Arus Lalin Mengkreng/Braan Mulai Padat

Suasana pertigaan Mengkreng/Braan saat terjadi kemacetan

Kediri, Sergap – Arus kendaraan di simpang tiga Mengkreng Kecamatan Purwoasri, Kabupaten Kediri yang berbatasan dengan Braan Kecamatan Kertosono Kabupaten Nganjuk mulai mengalami lonjakan,sejak  Selasa (21/8/2012) atau H+2 lebaran.

Sementara, sepeda motor tampak mendominasi arus lalu lintas di jalur penghubung antara Jawa Timur dan Jawa Tengah tersebut. Kenaikan volume kendaraan diperkirakan berkisar antara 10–20 persen dibanding hari biasa. Namun kepadatan kendaraan tersebut belum mencapai puncak arus balik.

Kepadatan lalu lintas terasa sejak pagi. Kepadatan terjadi karena pertemuan kendaraan pemudik yang hendak kembali ke daerah asalnya dengan warga yang hendak bersilaturahmi dengan sanak kerabatnya. Akibatnya arus lalu lintas menjadi padat merayap. Pengguna jalan dari arah Kediri, Jombang dan Nganjuk harus rela melaju dengan kecepatan rendah karena deretan kendaraan memanjang dengan jarak yang rapat.

Volume kendaraan di jalur Mengkreng diperkirakan akan terus bertambah seiring dengan datangnya arus balik. Puncak arus balik di jalur provinsi itu diperkirakan terjadi pada H+5 lebaran yang berdekatan dengan berakhirnya masa libur hari raya Idul Fitri.

Pada saat puncak arus balik, para pengguna jalan disarankan untuk menggunakan jalur alternatif yang sudah disiapkan. Keempat jalur alternatif tersebut yakni Kediri-Bangi-Jatipelem, Kediri-Papar-Badas, Kediri-Gurah-Badas dan Kediri-Pagu-Kunjang. Jalur utama dipastikan akan mengalami kemacetan akibat pertambahan volume kendaraan yang melintas hingga dua kali lipat dari hari biasa.

“Kami sudah menyiagakan personel bekerjasama dengan polres terdekat untuk mengatur arus lalu lintas. Kami juga sudah menyiapkan jalur alternatif yang bisa digunakan pengguna jalan agar tidak terjebak macet,” kata Kasatlantas Polres Kediri, AKP Ariwibowo. (sur)

Iklan

Waspadai, Ruas Jalan Rawan Macet di Lamongan

Pasar tumpah di Babat Lamongan

Lamongan, Sergap – Terdapat belasan ruas jalan di Lamongan yang perlu diwaspadai pengguna jalan hingga H + 7 Lebaran, karena di sejumlah titik itu rawan kemacetan arus lalu lintas. ”Kita sejak awal sudah  melakukan antisipasi dengan menempatkan sejumlah petugas untuk mengurai kemacetan,”ungkap Kasat Lantas Polres Lamongan, AKP Paulus Sujatmiko.

Penempatan petugas dilakukan sejak H – 7 Idul Fitri di jalur jalan Daendels dengan tujuh titik yang perlu diwaspadai. Yakni depan pintu masuk Tempat Pelelangan Ikan (TPI), empat pasar tumpah masing – masing Pasar Blimbing, Kranji, Kemantren dan Banjarwati, depan Wisata Bahari Lamongan (WBL) dan Maharani  Zoo and  Goa (Mazola).

Di tujuh titik jalan Daendels itu adalah jalan pantura yang menjadi perhatian penuh petugas. Utamanya kebiasaan kemacaten yang terjadi pada Lebaran Ketupat atau tujuh hari setelah 1 Syawal.

“Di tempat tersebut kita siagakan petugas baik dari kepolisian maupun Dishub,”kata Sujatmiko. Paulus Sujatmiko menyatakan, setiap tahun, di kawasan jalan Deandels itu selalu terjadi kemacetan. Makanya Polres Lamongan jauh hari juga membentuk tim pengurai selain menugaskan sejumlah petugas yang stand by di titik rawan kemacetan itu.

Kewaspadaan pada arus mudik maupun balik juga diperlukan saat melintasi ruas jalan  nasioanal Lamongan–Babat. Ditambahkan oleh  Kasatlantas jika di jalur Babat–Lamongan juga ada ruas jalan yang perlu diwaspadai, di antaranya di depan Pasar Babat, Pasar Agrobis, pertigaan Sumlaran, depan Pasar Sukodadi, jembatan Kaliotik serta depan Lamongan Plazar atau depan Stasiun Lamongan.

Ditambahkan, ruas jalan provinsi Lamongan–Mojokerto titik kemacetan biasanya terjadi di Pasar Babatan Mantup, Pasar Kecamatan Mantup, pertigaan Pasar Sidoarjo. Sedangkan jalan provinsi Babat–Jombang terjadi di depan Pasar Ngimbang.

“Tapi pengguna jalan juga harus lebih waspada ketika masuk jalan raya zig – zag menanjak yang ada di kawasan hutan perbatasan Lamongan – Jombang,”ungkap Sujatmiko. (sule)

Waspadai Titik Rawan di Mojokerto Saat Mudik

AKBP Eko Puji Nugroho

Mojokerto, Sergap – Mudik adalah tradisi yang banyak ditunggu keluarga, namun waspada di perjalanan harus diutamakan supaya selamat sampai di tujuan. Bagi pemudik yang melintasi Mojokerto harap mewaspadai titik-titik rawannya. Jangan sampai kegembiraan, justru berbuah kesedihan.

Titik rawan di Mojokerto, antara lain KM 16-17 jalur Mojokerto-Pasuruan Desa Kembang Ringgit, Kecamatan Pungging hingga Desa Kembangsari, Kecamatan Ngoro. Kemudian, KM 51-53 jalur By Pass Desa Balongmojo, Kecamatan Puri jalur Mojokerto-Jombang, serta jalur Mojokerto-Mojosari KM 7-41 Desa Pacing, Kecamatan Bangsal sampai Desa Pekukuhan, Kecamatan Mojosari.

“Tiga titik rawan itu perlu diwaspadai,” ujar Kapolres Mojokerto AKBP Eko Puji Nugroho. Untuk itu, ujarnya, polisi menyiapkan 12 titik pantau, satu masjid bintang yang terletak di Desa Jati Pasar, Kecamatan Trowulan dan rest area di bekas Rumah Makan Pandan Arum, Desa Balongmojo, Kecamatan Puri. “Setiap pos akan ada antara 12 hingga 14 anggota tergantung tingkat kerawanan dan dibantu instansi terkait mulai tanggal 11 hingga 26 Agustus,” katanya.

Jalur Alternatif

Sedang untuk mengurai kemacetan, Polres Mojokerto juga menyiapkan tiga jalur alternatif dari arah Surabaya dan tiga jalur alternatif dari arah Jombang dan tiga jalur aternatif dari arah Surabaya yakni :

Pertama : dari arah By Pass Tarik belok ke kanan melalui Jalan Raya Desa Mlirip menuju Jalan Raya Kemantren, Kecamatan Gedeg ke simpang tiga Ngrajeng belok kiri tembus Kecamatan Kudu, Kabupaten Jombang.

Kedua : dari By Pass Tarik belok kanan melalui Jalan Raya Desa Mlirip ke jembatan Gajah Mada masuk Kota Mojokerto arah ke Jalan RA Basuni, Kecamatan Sooko tembus Jalan Raya Brangkal-Trowulan.

Ketiga : dari By Pass Tarik belok kanan melalui Jalan Raya Desa Mlirip, jembatan Gajah Mada, masuk Kota Mojokerto kearah Jalan RA Basuni, Kecamatan Sooko, di perempatan Sooko belok kanan ke simpang tiga Murukan, Kecamatan Prajuritkulon, belok kiri arah Pasar Brangkal belok kanan masuk Desa Modongan, Kecamatan Sooko arah Desa Balongwono, Trowulan tembus ke Kecamatan Somobito, Kabupaten Jombang.

Sedangkan tiga jalur alternatif dari arah Jombang adalah :

Pertama : perempatan Trowulan belok kiri arah Desa Modongan, Kecamatan Sooko melalui Desa Murukan, Kecamatan Prajuritkulon masuk Kota Mojokerto melalui jembatan Gajah Mada ke Jalan Raya Mlirip tembus By Pass Tarik.

Kedua :  simpang tiga Desa Kedung Maling, Kecamatan Sooko arah Desa Modongan, Kecamatan Sooko melalui Desa Murukan, Kecamatan Prajuritkulon masuk Kota Mojokerto melalui jembatan Gajah Mada ke Jalan Raya Mlirip tembus By Pass Tarik.

Ketiga :  dan simpang tiga Jampirogo, Kecamatan Sooko lurus masuk Kota Mojokerto tembus jembatan Gajah Mada ke arah Jalan Raya Mlirip tembus By Pass Tarik. (win)

Waspadai Kemacetan di Peterongan Jombang dan Braan Kertosono

Proyek Fly Over di Peterongan membuat ruas jalan menjadi sempit

Jombang, Sergap – Di wilayah Peterongan, Jombang sedang ada pembangunan proyek jembatan layang (fly over) sepanjang satu kilometer, yang dipastikan bakal memacetkan arus lalu lintas kendaraan para pemudik. Titik ini merpakan salah satu titik-titik penyempitan dan kerawanan kemacetan arus kendaraan selama arus mudik Lebaran tahun ini.

“Kemacetan sudah bisa dipastikan akan terjadi dan kami pun siap membantu pemudik agar tetap merasa aman dan nyaman walaupun perjalanan mereka akan tersendat-sendat karena adanya penyempitan jalan dengan adanya proyek fly over,” kata salah seorang anggota polisi lalu lintas yang sedang bertugas di pos Polisi Lalu Lintas (Polantas) Peterongan, Jombang, Selasa (14/8/2012).

Petugas Polantas di lapangan juga mengeluhkan adanya dampak debu yang setiap saat bertebaran dan berterbangan akibat dari pembangunan proyek jalan layang sehingga menggangu kenyamanan selama bertugas mengatur arus lalu lintas kendaraan. “Sekarang ini saja sudah sering macet dan debunya banyak yang bertebaran, apalagi nanti kalau arus mudik Lebaran bertambah padat pasti bertambah macet dan berdebu,” katanya.

Dia berharap agar dinas terkait, termasuk Pekerjaan Umum dan Jasa Marga, segera mengambil langkah dengan upaya penyiraman menggunakan mobil tangki air agar debunya tidak bertebaran dan mengganggu kenyamanan dan kesehatan.

Para pemudik yang melintas di jalan utama selatan juga perlu pula mewaspadai kemacetan yang bakal terjadi di pertigaan/perempatan Mengkreng, Kertosono, Nganjuk. Pasalnya, perempatan Mengkreng menjadi titik pertemuan arus kendaraan lalu lintas dari Surabaya menuju Kediri, Tulungagung ataupun Yogyakarta, atau sebaliknya dari Kertosono menuju Kediri.

Begitu pula pemudik dari arah barat (Yogyakarta) menuju arah timur (Surabaya) yang melintas di perempatan Mengkreng sebaiknya waspada dan berhati-hati serta bersabar menghadapi kemacetan dan jangan saling serobot yang biasanya akan memperparah kemacetan.

“Biasanya kemacetan panjang akan terjadi kalau arus mudik dari Surabaya padat dan dalam waktu bersamaan ada kereta api yang lewat di perlintasan kereta api sebelum Braan,” kata salah seorang petugas polisi lalu lintas di pos polisi lalu lintas Gondang Manis, Jombang.

Kawasan Braan yang berada tidak jauh dari perempatan Mengkreng (Kertosono, Nganjuk) selama ini menjadi pusat penjual aneka jajanan khas Jawa Timur sehingga kerap kali arus lalu lintas tersendat akibat parkir kendaraan pribadi ataupun bus yang sedang menurunkan penumpang atau menunggu calon penumpang.

Kondisi tersebut bakal lebih parah jika di perempatan Mengkreng terjadi kepadatan dan kemacetan arus lalu lintas kendaraan. (mon)

Berita terkait :   – Fly Over Peterongan Sudah Bisa Dilintasi Pemudik

Waspadalah, Masih Ada Pengerjaan Proyek di Jalur Pantura

Proyek belum selesai di jalur Pantura

Surabaya, Sergap – Mudik lebaran adalah kegiatan rutin setiap tahun, artinya bukan acara dadakan yang datang tiba-tiba. Namun selalu saja dari tahun ke tahun perbaikan proyek jalur mudik selalu pula belum tuntas. Tak terkecuali tahun 2012 ini.

Pencapaian target yang dijanjikan pemerintah menyelesaikan semua proyek jalur mudik pada H-10 lebaran tak terbukti. Janji pun tinggal janji, karena hingga H-8, Minggu (12/8/2012) ini, Jalur Pantai Utara (Pantura), baik yang ada di wilayah Jawa Tengah maupun Jawa Timur, belum tuntas. Jalan masih tetap bopeng-bopeng, bahkan di beberapa material proyek malah berserakan di pinggir jalan.

Pemudik harap mewaspadai kondisi ini demi keselamatan saat mudik. Karena seperti yang terlihat di tiga titik jembatan di jalur utama Tuban-Bojonegoro, Jawa Timur. Diperkirakan saat lalu lintas mudik meningkat, proyek jembatan itu dipastikan belum selesai. Karena, perbaikan ini baru mencapai 40% atau masih tahap proses penataan lempeng beton.

Namun, Heri Susanto, pelaksana proyek mengatakan mampu menyelesaikan perbaikan jembatan dalam sepekan ke depan. ”Kita ngebut, kami memberlakukan sistem kerja lembur selama 24 jam biar target tercapai,” katanya. Menurutnya, perbaikan jalan tersebut akan rampung sebelum masa mudik Lebaran mendatang.

Tiga jembatan itu terletak di Desa Sumurjalak dan Desa Sumberarung, Kecamatan Plumpang serta sebuah jembatan di wilayah Kecamatan Senori, Tuban belum juga selesai.

Padahal di wilayah tersebut, termasuk jalur padat pemudik, terutama pengguna jalan dari arah barat, seperti Ngawi, Cepu, dan beberapa daerah lainnya di Jateng dan sebaliknya, yang akan lewat jalur alternatif Bojonegoro-Tuban yang akhir-akhir ini mengalami peningkatan volume cukup tinggi.

Sementara itu, Kasatlantas Polres Tuban, AKP Sugeng Setya Tisna mengatakan jalur itu masih bisa dilalui dengan system buka tutup. “Jalan masih dapat dilewati dengan menerapkan arus buka tutup. Kita himbau warga berhati-hati dan memperhatikan rambu-rambu yang ada,” pesannya.

Menurut Sugeng, pihaknya tak terlalu khawatir dengan perbaikan hingga Lebaran nanti, karena ketiga jembatan tersebut tidak berada di jalur mudik nasional sehingga yang melintas di jalur tersebut tidak terlalu padat sebagaimana jalur pantura.

Ditambahkan oleh Ksatlantas bahwa jalur nasional pantura sepanjang 70 kilometer yang membentang dari arah selatan dan berbatasan langsung dengan Kecamatan Babat, Kabupaten Lamongan ke arah Jakarta hingga ke Kecamatan Bancar yang berbatasan dengan Kabupaten Rembang, Jateng tergolong baik. “Jalur altertnatif Jalan Daendels yang memanjang 20 kilometer dari kota Tuban hingga wilayah Kecamatan Palang yang berbatasan dengan Kabupaten Lamongan kondisinya juga baik,” terangnya.

Sedangkan perbaikan di Pemalang, Jawa Tengah, saat ini juga belum rampung. Perbaikan dan pelebaran jalur lingkar utara Pemalang, Jawa Tengah sepanjang

Proyek belum selesai di jalur mudik alternatif

900 meter ini terus dikebut. Pembangunan sebuah jembatan di jalur ini juga masih dalam proses pembuatan tanggul dan pondasi. Molornya perbaikan jalur ini dikhawatirkan akan menjadi titik kemacetan di jalur utama Pantura Pemalang saat arus mudik lebaran nanti. Jalur lingkar pemalang ini merupakan jalur vital dan padat saat arus mudik maupun arus balik lebaran.

Jalan di Pantura yang masih rusak adalah ruas jalur alternatif Tegal, Pemalang yang melewati rute dari Larangan, Kramat, Balamoa, Kedung Banteng, Warurejo, tembus ke perbatasan Pemalang. Ruas jalur sepanjang kurang lebih 30 kilometer ini dipenuhi lubang dan bergelombang antara lain di Desa Karangmalang, Sigentong dan Warurejo.

Hal sama juga terjadi di ruas jalan di Pantura, Karawang, Jawa Barat yang masih banyak mengalami kerusakan. Perbaikan yang saat ini sedang dilakukan di ruas jalan utama Klari Karawang, Jawa Barat.

Rute jalur mudik khusus kendaraan roda dua, akan diubah pada musim mudik Lebaran tahun ini. Pada musim mudik tahun-tahun sebelumnya, rute jalur mudik sepeda motor berawal dari wilayah Johar sampai Cikalong menuju jalur Pantura.

54 Titik Rawan Kecelakaan di Jatim

Kepala Dinas Perhubungan dan Lalu Lintas Angkutan Jalan (Dishub dan LLAJ) Jatim, Wahid Wahyudi, mengatakan ada 54 titik rawan kecelakaan yang tersebar di ruas jalur utama di Jawa Timur selama arus mudik Lebaran 2012. Untuk mengantisipasi adanya kecelakaan di puluhan titik rawan kecelakaan di jalur utama Jatim pihaknya sudah siapkan petugas dan peralatan berat.

“Untuk titik rawan kecelakaan, kita tempatkan satu posko yang dilengkapi mobil derek serta aneka rambu-rambu lalu lintas,” kata Wahid.

Untuk jalur Surabaya-Mojokerto-Madiun-Ngawi-Mantingan yang rawan kecelakaan terdapat pada daerah Waru, Trosobo, By Pass Krian, Balungbendo, By Pass Mojokerto, Perak, Gedungrejo Nganjuk, Sukomoro, Wilangan, Caruban, Madiun Km 18.000-19.000 dan Ngawi di KM 185.000-186.000.

Jalur Surabaya-Lamongan-Tuban-Bulu, daerah yang teridentifikasi rawan kecelakaan di antaranya di daerah Margomulyo Surabaya, Duduk Sampean, Ambeng-ambeng, Sukodadi, Pucung, Widang, Pakah, Jenu, Tambak Boyo, dan Bancar.

Wahid menambahkan, pihaknya juga akan berkoordinasi dengan Dinas PU di kota/kabupaten yang ada di sekitar wilayah rawan kecelakaan. “Selain berkoordinasi kita juga bekerjasama untuk melakukan pemasangan rambu di daerah rawan kecelakaan,” imbuhnya.

Namun, Menteri Pekerjaan Umum (PU) Djoko Kirmanto sebagaimana dikutip Kantor Berita Antara mengungkapkan, persiapan perbaikan jalan di jalur-jalur mudik sudah rampung dan kondisi jalan sudah mantap.”Perbaikan sudah habis, tidak ada lagi kegiatan perbaikan jalan di jalur-jalur mudik,” kata Djoko,  Sabtu (11/8/2012).

Dikatakannya bahwa 90% kondisi jalan dalam kondisi yang mantab. “Mantap di sini artinya kondisi jalan baik dan sedang. Sejak H-10 menjelang Lebaran seluruh alat kendaraan perbaikan jalan sudah ditarik semua. Sudah tidak ada lagi kegiatan perbaikan,” katanya. Wah, pak menteri tampaknya hanya menerima laporan asal bapak senang (ABS) saja nih… (tim sergap ketupat)