Antisipasi Demo 212, Polres Jember Bentuk Forum Siber

wakapolres-jember-komisaris-polisi-edo-satya-kentriko

Wakapolres Jember, Kompol Edo Satya Kentriko, SH, SIK, MH.

Jember (Sergap) – Untuk mengantisipasi rencana demonstrasi yang mengatasnamakan Bela Islam Jilid II pada 2 Desember 2016, Kepolisian Resor (Polres) Jember, Jawa Timur, membentuk forum Silaturahim Bersama (Siber).

“Melalui Forum Siber, seluruh jajaran kepolisian mulai dari Kapolres hingga anggota akan turun ke masyarakat guna mengajak tokoh agama, tokoh masyarakat, dan ormas untuk merapatkan barisan menjaga situasi agar tetap harmonis,” kata Wakapolres Jember Kompol Edo Satya Kentriko di Jember, Minggu (27/11/2016).

Wakapolres menambahkan, dengan adanya warga Kabupaten Jember yang ikut ke turun aksi melakukan demonstrasi tanggal 4 November 2016 yang lalu di Jakarta membuat Polres Jember mengambil langkah antisipasi, agar warga Jember tidak melakukan aksi serupa pada 2 Desember 2016.

“Berdasarkan instruksi Kapolri yang meminta seluruh jajaran kepolisian menekan agar jangan sampai di daerahnya terjadi aksi mobilisasi warga ke Jakarta pada aksi susulan Desember mendatang, maka Polres Jember membentuk Forum Siber,” tuturnya.

Ia menjelaskan aparat kepolisian akan menekankan, agar jangan sampai masyarakat mudah terprovokasi dengan isu yang belum tentu kebenarannya karena hal tersebut hanya akan  memecah belah bangsa Indonesia.

“Kami optimistis dengan gencarnya Forum Siber turun ke lapangan, maka tidak akan ada aksi unjuk rasa pada 2 Desember di Jember,” katanya.

Sementara itu Gerakan Pemuda Ansor Jember menolak pengerahan massa dalam aksi unjuk rasa yang akan digelar di Jakarta pada 2 Desember 2016.

“Kami menolak demonstrasi dan pengerahan massa pada Jumat (2/12/2016) karena dapat merusak stabilitas bangsa dan negara, serta lebih banyak mudharatnya,” kata Ketua GP Ansor Jember Ayub Junaidi.

Ia juga meminta TNI dan Polri menindak tegas rencana demonstrasi pada 2 Desember 2016, apabila mengganggu kepentingan umum dan publik, serta mengarah pada tindakan makar terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

“Saya imbau masyarakat, agar tidak terprovokasi dan mudah terhasut oleh kelompok-kelompok radikal yang saat ini menemukan momentum untuk mengkonsolidasikan ideologinya,” tuturnya. (yan)

Iklan

Pemkab Jember Anggarkan Rp24 M, Untuk Jalur Lintas Selatan

JLS

Pesona Keindahan Jalan Lintas Selatan (JLS) di daerah Pacitan – Trenggalek

Jember (Sergap) – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jember menganggarkan dana untuk pembebasan lahan jalur lintas selatan (JLS) sebesar Rp24 miliar dalam rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) 2016.

“Untuk melanjutkan program pembangunan JLS, tahun 2016 nanti ada alokasi di Dinas Pekerjaan Umum Bina Marga senilai Rp24 miliar dalam APBD yang sudah dibahas oleh Pemkab dan DPRD Jember,” kata Ketua Komisi C DPRD Jember Siswono, Sabtu (28/11/2015).

Dana yang dialokasikan tersebut untuk pendampingan pelaksanaan proyek JLS yang sempat terbengkalai dan tidak dianggarkan dalam APBD selama beberapa tahun terakhir.  “Anggaran yang dialokasikan sebesar Rp24 miliar itu kemungkinan akan digunakan untuk pembebasan lahan yang belum tuntas dari Kecamatan Puger hingga Desa Curahnongko, Kecamatan Tempurejo,” tuturnya.

Ditambahkan oleh Siswono, bahwa pembangunan jalan JLS tersebut akan dilakukan oleh Pemerintah Provinsi Jatim, sedangkan daerah hanya mengalokasikan anggaran untuk pembebasan lahan.

“Untuk JLS, Kabupaten Jember sudah tertinggal jauh dengan Kabupaten Lumajang dan Banyuwangi yang sudah melakukan pengaspalan jalan, sedangkan di Jember belum sepenuhnya dilakukan pembebasan lahan,” ucap politisi Partai Gerindra Jember itu.

Siswono berharap pembebasan lahan JLS bisa tuntas tahun 2016, sehingga Pemprov Jatim segera menggarap jalan di jalur lintas selatan untuk mendongkrak perekonomian di wilayah selatan Jember tersebut.

Sementara itu Penjabat Bupati Jember Supa’ad yang juga menjabat sebagai sebagai Kepala Dinas PU Bina Marga Pemprov Jatim mengaku akan mengalokasikan anggaran sebesar Rp60 miliar dari APBD Provinsi untuk melanjutkan pembangunan JLS di Jember.

Jalur Lintas Selatan Pulau Jawa, yang dicetuskan pada masa pemerintahan Presiden Megawati Soekarnoputri pada 2002. Di wilayah Jawa Timur, JLS melintasi delapan kabupaten, yaitu Pacitan, Trenggalek, Tulungagung, Blitar, Malang, Lumajang, Jember dan Banyuwangi sepanjang 618,80 kilometer. (ma)

Ditemukan 88.675 Data Bermasalah di DPT Jember

pilkada-serentak-1-yos-150805Jember (Sergap) – Panitia Pengawas Pemilu (Panwaslu) Kabupaten Jember, Jawa Timur, menemukan sebanyak 88.675 data pemilih bermasalah dalam Daftar Pemilih Tetap (DPT) yang sudah ditetapkan oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Jember.

“Kami menemukan sebanyak 88.675 data bermasalah seperti pemilih memiliki Nomor Induk Kependudukan (NIK) ganda, NIK invalid, dan identitas berupa nama, alamat, tempat tanggal lahir yang sama persis,” kata Ketua Panwaslu Jember, Dima Akhyar dalam jumpa pers di sebuah hotel di Jalan Karimata Jember, Senin (02/11/2015).

Rincian dari 88.675 data bermasalah itu, adalah 52.302 pemilih memiliki NIK ganda, 21.653 pemilih memiliki nama, tempat tanggal lahir, dan alamat yang sama, serta 14.720 pemilih memiliki NIK invalid. “Bahkan saat dilakukan pengecekan melalui Sistem Informasi Data Pemilih (Sidalih), ditemukan 11 pemilih yang namanya Yulia Fajar dengan nama, alamat, tempat tinggal lahir yang sama persis dalam DPT Pilkada Jember,” kata Dima.

Dima menambahkan, bahwa temuan Panwaslu Jember itu sudah disampaikan kepada KPU Jember pada 22 Oktober 2015 untuk segera ditindaklanjuti, karena dapat menjadi persoalan dikemudian hari. “KPU sudah meminta data soft copy kepada Panwaslu, namun sejauh ini kami belum mengetahui tindaklanjut penyelenggara pilkada atas data pemilih bermasalah itu,” kata Dima menjelaskan.

Panwaslu sudah melakukan pengawasan tahapan pemutakhiran data pemilih dalam Pilkada Jember secara bertahap yakni temuan sebanyak 6.663 data bermasalah dalam Daftar Penduduk Potensial Pemilih Pilkada (DP4) pada 21 Agustus 2015.

Kemudian Panwaslu juga menemukan data bermasalah dalam daftar pemilih sementara (DPS) sebanyak 126.813 pemilih pada 22 September 2015, dan terakhir terdapat data pemilih bermasalah dalam DPT sebanyak 88.675 pemilih.

“Saya berharap KPU Jember menindaklanjuti temuan Panwaslu untuk menyempurnakan data pemilih Pilkada Jember tersebut, sehingga datanya benar-benar valid,” katanya.

Sementara itu Komisioner KPU Jember, Habib M. Rohan mengaku sudah mendapat surat dari Panwaslu terkait data bermasalah itu pada 22 Oktober 2015 dan pihak penyelenggara Pemilu masih dalam proses menindaklanjuti temuan itu.

“Pada saat penetapan DPT tambahan (DPTb1) sepekan yang lalu, pihak Panwaslu tidak menyampaikan terkait dengan data pemilih bermasalah, bahkan Panitia Pemilihan Kecamatan (PPK) juga tidak mendapat rekomendasi apapun dari Panwaslu di tingkat kecamatan, namun tiba-tiba saat ini ada data bermasalah muncul sebanyak 88.675 pemilih,” tuturnya.

KPU Jember menetapkan DPT Pilkada setempat sebanyak 1.892.435 orang dengan rincian sebanyak 935.935 pemilih laki-laki dan 956.500 pemilih perempuan, sedangkan jumlah daftar pemilih tetap tambahan (DPTb1) sebanyak 537 orang. (arif)

Rp. 12,2 Milyar Uang Palsu di Jember, Diduga Dicetak di Nganjuk

Anggota Polres Jember tunjukkan barang bukti Upal

Anggota Polres Jember tunjukkan barang bukti Upal

Jember (Sergap) – Jajaran Kepolisian Resor (Polres) Jember, Jawa Timur berhasil dengan gemilang membongkar peredaran uang palsu (upal) sebanyak Rp. 12,2 milyar dan mengamankan empat orang pelaku, berkat pengembangan penyelidikan atas kasus uang palsu yang sebelumnya ditemukan di Bondowoso.

“Konsentrasi kami antisipasi peredaran uang palsu, di waktu Pilkada. Apalagi sebelumnya sempat kami temukan upal di Bondowoso sebesar Rp. 5 juta, saya yakin peredarannya dari Jember,” kata Kapolres Jember, Ajun Komisaris Besar Polisi (AKBP) Sabilul Alif, Senin (26/1/2015).

Kronologi penangkapan berawal sekitar pukul 19.30 WIB, Sabtu (24/1/2015), di Terminal Bus Tawangalun, Kecamatan Rambipuji, polisi menangkap tersangka Aman dengan barang bukti sebanyak Rp. 116 juta uang palsu.

Setelah melakukan introgasi terhadap Aman, polisi menangkap lagi tersangka Sugiyoto di Rumah Makan Pujasera, Jalan Hayam Wuruk, Kecamatan Kaliwates, dengan barang bukti Rp 1,8 milyar dan mobil Toyota Avanza.

Kemudian petugas kembali menangkap Karim dan Kasmari dengan barang bukti uang palsu senilai Rp12 miliar yang tersimpan di dalam mobil Toyota Innova yang diparkir, di Hotel Beringin Indah Kecamatan Ajung.

Sugiyoto mengaku baru membuat uang palsu itu pada awal Januari 2015 karena ada orang Jember yang memesan uang palsu itu. Ia membuat uang palsu sebanyak Rp. 12 milyar lebih dalam waktu dua minggu.

“Jadi total barang bukti yang berhasil kami secara keseluruhan sebesar Rp 12,2 miliar,” kata mantan Kapolres Jember yang sebelumnya menjabat di Bondowoso ini.

Polres Jember terus terus melakukan penyelidikan mendalam. Dari hasil pemeriksaan sementara, uang palsu sebanyak itu akan diedarkan ke wilayah Indonesia bagian timur.

“Jadi mereka ini diduga kuat merupakan sindikat nasional pelaku pemalsuan uang, sebab rencananya, Upal sejumlah Rp 12,2 miliar akan dikirimkan kepada seseorang di Bali, untuk kemudian diedarkan ke wilayah Indonesia timur,” ungkap Kapolres.

Menurut pengakuan pelaku, uang tersebut katanya untuk Ngaben, tetapi polisi tidak percaya begitu saja, sebab jumlahnya sangat besar. Untuk modus operandi para pelaku, Rp 100 juta uang palsu, ditukar dengan Rp 50 juta uang asli.

Kualitas Upal yang berhasil disita tersebut tergolong bagus. “Jika tidak seksama memeriksanya, pasti akan dikira uang asli, sangat mirip dengan uang asli,” tambah Kapolres. Terkait itu polisi kemudian mengejar keberadaan mesin pencetak Upal tersebut.

Kabar keberadaan mesin cetak itu, diungkapkan oleh Komisaris Besar Polisi (Kombespol) Awi Setiyono, Kabid Humas Polda Jatim. “Masih dikembangkan, untuk mencari bukti baru yaitu mesin cetak, yang informasinya berada di daerah Nganjuk,” katanya kepada wartawan, Senin (26/1/2015).

Empat pelaku yang kini ditahan di Polres Jember itu, adalah Sugiyoto (48), pecatan polisi berpangkat AKP  yang merupakan warga Kabupaten Jombang, Aman (35) seorang guru honorer di Sumatera Selatan, Abdul Karim (46) warga Kabupaten Jombang, dan Kasmari (50) warga Kabupaten Kediri.

Polres Jember nantinya akan melakukan koordinasi dengan Polres Nganjuk. “Polda hanya membackup saja. Jika nantinya itu peredaran uang palsu sampai di luar Jawa Timur, tim Polda akan ikut membantu Polres Jember,” kata Awi Setiyono. (af/ang)

Gunung Raung Berstatus Waspada

Puncak Raung dengan kalderanya yang dalam dan luas

Puncak Raung dengan kalderanya yang dalam dan luas

Banyuwangi (Sergap) – Gunung Raung yang berada di perbatasan Banyuwangi, Bondowoso, dan Jember naik statusnya dari normal menjadi waspada, sejak hari ini, Kamis (13/11/2014) mulai pukul 09.00 WIB.

Berdasarkan rilis PVMBG tercatat Sejak Selasa (11/11/2014) pada pukul 21.09 WIB hingga Kamis pukul 06.00 WIB, telah terekam 140 kali gempa tremor dengan amplitudo 13-32 milimeter (mm) dan lama gempa 97-5295 detik dan 27 kali tremor harmonik dengan amplitudo 6-31 mm dan lama gempa 64-358 detik. Kesimpulannya, aktivitas kegempaan vulkanik gunung yang memiliki ketinggian 3.332 mdpl itu mengalami peningkatan yang ditandai oleh mulai terekamnya gempa-gempa tremor dan tremor harmonik.

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mencatat, telah terjadi kenaikan aktivitas vulkanologi sejak Rabu (12/11/2014) malam. Aktivitas vulkanologi yang dimaksud adalah munculnya gempa tremor, yaitu gempa terus-menerus terjadi di sekitar gunung api. “Gempa tremor melonjak hingga 99 kali sejak Rabu pukul sembilan malam,” kata kepala
Kepala Pos Pengamatan Gunung Api Raung PVMBG, Balok Suryadi.

Gunung setinggi 3.332 meter tersebut juga mengeluarkan asap putih pekat setinggi 50-100 meter. Asap secara visual terlihat jelas dari pos pengamatan Gunung Raung yang berada di Desa sumberarum, Kecamatan Songgon, Banyuwangi. “Asap keluar sejak pukul tujuh pagi, embusan asap menuju arah Jember dan Bondowoso,” kata Suryadi.

Meski demikian Balok Suryadi meminta masyarakat di kaki Raung untuk tetap tenang. Desa terdekat dengan puncak raung yang berjarak 7 kilometer juga belum perlu untuk evakuasi.

Sementara itu, Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik pada Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banyuwangi, Eka Muharram, mengatakan pihaknya akan mensosialisasikan larangan pendakian ke puncak Gunung Raung kepada masyarakat. “Untuk saat ini, pendakian ke puncak Raung ditutup sampai ada pemberitahuan lebih lanjut,” ucapnya

Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jember Mahmud Rizal mengakui sudah menerima informasi terkait naiknya status gunung berketinggian 3.332 Mdpl itu. BPBD Jember mendapatkan informasi itu dari Kepala Pusat Badan Geologi Kementerian ESDM Surono melalui telepon.

‘Setelah mendapatkan informasi ini, kami akan kembali menyosialisasikan kepada warga di lereng Gunung Raung. Selama ini kami sudah rutin melakukan sosialisasi, termasuk juga sudah membuat peta evakuasi. Kami juga melengkapi warga dengan pengetahuan apa yang harus dibawa ketika harus mengungsi. Namun sekarang ini, kami akan sosialisasi saja dulu tentang status Raung,” kata Rizal.

Sosialisasi informasi itu juga bertujuan agar warga tidak panik dengan kenaikan status tersebut. Warga hanya diminta waspada dengan kondisi salah satu gunung berapi aktif di Jatim itu. “Kami menghimbau agar warga tidak terpancing isu-isu yang menyesatkan. Petugas akan siaga 24 jam,” tegasnya.

Setidaknya sejumlah desa di tiga kecamatan di Jember berada di daerah terdampak Gunung Raung yakni Sumberjambe, Ledokombo, dan Silo. Namun Desa Rowosari dan Gunungmalang Kecamatan Sumberjambe yang berjarak paling dengan Raung.

Gunung Raung terakhir meletus pada 21 Oktober 2012. Tetapi warga yang berada di kaki gunung tak sampai mengungsi karena material letusan raung kembali jatuh ke kaldera.

Hal ini dikarenakan Gunung Raung memiliki kawah yang sangat dalam mencapai 400 meter dan kaldera yang sangat luas. Sehingga, ketika saat meletus, baik lava maupun material lainnya tumpah lagi kedalam kaldera tersebut. Setelah letusan tersebut, status Gunung Raung dinyatakan normal pada 18 Januari 2014. (af)

Berita terkait :  Ternyata Gunung Raung Sudah Meletus

Sepuluh Pelajar di Jember Terinfeksi Virus HIV/AIDS

90 ilustrasi-hivJembar (Sergap) – Sebanyak 10 pelajar di Kabupaten Jember diduga terinfeksi virus HIV/AIDS akibat pergaulan dan seks bebas.Para pelajar tersebut diketahui mengidap virus mematikan itu, saat memeriksakan diri ke klinik (Voluntary Councelling and Testing) VCT RSD dr Soebandi Jember.Pihak konselor kemudian memberikan konsultasi secara rutin terhadap para siswa tersebut.

“Saya prihatin dengan perilaku para pelajar saat ini hingga mereka tertular penyakit yang menggerogoti kekebalan tubuhnya. Setiap tahun jumlah penderita HIV/AIDS di Jember terus meningkat,” ujar koordinator konselor klinik Voluntary Councelling and Testing (VCT) RSD dr Soebandi Jember, dr. Justina Evi Tyaswati, Jumat (16/5/2014).

Data di klinikVCT RSD dr Soebandi Jember mencatat tercatat sebanyak 15 pelajar dan tiga mahasiswa terinfeksi HIV/AIDS sejak 2004 hingga 2013.Sehingga jumlah pelajar yang tertular virus mematikan itu bertambah menjadi 25 orang.

“Jumlah terbanyak penderita HIV/AIDS masih didominasi oleh mereka yang berusia produktif dengan usia 20-45 tahun, kemudian peringkat kedua adalah kalangan pelajar dengan usia 15-19 tahun, dengan penularan terbanyak akibat berganti-ganti pasangan (heteroseksual),” paparnya.

Humas Dinas Kesehatan (Dinkes) Jember, Yumarlis, mengatakan jumlah penderita HIV/AIDS di Kabupaten Jember mengalami peningkatan setiap tahun, termasuk kalangan usia produktif seperti pelajar dan mahasiswa.

“Dinkes dengan Dinas Pendidikan Jember terus melakukan sosialisasi terhadap para pelajar tentang penyakit HIV/AIDS, sehingga mereka tidak tertular penyakit yang mematikan itu,” tuturnya.

Menurut dia, penularan HIV/AIDS di kalangan pelajar biasanya disebabkan penggunaan jarum suntik pada saat mengonsumsi narkoba, melakukan hubungan seks bebas dengan gonta-ganti pasangan dan berperilaku seks menyimpang. (kho/ant)

MJL007 Hacker Situs Presiden SBY Divonis 6 Bulan Penjara

Wildan Yani Ashari alias MJL007

Wildan Yani Ashari alias MJL007

Jember (Sergap) – Akhirnya Majelis Hakim Pengadilan Negeri (PN) Jember memvonis terdakwa, Wildan Yani Ashari (20) peretas (hacker) situs resmi Presiden Susilo Bambang Yudoyono dengan hukuman 6 bulan penjara. Vonis yang dijatuhkan terhadap pemuda jebolan Sekolah Menengah Kejuruan ini lebih ringan 4 bulan penjara dari tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU) yakni 10 bulan penjara.

“Menyatakan bahwa terdakwa Wildan Yani Ashari alias Yayan alias MJL 007, telah terbukti secara sah dan meyakinkan telah melakukan tindak pidana dengan sengaja tanpa hak dan melawan hukum, memasuki akses sistem elektronik milik orang lain dengan cara apapun,” kata Hakim Ketua Majelis PN Jember Syahrul Mahmud SH, Rabu (19/6/2013). Majelis hakim juga menjatuhkan denda sebesar Rp 250 ribu subsider 15 hari penjara serta membebankan biaya perkara kepada terdakwa sebesar Rp. 5 ribu

Majelis hakim berpendapat bahwa Wildan telah terbukti melanggar Undang-Undang nomor 11 tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik. Namun ada sejumlah hal yang meringankan yang menjadi pertimbangan majelis hakim. Diantaranya, Wildan tidak pernah dihukum, dan usia Wildan yang masih muda.

“Terdakwa juga mengakui semua kesalahannya, dan kemampuan terdakwa dalam elektronik dan informatika, juga merupakan potensi yang bisa dikembangkan ke arah yang positif,” tambah Syahrul.

Dengan vonis tersebut, Wildan hanya tinggal menjalani masa tahanan selama 5 bulan. Sebab sesuai keputusan majelis hakim, vonis penjara yag diterima Wildan dikurangi masa tahanan pemuda itu selama menjalani proses hukum. Wildan sendiri ditahan sejak tanggal 26 Januari 2013 lalu.

Menanggapi vonis tersebut, Wildan menyatakan menerimanya. Dia mengaku tidak akan melakukan banding. Bahkan pemuda itu berterima kasih karena harapannya mendapat keringanan hukuman sudah terkabul. “Saya terima dan akan saya jalani,” pungkasnya.

Seperti diketahui, Wildan ditangkap tim Cyber Crime Mabes Polri pada tanggal 25 Januari 2013 sekitar pukul 18.00 WIB, karena meretas situs Presiden SBY. Wildan ditangkap di tempat kerjanya di warnet CV Surya Infotama di Jl. Letjend Suprapto. (mk)

Kepsek se-Jember Diperintahkan Kembalikan Dana Laptop

korupsi laptopJember, Sergap – Dinas Pendidikan Jember memerintahkan kepada seluruh kepala sekolah (Kepsek) untuk mengembalikan dana Bantuan Dana Sosial (BOS) yang digunakan untuk pembelian laptop Tahun 2009 lalu dengan menggunakan uang pribadi.

Kasus laptop itu sudah disidik oleh Kejaksaan Negeri Jember karena diduga ada penyimpangan anggaran. Dinas Pendidikan menyatakan tidak bertanggung jawab apabila ada dampak hukum ketika dana tersebut tidak segera dikembalikan.

Sekretaris Dinas Pendidikan Subadri Habib mengatakan, sudah sejak lama pihaknya memerintahkan kepala sekolah untuk mengembalikan uang yang dipakai membeli laptop tahun 2009 lalu ke rekening BOS. Sehingga uang tersebut akan masuk lagi ke rekening BOS, untuk digunakan oleh sekolah tersebut.

“Sampai saat ini hanya dua kepala sekolah tingkat SLTP yang belum mengembalikan. Sedangkan untuk sekolah dasar masih sangat banyak yang belum mengembalikan. Dinas mengambil kebijakan seperti ini karena sesuai rekomendasi BPKP Tahun 2010 lalu yakni dana bos tidak dibenarkan untuk membeli laptop,” kata Subadri, di Kantor Dinas Pendidikan Jember, Rabu (18/12/2012).

Menurutnya, dengan kebijakan tersebut, Dinas Pendidikan akan dapat melepaskan diri dari proses hukum yang sedang berjalan. Dia menambahkan, himbauan kepada kepala sekolah sudah disampaikan sejak lama dan bukti transfer pengembalian tersebut dikumpulkan oleh masing-masing UPTD dan kemudian diserahkan kepada Dinas Pendidikan.

Hingga saat ini sudah tercatat sudah lebih dari 200 kepala sekolah yang telah diperiksa Tim Penyidik Kejari dalam kasus laptop itu. Namun belum ada penambahan tersangka baru selain dua tersangka yang sudah ditetapkan yakni David Gunawan dari CV Tri Putra Witjaksana dan Liauw Inggarwati seorang rekanan dari Surabaya.

Tidak hanya itu, dalam kasus yang terungkap sejak beberapa tahun lalu, Tim Penyidik Kejari mengaku masih membutuhkan kurang lebih 600 saksi dari kalangan kepala sekolah di lingkungan Dinas Pendidikan. Pembelian laptop merupakan kebijakan Dinas Pendidikan pusat pada pertengahan 2009 lalu. Sebanyak 1.282 sekolah Dasar, Sekolah Dasar Luar Biasa, penerima dana BOS wajib membeli satu unit laptop.

Dari 1.282 sekolah penerima dana BOS, yang diwajibkan membeli laptop itu terdiri dari 918 SD negeri, 1 SD Luar Biasa, 95 SD swasta, 85 SMP negeri, serta 183 SMP swasta, dan SMP terbuka. Pembelian laptop diduga sarat penyimpangan.

Selain merek sudah ditentukan yakni ACER Extensa 4630Z 14 inci, harganya digelembungkan hingga mencapai Rp10,5 juta per unit. Padahal harga di pasar saat itu hanya Rp5,5-6 juta per unitnya. Pembeliannya pun harus dilakukan di toko yang sudah ditunjuk. (red)

Jatim Mempunyai 5 Kabupaten Tertinggal

Menteri PDT Helmy Faisal Zaini

Jember, Sergap – Menteri Pembangunan Daerah Tertinggal (PDT) Helmy Faisal Zaini, menyatakan ada 5 kabupaten di wilayah Jawa Timur yang tergolong sebagai daerah tertinggal. Yakni, Bondowoso, Situbondo, Bangkalan, Sampang, dan Pamekasan. Menteri PDT menambahkan bahwa jumlah daerah tertinggal di seluruh Indonesia sebanyak 183 kabupaten/kota, lima di antaranya berada di Jawa Timur. Kementerian PDT menargetkan daerah kategori miskin akan berkurang sebanyak 50 kabupaten dari total 183 kabupaten yang ada saat ini hingga akhir 2014.

Penentuan 183 kabupaten tertinggal tersebut didasarkan enam kriteria utama, yakni perekonomian masyarakat, sumber daya manusia (SDM), infrastruktur berupa prasarana, kemampuan keuangan lokal (celah fiskal), aksesibilitas, dan karakteristik daerah. “Kementerian PDT berusaha untuk mengembangkan ekonomi lokal daerah tertinggal sehingga mampu mendongkrak pendapatan asli daerah (PAD) kabupaten setempat,” kata menteri yang kementraiannya pernah dipimpin oleh Syaifullah Yusuf yang saat ini menjabat sebagai Wakil Gubenur Jawa Timur ini.

Kementerian PDT berupaya mengurangi daerah tertinggal agar sama daerah lain dengan berkoordinasi dan memfasilitasi kementerian atau lembaga lainnya melalui program peningkatan infrastruktur perdesaan, pengembangan ekonomi lokal, peningkatan pelayanan kesehatan yang berkualitas, terjangkau, dan peningkatan pelayanan pendidikan di daerah tertinggal.

Sejauh ini, kata dia, Kementerian PDT masih fokus terhadap daerah tertinggal yang cakupannya kabupaten/kota dan belum menyentuh tingkat desa dan kecamatan.

“Kategori daerah tertinggal akan disesuaikan dengan Undang-Undang tentang Percepatan Pembangunan Daerah Tertinggal (PPDT) yang akan direvisi oleh DPR, sehingga saat ini pihak kementerian masih fokus pada kabupaten,” katanya saat berkunjung ke Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Kabupaten Jember, Jatim, Sabtu (17/11).

Menteri Pembangunan Daerah Tertinggal bersama rombongannya akan melakukan kunjungan ke Kabupaten Bondowoso yang menjadi salah satu kabupaten kategori daerah tertinggal di Jawa Timur, hari Minggu, 18 Nopember 2012 ini. (tim)

Ternyata Gunung Raung Sudah Meletus

Gunung Raung dan Kalderanya yang curam

Banyuwangi, Sergap – Gunung Raung yang terdapat di Desa Sumber Arum, Kecamatan Songgon, Kabupaten Banyuwangi yang selama ini dinyatakan berstatus siaga level 3, ternyata sudah meletus terjadi sejak 21 Oktober lalu.

Hal tersebut diungkapkan Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Surono ketika memberikan penjelasan kepada sejumlah pihak berada di Aula Minak Jinggo, , Minggu (4/11/2012).

Surono menyampaikan, bahwa sesuai dengan data yang telah terekam dari GPS maupun seismik menunjukkan Gunung Raung sudah mengalami letusan. Tepatnya mulai pada tanggal 19 Oktober lalu diketahui energi tremor Gunung Raung mulai terus naik secara signikan dari 4 mm, hingga langsung meningkat sampai 14 mm dan mencapai peak pada 26 mm.

“ Jika dilihat dari data kenaikannya cepat sekali. Akan tetapi, sekitar pada tanggal 29 sudah mulai turun mencapai peak 25, 24 sampai dengan 22 dan sekarang masih tetap,”ungkap Surono.

Menurutnya, letusan yang terjadi pada Gunung Raung tersebut juga terungkap dari satelit milik Amerika Serikat. Namun, secara kasat mata mengenai letusan Gunung setinggi 3.332 meter itu tidak terlihat. Kemungkinan saat itu hanya terlihat kepulan asap yang terdapat di puncaknya.

Hal ini dikarenakan Gunung Raung memiliki kawah yang sangat dalam mencapai 400 meter dan kaldera yang sangat luas. Sehingga, ketika saat meletus, baik lava maupun material lainnya tumpah lagi kedalam kaldera tersebut.

“ Hal ini sebagai perbandingan Gunung Merapi yang ada di Jogja. Kedalaman  kawahnya tidak sampai 100 meter, sehingga disaat mengalami letusan terlihat dahsyat. Sedangkan jika dibandingkan dengan Gunung Raung sangat dalam, hal ini juga seringnya masyarakat yang bermukim disekitar Gunung Raung merasakan getaran dan suara gemuruh”, ungkap Surono.

Foto satelit Gunung Raung dan sekitarnya

Ditambahkanya, hingga sampai saat ini erupsi yang terjadi dari Gunung Raung masih terus berlangsung. Meskipun, cenderung menurun tapi didalam penurunan itu tidak signifikan.

“ Masyarakat tidak perlu panik dan diharapkan agar supaya masyarakat tidak beraktifitas dalam radius 3 kilometer dari puncak Gunung Raung. Untuk diluar radius 3 km, masyarakat bisa menjalankan aktivitasnya seperti biasanya,” kata Surono.

Sejarah Letusan Gunung Raung

Letusan pertama yang tercatat tahun 1586. Letusan tersebut tercatat sebagai letusan hebat. Mengakibatkan wilayah disekitarnya rusak dan memakan korban jiwa. Sebelas tahun kemudian, atau pada tahun 1597 Gunung dengan nama lain Gunung Rawon itu meletus lagi. Letusan hebat tersebut kembali memakan korban jiwa. Letusan hebat berikutnya kembali terjadi pada tahun 1638. Letusan mengakibatkan banjir besar dan lahar di daerah antara Kali Setail Kecamatan Sempu dan Kali Klatak Kecamatan Kalipuro, Banyuwangi.

Letusan yang paling dahsyat terjadi di tahun 1730. Tercatat erupsi eksplosif disertai dengan hujan abu serta lahar. Bahkan wilayah terdampak erupsi meluas dibanding letusan pertama, kedua dan ketiga. Korban jiwa pun berjatuhan lagi di saat itu.

Antara tahun 1800 hingga 1808 di waktu pemerintah Residen Malleod (Hindia Belanda) terjadi letusan lagi. Namun tidak sampai mengakibatkan korban jiwa.

Sekali lagi letusan terjadi antara tahun 1812 hingga 1814. Direntang empat tahun itu letusan disertai hujan abu lebat dan suara bergemuruh. Setahun kemudian, di tahun 1815 antara 14 hingga 12 April terjadi hujan abu di Besuki, Situbondo dan Probolinggo.

Selama 44 tahun Gunung Raung relatif tenang. Aktivitas vulkaniknya kembali meningkat pada tahun 1859. Tanggal 6 Juli 1864 terdengar suara gemuruh dan di siang hari menjadi gelap. Baru pada tahun 1881, 1885, 1890, 1896, terjadi aktivitas vulkanik meliputi suara gemuruh, Paroksisma, hujan abu tipis di kawasan Banyuwangi. Dan gempa bumi di kawasan Besuki, Situbondo. 16 Februari 1902 muncul kerucut pusat.

Surono, doktor lulusan Perancis

Pada tahun 1913 antara bulan Mei hingga Desember Gunung Raung kembali bergemuruh, bahkan terjadi dentuman keras. Hal yang sama terjadi tiga tahun berturut-turut. Yakni tahun 1915, 1916 dan 1917. Aliran lava di dalam Kaldera terjadi tahun 1921 dan 1924.

Pada tahun 1927 kembali meletus, letusan asap cendewan dan hujan abu sejauh 30 kilometer keluar dari puncaknya. Ditahun yang sama, tepatnya 2 Agustus-Oktober terdengar dentuman bom dan terlontas sejauh 500 meter.

Hanya tenang setahun, pada 1928 terlihat celah merah di dasar kaldera dan mengeluarkan lava. Fenomena yang sama masih terjadi di tahun 1929. Tahun 1933 hingga 1945 hanya terjadi peningkatan aktivitas. Tidak tercatat adanya kejadian, hanya ada aliran lava di kaldera.

Gunung yang memiliki bibir kaldera seluas 1.200 meter persegi ini kembali meletus, dari 31 Januari hingga 18 Maret, puncak gunung semburkan asap membara dengan guguran. Tinggi awan letusan mencapai 6 kilometer di atas puncak. Abunya menyebar hingga radius 200 meter.

Empat tahun kemudian, 13-19 Februari 1956 terjadi paroksisma. Tercatat pula adanya tiang asap 12 kilometer. Tahun-tahun berikutnya hanya ada peningkatan aktifitas. Namun tahun 1986 letusan asap terjadi di bulan Januari hingga Maret.

Yang terbaru aktivitas vulkanik kembali meningkat pada 17 Oktober 2012. Status Gunung Raung dari normal naik menjadi waspada sehari kemudian. Pada 22 Oktober 2012 statusnya kembali naik menjadi siaga.

PVMBG menyatakan bila sebenarnya Gunung Raung sudah meletus, namun masuk kategori erupsi minnor. Letusan tidak sampai keluar dari kaldera. Itu terlihat dari pantauan setelit Amerika Serikat. Gunung Raung sendiri, gunung api dengan karater berbeda.  “Bila aktivitasnya cepat naik, turunnya pasti sangat pelan. Malu-malu,” kata Surono.

PVMBG sendiri bahkan harus memasang 7 alat untuk penguatan data aktivitas vulkanik Gunung Raung. Itu perlu dilakukan mengingat Sejarah buruk Gunung yang berdiri di perbatasan Kabupaten Banyuwangi, Jember, Bondowoso dan Situbondo ini. “Kita tidak mau sejarah buruknya terulang. Gunungnya gede dan tinggi,” tandas doktor yang akrab disapa Mbah Rono ini. (tim biro besuki)