Ketika Panglima TNI Mengunjungi Palangkaraya

panglima tni

Panglima TNI mengajak bawahannya bernyanyi bersama sebelum pengarahan. Panglima TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo (kanan)

Palangkaraya (Sergap) – Hari Senin (25/01/2016) yang lalu, Panglima TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo didampingi Aspam Kasad Mayjen TNI Ibnu Darmawan,  Aster Kasad Mayjen TNI Kustanto Widiatmoko, Aster Panglima TNI Mayjen TNI Wiyarto, Kolonel PMB Age (Kor spri), Letkol Inf Nugroho dan Sepri Panglima TNI  Mayor Arh Yogi, melakukan kunjungan ke Korem 102/Pjg dalam rangka melakukan pembinaan kepada seluruh prajurit TNI di jajaran Korem 102/Pjg yang dilaksanakan di Aula Korem.

Hadir pada acara tersebut adalah Danrem 102/Pjg Kolonel Arh Purwo Sudaryanto, Kasrem 102/Pjg, Para Dandim jajaran Korem102/Pjg, Danyonif 631/Atg, Para Dan/Kabalak Aju Korem 102/Pjg, Para Kasi Korem, Para Perwira, Danramil dan Babinsa serta Para Bintara dan Tamtama se-Garnizun Palangka Raya.

Pertama kali Panglima TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo menyampaikan ucapan selamat Natal dan Tahun Baru kepada para prajurit, dan terima kasih serta penghargaan kepada seluruh Prajurit TNI yang berada di Kalimantan Tengah atas pengabdiannya selama ini dalam membantu pemadamkan kebakaran hutan dan lahan yang terjadi di Kalimantan Tengah beberapa waktu lalu yang dilanjutkan dengan melaksanakan pengobatan gratis kepada warga yang terkena dampak kabut asap serta melaksanakan pemberian susu gratis kepada anak-anak dan balita serta Ibu hamil.

Tentang Pilkada Ulang di Kalteng, Panglima TNI juga menyampaikan agar prajurit TNI harus bersikap Netral. “Jangan sekali kali melanggar sumpah prajurit serta harus taat kepada norma-norma hukum dan Undang-undang yang berlaku. TNI  selama ini mendapat kepercayaan dari masyarakat, karena selama dalam Pemilihan Kepala Daerah serentak beberapa waktu yang lalu dapat berjalan dengan lancar serta dapat menjaga keamanan, ketertiban dan Netral dalam pelaksanaannya”, kata Panglima menegaskan

Ditegaskan ulang oleh Jenderal Gatot Nurmantyo, bahwa seluruh prajurit TNI harus selalu bersikap Netral serta selalu menjaga hubungan baik dengan Kepolisian dan instansi pemerintah lainnya.

Usai pengarahan dilanjutkan dengan sesi tanya jawab dengan para prajurit dan diakhiri dengan jumpa pers dengan awak media baik elektronik maupun media cetak yang ada di Kalimantan Tengah. (AB)

iklan natal 2015 PU Kalteng

iklan natal 2015 kopkkm

iklan natal 2015 disperindag

 

 

Iklan

Heli Militer Pakistan Jatuh Tewaskan Istri Dubes Indonesia

Helikopter menimpa sebuah sekolah yang sedang kosong dan terbakar (Reuter)

Helikopter menimpa sebuah sekolah yang sedang kosong dan terbakar (Reuter)

Sebuah helikopter militer Pakistan jenis MI 17 yang membawa diplomat untuk menghadiri peresmian sebuah proyek pariwisata di Gilgit Baltistan Pakistan, jatuh menimpa sebuah sekolah yang sedang kosong pada hari Jumat (07/05/2015), yang langsung menewaskan 6 orang.

Mereka yang tewas ditempat itu adalah yaitu dua pilot militer yang diidentifikasi sebagai Mayor Faisal dan Mayor Altamash, kemudian empat warga asing yang terdiri atas Dubes Norwegia Leif H Larsen, Dubes Filipina Domingo D Lucenario Jr, Habibah Mahmud istri Dubes Malaysia dan Heri Listyowati, istri Dubes Indonesia. Demikian disampaikan oleh Juru Bicara Militer Pakistan Asim Bajwa dalam sebuah posting Twitter.

Heri Listyowati, SH, LLM adalah dosen Hukum Agraria Fakultas Hukum Universitas Gajah Mada (UGM). Sedangkan sang suami Burhan Muhammad Dubes RI untuk Pakistan, dikabarkan dalam kondidi kritis, karena luka bakar 75%.

Duta Besar RI untuk Pakistan, Burhan Muhammad bersama isterinya Heri Listyowati dalam sebuah acara. (antara)

Duta Besar RI untuk Pakistan, Burhan Muhammad bersama isterinya Heri Listyowati dalam sebuah acara. (antara)

Dubes Polandia, Belanda, Afrika Selatan, Lebanon dan Rumania yang berada dalam helikopter yang sama mengalami luka-lula.

Sementara itu, Menteri Luar Negeri Azaz Chaudhry mengatakan, bahwa Perdana Menteri Pakistan Nawaz Sharif, yang berada dalam helikopter yang berbeda selamat, dan kembali ke Islamabad.

Azaz Chaudhry juga mengatakan informasi awal mengindikasikan penyebab kecelakaan adalah kesalahan teknis. “Rupanya mesinnya gagal. Itu bukan terorisme,” kata Menteri Luar Negeri menambahkan.

Namun militan Taliban mengklaim menembak jatuh helikopter ini dengan rudal. Dalam pernyataannya, Taliban menyebut target sebenarnya adalah PM Pakistan Nawaz Sharif. “Nawaz Sharif dan sekutu-sekutunya adalah target utama kami,” kata juru bicara Taliban Muhammad Khurasani dalam sebuah pernyataan email.

Tetapi saksi di lapangan, dan helikopter lainnya di perjalanan, dilaporkan tidak ada tanda-tanda yang menunjukkan terjadinya penembakan.

Gilgit-Baltistan berjarak sekitar 250 km di utara Islamabad, bukanlah daerah kubu Militan Taliban yang sering mengklaim bertanggung jawab atas insiden yang tak ada hubungan dengannya.

Editing : Tkr. Sumber : Reuter

Kapal Rudal Cepat Trimaran Terbaru Akan Lebih Canggih

Ilustrasi Kapal Rudal Cepat TNI AL sedang beraksi dalam sebuah operasi

Ilustrasi Kapal Rudal Cepat TNI AL sedang beraksi dalam sebuah operasi

Banyuwangi (Sergap) – Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana Marsetio memastikan kapal perang jenis trimaran (berlunas tiga) yang dipesan TNI AL dari PT. Lundin Industry Invest akan lebih canggih dari kapal KRI Klewang yang terbakar pada 28 September 2012. Kapal Republik Indonesia (KRI) Klewang dengan nomor lambung 625, adalah tipe Kapal Rudal Cepat (KRC) yang juga berjenis trimaran tersebut, terbakar saat bersandar di Lanal TNI AL Banyuwangi.

Berbicara kepada wartawan di Banyuwangi saat mengunjungi PT Lundin Industri Invest, Jumat (24/10/2014) Laksamana Marsetio mengatakan, kapal trimaran ini menggunakan beberapa spek baru sehingga lebih canggih dari pendahulunya.

Tanpa merinci detail kecanggihan dan keunggulan terbaru tersebut, Laksamana Marsetio memastikan kapal trimaran, selain juga mengusung teknologi siluman (tak terdeteksi radar), juga dilengkapi  beberapa teknologi tingkat tinggi dan persenjataan canggih lainnya.

“Desainnya juga akan ada perubahan struktur. Yang lama kan desain tahun 2011. Ini juga menggunakan material baru yang lebih canggih, lebih tahan api dan lebih siluman,” kata KSAL menambahkan.

Dalam pembuatan kapal ini, selain PT Lundin Industri Invest dan perusahaan Swedia yakni Saab, TNI juga meminta bantuan PT PAL dan PT Pindad dalam proses desain dan beberapa hal lainnya.

Seperti rencana awal, TNI AL akan memesan empat buah kapal. Belum ada kepastian kapan kapal jenis tiga lambung ini selesai. Namun, satu kapal sudah dalam proses pembuatan.

“Kita akan buat empat. Dan kapal pertama  sudah dibangun dengan desain baru yang lebih bagus dan canggih. Ini Indonesia yang pertama di Asia, bahkan Amerika lihat ini desai baru,” lanjutnya.

Lebih lanjut, Laksamana Marsetio menjelaskan, Indonesia harus mampu membuat produk unggulan dalam hal ini, produk pertahanan. Selain untuk kebutuhan dalam negeri, produk tersebut harus memiliki keunggulan agar bisa dijual ke luar negeri.

Sementara itu pihak PT Lundin enggan memberikan komentar apapun terkait kapal pesanan TNI AL ini. Kasus kebakaran KRI Klewang pada September 2012 lalu membuat perusahaan ini tidak mau memberikan komentar apapun.

Berdasarkan data KRI Klewang yang pernah diliris oleh PT Lundin, spesifikasi KRI Klewang adalah sebagai berikut : Panjang keseluruhan (length overall) 63 meter. Panjang kapal di permukaan air (lenght on waterline) 61 meter. Panjang total 63 meter, water draft 1,2 meter. Beam overall 16 meter. Bobot 219 ton. Berat bobot mati: 53,1 GT. Kecepatan maksimum 35 knot. Jangkauan (range) 2000 nm (mill laut). Mesin utama 4x MAN 1800 marine diesel engine nominal 1.800 PK [3]+ 4x waterjet MJP550. Memiliki tiga dek, mempu mengangkut pasukan hingga 29 orang, termasuk tim pasukan khusus. (af)

 

 

Tanam Padi TNI Bersama Rakyat Untuk Mendukung Ketahanan Pangan Nasional

Peragaan Mesin penanam padi (rice transplantor)

Peragaan mesin penanam padi (rice transplantor)

Grobogan (Sergap) – Masih dalam rangka melanjutkan program TNI Angkatan Darat (AD) Mendukung Ketahanan Pangan (TMKP) 2014, TNI AD bersama Dinas Pertanian Kabupaten Grobogan, Provinsi Jawa Tengah,  mengadakan acara gerakan Tanam Padi Bersama Rakyat dan TNI, di Desa Kluan, Kecamatan Penawangan, Kabupaten Grobogan, Kamis (16/10/2014).

Acara dihadiri oleh Kepala Badan Penyuluhan dan SDM Kementrian Winy Dian Wibawa, Wakil Asisten Teritorial (Aster) Kepala Staf Angkatan Darat (Kasad) Brigjend TNI Komaruddin Simanjuntak, Wakil Gubernur Jawa Tengah dan Wakil Bupati Grobogan Icek Baskoro, pejabat Deptan Grobogan, Kodim 0717.

Brigjend TNI Komaruddin Simanjuntak

Brigjend TNI Komaruddin Simanjuntak

Acara dilaksanakan dalam rangka program TNI untuk mendukung terwujudnya Kedaulatan Pangan dan Ketahanan Nasional. “Tugas pokok TNI AD, selain perang, memberdayakan masyarakat sehingga dengan adanya program ini diharapkan bisa lebih kuat karena masyarakat sebagai pertahanan dan kekuatan pendukung. Kedaulatan pangan akan memperkuat Ketahanan Nasional kita. Acara ini terlaksana atas kerjasama Kementrian Pertanian, TNI AD dengan tentu saja melibatkan Pemprov Jateng dan Pemkab Grobogan, dengan rakyat ada di dalamnya.”, kata Brigjend TNI Komaruddin Simanjuntak menjelaskan.

Grobogan merupakan lumbung padi nasional yang mayoritas masyarakatnya menggantungkan hidup dari sektor pertanian. Sistem bercocok tanam pola lama mulai ditinggalkan, karena dengan teknologi yang terbaru pengerjaan lahan lebih cepat dan efisien serta hemat biaya. “Tentara itu bisa bertani bersama rakyat. Orang tua saya petani”, ujar Brigjen Komaruddin menambahkan.

Pada kesempatan itu, jenderal bintang satu ini juga mengajak kepada semua Babinsa (Bintara Pembina Desa) untuk melakukan hal-hal positif.  “Babinsa yang baik dan berprestasi akan dipanggil ke Jakarta dan akan dinaikkan pangkatnya satu tingkat. Namun jika mereka ada yang nakal maka akan dikenakan sanksi”, katanya menegaskan.

Di akhir acara dilakukan peragaan mesin penaman padi (rice transplantor), disaksikan oleh anggota kelompok tani dan warga serta para undangan. Selanjutnya rombongan melanjutkan penanaman kedelai di Desa Pandanarum Kecamatan Gabus.

Sebelumnya, Kabupaten Grobogan sudah pernah mendapatkan bantuan mesin-mesin pertanian dari Dirjen Sarana dan Prasarana Pertanian Kementrian Pertanian Tahun Anggaran 2014, sejumlah 96 unit traktor seharga Rp23 juta/ unit dan 3 rice transplantor seharga Rp74 juta/ unit, 46 dikelola kelonpok tani, 50 unit dan 3 rice transplantor  yang di kelola Dinas Pertanian Grobogan. (Ans)

Sengketa Kepulauan Spratly, Potensi Konflik di Asia Tenggara

ICON Lapsus wpKetegangan di kawasan Laut China Selatan telah melibatkan dua kekuatan besar dunia, Amerika Serikat dan China. Keterlibatan AS dalam konflik ini adalah salah satu konsekuensi atas perubahan fokus AS dari Timur Tengah ke Asia.

Professor Ann Marie Murphy, peneliti senior di Weatherhead East Asia Institute, Columbia University, AS, mengatakan sebenarnya ada perbedaan kepentingan antara kedua negara dalam hal ini.

Prof. Ann Marie Murphy

Prof. Ann Marie Murphy

“Ketegangan kedua negara menyiratkan dengan jelas kepentingan yang berbeda. Kepentingan AS adalah kebebasan pelayaran, sementara China dan negara Asia Tenggara lainnya adalah sumber daya alam di Laut China Selatan,” kata Murphy dalam forum terbuka USINDO di Jakarta, Senin 24 Juni 2013.

Menurut Murphy, China selama ini mengira bahwa AS hanya mendukung para sekutunya di perairan sengketa tersebut. Padahal, AS menganggap bahwa perilaku China yang agresif di perairan itu telah mengancam kebebasan pelayaran.

Kekhawatiran China akan campur tangan AS semakin kuat saat Obama memutuskan menambah kekuatan militer baru mereka ada di Asia. AS akan menggelar 60 persen dari Angkatan Laut (AL)nya ke wilayah ini pada tahun 2020. Di pangkalan AL mereka di Darwin, Australia, AS merotasikan 500 tentara secara berkala. Total akan ada 2.500 tentara AS yang bertugas di Darwin.

Di saat seperti ini, Murphy menegaskan bahwa peran Indonesia sangat penting. Indonesia menjadi pusat fokus AS karena letaknya di tengah-tengah Asia. Selain itu, Indonesia telah teruji dalam menstabilkan Asia Tenggara dalam ranah ASEAN.

Wilayah negara dan harga diri

Wilayah negara merupakan sebuah kata yang sangat sensitif terdengar dalam wilayah hukum Internasional. Wilayah negara juga merupakan sesuatu yang paling urgen dan sangat dipertahankan oleh semua negara bahkan hingga harus mengorbankan nyawa. Dapat dikatakan bahwa di antara semua unsur negara, teritorial merupakan harga diri dari sebuah negara sehingga harus dipertahankan meskipun harus dengan berperang.

Ini pula yang kemudian banyak menimbulkan permasalahan di kalangan Internasional. Sebut saja kasus Indonesia-Malaysia mengenai sengketa Pulau Sipadan dan Ligitan yang kemudian dibawa ke Mahkamah Internasional. Hal ini membuat hubungan Indonesia dan Malaysia sebagai negara tetangga makin menegang, walaupun setelah itu Malaysia dinyatakan sebagai pemenang sengketa tersebut. Sebenarnya sudah sejak Indonesia merdeka perseteruan ini muncul, dan hanya disebabkan oleh wilayah negara. Ini merupakan salah satu bukti bahwa wilayah kedaulatan menjadi salah satu unsur yang sangat dipertahankan oleh sebuah negara.

Lain halnya dengan kasus di atas, sengketa Kepulauan Spratly ini mempunyai cerita panjang yang melatarbelakangi sengketa tersebut. Sengketa ini melibatkan banyak negara, sehingga penyelesaiannya menjadi sangat rumit dan berlarut-larut dengan berbagai latar belakang sehingga sampai saat ini belum terjadi kesepakatan di antara negara-negara yang bersengketa tersebut.

Rumitnya medan wilayah persengketaan, menambah makin sulitnya penyelesaian diantara semua pihak. Kepulauan Spratly berada diantara beberapa negara yaitu, Indonesia, Malaysia, Vietnam, Brunei Darussalam, Cina, Taiwan, dan Filipina. Kepulauan Spratly ini pada awalnya tidak berpenghuni. Hal ini disebabkan kebanyakan pulau ini berupa gugusan karang. Namun klaim terhadap Kepulauan Spratly kemudian dilancarkan karena Kepulauan Spratly ternyata mempunyai kandungan minyak yang besar dan letaknya yang strategis.

Cadangan minyak keempat terbesar di dunia

Kepulauan Spratly merupakan kepulauan yang berada di Laut Cina Selatan. Kepulauan ini berbatasan langsung dengan Negara Cina, Vietnam, Taiwan, Filipina, Malaysia, Brunei Darussalam, dan Indonesia. Letak geografisnya sebagaimana digambarkan oleh Dieter Heinzig adalah 4o LU – 11o31’ LU dan 109o BT -117o BT.

Letak Kepulauan Sprtly strategis dan kaya minyak

Letak Kepulauan Sprtly strategis dan kaya minyak

Kepulauan Spratly diperkirakan memiliki luas 244.700 km2 yang terdiri dari sekitar 350 pulau, yang kebanyakan merupakan gugusan karang. Wilayah ini merupakan batas langsung negara Cina dan negara-negara ASEAN. Kepulauan Spratly terletak di sebelah Selatan Cina dan Taiwan, sebelah tenggara Vietnam, sebelah Barat Filipina, sebelah utara Indonesia, sebelah utara Malaysia dan Brunei Darussalam.

Kepulauan ini sebenarnya bukan merupakan yang layak huni, akan tetapi pulau ini memiliki banyak potensi sumber daya alam dan geografis yang sangat strategis. Kekayaan alam yang dimiliki membuat beberapa negara bersikeras untuk mengakui dan mengklaim wilayah tersebut. Selain itu kawasan ini merupakan kawasan lintas laut yang sangat strategis sehingga mampu mendukung perekonomian negara.

Penemuan minyak dan gas bumi pertama di kepulauan ini adalah pada tahun 1968. Menurut data The Geology and Mineral Resources Ministry of the People’s Republic of China (RRC) memperkirakan bahwa kandungan minyak yang terdapat di kepulauan Spratly adalah sekitar 17,7 miliar ton (1,60 × 10 10 kg). Fakta tersebut menempatkan Kepulauan Spratly sebagai tempat tidur cadangan minyak terbesar keempat di dunia.

Letak strategis lintas laut kapal dan kekayaan sumber daya alam lainnya seperti ikan menjadi faktor yang juga sangat mempengaruhi sengketa dan konfilk di antara negara-negara bersengketa. Kapal-kapal penangkap ikan yang menangkap ikan di sana menjadi salah satu penyebab konflik akibat perbedaan pemahaman dan prinsip antara beberapa negara yang mengklaim wilayah tersebut.

Setidaknya ada 6 negara yang mengklaim wilayah kepulauan Spratly yaitu Cina, Taiwan, Vietnam, Filipina, Malaysia dan Brunei Darussalam. Kelima negara di atas, kecuali Brunei Darussalam mempunyai klaim dan pemberian nama terhadap pulau-pulau di kepulauan Spratly, sementara Brunei Darussalam hanya mengklaim wilayah laut di Kepulauan Spratly sebagai bagian dari Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) negaranya.

Kepulauan Spratly memang mempunyai cerita panjang dalam kaitannya dengan sengketa wilayah negara di atas dalam konteks ZEE dan historis serta penamaan pulau-pulau dan nama Laut Cina Selatan. Filipina menyebut Kepulauan Spratly dengan nama Kalayaan (tanah kebebasan), Vietnam menamainya Dao Truong Sa, sedangkan Cina menyebutnya Nansha Qundao. Perbedaan nama dimaksudkan agar kepulauan tersebut terisyaratkan sebagai milik negara  yang memberikan nama.

Tahun 1947 Republik Rakyat Cina (RRC) adalah Negara pertama yang mengklaim Laut Cina Selatan dengan membuat peta resmi yang tidak hanya mengklaim pulau-pulau, tetapi juga memberi tanda sebelas garis putus-putus di seputar wilayah Laut Cina Selatan. Meskipun demikian belum ada tanda-tanda pendudukan yang dilakukan oleh RRC di wilayah tersebut pada saat itu. Negara yang lebih dahulu melakukan pendudukan justru antara lain Vietnam, Filipina, Malaysia, dan Taiwan.

Vietnam mengklaim dan langsung melakukan pendudukan di Kepulauan Paracel dan Spratly setelah perang dunia kedua berakhir. Kepulauan Paracel juga merupakan salah satu kepulauan yang banyak diklaim selain Kepulauan Spratly. Hal yang sama juga dilakukan oleh Taiwan setelah perang dunia kedua.

Filipina juga melakukan klaim dengan menduduki kepulauan Spratly pada tahun 1971. Filipina beralasan bahwa kepulauan tersebut merupakan wilayah bebas. Filipina juga merunjuk perjanjian San-Fransisco 1951, yang antara lain menyatakan, Jepang telah melepas haknya terhadap Kepulauan Spartly. Hal tersebut tak lepas kaitannya dengan asas laut tertutup yang menyatakan bahwa bahwa laut dapat dikuasai oleh suatu bangsa dan negara saja pada periode tertentu saja.

Klaim selanjutnya dilakukan oleh Malaysia dan Brunei Darussalam. Malaysia melakukan klaim terhadap beberapa pulau di Kepulauan Spratly yang kemudian diberi nama Terumbu Layang. Pulau tersebut termasuk dalam wilayah landas kontinen Malaysia atas dasar pemetaan wilayah negara yang dilakukan Malaysia pada tahun 1979. Tidak mau kalah, Brunei Darussalam juga melakukan klaim namun bukan terhadap gugusan yakni hanya wilayah laut di Kepulauan Spratly. Hal itu dilakukan setelah Brunei merdeka dari jajahan Inggris pada tahun 1984.

Konflik akibat sengketa ini cukup banyak terjadi. Dimulai pada konflik bersenjata 1974 antara Cina dan Vietnam yang terjadi kedua kalinya pada 1988. Selain itu pernah terjadi tembak menembak kapal perang antara RRC dan Filipina dekat Pulau Campones tahun 1996.

Situasi yang dapat berujung konflik kembali terjadi pada tahun 2011. Pada waktu itu pasukan militer RRC gencar melakukan pendudukan dan latihan militer di sekitar pulau sengketa. Kemudian Vietnam melayangkan protes kepada Cina atas tindakan tersebut. Namun situasi makin memanas setelah kapal minyak Petro Vietnam dirusak oleh militer Cina pada Mei dan Juni 2011. Vietnam pun melakukan pembalasan dengan mengadakan kegiatan militer rutin tahunan di sekitar Laut Cina Selatan pada Juni 2011.

Sebenarnya sudah banyak upaya yang dilakukan untuk menyelesaikan di antaranya Declaration On the Conduct of Parties in the South China Sea (DOC) pada 4 November 2002. Namun upaya tersebut tidak diindahkan lagi oleh para pihak bersengketa. Ini akibat prinsip yang keras dan perbedaan pemahaman dalam upaya menyelesaikan sengketa ini. Konflik bersenjata yang dilancarkan pihak tersebut di atas merupakan salah satu wujud tidak dipatuhinya DOC tersebut.

Tak hanya Vietnam, Filipina pun kian meradang ketika kapal pengangkut minyak Filipina ditangkap oleh militer RRC di sekitar perairan Kepulauan Spratly yang berangkat dari provinsi Guangdong  Selatan menuju Singapura. Rute yang dilalui memang berdekatan dengan wilayah-wilayah yang diklaim oleh Vietnam, Filipina, Malaysia, dan Brunei. Filipina pun mengajukan protes ke Perserikatan Bangsa-Bangsa perihal masalah ini.

Dari penjelasan panjang di atas sudah dapat disimpulkan bahwa Kepulauan Spratly menjadi rebutan klaim oleh negara-negara bersengketa tersebut karena potensi ekonomi, politis dan geostrategis. Hal inilah yang kemudian menimbulkan konflik panjang yang hingga sekarang. Oleh karena itu sangat diperlukan upaya yang tepat untuk menangani kasus ini untuk meminimalisir konflik yang terjadi, terutama sesama anggota ASEAN.

Sebagaimana diuraikan sebelumnya bahwa negara-negara yang termasuk secara langsung dalam sengketa ini adalah Cina, Taiwan, Vietnam, Filipina, Malaysia dan Brunei.

RRC Klaim Wilayah Laut Cina Selatan

Klaim yang dilakukan Cina adalah atas dasar sejarah. Secara geografis jarak antara RRC dengan Kepulauan Spratly sangat jauh dan tidak terjangkau dengan menggunakan konsep landas kontinen dan ZEE. Tetapi Cina melakukan klaim terhadap gugusan pulau di Kepulauan Spratly atas dasar sejarah.

Sebelum zaman modern, konon telah ada jejak kehidupan Dinasti Cina di Kepulauan Spratly. Menurut Cina sejak 2000 tahun yang lalu Kepulauan Spratly sudah menjadi jalur perdagangan Cina. Selain itu, argumen itu didukung dengan fakta-fakta sejarah di antaranya penemuan bukti-bukti arkeologis Cina dinasti Han (206-220 SM).

Konon pada abad ke-19 klaim sudah dilakukan oleh RRC tepatnya pada tahun 1876. Namun terjadi tumpang tindih klaim saat terjadi Perang Dunia I antara Perancis, Inggris dan Jepang yang melakukan ekspansi ke Laut Cina Seltan. Klaim yang lebih kuat adalah penerbitan peta dengan memasukkan hampir seluruh wilayah Laut Cina Selatan ke dalam peta wilayah RRC.

Baru sekitar tahun 1988, RRC melakukan ekspansi ke Kepulauan Spratly. Ekspansi dilakukan dengan mengadakan instalasi militer secara besar-besaran di Kepulauan Spratly. Pada tahun ini pula tercatat konflik Cina-Vietnam di mana pada saat itu terjadi pendudukan di Kepulauan Spratly dan Paracel dengan mengusir paksa tentara Vietnam. Hal ini semakin diperkuat dengan upaya de jure yaitu dengan menerbitkan UU tentang Laut Teritorial dan Contiguous Zone yang memasukkan Kepulauan Spratly sebagai wilayahnya.

Hal tersebut terus gencar dilakukan RRC bahkan hingga sekarang. Berbagai upaya yang dicoba oleh RRC di antaranya adalah perjanjian bilateral, dan perjanjian multilateral.

Taiwan juga tak luput dalam melakukan klaim terhadap kepulauan Spratly. Klaim dibuktikan dengan pendudukan pada tahun 1956 di Kepulauan Spratly. Sebelumnya pada tahun 1947 Taiwan telah menerbitkan peta wilayah yang memasukkan Kepulauan Spratly di dalam wilayahnya. Salah satu klaimnya adalah pulau terbesar di kepulauan tersebut yaitu Pulau Aba alias Taiping Island.

Landasan pesawat terbang RRC, Pangkalan AL Vietnam, Pangkalan MIliterFilipina

Landasan pesawat terbang RRC, Pangkalan AL Vietnam, Pangkalan MIliter Filipina

Vietnam melakukan klaim juga atas dasar historis. Vietnam menyatakan sudah menduduki Kepulauan Spratly dan Paracel pada abad 17. Selain itu ada fakta sejarah yang menunjukkan bahwa wilayah tersebut masuk ke dalam wilayah distrik Binh Son Vietnam. Vietnam Selatan menegaskan haknya atas Kepulauan Spratly dalam Konferensi San Francisco. Kemudian Vietnam mulai menyatakan pemilikannya atas Kepulauan Spratly pada tahun 1975 dengan menempatkan tentaranya di 13 pulau di Kepulauan tersebut.

Konflik-konflik yang terjadi yang melibatkan Vietnam sebagaimana sempat dijelaskan sebelumnya telah berlangsung beberapa kali. Konflik disebabkan bersikeras antara para pihak, terutama Vietnam dan RRC. Hingga sekarang Vietnam terus memperkuat militer di wilayah Kepulauan Spratly.

Filipina mulai menduduki Kepulauan Spratly diawali pada tahun 1970. Prinsip utama yang digunakan dalam klaim Filipina adalah hukum Res Nullius. Filipina berpendapat klaim mereka Res Nullius karena tidak ada kedaulatan efektif atas pulau-pulau sampai tahun 1930, sejak Perancis dan kemudian Jepang mengambil alih pulau. Ketika Jepang meninggalkan kedaulatan mereka atas pulau-pulau sesuai dengan Perjanjian San Francisco , ada pelepasan hak atas pulau-pulau tanpa penerima khusus. Klaim juga dilakukan karena prinsip ZEE yang dianggap Filipina bahwa Kepulauan Spratly termasuk di dalamnya.

Malaysia melakukan klaim terhadap Kepulauan Spratly atas dasar Peta Batas Landas Kontinen. Memang secara jelas bahwa sebagian wilayah Kepulauan Spratly masuk ke dalam wilayah landas kontinen Malaysia. Selain itu Malaysia pun melakukan upaya-upaya lain seperti pendudukan, klaim serta penamaan terhadap gugusan pulau di Kepulauan Spratly.

Pendudukan yang dilakukan Malaysia oleh pasukan militernya dimulai pada tahun 1977. Pada tanggal 4 September 1983 Malaysia mengirim sekitar 20 Pasukan Komando ke Terumbu Layang, dan pada tahun yang sama Malaysia melakukan survey dan kembali menyatakan bahwa kepulauan tersebut berada di perairan Malaysia. Hingga saat ini penguatan basis militer di pulau-pulau tersebut semakin gencar dilakukan Malaysia, mengingat kencangnya upaya klaim dari negara lain terutama RRC.

Klaim yang dilakukan Brunei Darussalam bukan terhadap gugusan pulau tetapi hanya pada wilayah laut Kepulauan Spratly. Brunei merupakan satu-satunya negara yang menahan diri untuk klaim dan  pendudukan militer di wilayah gugusan Kepulauan Spratly. Brunei melakukan klaim atas dasar konsep ZEE di mana sebagian wilayah dari Kepulauan Spratly masuk dalam ZEE Brunei Darussalam.

Beberapa usaha untuk menyelesaikan sengketa antar negara ini sudah dilakukan, di antaranya adalah pada tahun 1991, RRC melakukan perundingan bilateral dengan Taiwan mengenai eksplorasi minyak bersama yang berlangsung di Singapura.

Pada tahun 1992, Cina mengadakan pertemuan bilateral dengan Vietnam dan menghasilkan kesepakatan pembentukan kelompok khusus dalam menangani sengketa perbatasan teritorial.

Pada bulan Juni 1993, Malaysia dan Filipina melakukan hal yang sama dengan menandatangani perjanjian kerjasama eksplorasi minyak dan gas bumi selama 40 tahun di wilayah yang disengketakan.

RRC dan Filipina juga melakukan pertemuan untuk bersama-sama mengeksplorasi dan mengembangkan wilayah Spratly. Dan Pemerintah Malaysia dan Brunei Darussalam juga sudah bertemu untuk membicarakan hak pengelolaan ladang minyak di sekitar Sabah.

Sedangkan beberapa perjanjian multilateral yang pernah dilakukan dalam upaya penyelesaian sengketa Kepulauan Spratly, antara lain Deklarasi Kuala Lumpur 1971, yang membahas tentang kawasan damai, bebas, dan netral (Zone of Peace, Freedom and Neutrality) atau ZOPFAN, Traktat Persahabatan dan Kerjasama di Asia Tenggara, yang dihasilkan dan disetujui pada KTT ASEAN I pada tahun 1976, Pembentukan ASEAN Regional Forum (ARF), yang dibentuk pada tahun 1994. Pertemuan ARF pertama kali dilangsungkan di Bangkok, KTT ASEAN V tahun 1995, yang menghasilkan traktat mengenai kawasan bebas senjata nuklir di Asia Tenggara (Treaty on South East Asia Zone-Nuclear Free Zone) dan Technical Working Groups, Groups of Experts dan Study Groups, yang dipelopori oleh Indonesia.

Dialog ini melibatkan aktor-aktor non-negara seperti ahli-ahli kelautan dan para akademisi. Dalam pembentukannya, tim yang tergabung mencari jalan terbaik bagi semua pihak yang bersengketa dengan menjalankan proyek kerjasama dalam hal monitoring ekosistem, keamanan navigasi, pelayaran dan komunikasi di Laut Cina Selatan. Dalam dialog ini kemudian disepakati proyek kerjasama dalam bidang penelitian keragaman hayati.

Dibawanya permasalahan ini oleh Indonesia ke ASEAN Post-Ministerial Conference, yang berhasil mendudukkan 22 negara se-Asia Pasifik.

Tahun 2002, ASEAN dan Cina menandatangani Declaration on the Conduct of Parties in South China Sea. Pada bulan Maret 2005, Cina-Vietnam-Filipina menandatangani MoU kerjasama dalam bidang eksplorasi energi dan sepakat untuk menghentikan klaim atas kepemilikan Kepulauan Spratly.

Pada tahun 2006 China-ASEAN Joint Working Group melakukan pertemuan dan menghasilkan kesepakatan bahwa kedua belah pihak (RRC dan ASEAN) berkomitmen menjaga perdamaian dan stabilitas di kawasan Laut Cina Selatan.

Upaya ini memang cukup efektif dalam penyelesaian sengketa jika dilihat dari situasi setelah perjanjian. Selain itu beberapa perjanjian multilateral juga berupa mediasi yang dipelopori oleh mediator sehingga perjanjian dapat berjalan lebih baik. Namun tidak sepenuhnya berjalan dengan baik lagi-lagi karena tidak dicapainya peta kepemilikan pulau, dan banyaknya pihak yang melanggar sendiri perjanjian tersebut, seperti terjadinya perusakan kapal oleh pihak-pihak tertentu.

Salah satu yang belum dilakukan dalam penjanjian multilateral itu adalah kemungkinan untuk melakukan pengelolaan minyak dan gas bumi secara bersama. Padahal perjanjian ini dapat menjadi usaha alternatif untuk meredam konflik di Kepulauan Spratly. Dalam hukum internasional, hal ini memang dimungkinkan untuk dilakukan. Perjanjian semacam ini dapat dilihat misalnya perjanjian Indonesia dengan Australia dalam pengelolaan dan pembagian di Blok Cepu. Upaya ini dapat menjadi solusi karena jika dilihat latar belakang permasalahan ini adalah karena potensi minyak dan gas bumi yang berlimpah.

Kapal Induk dan Rudal Antar Benua milik RRC

Kapal Induk dan Rudal Antar Benua milik RRC

Upaya penyelesaian sengketa sudah lama dilakukan, namun sengketa masih saja berlanjut hingga sekarang. Akibatnya banyak terjadi konflik antara negara bersengketa yang sebenarnya merupakan negara bertetangga, bahkan beberapa di antaranya konflik bersenjata.

Dalam perkembangan terakhir, Amerika Serikat di bawah Presiden Barack Obama tidak malu-malu lagi menampakkan minatnya terhadap wilayah Laut Cina Selatan dengan akan mengerahkan 60% kekuatan militernya di Asia. Dan Filipina sebagaimana banyak diberitakan, bersedia menyediakan beberapa pelabuhannya untuk pangkalan militer Amerika. Hal ini membuat RRC khawatir dan mulai membangun kekuatan militernya dengan antara lain membangun kapal induk dan mempercepat pembangunan rudal jarak jauhnya.

Kepulauan Sprtley di Laut Cina Selatan, berpotensi untuk menjadi tempat pertama meletusnya konflik bersenjata di wilayah Asia Tenggara. Penyebabnya adalah sengketa wilayah antar Negara yang sudah puluhan tahun belum terselesaikan dan camput tangannya negara-negara adidaya yang sarat dengan kepentingan ekonomi globalnya. (Tkr-dari berbagai sumber)

Eli Cohen, Agen Mossad yang Nyaris Jadi Presiden Suriah

LIPSUS 77 Eli Cohen cvr

Eli Cohen

Eli Cohen

ELI COHEN yang mempunyai nama lengkap Eliyahu ben Shaul Cohen dikenal sebagai pahlawan, agen mata-mata Israel paling terkenal. Ia lahir di wilayah pemukiman Yahudi, di kota pelabuhan  Alexandria pada 16 Desember 1924. Ayahnya, Shaul Cohen, berimigrasi dari Aleppo, Suriah ke Mesir pada tahun 1914.

Eli sangat pandai dalam pendidikan sekolahnya terutama pada bidang matematika dan bahasa, dua ilmu penting dalam spionase. Ketika Mesir mulai terlibat dalam Perang Dunia II, ia sempat mendaftarkan diri ke Angkatan Bersenjata Mesir, namun ditolak dengan alasan loyalitas yang diragukan, sebagaimana bangsa Yahudi lain di berbagai negara.

Ketika di Mesir ia sudah dicurigai, karena melakukan kegiatan mata-mata. Bahkan pada tahun 1952, ia pernah terlibat aktivitas mendukung Zionisme dan ditangkap oleh aparat keamanan Mesir. Ketika di Mesir inilah ia mengerjakan tugas-tugas yang membuat hubungan Mesir dengan dunia Barat memburuk. Beberapa contoh aksi yang ia lakukan adalah membantu operasi intelijen Mossad melakukan sabotase di kedutaan besar Inggris dan Amerika. Pada tahun 1956, Mesir melakukan kampanye anti Yahudi dan memaksa Cohen meninggalkan negeri piramida tersebut. Cohen berhasil keluar menuju Naples lalu masuk ke Israel.

Israel sudah sejak lama ingin menguasai Dataran Tinggi Golan yang menjadi perbatasan dan benteng alam, Suriah – Israel. Selain strategis secara pertahanan, Dataran Tinggi Golan menyediakan sekitar 30% sumber air untuk Israel, bahkan tiga anak sungai utama Sungai Yordan; Dan, Baniyas, dan Hatzbani semua berasal dari sana. Nilai vital Dataran Tinggi Golan ini yang menyebabkan Israel berkeinginan untuk menguasainya.

Dataran tinggi Golan yang hijau dan subur. Wilayah Suriah yang sekarang dikuasai Israel

Pada waktu itu, Suriah yang dibantu oleh Soviet, sedang mencoba untuk mengalihkan sumber sungai Yordan dengan tujuan agar Israel tidak mendapatkan sumber air untuk negaranya. Hal ini menyebabkan perencana Departemen Pertahanan Israel membutuhkan data yang akurat dari seorang intelijen mengenai proyek pengalihan air, rencana rekayasa, diagram, peta dan rincian lainnya meliputi rencana modernisasi militer Suriah. Hingga akhirnya pada 1960 mereka memutuskan untuk merekruit Eli Cohen sebagai agen dan menerjunkannya dalam operasi spionase ke Suriah setahun kemudian.

Eli sudah cukup dikenal karena terlibat dalam Hacherut, sebuah organisasi gerakan pemuda Yahudi Mesir. Kemudian, Eli juga terlibat dalam Operasi Goshen, sebuah sandi operasi penyelundupan (pemulangan) ribuan orang Yahudi ke Palestina selama 1945-1948.

Setelah diusir dari Mesir dan dipulangkan ke Israel akibat beberapa operasi militer & intelijen Israel terhadap Mesir, ia dipekerjakan di unit kontra-spionase di Departemen Pertahanan Israel. Hingga pada akhirnya ia meminta terjun ke lapangan karena tidak tahan bekerja di belakang meja, dan kemudian direkrut oleh Mossad, dinas Intelijen Israel yang terkenal itu.

Agen Mossad

Logo Mossad

Logo Mossad

Setelahitu Eli Cohen dikenal dengan identitas baru bernama samaran Kamel Amin Tsa’abet, lahir di Beirut, Lebanon dari orangtua asli Suriah. Dalam perjalanan hidup fiktif dan sesuai misi intelijen pertamanya, dikatakan Kamel Amin Tsa’abet bermigrasi ke Argentina dan berdagang tekstil.

Dalam misi pertamanya di Argentina, ia berkenalan dengan Kolonel Amin Al-Hafaz (Amin Al-Hafez), atase militer Kedutaan Besar Suriah, yang kelak terpilih menjadi Presiden Suriah melalui kudeta tak berdarah pada tahun 1963. Ini pula yang menyebabkan Eli Cohen bisa masuk ke lingkaran kekuasaan Suriah.

Di Argentina ia bergaul dan menjadi akrab dengan komunitas Suriah di negara Amerika Latin tersebut. Bahkan tak satu pun orang bisa mengenalinya, bahwa Kamel Amin Tsa’bet sesungguhnya adalah Eli Cohen, seorang Yahudi yang sedang bekerja untuk dinas intelijen Israel, Mossad.

Kolonel Amin Al-Hafaz (1965)

Kolonel Amin Al-Hafaz (1965)

Hanya dalam waktu yang sangat singkat, ia sudah sangat akrab dengan komunitas Suriah di Argentina. Tak hanya itu, Eli Cohen bahkan sudah mulai berpengaruh dalam komunitas tersebut. Maklum, semua ini memang telah dirancang, dan Mossad tentu saja tidak ingin semua investasi yang telah ditanam dalam diri Cohen sia-sia.

Ada pepatah, “Seorang agen yang baik sama nilainya dengan satu divisi tentara”. Eli Cohen dianggap berjasa bagi Mossad dan Israel terutama kontribusinya dalam Perang Enam Hari (1967). Ia mendapatkan data rinti tentang posisi meriam, jumlah pasukan, tank, artileri udara Suriah sepanjang Dataran Tinggi Golan, data bunker, membangun hubungan baik di lingkungan bisnis, militer, dan partai Ba’ath.

Pada tahun 1961, Suriah dilanda kemelut politik yang melahirkan kudeta militer. Cohen pergi dari Argentina dan kembali Israel, kemudian masuk ke Damaskus dan menjadi salah satu anggota partai Baath dan menjadi seorang pejuang Arab yang militan tanpa seorang pun mengetahui bahwa ia sebenarnya adalah seorang Yahudi, agen Mossad. Ia mendapatkan rekomendasi dari pejabat di kedutaan Suriah di Argentina untuk pulang dan memberi manfaat kepada Suriah.

Di dalam partai Baath ia menjadi orang yang sangat berpengaruh. Ia bahkan terlibat dalam Muktamar Nasional keenam yang dilakukan oleh partai Baath pada 5 Oktober 1963 yang dihadiri tokoh pendiri partai Baath sendiri. Michael Afflaq, sang pendiri partai bahkan berjanji menemui Eliahu Cohen.

Maurice Cohen

Maurice Cohen

Keterlibatannya dalam elit politik di Suriah, membuat Cohen mengumpulkan informasi yang sangat kaya. Sepanjang tahun 1962 sampai 1965, ia menyuplai Israel dengan berbagai informasi, mulai dari foto, sketsa pertahanan, nama-nama dan strategi militer Suriah. Dan data-data yang dikumpulkan oleh Cohen ini sangat berguna bagi Israel pada peristiwa Perang Enam Hari antara negara-negara Arab dan Israel.

Eli Cohen hampir terpilih sebagai Deputi Menteri Pertahanan Suriah dalam kabinet Presiden Amin Al-Hafez yang sebenarnya dia dipersiapkan untuk jadi Menteri Pertahanan, karena itupula Eli Cohen selalu mendapatkan informasi teraktual dan rinci tentang militer Suriah.

Menurut keterangan Maurice Cohen, saudara sekaligus temannya sesama agen Mossad, Eli hanya tinggal tiga langkah lagi menjadi Presiden Syria pada saat terbongkarnya kegiatan mata-mata yang ia lakukan.

Perannya dalam Perang 6 Hari

Karena kedekatannya dengan lingkaran penguasa Suriah saat itu, ia adalah satu-satunya warga sipil yang diperbolehkan foto di lingkungan instalasi militer Suriah. Eli menyarankan pada pejabat milliter Suriah untuk menanamkan pohon Kayu Putih (Eucalyptus) di Dataran Tinggi Golan dengan alasan kamuflase sekaligus peneduh bagi pasukan militer.

Setelah sarannya disetujui oleh militer Syria, ia segera memberikan informasi tersebut ke dinas intelijen Israel. Selama Perang Enam Hari, informasi berharga ini digunakan oleh Angkatan Udara Israel (IAF) yang dengan mudahnya menghancurkan sebagian besar bunker Syria yang terlindung dibalik pepohonan. Pepohonan Eucalyptus ini sampai sekarang masih terlihat di Dataran Tinggi Golan dan menjadi saksi bisu sejarah kekalahan Syria.

Eli Cohen digantung di Alun-alun Kota Damaskus

Eli Cohen digantung di Alun-alun Kota Damaskus

Selama di Syria, Cohen juga banyak memperoleh dan mengumpulkan informasi tentang pilot-pilot pesawat tempur Angkatan Udara Syria. Termasuk nama asli mereka, nama alias beserta keluarganya. Banyak pihak mengatakan bahwa informasi dari Cohen inilah yang digunakan oleh Mossad selama Perang Enam Hari ketika ada dua buah jet tempur Syria yang akan membom Tel Aviv. Ketika kedua jet ini sampai pada sasarannya, Mossad memperingatkan mereka melalui gelombang radio bahwa mereka mengetahui identitas para pilot tersebut, beserta keluarganya dan jika mereka tetap membom, keluarganya akan dibunuh. Para pilot begitu terkejut sekaligus ketakutan yang akhirnya menjatuhkan bom-bomnya ke laut dan kembali ke pangkalan dengan mengatakan target telah dibom.

Terbongkarnya penyamaran Cohen terjadi di bulan Januari 1965. Saat itu puncak dari keluhan operator radio dari kedutaan besar India yang terletak dekat dari apartemen Eli Cohen, mengadu pada polisi karena ada gangguan komunikasi dengan sinyal tinggi di wilayah ini.

Di saat yang bersamaan, aparat intelijen Suriah dibantu dengan para penasehat dari Soviet, curiga dengan adanya pengiriman melalui transmisi radio tanpa ijin. Mobil unit pemindai dikerahkan untuk melakukan pelacakan namun tidak berhasil karena waktu pengiriman berita yang dilakukan Eli Cohen sangat singkat. Selain itu, kecurigaan ini muncul karena beberapa kejadian yang seharusnya informasinya sangat rahasia, ternyata sudah diketahui oleh pihak Israel.

Kisah hidup Eli Cohen difilmkan tahun 1987 dengan judul ''Impossible Spy''

Kisah hidup Eli Cohen difilmkan tahun 1987 dengan judul ”Impossible Spy”

Beberapa hari sebelum penangkapannya, tanpa sepengtahuan Eli Cohen, aparat keamanan Suriah mematikan listrik untuk wilayah tersebut. Eli Cohen yang saat itu akan mengirimkan informasi ke Israel, memutuskan untuk menggunakan baterei. Ini pula yang menjadi kesalahan fatalnya sehingga sinyal radio yang seharusnya tidak ada karena pemadaman listrik menjadi terbaca jelas oleh petugas pemindai.

Setelah mengalami beberapa pertimbangan, Dinas Kontra Intelijen melakukan penyergapan dan menemukan perangkat spionase milik Eli Cohen seperti pemancar, bahan peledak mini dengan daya ledak tingkat tinggi. Berakhir sudah perjalanan “the impossible spy”. Eli Cohen dihukum gantung di Martyr’s Square, di tengah kota Damaskus tanggal 18 Mei 1965. Hingga saat ini jenazahnya belum dipulangkan ke Israel.

Permintaan dari pihak keluarga agar jenazah Cohen dikembalikan ke Israel ditolak mentah-mentah oleh pemerintah Syria (Mei 2006). Pada bulan Februari 2007, pejabat Turki mengkonfirmasikan bahwa pemerintahnya siap menjadi mediator untuk pengembalian jenazah Cohen.

Sebenarnya banyak agen intelijen Israel (Mossad) yang hebat, namun diantaranya adalah Eli Cohen yang paling fenomenal. Kisah hidupnya di filmkan dengan judul, The Impossible Spy (1987). Eli Cohen menjadi Pahlawan Nasional di Israel karena berkat infonya Israel meraih kemenangan telak dalam Perang Enam Hari tahun 1967.

Mental korup para pejabat 

Tapi bukanlah itu yang paling merusak dalam kegiatan Cohen. Kamel Amin Tsa’bet alias Eliahu Cohen telah membuat akhlak dan mental para petinggi di jajaran sipil dan militer Suriah rusak dengan suap dan korupsi, zina dan penyelewengan yang ia fasilitasi. Cohen membawa masuk peralatan komunikasi teknologi tinggi dari Israel, melalui bandara-bandara Suriah dengan cara menyuap pejabat-pejabatan imigrasi di sana. Dan dengan leluasa, peralatan tersebut ia gunakan untuk mentransfer berbagai informasi langsung ke Israel dari rumahnya.

Pengaduan kepada polisi karena ada gangguan komunikasi dengan sinyal tinggi, sebenarnya sudah lama masuk. Tapi laporan-laporan tersebut tidak pernah ditindaklanjuti, karena selain segan pada posisi Eli Cohen, polisi setempat juga telah memakan suap yang disiapkan Cohen untuk melancarkan penyamarannya.

Berita penangkapan Cohen baru muncul dan ramai menjadi perhatian media, beberapa bulan kemudian, saat sebuah radio, Sout al Arab menyiarkan berita yang menghebohkan ini kepada dunia Arab.

Kerusakan yang dihasilkan oleh operasi Cohen ini sungguh luar biasa. Bukan saja pada ranah politik dan pertahanan, keamanan dan rahasia negara, tapi lebih jauh dari itu, Cohen telah berhasil menanamkan jiwa-jiwa korup dalam tubuh birokrasi dan militer di Suriah. Dan ini adalah kerusakaan yang bersifat laten, lebih bahaya dari sekadar serangan militer.

Sit Fadilah Supari

Sit Fadilah Supari

Kondisi yang kurang lebih sama, sedang melanda Indonesia. Korupsi dan penyelewengan kekuasaan, menjadi air bah yang besar dalam pusat politik Indonesia. Dr Siti Fadilah Supari, mantan Menteri Kesehatan pada kabinet periode lalu, tahu benar apa jawaban dari pertanyaan ini. “Indonesia dihancurkan melalui sistem. Seharusnya sistem berpihak pada rakyat, tapi malah menyengsarakan dan menghancurkan pondasi negara. Semuanya sudah masuk dalam sektor kehidupan, entah itu masuk ke wilayah ekonomi, perdagangan, pendidikan, atau kesehatan. Dalam segi kesehatan saya sudah bersusah payah ternyata diubah semuanya melalui sistem neoliberalisme. Konspirasi dari sistem kenegaraan sudah terjadi lama sekali,” tandas Siti Fadilah Supari pada acara diskusi Kajian Zionis Internasional di Gedung Dakwah Muhammadiyah, Jakarta pada akhir Desember 2009.

Bagi Siti Fadilah, hasil dari neoliberalisasi adalah kehancuran bagi yang lemah dan kemenangan bagi yang kuat. Awal 2010 Indonesia masuk wilayah FTA (free trade area). “Banyak pejabat atau pembesar negara menandatangani kebijakan yang menguntungkan pihak asing, hampir 90% dari kekayaan alam sudah bukan milik kita, 90% bank yang ada bukan milik kita. Semuanya sudah dimiliki pihak asing tanpa meninggalkan kepada anak bangsa. Sistem yang berjalan merupakan gurita yang menghancurkan Indonesia,” terangnya lagi.

Abdullah Hehamahua

Abdullah Hehamahua

Sistem yang jelas-jelas salah, seringkali masih digunakan dalam pemerintahan kita. Anggota Penasihat Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Abdullah Hehamahua mengataka, merajalelanya korupsi  di Indonesia karena program kerja jangka pendek, menengah dan jangka panjang pemerintah tidak merujuk pada UUD 1945. Sistem dan program yang dibentuk tidak komprehensif dan tidak mencerminkan aspek kesejahteraan bagi rakyat.

“Sebab korupsi adalah karena program kerja jangka pendek, menengah, jangka panjang, yang disusun oleh pemerintah tidak merujuk pada UUD 1945,” ujar Abdullah di Jakarta, Selasa (31/1). Contohnya gaji PNS saat ini lebih kecil daripada tunjangannya yang berlipat ganda. Gaji pensiun PNS sangat sedikit. “Makanya sebelum pensiun PNS banyak mencari uang agar siapkan masa pensiun. Itu akar korupsi,” ujarnya, sebagaimana dirilis mediaindonesia.com

Guru Besar bidang Sosiologi, Pembangunan Sosial dan Kesejehateraan dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof Dr Susetyawan, mengatakan siapapun dapat terjebak pada praktik korupsi di Indonesia. Tidak saja kalangan alumnus dari perguruan tinggi. Hal itu disebabkan karena sistem sosial dan budaya di Indonesia saat ini memberi peluang bagi siapapun untuk melakukan korupsi.

Dia mencontohkan sistem yang berlaku pada pembahasan hingga penetapan APBN dan APBN-P. Setelah APBN-P ditetapkan, pencairan anggaran yang mencapai ratusan triliunan rupiah tersebut biasanya dilakukan pada bulan September dan Oktober. Sementara Desember sudah harus dilaporkan pertanggungjawaban penggunaan anggaran tersebut.

“Bagaimana bisa duit triliunan itu bisa habis dalam 1-2 bulan. Sementara ada tuntutan penilaian kinerja efektif salah satunya dari sisi penyerapan anggaran. Situasi sistem inilah yang memberi peluang korupsi. Sehingga siapapun yang masuk dalam sistem ini, meskipun dia merupakan orang yang sangat baik, pasti akan terjebak melakukan korupsi. Jadi korupsi ini soal sistem,” jelas Susetyawan, sebagaimana ditulis  detik.com, Selasa (8/5/2012).

Masih banyak lagi contoh sistem bobrok namun dipertahankan, misalnya  betapa hukum tumpang-tindih, hanya membela kepentingan orang-orang kaya, tata kelola kekayaan alam yang didominasi asing, pendidikan yang tidak berdasarkan karakter bangsa yang berPancasila, pasti banyak yang setuju bahwa itu tidak benar dan akan merongrong kehidupan berbangsa dan bernegara. Namun, mengapa masih tetap terjadi?

Joserizal Jurnalis

Joserizal Jurnalis

Joserizal Jurnalis, Presidium Mer-C, berpendapat bahwa maraknya korupsi di negara kita ini adalah sebuah konspirasi internasional yang distilahkannya sebagai  invisible hand (tangan misterius). “Invisible hand merupakan kekuatan yang tidak terlihat mencoba untuk mengatur negara di bidang ekonomi, politik intelijen atau yang lainnya. Jika suatu negara kuat dalam sisi militer, tangan misterius ini masuk ke dalam isu HAM. Jika suatu negara kuat dalam dalam sisi ekonomi, dia masuk dalam isu kapitalis (pasar bebas). Dan jika dalam suatu negara maju dalam sisi teknologi, maka mereka masuk dalam isu dampak senjata nuklir”.

Joserizal percaya, salah satu program kerja the invisible hand di Indonesia adalah melakukan rekayasa degradasi moral. “Beberapa contohnya adalah memasukan narkoba ke sendi-sendi kehidupan,  mental korupsi, perzinahan, penyebaran penyakit. Sehingga mengakibatkan pejabat tidak memiliki intergritas terhadap apapun,” tuturnya.

Semakin marak isu korupsi dipermasalahkan dewasa ini. Tidak hanya di wilayah dalam negeri saja, tapi sekarang korupsi telah meluas hingga melewati batasbatas negara menjadikannya sebagai kejahatan transnasional.

Masalah korupsi sudah merupakan ancaman yang bersifat serius terhadap stabilitas dan keamanan masyarakat nasional dan internasional dan telah melemahkan institusi dan nilai-nilai demokrasi serta nilai-nilai keadilan serta membahayakan pembangunan berkelanjutan dan penegakan hukum. Pernyataan ini sudah merupakan prinsip umum hukum internasional dalam pencegahan dan pemberantasan korupsi.

Apakah itu semua adalah aksi spionase internasional untuk melemahkan bangsa kita, dengan memanfaatkan mental korup pejabat-pejabat tertentu? Eli Cohen, si Agen Mossad itu, 45 tahun yang lalu telah membuktikan bahwa ia bisa memanfaatkan strateginya itu di Suriah. (Tkr, dari berbagai sumber)

Ketika Surabaya Diultimatum, Dua Jendral Inggris Tewas

Jepang menyerah tanpa syarat kepada sekutu setelah dijatuhkannya bom atom oleh Amerika Serikat) di Hiroshima dan Nagasaki. Peristiwa itu terjadi pada Agustus 1945. Mengisi kekosongan tersebut, Indonesia kemudian memproklamirkan Kemerdekaannya pada 17 Agustus 1945. Sebelum dilucuti oleh sekutu, rakyat dan para pejuang Indonesia berupaya melucuti senjata para tentara Jepang. Maka timbullah pertempuran-pertempuran yang memakan korban di banyak daerah. Ketika gerakan untuk melucuti pasukan Jepang sedang berkobar, tanggal 15 September 1945, tentara Inggris mendarat di Jakarta, kemudian mendarat di Surabaya pada 25 Oktober.

Pertempuran 28–30 Oktober 1945

Alkisah suatu siang sekitar jam 11.00 WIB  pada 25 Oktober 1945,mendaratlah di Pelabuhan Tanjung Perak,Surabaya sekitar 6000 pasukan dari 49 Indian Infantery Brigade ”The Fighting Cock” (selanjutnya disebut Brigade 49) pimpinan Brigadir Jenderal AWS.Mallaby. Maksud kedatangan para serdadu yang memiliki pengalaman tempur menakjubkan saat melawan Tentara Jepang di hutan-hutan Burma itu, tak lain adalah untuk melucuti senjata balatentara Jepang di Indonesia

Pada tanggal 27 Oktober 1945 sekitar pukul 11.00, satu pesawat terbang Dakota yang datang dari Jakarta, menyebarkan pamflet di atas kota Surabaya. Isi pamflet atas instruksi langsung dari Mayor Jenderal Hawthorn, Panglima Divisi 23 yang disebarkan di seluruh Jawa, memerintahkan kepada seluruh penduduk untuk dalam waktu 2 x 24 jam menyerahkan semua senjata yang mereka miliki kepada Perwakilan Sekutu di Surabaya, yang praktis ketika itu hanya diwakili tentara Inggris. Dalam seruan tersebut tercantum antara lain :

“Supaya semua penduduk kota Surabaya dan Jawa Timur menyerahkan kembali semua senjata dan peralatan Jepang kepada tentara Inggris….Barangsiapa yang memiliki senjata dan menolak untuk menyerahkannya kepada tentara Sekutu, akan ditembak di tempat (persons beeing arms and refusing to deliver them to the Allied Forces are liable to be shot).”

Sukarelawan, Tentara Keamanan Rakyat (TKR) dan berbagai Laskar bersatu padu melawan tentara Inggris

Dikabarkan, bahwa Mallaby sendiri terkejut dengan isi pamflet, karena jelas bertentangan dengan kesepakatan antara pihak Inggris dan Indonesia tanggal 26 Oktober, sehari sebelum pamflet tersebut disebarkan. Namun pimpinan Brigade Inggris mengatakan, mereka terpaksa melakukan perintah atasan. Mereka mulai menahan semua kendaraan dan menyita senjata dari pihak Indonesia.

Maka berkobarlah api kemarahan di pihak Indonesia, karena mereka menganggap pihak Inggris telah melanggar kesepakatan yang ditandatangani tang-gal 26 Oktober. Di samping itu langkah-langkah Inggris yang akan mendudukkan Belanda kembali sebagai penguasa di Indonesia kian nyata.

Gubernur Suryo segera mengirim kawat yang disusul dengan laporan panjang lebar ke Pemerintah Pusat di Jakarta. Jawaban baru diterima sekitar pukul 15.00 dan berbunyi:

“Diminta kebijaksanaan Pemerintah Jawa Timur setempat agar pihak ketentaraan dan para pemuda-pemudanya tidak melakukan perlawanan terhadap tentara Sekutu…”

Wilayah Ujung Tanjungperak di bom tentara Inggris

Gubernur Suryo tidak berhasil menemui Mayor Jenderal drg. Mustopo, lalu menyerahkan kawat tersebut kepada Residen Sudirman. Tepat pukul 17.00, Residen Sudirman tiba di markas Divisi TKR Surabaya di Jalan Embong Sawo dan menyerahkan kawat tersebut kepada Komandan Divisi, Mayor Jenderal Yonosewoyo.

Tak lama kemudian, datang Kolonel Pugh, yang menyampaikan pendirian Brigadier Jenderal Mallaby mengenai seruan pamflet terrsebut, bahwa Mallaby akan melaksanakan tugas, sesuai perintah dari Jakarta. Pugh kembali ke markasnya, tanpa mendapat jawaban dari pimpinan Divisi TKR.

Setelah kepergian Kolonel Pugh, dilakukanlah perundingan sekitar sete-ngah jam antara Residen Sudirman dan Panglima Divisi Yonosewoyo, dengan keputusan: “Komando Divisi Surabaya akan segera memberikan jawaban terhadap ultimatum tersebut secara militer.”

Dalam pertemuan kilat pimpinan Divisi TKR Surabaya, dibahas berbagai pertimbangan dan diperhitungkan beberapa kemungkinan yang akan terjadi. Apabila mereka menyerahkan senjata kepada Sekutu, berarti pihak Indonesia akan lumpuh, karena tidak mempunyai kekuatan lagi. Apabila tidak menyerahkan senjata, ancamannya akan ditembak di tempat oleh pasukan Inggris/ Sekutu.

Kubu Indonesia memperhitungkan, pihak Inggris tidak mengetahui kekuatan pasukan serta persenjataan lawannya. Sedangkan telah diketahui dengan jelas, bahwa kekuatan Inggris hanyalah satu brigade, atau sekitar 5.000 orang. Artinya, kekuatan musuh jauh di bawah kekuatan Indonesia di Surabaya dan sekitarnya, yang memiliki pasukan bersenjata kurang lebih 30.000 orang. Jenis senjata yang dimiliki mulai dari senjata ringan hingga berat, termasuk meriam dan tank peninggalan Jepang yang, sebagian terbesar masih utuh. Selain kekuatan pasukan terbatas, pa-sukan Inggris yang baru 2 hari mendarat, dipastikan tak mengerti liku-liku Kota Surabaya.

Sesuai dengan strategi Carl von Clausewitz, pakar teori militer Prusia, bahwa: ”Angriff ist die beste Verteidi-gung” (Menyerang adalah pertahanan yang terbaik), maka dengan suara bulat diputuskan : “Menyerang Inggris!”.

Perintah diberikan langsung oleh Komandan TKR Divisi Surabaya, Mayor Jenderal Yonosewoyo. Subuh baru merekah. Serangan besar-besaran pun mulai dilancarkan pada hari Minggu, 28 Oktober pukul 4.30 dengan satu tekad, tentara Inggris yang membantu Belanda, harus dihalau dari Surabaya, dan penjajah harus dipaksa angkat kaki dari bumi Indonesia. Praktis seluruh kekuatan bersenjata Indonesia yang berada di Surabaya bersatu. Juga pasukan-pasu-kan dan sukarelawan Palang Merah/ Kesehatan dari kota-kota lain di Jawa Timur antara lain dari Sidoarjo, Gresik, Jombang dan Malang berdatangan ke Surabaya untuk membantu.

Hal ini benar-benar di luar perhitungan Inggris, terutama mereka tidak mengetahui kekuatan dan persenjataan pihak Indonesia. Selama ini,

Gubernur Suryo

informasi yang mereka peroleh mengenai Indo-nesia, hanya dari pihak Belanda, sedangkan Belanda sendiri diperkirakan tidak mengetahui perkembangan yang terjadi di Surabaya –di Indonesia pada umumnya- sejak Belanda menyerah kepada Jepang tanggal 8 Maret 1942. Sebagian terbesar dari mereka diinternir (dipenjara) oleh Jepang, dan baru dibebaskan pada akhir Agustus 1945. Nampaknya, informasi yang diberikan oleh Belanda kepada Inggris sangat minim, atau salah.

Di samping BKR/TKR yang menjadi cikal bakal TNI, juga tercatat sekitar 60 pasukan dan laskar yang didirikan oleh para pemuda atau karyawan berbagai profesi, Pasukan Pelajar (TRIP), Pasukan BKR Tanjung Perak, Pasukan Kimia TKR, Pasukan Genie Tempur (Genie Don Bosco), Pasukan BKR Kereta Api, Pasukan BKR Pekerjaan Umum, Pasukan Sriwijaya, Pasukan Buruh Laut, Pasukan Sawunggaling, TKR Laut, Barisan Hizbullah, Lasykar Minyak, TKR Mojokerto, TKR Gresik, Pasukan Jarot Subiantoro, Pasukan Magenda Bondowoso, Pasukan Sadeli Bandung. Selain itu ada pula pasukan-pasukan pembantu seperti Corps Palang Merah, Corps Kesehatan, Corps PTT, Corps Pegadaian, bahkan ada juga Pasukan Narapidana Kalisosok, dan lain-lain. Puluhan kelompok pemuda yang berasal dari suku tertentu membentuk pasukan sendiri, seperti misalnya Pasukan Pemuda Sulawesi (KRIS-Kebaktian Rakyat Indonesia Sulawesi), Pasukan Pemuda Kalimantan, Pemuda Ponorogo, dan juga ada Pasukan Sriwijaya, yang sebagian terbesar terdiri dari pemuda mantan Gyugun (sebutan Heiho di Sumatera) dari Batak dan ada juga yang dari Aceh. Pasukan Sriwijaya ini telah mempunyai pengalaman bertempur melawan tentara Sekutu di Morotai, Halmahera Utara.

Bukan saja BKR/TKR yang menjadi cikal bakal Angkatan Darat, melainkan dibentuk juga pasukan Laut dan Udara. Tercatat antara lain Pasukan BKR Laut/ TKR Laut Tanjung Perak, Pasukan Angkatan Muda Penataran Angkatan Laut, Pasukan BKR/TKR Udara di Morokrem-bangan.

Selain pasukan-pasukan yang bersenjata, diperkirakan lebih dari 100.000 pemuda dari Surabaya dan sekitarnya, hanya dengan bersenjatakan Bambu Runcing dan Clurit ikut dalam pertem-puran selama tiga hari. Kebanyakan dari mereka yang belum memiliki senjata, bertekad untuk merebut senjata dari tangan tentara Inggris.

Selain para wanita yang rela berkorban sebagai anggota Palang Merah, juga tak dapat diabaikan peran serta ibu-ibu juru masak dan yang membantu di dapur umum yang didirikan untuk ke-pentingan para pejuang Republik Indonesia. Para pejuang dan sukarelawan itu bukan hanya penduduk Surabaya, melainkan berdatangan dari kota-kota lain di sekitar Surabaya, seperti Gresik, Jombang, Sidoarjo, Pasuruan, Bondowoso, Ponorogo bahkan dari Mojokerto, Malang, pulau Madura, dan Bandung.

Inggris Kibarkan Bendera Putih

Serbuan ke pos-pos pertahanan Inggris di tengah kota dilengkapi de-ngan blokade total: Aliran listrik dan air di wilayah pos pertahanan Inggris dimatikan. Truk-truk yang mengangkut logistik untuk pasukan Inggris, terutama yang akan mengantarkan makanan dan minuman bisa dicegah. Kekacauan demi kekacauan menyebabkan suplai yang dijatuhkan pesawat Inggris dari udara, ikut pula terganggu. Tidak sedikit yang meleset dari sasaran, bahkan boleh dikatakan hampir semua jatuh ke tangan pasukan Indonesia.

Tentara Inggris kewalahan di Surabaya

Dalam penyerbuan itu, korban di pihak Indonesia tidak sedikit, sebab berbagai pasukan –khususnya laskar pemuda- tanpa pendidikan militer dan pengalaman tempur, hanya bermodalkan semangat dan banyak yang hanya bersenjatakan Clurit atau Bambu Runcing, begitu bersemangat maju menggempur musuh yang notabene tentara profesional.

Dengan bermodalkan keberanian serta semangat ingin mempertahankan kemerdekaan dan tak mau dijajah lagi, para pejuang Indonesia akhirnya mampu memporak-porandakan kubu Inggris. Setelah dua hari tidak menerima kiriman makanan dan minuman, serta korban yang jatuh di pihak mereka sangat besar, pasukan Inggris akhirnya mengibarkan bendera putih, meminta untuk berunding.

Mallaby menyadari, bila pertempuran dilanjutkan, tentara Inggris akan disapu bersih, seperti tertulis dalam kesaksian Capt. R.C. Smith:

“…….. on further consideration, he (Mallaby, red.) decided that the com-pany had been in so bad a position before, that any further fighting would lead to their being wiped out.”

Walaupun ia sadari tidak ada pilihan lain, tetapi ketika persyaratan yang diajukan Indonesia antara lain Inggris harus angkat kaki dari Surabaya dan meninggalkan persenjataan yang ada di pos-pos pertahanan yang telah dikepung, Mallaby menilai tampaknya terlalu berat baginya sebagai pimpinan tentara yang baru memenangkan Perang Dunia II untuk melakukan hal itu.

Presiden Sukarno Diminta Melerai “Insiden Surabaya”

Ternyata pada hari pertama penyerbuan rakyat Indonesia terhadap pos-pos pertahanan tentara Inggris di Sura-baya, pimpinan tentara Inggris menyadari, bahwa mereka tidak akan kuat menghadapi gempuran rakyat Indone-sia di Surabaya. Mallaby, sebagaimana kesaksian Kapten R.C.

Tank tentara Inggris rusak, karena “ulah” Arek-Arek Surabaya

Smith, memperhitungkan, bahwa Brigade 49 ini akan “wiped out” (disapu bersih), sehingga pada malam hari tanggal 28 Oktober 1945, mereka segera menghubungi pimpinan tertinggi tentara Inggris di Jakarta untuk meminta bantuan. Menurut penilaian pimpinan tertinggi tentara Inggris, hanya Presiden Sukarno yang sanggup mengatasi situasi seperti ini di Surabaya.

Kolonel. A.J.F. Doulton menulis:

”The heroic resistance of the british troops could only end in the extermi-nation of the 49th Brigade, unless somebody could quell the passion of the mob. There was no such person in Surabaya and all hope rested on the influence of Sukarno.” (Perlawanan heroik tentara Inggris hanya akan berakhir dengan musnahnya Brigade 49, kecuali ada yang dapat mengendalikan nafsu rakyat banyak itu. Tidak ada tokoh seperti itu di Surabaya dan semua harapan tertumpu pada pengaruh Sukarno).

Panglima Tertinggi Tentara Sekutu untuk Asia Timur, Letnan Jenderal Sir Philip Christison meminta Presiden Sukarno untuk melerai “incident” di Surabaya. Pimpinan tentara Inggris menilai, situasi di Surabaya sangat mengkhawatirkan bagi mereka, sehingga Presiden Sukarno yang sedang tidur, didesak agar segera dibangunkan.

Dalam Autobiografi yang ditulis oleh Cindy Adams, Sukarno menuturkan:

“Tukimin yang setia berbisik-bisik. Itu ada seorang yang menamakan dirinya Pembantu Khusus (ADC – aidede-camp = perwira pembantu) dari komandan Tentara Inggris. Ia menyatakan, bahwa ada persoalan yang amat penting. Kepadanya telah saya jawab, bahwa Bapak sedang tidur, tetapi ia mendesak agar supaya saya membangunkan Bapak.

Akhirnya setelah saya bangun, selama 30 menit terpaksa berbicara melalui telepon. Tetapi tidak sepatah kata pun apa yang sedang menggelisahkan perasaan saya dari pembicaraan telepon itu saya ungkapkan kepada intern keluarga saya, baik Fatmawati maupun kepada Tukimin. Saya hanya menyatakan bahwa besok pagi saya akan ke Surabaya dengan kapal terbang militer kepunyaan Inggris. Dan kemudian saya kembali ke kamar tidur, dan pelan-pelan menutup pintu.

Saya dengan Hatta, yang baru saja dipilih menjadi Wakil Presiden, selama lebih kurang 2 jam berbicara dengan pihak Sekutu Inggris, tetapi pihak

Tentara Inggris asal India dan Pakistan membelot ke pihak Indonesia

Inggris mengharapkan saya, sebab saya dibutuhkan. Dan saya tahu, bahwa tidak akan ada sesuatu pun yang akan dapat menghentikan persoalan ini. Di Surabaya, ternyata Inggris telah menempatkan markasnya di gedung-gedung di tengah kota Surabaya sebagai pusatnya….”

Pada 29 Oktober 1945 di Kompleks Darmo, Kapten Flower yang telah mengibarkan bendera putih, masih ditembaki oleh pihak Indonesia; untung dia selamat, tidak terkena tembakan. Kapten Flower, yang ternyata berkebangsaan Australia, kemudian diterima oleh Kolonel dr. Wiliater Hutagalung. Hutagalung memfait accompli, dengan menyatakan:

“We accept your unconditional surrender!”, dan mengatakan, bahwa pihak Indonesia akan membawa tentara Inggris -setelah dilucuti- kembali ke kapal mereka di pelabuhan.

Pimpinan Republik Indonesia di Jakarta pada waktu itu tidak menghendaki adanya konfrontasi bersenjata melawan Inggris, apalagi melawan Sekutu. Pada 29 Oktober sore hari, Presiden Sukarno beserta Wakil Presiden M. Hatta dan Menteri Penerangan Amir Syarifuddin Harahap, tiba di Surabaya dengan menumpang pesawat militer yang disediakan oleh Inggris. Segera hari itu juga Presiden Sukarno bertemu dengan Mallaby di gubernuran. Malam itu dicapai kesepakatan yang dituangkan dalam “Armistic Agreement regarding the Surabaya-incident; a provisional agreement between President Soekarno of the Republic Indonesia and Brigadier Mallaby, concluded on the 29th October 1945.”

Isinya antara lain :

– Perjanjian diadakan antara Panglima Tentara Pendudukan Surabaya de-ngan PYM (Paduka Yang Mulia) Ir. Sukarno, Presiden Republik Indonesia untuk mempertahankan ketenteraman kota Surabaya.

– Untuk menenteramkan, diadakan perdamaian: ialah tembakan-tembakan dari kedua pihak harus diberhentikan.

– Syarat-syarat termasuk dalam surat selebaran yang disebarkan oleh sebuah pesawat terbang tempo hari (yang dimaksud adalah pada tanggal 27 Oktober 1945) akan diperundingkan antara PYM Ir. Sukarno dengan Panglima Tertinggi Tentara pendudukan seluruh Jawa pada tanggal 30 Oktober besok.

Tentara Inggris mendapat perlawanan di sepanjang kali Pegirian

Mayjen Hawthorn tiba tanggal 30 Oktober pagi hari. Perundingan yang juga dilakukan di Gubernuran segera dimulai, antara Presiden Sukarno dengan Hawthorn, yang juga adalah Panglima Divisi 23 Inggris. Dari pihak Indonesia, tuntutan utama adalah pencabutan butir dalam ultimatum/pamflet tanggal 27 Oktober, yaitu penyerahan senjata kepada tentara Sekutu; sedangkan tentara Sekutu menolak memberikan senjata mereka kepada pihak Indonesia. Perundingan berlangsung alot, yang dimulai sejak pagi hari dan baru berakhir sekitar pukul 13.00, menghasil-kan kesepakatan, yang kemudian dikenal sebagai kesepakatan Sukarno–Hawthorn.

Isi kesepakatan antara lain:

1. The Proclamation previously scat-tered by aircraft shall be annulled; that is to say, the disarmament of the TKR and the Pemudas shall not be carried out.  2. The Allied forces shall not guard the city.  3. The TKR shall be recognized; its continued use of arms shall be allowed.

Yang terpenting bagi pihak Indonesia dalam kesepakatan ini adalah pencabutan perintah melalui pamflet ter-tanggal 27 Oktober dan pengakuan terhadap TKR yang bersenjata.

Kronologis

26 Oktober 1945, tercapai persetujuan antara Bapak Suryo, Gubernur Jawa Timur dengan Brigjen Mallaby bahwa pasukan Indonesia dan milisi tidak harus menyerahkan senjata mereka. Sayangnya terjadi salah pengertian antara pasukan Inggris di Surabaya dengan markas tentara Inggris di Jakarta yang dipimpin Letnan Jenderal Sir Philip Christison.

27 Oktober 1945, jam 11.00 siang, pesawat Dakota AU Inggris dari Jakarta menjatuhkan selebaran di Surabaya yang memerintahkan semua tentara Indonesia dan milisi untuk menyerahkan senjata. Para pimpinan tentara dan milisi Indonesia marah waktu membaca selebaran ini dan menganggap Brigjen Mallaby tidak menepati perjanjian tanggal 26 Oktober 1945.

28 Oktober 1945, pasukan Indonesia dan milisi menggempur pasukan Inggris di Surabaya. Untuk menghindari kekalahan di Surabaya, Brigjen Mallaby meminta agar Presiden RI Soekarno dan panglima pasukan Inggris Divisi 23, Mayor Jenderal Douglas Cyril Hawthorn untuk pergi ke Surabaya dan mengu-sahakan perdamaian.

29 Oktober 1945, Presiden Soekarno, Wapres Mohammad Hatta dan Menteri Penerangan Amir Syarifuddin Harahap bersama Mayjen Hawthorn pergi ke Surabaya untuk berunding.

Pada siang hari, 30 Oktober 1945, dicapai persetujuan yang ditandatangani oleh Presiden RI Soekarno dan Panglima Divisi 23 Mayjen Hawthorn. Isi perjanjian tersebut adalah diadakan penghentian tembak menembak dan pasukan Inggris akan ditarik mundur dari Surabaya secepatnya. Mayjen Hawthorn dan ke 3 pimpinan RI meninggalkan Surabaya dan kembali ke Jakarta.

Pada sore hari, 30 Oktober 1945, Brigjen Mallaby berkeliling ke berbagai pos pasukan Inggris di Surabaya untuk memberitahukan soal persetujuan tersebut. Saat mendekati pos pasukan Inggris di gedung Internatio, dekat Jembatan merah, mobil Brigjen Mallaby dikepung oleh milisi yang sebelumnya telah mengepung gedung Internatio.

Karena mengira komandannya akan diserang oleh milisi, pasukan Inggris Kompi D yang dipimpin Mayor Venu K. Gopal melepaskan tembakan ke atas untuk membubarkan para milisi. Para milisi mengira mereka diserang tentara Inggris dari dalam gedung Internatio dan balas menembak. Seorang perwira Inggris, Kapten R.C. Smith melemparkan granat ke arah milisi Indonesia, tetapi meleset dan malah jatuh tepat di mobil Brigjen Mallaby.

Dua Jendral Inggris Tewas

Granat meledak dan mobil terbakar. Akibatnya Brigjen Mallaby dan sopirnya tewas. Laporan awal yang diberikan pasukan Inggris di Surabaya ke markas besar pasukan Inggris di Jakarta menyebutkan Brigjen Mallaby tewas ditembak oleh milisi Indonesia.

Brigjen Robert Loder Symonds, tewas setelah pesawatnya ditembak jatuh

Letjen Sir Philip Christison marah besar mendengar kabar kematian Brigjen Mallaby dan mengerahkan 24.000 pasukan tambahan untuk menguasai Surabaya.

9 November 1945, Inggris menyebarkan ultimatum agar semua senjata tentara Indonesia dan milisi segera diserahkan ke tentara Inggris, tetapi ultimatum ini tidak diindahkan.

10 November 1945, Inggris mulai membom Surabaya dan perang sengit berlangsung terus menerus selama 10 hari. Tiga pesawat Mosquito milik Inggris ditembak jatuh oleh pasukan Republik Indonesia dan salah satunya berpenumpangnya Brigadir Jendral Robert Guy Loder Symonds terluka parah dan meninggal keesokan harinya.

20 November 1945, setelah 10 hari bertempur dengan sengit Inggris berhasil menguasai Surabaya dengan korban ribuan orang prajurit tewas. Lebih dari 20.000 tentara Indonesia, milisi dan penduduk Surabaya tewas. Seluruh kota Surabaya hancur lebur.

Hingga pertempuran berakhir di hari ke-21, korban jiwa diperkirakan mencapai angka puluhan ribu. Menurut laporan dr. Moh. Suwandhi, Kepala Kesehatan Jawa Timur, dan yang aktif menangani korban pihak Indonesia, jumlah orang Indonesia yang tewas dalam insiden itu adalah 16.000 jiwa.

Sedangkan di pihak Inggris, mengutip keterangan penulis Anthony James Brett, Batara R.Hutagalung menyebutkan sejak mendarat di Surabaya, Inggris telah kehilangan sekitar 1500 prajuritnya (termasuk 2 jenderal tewas dan 300 serdadu Inggris Muslim asal India dan Pakistan yang diklaim pihak Indonesia telah menyebrang ke pihak mereka).

Karena itu, Inggris menyebut Perang Surabaya sebagai perang yang terberat pasca Perang Dunia II. Surat kabar New York Times (edisi 15 November 1945) bahkan mengutip kata-kata para serdadu Inggris yang menyebut “The Battle of Surabaya” sebagai “inferno” atau neraka di timur Jawa.

Pertempuran ini menunjukkan kesungguhan Bangsa Indonesia untuk mempertahankan kemerdekaan dan mengusir penjajah dari bumi pertiwi. Sebuah keteladanan yang wajib dipahami dan dihayati oleh generasi penerus di tengah gerusan globalisasi.

Pertempuran ini menunjukkan kesungguhan Bangsa Indonesia untuk mempertahankan kemerdekaan dan mengusir penjajah dari bumi pertiwi. Sebuah keteladanan yang wajib dipahami dan dihayati oleh generasi penerus di tengah gerusan globalisasi. (Tekaer, dari berbagai sumber)

(Dimuat di Tabloid Sergap Edisi 56, bulan Nopember 2009)

Artikel terkait :  Brigjen Mallaby Terbunuh oleh Tentaranya Sendiri?

Brigjen Mallaby Terbunuh oleh Tentaranya Sendiri?

SETELAH disepakati truce (gencatan senjata) tanggal 30 Oktober 1945, pimpinan sipil dan militer pihak Indonesia, serta pimpinan militer Inggris bersama-sama keliling kota dengan iring-iringan mobil, untuk menyebarluaskan kesepakatan tersebut. Dari 8 pos pertahanan Inggris, 6 di antaranya tidak ada masalah, hanya di dua tempat, yakni di Gedung Lindeteves dan Gedung Internatio yang masih ada permasalahan/tembak-menembak.

Di dalam mobil terbakar ini Brigjen Mallaby ditemukan tewas

Setelah berhasil mengatasi kesulitan di Gedung Lindeteves, rombongan Indonesia-Inggris segera menuju Gedung Internatio, pos pertahanan Inggris terakhir yang bermasalah. Ketika rombongan tiba di lokasi tersebut, nampak bahwa gedung tersebut dikepung oleh ratusan pemuda. Setelah meliwati Jembatan Merah, tujuh kendaraan memasuki area dan berhenti di depan gedung. Para pemimpin Indonesia segera ke luar kendaraan dan meneriakkan kepada massa, supaya menghentikan tembak-menembak.

Kapten Shaw, Mohammad Mangundiprojo dan T.D. Kundan ditugaskan masuk ke gedung untuk menyampaikan kepada tentara Inggris yang bertahan di dalam gedung, hasil perundingan antara Inggris dengan Indonesia. Mallaby ada di dalam mobil yang diparkir di depan Gedung Internatio. Beberapa saat setelah rombongan masuk, terlihat T.D. Kundan bergegas keluar dari gedung, dan tak lama kemudian, terdengar bunyi tembakan dari arah gedung. Tembakan ini langsung dibalas oleh pihak Indonesia. Tembak-menembak berlangsung sekitar dua jam. Setelah tembak-menembak dapat dihentikan, terlihat mobil Mallaby hancur dan Mallaby sendiri ditemukan telah tewas.

Ada dua kejadian pada tanggal 30 Oktober 1945, yang pada waktu itu dilemparkan oleh Inggris ke pihak Indonesia, sebagai yang bertanggung jawab, dan kemudian dijadikan alasan Mansergh untuk “menghukum para ekstremis” dengan mengeluarkan ultimatum tanggal 9 November 1945:

General Brigadier Aubertin Walter Sothern Mallaby

Orang-orang Indonesia memulai penembakan, dan dengan demikian telah melanggar gencatan senjata (truce), dan Orang-orang Indonesia membunuh Brigadier Mallaby.

Tewasnya Mallaby memang sangat kontroversial, tetapi mengenai siapa yang memulai menembak, di kemudian hari cukup jelas. Kesaksian tersebut justru datangnya dari pihak Inggris. Ini berdasarkan keterangan beberapa perwira Inggris yang diberikan kepada beberapa pihak.

Yang paling menarik adalah yang disampaikan Tom Driberg, seorang Anggota Parlemen Inggris dari Partai Buruh (Labour), pada 20 Februari 1946, dalam perdebatan di Parlemen (House of Commons).

Di sini Tom Driberg meragukan, bahwa Mallaby terbunuh oleh orang Indonesia. Dia menyatakan: “….it is not absolutely certain whether he was killed by Indonesians who were approaching his car; which exploded simultaneously with the attack on him.”

Selanjutnya dia juga membantah, bahwa tewasnya Mallaby akibat “dibunuh secara licik” (foully murdered). Kelihatannya pihak pimpinan tentara Inggris -untuk membangkitkan/memperkuat rasa antipati terhadap Indonesia- rela mendegradasi kematian seorang perwira tinggi menjadi “dibunuh secara licik” daripada menyatakan “killed in action” –tewas dalam pertempuran- yang menjadi kehormatan bagi setiap prajurit.

Juga penuturan Venu K. Gopal, waktu itu berpangkat Mayor, yang adalah Komandan Kompi D, Batalion 6, Mahratta. Kompi D ini mengambil tempat pertahanan di Gedung Internatio.

Dengan pengakuan Mayor Gopal, Komandan Kompi D yang bertahan di Gedung Internatio, sekarang terbukti, bahwa yang memulai menembak adalah pihak Inggris; tetapi kelihatannya dia masih ingin melindungi bekas atasannya dengan menggarisbawahi, bahwa perintah menembak tersebut adalah keputusannya sendiri. Ini jelas bertentangan dengan kesaksian T.D. Kundan, yang diperkuat dengan kesaksian seorang perwira Inggris melalui Tom Driberg.

Seorang tentara Inggris sedang memeriksa bangkai mobil Mallaby

Dengan pengakuan ini terlihat jelas, bahwa Inggris pada waktu itu memutar balikkan fakta dan menuduh bahwa gencatan senjata telah dilanggar pihak Indonesia (the truce which had been broken). Di dalam situasi tegang bunyi ledakan ataupun tembakan akan menimbulkan kepanikan pada kelompok-kelompok yang masih diliputi suasana tempur, sehingga tembakan tersebut segera dibalas; maka pertempuran di seputar Gedung Internatio pun pecah lagi.

Dari pengakuan kedua perwira Inggris tersebut telah jelas, bahwa pemicu terjadinya tembak-menembak adalah pihak Inggris sendiri. Dugaan ini sebenarnya tepat, bila disimak jalan pikiran Mallaby, seperti dituliskan oleh Capt. Smith:

“…He (Mallaby, red.) did not believe in the safe-conducts in so far as it applied to us, but thought that some at least of the Company might get away. Accordingly Capt. Shaw was sent into the building to give the necessary orders…..”

Sebelum itu, menurut Smith, telah terjadi perbedaan pendapat antara Kapten Shaw dan Mallaby mengenai permintaan para pemuda Indonesia, agar tentara Inggris meninggalkan persenjataan mereka di dalam gedung. Awalnya, Kapten Shaw menyetujui permintaan ini, tetapi Mallaby kemudian membatalkannya. Smith :

“…Eventually, the mob demanded that the troops in the building laid (sic) down their arms and marched (sic) out: they and us (sic) guaranteed a safeconduct back to the air field. The Brigadier flatly refused to consider this proposal. After further pressure, however, Capt.Shaw, who was well known to some of the indonesians through his job as FSO, and who had been a considerable strain since our arrival in Surabaya, agreed to the terms on his own responsibility. The Brigadier at once countemanded this………”

Kemudian tuduhan kedua, bahwa orang Indonesia “secara licik membunuh Mallaby”, perlu diteliti lebih lanjut. Di pihak Indonesia banyak orang mengaku bahwa dialah yang menembak Mallaby. Hj. Lukitaningsih I. Rajamin-Supandhan mencatat, ada sekitar 12 orang yang mengaku sebagai yang menembak Mallaby.

Brigjen AWS Mallaby bersama seorang perwira tentara Jepang

Namun menurut penilaian beberapa pelaku sejarah, dari sejumlah keterangan yang diberikan, cerita yang benar kemungkinan besar yang disampaikan oleh Abdul Azis. (Lihat: Barlan Setiadijaya, 10 November 1945…., hlm. 429-435.) Dul Arnowo mencatat laporan seorang saksi mata, Ali Harun, yang kemudian diteruskan ke Presiden Sukarno. Surat tersebut dibawa oleh Kolonel dr. W. Hutagalung ke Jakarta, dan diserahkan langsung kepada Presiden Sukarno pada tanggal 8 November 1945.

Dari berbagai penuturan, memang benar adanya penembakan dengan menggunakan pistol oleh seorang pemuda Indonesia ke arah Mallaby, tetapi tidak ada seorang pun yang dapat memastikan, bahwa Mallaby memang tewas akibat tembakan tersebut.

Yang menarik untuk dicermati adalah pengakuan Kapten R.C. Smith dari Batalyon 6, Resimen Mahratta, yang pada waktu itu menjabat sebagai Liaison Officer Brigade 49. Tanggal 31 Oktober, dia memberikan laporannya yang pertama, kemudian pada bulan Februari, sehubungan dengan keterangan Tom Driberg di House of Commons.

Yang perlu diragukan di sini adalah dugaan Smith, bahwa Mallaby tewas sebagai akibat tembakan pistol pemuda Indonesia. Seperti dalam tulisannya, dia mengatakan bahwa pada saat itu sekitar pukul 20.30 dan keadaan gelap. Memang aliran listrik di daerah tersebut telah diputus oleh pihak Indonesia. Dia hanya mengatakan:

“…berdasarkan suara yang didengar dari arah Mallaby, dia yakin bahwa Mallaby telah tewas 15 – 30 detik setelah ditembak dengan pistol…”

Selain itu dia juga mengakui, bahwa granat yang dilemparkannya melewati tubuh Mallaby telah mengakibatkan terbakarnya jok belakang mobil mereka, artinya tempat Mallaby duduk.

Major General E.C. Mansergh yang menggantikan Mallaby

Menurut pemeriksaan di rumah sakit, jenazah Mallaby sangat sulit dikenali, karena hangus dan hancur. Dia dikenali melalui tanda bekas jam tangan di kedua lengannya, karena Mallaby dikenal dengan kebiasaannya untuk memakai dua jam tangan; jadi bukan identifikasi wajah atau ciri-ciri tubuh lain. Hal ini disampaikan oleh dr. Sugiri, kepada Kolonel dr. W. Hutagalung.

Seandainya keterangan Smith benar, bahwa Mallaby tidak memberikan perintah untuk memulai menembak, bahkan sebaliknya, yaitu menginstruksikan Kapten Shaw untuk memerintahkan tentara Inggris yang di dalam gedung agar mereka meletakkan senjata dan ke luar gedung tanpa senjata, maka telah terjadi pembangkangan yang berakibat fatal, yaitu perintah dari komandan kompi, Mayor Gopal, untuk memulai menembak. Dilihat dari sudut mana pun, timbulnya tembak-menembak yang berakibat tewasnya Mallaby, adalah kesalahan tentara Inggris.

Mengenai tuduhan bahwa Mallaby tewas akibat tembakan pistol, sangat diragukan. Jelas untuk membela diri, Smith dan Laughland harus menyatakan dahulu bahwa Mallaby telah tewas ketika Smith melemparkan granat, yang kemudian justru membakar bagian belakang mobil yang mereka dan Mallaby tumpangi. Beberapa saksi mata di pihak Indonesia mengatakan bahwa mobil Mallaby meledak akibat granat tersebut sehingga dengan demikian, boleh dikatakan Mallaby tewas karena kesalahan pihak Inggris sendiri. Dari kronologi kejadian dapat disimpulkan, bahwa Mallaby tewas karena tembak-menembak berkobar lagi.

Yang sangat menarik untuk dicermati sehubungan dengan pelemparan granat oleh Kapten Smith, adalah kesaksian Imam Sutrisno Trisnaningprojo, seorang pemuda berpangkat kapten, mantan anggota PETA. Trisnaningprojo ikut dalam iring-iringan mobil dalam rangka penyebarluasan hasil kesepakatan Sukarno-Hawthorn. Bahwa Smith adalah orang yang melemparkan granat yang mengakibatkan mobil yang ditumpangi Mallaby terbakar, diakui oleh Smith sendiri, tetapi Trisnaningprodjo menuturkan, bahwa Smith tidak berada di dalam mobil bersama Mallaby, melainkan bersama Laughland di luar mobil ketika terjadi penembakan terhadap Mallaby. Trisnaningprojo melihat, Smith berada di dekat gedung dan melemparkan granat ke arah pemuda yang menembak Mallaby, tetapi granat meledak di sebelah mobil Mallaby yang pintu belakangnya terbuka. Jadi, Captain Smith melempar granat tidak dari dalam mobil, melainkan dari luar mobil. Ini berarti bahwa tidak ada yang mengetahui kondisi Mallaby setelah penembakan dari pemuda Indonesia tersebut, apakah terluka atau memang telah tewas seperti penuturan Smith.

Di depan Gedung Internatio Surabaya inilah Mallaby tewas

Baik dari kesaksian Smith, maupun keterangan Trisnaningprojo yang dilengkapi sketsa lokasi pada saat kejadian, pemuda Indonesia menembak dengan pistol ke arah Mallaby melalui jendela depan di sisi kiri mobil, sedangkan Mallaby –masih menurut Smith- duduk di jok belakang, di sisi paling kiri. Dari posisi pemuda Indonesia tersebut, walaupun dia menggunakan tangan kiri, kemungkinan besar bagian tubuh Mallaby sebelah kanan yang akan terkena tembakan, dan ini biasanya tidak mematikan. Berbeda, apabila yang terkena adalah tubuh bagian kiri, di bagian jantung.

Di samping itu, juga tidak ada yang bisa memastikan, bahwa tembakan pemuda tersebut benar mengenai sasaran karena sebelumnya -juga menurut Smith- ketika bertiga masih duduk di bagian belakang mobil, ada yang menembak ke arah mereka dengan senapan sebanyak empat kali, namun tak satu peluru pun yang mengenai mereka. Tidak tertutup kemungkinan, bahwa pemuda yang menembak dengan pistol, juga baru pertama kali memegang pistol, sehingga belum mahir menggunakannya.

Ketika diwawancarai oleh Ben Anderson pada tanggal 13 Agustus 1962, Dul Arnowo menyatakan, bahwa dia yakin Mallaby secara tidak sengaja, telah terbunuh oleh anak buahnya sendiri.

Dalam laporan rahasia kepada atasannya, Kolonel Laurens van der Post mantan Gubernur Militer Inggris di Batavia/Jakarta tahun 1945, menuliskan (Sir Laurens van der Post, The Admiral’s Baby, John Murray, London, 1996):

“The detail of what happenned at Sourabaya is not really relevant to this review but it is interresting that the very latest evidence suggests that the Mallaby Murder, far from being premiditatet or a deliberate breach of faith, was caused more by the indescribable confusion and nervous excitement of everyone in the town. Had General Hawthorn, the General Officer Commanding Java at the same time, had proper Civil Affairs and political officers on his staff to draft his unfortunate proclamations for him and to keep [in] continuous and informed contact with population, the story of Sourabaya may well have been different.”  (Tekaer – dari berbagai sumber)

(Dimuat di Tabloid Sergap Edisi 56, Nopember 2009)

Artikel terkait :   Ketika Surabaya Diultimatum, Dua Jendral Inggris Tewas

Sekilas Tentang EMB-314 Super Tucano

EMB-314 Super Tucano

EMB-314 (Super Tucano) merupakan pesawat latih berkemampuan COIN (Counter Insurgency) atau pesawat serang antigerilya buatan Embraer Defense System, Brasilia. EMB-314 Super Tucano merupakan pengembangan dari EMB-312 Tucano yang telah terjual 650 unit untuk 15 negara dengan Brasilia sebagai pemakai utama memiliki 130 unit. Penyempurnaan yang dilakukan dari pesawat sebelumnya meliputi sistem avionik, sistem persenjataan dan sistem komunikasi data. Sejak diperkenalkan dan dipakai Brasilia pada tahun 2004, EMB-314 terbukti berhasil melakukan misi penjagaan perbatasan di kawasan Amazon yang terkenal sangat rawan dengan aktivitas penyelundupan dan perdagangan narkotika.

Cockpit

Keseluruhan kokpit Super Tucano telah menggunakan material kaca (glass cockpit) yang kompatibel untuk penglihatan di malam hari. Pesawat dilengkapi dengan perangkat sistem avionik buatan Elbit Systems Ltd of Haifa, Israel. Perangkat ini termasuk diantaranya : head-up display (HUD), advanced mission computer, sistem navigasi dan dua layar multifungsi liquid crystal ukuran 6in x 8in.

Cockpit Super Tocano

Head-up display dengan area pandang 24° dan advanced weapon delivery system yang terintegrasi lewat data bus MIL-STD-1553B. Pilot Tucano telah dilengkapi dengan sistem kendali HOTAS (hand on throttle and stick). Dimana dalam mengendalikan kemudi, kecepatan dan persenjataan, Pilot cukup meletakkan tangannya di kedua tongkat kendali pesawat. Tongkat kendali throttle (kecepatan) dan stick diambil dari Handson.

Kabin Pilot dilindungi pelindung baja kevlar dan telah dilengkapi dengan kursi lontar. Kanopi sistem clamshell, bergantung di bagian depan hingga ke belakang yang diaktifkan secara elektrik, sistem de-icing dan glass-cockpit mampu bertahan hingga kecepatan 300kt serta mampu menahan benturan burung. Selain itu kabin juga telah terinstalasi sistem oksigen generasi terbaru OBOGS buatan Northrop Grumman.

Persenjataan dan Navigasi

Persenjataan Super Tocano

Pesawat ini dilengkapi dengan dua central mission computer. Sistem integrasi senjata terkomputerisasi ini berisi perangkat lunak pembidik senjata, manajemen senjata, perencanaan misi dan misi pelatihan. Alalt perekam di pesawat menggunakan post mission analysis.

Pesawat memiliki lima cantelan untuk membawa senjata dan beban eksternal dengan berat maksimum 1.500 kg. Senjata internal pesawat berupa senapan mesin 12,7 mm yang terpasang di kedua sayap dengan daya tembak 1.100 peluru per menit. Untuk misi-misi tertentu, Tucano mampu menggotong bom, rudal udara-ke-udara dan rudal udara-ke-permukaan. AU Brasil mempersenjatai pesawatnya dengan rudal udara-ke-udara jarak pendek jenis MAA-1 Piranha dari Orbita dengan sistem pemandu inframerah.

Varian dua tempat duduk Tucano (AT-29) telah dilengkapi dengan kubah FLIR (forward-looking infrared) jenis AN/AAQ-22 SAFIRE di bagian bawah badan pesawat. Sistem thermal imaging Safire dipasok oleh FLIR Systems untuk membidik, navigasi dan melacak sasaran. Sistem ini memungkinkan pesawat untuk melaksanakan pengawasan dan menyerang misi baik siang maupun malam disegala kondisi cuaca.

Untuk perangkat navigasi pesawat telah dilengkapi dengan advanced laser inertial navigation and attack system, a global positioning system (GPS) and a traffic alerting and collision avoidance system (TCAS).

Mesin

EMB-314 Super Tucano ditenagai oleh mesin turboprop asal Kanada Prat & Whitney PT6A-68A berdaya 969 kW. Mesin ini telah dilengkapi dengan

Mesin Super Tocano

sistem pemantau dan control otomatis. Sedangkan untuk varian ALX memiliki mesin yang jauh lebih kuat daripada EMB-314 (AT-29). ALX ditenagai mesin turboprop Pratt dan Whitney Kanada jenis PT6A-68/3 berdaya 1.600 shp. Keduanya memiliki lima bilah propeller dari Hartzell dengan kecepatan konstan sepenuhnya.

Tucano memiliki daya tampung bahan bakar sebanyak 695 liter, yang mampu memberikan jangkauan operasi sejauh 1.500 km dengan ketahanan terbang selama 6 jam 30 menit. Pesawat memiliki kecepatan jelajah hingga 530km/jam dengan kecepatan maksimum 560km/jam.

Super Tucano adalah pesawat tempur ringan berbaling-baling (Light Attack Turboprop) yang sangat ideal untuk melaksanakan misinya dalam COIN (Counter Insurgency) dengan presisi yang tinggi dan dapat operasional malam hari (FLIR & NVG Compatible). Selain itu Super Tucano dapat digunakan sebagai pesawat Latih Lanjut maupun transisi ke pesawat fighter jet generasi terakhir. (sumber : wikipedia dan alutsista)

Berita terkait : Super Tucano, Si Cocor Merah Modern Perkuat TNI AU

Super Tucano, Si Cocor Merah Modern Perkuat TNI AU

Super Tocano si Cocor Merah modern

Malang, Sergap – Kedatangan 4 pesawat tempur Super Tocano juga disambut oleh Kepala Daerah se Malang Raya. Super Tucano yang corat pengecatannya mirip dengan pesawat tempur Mustang yang terkenal saat Perang Dunia II ini mendarat dengan mulus pada hari Minggu (2/9/2012), sekitar pukul 11.00 WIB di Lanud Abdurahman Saleh, Kecamatan Pakis, Kabupaten Malang.

Ketiga kepala daerah itu masing-masing Walikota Batu Eddy Rumpoko, Walikota Malang Peni Suparto dan Bupati Malang Rendra Kresna. Dari jajaran TNI tampak menyambut Marsekal Muda TNI Agus Supriatna, Pangkoops AU II Makassar didampingi Danlanud Abd Saleh, Malang, Marsekal Pertama TNI Gutomo serta pejabat militer setingkat Danrem, Danramil dan Kepolisian se-Malang Raya.

Sebelum mendarat, empat pesawat buatan Brazil itu memamerkan aksinya dengan dikawal oleh pesawat Hercules. Begitu mendarat para pilot langsung disambut tarian di depan hanggar yang dulunya ditempati pesawat OV 10 Bronco.

Empat unit Super Tucano siang itu dipiloti oleh Kapten Almir Sumar De Azevedo, Kapten Carlos Moreira Chaster, Kapten Airton Manoel Rodrigues, dan Kapten William Souza, mereka para pilot dari Angkatan Udara Brazilia, negara di mana pesawat ini diproduksi.

Marsekal Muda TNI Agus Supriatna menyalami para pilot dari Brazilia

Pada wartawan, Agus Supriatna, Pangkoops AU II mengatakan bahwa pesawat Super Tucano itu untuk membantu operasi di darat maupun di laut. “Pada 17 September mendatang, baru akan akan diserahkan secara resmi ke negara atau ke pihak TNI AU,” katanya.

Saat ini baru tiba 4 unit pesawat dari totalnya ada 16 pesawat. Akhir tahun depan sisa Super Tucano bisa selesai dan tiba di Indonesia dengan selamat.

Ditambahkan oleh Agus Supriatna bahwa di tingkat Asean, baru Indonesia yang memakainya. “Negara di Asean baru Indonesia. Kalau di Amerika Latin, sudah lama pakai pesawat ini,”paparnya.

Saat ditanya keunggulan dari Super Tacano ini, katanya, punya jelajah jangkauan luar biasa. Contohnya, kalau dari Malang membawa bom atau alat tempur, bisa kuat sampai ke Balikpapan. Dan pesawat ini bisa membawa 6 bom sekaligus.

Dengan kemampuannya untuk membantu serangan darat dan laut, pesawat ini ideal untuk ditempatkan di wilayah perbatasan. Namun karena keterbatasab sarana pendukungnya, maka sementara di tempatkan di Skuadron 21 Malang. “Kita taruh di Skuadron 21 karena perawatan dan hanggarnya mumpuni. Sejak dua tahun lalu alat perawatan untuk pesawat ini kita pikirkan. Tapi kalau dibutuhkan bisa langsung diterbangkan ke lokasi,” katanya menjelaskan.

Dan Lanud Abd Saleh Malang, Marsekal Pertama TNI Gutomo menambahkan, para pilot sudah dipersiapkan sebelum kedatangan pesawat. “Sejak 2 tahun lalu, para pilot Super Tucano kita sudah dididik kualitasnya. Para penerbang sudah disebar untuk meningkatkan kualitas penerbangan militer,” pungkasnya. (enny)

Berita terkait :  Sekilas Tentang EMB-314 Super Tucano