Tradisi “Sedhekah Bumi” Desa Pepe, Grobogan Diakhiri Gelar Wayang Kulit

Suprianto, Kepala Desa Pepe memberikan sambutan sebelum pagelaran wayang kulit dimulai

Suprianto, Kepala Desa Pepe memberikan sambutan sebelum pagelaran wayang kulit dimulai

Grobogan (Sergap) – Warga masyarakat Desa Pepe, Kecamatan Tegowanu, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah melaksanakan tradisi budaya Sedhekah Bumi, pada hari Sabtu, tanggal  5 September 2015 yang lalu, bertempat di halaman rumah Suprianto, Kepala Desa Pepe.

Sedhekah Bumi merupakan tradisi Budaya Jawa yang turun-temurun dilakukan dengan tujuan mewujudkan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, atas panen hasil bumi yang melimpah dan permohonan kepada Yang Maha Kuasa agar di tahun berikutnya juga akan menghasilkan panen raya yang berlimpah-ruah serta dijauhkan dari segala kendala apapun, termasuk hama tanaman maupun kemarau yang panjang.

Dalam rangkaian tradisi Sedhekah Bumi tahun ini, juga ditampilkan pagelaran Wayang Kulit semalam suntuk, dengan mendatangkan dalang kondang Jawa Tengah, yaitu  Ki Bayu Aji Pamungkas asal Kartosuro. Lakon yang dipilih adalah Pandhawa Mbangun Praja (Kisah Lima Kesatria Pandawa Membangun Negaranya)

”Pagelaran wayang kulit semalam suntuk, sebagaimana kita ketahui menghabiskan dana yang tidak sedikit.  Ini belum termasuk acara-acara sebelumnya. Tapi kami meyakini tradisi Sedhekah Bumi, ini penting untuk menjaga lekaestarian Budaya Jawa,” kata Mukiban anggota panitia, kepada Tabloid Sergap.

Kepala Desa Pepe, Suprianto dalam sambutannya, sangat mengapresiasi kegotongroyongan warga Desa Pepe dan panitia yang telah menyukseskan acara Sedhekah Bumi yang dipuncaki dengan pagelaran Wayang Kulit tersebut.

“Saya mengucapkan terima kasih seluruh warga atas peransertanya dan juga kepada panitia yang telah menjalankan tugasnya dengan baik. Sehingga acara demi acara berjalan dengan lancar, dimulai malam sebelumnya berupa Slametan dan Tirakatan,” kata Pak Kades Suprianto.

Ditambahkan oleh pak Kades, bahwa pagelaran wayang kulit bukan sekedar tontonan tapi juga tuntunan (nasehat dan teladan) yang bermanfaat dalam hidup dan kehidupan masyarakat. “Saya berharap pagelaran wayang kulit dengan lakon Pandhawa Mbangun Praja ini, dapat memberi hiburan positip bagi kita semua dalam rangka meningkatkan masyrakat yang ayem tentrem dan gemah ripah loh jinawi,” kata Kades Suprianto disambut tepuk tangan hadirin. (Ans)

 

Iklan

Wabup Kukuhkan Pengurus FMM KIA Grobogan 2015-2019

Wakil Bupati Grobogan Icek Baskoro, SH sedang menyematkan pin kepada Ketua FMM KIA dr. Henny Sutrisno

Wakil Bupati Grobogan Icek Baskoro, SH sedang menyematkan pin kepada Ketua FMM KIA dr. Henny Sutrisno

Grobogan (Sergap) – Wakil Bupati (Wabup) Grobogan H. Icek Baskoro, SH  mengukuhkan kepengurusan Forum Masyarakat Madani Peduli Kesehatan Ibu dan Anak (FMM KIA) Kabupaten Grobogan, dalam acara Deklarasi dan Lokakarya Penguatan FMM KIA, bertempat di ruang pertemuan Wakil Bupati, Kamis (25/6/2015).

Kepengurusan FMM KIA Kabupaten Grobogan masa bakti 2015-2019 bertindak sebagai Ketua : dr. Henny Sutrisno, Sekretaris : Badiatul Muchlisin Asti, dan Bendahara : Rois Hamdani, M.Ag.

Ketua FMM KIA Kabupaten Grobogan melalui sekretaris Badiatul Muchlisin Asti menyatakan, forum ini dibentuk sebagai arena partisipasi warga untuk menyuarakan kepentingan dan menuntut hak agar pelayanan Kesehatan Ibu, Balita dan Bayi Baru Lahir (KIBBLA) menjadi lebih baik. Selain itu bisa menjadi arena untuk menyampaikan pandangan kepada penyedia layanan dan pemerintah secara bertanggungjawab dan berkualitas.

Forum ini berperan antara lain memberikan identitas sosial bagi para individu dan organisasi untuk berkontribusi bagi penurunan angka kematian ibu dan bayi baru lahir, antara lain terlibat dalam Pokja Expanding Maternal and Neonatal Survival (Emas).

Membantu proses pelayanan gawat darurat dengan kesiapsiagaan masyarakat di tingkat komunitas seperti ambulan, donor darah, dana sehat, dan lain sebagainya. Bertindak sebagai “clearing-house” informasi tentang layanan kesehatan ibu dan anak. Menjembatani kepentingan masyarakat dengan penyedia pelayanan dan pemerintah, misal dalam hal pembiayaanatau jaminan sosial. Membangun rasa aman dan melindungi masyarakat dari kecurangan birokrasi pelayanan. Juga mengkoordinasikan partisipasi ‘action-research’, salah satunya melalui Kartu Laporan Warga

Wabup Grobogan Icek Baskoro, SH dalam sambutannya menyatakan apresiatif terhadap kehadiran FMM KIA Kabupaten Grobogan yang akan ikut berpartisipasi dalam upaya penyelamatan ibu hamil dan melahirkan serta bayi baru lahir. “Saya berharap agar terbentuknya forum ini tidak hanya sekedar latah, namun  memang benar-benar keluar dari hati nurani untuk ikut berperan aktif menurunkan angka kematian ibu melahirkan dan bayi baru lahir”, pesan Wabup.

Dalam kesempatan tersebut, Wabup dan Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Grobogan beserta anggota forum beramai-rami ikut menandatangani deklarasi forum. Kepala DKK Grobogan dr. Johari Angkasa mengakui perlunya bantuan dan kerja sama dari berbagai pihak, termasuk masyarakat sipil yang secara sukarela memberikan pelayanan kepada ibu dan bayi.

Turut hadir dalam kesempatan tersebut Ketua District Leader Team Emas Kabupaten Grobogan Amiruddin, sejumlah SKPD terkait, serta pimpinan rumah sakit dan puskesmas. Sementara Lokakarya Penguatan FMM KIA disampaikan Civil Society Officer Emas Jawa Tengah Heri Susanto. (ANS)

Pekan Madaris, Meningkatkan Ukuwah Islamiah Siswa-Siswi Madin Grobogan

Camat Godong saat membuka Pekan Madaris dan Kapolsek saat memberangkatkan Pawai Ta’aruf

Camat Godong saat membuka Pekan Madaris dan Kapolsek saat memberangkatkan Pawai Ta’aruf

Grobogan (Sergap) – Sebanyak 600 siswa mengikuti Pekan Madaris Madrasah Diniyah (Madin) se Kecamatan Godong Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah. Pekan Madaris ini diselenggarakan oleh Pengurus Kelompok Kerja Madrasah Diniyah (KKMD) LP Ma’arif NU Kecamatan Godong.

Acara Pekan Madaris merupakan kegiatan kemah siswa-siswi Madrasah Diniyah yang dilaksanakan setiap dua tahun sekali. Untuk tahun ini digelar di lapangan Desa Dorolegi Kecamatan Godong, mulai  Jum’at sampai dengan Minggu, tgl 29 sampai dengan 31 Mei 2015 yang baru lalu.

Pembukaan acara pada Jumat sore, dimeriahkan dengan Pawai Ta’aruf diiringi Drumband keliling jalan-jaan Desa Dorolegi dihadiri oleh Camat Godong, Mundakar, S.Sos, MM, Kapolsek Godong, aparat Pemerintah Desa dan tamu undangan.

“Kegiatan Pecan Madaris diharapkan bisa menjadi ajang silaturrahmi antar madrasah dan bisa saling ajang tukar pengalanman atau ilmu madrasah satu dengan lainnya, sehingga menjadikan genarasi penerus yang lebih baik. Mudah-mudahan ke depan anak kita menjadi anak yang sholeh dan sholehah yang mampu menempuh pendidikan ke jenjang lebih tinggi”, tutur Camat Mundakar dalam sambutannya.

Berbagai acara digelar dalam Pekan Madaris, di antaranya Lomba Qiro’ah, Lomba LCT, Lomba Hafalan Pasholatan dan Pentas Seni. “Pekan Madaris tahun ini diikuti 600 siswa-siswi. Dalam Pekan Madaris ini dilaksanakan berbagai acara yang berujuan menjalin ukuwah siswa siswi dan mengasah bakat bakat mereka”, kata Abdul Aziz, salah satu panitia menjelaskan kepada Tabloid Sergap.

Pekan Madaris ini didukung sepenuhnya oleh seluruh komponen masyarakat dan Pemerintahan Desa, bersama Karang Taruna, Puskesmas Godong. “Mereka membantu menyediakan sarana MCK dan pelayanan kesehatan bagi 600 pesertai”, tutur Kades Desa Dorolegi M. Widjanarko.

Tentunya banyak warga sangat berharap Pekan Madaris yang digelar setiap dua tahun ihi, akan terus-menerus secara berkelanjutan akan selalu meningkat kualitasnya. Salah satunya adalah guru Madrasah Diniyah Dorolegi, Maesaroh AH, Spd.I. ”Saya berharap ke depan akan semakin baik, utamanya dalam Ukuwah Islamiyahnya”, katanya berharap. (Ans)

 

 

 

 

Memanfaatkan Facebook Untuk Memajukan UMKM

Talk Show Wirausaha bareng Pikukuh Pambudhito, Selasa (26/05/2015) di Gedung UMKM Centre

Talk Show Wirausaha bareng Pikukuh Pambudhito, Selasa (26/05/2015) di Gedung UMKM Centre

Semarang (Sergap) – Menggunakan media sosial Facebook untuk pemasaran produk, menjadi bahasan dalam acara Talk Show yang diselenggarakan oleh Dinas Koperasi Jawa Tengah, Rirektorat Jendral Pajak dan Kantor Wilayah DPJ Jawa Tengah, digelar Selasa (26/05/2015) yang lalu di Gedung UMKM Centre jalan Setiabudi 192 Srondol Jawa Tengah.

Tampil sebagai pembicara Marina, T Nugroho Hanto (BRI), Pikukuh Pambudhito (UKM Guest Online) dan Rizal Pokji. Audiennya adalah para pelaku UMKM Jawa Tengah. Para pelaku UMKM Jateng diajak untuk menggunakan media sosial Facebook dalam memasarkan produk barang dan jasanya. Alasanya pengguna Facebook di Indonesai sangatlah besar, mencapai  85 juta orang di tahun 2015 ini.

“Sangat mudah memulai bisnis menggunakan Facebook. Mudah mencari sumber traffic untuk berbisnis, low cost sangat kecil sehingga menguntungkan dari segi permodalan. Menu-menu pendukung untuk berjualan sangat banyak sekali, tidak membutuhkan tempat yang luas  untuk membuka bisnis online, bisa memilah target penjualan kita”, kata Pikukuh Pambudhito menjelaskan.

Ada pula fitur FbAds yang bisa digunakanoleh  semua orang, dengan tarif mulai dari Rp 10 ribu per 1 kali ads. Bisa mentargetkan usia dan aktifitas yang sangat relevan dengan bisnis kita, semua orang hampir setiap hari online dengan Facebook. Pelaku UMKM yang menggunakan tehnologi online akan tumbuh dua kali lipat, dibanding dengan yang  tidak memanfaat kan tehnologi online.

“Bukan berarti tidak punya toko, tidak bisa usaha. Pakai cara kreatif memanfaatin online”, ajak Kukuh kepada para pelaku UMKM. “Jangan kita yang dimanfaatkan oleh Facebook,  tapi Facebook kita manfaatkan. Sayang banget kalau belum punya akun Facebook. Sudah ada 7 juta netizen di Indonesia yang rajin belanja online, tapi sayang nya pelaku UKM yang memanfaatin online masih kurang”, kata Kukuh menambahkan.

Netizen adalah pengguna internet di atas tiga jam. Aplikasi yang dimiliki orang Indonesia paling banyak adalah Facebook, Blackberry Messenger dan WhatsApp. (Ans)

Buyut Gus Dur dan Mitos Sunan Kalijaga Dalam Susur Wisata Religi Grobogan

Masjid Sirojudin

Masjid Sirojudin

Grobogan (Sergap) – Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai sejarah bangsanya. Berawal dari itu, maka Komunitas Grobogan Corner (GC), Komunitas I Love Gubug (KILG), Forum Masyarakat Peduli Grobogan (FMPG), Komunitas DarmarRaja dan Komunitas Ngroto Net, secara bersam-sama melakukan Susur Wisata ke 4 yang bernuansa religi di Kecamatan Gubug dan Kecamatan Tanggungharjo, Kabupaten Grobogan, JawaTengah, pada hari Minggu (5/4/2015).

Beberapa tempat yang disinggahi di antaranya Masjid Sirojudin dan Makam Mbah Khoiron, buyut Presiden RI ke 4 KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) di Desa Ngroto, Kecamatan Gubug Kabupaten Grobogan. Juga Sendangsari yang merupakan peninggalan sejarah Sunan Kalijaga, salah satu dari Walisanga yang terletak di Desa Sugihmanik, Kecamatan Tanggungharjo, Kabupaten Grobogan.

Menurut Heru Wardono yang akrab disapa Mbah Bejo, seorang pemerhati sejarah dan budaya Kabupaten Grobogan, Gus Dur adalah keturunan dari Mbah Khoiron. Konon dulu, ada salah satu santri di Pondok Pesatren Ngroto yang dipimpin Kyai Siradjudin, yang bernama Khoiron. Setelah tamat mengaji, dia menjadi Kyai di Ngroto juga. Karena badannya kecil dan pendek, dia mendapat julukan Mbah Gareng.

Kyai Khoiron mempunyai 2 anak laki-laki, yang bernama Asy’ari dan Asngari. Asy’ari menambah ilmu agama di Jombang, Jawa Timur, menjadi Kyai dan berkeluarga di sana. Kyai Asy’ari menurunkan KH. Hasyim Asy’ari pendiri Nadlathul Ulama. Hasyim Asy’ari menurunkan KH. Wahid Hasyim, Menteri Agama Pertama Republik Indonesia, yang merupakan ayah dari Presiden ke 4 Republik Indonesia KH. Abdurrahman Wahid yang juga disapa Gus Dur.

Sedangkan Asngari, yang tetap tinggal di Ngroto, menurunkan Baedlowi (Kades Ngroto pertama). Baedlowi menurunkan Sukemi, dan Sukemi menurunkan Zuhri (Mbah Zuhri Kuwaron).

“Di saat Gus Dur menjabat Presiden, beliau bersama wakilnya Megawati, pada tahun 2002 pernah datang ke Desa Ngroto“, kata Mbah Bejo yang didampingi juru kunci makam, kepada Peserta Susur Wisata.

Selanjutnya, Peserta Susur Wisata meneruskan perjalan ke lokasi wisata Sendang Sari, Desa Sugihmanik dan Balaipanjang, Kecamatan Tanggungharjo, Kabupaten Grobogan. Rombongan disambut oleh jajaran Pemerintah Desa Sugihmanik, dipimpin langsung oleh Kepala Desa (Kades) Imam Santoso.

1. Sendangsari. 2. Bende. 3. Kentongan. 4. Wartawan Tabloid Sergap, Ansori (kiri) mengapit  Grobog (lemari kayu) bersama Kades Imam Santoso

1. Sendangsari. 2. Bende. 3. Kentongan. 4. Wartawan Tabloid Sergap, Ansori (kiri) mengapit Grobog (lemari kayu) bersama Kades Imam Santoso (kanan)

Mitos sejarah Sendangsari merupakan situs sejarah peninggalan Sunan Kalijogo, salah satu Walisanga. Ketika Sunan Kalijaga mencari bahan baku sirap untuk pembangunan Masjid Demak, ia bersemedi di atas batu dan terdengarlah suara ikan dari bawah batu itu.

Ketika batu diangkat,  muncullah mata air yang kemudian dikenal sebagai Sendangsari. Di area ini juga terdapat Masjid Baiturorohman yang di dalamnya terdapat sebuah grobog (almari kayu) bertuliskan tahun 1353 dalam huruf Arab, kentongan dan bende (gong kecil).

Kades Imam Santoso dalam kesempatan ini mengajak untuk bersama melestarikan peninggalan sejarah yang kebetulan ada di wilayah nya. “Mari kita bersama melestarikan dan saya menyampaikan terimakasih atas perhatian dari club/komunitas ini,“ tutur Pak Kades.

Ajakan ini, senada seirama dengan semangat para peserta Susur Wisata Religi. Siswanto, peserta juga, menilai kegiatan ini membuka hati untuk lebih mencintai Grobogan. Abdul Rozak peserta lain, melihat potensi besar yang dapat mengembangkan wisata Grobogan. Sahidat Puji, peserta lainnya menilai perlunya publikasi, agar lebih banyak dikenal oleh masyarakat. Simon Wiji Widodo, salah satu peserta juga, berharap peningkatan peran serta masyarakat untuk dalam menjaga kelestarian peninggalan bersejarah ini.

Sementara itu, Muhlisin Asti Ketua GC menyimpulkan besarnya potensi wisata di Grobogan yang seharusnya bisa dikembangkan. “Sejarah Desa Ngroto dengan Mbah Khoiron dan petilasan Sunan Kali Jogo, kita harap dapat abadi sebagai pengingat sejarah bagi generasi muda,” kata Muhlisin Asti didampingi Taufik Ketua FMPG. (ans)

Stasiun Tanggung Grobogan, Cikal Bakal Perkeretaapian Indonesia

94 stasiun tanggung

Stasiun Tanggung terletak di Desa Tanggung, Kecamatan Tanggungharjo, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah

Grobogan  (Sergap) – Kereta api merupakan salah satu sarana transportasi yang sangat popular tempo dulu, dengan suara dan asapnya yang khas serta berbahan bakar kayu. Kereta api modern saat ini telah bahan bakar solar atau digerakkan dengan tenaga listrik.

Sejarah panjang kereta api di Indonesia, terkait erat dengan Grobogan, dibuktikan dengan sebuah keberadaan salah satu stasiun nomor dua tertua di Indonesia, yaitu Stasiun Tanggung, yang terletak di Desa Tanggung, Kecamatan Tanggungharjo, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah. Stasiun Tanggung adalah sebuah stasiun kereta api yang terletak di ketinggian +20m dari permukaan laut (dpl), di bawah kendali Daerah Operasi IV Semarang.

Pengendali wessel dan almari penyimpan karcis tempo dulu

Pengendali wessel dan almari penyimpan karcis tempo dulu

Heru Hardono, pemerhati sejarah Kabupaten Grobogan yang akrab disapa Mbah Bejo, mengatakan Stasiun Tanggung merupakan stasiun kereta api nomor dua tertua di Indonesia, dan merupakan stasiun kereta api tertua yang masih operasional di Indonesia.

Stasiun tertua di Indonesia dalam beberapa catatan adalah Stasiun Semarang Gudang Tambaksari yang dibangun oleh Nederlandsch Indische Spoorweg Maatschappij (NIS) atas perintah Gubernur Jenderal Baron Sloet van de Beele pada tanggal 16 Juni 1864

“Pada tanggal 10 Agustus 1867, jalur kereta api pertama dibuka, antara Tanggung-Kemijen yang berjarak 25 kilometer, oleh Gubernur Jendral Ludolph Anne Jan Wilt Sloet van de Beele”, tutur Mbah Bejo.

Bangunan stasiun yang didirikan pertama kali telah dibongkar pada tahun 1910, kemudian dibangunlah bangunan stasiun yang baru, yang dapat dilihat sampai sekarang. Pada pertengahan tahun 1980-an, stasiun ini pernah hendak dibongkar dan ditempatkan di Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta.

Stasiun Tanggung sekarang sudah difungsikan kembali untuk menaikkan penumpang kereta yang dilayani oleh kereta KRD Pandanwangi, yang melayani jurusan Semarang – Solo dan sebaliknya 2 kali sehari dan sebagai stasiun pengawas keamanan perjalanan kereta api di lintasan Brumbung-Gundih, yang juga melewati stasiun Kedungjati, yang tak kalah menarik nilai historisnya.

Komunitas Grobogan Corner(GC) dan kawan-kawan, berfoto bersama petugas stasiun

Komunitas Grobogan Corner(GC) dan kawan-kawan, berfoto bersama petugas stasiun

Komunitas Grobogan Corner(GC), Komonitas I Love Gubug, Komunitas Ngroto.net, Forum Peduli Grobogan (FMPG), pada hari Minggu (5/4/2015), melakukan susur wisata, mengunjungi Stasiun Tanggung. Salah satu tujuan susur wisata ini adalah untuk memperkenalkan dan menghargai sejarah masa lalu, sehingga lebih termotivasi untuk menghargai nilai-nilai sejarah bangsa.

Ketua GC Muchlisin Asti berharap stasiun bersejarah ini perlu dilestarikan. ”Stasiun Tanggung adalah stasiun kereta api kedua tertua di Indonesia dan kita berharap bisa diabadikan menjadi museum yang bisa menarik masyarakat untuk mengunjunginya“, kata berharap.

Ahmad, salah satu pengunjung warga Godong Grobogan, juga berharap stasiun ini biasa terawat dengan baik dan bisa menjadi salah satu obyek wisata di Grobogan. ”Saya kagum dengan keaslian Stasiun Tanggung yang kuno ini. Semoga tetap bisa terawat dengan baik karena bernilai sejarah,” kata Ahmad kepada Tabloid Sergap. (Ans)

Kasus Video Mesum Pelajar Grobogan, Sarat Pelanggaran Hukum

Video mesum diduga dilakukan dengan cara memaksa pelaku untuk mengulangi perbuatannya.

Video mesum diduga dilakukan dengan cara memaksa pelaku untuk mengulangi perbuatannya.

Grobogan (Sergap) – Sebuah video mesum pasangan remaja yang salah salah satunya, masih mengenakan seragam sekolah berlogo Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 1 Purwodadi, sempat menggemparkan warga Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah.

Kepada wartawan, Rabu (01/04/2015), Kapolres Grobogan, AKBP Indra Darmawan, menjelaskan, sesuai investigasi yang diakukan oleh pihaknya, kasus ini sudah terjadi sejak satu bulan yang lalu. Namun, video mesum itu baru merebak dan mulai heboh di kalangan masyarakat sejak akhir Maret 2015.

Kapolres menambahkan bahwa video berdurasi 10 menit tersebut, berlokasi di  obyek wisata Gua Macan Desa Sumberjatipohon Kecamatan Grobogan. Dalam video tampak warga diduga menangkap basah pasangan remaja itu dan kemudian dipaksa untuk mengulangi perbuatannya di depan banyak orang dan direkam dengan ponsel.

Kapolres juga memastikan bahwa pihaknya sudah mengetahui ciri-ciri warga yang diduga terlibat pemaksaan adegan mesum tersebut. “Jika para warga terbukti memaksa kedua pelajar berbuat mesum, merekam dan menyebarluaskannya, maka mereka terancam pasal 27 dan 28, Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronika (ITE), ancaman hukuman maksimum 6 tahun penjara”, kata Kapolres.

Pasal 27 dalam UU ITE itu terdiri dari 4 ayat, yaitu,

(1) Setiap Orang dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan/atau mentransmisikan dan/atau membuat dapat diaksesnya Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik yang memiliki muatan yang melanggar kesusilaan.

(2) Setiap Orang dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan/atau mentransmisikan dan/atau membuat dapat diaksesnya Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik yang memiliki muatan perjudian.

(3) Setiap Orang dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan/atau mentransmisikan dan/atau membuat dapat diaksesnya Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik yang memiliki muatan penghinaan dan/atau pencemaran nama baik.

(4) Setiap Orang dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan/atau mentransmisikan dan/atau membuat dapat diaksesnya Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik yang memiliki muatan pemerasan dan/atau pengancaman.

Dalam ketentuan pidananya tertulis bahwa setiap orang yang memenuhi unsur sebagaimana dimaksud dalam Pasal 27 ayat (1), ayat (2), ayat (3), atau ayat (4) dipidana dengan pidana penjara paling lama 6 (enam) tahun dan/atau denda paling banyak Rp1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah).

Perbuatan memaksa orang melakukan hubungan seksual, juga melanggar pasal 289 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana, yang tertulis “Barang siapa dengan kekerasan atau ancaman kekerasan memaksa seorang untuk melakukan atau membiarkan dilakukan perbuatan cabul, diancam karena melakukan perbuatan yang menyerang kehormatan kesusilaan, dengan pidana penjara paling lama sembilan tahun”.

Merekam dan menyebarluaskan video mesum itu, juga berpotensi melanggar pasal 4, UU 44 Tahun 2008 tentang Pornografi. Pasal 4 dalam undang-undang ini terdiri dari dua ayat, yaitu :

(1) Setiap orang dilarang memproduksi, membuat, memperbanyak, menggandakan, menyebarluaskan, menyiarkan, mengimpor, mengekspor, menawarkan, memperjualbelikan, menyewakan, atau menyediakan pornografi yang secara eksplisit memuat: a. persenggamaan, termasuk persenggamaan yang menyimpang; b. kekerasan seksual; c. masturbasi atau onani; d. ketelanjangan atau tampilan yang mengesankan ketelanjangan; e. alat kelamin; atau f. pornografi anak.

(2) Setiap orang dilarang menyediakan jasa pornografi yang: a. menyajikan secara eksplisit ketelanjangan atau tampilan yang mengesankan ketelanjangan;  b. menyajikan secara eksplisit alat kelamin; c. mengeksploitasi atau memamerkan aktivitas seksual; atau d. menawarkan atau mengiklankan, baik langsung maupun tidak langsung layanan seksual.

Ketentuan pidananya tercantum pada pasal 29, yaitu : Setiap orang yang memproduksi, membuat, memperbanyak, menggandakan, menyebar-luaskan, menyiarkan, mengimpor, mengekspor, menawarkan, memperjualbelikan, menyewakan, atau menyediakan pornografi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (1) dipidana dengan pidana penjara paling singkat 6 (enam) bulan dan paling lama 12 (dua belas) tahun dan/atau pidana denda paling sedikit Rp250.000.000,00 (dua ratus lima puluh juta rupiah) dan paling banyak Rp6.000.000.000,00 (enam miliar rupiah).

Jika para remaja tersebut, ternyata belum berusia 18 tahun, maka berlaku pula Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, yang ancaman hukumannya juga tak kalah berat.

Sementara itu Humas MAN 1 Purwodadi, Bashori, membenarkan jika logo yang menempel di seragam sekolah siswi tersebut merupakan logo MAN 1 Purwodadi. Namun pihaknya tak bisa berspekulasi apakah siswi tersebut merupakan pelajar MAN 1 Purwodadi. “Pihak sekolah, masih berupaya menelusuri siapa siswi tersebut. Jika benar yang melakukan pelajar kami akan dipecat,” tegasnya.

Semestinya, kedua remaja yang sedang tersesat tersebut dibina untuk tidak mengulangi perbuatan yang merugikan masa depannya itu. Bukan malah dengan ramai-ramai dipaksa untuk mengulangi lagi perbuatannya, direkam dan disebarluaskan. (ans/tkr)

Perang Terhadap Narkoba dan HIV/AID di Desa Dorolegi, Kabupaten Grobogan

Puryanto, SKM, MM dari Badan Pengendalian Penyakit HIV/AIDS Dinas Kesehatan Kabupaten Grobogan, sedang melakukan penyuluhan.

Puryanto, SKM, MM dari Badan Pengendalian Penyakit HIV/AIDS Dinas Kesehatan Kabupaten Grobogan, sedang melakukan penyuluhan.

Grobogan (Sergap) – Epidem HIV/AIDS di Indonesia sudah berlangsung selama kurang lebih 15 tahun dan diduga masih akan berkepanjangan karena masih banyak faktor yang memudahkan penularannya. Cara penularan infeksi HIV/AIDS adalah melakukan seks yang tidak aman dan mengkonsumsi napza ((Narkotika, Psikotropika, dan Zat Adiktif) melaui jarum suntik yang tidak steril, dan saat transfusi darah. Pengaruh modernisasi berupa pergaulan bebas, adalah salah satu gaya hidup remaja, patut diduga menimbulkan dampak negatif, terjadinya penularan HIV/AIDS di masayarakat.

Untuk membentenginya maka Karang Taruna “Rukun Santoso” Desa Dorolegi, Kecamatan Godong, Kabupaten Grobogan Jawa Tengah bersama Mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Agama Negeri (STAIN) Kudus yang sedang Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Desa Dorolegi Kecamatan Godong Kabupaten Grobogan, didukung oleh Badan Pengendalian Penyakit HIV/AIDS Dinas Kesehatan Kabupaten Grobogan, menggelar penyuluhan melawan efek negatif Narkoba dan HIV/AID.

Penyuluhan dilaksanakan pada hari Minggu malam (22/3/2015), bertempat di Desa Dorolegi, Kecamatan Godong, Kabupaten Grobogan, diawali dengan pemaparan oleh Puryanto, SKM, MM dari Badan Pengendalian Penyakit HIV/AIDS Dinas Kesehatan Kabupaten Grobogan.

Dikatakan oleh Puryanto, bahwa HIV/AIDS mulai ditemukan di wilayah Kabupaten Grobogan pada tahun 2002. Sedangkan data sementara pada tahun 2015, penderitanya sebanyak 590 orang. Pada tahun 2014, sebanyak 142 orang, sedangkan di Kecamatan Godong tercatat sudah ada 39 orang penderita HIV/AID.

“Terjadi peningkatan yang sangat tajam, pada data tahun 2014 jika dibanding tahun 2015. Karena itu untuk pecegahannya, janganlah melakukan hubungan seks secara bebas berganti-ganti pasangan, setia pada pasangan masing-masing, gunakan kondom untuk penyegah penularan, tidak memakai narkoba suntik,” tutur Puryanto menjelaskan.

Sebagai petugas Pemerintah Kabupaten Grobogan, Puryanto meminta agar tidak melakukan hubunagn seks sebelum menikah. “Dan saya ingatkan, agar jangan coba-coba untuk mengobati sendiri, jika terkena penyekit ini, karena bisa mengakibatkan kekebalan terhadap obat-obatan sehingga semakin sulit untuk disembuhkan,” kata Puryanto wanti-wanti.

Diingatkan pula bahwa HIV/AIDS adalah penyakit yang menular dan menyerang sistem kekebalan tubuh dan sulit untuk disembuhkan, karena belum ditemukan obat yang tepat untuk menyembuhkannya. Obat antiretroviral (ARV) yang ada saat ini, hanya bisa untuk menghambat perkembangbiakan virus HIV saja. Puryanto juga menjelaskan bahwa, mayoritas penularan HIV/AID di wilayah Kabupaten Grobogan, diakibatkan oleh hubungan seksual.

Sedangkan gejala klinis HIV/AIDS adalah demam berkepanjangan lebih dari 1-3 bulan, diare kronik 1 bulan terus-menerus, penurunan berat badan, batuk kronik 1 bulan berkelanjutan, serta terjadinya infeksi pada mulut dan tenggorokan yang disertai pembengkakan, serta munculnya bercak-bercak gatal di seluruh tubuh.

Pemuda, Karang Taruna “Rukun Santoso” Desa Dorolegi, serta mahasiswa STAIN Kudus saat mengikuti penyuluhan

Pemuda, Karang Taruna “Rukun Santoso” Desa Dorolegi, serta mahasiswa STAIN Kudus saat mengikuti penyuluhan

Maulida Fajeria, salah satu mahasiswa STAIN Kudus yang sedang KKN di Desa Dorolegi, melihat penyuluhan ini sangat penting bagi masyarakat, pemuda dan mahasiswa. “Dari data yang disampaikan tadi, Kecamatan Godong termasuk sangat tinggi potensi penularan HIV/AIDnya. Semoga dengan penyuluhan ini, kita semua, khususnya para pemuda Karang Taruna dan semua warga Dorolegi ini bebas dari HIV/AIDS”, katanya kepada Tabloid Sergap seusai acara.

Pemerintah Desa Dorolegi juga menyambut positif acara penyuluhan HIV/AIDS ini. “Saya merasa senang karena Karang Taruna bersama mahasiswa mengadakan kegiatan penyuluhan ini, agar masyarakat bisa tahu tentang betapa bahayanya penyakit HIV/AIDS ini. Saya sangat berharap agar kita semua selalu menghindari perbuatan yang tidak baik yang bertentangan dengan norma agama,” kata Kepala Desa Widjanarko, SH sembari mengacungkan jempolnya.

Pada acara penyuluhan ini, juga diputar beberapa film tentang dampak penyakit HIV/AIDS, di mana menggambarkan dengan jelas para penderita HIV/AIDS. ”Saya ngeri melihat orang terkena HIV/AIDS dalam film tadi. Semoga para pemuda Karang Taruna kita terbebas dari penyakit yang berbahaya dan sangat menular itu. Kita harus perang melawan HIV/AIDS, setelah kita tahu dan faham penyebab dan bahayanya”, kata Purwinto, Ketua Karang Taruna  Rukun menegaskan. (ans)

NARKOBA MUSUH KITA BERSAMA

Meriahnya Jalan Sehat Minggu Pagi di Desa Dorolegi, Grobogan

94 jalan sehat dorolegiGrobogan (Sergap) – Dalam rangka meningkatkan kesehatan masyarakat untuk membangun manusia seutuhnya, Pemerintah Desa (Pemdes) Dorolegi, Kecamatan Godong, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah bersama mahasiswa STAIN Kudus yang sedang Kuliah Kerja Nyata (KKN), menyelenggarakan Jalan Sehat.

Jalan Sehat di Minggu pagi (15/03/2015) yang segar itu, juga bertujuan untuk menjalin silaturahmi antara jajaran pamong Pemdes Dorolegi dengan warganya, dan tentu saja juga menjadi ajang silaturahmi antar warga Desa Dorolegi.

Rute Jalan Sehat start dan finish di Balai Desa, kemudian menyusuri jalan-jalan desa yang rindang dan hijau dan berudara segar, mampu menciptakan keguyuban dan suasana kekeluargaan yang meriah. Kepada ratusan peserta ini, dibagikan kupon untuk diundi dengan hadiah berupa peralatan rumah tangga dan berbagai barang elektronik.

Undian dilaksanakan di garis finish, di mana digelar pula musik Dangdut yang tentu saja membuat peserta tak malu-malu untuk bergoyang, sambil menunggu keberuntungan jika namanya disebut sebagai pemenang puluhan hadiah yang tersedia.

Kades Dorolegi Widjanarko, SH (tanda panah) foto bersama warga dan mahasiswa STAIN Kudus

Kades Dorolegi Widjanarko, SH (tanda panah) foto bersama warga dan mahasiswa STAIN Kudus

Ditemui di sela-sela acara, Kepala Desa Dorolegi Widjanarko, SH mengungkapkan kegembiraannya melihat betapa warganya sangat antusias mengikuti jalan sehat. ”Jalan sehat ini, ke depannya akan diselenggarakan minimal sekali dalam setahun. Silaturahmi menimbulkan keakraban dan menjalin rasa kekeluargaan, sehingga komunikasi antar Pemdes dengan warganya akan lebih berkualitas. Pembangunan di segala bidang akan tepat sasaran, jika pemerintah manunggal dengan rakyatnya”, kata Pak Kades muda usia ini.

Sementara itu, Suparjo Aspiyah, Anggota Badan Perwakilan Desa (BPD) Dorolegi, juga menyampaikan kegembiraannya saat melihat warga desa, anak-anak maupun orang tua tampak bersuka-ria mengikuti jalan sehat. “Saya gembira melihat warga berbondong-bondong mengikuti jalan santai. Hadiah bukan daya tarik utama bagi warga, mereka senang karena Pemdes bersama mahasiswa KKN STAIN Kudus, menyediakan sebuah even yang sehat dan menghibur di hari Minggu pagi”, kata Suparjo sambil tersenyum.

Pendapat yang sama juga disampaikan oleh Purnomo, warga Desa Dorolegi yang keseharian berprofesi sebagai penjahit. ”Saya sebagai warga Desa Dorolegi merasa senang dan gembira melihat anak-anak dapat hadiah. Kami berharap warga desa bisa sehat dan bisa sejahtera,” kata Purnomo. (ans)

Susur Wisata Grobogan Corner, Mencari Potensi Baru Wisata Alam

Rombongan Susur Alam Grobogan Corner III

Rombongan Susur Alam Grobogan Corner III

Grobogan (Sergap) – Upaya untuk terus menggali potensi wisata di Kabupaten Grobogan terus dilakukan oleh Grobogan Corner (GC). Terkait itu, pada Minggu (8/3/2015), sejumlah aktivis GC kembali melakukan susur wisata. Kali ini menyusuri berbagai potensi wisata di Kecamatan Grobogan, bersama dengan Scout Adventure Communty (SAC) dan belasan mahasiswa STAIN Kudus yang sedang KKN di Desa Godong.

Aktivis GC mengunjungi lima objek yang berpotensi, yakni makam Adipati Puger Martopuro, Sumber Jatipohon, wana wisata Gunung Lamping, Gua Macan dan Gua Lawa, serta Air Terjun Gulingan.

Pengurus GC bidang pariwisata Muhammad Nurul Hidayat dan Irkam Asnawi menyatakan, GC melihat adanya sejumlah potensi wisata alam yang sangat indah dan eksotis. Gua Macan dan Gua Lawa yang berada di Dusun Watusong, Desa Sedayu, misalnya, merupakan objek wisata alam yang menawarkan eksotisme ornamen stalaktik dan stalakmit.

“Keindahan dan eksotisme objek wisata kedua gua itu tidak diragukan lagi dan setiap pengunjung pasti takjub ketika memasuki gua itu. Sayangnya masih banyak yang belum mengetahui keberadaan objek wisata ini karena minimnya promosi,” tutur Hidayat yang disepakati pulah oleh Asnawi.

Ditambahkan Hidayat, objek wisata gua alam tersebut bisa dikembangkan, misalnya sebagai area outbound. Karena itu pihaknya berharap kepada para pihak terkait untuk bersungguh-sungguh mengoptimalkan pengelolaan objek wisata ini dan gencar mempromosikannya sehingga objek wisata ini semakin dikenal luas dan menjadi salah satu destinasi wisata alternatif di Kabupaten Grobogan.

Berjarak 2 Km dari Gua Macan dan Gua Lawa terdapat potensi wisata alam benar-benar masih “perawan”. Yakni Air Terjun Gulingan yang terletak di Dusun Candi, Desa Sedayu. Sayangnya, akses jalan menuju sana sangat parah dan sangat licin di musim hujan.

“Air terjun gulingan sangat indah. Menawarkan eksotisme air terjun alami yang sangat memesona. Jika dikelola dengan baik akan menjadi destinasi wisata favorit di Kabupaten Grobogan, sepaket dengan Gua Macan dan Gua Lawa,” tutur Hidayat.

Sementara itu, Ketua GC Badiatul Muchlisin Asti berharap pemerintah daerah, dalam hal ini Disporabudpar, serius untuk menggali dan mengembangkan potensi wisata di Kabupaten Grobogan. “Potensi-potensi wisata tersebut membuat kami optimis, akan menjadikan Grobogan sebagai tujuan wisata yang menarik,” tuturnya. (ans)