PMK Magetan Akan Bangun Tandon Air di Setiap Kecamatan

Pelaksanaan Bimtek PMK Kabupaten Magetan

Pelaksanaan Bimtek PMK Kabupaten Magetan

Magetan (Sergap) – Pemadam Kebakaran, Branwir, Petugas Pemadam Kebakaran (PMK), atau Damkar adalah petugas atau dinas yang dilatih dan bertugas untuk menanggulangi kebakaran.

Dalam perkembangannya, PMK selain terlatih untuk menyelamatkan korban dari kebakaran, juga dilatih untuk menyelamatkan korban kecelakaan lalu lintas, gedung runtuh, dll.

Dinas pemadam kebakaran dan/atau bersama BPBD (Badan Penanggulangan Bencana Daerah) adalah unsur pelaksana pemerintah yang diberi tanggung jawab dalam melaksanakan tugas-tugas penanganan masalah kebakaran dan bencana yang termasuk dalam dinas gawat darurat atau Rescue (penyelamatan) seperti Ambulans dan Badan SAR Nasional.

Personil PMK dilengkapi dengan pakaian anti-panas atau anti-api dan juga helm serta boot/sepatu khusus dalam melaksanakan tugas, dan biasanya pakaianya dilengkapi dengan scotlight reflektor berwarna putih mengkilat agar dapat jelas terlihat di saat sedang melaksanakan tugasnya.

Dalam rangka peningkatan kualitas personil PMK tersebut, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Magetan, melaksanakan Bimbingan Teknis (Bimtek) personil PMK dengan nara sumber dari Dinas Kesehatan Kabupaten Magetan, Kepolisian Resor Magetan, Komando Distrik Militer (Kodim) 0804 Magetan, serta perwakilan dari Kecamatan dan Pemerintahan Desa.

Ir. Hergunadi, MT, Kepala Dinas PU dan Cipta Karya Kabupaten Magetan yang membawahi PMK, dalam sambutannya berharap semua personil PMK Kabupaten Magetan terus meningkatkan ketrampilan dan etos kerjanya, serta selalu mengembangkan ide-idenya untuk perkembangan PMK Kabupaten Magetan ke depan.

Ditambahkan oleh Ir. Hergunadi, MT bahwa peningkatan kualitas personil PMKMagetan tersebut akan diikuti dengan penambahan sarana dan prasarana untuk menunjang PMK yang efektif, di antaranya pembangunan tandon air/hidran di setiap kecamatan di wilayah Kabupaten Magetan. “Kinerja PMK Kabupaten Magetan akan ditingkatkan juga dengan pembangunan tandon air di setiap kecamatan,” katanya.

Sementara itu, nara sumber dari Dinas Kesehatan mengatakan bahwa keselamatan jiwa merupakan prioritas utama. Untuk itu Dinas Kesehatan menyiagakan 24 jam, tenaga medis dan ambulan yang bisa cepat menuju lokasi kebakaran untuk memberikan pertolongan pertamanya.

Kepolisian akan mengambil peran dalam penyelamatan korban dan pengamanan asset dan tempat kejadian perkara (TKP), untuk menyelidiki kemungkinan terjadinya tindak pidana dalam sebuah peristiwa kebakaran. (hs/adv)

 

Iklan

PAMSIMAS Tingkatkan Kualitas Kehidupan Warga Magetan

Program  Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (PAMSIMAS) di Magetan

Program Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (PAMSIMAS) di Magetan

Magetan (Sergap) – Program  Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (PAMSIMAS) merupakan salah satu program Pemerintah Pusat, Pemerintah Provinsi dan Pemerintah Kabupaten/Kota dalam rangka meningkatkan penyediaan air minum, sanitasi dan meningkatkan derajat kesehatan masyarakat  terutama  untuk menurunkan angka penyakit yang ditularkan melalui air dan lingkungan. Ruang lingkup kegiatan program PAMSIMAS mencakup 5 (lima) komponen kegiatan :

  • Pemberdayaan Masyarakat dan Pengembangan Kelembagaan Lokal;
  • Peningkatan Kesehatan  dan  Perilaku  Hidup  Bersih  dan  Sehat  dan  Pelayanan Sanitasi;
  • Penyediaan Sarana Air Minum dan Sanitasi Umum;
  • Insentif Desa/Kelurahan dan Kabupaten/kota; dan
  • Dukungan Pelaksanaan dan Manajemen Proyek.

Program PAMSIMAS dilaksanakan dengan pendekatan berbasis masyarakat  melalui pelibatan dan partisipasi masyarakat dan pendekatan yang tanggap terhadap kebutuhan masyarakat (demand responsive approach). Kedua pendekatan tersebut dilakukan melalui proses pemberdayaan masyarakat untuk menumbuhkan prakarsa, inisiatif, dan partisipasi aktif masyarakat dalam memutuskan, merencanakan, menyiapkan, melaksanakan, mengoperasikan dan memelihara sarana yang telah dibangun, serta melanjutkan kegiatan peningkatan derajat kesehatan di masyarakat termasuk di lingkungan sekolah.

Program PAMSIMAS bertujuan untuk meningkatkan jumlah warga miskin perdesaan dan pinggiran kota (peri-urban) yang dapat mengakses fasilitas air minum dan sanitasi yang layak serta mempraktekan perilaku hidup bersih dan sehat, sebagai bagian dari usaha pencapaian target MDG sektor air minum dan sanitasi melalui upaya pengarusutamaan dan perluasan program berbasis masyarakat secara nasional.

Untuk mencapai tujuan tersebut, ditetapkan tujuan antara sebagai berikut:

Pemerintahprovinsi dan kabupaten/kota memiliki kelembagaan untuk mendukung upaya-upaya peningkatan perbaikan pemakaian air minum, perilaku hidup bersih dan sehat, dan sanitasi masyarakat di wilayah perdesaan dan semi perkotaan.

Masyarakat sasaran menerapkan  perilaku dan praktik perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS),dan sanitasi.

Masyarakat sasaran di wilayah perdesaan dan peri-urban memperoleh akses perbaikan pelayanan sanitasi dan air minum serta menggunakan, mengelola dan memelihara keberlanjutan secara efektif.

Pemerintah daerah memiliki komitmen yang kuat dalam mengupayakan keberlanjutan serta perluasan pelaksanaan program pendukung sektor air minum dan sanitasi dengan menggunakan pendekatan yang sama dengan program PAMSIMAS.

Pembiayaan PASIMAS didukung oleh Bank Dunia, bekerjasama dengan Pemerintah Indonesia membuat program pembangunan berbasis komunitas melalui Third Water Supply and Sanitation for Low-Income Community Project (WSLIC-3) PAMSIMAS II melalui IBRD Nomor 8259-ID yang merupakan kelanjutan dari Program PAMSIMAS I.

Di dalam pelaksanaanya sumber pembiayaannya dilakukan secara konperhensif dan intergratif, baik dari dana kredit IBRD (International Bank of Reconstruction and Developmet) rupiah murni (APBN dan APBD) maupun dana kontribusi swadaya masyarakat.

Pemerintah Kabupaten Magetan mengalokasikan APBD yang diperlukan untuk pemeliharaan sarana air minum dan sanitasi serta perluasan yang diperlukannya.

Sejalan dengan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah dan Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah membuka peluang yang luas bagi daerah untuk mengembangkan dan membangun daerahnya sesuai dengan kebutuhan dan prioritasnya masing-masing .

Berdasarkan kedua undang-undang tersebut membawa konsekuaensi bagi daerah dalam bentuk pertanggung-jawaban atas pengalokasian dana yang dimiliki dengan cara yang efektif dan efisien, khususnya dalam upaya peningkatan kesejahteraan dan pelayanan umum kepada masyarakat, termasuk di dalamnya pelayanan air minum dan sanitasi. Namun demikian pada daerah-daerah dengan wilayah pedesaan yang luas dan berpenduduk tinggi pada umumnya memiliki kemampuan finansial yang terbatas sehingga memerlukan dukungan dari Pemerintah Pusat khususnya untuk membiayai investasi yang dibutuhkan dalam rangka meningkatkan kemampuan pelayanan kepada masyarakat, baik untuk investasi fisik dalam bentuk sarana dan prasarana, maupun investasi non fisik dalam bentuk manajemen, teknis dan pengembangan sumber daya manusia.

Tahun ini Kabupaten Magetan untuk pertama kalinya mendapatkan PASIMAS, yang berlokasi di 5 desa, yaitu: Desa Bungkuk, Desa Trosono (Kecamatan Parang), Desa Sombo, Desa Genilangit (Kecamatan Poncol), dan Desa Ngiliran (Kecamatan Panekan).

Pelaksanaan dengan system swakelola oleh Kelompok Kerja Masyarakat (KKM). Ketua KKM Desa Bungkuk, Mariyadi kepada Tabloid Sergap mengatakan, ”Secara pribadi saya sangat senang dengan adanya program ini, dan berusaha bekerja bersama masyarakat yg tergabung dalam KKM secara masimal, agar program ini cepat selesai dan hasilnya bisa di nikmati masyarakat di desa saya”.

Sedangkan Sutiyah, salah seorang warga Desa Bungkuk mengatakan, ”Saya gembira sekali, karena kebuthan air minum tidak akan ada kendala lagi, walaupun musim kemarau. Dulu saat kemarau, saya sangat susah mendapatkan air bersih, sini kan daerah pegunungan.”

Pada tahun 2015, Kabupaten Magetan akan mendapat program PAMSIMAS sebanyak 5 desa. Saat ini telah disosialisasikan di tingkat kabupaten dan sedang diseleksi desa manakah yang memerlukannya. (hadi/adv)

Jalan dan Jembatan Mulus, Warga Magetan Puas

Sebelum (kiri) dan sesudah (kanan) jalan dan jembatan dilebarkan

Sebelum (kiri) dan sesudah (kanan) jalan dan jembatan dilebarkan

Magetan (Sergap) – Dalam rangka untuk meningkatkan pelayanan kepada masyarakat, Dinas Pekerjaan Umum (PU) Bidang Bina Marga Kabupaten Magetan, akan menambah lagi 2 UPTD PU BMCK, sehingga semuanya menjadi 6 UPTD PU BMCK. Sehingga setiap 1 UPTD akan menangani  3 wilayah kecamatan, yang semula 1 UPTD menangani 4 sampai 5 wilayah kecamatan.

Dengan demikian diharapkan pemeliharaan jalan dan jembatan dapat dilakukan dengan lebih optimal dan berkelanjutan, sehingga warga Kabupaten Magetan selalu dapat menikmati kondisi jalan yang mulus dan berkualitas prima.

Pada tahun 2015 yang akan datang, selain selain peningkatan dan pemeliharaan jalan, Dinas PU Bina Marga Kabupaten Magetan juga akan memprioritaskan pelebaran jembatan. Jembatan yang sempit dan tidak selebar jalan yang ada, selain berpotensi untuk menimbulkan kemacetan di saat lalu-lintas padat dan juga berpotensi menimbulkan kecelakaan lalu-lintas.

Sementara di tahun 2014 ini, Dinas PU Bina Marga Kabupaten Magetan telah sukses menyelesaikan program pembangunannya yaitu, perubahan besar di jalan Duwet-Cempaka, Peningkatan jalan Kenthangan-Sukomoro.

Maryono, seorang sopir truk yang biasa melintas di Jembatan Semawur mengatakan,”Saya senang sekali, jembatan di Magetan sekarang sudah lebar-lebar. Dulu di Jembatan Semawur ini kalau lewat harus bergiliran. Sekarang perjalanan saya jadi lancar”.

Dengan terus tersenyum Maryono mengatakan, jika dulu hanya bisa jalan 2 rit, sekarang bisa dua kali lipat. “Dulu yang bisanya sehari hanya dapat 2 rit mengangkut batu, sekarang jadi bisa 4 rit,” tambahnya.

Kegembiraan juga dirasakan oleh Supri yang berjualan Es Degan di Jalan Sukomoro-Kenthangan. ”Dagangan saya sekarang jam 2 (jam 14.00) sudah habis. Biasanya sampai jam 5 (17.00) belum tentu habis. Sejak jalan Sukomoro-Kenthangan aspalnya lebih halus, makin rame yang lewat jalan ini dan yang mampir minum ke tempat jualan saya juga bertambah,”, kata Supri yang harus memberi nafkah kepada dua anaknya ini.

93 jalan kenthangan-sukomoro magetan

Mulusnya jalan jurusan Kenthangan – Sukomoro di Magetan

Dinas PU Bina Marga Kabupaten Magetan, pada tahun anggaran 2015 yang akan datang akan melaksanakan pembangunan jalan twin road yang sepanjang 2 Km dengan lebar 12 meter, di mulai dari Desa Bulu sampai Desa Pojoksari yang merupakan asset Pemerintah Kabupaten Magetan.

Pekerjaan pembangunan twin road akan diawali dengan penyiapan badan jalan sepanjang 2km, dengan pembatas berupa saluran di tengah-tengahnya.

Jalan twin road ini, merupakan jalan penghubung dengan Jalan Lintas Karisma Pawirogo. Jalan Lintas Karisma Pawirogo sendiri adalah jalan lintas antar kabupaten dan antar provinsi yang menghubungkan 7 kabupaten yaitu Karanganyar (Jawa Tengah), Wonogiri (Jawa Tengah), Sragen (Jawa Tengah), Magetan (Jawa Timur), Pacitan (Jawa Timur), Ngawi (Jawa Timur) dan Ponorogo (Jawa Timur). Nama Karisma Pawirogo merupakan akronim dari nama 7 kabupaten tersebut.

Di wilayah Kabupaten Magetan jalan-jalan yang nantinya akan terlewati jalan lintas Karisma Pawirogo, mulai tahun anggaran 2015 akan mulai dilakukan peningkatan jalah, setahap demi setahap. Jalan-jalan tersebut adalah jalur Parang-Poncol-Wonogiri dan Parang-Lembeyan-Ponorogo serta Parang-Kalipucang. (hadi/adv)

Motor Lenyap Dibius Wanita Berjilbab

Mulyoto masih tergolek lemas di rumah sakit

Mulyoto masih tergolek lemas di rumah sakit

Ponorogo (Sergap)Pasangan suami istri Mulyoto (46) dan Maryati (35), , pemilik warung nasi di selatan RSUD dr Harjono, telah kehilangan sepeda motor Honda Beat warna putih biru setelah korban dibius seorang wanita berjilbab.

Kejadian yang menimpa Warga Dusun Bantaran, Desa Madusari, Kecamatan Siman, Ponorogo, berawal ketika korban yang sedang menjaga warungnya kedatangan pembeli seorang perempuan berjilbab. Kepada kedua korban, pelaku mengaku menunggu keluarganya yang rawat inap di RSUD dr Harjono. Pelaku juga mengaku sudah tiga hari di rumah sakit, dan minta diantar pulang mengambil baju ke rumahnya di Mojo Timun, Kecamatan Lembeyan, Kabupaten Magetan.

Karena dijanjikan upah Rp 100 ribu, Mulyoto bersedia mengantarkannya. Sesampainya di SPBU Desa Ngunut, Kecamatan Babadan, pelaku mengajak Mulyoto makan dan minum di sebuah warung pecel. “Saat makan perempuan itu menyuruh saya membeli obat tolak angin, setelah itu saya melanjutkan makan. Di tengah perjalanan saya merasakan pusing dan mengantuk, lalu saya disuruh menunggu di Poskamling sedangkan motor saya dibawa kabur,” katanya.

Maryati yang sudah berada di rumah, akhirnya melapor ke polisi setelah suaminya seharian tidak pulang. Korban yang juga perangkat Desa Madusari itu ditemukan dalam kondisi linglung di Poskamling. Sekujur tubuhnya kotor dan bau, karena koban buang air besar di celana. “Saya dikira orang gila, karena masih linglung kena pengaruh bius,” ungkapnya.

Kasubag Humas Polres Ponorogo, AKP Imam Khamdani mengatakan,  karena TKP di wilayah Magetan maka petugas koordiansi dengan jajaran Polres Magetan. “Saat ini pelaku sedang kita lacak keberadaannya,”katanya. (hs).

Sekda Kabupaten Magetan Ditahan

Abdul Azis saat akan ditahan

Abdul Azis saat akan ditahan

Magetan (Sergap) – Berita mengejutkan terjadi Kamis (13/06/2013) terkait dengan kasus dugaan korupsi dana pengadaan lahan proyek KIR (Kawasan Industri Rokok) seluas 1.000 m2 pada tahun 2010 yang berlokasi di Desa Bendo, Kecamatan Bendo, Magetan. Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Herdwi Widianta, SH membuat kejutan dengan mengeluarkan surat perintah penahanan terhadap Sekretaris Daerah Kabupaten (Sekdakab) Magetan Abdul Azis.

Pimpinan tertinggi birokrasi Pemkab Magetan itu dijebloskan ke Rutan Klas B Magetan menempati Blok Dahlia, satu sel dengan mantan Camat Bendo Wiji Suharto dan Yudhi Hartono, PNS yang merupakan adik mantan Camat Bendo, yang sudah terseret oleh kasus yang sama.

Sebelum ditahan, Sekdakab yang datang memenuhi panggilan ke kejaksaan itu, dengan masih mengenakan seragam kerja lengkap dengan didampingi oleh penasehat hukumnya, Indra Priangkasa, SH. Ternyata dia hanya diperlihatkan surat penahanan Nomor 01/0.5.31/Ft.1/06/2013 tanggal 13 Juni yang diteken oleh Kajari Herdwi Widianta, SH.

Tampaknya, Abdul Azis berupaya untuk menolak penahanan dengan tidak mau menandatangani berita acara penahanan. Penasehat hukumnya, Indra Priangkasa terlihat naik turun tangga untuk melakukan lobi Kajari Magetan yang ruang kerjanya ada di lantai II. Indra juga tampak berbincang serius dengan Kasi Pidsus Iwan Winarso dan Kasi Intelijen Anton Hardiman. Namun, jaksa tetap bersikukuh menahan Ketua Tim-9, pembebasan lahan proyek KIR itu.

Saat keluar dari ruang pidsus menuju mobil Toyota Avanza  yang akan mengantarnya ke rutan, wajah Abdul Azis tampak layu. Saat itu Abdul Azis seperti mau menangis, matanya berkaca-kaca. Dia bilang, “Kalau ditahan, saya pasti dipecat pak”. Kasi Pidsus yang mengawalnya hanya tersenyum mendengarnya.

Ia terlebih dulu dibawa ke Puskesmas Candi untuk menjalani pemeriksaan kesehatan dan setelah dinyatakan sehat akhirnya dibawa menuju rutan.

Petugas rutan yang kelihatannya sudah stand by sejak pagi langsung menjemput calon penghuni baru itu setiba di depan pintu masuk. ‘’Sudah ada serah terima dari kejaksaan ke rutan, statusnya tahanan titipan jaksa,’’ kata Kasi Pidsus Iwan Winarso yang mengawal proses penahan ini.

Kasi Pidsus juga menambahkan bahwa berkas perkara tindak pidana korupsi ini tinggal melimpahkan ke Pengadilan Tipikor Surabaya. Ada tenggang waktu selama 20 hari sebelum memasuki tahap penuntutan bersamaan jaksa menyiapkan surat dakwaan.

Penahanan Sekda Magetan ini tentu saja menggegerkan jajaran birokrasi Pemkab Magetan. ‘’Saya sendiri juga kaget karena ending-nya bisa seperti ini. HP saya terus berdering dari sejumlah kerabat dan pejabat pemkab menanyakan kebenaran penahanan,’’ kata Indra Priangkasa kepada wartawan.

Indra menilai penahanan kliennya tidak beralasan hingga melanggar Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana (KUHAP). Sebab, jaksa salah kaprah menerapkan tiga alasan klasik penahanan, yakni kekhawatiran melarikan diri, menghilangkan barang bukti, dan mengulang perbuatan. ‘’Selama ini kami kooperatif. Jujur saja, kami masih belum mengerti alasan jaksa melakukan penahanan,’’ tegasnya.

Indra juga berpendapat bahwa jaksa juga mengesampingkan kapasitas sekda sebagai penyelenggara pilkada. Sebab, sekretaris daerah masih memiliki tanggung jawab menjalankan proses pelantikan Bupati dan Wakil Bupati Magetan terpilih, pada 23 Juli 2013. ‘’Kalau klien saya ditahan tentu akan mempengaruhi kinerja pemerintahan, termasuk menyelesaikan tahapan pilkada. Ini yang harusnya menjadi pertimbangan jaksa,’ katanya menjelaskan. Selanjutnya Indra masih akan berkoordinasi dengan kliennya dan keluarganya untuk mencari solusi terbaik. ‘’Kami akan berupaya untuk mengajukan penangguhan penahanan,’’ tambahnya.

Sebagaimana diketahui, kasus pengadaan tanah KIR Bendo Magetan ini, diduga telah merugikan keuangan negara Rp. 934 juta. Kerugian berasal dari biaya untuk pembelian tanah yang ternyata merupakan tanah kas desa namun diakui sebagai tanah milik pribadi oleh para perangkat pemerintahan yang telah lebih dulu dijadikan tersangka oleh Polres Magetan.

Mereka adalah mantan Camat Bendo Wiji Suharto, mantan Kepala Desa Bendo Supadi (almarhum), dan Yudi Hartono yang merupakan adik Camat Bendo yang berprofesi sebagai PNS di Pemkab Ponorogo.

Rincian kerugian negaranya adalah, dana untuk pembelian tanah sebesar Rp. 1,18 miliar termasuk pengeluaran untuk ATK dan lain-lain. Sementara, dana yang dibayar negara untuk membeli tanahnya sendiri adalah Rp934 juta. Sehingga total biaya proyek KIR mencapai Rp. 2,3 miliar. Untuk proyek pengadaan tanah ini dibentuk panitia yang popular dengan sebutan Tim 9 yang diketuai oleh Sekdakab Magetan Abdul Azis.

Sekdakab Magetan terancam melanggar pasal 2, 3 dan 8 UU RI Nomor 31 Tahun 1999 yang diubah dengan UU RI Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. (hs/tkr)

Sumantri-Samsi Menangi Pemilukada Magetan

Pasangan Sumantri-Samsi

Pasangan Sumantri-Samsi

Magetan (Sergap) – Pasangan incumbent Sumantri-Samsi (SMS) memperoleh suara terbanyak versi quick count dalam Pemilihan Kepala Daerah (Pemilukada) Magetan 2013. Pasangan yang diusung PDIP ini unggul telak dibandingkan dua pasangan lainnya.

Hasil hitung cepat dari Lembaga Proximity, pasangan incumben Sumantri-Samsi berhasil mempertahankan kursi kepemimpinannya. Pasangan nomor urut 1 itu, berhasil menyingkirkan dua kompetitornya dengan perolehan suara 59,81 persen suara. Sedangkan pasangan independen dengan nomor urut 2, Nanik Karsini-Sugiho Pramono memperoleh 29,16 persen suara dan pasangan nomor urut 3, Djoko Prabowo-Hartoto memperoleh 11,03 persen suara.

Direktur Sosial Politik Proximity, Ahmad Hasan Ubaid mengatakan bahwa perolehan suara diambil dari jumlah sampel suara yang masuk di 150 TPS yang tersebar di 142 kelurahan, 18 kecamatan se-Kabupaten Magetan, dengan jumlah suara yang masuk sekitar 40.555 suara dan tingkat partisipasi pemilih 67,87 persen.

“Jumlah itu yang kami jadikan sebagai sampel dengan metodologi multi stage randomsampling. Jumlah TPS di Kabupaten Magetan, sebanyak 1.381 TPS dengan jumlah DPT sebanyak 553.724 pemilih. Sedangkan jumlah TPS tersampel adalah 150 TPS dengan jumlah suara yang masuk sekitar 40.555 suara,” terang Hasan Selasa (24/4/2013).

Dijelaskan oleh Hasan, pasangan incumbent Sumantri-Samsi selain memiliki kekuatan partai dan soliditas kader yang sangat kuat, pasangan nomor urut satu ini sering turun ke bawah. Sehingga langsung menyentuh masyarakat pemilih. Kekuatan di akar rumput sangat kuat.

Sedangkan untuk pasangan nomor urut 2 yang maju melalui jalur perseorangan, menurut dia kurang memiliki kekuatan yang cukup signifikan di kalangan akar rumput. “Pun begitu dengan pasangan urut 3 yang diusung Partai Demokrat, PAN dan Patriot, kurang dikenal di arus bawah. Sosialisasi ke masyarakatpun sangat kurang, berbeda dengan pasangan incumben,” ungkap dia.

Menurut pantauan Proximity, beberapa Parpol besar seperti PKB, Golkar, PKS dan beberapa partai lain tidak berpartisipasi. “Secara institusi, PKB, Golkar dan PKS, mendukung pasangan nomor urut satu. Tapi kami tidak melihat ada dukungan lain dari partai politik, baik memasang calonnya sendiri maupun mendukung pasangan calon yang sudah ada,” tandas Hasan. (hs/ang)

Pemilukada Magetan Diikuti 3 Pasang Calon

pemilukada magetan ikonMagetan, Sergap – Sampai dengan batas akhir pendaftaran bagi bakal calon Bupati dan wakil Bupati Kabupaten Magetan periode 2013–2018, tanggal 11 Januari 2013, Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Magetan, telah menerima secara resmi 3 pasangan calon bupati dan wakil bupati.

Ketiga pasangan tersebut adalah pasangan Nanik Karsini dan Sigiho Purnomo (NASPRO), pasangan Djoko Praboyo dan Hartoto (DJOWO TOTO) dan pasangan incumbent  Sumantri dan Samsi (SMS).

Nanik Karsini dan Sigiho Purnomo mencalonkan diri melalui jalur independen/perorangan, Joko Praboyo dan Hartoto maju diusung oleh Partai Demokrat, PAN dan Patriot, sedangkan Sumantri dan Samsi diusung oleh PDIP, Partai Golkar, PKB, PKS dan PPP

Setelah melalui tahapan verifikasi, berupa penelitian dan pengecekan berkas atau persyaratan, maka penetapan calon resmi pasangan bupati dan wakil bupati dilakukan pada bulan Pebruari. ”Penetapan ke 3 bakal calon Bupati dan wakil Bupati Magetan yang siap berkompetisi berkisaran bulan febuari sekitar tanggal 27 sampai 28,” ujar Ketua KPU Magetan Suryadi kepada wartawan di kantornya.

Sementara itu, menurut pengamatan Tabloid Sergap, persaingan antar pasangan bakal calon bupati dan wakil bupati sudah semakin meningkat.  Baik berupa kalender, stiker, baliho, spanduk dan sebagainya.

Panitia Pengawas Pemilu (Panwaslu) Magetan mencatat sudah ada 1.388 atribut yang terpasang. Di antara ketiga pasangan lainnya, pasangan DJOWO TOTO terlihat paling banyak menyebar atribut kampanyenya.  “Baik stiker, kalender, spanduk, maupun beliho, pasangan Djowo Toto paling paling banyak, berjumlah 650 atribut,” kata Ketua Panwaslu Magetan, Djoko Siswanto.

Yang kedua pasangan SMS, dengan jumlah atribut ditemukan ada 385 buah. Sementara pasangan NASPRO hanya berjumlah 353 buah. Mungkin beberapa pasangan menunggu sampai dengan penetapan resmi calon bupati dan wakil bupati, sebelum memasang secara besar-besaran alat-alat kampanyenya. (hs)

Kondisi Gedung KUA Poncol Gawat Darurat

KUA Poncol tampak depan

KUA Poncol tampak depan

Magetan, Sergap – Kantor Urusan Agama Kecamatan  (KUA) adalah merupakan unit kerja terdepan dan sebagai ujung tombak Kementerian Agama yang secara langsung berhadapan dan memberikan pelayanan kepada masyarakat.

Sebagaimana diamanatkan dalam Keputusan Menteri Agama Nomor 517 Tahun 2001, KUA mempunyai tugas dan fungsi melaksanakan; kepenghuluan, pembinaan kemasjidan, pembinaan keluarga sakinah, pembinaan hisab rukyat, pembinaan produk halal, pensertifikatan dan pembinaan tanah wakaf, pembinaan ZIS, pembinaan ibadah sosial, pembinaan pengamalan keagamaan, pendidikan keagamaan  serta tugas pembangunan lainnya di bidang agama.

Tampak jelas di sini betapa berat dan menyeluruhnya tugas lembaga KUA itu. Namun tragisnya perhatian

Kementrian Agama dalam hal ini Kanwil Kementrian Agama Jatim kadang sungguh memprihatinkan.

Hal ini tampak nyata jika kita datang ke KUA Poncol Kabupaten Magetan. Struktur rangka kayu penyangga genteng yang sudah rapuh, yang tentunya juga mengakibatkan kebocoran, atap eternit yang nyaris rontok karena terkena bocornya air hujan, tembok kantor yang kusam dikarenakan rembesan kebocoran.

Bocor disana-sini dan temboknya lembab

Bocor disana-sini dan temboknya lembab

Apalagi, saat ini menjelang puncak musim hujan, yang sering diikuti oleh angin kencang. Dapat dibayangkan betapa para pegawai ujung tombak Kementraian Agama ini menjadi sering dicemaskan oleh kondisi kantornya yang sangat tidak layak sebagai sebuah instansi pelayanan publik.

“Kalau hujan deras, kami sering cemas dengan segala macam arsip-arsip yang ada di kantor”, kata seorang pegawai yang ditemui Tabloid Sergap di ruang kerjanya yang lembab. Tentu saja kecemasan tersebut akanmeningkat bilamana hujan disertai angin kencang.

Kondisi mengenaskan ini sudah dicemaskan oleh seluruh pegawai lebih dari 3 bulan yang lalu. Sebagai tindakan darurat, struktur rangka kayu penyangga genteng itu ditopang dengan kayu-kayu yang lebih kuat. Diharapkan rapuhnya struktur rangka penyangga atap tersebut, tidak mengakibatkan kejadian yang fatal. “Yah, paling tidak setelah ditopang seperti itu, kami agak sedikit merasa aman”, kata pegawai yang minta namanya tidak ditulis itu saat ditanya kekuatan kayu-kayu penopang itu.

Dari informasi yang dapat dihimpun, ternyata alokasi dana rehab untuk KUA di Kabupaten Magetan hanya satu lokasi per satu tahun anggaran. Sebagai contoh, tahun 2010 hanya KUA Kawedanan yang mendapatkan dana rehab. Tahun 2011 giliran KUA Panekan dan tahun 2012 yang direhab hanya KUA Karas.

Kerangka kayu sudah rapuh, ditopang agar tak roboh

Kerangka kayu sudah rapuh, ditopang agar tak roboh

Apakah pada tahun anggaran 2013 nanti akan tiba giliran KUA Poncol yang akan direhab gedung kantornya? Ternyata setelah bertanya kesana-kemari tidak ada pejabat maupun staf yang dapat ditemui Tabloid Sergap, dapat memastikannya.

Setelah mengadakan pengamatan di lapangan, paling tidak masih ada 3 KUA lagi yang kondisinya menuntut untuk segera direhab, dikarenakan sebagaimana KUA Poncol, sudah menimbulkan ketidaknyamanan yang berpotensi mengganggu kinerjanya dalam melayani kepentingan masyarakat. Ketiga KUA tersebut adalah KUA Parang, KUA Maospati dan KUA Karangrejo.

Lantas dengan hanya satu KUA yang direhap dalam satu tahun anggaran, dapat dibayangkan betapa lamanya sebuah gedung instansi pemerintah yang tidak layak huni “dipaksakan” untuk dijadikan tempat kerja.

Sudah selayaknya dan sewajarnya kondisi seperti ini, mendapatkan perhatian lebih dari para pengambil keputusan di Kementrian Agama, khususnya di Kantor Wilayah Kementrian Agama Jawa Timur di Surabaya. Semoga demikian. Amin…(hadi)

Polres Ngawi dan Magetan Waspadai Perbatasan Jawa Tengah

AKBP Edy Junaedy

Ngawi/Magetan, Sergap – Jajaran Kepolisian Resor (Polres) Ngawi dan Polres Magetan, Jawa Timur (Jatim), mewaspadai maraknya aksi teroris di Solo dan Jawa Tengah pada umumnya, dalam rangka memberikan dukungan penuh upaya melokalisir gerak terorisme yang terjadi di wilayah hukum Polda Jawa Tengah.

Kapolres Ngawi AKBP Edy Junaedy, Sabtu (01/09/2012), mengatakan jajarannya memperketat pengamanan dan kewaspadaan di daerah Mantingan yang merupakan perbatasan Provinsi Jawa Timur dengan Jawa Tengah, pascaterjadinya teror dan penembakan pos polisi di Solo.

Pos Polisi Mantingan merupakan pos pengamanan yang berbatasan langsung dengan wilayah Kabupaten Sragen, Jawa Tengah. Sehingga dikategorikan sebagai wilayah yang sangat rawan dan perlu dipantau.

“Kami telah meningkatkan keamanan di daerah perbatasan Ngawi dengan Sragen Jateng, yakni di wilayah Mantingan. Peningkatan keamanan diwujudkan dengan menyiapkan sejumlah personel penembak jitu (sniper) dan juga melakukan razia kendaraan,” ujarnya.

Menurut dia, razia kendaraan atau operasi keamanan tersebut digelar sewaktu-waktu secara acak. Dalam operasi tersebut polisi akan memeriksa semua kendaraan yang lewat terutama mobil yang berasal dari arah Jawa Tengah.

“Upaya pengamanan tersebut bertujuan untuk melokalisir kemungkinan teroris yang hendak masuk wilayah Jawa Timur. Tidak hanya di perbatasan, operasi keamanan juga dilakukan di sejumlah titik lain yang dinilai merupakan daerah rawan kriminalitas dan lalu lintas,” kata dia.

Hal yang sama dilakukan oleh jajaran Polres Magetan. Antisipasi mulai dilakukan dini sebagai reaksi cepat pencegahan teror.

Kapolres Magetan AKBP Agus Santosa langsung menginstruksikan kapolsek serta kepala satuan untuk meningkatkan kewaspadaan di mapolsek dan sejumlah pos polisi di Magetan terutama wilayah perbatasan.

AKBP Agus Santosa

Adapun wilayah yang berbatasan langsung dengan Provinsi Jawa Tengah adalah di wilayah Plaosan yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Karanganyar dan juga Poncol yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah.

“Pantauan utama dilakukan di pos perbatasan Jawa Tengah yakni di daerah Plaosan dan Poncol. Meski belum melakukan operasi kendaraan namun hal itu akan segera dilakukan,” ujar Kapolres Magetan AKBP Agus Santosa, Sabtu (01/09/2012).

Agus menjelaskan, pihaknya juga menambah personel yang berjaga di pos-pos polisi yang ada di Magetan. Para personel yang melakukan tugas tersebut diberikan tambahan senjata laras panjang untuk memperlancar jalannya pengamanan.

Selain itu, Kapolres juga mengimbau masyarakat untuk turut membantu kinerja kepolisian dalam mengantisipasi aksi teror dan tindak kekerasan di wilayah hukum Magetan. Diharapkan masyarakat ikut meningkatkan kewaspadaan namun tidak panik.

“Saya minta masyarakat ikut membantu Polri dalam menjaga situasi keamanan wilayah. Mulai dari bantuan informasi ataupun lainnya yang dapat berakibat pada gangguan ketertiban dan keamanan,” tambahnya.

Pihaknya juga terus melakukan koordinasi dengan pimpinan polres sekitar, baik di wilayah eks-Keresidenan Madiun maupun perbatasan Jawa Tengah guna mempersempit ruang gerak teroris.  (hid/gus)