Komunitas Reog, Memprotes Pembakaran Alat Kesenian di KJRI Davao Filipina

 

Agus Setyoko dan Topeng Dadak Merak

Agus Setyoko dan Topeng Dadak Merak

Ponorogo (Sergap) – Akhirnya, Komunitas Reog Jabodetabek memprotes kejadian pembakaran alat kesenian Reog di Konsulat Jenderal RI di Davao Filipina yang marak diberitakan di situs online dan media sosial. Protes dilaksanakan dalam bentuk melayangkan surat resmi ke Konsul Jenderal RI di Davao, Filipina untuk meminta klarifikasi kabar pembakaran alat kesenian reog oleh oknum pejabat KJRI, sebagaimana tersiar di sejumlah situs online dan media sosial.

“Kami ingin mendapat penjelasan secara resmi dan tertulis, karena dalam klarifikasi sebelumnya pihak KJRI membenarkan kabar tersebut namun dengan dalih alat kesenian dimaksud sudah rusak,” kata Sekjen Paguyuban Reog Jabodetabek (Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi), Agus Setiyoko, dalam rilisnya via email, Minggu (101/10/2015).

Ada tiga poin permohonan klarifikasi yang mereka ajukan ke pihak KJRI Davao, Filipina. Pertama, meminta penjelasan secara resmi dan tertulis terkait kasus pembakaran perangkat kesenian reog yang dilakukan pihak KJRI Davao, Filipina.

Kedua pihaknya juga mempertanyakan menyebarluasnya berita pembakaran perangkat kesenian reog itu di sejumlah media “online” (dalam jaringan/daring) yang menyebut alasan pembakaran karena dianggap berhala.

Ketiga pemintaan kepada pihak KBRI ataupun KJRI di Davao City, Filipina untuk memuat atau mensiarkan klarifikasi atas isu pembakaran benda-benda kesenian reog itu di sejumlah media nasional.

“Kami juga menuntut pihak KJRI ataupun melalui Kedutaan Besar RI di Filipina agar meminta hak klarifikasi kepada media-media yang mengangkat pemberitaan itu untuk menghindari kesimpangsiuran kabar yang berkembang di tanah air,” ujarnya.

Surat klarifikasi itu menggunakan kop Paguyupan Reyog Jabodetabek nomor 023/PRPJ/X/2015 itu tidak hanya dikirim melalui pesan elektronik ke KJRI di Davao City, tetapi juga ditembuskan ke Kementrian Luar Negeri RI, dan Bupati Ponorogo.

Menurut Agus, dalam surat sejenis sebelumnya yang sempat ia ajukan ke pihak KJRI, Konjen RI di Davao City, Eko Hartono sempat memberikan balasan melalui pesan elektronik serupa dan membenarkan kabar pembakaran sejumlah perangkat kesenian reog oleh pihak staf KJRI setempat.

Reog dan Hiasan gamelan dibakar di KJRI Davao pada 20 Oktober 2015 (bitungnews.com)

Reog dan Hiasan gamelan dibakar di KJRI Davao pada 20 Oktober 2015 (bitungnews.com)

Namun, Konjen Eko Hartono sebagaimana dikutip melalui pesan elektronik yang diterima Agus Setiyoko, pembakaran terpaksa dilakukan karena alat kesenian yang telah berusia 30 tahun tersebut kondisinya sudah rusak dan dimakan rayap. “Bapak Eko selaku Konjen RI di Davao malah mengatakan jika mereka bersykur karena bisa berkomunikasi (melalui email) dengan Komunitas Reog di Indonesia sehingga bisa meminta masukan untuk pengadaan sejumlah perangkat kesenian Reog yang baru di sana,” ungkap Agus.

Agus mengatakan, masyarakat pecinta dan pelaku Seni Reog di tanah air masih membutuhkan penjelasan secara resmi dan terbuka yang bisa dibaca di media nasional agar tidak terus memicu kekecewaan atau bahkan kemarahan masyarakat Komunitas Reog di Indonesia. “Surat kedua yang kami ajukan di atas lebih menjadi cermin keterkejutan dan kekecewaan masyarakat Indonesia khususnya Komunitas dan Seniman Reog di tanah air atas peristiwa pembakaran benda-benda untuk kesenian Reog tersebut,” kata Agus menjelaskan.

Pemberitaan mengenai pembakaran sejumlah property Kesenian Reog seperti Gayor, Topeng Dadak Merak serta tempat Gamelan Kepala Naga muncul di sejumlah media online seperti bitungnews.com, ponorogonews.com, republikaonline.com, serta suryaonline.com. Foto yang menyertai berita tersebut tampak pembakaran Topeng Dadak Merak untuk Kesenian Reog dilakukan di halaman sebuah rumah yang didiuga sebagai kantor KJRI di Davao City, Filipina. (tim)

Usia Baru 2 Tahun Sudah Berpenghasilan Rp 8 Miliar

Sire bersama ayahnya, Curtis Jackson (foto kiri) dan saat tampil di lantai peragaan busana Isabella Couture bersama sang ibu, Daphne Joy.

Sire bersama ayahnya, Curtis Jackson (foto kiri) dan saat tampil di lantai peragaan busana Isabella Couture bersama sang ibu, Daphne Joy.

TERNYATA Rapper 50 Cent, yang sukses memperoleh kekayaan dari karier bermusik, ternyata juga makin kaya karena penghasilan putranya. Sire Jackson, putra 50 Cent yang sudah mampu menghasilkan pundi-pundi uang dalam jumlah besar, ketika masih berusia balita.

Baru-baru ini, penyanyi musik Rap berusia 39 tahun tersebut, mengatakan bahwa sang putra sudah mengikuti jejaknya berkarier di dunia hiburan. Sebab, Sire baru saja menyetujui kontrak senilai 700.000 dollar AS atau setara sekitar Rp 8,1 miliar sebagai model Kidz Safe, perusahaan yang memproduksi headphone untuk anak-anak.

“Kidz Safe adalah sebuah perusahaan audio. Mereka berani membayar Sire dalam jumlah besar sebagai model produknya. Saya siap mengatakan pada Sire bahwa uang itu akan digunakan untuk biaya kuliahnya. Namun, saya memutuskan untuk menunda mengatakannya dan membiarkan dia menikmati uang itu,” ujar 50 Cent, yang bernama asli Curtis Jackson.

Saat resmi menjadi model nanti, sebenarnya bukan kali pertamanya Sire muncul di hadapan publik. Beberapa waktu lalu, tepatnya tanggal 10 Maret 2015 silam, Sire tampil di lantai peragaan busana Isabella Couture, sebuah label mode busana anak-anak, di Hollywood. Saat itu, Sire tampil digendong oleh Daphne Joy, sang ibunda.

Dalam peragaan busana tersebut, Sire yang berambut keriting tampil begitu menawan mengenakan setelan jas berwarna abu-abu. Sang ibunda yang merupakan mantan model tersebut pun tampil cantik dengan mengenakan gaun one shoulder berwarna merah muda didukung tatanan rambut tergerai.

“Di menit-menit terakhir sebelum tampil di lantai peraga, anak saya demam panggung sehingga ibunya harus berjalan mendampinginya. Sire adalah model termuda di pentas peragaan busana saat itu dan ia tampil dengan sangat baik hingga akhir acara,” ungkap 50 Cent dengan penuh rasa bangga.

Semua orang tua, pasti akan bangga kalau punya anak balita sudah mampu berpenghasilan milyaran seperti Sire Jackson. Kapan ya anak Indonesia akan seperti dia?

Sumber : US Mgazine

Memikatnya Festival Gandrung Sewu 2014 di Banyuwangi

Gerak tari yang dinamis dan pakaian merah menyala, memikat yang melihatnya

Gerak tari yang dinamis dan pakaian merah menyala, memikat yang melihatnya

Banyuwangi (Sergap) – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Banyuwangi, kembali menggelar Festival Gandrung Sewu di Pantai Boom pada Sabtu (29/11/2014) yang melibatkan lebih kurang 1.200 penari gandrung.

“Seperti tahun-tahun sebelumnya, Festival Gandrung Sewu akan menyuguhkan pemandangan yang memukau, di mana ribuan penari dengan busana dominan merah tampak menawan terkena semburan sinar sunset (matahari saat tenggelam),” kata Yanuarto Bramuda, Plt. Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Pemkab Banyuwangi.

Tari Gandrung adalah salah satu tarian khas Banyuwangi yang telah ditetapkan sebagai “Warisan Budaya Bukan Benda” oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pada 2013.

Pada penyelenggarannya yang ketiga, Festival Gandrung Sewu mengangkat tema “Seblang Subuh” yang dikemas lebih lengkap dengan iringan musik rancak dan sentuhan teatrikal. Adapun Seblang Subuh bermakna permohonan ampun kepada yang maha kuasa.

Pertunjukan kolosal itu akan diawali dengan munculnya beberapa lelaki yang membawa penjor. Mereka adalah mantan prajurit-prajurit Blambangan yang tengah berusaha mengumpulkan rekan-rekan seperjuangannya di masa lalu.

Setelah terkumpul beberapa orang, mereka menasbihkan diri sebagai Gandrung Marsan (Gandrung laki-laki). Kemunculan Gandrung Marsan ini tepat pada masa pemerintahan Bupati ke-5 Banyuwangi, yakni Bupati Pringgokusumo.

Pada awalnya, penari Gandrung memang dibawakan seorang laki-laki atau yang biasa disebut Gandrung Marsan. Lambat laun Gandrung berkembang dan lebih banyak dibawakan perempuan. Penari Gandrung perempuan pertama adalah Gandrung Semi.

Dalam Festival Gandrung Sewu ini, adegan munculnya Gandrung Semi diikuti ribuan penari gandrung berkostum merah yang menghambur dari berbagai arah dan kemudian menyatu di satu titik juga dipentaskan.

Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas

Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas

Dengan menggelar Festival Gandrung Sewu secara rutin setiap tahun, Pemkab Banyuwang Provinsi Jawa Timur, akan lebih intensif menggarap pariwisata budaya untuk menggaet kunjungan wisatawan.

Pariwisata budaya akan membuat orang ingin mencari tahu mengenai seni budaya yang ada di suatu daerah. “Salah satu tren wisata yang semakin berkembang adalah pariwisata budaya, yakni jenis pariwisata yang mengandalkan kebudayaan khas sebuah tempat, mulai dari tradisi, kesenian, upacara, hingga kuliner, yang bisa memberikan pengalaman tentang keanekaragaman dan identitas dari sebuah masyarakat. Ini yang sedang kami garap di Banyuwangi,” kata Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas, di lokasi acara.

Selain Festival Gandrung Sewu, Banyuwangi Ethno Carnival, Batik Festival, atau Festival Kebo-Keboan dan Festival Rujak Soto, adalah potret secara lengkap tentang kebudayaan Banyuwangi. “Pendekatan pariwisata budaya memberi titik tekan pada inisiatif lokal untuk diangkat ke skala nasional dan global, yang nantinya bisa berujung pada peningkatan pergerakan ekonomi rakyat berbasis seni budaya,” kata bupati menambahkan. (af/adv)

Gelar Parade Jaranan 2014, Untuk Pertahankan Seni Tradisional Bangsa

Blitar (Sergap) – Dalam rangka nguri-nguri budaya Jawa, khususnya seni tradisional Jaranan, Dinas Kominparda Kota Blitar pada Minggu (23/08/2014) yang lalu, mulai pukul 09.00 WIB menggelar Parade Jaranan bertempat di Istana Gebang Kota Blitar.

Penmpilan salah satu peserta Parade Jaranan 2014

Penampilan salah satu peserta Parade Jaranan Kota Blitar 2014

Kabid Plt Seni Budaya Kominparda Kota Blitar Supraptono, SH, selaku Ketua Panitia Parade Jaranan 2014, mengatakan bahwa even ini bertujuan untuk menggali potensi kesenian tradisional Jaranan, sekaligus memperingati HUT RI ke 69.

“Maksud dan tujuan diadakan parade jaranan ini adalah untuk memelihara, melestarikan dan meningkatkan kesenian tradisional jaranan sebagai asset pariwisata dan kasanah budaya daerah dalam menunjang kebudayaan nasional, meningkatkan fungsi kesenian daerah sebagai penangkal masuknya budaya asing yang tidak sesuai dengan nilai-nilai luhur budaya bangsa dan sebagai ajang untuk mendorong kreativitas seniman dalam kiprahnya secara positif, responsif dalam berkesenian yang lebih baik dan berkualitas,” jelas Supraptono kepada Tabloid Sergap.

Ketua Pakoja (Paguyuban Kelompok Jaranan) Kota Blitar, Eko Purwanto, SPd, ada 9 group Jaranan yang menjadi peserta, setiap kecamatan mengirimkan 3 group yang belum pernah menjadi juara.

Mereka adalah Gesang Megantoro Putro, Turonggo Sekar Wijoyo, dan Sido Muncul Putro dari Kecamatan Sananwetan. Kuda Taruna Putra, Turonggo Putro Wiro Yudho dan Turonggo Giono Mudho dari Kecamatan Kepanjenkidul. Rukun Budoyo, Turonggo Tmtomo Mudo dan Turonggo Mudo Utomo dari Kecamatan Sukorjo.

Dari kiri Kadin Kominparda Wikandrio SH, Kepala UPT. PIPP Heru Santoso S. Sos, PLT Kabid Seni Budaya Dinas Kominparda Supraptono SH

Dari kiri Kadin Kominparda Wikandrio SH, Kepala UPT. PIPP Heru Santoso S. Sos, PLT Kabid Seni Budaya Dinas Kominparda Supraptono SH

Juri menilai 3 group terbaik non rangking dan berhak mendapatkan trophy dan piagam penghargaan dan berhak tampil setiap Sabtu malam, di PIPP dan Minggu pagi di Istana Gebang secara bergantian.

Kepala Dinas Kominparda Kota Blitar, Wikandrio, SH mengatakan bahwa kesenian jaranan banyak tersebar di Jawa Timur, yang menjadi dengan trade merk, Barongan dan Pecut. Untuk itu diharapkan agar Jaranan Kota Blitar dapat melakukan kreasi sehingga dapat menjadi ciri khas Jaranan kota Blitar. “Kami harapkan agar kelompok Jaranan yang diwadahi oleh Pakoja semakin berkreasi dan berkembang untuk dapat menunjukkan kepada masyarakat, eksistensi seni Jaranan di Kota Blitar,” katanya berpesan.

Wikandrio menambahkan, bahawa acara ini diadakan rutin setiap tahun, dan diharapkan jika jika tahun ini pesertanya 9 group, maka tahun depan dapat lebih banyak lagi pesertanya. Tampak hadir dalam acara ini, lurah dan camat se Kota Blitar, seniman dan warga.

Sudah menjadi kewajiban kita semua, untuk mempertahankan dan menghargai budaya warisan nenek moyang kita ini. Bukan hanya kemudian marah-marah ketika kemudian kesenian ini diklaim oleh negara tetangga. (oke)

Kabupaten Kediri Sukses Rebut Juara Umum Porseni MTs Se-Jawa Timur 2013

Gus Ipul saat membuka Porseni MTs Se-Jawa Timur 2013 di stadion Brawijaya Kediri

Gus Ipul saat membuka Porseni MTs Se-Jawa Timur 2013 di stadion Brawijaya Kediri

Kediri (Sergap) – Dalam ajang Porseni MTs Se-Jawa Timur Tahun 2013, yang diselenggarakan di Kediri, akhirnya kontingen Kabupaten Kediri berhasil meraih Tropi Juara Umum Porseni Kabupaten Kediri berhasil meraih 7 emas, 5 perak dan 3 perunggu.

Perolehan medali emas tersebut empat diantaranya dari cabang olah raga dan yang tiga dari cabang seni. Cabang olah raga antara lain, Bola Voly Putri, diwakili club handal MTsN Puncu, Bulu Tangkis Putra oleh Wahid Muhlisin dari MTsN Model Pare, Lari 100M Putra oleh Andrik Setiawan dari MTsN Pagu dan Tenis Meja Ganda Putri, Endang Mustiani dan Devi Ariani dari MTs, Sunan Ampel.

Sementara untuk Cabang Seni Band Kab Kediri berjaya meraih medali emas; Kaligrafi Putri oleh Asmaul Husna dari MTsN Model Pare; dan Pidato Bahasa Arab Putra oleh M Khikamudin dari MTs Al-Hikmah.

Kabid Mapenda Kanwil Kemenag Jawa Timur Drs. H. Mahfud Sodar, M.PdI mengatakan, kegiatan ini merupakan salah satu ajang dan program pembinaan olahraga dan seni pelajar MTs melalui kompetisi dalam rangka memberi pengalaman bertanding dan berlomba di bidang olahraga dan seni. “Program tahunan ini, dari tahun ke tahun semakin meningkat. Kemampuan dan kecintaan santri madrasah terhadap olahraga juga semakin menonjol,” ungkap Mahfud, Jumat (1/38/2013)

Pihaknya berharap prestasi yang telah dicapai Porseni MTs Jawa Timur tahun 2013 ini bisa menjadi motivasi untuk berbuat yang lebih baik untuk meraih prestasi yang lebih baik di tahun yang akan datang.

Seperti diketahui, acara pembukaan porseni tingkat Mts se Jatim dibuka Wakil Gubernur Jawa Timur Saifullah Yusuf. Pemprov Jatim mendukung penuh kegiatan Porseni ini. Acara ini selain memajukan olahraga juga sebagai media untuk mencari bibit-bibit baru yang bahkan bisa sampai tingkat nasional.

Dalam acara itu, diikuti sekitar 3.506 peserta serta 850 “official” seluruh Jawa Timur. Mereka mengikuti beragam pertandingan yang diselenggarakan. Kegiatan ini berlangsung tiga hari mulai 23-26 Februari 2013. Lokasi pertandingan dibagi di dua tempat yaitu Kota dan Kabupaten Kediri. (pur/tri)