Aktivitas Gunung Bromo Semakin Meningkat

gambar-gunung-bromo-letusan-gunung-bromo

Asap tebal keluar dari kaldera Gunung Bromo (foto : bromotravelindo)

Probolinggo (Sergap) – Asap Gunung Bromo dilaporkan tampak semakin pekat dan abu vulkanisnya kini mengarah ke wilayah perbatasan Probolinggo-Pasuruan. Pantauan erupsi Gunung Bromo pada Kamis 10 Desember di Probolinggo terpantau ada peningkatan. Asap kelabu pekat membawa material abu vulkanis mengarah ke barat dan mengguyur wilayah perbatasan Probolinggo ke arah Pasuruan.

Menurut pengamatan Kepala Pos Pantau Gunung Bromo, Ahmad Subhan, erupsi di Desa Ngadisari, Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo, semakin meningkat. Asap tebal kelabu yang membawa material abu vulkanis membumbung tinggi sekira 300 meter mengarah ke perbatasan Probolinggo-Pasuruan.

“Asap pekat tinggi terus mengguyur wilayah tersebut, gempa tremor masih terus terjadi antara 3-27 milimeter, dominan 6 milimeter. Namun, tidak terdengar gemuruh,” ungkap Subhan, Kamis (10/12/2015).

Dia menambahkan, cuaca di sekitar Gunung Bromo terlihat cerah dengan suhu mencapai 12 derajat Celsius. “Tidak terdengarnya suara gemuruh berarti tenaga yang dikeluarkan dari dalam gunung terlepas dan tidak ada penyumbatan,” terangnya.

Subhan mengimbau warga terdekat Gunung Bromo di Probolinggo diimbau hati-hati dan selalu memakai masker karena pada malam hari abu vulkanis tipis terdeteksi di wilayah tersebut. “Bila angin mengarah ke timur laut dipastikan tiga desa terdekat Gunung Bromo, seperti Desa Ngadisari, Desa Jetak, dan Desa Ngadirejo, akan terguyur abu vulkanis erupsi Gunung Bromo,” pungkasnya.

Sementara itu, Bandara Abdulrachman Saleh Malang ditutup akibat abu vulkanik erupsi Gunung Bromo. Otoritas bandara setempat menerima peringatan untuk menutup bandara dan membatalkan semua penerbangan sejak pukul 09:30 WIB Jumat, 11 Desember 2015 hingga Sabtu, 12 Desember 2015 pukul 09:30 WIB.

“Sebelum Notam masuk, dua penerbangan dari Jakarta sudah mendarat tepat waktu. Tujuh berikutnya terpaksa dibatalkan,” kata Kepala UPT Bandara Abdulrachman Saleh Malang Suharno, Jumat (11/12/2015). “Hujan abu berpotensi mengganggu penerbangan,” katanya menambahkan.

Tercatat ada 7 penerbangan lain yang dibatalkan memiliki rute Malang-Jakarta dan satu penerbangan Malang-Bali. Penutupan ini adalah yang pertama sejak Bromo erupsi dan naik status menjadi Siaga pada tanggal 4 Desember 2015.

Ada lima maskapai yang beroperasi di Bandara Abdulrachman Saleh Malang, yaitu Garuda Indonesia, Sriwijaya Air, Citilink, Batik Air, dengan rute Malang-Jakarta dan Wings Air dengan rute Malang-Bali.

Maskapai memberlakukan tiga kebijakan berbeda. Pilihannya adalah pengalihan penerbangan lewat Surabaya, pengembalian tiket dan penjadwalan penerbangan ulang untuk Sabtu 12 Desember 2015. (ivan/en)

 

Gunung Raung yang Sedang Meraung

Asap tampak keluar dari kawah Gunung Raung (foto : Antara)

Asap tampak keluar dari kawah Gunung Raung (foto : Antara)

Banyuwangi – Gunung Raung pada Jumat, tgl 3 Juli 2015 petang, tampak mengelauarkan semburan lava pijar terlihat keluar dari kawah gunung. Hujan abu masih terasakan cukup deras mengguyur beberapa dusun di lereng gunung berketinggian 3.332 mdpl itu, hingga Sabtu 4 Juli 2015.

“Semburan abu lebih tebal hari ini dibandingkan kemarin, biasanya hanya pagi saja, tapi sekarang sampai pukul 09.00 masih pekat,” kata Ahmad warga Bondowoso yang sedang berada di Lapangan Kecamatan Sumber Wringin.

Menurutnya, hujan abu itu dirasakan cukup deras pada warga yang menghuni yaitu Dusun Legan dan Dusun Sipanas, dua dusun di Kecamatan Sumberwringin yang dekat dengan kawah Raung.

Di dua dusun itu, dampak aktivitas Raung lebih terasa dibandingkan dusun lain. Dua dusun itu ada di radius 7 km dari kawah, dari sini semburan lava dan abu vulkaniknya paling terasa dibandingkan dusun lain.

Laporan  kondisi terkini Gunung Raung menyebutkan asap kelabu dalam status sedang, yang berlangsung sejak Sabtu dini hari hingga pukul 06.00. Asap membumbung dengan ketinggian hingga 400 meter ke arah Tenggara. Gunung Raung juga mengeluarkan suara gemuruh lemah, dengan tremor menerus dengan amplitudo antara 6 hingga 32 mm.

“Sampai saat ini status kami masih siaga, hingga 14 hari terhitung sejak naik status dari 29 Juni 2015,” kata Hendri Widotono, Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Bondowoso.

Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM Surono juga mengatakan, status Gunung Raung tetap Siaga. Hingga pukul 18.00 WIB, Sabtu, 4 Juli 2015, secara visual cuaca terang, angin tenang dan puncak Gunung Raung jelas meski kadang tertutup kabut.

“Tampak asap putih tipis, tekanan lemah, tinggi 100 meter, condong ke Tenggara. Terdengar suara gemuruh sedang,” katanya, Sabtu (04/07/2015).

Sementara, hasil pengamatan secara seismik terjadi tremor vulkanik terus menerus. Ini menandakan aktivitas tremor vulkanik masih tetap tinggi. “Kesimpulan, aktivitas tremor vulkanik masih tinggi. Gunung Raung tetap Siaga,” kata Surono menambahkan.

Akibat semburan abu vulkanik Gunung Raung pada tanggal 3 dan 4 Juli 2015, berdampak pada terganggunya jalur penerbangan domestik dan mancanegara. Direktur Manajemen Lalu Lintas Penerbangan AirNav Indonesia Wisnu Darjono mengatakan, abu vulkanik Raung bergerak ke arah tenggara dengan kecepatan 10 knots.

Dengan begitu, jalur penerbangan yang perlu menjadi perhatian adalah Jalur W-33 dan W-13 yaitu penerbangan yang melayani rute atau jalur-jalur domestik. Seperti, Denpasar-Jakarta, Denpasar-Surabaya, juga Denpasar-Yogyakarta.

Selain jalur penerbangan domestik, jalur penerbangan internasional atau dengan kode rute M 635 juga ikut mengalami kendala. Jalur itu, ialah jalur penerbangan Denpasar-Singapura, Denpasar-Malaysia.

Sementara itu BPBD Jawa Timur menyebut, sudah melakukan pemetaan daerah potensi terdampak dan menyiapkan 33 jalur evakuasi bagi warga yang bermukim di sekitar Gunung Raung tepatnya di Banyuwangi, Jember, dan Bondowoso. ‎( arif)

Pemotongan Dana Bencana G. Kelud Marak di Sekolah, Dikporakab Kediri Tutup Mulut

Ketika Gunung Kelud meletus dengan sangat dahsyat pada tanggal 13 Pebruari 2014, tentu saja membawa dampak bagi seluruh daerah sekitarnya. Termasuk para siswa di Kabupaten Kediri yang sekolahnya berada di lereng gunung berapi aktif ini. Pemerintah Provinsi Jawa Timur, menetapkannya letusan Gunung Kelud sebagai Bencana Provinsi dan memberikan bantuan uang tunai, kepada para siswa terdampak bencana sebesar Rp. 1 juta per siswa. Namun tragisnya, duit itu disunat dengan berbagai dalih oleh oknum-oknum Kepala Sekolah dan para gurunya.

Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kabupaten Kediri

Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kabupaten Kediri

Kediri (Sergap) – Ketika Tabloid Sergap melakukan konfirmasi, setelah mendapat informasi dari masyarakat tentang pemotongan Dana Bantuan Bencana Alam akibat Letusan Gunung Kelud (Bansos) ini, para Kepala Sekolah terkait, sudah memperlihatkan sikap tertutup. Para pejabat pendidikan ini menolak untuk menjelaskan proses penyaluran uang milik rakyat itu, seakan-akan duit itu milik nenek moyangnya.

Kepala Sekolah mengaku wartawan    

Bahkan, Kepala Sekolah SDN Sepawon I, Kecamatan Plosoklaten, Kabupaten Kediri yang bernama Basori, SPd dengan arogan menolak untuk berkomentar dan mengaku bahwa dirinya seorang wartawan. “Saya juga seorang wartawan, mas”, katanya dengan nada ketus, tanpa menunjukkan kartu persnya. Selanjutnya, Basori membantah telah terjadi pemotongan dana Bansos di sekolahnya. “Itu semua tidak benar,” kata Basori masih dengan suara ketusnya.

Setali tiga uang yang dilakukan oleh para kepala sekolah lainnya. Seakan sikap menolak/merahasiakan segala data tentang Bansos ini, merupakan sikap bersama yang sudah disepakati sebelumnya.

Semua tutup mulut

Seperti yang terjadi di SDN Sugihwaras II, Kepala Sekolah Wiji Rohayati, SPd tak bersedia bicara sepatah katapun tentang uang negara yang berupa dana bencana alam itu. “Saya sedang repot, banyak kegiatan,” katanya sambil berlalu.

Demikian pula yang terjadi di ketika Tabloid Sergap mencoba konfirmasi ke SDN Satak II, Kecamatan Puncu, SDN Satak I, Kecamatan Puncu, SDN Sepawon I, Kecamatan Plosoklaten, SDN Kebonrejo I, Kecamatan Kepung, SDN Besowo II, Kecamatan Kepung, Kabupaten Kediri.

Semua kepala sekolah tersebut di atas, tidak bersedia menjelaskan tentang penyaluran dana Bansos di sekolahnya, yang bertujuan untuk meringankan beban hidup korban bencana letusan Gunung Kelud itu.

Demikian pula yang terjadi di SDN Sempu II, Kecamatan Ngancar, Kabupaten Kediri. Kepala Sekolah Tutut Indiarto, SPd, juga menolak untuk ditemui. Namun Ketua Komite Sekolah, Sutaji membenarkan bahwa di SDN Sempu II yang muridnya 110 siswa dan mendapatkan Bantuan Bencana Alam sebesar Rp. 1 juta per siswa.

Tentang pemotongan, Sutaji juga membenarkan bahwa ada pemotongan terhadap uang Rp 1 juta tersebut, dengan rincian sebagai biaya buka rekening Rp. 100.000,-, biaya administrasi Rp. 50.000, dan dipotong lagi untuk diberikan kepada Kelas 1 yang belum masuk dalam data Rp. 50.000,-. “Itu kebijakan sekolah bersama komite, ” kata Sutaji menjelaskan.

Dikpora juga tutup mulut

Dikarenakan gelap-gulitanya proses penyaluran Bansos tersebut, maka Tabloid Sergap mencoba untuk bertanya kepada Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Dikpora) Kabupaten Kediri, Drs. Djoko Pitojo, MPd, sebagai penanggungjawab bidang pendidikan di wilayah Kabupaten Kediri.

Untuk menjaga etika dan akurasi pertanyaan, maka Tabloid Sergap berkirim secara tertulis daftar pertanyaan terkait dengan dugaan maraknya pemotongan dana bantuan bencana alam di sekolah-sekolah di Kabupaten Kediri tersebut.

Surat konfirmasi bernomor : 132.29/Sgp/XI/2014, dengan lampiran 1 (satu) lembar, tertanggal 25 Nopember 2014 tersebut, hari itu juga sudah diterima oleh staf Dikpora bernama Saroni. Namun sampai dengan berita ini ditulis, belum ada jawaban terhadap surat konfirmasi tersebut.

Isi surat konfirmasi tersebut antara lain adalah :

Terkait dengan pembagian Bantuan Sosial sebesar Rp. 1 juta/siswa Sekolah Dasar Terdampak Letusan Gunung Kelud, kami menemukan indikasi penyelewengan dalam proses pembagiannya, sehingga patut diduga telah terjadi kerugian terhadap keuangan negara dan kerugian pula bagi siswa penerima bantuan tersebut, di beberapa Sekolah Dasar Negeri, antara lain :

  1. SDN Sugihwaras II, Kecamatan Ngancar, Kabupaten Kediri. Di sekolah milik negara ini, tiap siswanya hanya menerima Rp. 750.000,-. Dipotong oleh sekolah yang bersangkutan dengan rincian sbb : Dipertinggal Rp. 100.000,- dalam rekening, administrasi 40.000,-, sisanya Rp. 110.000,- untuk biaya membangun pagar sekolah.
  1. SDN Sempu II, Kecamatan Ngancar, Kabupaten Kediri. Di sekolah milik negara ini, tiap siswanya hanya menerima Rp. 700.000,- Dipertinggal di rekening siswa Rp. 100.000,- Administrasi Rp. 50.000,- Diberikan kepada siswa Kelas 1 Rp. 50.000/ siswa. Sisanya Rp. 150.000,- untuk pembangunan pagar sekolah.
  1. SDN Satak II, Kecamatan Puncu, Kabupaten Kediri. Di sekolah milik negara ini, tiap siswanya hanya menerima Rp. 690.000,-. Dipotong oleh sekolah yang bersangkutan dengan rincian sbb : Dipertinggal Rp. 100.000,- dalam rekening, sisanya Rp. 210.000,- untuk biaya perbaikan kantor dan pembelian kursi kerja kepala sekolah.
  1. SDN Satak I, Kecamatan Puncu, Kabupaten Kediri. Di sekolah milik negara ini, tiap siswanya hanya menerima Rp. 800.000,-. Dipotong oleh sekolah yang bersangkutan dengan rincian sbb : Dipertinggal Rp. 100.000,- dalam rekening, sisanya Rp. 100.000,- untuk biaya administrasi dan pembangunan. Bahkan beberapa hari kemudian saldo Rp. 100.000,- disuruh oleh guru masing-masing untuk diambil di bank dan diminta Rp. 15.000,- per anak oleh guru masing-masing.
  1. SDN Sepawon I, Kecamatan Plosoklaten, Kabupaten Kediri. Di sekolah milik negara ini, tiap siswanya hanya menerima Rp. 675.000,-. Dipotong oleh sekolah yang bersangkutan dengan rincian sbb : Dipertinggal Rp. 100.000,-, administrasi Rp. 50.000, uang seragam siswa Rp. 100.000,-, dan Rp. 75.000,- untuk pembangunan.
  1. SDN Kebonrejo I, Kecamatan Kepung, Kabupaten Kediri. Di sekolah milik negara ini, tiap siswanya hanya menerima Rp. 850.000,-. Dipotong oleh sekolah yang bersangkutan dengan rincian sbb : Dipertinggal Rp. 100.000,-, administrasi Rp. 50.000,-
  1. SDN Besowo II, Kecamatan Kepung, Kabupaten Kediri. Di sekolah milik negara ini, tiap siswanya hanya menerima Rp. 750.000,-. Dipotong oleh sekolah yang bersangkutan dengan rincian sbb : Dipertinggal Rp. 100.000,-, administrasi Rp. 50.000,- sisanya untuk kepentingan sekolah.

Informasi yang masuk di redaksi, sebenarnya masih ada SD Negeri yang juga menerima bantuan sejenis.

Dalam kedudukan Dikpora sebagai penanggungjawab SD-SD tersebut di atas, maka ada beberapa hal yang perlu kami konfirmasikan, sbb:

  1. Berapa sebenarnya jumlah SD Negeri dan berapa jumlah siswa SD Negeri di wilayah Kabupaten Kediri, yang menerima dana Bansos?
  2. Apakah Kepala Dikpora Kabupaten Kediri, sudah memberikan pengarahan teknis tentang prosedur pembagian dana Bansos itu?
  3. Sejauh mana Kepala Dikpora Kabupaten Kediri, memantau pembagian dana Bansos tersebut di atas?
  4. Pada hari Kamis, tanggal 20 Februari 2014, Kepala Kejaksaan Tinggi Jawa Timur, Arminsyah, SH, MSi, mengeluarkan statemen agar tidak menyelewengkan dana bantuan korban Gunung Kelud. Kajati mengancam akan menuntut Hukuman Mati, bagi siapa saja yang terbukti korupsi dana bantuan bencana tersebut. (Kliping Tabloid Sergap, Edisi 88, halaman 7, terlampir). Apa tindakan bapak, dengan terjadinya pemotongan tanpa dasar hukum yang jelas, di sekolah-sekolah di bawah tanggungjawab bapak ini?

Empat pertanyaan tersebut tak kunjung mendapatkan jawabannya.

Surat konfirmasi diterima staf Dikpora Kabupaten Kediri tgl 25 Nopember 2014

Surat konfirmasi diterima staf Dikpora Kabupaten Kediri tgl 25 Nopember 2014

Ki Hajar Dewantara, Bapak Pendidikan Nasional mengajarkan Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani.

Dikaitkan dengan pemotongan Bansos di sekolah-sekolah, ajaran Tokoh Bangsa ini jadi kehilangan makna. Kucuran dana puluhan trilyun rupiah duit rakyat setiap tahun, kepada dunia pendidikan, bisa jadi juga kehilangan manfaat, jika para pejabat pendidikan menganggap ajaran Ki Hajar Dewantara tersebut, hanya sebatas slogan belaka. (Yus/Tkr)

CATATAN : Tabloid Sergap sudah mendatangi Kejalsaan Negeri Ngasem Kabupaten Kediri, untuk mengkonfirmasi sikap jajaran Kejaksaan terhadap pemotongan Dana Bencana Gunung Kelud. Klik di sini untuk melihatnya.

BERITA TERKAIT :   Jangan Main-Main Dengan Bantuan Bencana Alam

 

Gunung Raung Berstatus Waspada

Puncak Raung dengan kalderanya yang dalam dan luas

Puncak Raung dengan kalderanya yang dalam dan luas

Banyuwangi (Sergap) – Gunung Raung yang berada di perbatasan Banyuwangi, Bondowoso, dan Jember naik statusnya dari normal menjadi waspada, sejak hari ini, Kamis (13/11/2014) mulai pukul 09.00 WIB.

Berdasarkan rilis PVMBG tercatat Sejak Selasa (11/11/2014) pada pukul 21.09 WIB hingga Kamis pukul 06.00 WIB, telah terekam 140 kali gempa tremor dengan amplitudo 13-32 milimeter (mm) dan lama gempa 97-5295 detik dan 27 kali tremor harmonik dengan amplitudo 6-31 mm dan lama gempa 64-358 detik. Kesimpulannya, aktivitas kegempaan vulkanik gunung yang memiliki ketinggian 3.332 mdpl itu mengalami peningkatan yang ditandai oleh mulai terekamnya gempa-gempa tremor dan tremor harmonik.

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mencatat, telah terjadi kenaikan aktivitas vulkanologi sejak Rabu (12/11/2014) malam. Aktivitas vulkanologi yang dimaksud adalah munculnya gempa tremor, yaitu gempa terus-menerus terjadi di sekitar gunung api. “Gempa tremor melonjak hingga 99 kali sejak Rabu pukul sembilan malam,” kata kepala
Kepala Pos Pengamatan Gunung Api Raung PVMBG, Balok Suryadi.

Gunung setinggi 3.332 meter tersebut juga mengeluarkan asap putih pekat setinggi 50-100 meter. Asap secara visual terlihat jelas dari pos pengamatan Gunung Raung yang berada di Desa sumberarum, Kecamatan Songgon, Banyuwangi. “Asap keluar sejak pukul tujuh pagi, embusan asap menuju arah Jember dan Bondowoso,” kata Suryadi.

Meski demikian Balok Suryadi meminta masyarakat di kaki Raung untuk tetap tenang. Desa terdekat dengan puncak raung yang berjarak 7 kilometer juga belum perlu untuk evakuasi.

Sementara itu, Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik pada Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banyuwangi, Eka Muharram, mengatakan pihaknya akan mensosialisasikan larangan pendakian ke puncak Gunung Raung kepada masyarakat. “Untuk saat ini, pendakian ke puncak Raung ditutup sampai ada pemberitahuan lebih lanjut,” ucapnya

Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jember Mahmud Rizal mengakui sudah menerima informasi terkait naiknya status gunung berketinggian 3.332 Mdpl itu. BPBD Jember mendapatkan informasi itu dari Kepala Pusat Badan Geologi Kementerian ESDM Surono melalui telepon.

‘Setelah mendapatkan informasi ini, kami akan kembali menyosialisasikan kepada warga di lereng Gunung Raung. Selama ini kami sudah rutin melakukan sosialisasi, termasuk juga sudah membuat peta evakuasi. Kami juga melengkapi warga dengan pengetahuan apa yang harus dibawa ketika harus mengungsi. Namun sekarang ini, kami akan sosialisasi saja dulu tentang status Raung,” kata Rizal.

Sosialisasi informasi itu juga bertujuan agar warga tidak panik dengan kenaikan status tersebut. Warga hanya diminta waspada dengan kondisi salah satu gunung berapi aktif di Jatim itu. “Kami menghimbau agar warga tidak terpancing isu-isu yang menyesatkan. Petugas akan siaga 24 jam,” tegasnya.

Setidaknya sejumlah desa di tiga kecamatan di Jember berada di daerah terdampak Gunung Raung yakni Sumberjambe, Ledokombo, dan Silo. Namun Desa Rowosari dan Gunungmalang Kecamatan Sumberjambe yang berjarak paling dengan Raung.

Gunung Raung terakhir meletus pada 21 Oktober 2012. Tetapi warga yang berada di kaki gunung tak sampai mengungsi karena material letusan raung kembali jatuh ke kaldera.

Hal ini dikarenakan Gunung Raung memiliki kawah yang sangat dalam mencapai 400 meter dan kaldera yang sangat luas. Sehingga, ketika saat meletus, baik lava maupun material lainnya tumpah lagi kedalam kaldera tersebut. Setelah letusan tersebut, status Gunung Raung dinyatakan normal pada 18 Januari 2014. (af)

Berita terkait :  Ternyata Gunung Raung Sudah Meletus

Swiss dan Kanada Pelajari Penanganan Bencana Letusan Kelud

Aparat kepolisian sedang membantu evakuasi pengungsi Gunung Kelud

Aparat kepolisian sedang membantu evakuasi pengungsi Gunung Kelud

Surabaya (Sergap) – Keberhasilan Pemerintah Provinsi Jawa Timur (Pemprov Jatim) dalam menangani bencana letusan Gunung Kelud membuat negara Swiss dan Kanada terkagum-kagum. Pemerintah Swiss menyampaikan undangan ke Gubernur Soekarwo untuk memaparkan keberhasilan Pemprov Jatim tersebut beberapa waktu lalu.

Menurut Pakde Karwo, Pemerintah Swiss terkejut dengan langkah serta pendekatan Pemprov Jatim menangani dampak letusan Gunung Kelud hanya dalam waktu dua minggu. Padahal, pengungsi yang harus ditangani mencapai lebih dari 12 ribu orang, dengan jumlah rumah yang rusak mencapai 14 ribu. Dan, tidak ada korban jiwa yang jatuh karena dampak langsung erupsi.

“Nah, keberhasilan itulah yang tampaknya diapresiasi Pemerintah Swiss. Sehingga mereka mengundang Pemprov Jatim untuk memaparkannya,” ujarnya, Senin (14/4/2014). Pemprov Jatim menyatakan tanggap darurat terkait letusan Gunung Kelud tersebut dan selama penanganan bencana, Pemerintah Pusat hanya sebagai pemantau. Semua proses rehabilitasi sampai pembiayaan dilakukan sendiri oleh Pemprov Jatim.

Yang tak kalah pentingnya, Pemprov juga mampu mensinergikan antara TNI dan Polri menjadi satu bagian dalam penanganan dan dikendalikan langsung oleh Gubernur. “Sinergi seperti itu jarang terjadi, dimana antara TNI dan Polri serta Gubernur jadi satu ikut serta dan terjun langsung menangani letusan Gunung Kelud,” jelasnya.

Selain Pemerintah Swiss, Kedutaan Besar Canada di Jakarta juga sudah datang ke Jatim untuk menimba ilmu dan belajar terkait penanganan bencana letusan Gunung Kelud.

Sementara itu,Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) juga telah memberikan penghargaan kepada Gubernur Jatim Soekarwo, pada tanggal 12 Maret 2014 yang lalu. Penghargaan diberikan karena Pemprov Jatim dinilai sangat sigap dan cepat dalam menangani letusan Gunung Kelud, 13 Pebruari 2014 itu.

Namun karena Gubernur Soekarwo sedang mendampingi Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang sedang melakukan kunjungan kerja ke Jatim, maka penghargaan dari Kepala BNPB Syamsul Ma’arif tersebut diterima Asisten III Bidang Kesra Sekdaprov Jatim Muhammad Ashar.

Ashar mengatakan, penghargaan yang diterimanya diberikan BNPB tidak lain karena sikap leadership Gubernur Jatim yang mempu mengkoordinasikan semua unsur dan elemen di Jatim, mulai instansi pemerintah, TNI/Polri, dan berbagai unsur lainnya untuk menanggulangi dampak letusan Gunung Kelud dengan cepat. “Karena leadership yang bagus tersebut, penanganan dapat dilakukan dalam waktu singkat. Target dua minggu proses rehabilitasi dapat dipenuhi dengan baik,” kata Ashar kepada wartawan saat itu.

BNPB menilai belum pernah ada penanganan bencana yang dilakukan sangat koordinatif dan begitu cepat serta hampir semua masyarakat ikut terlibat di dalamnya. Sehingga, apa yang dilakukan Pemprov Jatim dalam menangani bencana letusan Gunung Kelud, akan dijadikan sebagai role model atau acuan bagi provinsi lain setiap kali ada bencana.

“Makanya penanganan bencana di Jatim dapat dijadikan contoh yang baik dalam proses penanganan bencana di wilayah Indonesia lainnya,” kata Deputi Bidang Rehabilitasi dan Rekonstruksi BNPB, Wisnu Widjaja, menambahkan. (ang)

SDN Burengan II Kota Kediri, Peduli Korban Letusan Kelud

Berfoto bersama sebelum berangkat. Perwakilan siswa menyerahkan bantuan kepada secara simbolis

Berfoto bersama sebelum berangkat ke lokasi. Perwakilan siswa menyerahkan bantuan kepada secara simbolis

Dengan tujuan menumbuhkembangkan kepedulian sosial untuk berbagi kepada sesamanya, maka Keluarga Besar SDN Burengan 2 Kota Kediri memberikan bantuan sosial yang diserahkan secara langsung kepada teman-teman mereka yang berada di wilayah terdampak letusan Gunung Kelud, Bantuan sosial tersebut diberikan kepada para siswa di SDN Ngancar I, SDN Ngancar II dan Manggis II, Kecamatan Ngancar, Kabupaten Kediri. Bantuan berupa alat tulis dan makanan ringan (snack) itu diserahkan langsung ke lokasi oleh perwakilan murid, guru dan orang tua/wali murid, pada hari Sabtu, 1 Maret 2014, dipimpin oleh Kepala SDN Burengan 2 Kota Kediri, Sutyadi, SPd. (end)

Jangan Main-Main Dengan Bantuan Bencana Alam

Arminsyah, SH, MSi

Arminsyah, SH, MSi

Surabaya (Sergap) – Melihat tingginya potensi penyelewengan terhadap penyaluran dana bantuan bagi korban bencana letusan Gunung Kelud, maka Kejaksaan Tinggi Jawa Timur (Kejati Jatim)  akan menurunkan jaksa intelijen untuk mengawasinya dan akan menuntut hukuman mati bagi para pelakunya.

“Bantuan untuk korban bencana alam memang rawan untuk dikorupsi. Untuk itu, ada pemantauan dari jaksa intel terkait bantuan ini,” ujar Kepala Kejati (Kajati) Jatim, Arminsyah di kantornya, Kamis (20/2/2014). Namun Kajati menambahkan bahwa dalam pemantauan itu Kejati Jatim memang belum menemukan indikasi korupsi pada bantuan bencana alam, khususnya bantuan untuk erupsi Gunung Kelud.

Kajati juga berharap masyarakat ikut memantau proses penyaluran bantuan untuk pengungsi Gunung Kelud itu. “Kalau mengandalkan personel dari jaksa intelijen, nantinya yang diawasi jadi terbatas karena terbatasnya jumlah personel. Makanya, kami berharap bantuan dari masyarakat juga,” katanya berharap.

Tentang ancaman hukuman mati untuk bantuan bencana yang dikorupsi, Kajati mengatakan dasar hukumnya adalah pasal 2 ayat (2) Undang-Undang Nomor 31 Tahun1999 sebagaimana diubah dengan Undang-Undang Nomor  21 Tahun 2001 tentang Tindak Pidana Korupsi.

Pada pasal tersebut disebutkan bahwa dalam hal tindak pidana korupsi dalam keadaan tertentu, maka pidana mati dapat dijatuhkan. “Dalam penjelasannya, ‘keadaan tertentu’ itu berarti dalam keadaan bahaya atau bencana alam. Makanya, jangan main-main dengan korupsi bantuan bencana alam,” kata Kajati menegaskan.

Tak hanya tindak pidana korupsi pada bantuan bencana alam, pada tindakan kriminal umum (tindak pidana umum), misalnya pencurian ketika Gunung Kelud meletus juga akan ada pemberatan hukuman. “Sesuai pasal 63 ayat 1 ke-2 KUHP, maka pencurian saat gunung meletus ada pemberatan hukuman menjadi tujuh tahun”, kata Kajati menjelaskan. (yit)

Pemprov Jatim Siapkan Rp1 Triliun untuk Rumah Korban Kelud

Surabaya (Sergap) – Pemerintah Provinsi Jawa Timur menyiapkan anggaran sekitar Rp1 trilyun untuk merehabilitasi rumah dan bangunan milik warga di sejumlah daerah yang menjadi korban erupsi Gunung Kelud.

“Untuk rehabilitasi kawasan bisa mencapai lebih dari Rp1 trilyun. Tapi, dana sebanyak ini tidak akan ditanggung Pemprov sendirian,” ujar Wakil Gubernur Jatim Saifullah Yusuf di Surabaya, Rabu (19/2/2014).

Kondisi rumah akibat letusan Kelud di Desa Pandansari, Kecamatan Ngantang, Malang. Jawa Timur

Kondisi rumah akibat letusan Kelud di Desa Pandansari, Kecamatan Ngantang, Malang. Jawa Timur

Menurut dia, anggaran tersebut ditanggung bersama dengan pemerintah pusat maupun pemerintah kota/kabupaten. Tidak itu saja, Pemprov Jatim juga membentuk tim gabungan untuk memverifikasi rumah-rumah dan bangunan milik warga yang rusak untuk segera dilakukan pergantian.
Menurut Wagub yang akrab disapa Gus Ipul itu, asumsinya sekitar 20.000 rumah.

Asumsi ini didasarkan pada jumlah pengungsi yang mencapai 80.000 orang. Bila satu keluarga terdiri dari empat orang maka ada sekitar 20.000 ribu rumah yang harus diperbaiki. “Tapi, tentunya ada rumah yang cuma rusak gentengnya, tapi ada juga yang rusak berat. Ini yang masih dilakukan pendataan,” kata mantan Menteri Pembangunan Daerah Tertinggal tersebut.

Menurut Wagub yang akrab disapa Gus Ipul itu, sebanyak sekitar 20.000 unit rumah yang diperkirakan mengalami kerusakan akibat Gunung Kelud meletus pada Kamis (13/2) malam lalu itu. Asumsi ini didasarkan pada jumlah pengungsi yang mencapai 80.000 orang. Bila satu keluarga terdiri dari empat orang maka ada sekitar 20.000 rumah yang harus diperbaiki.

“Tapi, tentunya ada rumah yang cuma rusak gentengnya, tapi ada juga yang rusak berat. Ini yang masih dilakukan pendataan,” kata mantan Menteri Pembangunan Daerah Tertinggal tersebut.

Dalam rangka merealisasikan itu semua, Pemprov Jatim mendatangkan jutaan genteng dari Jawa Tengah, karena stok genteng di Jatim sudah nyaris tidak ada. Gubernur Jatim Soekawo mengatakan, “Mendatangkan genteng dari Jawa Tengah juga karena letak geografis yang tidak jauh, sehingga sangat memungkinkan. Apalagi pembangunan rumah warga ditarget tidak lebih dari dua pecan.”

Gubernur yang akrab disapa Pakde Karwo itu juga optimistis pembangunan dan rehabilitasi rumah di tiga wilayah, yakni Blitar, Kediri dan Malang, akan terelealisasi sesuai waktu yang ditetapkan.

Sementara itu, Pakde Karwo juga mengusulkan perlunya sesegera mungkin untuk memberikan bibit bagi petani yang tanamnya rusak. Hanya saja, pihaknya saat ini masih memprioritaskan pembangunan rumah warga terlebih dahulu.

Tentang pertanian warga yang lahannya rusak akibat erupsi, Pemprov Jatim komitmen segera memberi bibit bagi petani. Selain itu, juga sudah diajukan skema untuk petani yang terlilit utang di bank.

Pihaknya mengaku sudah membicarakan masalah itu ke Bank Indonesia termasuk Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Jawa Timur. Pemprov masih menunggu usulan yang sudah disampaikan ke kedua lembaga tersebut. (ang)

 

Bupati Kediri Ajak Pengusaha Perbaiki Rumah Korban Letusan Kelud

Bupati dr. Hj. Haryanti mengamati batu yang dilontarkan G Kelud

Bupati dr. Hj. Haryanti mengamati batu yang dilontarkan G Kelud

Kediri (Sergap) – Bupati Kediri dr. Hj. Haryanti Sutrisno, Minggu (23/2/2014) mengajak pengusaha untuk bergabung dalam memperbaiki rumah warga yang rusak akibat letusan Gunung Kelud.

Dalam kesempatan ini Bupati mengajak para pengusaha tersebut untuk turun langsung ke Kecamatan Puncu sehingga mengetahui keadaan di wilayah yang akan diperbaiki. “Saya berharap ketika warga pulang dari pengungsian rumah mereka sudah bagus dan tidak bocor,” kata bupati menjelaskan.

Demi peningkatan pelayanan terhadap masyarakat, khususnya korban letusan Gunung Kelud,  bupati Kediri terjun langsung mengunjungi rumah warga serta mendata rumah–rumah yang rusak, baik dalam katagori rusak ringan maupun rusak berat.

Bupati sangat berharap pendataan yang berdasarkan nama dan alamat agar diketahui dengan benar  jumlah kekurangan genting yang dibutuhkan untuk membantu warga.

5 Juta Genteng

Sebagaimana diketahui bahwa rumah rusak akibat letusan Gunung Kelud berjumlah lebih dari 13.000, yang memerlukan perhatian serius dari Pemkab Kediri. Dengan masih rusaknya rumah mereka, maka banyak pengungsi yang masih bertahan di posko-posko pengungsian.

“Untuk rekonstruksi rumah warga perlu 5 juta genteng, sehingga bantuan yang sangat diperlukan saat ini adalah bantuan berupa material untuk bangunan,” kata Edhi Purwanto, SH. Kabag Humas Pemkab Kediri kepada Tabloid Sergap.

Letusan dahsyat Gunung Kelud pada malam Jumat Wage, 13 Februari 2014 itu telah menyebabkan 87.629 penduduk yang terpaksa harus mengungsi. Mereka tersebar di Kabupaten Kediri, Kabupaten Blitar dan Kabupaten Malang, Kota Batu dan Kabupaten Jombang.

Pengungsi di Kabupaten Kediri ada 39.018 jiwa, tersebar di 82 lokasi pengungsian. Kota Batu menampung 14.559 jiwa tersebar di 45 lokasi pengungsian. Kabupaten Blitar terdapat 8.193 jiwa pengungsi. Kabupaten  Malang ada 25.151 jiwa yang tersebar di 81 lokasi pengungsian dan di Kabupaten Jombang ada 708 jiwa tersebar di 4 lokasi pengungsian.  (dick- hms)

Gerakan “Satu Warga Satu Karung” Untuk Bersihkan Kota Kediri

Abdullah Abubakar

Abdullah Abubakar

Kediri (Sergap) – “Gerakan Bersih-Bersih Satu Warga Satu Karung” dicanangkan oleh Pemkot Kediri sebagai tindak lanjut upaya pemulihan wilayah Kota Kediri paska erupsi Gunung Kelud. Gerakan ini difokuskan pada pembersihan pasir yang hingga pecan ini masih menumpuk di berbagai ruas jalan Kota Kediri.

Seluruh warga Kota Kediri diharapkan berpartisipasi menghimpun pasir dari jalan lingkungan pemukiman maupun jalan protokol dan mengumpulkannya dalam karung dan dikumpulkan di pinggir jalan, sehingga meudahkan pengambilan oleh truk-truk yang disediakan Pemkot Kediri.

“Gerakan ini dilakukan serentak sejak hari Minggu sampai dengan selesai”, kata Wakil Walikota (Wawali) Abdullah Abubakar menjelaskan. “Gerakan ini merupakan upaya mempercepat pemulihan kebersihan di Kota Kediri. Kalau hanya diletakkan di tepi jalan tanpa dimasukkan karung, tentu pasir bisa meluber ke jalan lagi,” jelasnya.

Wawali berharap, dengan program ini kondisi jalanan di Kota Kediri bisa segera pulih seperti semula. Sehingga aktivitas masyarakat dapat makin lancar dan ancaman kecelakaan bisa ditekan.

Siapkan Dana Rp 14 Milyar

Sementara itu guna memenuhi dan menambah dana tanggap bencana yang hanya Rp 500 Juta, Pemkot Kediri mengajukan usulan tambahan dana ±Rp 10,5 Milyar dan  ditambah lagi alokasi Dana Bansos dari APBD 2014 senilai Rp 3 Milyar.

TNI/Polri dan warga Kota Kediri bersama membersihkan pasir vulkanik erupsi Gunung Kelud

TNI/Polri dan warga Kota Kediri bersama membersihkan pasir vulkanik erupsi Gunung Kelud

Sekretaris Kota Kediri Agus Wahyudi mengatakan, sejauh ini Pemerintah Kota telah memberitahukan pengajuan besarannya ke DPRD untuk diajukan ke Pemprov Jatim yang pengalokasiannya digunakan untuk pembangunan sarana prasarana fisik seperti bangunan perkantoran yang rusak, bangunan pendidikan, fasilitas umum dan sebagainya

“Kami sudah memberitahukan ke DPRD bukan meminta persetujuan. Dana senilai itu selain untuk membenahi sarana fisik juga sebagai operasional selama penanganan dampak erupsi Gunung Kelud secara keseluruhan, ”ungkapnya saat di temui di gedung DPRD Kota Kediri. (tkr)