik Nasional 2013 –  Willy Sket Beraksi di Musik Perdamaian Rutan Salemba   –  Meriahnya Natal Bersama The Salemba Band dan Joy Tobing di Rutan Salemba  –   The Salemba Band, Bermusik dari Dalam Rutan  –   Ada yang Lain di Sunday Music Salemba  –  Asyiknya SMS Bersama Diego Michiels di Rutan Salemba  –   Sunday Music Salemba Menggoyang Rutan Salemba  –   Suara Reggea Dari Dalam Penjara

Willy Sket Beraksi di Musik Perdamaian Rutan Salemba

Mas Willy Sket and Friends,  Kartika with Demonic Band, Mariska Kay Sindy dan The Salemba Band dan seluruh pendukung acara berfoto untuk perdamaian

Mas Willy Sket and Friends, Kartika with Demonic Band, Mariska Kay Sindy dan The Salemba Band serta seluruh pendukung acara berfoto untuk perdamaian

MUSIK Perdamaian kembali bergema di Rutan Salemba, Minggu 21 April 2013. Kali ini gelar music yang selalu ditunggu-tunggu oleh Warga Binaan ini, juga dalam rangka memperingati Hari Kartini, sosok tokoh wanita yang telah membuka tabir “Habis Gelap Terbitlah Terang“, bagi bangsa Indonesia pada umumnya.

Penampilan meriah mampu diciptakan oleh grup band yang tampil dibawah bendera “Efek Positif“nya Mas Arie dan kawan–kawan. Semua narapidana terhibur bernyanyi dan menari tanpa ada benang pemisah inilah yang memaknai “Habis Gelap Terbitlah Terang“.

Guest star selanjutnya adalah Willy Sket, penyanyi era tahun 90an, seangkatan dengan Boomerang, Kahitna, Nugie dll, juga tampil memukau dengan lagu andalanya yang berjudul “Takan Kembali“ dan “Tuan Senja“, menghipnotis penonton dengan penampilanya yang ciamik. “Gue suka banget suasana ini. Gua biasa main di mana saja, tapi ini beda banget” kata Mas Willy Sket memberikan kesannya.

Penampil selanjutnya adalah Demonica Band dengan vokalisnya Kartika yang mebawakan lagu-lagu ciptaanya sendiri. Memukau pula penampilan mereka, sehingga ketika turun hujan, para penonton tidak beranjak dari tempatnya.

Acara ditutup dengan penampilan band tuan rumah The Salemba Band, bandnya anak penjara yang berfeaturing dengan Mariska Kay Sindy, membawakan albumnya The Salemba Band yang berjudul “ Belahan Jiwa“.

Kerjasama yang digagas The Salemba Band dengan Efek Positif diharapkan akan tetap terus berlangsung di kemudian hari. Melalui musik nan menghibur terbukti mampu membangun suasana untuk mengerti, memahami dan mengamalkan arti damai, di Rutan Salemba.

Berita terkait :  

Surat Terbuka The Salemba Band di Hari Musik Nasional 2013 – Meriahnya Natal Bersama The Salemba Band dan Joy Tobing di Rutan Salemba  –   The Salemba Band, Bermusik dari Dalam Rutan  –   Ada yang Lain di Sunday Music Salemba  –  Asyiknya SMS Bersama Diego Michiels di Rutan Salemba  –   Sunday Music Salemba Menggoyang Rutan Salemba  –   Suara Reggea Dari Dalam Penjara