Dinkes Jatim Jamin Virus Zika Tidak Masuk Jawa Timur

Kadinkes jatim dr-Harsono

Kepala Dinas Kesehatan Jawa Timur dr. Harsono

Surabaya (Sergap)  – Dinas Kesehatan Jawa Timur (Dinkes Jatim) memastikan bahwa Virus Zika yang belakangan menyerang sejumlah negara-negara di Amerika Selatan tidak akan masuk wilayah Jatim. Untuk memastikannya, pemerintah terus melakukan pemeriksaan setiap warga asing dan Indonesia yang baru datang dari luar negeri.

“Saat ini, pemerintah melakukan pemeriksaan di beberapa pintu masuk seperti bandara dan pelabuhan dengan target sasaranpemeriksaan warga asing dan Indonesia yang baru datang dari luar negeri, untuk memastikan Virus Zika tidak masuk keIndonesia,” kata Kepala Dinkes Jatim, dr. Harsono, Kamis (4/2/2015).

Harsono mengimbau kepada masyarakat agar melakukan pola hidup bersih dan sehat, termasuk menjaga kebersihan lingkungan. ”Virus Zika menular ke orang melalui nyamuk, jika lingkungan rumah bersih maka perkembangbiakan nyamuk sulit terjadi,” katanya.

Dikatakannya, dampak dari Virus Zika ini hanya terdapat pada kelainan kepala bayi yang baru dilahirkan, atau kepala tidak bisamembesar sesuai usianya. ”Kita tidak ingin bayi yang dilahirkan nantinya mengalami kelainan pada kepala, karena itu peran serta warga masyarakat dalam mengawal kebersihan lingkungan lewat program pemberantasan sarang nyamuk perlu digalakkan,”tuturnya.

Harsono meminta masyarakat Jatim bersama-sama melakukan tindakan preventif atau pencegahan terhadap penyakit. Denganpencegahan dini dapat meminimalisir terjadinya penularan penyakit. ”Jika masyarakat melakukan pencegahan, maka jumlah pasien yang datang ke rumah sakit akan berkurang,” terangnya..

Sementara itu Menteri Kesehatan RI, Prof dr. Nila Farid Moeloek SpM(K) dalam siaran persnya memberikan pesan agar masyarakat tetap waspada terhadap perkembangan Virus Zika, namun hendaknya tidak panik dan berlebihan.

Bagi warga negara Indonesia yang hendak berkunjung negara yang sedang terjadi Kejadian Luar Biasa (KLB) Virus Zika, dianjurkan untuk menghindarkan diri dari gigitan nyamuk dengan cara memakai pakaian panjang dan tertutup, menggunakan obat oles anti nyamuk, dan tidur menggunakan kelambu atau dalam kamar dengan kawat kassa anti nyamuk.

Selanjutnya, dianjurkan untuk segera memeriksakan diri ke dokter bila mengalami sakit. “Wanita hamil dianjurkan sebaiknya tidak berkunjung ke negara yang sedang KLB penyakit Virus Zika. Jika terpaksa harus melakukan perjalanan ke negara tersebut,hendaknya melakukan tindakan pencegahan dari gigitan nyamuk secara ketat”, ujar Menkes.

Bagi siapa saja yang baru kembali dari negara yang sedang mengalami KLB penyakit Virus Zika, juga diminta untuk memeriksakan kondisi kesehatannya dalam kurun waktu14 hari setelah tiba di Indonesia. “Segera periksakan diri ke dokter apabila mengalamikeluhan atau gejala demam, ruam kulit, nyeri sendi dan otot, sakit kepala dan mata merah. Jangan lupa, sebutkan riwayat perjalanan dari negara yang sedang KLB penyakit Virus Zika kepada dokter pemeriksa”, pesan Menkes.

Dalam rangka melindungi masyarakat Indonesia terhadap kemungkinan tertular penyakit yang bersumber dari Virus Zika, Pemerintah perlu mengambil langkah untuk mencegah kemungkinan masuknya virus dari luar negeri yang dilakukan oleh tingginya intensitas lalu lintas barang dan manusia lintas negara. Untuk itu Kementerian Kesehatan akan meningkatkan kewaspadaan di pintu masuk negara melalui Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) di seluruh bandara dan pelabuhan di Indonesia. Upaya lainnya adalah meningkatkan pelayanan di fasilitas kesehatan.

Negara-negara yang mengalami KLB Virus Zika, yaitu: Brazil, Cape Verde, Colombia, El Savador, Honduras, Martinique, Panama, dan Suriname. Sedangkan negara-negara yang memiliki status transmisi aktif, yaitu: Barbados, Bolivia, Curacao, The Dominican Republic, Ecuador, Fiji, French Guiana, Guadalope, Guatemala, Guyana, Haiti, Meksiko, New Caledonia, Nicaragua, Paraguay, Puerto Rico, Saint Martin, Samoa, Tonga, Thailand, US Virgin Islands, dan Venezuela. (win)

 

Iklan

Ternyata Virus Zika Ditularkan Nyamuk Aedes Aegypti

virus zika oke

Nyamuk Aedes Aegypty

Virus Zika adalah virus yang proses penularannya melalui media nyamuk Aedes Aegypti. Masih satu family dengan virus lain seperti virus penyebab penyakit demam berdarah, penyakit kuning, dan penyakit chikungunya.

Beberapa riset mengembangkan kecurigaan adanya kemungkinan penyebaran virus ini di luar media nyamuk, seperti melalui proses tranfusi darah dan hubungan seks. Meski dugaan ini belum bisa dibuktikan kebenarannya.

Virus ini pertama ini diidentifikasi pada tahun 1947 di negara Uganda. Temuan pertama kali dari kasus Virus Zika justru didapatkan dari kasus demam yang muncul pada binatang Kera asli endemik Uganda. Kemudian virus ini menjangkit manusia dan pernah menyerang sejumlah populasi manusia di kawasan Afrika secara meluas pada tahun 1954.

Dan kasus pertama dari penyakit yang disebabkan oleh Virus Zika di luar Afrika terjadi di Yap Island, sebuah pulau di kawasan Pasifik Mikronesia pada tahun 2007. Semenjak itu, kasus Virus Zika beberapa kali muncul dalam frekuensi yang tidak kuat di kawasan Pasifik. Di Asia Tenggara sendiri kasus ini masih terbilang sangat langka.

Efek Serius terhadap Wanita Hamil

Menurut laman resmi Depkes RI dikatakan bahaya terbesar dari serangan Virus Zika justru muncul pada ibu hamil, karena ibu hamil yang positif memiliki virus tersebut kemungkinan bisa menularkan virus tersebut pada janin dalam kandungannya. Dan Virus Zika akan menyerang jaringan otot dan sistem saraf termasuk sistem saraf pusat di otak dari janin.

Menurut laman itu juga dikatakan hubungan infeksi Virus Zika pada ibu hamil dengan kejadian cacat mikrosefalus (ukuran otak yang kecil) pada bayi yang dilahirkan belum terbukti secara ilmiah, namun bukti ke arah itu semakin kuat.

Dalam temuan di Brazil yang diketahui sebagai salah satu kota di Amerika Latin dengan kasus Zika Virus yang tinggi pada tahun 2015, terjadi peningkatan signifikan kasus bayi yang lahir dengan cacat Mikrosefalus.

Berdasarkan data pada tahun 2015, di Brazil secara keseluruhan ditemukan kasus Virus Zika hingga ribuan temuan dengan 500 lebih kasus diderita oleh ibu hamil pada bulan Desember 2015 lalu. Dan dari angka tersebut ditemukan 150 kasus ibu hamil yang akhirnya melahirkan bayi dengan Mikrosefalus. Menurut pemberitaan CNN secara total diperkirakan ada peningkatan bayi dengan Mikrosefalus hingga 4000-an kasus sepanjang tahun 2015 hingga Januari 2016 ini. Efek serius terhadap wanita hamil hanyalah salah satu dari beberapa potensi bahaya Virus Zika.

Gejala Infeksi Virus Zika

Beberapa pakar melihat adanya banyak kesamaan gejala antara Demam Berdarah dengan Demam Virus Zika. Keduanya sama-sama diawali dengan demam yang naik turun serta rasa linu hebat pada persendian dan tulang. Kadang juga disertai mual, pusing, rasa tidak nyaman di perut dan disertai rasa lemah dan lesu yang hebat.

Beberapa kesamaan sebagai gejala awal membuat penyakit ini diidentifikasi secara keliru dengan penyakit demam berdarah. Namun sebenarnya terdapat beberapa gejala khas yang bisa membedakan keluhan infeksi Virus Zika dengan penyakit Demam Berdarah, beberapa tanda khusus tersebut antara lain:

  • Demam cenderung tidak terlalu tinggi, kadang maksimal hanya pada suhu 38 derajat celcius. Cenderung naik turun sebagaimana gejala demam berdarah, tetapi tidak terlalu tinggi.
  • Muncul beberapa ruam pada kulit yang berbentuk makulapapular atau ruam melebar dengan benjolan tipis yang timbul. Kadang ruam meluas dan membentuk semacam ruam merah tua dan kecoklatan yang mendatar dan menonjol.
  • Muncul rasa nyeri pada sendi dan otot, kadang disertai lebam dan bengkak pada sendi dan otot seperti terbentur dan keseleo ringan.
  • Kerap muncul keluhan infeksi mata menyerupai konjungtivitas dengan mata kemerahan. Kadang warna sangat kuat pada bagian dalam kelopak sebagai tanda munculnya ruam pada bagian dalam kelopak mata.

Meski beberapa pakar kesehatan belum mengibarkan bendera putih yang menandakan penyakit ini tidak berbahaya. Namun sejauh ini tidak ada kasus kematian yang muncul karena infeksi Virus Zika. Penyakit yang memang masih dalam riset sejauh ini tidak menandakan sebagai penyakit berbahaya kecuali adanya masalah gangguan sendi, sakit kepala hebat, dan ruam yang membuat kulit terasa kurang nyaman dan gatal.

Penyakit yang memerlukan masa inkubasi 3 hari sebelum serangan ini juga kerap kali sembuh dengan sendirinya tanpa pengobatan medis yang serius. Penanganan paling efektif menurut Dr. Herawati adalah dengan meningkatkan asupan vitamin C, E, B, dan A dalam tubuh untuk memicu sistem kekebalan tubuh membentuk perlawanan alami terhadap Zika Virus. Dalam kondisi tubuh yang baik, penyakit infeksi Virus Zika dapat pulih dalam tempo 7 sampai 12 hari.

Noni Juice

Dunia medis sampai saat ini masih belum menemukan obat yang khusus untuk menyembuhkan Virus Zika. Karena itu, sampai saat ini pun belum ada herbal yang dinyatakan sebagai obat zika virus. Namun bagi Anda yang ingin memanfaatkan herbal untuk mencegah Virus Zika, maka pilihan tepatnya ialah herbal Noni Juice.

Riset ilmiah yang dilaksanakan pada Burns School of Medicine di University of Hawaii mengungkapkan bahwa Noni Juice mengandung zat yang kaya polisakarida yang telah terbukti ampuh meningkatkan sistem kekebalan tubuh. Cara kerjanya ialah dengan meningkatkan aktivitas sel-sel darah putih untuk menyerang infeksi virus.

Ditambah lagi, Noni Juice aman dikonsumsi oleh ibu hamil. Jika ibu hamil rutin mengonsumsi Noni Juice, maka bukan hanya sang ibu saja yang menambah perlindungannya terhadap Virus Zika, tetapi juga janin yang dikandungnya dibantu terlindung dari ancaman cacat Mikrosefalus.

Dengan meminumnya setiap hari, kekebalan tubuh Anda dioptimalkan untuk melawan berbagai serangan infeksi, termasuk infeksi Virus Zika. Itulah alasannya mengapa Noni Juice merupakan salah satu pilihan terbaik dalam membantu pencegahan Virus Zika bagi Anda dan keluarga.

Virus Zika di Indonesia

Belakangan dunia kesehatan Indonesia digegerkan oleh temuan yang diungkap oleh Dr. Herawati Sudoyo Ph.D, Deputi Direktur Eikjman Institute. Disampaikan bahwa lembaga kesehatan ini menemukan munculnya kembali kasus Virus Zika di Indonesia, tepatnya di kawasan Jambi pada awal semester tahun 2015 lalu.

Temuan ini cukup mengejutkan mengingat virus ini biasanya menjadi endemik kawasan Afrika dan area pasifik. Virus Zika ini terbilang jarang muncul di kawasan Asia Tenggara.

Meski demikian, virus yang ditularkan melalui nyamuk Aedes Aegypti ini sudah pernah meninggalkan jejaknya di Indonesia pada 1970-an.

Virus Zika dilaporkan bersirkulasi di Indonesia sejak tahun 1977. Pada tahun 1981 dilaporkan ada 7 orang penderita infeksi virus di Klaten, Jawa Tengah yang positif secara serologis terinfeksi Virus Zika. Seluruhnya terdeteksi dari hasil surveilans penderita demam berbasis rumah sakit yang dilakukan di RS Tegalyoso Klaten.

Manifestasi klinis lain yang muncul pada pasien Virus Zika positif tersebut antara lain : anorexia, diare, konstipasi, nyeri lambung, dan pusing. Satu pasien menunjukkan adanya conjunctivitis tetapi tidak ada yang menunjukkan gambaran ruam.

Pada tahun 1983, dalam studi serologis di Lombok, Nusa Tenggara Barat menunjukkan bahwa 6 dari 71 sampel (13%) menunjukkan adanya netralisasi antibodi terhadap ZIKV.

Tahun 2012, infeksi Virus Zika kembali dilaporkan teradi di Indonesia. Seorang perempuan Australia berusia 52 tahun dilaporkan mengalami tidak enak badan dan ruam setelah berlibur selama 9 hari ke Jakarta.

Saat di Australia, perempuan tersebut mengalami kelelahan, tidak enak enak badan dan sakit kepala. Empat hari setelah gejala, muncul ruam yang diikuti dengan nyeri otot .Hasil analisis laboratorium menunjukkan pasien tersebut positif terinfeksi Virus Zika.

Tahun 2015, Lembaga Biologi Molekuler Eijkman juga melaporkan adanya kasus terkonfirmasi Virus Zika di Indonesia.

(Tkr, dari berbagai sumber)

 

Proyek Alkes RSUD Kota Madiun Dibidik Kejaksaan

RSUD Kota Madiun oke

Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kota Madiun

Madiun (Sergap) – Proyek pengadaan alat kesehatan (alkes) di RSUD Kota Madiun, Jawa Timur sedang dibidik Kejaksaan Negeri Kota Madiun. Proyek senilai Rp. 2 Milyar tersebut patut diduga sarat dengan penyalahgunaan dalam pelaksanaannya.

“Ada atau tidaknya penyimpangan, masih diselidiki. Sejauh ini baru pemanggilan perdana sejumlah pihak dari RSUD Kota Madiun,” ujar Kepala Kejaksaan Negeri Kota Madiun Madiun, Paris Pasaribu, kepada wartawan, Rabu (20/01/2016).

Ditambahkan oleh Paris Pasaribu, bahwa kasus tersebut masih memasukki tahap awal penyelidikan dan butuh proses pendalaman lebih lanjut. Sejauh ini telah memasuki tahap pengumpulan bahan keterangan (pulbaket).

Sejumlah pihak yang telah dipanggil dan dimintai keterangan antara lain, Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan (PPTK) Sri Marhaendra Datta, Kasi Pelayanan Medik drg. Priyo Rahardjo, Kasi Keuangan Yuda K, dan Apoteker Yusuf.

Namun sejauh ini, Kejaksaan Negeri Kota Madiun masih belum menyimpulkan apakah laporan masyarakat terkait proyek alat kesehatan dan proyek fisik tahun 2013, 2014 dan 2015 itu, memang telah ditemukan adanya kerugian negara atau tidak.

“Ada beberapa yang kita dalami, termasuk Alkes. Mungkin ada juga bangunan fisik. Yang kita klarifikasi adalah proyek anggaran mulai tahun 2013, 2014 dan 2015. Ini baru awal saja, semuanya masih kita dalami,” kata dia.

Tentang kemungkinan pemanggilan terhadap Direktur RSUD Kota Madiun, Resty Lestantini, Paris Pasaribu mengaku menyerahkan sepenuhnya kepada tim penyidik. “Siapa menurut mereka para penyidik yang dibutuhkan keterangannya, ya akan kita panggil,” tambah Pasaribu.

Sementara itu, Wali Kota Madiun Bambang Irianto menyatakan pihaknya yakin jika tidak ada masalah di RSUD Kota Madiun. Pihaknya mengaku telah memanggil Direktur RSUD Kota Madiun, Resty Lestantini, guna diminta keterangannya.

Menurutnya, pengadaan semua alkes di rumah sakit milik pemkot tersebut sudah masuk dalam sistem elektronik katalog (e-katalog). “Jika pengadaan alkes sudah terdaftar di E-katalog, anggaran tidak dapat diselewengkan. Saya yakin tidak ada penyelewengan anggaran dalam pengadaan Alkes di RSUD Kota Madiun,” kata Bambang Irianto.

Meski demikian, Walikota menghormati proses hukum yang dilakukan Kejari Madiun untuk mengusut dugaan penyelewengan anggaran di lingkup Pemkot Madiun. Ia tidak akan melakukan intervensi dalam hal itu karena bukan pemegang anggaran. (HS)

Penggunaan Anti Biotik di Jawa Timur Mengkhawatirkan

dr. harsono

dr. Harsono, Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur

Surabaya (Sergap) – Cara penggunaan obat antibiotik yang dilakukan di dunia medis saat ini sudah cukup mengkhawatirkan, karena sering disalahartikan setiap pasien sakit selalu mengonsumsi antibiotik. Hal ini akan membawa dampak tersendiri bagi beberapa organ tubuh kita.

“Terlebih lagi bila diberikan kepada bayi dan anak-anak, karena sistem tubuh dan fungsi organ pada bayi dan anak-anak masih belum tumbuh sempurna. Gangguan organ tubuh yang bisa terjadi adalah gangguan saluran cerna, gangguan ginjal, gangguan fungsi hati, gangguan sumsum tulang, gangguan darah dan sebagainya,” ungkap dr. Harsono, Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur, Rabu (18/11/2015).

Pemakaian antibiotik berlebihan atau irrasional juga dapat membunuh kuman yang berguna yang ada didalam tubuh kita. Sehingga tempat yang semula ditempati oleh bakteri bermanfaat ini akan diisi oleh bakteri jahat atau oleh jamur atau disebut “superinfection”. Pemberian antibiotik yang berlebihan akan menyebabkan bakteri-bakteri yang tidak terbunuh mengalami mutasi dan menjadi kuman yang resisten atau disebut “superbugs”.

“Akibat lainnya adalah reaksi alergi karena obat. Gangguan tersebut mulai dari yang ringan seperti ruam, gatal sampai dengan yang berat seperti pembengkakan bibir atau kelopak mata, sesak, hingga dapat mengancam jiwa atau reaksi anafilaksis,” papar Kepala Dinas yang pernah menjabat sebagai Bupati Ngawi ini.

Terkait hal itu, Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Jawa Timur segera membuat regulasi bagi kalangan insan kesehatan terkait penggunaan antibiotik yang akan diberikan kepada pasien sebagai salah satu metode pengobatan. “Banyak di antara petugas medis yang sering menggunakan antibiotik yang dimasukkan di salah satu resep obat kepada pasien,” tegasnya.

Saat ini, tingkat resistensi pasien di RS Dr. Sutomo terhadap antibiotik berkisar antara 31 sampai dengan 45 persen. Angka tersebut cukup tinggi jika dibandingkan dengan luar negeri yang hanya berkisar antara 5 persen saja. Kalau kondisi ini terus dibiarkan, tidak menutup kemungkinan obat yang diberikan kepada pasien tidak akan berfungsi dengan maksimal.

“Oleh karena itu, kami terus melakukan sosialisasi dan juga membuat regulasi terkait dengan penggunaan antibiotik supaya penggunaannya bisa dikendalikan,” kata Kadinkes menegaskan.

Dokter yang pernah menjabat Bupati dua peiode ini juga menginformasikan, bahwa masalah penggunaan antibiotik, bukan satu-satunya yang saat ini menjadi perhatian khusus Dinas Kesehatan Pemprov Jawa Timur.

Permasalahan lainnya seperti banyaknya laboratorium yang tidak menyediakan tenaga antimikroba yang menangani masalah antibiotik ini juga patut menjadi perhatian. Peranserta dari pemerintah kabupaten dan kota di daerah di masing-masing sangat dibutuhkan supaya pengendalian antibiotik ini bisa segera dilakukan.

“Dan yang terakhir, yaitu budaya atau mengubah pola pikir masyarakat terkait dengan penggunaan antiobiotik yang berlebihan saat terkena penyakit juga perlu dikendalikan dengan serius,” kata dr. Harsono mengakhiri perbincangan. (win)

Wabup Kukuhkan Pengurus FMM KIA Grobogan 2015-2019

Wakil Bupati Grobogan Icek Baskoro, SH sedang menyematkan pin kepada Ketua FMM KIA dr. Henny Sutrisno

Wakil Bupati Grobogan Icek Baskoro, SH sedang menyematkan pin kepada Ketua FMM KIA dr. Henny Sutrisno

Grobogan (Sergap) – Wakil Bupati (Wabup) Grobogan H. Icek Baskoro, SH  mengukuhkan kepengurusan Forum Masyarakat Madani Peduli Kesehatan Ibu dan Anak (FMM KIA) Kabupaten Grobogan, dalam acara Deklarasi dan Lokakarya Penguatan FMM KIA, bertempat di ruang pertemuan Wakil Bupati, Kamis (25/6/2015).

Kepengurusan FMM KIA Kabupaten Grobogan masa bakti 2015-2019 bertindak sebagai Ketua : dr. Henny Sutrisno, Sekretaris : Badiatul Muchlisin Asti, dan Bendahara : Rois Hamdani, M.Ag.

Ketua FMM KIA Kabupaten Grobogan melalui sekretaris Badiatul Muchlisin Asti menyatakan, forum ini dibentuk sebagai arena partisipasi warga untuk menyuarakan kepentingan dan menuntut hak agar pelayanan Kesehatan Ibu, Balita dan Bayi Baru Lahir (KIBBLA) menjadi lebih baik. Selain itu bisa menjadi arena untuk menyampaikan pandangan kepada penyedia layanan dan pemerintah secara bertanggungjawab dan berkualitas.

Forum ini berperan antara lain memberikan identitas sosial bagi para individu dan organisasi untuk berkontribusi bagi penurunan angka kematian ibu dan bayi baru lahir, antara lain terlibat dalam Pokja Expanding Maternal and Neonatal Survival (Emas).

Membantu proses pelayanan gawat darurat dengan kesiapsiagaan masyarakat di tingkat komunitas seperti ambulan, donor darah, dana sehat, dan lain sebagainya. Bertindak sebagai “clearing-house” informasi tentang layanan kesehatan ibu dan anak. Menjembatani kepentingan masyarakat dengan penyedia pelayanan dan pemerintah, misal dalam hal pembiayaanatau jaminan sosial. Membangun rasa aman dan melindungi masyarakat dari kecurangan birokrasi pelayanan. Juga mengkoordinasikan partisipasi ‘action-research’, salah satunya melalui Kartu Laporan Warga

Wabup Grobogan Icek Baskoro, SH dalam sambutannya menyatakan apresiatif terhadap kehadiran FMM KIA Kabupaten Grobogan yang akan ikut berpartisipasi dalam upaya penyelamatan ibu hamil dan melahirkan serta bayi baru lahir. “Saya berharap agar terbentuknya forum ini tidak hanya sekedar latah, namun  memang benar-benar keluar dari hati nurani untuk ikut berperan aktif menurunkan angka kematian ibu melahirkan dan bayi baru lahir”, pesan Wabup.

Dalam kesempatan tersebut, Wabup dan Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Grobogan beserta anggota forum beramai-rami ikut menandatangani deklarasi forum. Kepala DKK Grobogan dr. Johari Angkasa mengakui perlunya bantuan dan kerja sama dari berbagai pihak, termasuk masyarakat sipil yang secara sukarela memberikan pelayanan kepada ibu dan bayi.

Turut hadir dalam kesempatan tersebut Ketua District Leader Team Emas Kabupaten Grobogan Amiruddin, sejumlah SKPD terkait, serta pimpinan rumah sakit dan puskesmas. Sementara Lokakarya Penguatan FMM KIA disampaikan Civil Society Officer Emas Jawa Tengah Heri Susanto. (ANS)

Perang Terhadap Narkoba dan HIV/AID di Desa Dorolegi, Kabupaten Grobogan

Puryanto, SKM, MM dari Badan Pengendalian Penyakit HIV/AIDS Dinas Kesehatan Kabupaten Grobogan, sedang melakukan penyuluhan.

Puryanto, SKM, MM dari Badan Pengendalian Penyakit HIV/AIDS Dinas Kesehatan Kabupaten Grobogan, sedang melakukan penyuluhan.

Grobogan (Sergap) – Epidem HIV/AIDS di Indonesia sudah berlangsung selama kurang lebih 15 tahun dan diduga masih akan berkepanjangan karena masih banyak faktor yang memudahkan penularannya. Cara penularan infeksi HIV/AIDS adalah melakukan seks yang tidak aman dan mengkonsumsi napza ((Narkotika, Psikotropika, dan Zat Adiktif) melaui jarum suntik yang tidak steril, dan saat transfusi darah. Pengaruh modernisasi berupa pergaulan bebas, adalah salah satu gaya hidup remaja, patut diduga menimbulkan dampak negatif, terjadinya penularan HIV/AIDS di masayarakat.

Untuk membentenginya maka Karang Taruna “Rukun Santoso” Desa Dorolegi, Kecamatan Godong, Kabupaten Grobogan Jawa Tengah bersama Mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Agama Negeri (STAIN) Kudus yang sedang Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Desa Dorolegi Kecamatan Godong Kabupaten Grobogan, didukung oleh Badan Pengendalian Penyakit HIV/AIDS Dinas Kesehatan Kabupaten Grobogan, menggelar penyuluhan melawan efek negatif Narkoba dan HIV/AID.

Penyuluhan dilaksanakan pada hari Minggu malam (22/3/2015), bertempat di Desa Dorolegi, Kecamatan Godong, Kabupaten Grobogan, diawali dengan pemaparan oleh Puryanto, SKM, MM dari Badan Pengendalian Penyakit HIV/AIDS Dinas Kesehatan Kabupaten Grobogan.

Dikatakan oleh Puryanto, bahwa HIV/AIDS mulai ditemukan di wilayah Kabupaten Grobogan pada tahun 2002. Sedangkan data sementara pada tahun 2015, penderitanya sebanyak 590 orang. Pada tahun 2014, sebanyak 142 orang, sedangkan di Kecamatan Godong tercatat sudah ada 39 orang penderita HIV/AID.

“Terjadi peningkatan yang sangat tajam, pada data tahun 2014 jika dibanding tahun 2015. Karena itu untuk pecegahannya, janganlah melakukan hubungan seks secara bebas berganti-ganti pasangan, setia pada pasangan masing-masing, gunakan kondom untuk penyegah penularan, tidak memakai narkoba suntik,” tutur Puryanto menjelaskan.

Sebagai petugas Pemerintah Kabupaten Grobogan, Puryanto meminta agar tidak melakukan hubunagn seks sebelum menikah. “Dan saya ingatkan, agar jangan coba-coba untuk mengobati sendiri, jika terkena penyekit ini, karena bisa mengakibatkan kekebalan terhadap obat-obatan sehingga semakin sulit untuk disembuhkan,” kata Puryanto wanti-wanti.

Diingatkan pula bahwa HIV/AIDS adalah penyakit yang menular dan menyerang sistem kekebalan tubuh dan sulit untuk disembuhkan, karena belum ditemukan obat yang tepat untuk menyembuhkannya. Obat antiretroviral (ARV) yang ada saat ini, hanya bisa untuk menghambat perkembangbiakan virus HIV saja. Puryanto juga menjelaskan bahwa, mayoritas penularan HIV/AID di wilayah Kabupaten Grobogan, diakibatkan oleh hubungan seksual.

Sedangkan gejala klinis HIV/AIDS adalah demam berkepanjangan lebih dari 1-3 bulan, diare kronik 1 bulan terus-menerus, penurunan berat badan, batuk kronik 1 bulan berkelanjutan, serta terjadinya infeksi pada mulut dan tenggorokan yang disertai pembengkakan, serta munculnya bercak-bercak gatal di seluruh tubuh.

Pemuda, Karang Taruna “Rukun Santoso” Desa Dorolegi, serta mahasiswa STAIN Kudus saat mengikuti penyuluhan

Pemuda, Karang Taruna “Rukun Santoso” Desa Dorolegi, serta mahasiswa STAIN Kudus saat mengikuti penyuluhan

Maulida Fajeria, salah satu mahasiswa STAIN Kudus yang sedang KKN di Desa Dorolegi, melihat penyuluhan ini sangat penting bagi masyarakat, pemuda dan mahasiswa. “Dari data yang disampaikan tadi, Kecamatan Godong termasuk sangat tinggi potensi penularan HIV/AIDnya. Semoga dengan penyuluhan ini, kita semua, khususnya para pemuda Karang Taruna dan semua warga Dorolegi ini bebas dari HIV/AIDS”, katanya kepada Tabloid Sergap seusai acara.

Pemerintah Desa Dorolegi juga menyambut positif acara penyuluhan HIV/AIDS ini. “Saya merasa senang karena Karang Taruna bersama mahasiswa mengadakan kegiatan penyuluhan ini, agar masyarakat bisa tahu tentang betapa bahayanya penyakit HIV/AIDS ini. Saya sangat berharap agar kita semua selalu menghindari perbuatan yang tidak baik yang bertentangan dengan norma agama,” kata Kepala Desa Widjanarko, SH sembari mengacungkan jempolnya.

Pada acara penyuluhan ini, juga diputar beberapa film tentang dampak penyakit HIV/AIDS, di mana menggambarkan dengan jelas para penderita HIV/AIDS. ”Saya ngeri melihat orang terkena HIV/AIDS dalam film tadi. Semoga para pemuda Karang Taruna kita terbebas dari penyakit yang berbahaya dan sangat menular itu. Kita harus perang melawan HIV/AIDS, setelah kita tahu dan faham penyebab dan bahayanya”, kata Purwinto, Ketua Karang Taruna  Rukun menegaskan. (ans)

NARKOBA MUSUH KITA BERSAMA

Pempropv Jatim Tetapkan Status KLB Demam Berdarah

Pasien Demam Berdarah

Pasien Demam Berdarah

Surabaya (Sergap) – Pemerintah Provinsi Jawa Timur (Pemprov Jatim) akhirnya menetapkan status Kejadian Luar Biasa (KLB) penyakit Demam Berdarah. Penetapan status ini adalah akibat jumlah penderitanya dalam Januari 2015 sudah tembus di angka 1.054 kasus, dan tercatat 25 penderita di antaranya meninggal dunia.

Kepala Dinas Kesehatan (Kadinkes) Jatim, dr Harsono mengatakan, penetapan KLB Demam Berdarah ini dikeluarkan untuk 11 kabupaten/kota di Jatim dan telah ditandatangani oleh Gubernur Jatim, Soekarwo. “Sudah ditandatangani Pak Gubernur dan sudah disampaikan kepada kepala daerah masing-masing” ujarnya di Surabaya, Minggu (25/1/2015).

Kabupaten dan Kota tersebut adalah Kabupaten Jombang, Kabupaten Banyuwangi, Kabupaten Probolinggo, Kabupaten Kediri, Kabupaten Sumenep, Kabupaten Pamekasan, Kabupaten Nganjuk, Kabupaten Trenggalek, Kabupaten Mojokerto, Kabupaten dan Kota Madiun.

Kadinkes selanjutnya mengimbau para Kepala Daerah untuk segera menangani persoalan Demam Berdarah sesuai cara KLB sebagaimana yang sudah diatur. “Gubernur sudah menginstruksikan langsung melalui surat dan kepala daerah wajib menanganinya dengan cara KLB,” katanya.

Harsono berharap, selain pemerintah juga diperlukan keaktifan masyarakat untuk mencegah ancaman nyamuk Demam Berdarah yang bisa menyerang siapa saja baik anak-anak hingga orang dewasa. Dijelaskan, pemberantasan sarang nyamuk (PSN) merupakan cara paling efektif untuk mencegah nyamuk penyebab demam berdarah yakni, Aedes Aegypti berkembang biak. Seperti gerakan 3M, yakni Mengubur, Menguras dan Menutup.

“Bukti keberhasilan masyarakat dengan cara PSN terjadi di Kota Mojokerto dan Surabaya yang tahun lalu termasuk endemis Demam Berdarah. Tapi kali ini berkurang karena keaktifan PSN,” tambah mantan Bupati Ngawi itu.

Diketahui, tren penderita demam berdarah setiap bulan Januari cenderung meningkat. Berdasar data Pemprov Jatim, pada 2010 dari total 26.059, terdapat 5.599 kasus di antaranya terjadi pada Januari. Kemudian, tahun 2011 di bulan yang sama terjadi 1.035 kasus dari 5.420 kasus dalam setahunnya. Pada 2012 dari 8.257 kasus yang terjadi, total 1.225 kasus terjadi pada Desember.

Pada tahun 2013, banyaknya kasus demam berdarah terjadi lagi pada Januari yang mencapai 3.264 kasus dari 14.936 kasus dalam setahunnya. Selanjutnya, pada 2014 total terdapat 8.906 kasus dan 973 kasus di antaranya terjadi pada bulan Januari. (ang)

PAMSIMAS Tingkatkan Kualitas Kehidupan Warga Magetan

Program  Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (PAMSIMAS) di Magetan

Program Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (PAMSIMAS) di Magetan

Magetan (Sergap) – Program  Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (PAMSIMAS) merupakan salah satu program Pemerintah Pusat, Pemerintah Provinsi dan Pemerintah Kabupaten/Kota dalam rangka meningkatkan penyediaan air minum, sanitasi dan meningkatkan derajat kesehatan masyarakat  terutama  untuk menurunkan angka penyakit yang ditularkan melalui air dan lingkungan. Ruang lingkup kegiatan program PAMSIMAS mencakup 5 (lima) komponen kegiatan :

  • Pemberdayaan Masyarakat dan Pengembangan Kelembagaan Lokal;
  • Peningkatan Kesehatan  dan  Perilaku  Hidup  Bersih  dan  Sehat  dan  Pelayanan Sanitasi;
  • Penyediaan Sarana Air Minum dan Sanitasi Umum;
  • Insentif Desa/Kelurahan dan Kabupaten/kota; dan
  • Dukungan Pelaksanaan dan Manajemen Proyek.

Program PAMSIMAS dilaksanakan dengan pendekatan berbasis masyarakat  melalui pelibatan dan partisipasi masyarakat dan pendekatan yang tanggap terhadap kebutuhan masyarakat (demand responsive approach). Kedua pendekatan tersebut dilakukan melalui proses pemberdayaan masyarakat untuk menumbuhkan prakarsa, inisiatif, dan partisipasi aktif masyarakat dalam memutuskan, merencanakan, menyiapkan, melaksanakan, mengoperasikan dan memelihara sarana yang telah dibangun, serta melanjutkan kegiatan peningkatan derajat kesehatan di masyarakat termasuk di lingkungan sekolah.

Program PAMSIMAS bertujuan untuk meningkatkan jumlah warga miskin perdesaan dan pinggiran kota (peri-urban) yang dapat mengakses fasilitas air minum dan sanitasi yang layak serta mempraktekan perilaku hidup bersih dan sehat, sebagai bagian dari usaha pencapaian target MDG sektor air minum dan sanitasi melalui upaya pengarusutamaan dan perluasan program berbasis masyarakat secara nasional.

Untuk mencapai tujuan tersebut, ditetapkan tujuan antara sebagai berikut:

Pemerintahprovinsi dan kabupaten/kota memiliki kelembagaan untuk mendukung upaya-upaya peningkatan perbaikan pemakaian air minum, perilaku hidup bersih dan sehat, dan sanitasi masyarakat di wilayah perdesaan dan semi perkotaan.

Masyarakat sasaran menerapkan  perilaku dan praktik perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS),dan sanitasi.

Masyarakat sasaran di wilayah perdesaan dan peri-urban memperoleh akses perbaikan pelayanan sanitasi dan air minum serta menggunakan, mengelola dan memelihara keberlanjutan secara efektif.

Pemerintah daerah memiliki komitmen yang kuat dalam mengupayakan keberlanjutan serta perluasan pelaksanaan program pendukung sektor air minum dan sanitasi dengan menggunakan pendekatan yang sama dengan program PAMSIMAS.

Pembiayaan PASIMAS didukung oleh Bank Dunia, bekerjasama dengan Pemerintah Indonesia membuat program pembangunan berbasis komunitas melalui Third Water Supply and Sanitation for Low-Income Community Project (WSLIC-3) PAMSIMAS II melalui IBRD Nomor 8259-ID yang merupakan kelanjutan dari Program PAMSIMAS I.

Di dalam pelaksanaanya sumber pembiayaannya dilakukan secara konperhensif dan intergratif, baik dari dana kredit IBRD (International Bank of Reconstruction and Developmet) rupiah murni (APBN dan APBD) maupun dana kontribusi swadaya masyarakat.

Pemerintah Kabupaten Magetan mengalokasikan APBD yang diperlukan untuk pemeliharaan sarana air minum dan sanitasi serta perluasan yang diperlukannya.

Sejalan dengan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah dan Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah membuka peluang yang luas bagi daerah untuk mengembangkan dan membangun daerahnya sesuai dengan kebutuhan dan prioritasnya masing-masing .

Berdasarkan kedua undang-undang tersebut membawa konsekuaensi bagi daerah dalam bentuk pertanggung-jawaban atas pengalokasian dana yang dimiliki dengan cara yang efektif dan efisien, khususnya dalam upaya peningkatan kesejahteraan dan pelayanan umum kepada masyarakat, termasuk di dalamnya pelayanan air minum dan sanitasi. Namun demikian pada daerah-daerah dengan wilayah pedesaan yang luas dan berpenduduk tinggi pada umumnya memiliki kemampuan finansial yang terbatas sehingga memerlukan dukungan dari Pemerintah Pusat khususnya untuk membiayai investasi yang dibutuhkan dalam rangka meningkatkan kemampuan pelayanan kepada masyarakat, baik untuk investasi fisik dalam bentuk sarana dan prasarana, maupun investasi non fisik dalam bentuk manajemen, teknis dan pengembangan sumber daya manusia.

Tahun ini Kabupaten Magetan untuk pertama kalinya mendapatkan PASIMAS, yang berlokasi di 5 desa, yaitu: Desa Bungkuk, Desa Trosono (Kecamatan Parang), Desa Sombo, Desa Genilangit (Kecamatan Poncol), dan Desa Ngiliran (Kecamatan Panekan).

Pelaksanaan dengan system swakelola oleh Kelompok Kerja Masyarakat (KKM). Ketua KKM Desa Bungkuk, Mariyadi kepada Tabloid Sergap mengatakan, ”Secara pribadi saya sangat senang dengan adanya program ini, dan berusaha bekerja bersama masyarakat yg tergabung dalam KKM secara masimal, agar program ini cepat selesai dan hasilnya bisa di nikmati masyarakat di desa saya”.

Sedangkan Sutiyah, salah seorang warga Desa Bungkuk mengatakan, ”Saya gembira sekali, karena kebuthan air minum tidak akan ada kendala lagi, walaupun musim kemarau. Dulu saat kemarau, saya sangat susah mendapatkan air bersih, sini kan daerah pegunungan.”

Pada tahun 2015, Kabupaten Magetan akan mendapat program PAMSIMAS sebanyak 5 desa. Saat ini telah disosialisasikan di tingkat kabupaten dan sedang diseleksi desa manakah yang memerlukannya. (hadi/adv)

Bupati Kediri Kembali Raih Penghargaan

Bupati Kediri dr. Hj. Haryanti saat menerima piagam dari Gubernur Soekarwo

Bupati Kediri dr. Hj. Haryanti saat menerima piagam dari Gubernur Jawa Timur Soekarwo

Kediri (Sergap) – Bupati Kediri dr. Hj. Haryanti Sutrisno kembali menerima penghargaan. Kali ini Bupati Haryanti menerima penghargaan dari Gubernur Jawa Timur Soekarwo, atas komitmennya yang kuat dalam melibatkan semua instansi dalam rangka penurunan Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB) di Kabupaten Kediri. Penyerahan penghargaan dilaksanakan bersamaan dengan peringatan Hari Kesehatan Nasional ke-50 di halaman Kantor Dinas Kesehatan Jawa Timur.

Penghargaan ini merupakan wujud apresiasi atas kerjasama yang baik antar seluruh pihak, baik pemerintah, tenaga kesehatan dan seluruh masyarakat. Hal ini juga ditekankan Pakde Karwo, panggilan Gubernur Soekarwo, pada sambutannya di acara itu. Menurutnya, program-program kesehatan akan terlaksana dengan baik jika didukung dengan institusi yang kuat dan solid serta partisipasi masyarakat.

Terkait angka kematian ibu di Kabupaten Kediri, data Dinas Kesehatan Kabupaten Kediri mencatat, dari sasaran 28.187 orang ibu hamil di tahun 2014, dengan jumlah ibu hamil resiko tinggi 5.637 orang dan jumlah ibu bersalin 26.906 orang, tercatat 13 kasus kematian ibu per Oktober 2014. Angka ini menurun dibandingkan tahun 2013 sebanyak 34 kasus, dan tahun 2012 sebanyak 37 kasus. Adapun penyebab kematian diantaranya perdarahan, infeksi, preeklampsi, jantung dan lain-lain.

Sementara dari sasaran 25.119 bayi di tahun 2014 dengan 3.768 bayi resiko tinggi, tercatat 154 kematian bayi per September 2014. Tahun 2013 tercatat 227 kematian bayi dan di tahun 2012 tercatat 257 kematian bayi. Penyebab kematian bayi antara lain BBLR, asfiksia, kelainan bawaan, infeksi dan lain-lain.

Berbagai program pun digalakkan untuk mendukung penurunan AKI dan AKB di Kabupaten Kediri. Di tingkat masyarakat diantaranya dilakukan penjaringan ibu hamil resiko tinggi oleh kader melalui Kartu Score Poedji Rochyati (KSPR), pemantauan pemberian Fe ibu hamil oleh keluarga dan masyarakat, Desa P4K (Program Perencanaan Persalinan dan Pencegahan Komplikasi), Inisiasi Menyusui Dini (IMD), pendampingan ibu hamil resiko tinggi oleh mahasiswa kebidanan, serta Program Bulan Timbang dan Peduli Keluarga melalui kerjasama dengan lintas sektor Kecamatan, Kemenag, Diknas dan organisasi masyarakat.

Sedangkan di tingkat tenaga kesehatan, dilakukan berbagai kegiatan diantaranya ANC (Ante Natal Care) terpadu dan berkualitas, SMS gateaway, program rujukan ibu hamil resiko tinggi ke rumah sakit, kemitraan bidan dan dukun (pembinaan dukun oleh nakes), serta KB pasca salin.

Untuk kegiatan kesehatan reproduksi, dilakukan PPIA (Pencegahan Penularan HIV dari ibu ke anak), dan IVA (Inspeksi Visual Asam Asetat) yang sudah dilakukan oleh semua puskesmas. Dengan berbagai program yang dilaksanakan, diharapkan dapat benar-benar menurunkan angka kematian ibu dan bayi, hingga tercapai target angka kematian 0 (zero) di seluruh wilayah Kabupaten Kediri. (Dick-Hms)

Sepuluh Pelajar di Jember Terinfeksi Virus HIV/AIDS

90 ilustrasi-hivJembar (Sergap) – Sebanyak 10 pelajar di Kabupaten Jember diduga terinfeksi virus HIV/AIDS akibat pergaulan dan seks bebas.Para pelajar tersebut diketahui mengidap virus mematikan itu, saat memeriksakan diri ke klinik (Voluntary Councelling and Testing) VCT RSD dr Soebandi Jember.Pihak konselor kemudian memberikan konsultasi secara rutin terhadap para siswa tersebut.

“Saya prihatin dengan perilaku para pelajar saat ini hingga mereka tertular penyakit yang menggerogoti kekebalan tubuhnya. Setiap tahun jumlah penderita HIV/AIDS di Jember terus meningkat,” ujar koordinator konselor klinik Voluntary Councelling and Testing (VCT) RSD dr Soebandi Jember, dr. Justina Evi Tyaswati, Jumat (16/5/2014).

Data di klinikVCT RSD dr Soebandi Jember mencatat tercatat sebanyak 15 pelajar dan tiga mahasiswa terinfeksi HIV/AIDS sejak 2004 hingga 2013.Sehingga jumlah pelajar yang tertular virus mematikan itu bertambah menjadi 25 orang.

“Jumlah terbanyak penderita HIV/AIDS masih didominasi oleh mereka yang berusia produktif dengan usia 20-45 tahun, kemudian peringkat kedua adalah kalangan pelajar dengan usia 15-19 tahun, dengan penularan terbanyak akibat berganti-ganti pasangan (heteroseksual),” paparnya.

Humas Dinas Kesehatan (Dinkes) Jember, Yumarlis, mengatakan jumlah penderita HIV/AIDS di Kabupaten Jember mengalami peningkatan setiap tahun, termasuk kalangan usia produktif seperti pelajar dan mahasiswa.

“Dinkes dengan Dinas Pendidikan Jember terus melakukan sosialisasi terhadap para pelajar tentang penyakit HIV/AIDS, sehingga mereka tidak tertular penyakit yang mematikan itu,” tuturnya.

Menurut dia, penularan HIV/AIDS di kalangan pelajar biasanya disebabkan penggunaan jarum suntik pada saat mengonsumsi narkoba, melakukan hubungan seks bebas dengan gonta-ganti pasangan dan berperilaku seks menyimpang. (kho/ant)