Peluncuran “Ini Baru Indonesia” Dalam Peringatan Lahirnya Pancasila di Blitar

Presiden Jokowi tampak bersama Ketua MPR Zulkifli Hasan, Wakil Ketua MPR EE Mangindaan dan Ketua DPD, H. Irman Gusman, sesaat setelah penandatanganan Manifesto Ini Baru Indonesia.

Presiden Jokowi tampak bersama Ketua MPR Zulkifli Hasan, Wakil Ketua MPR EE Mangindaan dan Ketua DPD, H. Irman Gusman, sesaat setelah penandatanganan Manifesto Ini Baru Indonesia.

Blitar (Sergap) – Alun-Alun Kota Blitar, benar-benar dipenuhi ribuan warga Kota Blitar dan sekitarnya, dalam peringatan Hari Lahirnya Pancasila, 1 Juni 2015. Warga yang terdiri dari masyarakat umum, pegawai negeri, sampai pelajar ini mengenakan berbagai macam atribut. Sebagian besar warga mengenakan pakaian tradisional Jawa. Mereka sudah mulai berkumpul sejak pukul 07.00 WIB.

Mereka berkumpul bersama di alun-alun Kota Blitar, dengan mengusung gunungan tumpeng yang dihiasi oleh berbagai hasil bumi berupa sayur dan buah, dengan bentuk yang artistik. Gunungan ini melengkapi kegiatan peringatan Hari Lahirnya Pancasila, yang bertepatan dengan Senin (1/6/2015).

Setelah mengikuti upacara, gunungan-gunungan tersebut diarak menuju Makam Bung Karno di di Kelurahan Bendogerit, Kecamatan Sanan Wetan, Kota Blitar. Di lokasi ini pula dilaksanakannya kenduri wisata serta doa bersama.

Agenda peringatan Hari Lahirnya Pancasila ini, sebenarnya sudah menjadi agenda rutin Pemerintah Kota Blitar. Namun penyelenggaraan tahun ini, menjadi sangat istimewa, karena hadirnya Presiden Joko Widodo yang disertai Kegiatan peringatan itu dihadiri Presiden Joko Widodo, Ketua MPR Zulkifli Hasan, Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK) Puan Maharani, Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Tedjo Edhy Purdijatno, Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa, Menteri Pendayagunaan dan Aparatur Negara Yuddy Chrisnandi, Kapolri Jenderal Pol Badrodin Haiti dan Ketua Umum DPP PDIP Megawati Soekarnoputri, Wakil Presiden RI ke-11 Boediono.

Dalam pidatonya, Presiden Joko Widodo menyatakan tidak ada dasar negara yang dapat menjelma menjadi kenyataan tanpa perjuangan termasuk menjadikan Pancasila sebagai dasar negara Indonesia. “Tidak ada satu pun dasar negara yang menjelma menjadi realitas tanpa perjuangan, jika ingin merealisasikan Pancasila perlu perjuangan,” kata Presiden.

Presiden menegaskan, dengan telah berdirinya Negara Indonesia tidak berarti perjuangan selesai, justru harus memulai perjuangan lebih keras. Jokowi mengajak rakyat secara bersama-sama menghayati semangat yang bersumber pada ide, cita-cita dan gagasan besar Bung Karno cita-cita gagasan dan harapan Bung Karno yakni untuk mewujudkan Indonesia yang merdeka, Indonesia yang berdaulat, berdikari dan Indonesia yang berkepribadian.

“Saya selalu teringat pidato Bung Karno 1 Juni 1945, 70 tahun yang lalu di depan sidang Badan Penyelidikan Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) yang menyatakan Pancasila itulah yang berkobar-kobar di dada saya sejak berpuluh puluh tahun diterima atau tdk terserah saudara-saudara tapi saya sendiri mengerti seinsyaf insyafnya bahwa tidak satu pun akan menjelma dengan sendirinya menjadi realita jika tidak dengan perjuangan,” kata Kepala Negara.

Perjuangan untuk mewujudkan cita-cita bukan jalan mudah. “Kita tidak boleh berhenti, adalah tugas kita bersama untuk membumikan Pancasila, menjadikannya realitas dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Republik ini sejatinya bukan sebuah negara yang dibangun untuk satu golongan ataupun beberapa kelompok saja, republik ini memerlukan persatuan, memerlukan kebersamaan, memerlukan gotong royong dari berbagai elemen bangsa,” lanjut Presiden.

Selanjutnya, Ketua MPR Zulkifli Hasan meluncurkan program gerakan ‘Ini Baru Indonesia’. Presiden Jokowi, Ketua MPR, serta Megawati bersama Boediono untuk menandatangani spanduk ‘Ini Baru Indonesia’.

Tak ketinggalan tiga Wakil Ketua MPR yaitu EE Mangindaan, Mahyudin, dan Hidayat Nur Wahid juga ikut membubuhkan pesannya. Secara bergantian, tokoh-tokoh ini membubuhkan pesan dan tandatangan dalam kain spanduk.

Gerakan “Ini Baru Indonesia” merupakan program sosialisasi inisiatif dari MPR. Program gerakan ini bertujuan merangkul seluruh komponen masyarakat melalui cara yang simpel, kreatif, dan menyesuaikan kondisi sekarang untuk menyadarkan kembali masyarakat terkait pentingnya nilai-nilai kebangsaan. (tim)

Buku Nikah Diduga Palsu, Made In Haji Busro

Buku Nikah (illutrasi)

Buku Nikah (illutrasi)

Blitar (Sergap) – Pernikahan adalah peristiwa penting dan sakral bagi semua orang. Perkawinan adalah janji suci pasangan pengantin dihadapan Tuhannya masing-masing. Perkawinan juga sebuah awal kehidupan baru bagi pasangan suami istri untuk meniti bahtera bersama mendidik anak-anak masa depan bangsa.

Namun itu semua dikotori oleh ulah Haji Busro, warga Desa Sidorejo, Kecamatan Ponggok, Kabupaten Blitar, Jawa Timur. Pria asal dari Desa Mayaksantren, Kecamatan Ngoro, Kabupaten Jombang, Jawa Timur ini, patut diduga telah “menerbitkan” ratusan Buku Nikah asli tapi palsu (aspal), bagi pasangan-pasangan tak resmi/siri.

Proses “penerbitan” Buku Nikah tersebut, sangatlah gampang, yang penting ada duitnya. Dengan melalui perantara orang-orang tertentu, pasangan pengantin abal-abal ini, cukup titip data, nama, tempat dan tanggal lahir, agama dan alamat, cukup di secarik kertas ditulis tangan.

Data tersebut kemudian dibawa ke rumah Haji Busro, beserta “biaya administrasi” yang besarnya berkisar antara Rp. 2 Jutaan. Jika pasangan pengantin abal-abal tersebut membutuhkan acara Akad Nikah, Haji Busro dengan senang hati akan melakukan Ijab Kabul, tentu saja dengan biaya tambahan untuk Ijab Kabul dan untuk biaya Wali Hakimnya.

Kira-kira seminggu kemudian, Buku Nikah made in Haji Busro siap diambil dan digunakan sebagaimana kebutuhan para pemesannya. Dari hasil investigasi yang dilakukan Tabloid Sergap, kebanyakan para pemesan Buku Nikah Aspal itu, menggunakannya sebagai cara mengamankan wanita simpanan atau isteri sirihnya.

Dengan memiliki Buku Nikah Aspal itu, maka si lelaki dengan gampang menempatkan wanita idaman lainnya di sebuah rumah kontrakan, atau kos-kosan, tanpa ada yang mencurigainya. Bahkan beberapa istri-istri itu, merasa bahagia karena merasa telah dinikahi secara resmi, bukan hanya sekedar nikah siri.

Sebenarnya Buku Nikah Aspal ini, mengandung beberapa kejanggalan yang mudah sekali terlihat, walaupun blanko Buku Nikah tersebut memanglah asli. Seorang Kepala KUA yang diminta pendapatnya oleh Tabloid Sergap mengatakan bahwa, Buku Nikah tersebut memang asli dan diduga merupakan Buku Nikah sisa, yang seharusnya dimusnahkan/dibakar.

Data dan tulisan dalam Buku Nikah itu yang tampak sangatlah janggal. Misalnya, Nomor Buku Nikah yang sudah mencapai angka 500, padahal baru dikeluarkan pada Bulan April. “Bagaimana mungkin dari satu kecamatan saja, dalam waktu 4 bulan, sudah terjadi 500 pernikahan? Itu tidak masuk akal”, kata Kepala KUA yang minta namanya tidak ditulis itu menjelaskan.

Nama petugas pencatat nikah, juga ditulis dengan sembrono sekali. Di sebuah kolom ditulis Drs. Slamet Daroini, kemudian di kolom lainnya ditulis Drs. H. Slamet.

Terkait berita ini, sayang sekali Haji Busro tidak bersedia untuk dikonfirmasi. Ketika ditemui di rumahnya, Kamis (09/04/2015) di Desa Sidorejo, Kecamatan Ponggok, Kabupaten Blitar, anak perempuannya mengatakan bahwa ayahnya ada di rumahnya yang di Desa Mayaksantren, Kecamatan Ngoro, Kabupaten Jombang.

Saat ditelpon HPnya, Haji Busro membenarkan bahwa dirinya ada di Jombang. Tapi ketika Tabloid Sergap mendatangi rumahnya itu, adiknya mengatakan bahwa Haji Busro tidak ada di rumah. Saat HPnya dtelpon berkali-kali juga sudah tidak aktif lagi.

Dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP), ulah Haji Busro ini berpotensi melanggar pasal 263, 279 dan 280, dengan ancaman hukuman mulai dari 5 sampai dengan 7 tahun penjara. (tkr)

Tak Kembalikan Uang Nasabah, PT. Dua Belas Suku Blitar Dilaporkan ke Polisi

Suasana kantor PT. Dua Belas Suku Blitar, ketika masih berjalan normal

Suasana kantor PT. Dua Belas Suku Blitar, ketika masih berjalan normal

Blitar (Sergap) – Kepolisian Resor Kota (Polresta) Blitar, Jawa Timur, masih memeriksa  laporan belasan nasabah PT. Dua Belas Suku (PT. DBS) Blitar, karena uang yang mereka investasikan belum dikembalikan.

“Kami sudah terima laporan dari member dan sementara, kami masih dalam proses pemeriksaan saksi,” kata Kepala Satuan Reserse dan Kriminal (Kasatreskrim) Polresta Blitar AKP Naim Ishak, Rabu (25/03/2015).

Dikatakan oleh Kasatreskrim, bahwa belasan member/nasabah yang melaporkan PT. DBS Blitar mengaku telah dirugikan dengan nominal yang beragam mulai jutaan, puluhan juta, hingga miliaran rupiah. Rata-rata, uang itu adalah milik orang lain yang dititipkan. Mereka resah, sebab PT. DBS ternyata tutup dan tidak bisa dikonfirmasi kejelasan kembalinya uang mereka.

Polisi, saat ini masih memeriksa para saksi, selanjutnya pihak menejemen PT. DBS juga akan dilakukan dipanggil untuk diminta keterangannya. Namun sampai saat ini, polisi belum menetapkan tersangka dalam kasus tersebut.

AKP Naim Ishak juga mengatakan, bahwa polisi juga telah berkoordinasi dengan otoritas terkait, yaitu dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk mengetahui lebih rinci terkait PT. DBS. Hasil koordinasi itu, PT DBS ternyata tidak bisa dijerat dengan UU Perbankan, sebab bukan di bawah pengawasan dari OJK.

Bahkan Polresta Blitar juga telah berkoordinasi dengan Bareskrim Mabes Polri, untuk penanganan kasus investasi ini. “Kami juga koordinasi dengan Bareskrim untuk penanganan kasus ini. Nantinya dijerat dengan pasal 378 KUHP tentang Penipuan, sebab ranah pidana khusus (UU Nomor 10 Tahun 1998 tentang Perbankan) belum masuk,” kata AKP Naim Ishak menambahkan.

Sebagaimana tertulis di websitenya : www.12-suku.com,  PT. DBS menyatakan merupakan perusahaan yang bergerak di bidang jasa konsultan keuangan, yaitu Jasa Konsultan Tambahan Income dan Jasa Konsultan Kredit.

Komisaris dan Direksi PT. Dua Belas Suku : Jefri Christian, (duduk), berdiri dari kiri ke kanan: Rinekso Hari, Yeremia Kusumo, Natalia dan Naning Yuliati. (www.12suku.com)

Komisaris dan Direksi PT. Dua Belas Suku : Jefri Christian, (duduk), berdiri dari kiri ke kanan : Rinekso Hari, Yeremia Kusumo, Natalia dan Naning Yuliati. (www.12suku.com)

Jajaran Direksi PT. DBS terdiri atas Komisaris Utama yang dijabat oleh Jefri Christian dan Komisaris Naning Yuliati. Keduanya merupakan pasangan suami isteri. Adapun Direktur Utama dijabat oleh Rinekso Hari, Direktur Income dijabat oleh Yeremia Kusumo dan Direktur Keuangan dijabat oleh Natalia.

Sampai saat ini, kantor PT DBS yang ada di Jalan TGP Kota Blitar masih tutup. Para nasabah yang sudah terlanjur memasukkan uangnya merasa resah, sebab belum ada kejelasan kapan uang mereka kembali. Kantor itu juga sudah tidak beroperasional selama beberapa minggu ini dan tak jelas kapan akan dibuka kembali.

DBS berdiri sejak 19 Agustus 2014 dan berkantor di sebuah ruko di jalan TGP Kota Blitar. Sejak berdiri, ribuan nasabah memasukkan uangnya ke kantor tersebut. Prosedurnya, satu orang hanya satu akun dengan investasi Rp 1 juta sampai dengan Rp 250 juta. Dari nominal itu, nasabah dijanjikan mendapatkan keuntungan yang mereka sebut sebagai return deposit sebesar 30% hanya dalam jangka waktu seminggu.

Pada awalnya, para nasabah lancar dalam pengembalian uang, namun kemudian akhir-akhir, sudah tidak lancar lagi, bahkan ada yang belum dikembalikan sama sekali. Karena panik, mereka akhirnya melaporkan manajemen PT tersebut ke Polresta Blitar.

Menyalahi Perijinan

Pemerintah Kota Blitar, Jawa Timur, menilai PT Duabelas Suku telah menyalahi perizinan sebab dalam praktiknya mereka tidak menyelenggarakan kegiatan seperti yang diajukan di awal. Kepala Kantor Pelayanan Perizinan Terpadu (KPPT) Kota Blitar Suharyono, Rabu (25/03/2015), mengatakan PT. DBS benar telah mengajukan izin usaha yang diproses sejak 2014, dan izin telah dikeluarkan pada 9 September 2014, dengan izin jasa penunjang jasa keuangan.

“Izin yang diajukan sebagai jasa penunjang keuangan, dan semestinya badan usaha yang memerlukan manajemen keuangan sebagai nasabah, tapi dalam praktiknya banyak nasabah perorangan,” kata Suharyono.

Ia mengatakan banyaknya nasabah perorangan itu tidak sesuai dengan izin yang telah diajukan oleh perusahaan tersebut. Dalam praktiknya, perusahaan itu juga telah melakukan penghimpunan dana yang seharusnya mendapat pengawasan dari otoritas terkait. “Adanya pengumpulan dana harus mengajukan izin lagi ke otoritas terkait,” tegasnya.

Sementara itu, Humas PT. DBS Bagus Sujatmiko, sampai dengan berita ini ditulis, belum bisa dikonfirmasi.

Sebenarnya, apa yang dilakukan oleh PT. DBS ini yang sering disebut sebagai Aisan Berantai. Salah satunya adalah kasus Danasonic, yang menghebohkan pada tahun 1995. Jangan pernah tergiur oleh tawaran keuntungan tinggi yang tak masuk akal, jika tak ingin terjadi “mencari untung malah buntung”. (tkr/hen)

Sengketa Gunung Kelud Diserahkan ke Mendagri

Foto puncak G Kelud usai letusan Kamis, 13 Februari 2014

Foto puncak G Kelud usai letusan Kamis, 13 Februari 2014

Surabaya (Sergap) – Akhirnya, Pemerintah Provinsi Jawa Timur (Pemprov Jatim) menyerahkan sengketa Gunung Kelud ke Menteri Dalam Negeri (Mendagri), setelah dilaksanakannya rapat fasilitasi penyelesaian batas daerah Kabupaten Blitar dengan Kabupaten Kediri. “Sesuai kesepakatan, permasalahan ini diselesaikan di tangan Menteri Dalam Negeri,” ujar Kepala Biro Administrasi Pemerintahan Umum Setdaprov Jatim Suprianto di Surabaya, Selasa (10/03/2015).

Dijelaskan lebih lanjut oleh, Surprianto, ada empat poin kesepakatan yang disetujui dan ditandatangani masing-masing Tim Penegasan Batas Daerah (PBD) dari Kabupaten Kediri dan Kabupaten Blitar.

Pertama, sepakat menyelesaikan perselisihan kepada Mendagri sebagaimana dimaksud ketentuan dalam Permendagri Nomor 76 tahun 2012 tentang Pedoman PBD.

Kedua, selama proses penyelesaian berlangsung di Kemendagri masing-masing pihak dilarang membuat pernyataan/statemen seakan-akan Kawah/Gunung Kelud adalah milik salah satu pihak (Kabupaten Kediri dan Kabupaten Blitar).

“Ketiga ini sangat penting, yakni setelah ada keputusan Mendagri, kedua pihak sepakat menaati dan tidak mempermasalahkan keputusan Mendagri. Jika ini nanti diaati saya kira polemik tidak akan muncul lagi,” kata Suprianto.

Berikutnya, Gubernur juga melaporkan kepada Mendagri, bahwa Keputusan Gubernur Jatim Nomor 188/828/KPTS/013/2014 tanggal 11 Desember 2014 dijadikan objek gugatan oleh Kabupaten Kediri di PTUN Surabaya dengan daftar register perkara Nomor 29/G/2015/PTUN.Sby tanggal 12 Februari 2015.

Ikut tanda tangan dalam kesepakatan itu, Sekdaprov Jatim, Akhmad Sukardi dan Kasubdit Batas Antardaerah Wilayah II Ditjen Pemerintahan Umum Kementerian Dalam Negeri, Agus Binartedja.

“Sekarang tinggal menunggu keputusan Mendagri seperti apa. Dulu pemprov turut andil dalam sengketa ini karena Gubernur hadir sebagai fungsi pemerintahan dan bukan sebagai pihak yang memutuskan batas wilayah,” kata Suprianto menambahkan.

Sementara itu, Sekdaprov Jatim Akhmad Sukardi berharap kedua pihak menyepakati hasil yang tetah ditetapkan dalam rapat. “Pemprov dalam masalah ini tidak bisa mengadili, tapi hanya memfasilitasi saja,” tegas Sekdaprov Jatim yang juga pernah menjabat sebagai Kepala Dinas Pendapatan Provinsi Jawa Timur. (ang)

PT. Citra Catur Utama Karya UP3 Blitar, Gelar Pawai dan Santunan Yatim Piatu

Pawai diberangkatkan Camat Wonodadi, Drs. Hatta Maghfur Thoyyib M.Si

Pawai diberangkatkan Camat Wonodadi, Drs. Hatta Maghfur Thoyib M.Si

Blitar (Sergap) – Sudah menjadi agenda tahunan, dalam rangka menyambut Tahun Baru Hijriah 1436 yang tahun ini jatuh pada tanggal 25 November 2014, Perusahaan Besar Pengerah Tenaga Kerja PT Citra Catur Utama Karya (CCUK) UP3 Blitar yang dipimpin oleh H. Sapuan Jauhari, menggelar Pawai Ta’arub dan Santunan Anak Yatim Piatu, Pengajian Akbar dan gelar Musik Dangdut.

H. Sapuan Jauhari beserta istri, berfoto bersama anak yatim piatu

H. Sapuan Jauhari beserta istri, berfoto bersama anak yatim piatu

Pawai berangkat dari halaman H. Nursalim Desa Gandekan,  Kecamatan Wonodadi, Kabupaten Blitar dan berakhir di muka Masjid Kholid bin Walid dusun Setinggil, Desa Gandekan, Kabupaten Blitar, pada hari Minggu tanggal 9 November 2014 pukul 08.00 WIB dengan menempuh jarak sekitar 4 km.

Kemeriahan pawai menyebabkan memacetkan jalan raya, sehingga bus jurusan Kediri-Blitar dialihkan selama 12 jam.

Pawai Ta’arub tahun ini diikuti oleh 12 groub Drum Band dan 3.000 peserta dari berbagai lapisan masyarakat. Dari Taman Kanak–Kanak, Madrasah Ibtidaiyah, Madrasah Tsanawiah, Sekolah Dasar sampai dengan Sekolah Menegah Atas dari Kecamatan Wonodadi, Kecamatan Srengat, Kecamatan Udanawu dan Kecamatan Gandusari Kabupaten Blitar.

Penampilan New Arsita dan artis-artisnya

Penampilan New Arsita dan artis-artisnya

Ikut tampil pula, Group Genjreng Sunan Kalijaga, perkumpulan beladiri pencak silat PORSEGAL. Di garis finish pawai disambut oleh alunan musik dangdut yang sedang dipersembahkan oleh New Arsita dari Blitar, lengkap dengan dengan artis-artis papan atas Jawa Timur, yang menyebabkan ± 10.000 penonton berjubel di depan panggung.

New Arsita tampil sampai dengan jam 16.00 WIB. Malam hari dilanjutkan dengan group sholawat Wahimsa dari Blitar, pemberian santunan kepada 35 anak yatim piatu, dilanjut dengan pengajian umum dengan pembicara KH Drs. Marzuki Mustamar M.Ag dari Malang.

Hadir dalam acara ini, Forumpinka Kecamatan Wonodadi Kabupaten Blitar, para Ulama, Tokoh  Masyarakat dan Agama, serta Kepala Desa se Kecamatan Wonodadi Kabupaten Blitar.

Dalam sambutannya Camat Wonodadi Drs. Hatta Maghfur Thoyyib M.Si mengatakan bahwa Pawai Ta’arub yang di gelar setiap tahun di desa Gandekan ini semakin tahun tambah meningkat pengikutnya dan acara ini perlu diuri-uri dan terus dilestarikan dan digalakkan serta dipertahankan setiap tahunnya agar santunan anak yatimpun dapat pula ditingkatkan.

“Khususnya kami mengucapkan terima kasih kepada PT. CCUK, UP3 Blitar yang telah dapat mengkoordinasi acara ini dengan baik sehingga dapat menjadi contoh bagi PJTKI lainnya, yang ada di Kabupaten Blitar,” kata camat yang akrab dipanggil Pak Hatta ini.

Pak Hatta menekankan menyantuni anak yatim piatu dan memberi hiburan kepada masyarakat secara gratis seperti yang rutin dilakukan PT. CCUK ini sangat besar pahalanya. “Karena doa anak yatim piatu sangat manjur dan mujarab karena doa anak yatim piatu langsung menembus langit dan didengar oleh Allah SWT” jelas Pak Hatta dengan bersemangat.

Selamat kepada  PT Citra Catur Utama Karya UP3 Blitar, yang telah sukses secara rutin ,menggelar Pawai Ta’arub, Santunan Anak Yatim Piatu, Pengajian dan hiburan musik gratis kepada masyarakat. Semoga Allah SWT, memperlancar usahanya. Amin. (oke/adv)

 

Perdana Paint Store Blitar Bagi-Bagi Hadiah

Berbagai hadiah yang disediakan dan Heri Prasetyo

Berbagai hadiah yang disediakan dan Heri Prasetyo

Blitar (Sergap) – Dalam rangka Hari Ulang Tahun (HUT) ke 10, Perdana Paint Store yang beralamat di jalan Melati 82 Kota Blitar, terus berupaya untuk menyenangkan dan memanjakan para pelanggan dan konsumennya.

Terkait hal itu, maka pada hari Sabtu, 27 September 2014 yang lalu, dimulai pukul 19.00 WIB, di halaman Perdana Paint Store digelar “Gebyar Undian Benar-Benar Berhadiah (BBB) 2014” yang sudah kedua kalinya tahun ini.

Hadiah utama adalah tiga unit sepeda motor, ditambah dengan hadiah-hadiah lainnya yaitu Lemari Es, TV LED, Sepeda Gunung, Kompor Gas, Rice Cooker, Helm SNI, Setrika, Tas Pinggang dan puluhan boneka indah.

Perdana Paint Store Blitar, berdiri sejak 10 tahun silam, dengan mempekerjakan 6 karyawan, kini 36 orang karyawan siap melayani pelanggan setiap hari. “Kepuasan konsumen adalah segala-galanya. Mutu pelayanan selalu ditingkatkan tiada henti”, kata Heri Prasetyo boss Perdana Paint Store kepada Tabloid Sergap.

Dalam rangka itu pulalah, di setiap hari Selasa pukul 09.15 WIB sampai dengan pukul 09.45 WIB, Perdana Paint Store menggelar Talk Show di Radio FM, untuk menyapa, memberi informasi dan melayani konsultasi secara interaktif di udara dengan para pelanggannya. Tak heran jika Perdana Paint Store makin dikenal dan melekat di hati masyarakat Blitar Raya, karena selalu berada dekat di hati konsumennya.

Perdana Paint Store Blitar, menyediakan berbagai jenis cat produk Nippon Paint yang sudah dikenal di pasar internasional. Produk-produk cat tembok, cat mobil dan motor, cat besi, dan cat kayunya, menawarkan berbagai pilihan warna ktratif, yang dikenal dengan sebutan “Colour Creations 10.000 Warna”.

Untuk meningkatkan pelayananannya, Perdana Paint Store juga telah membuka cabang di jalan Anggrek No. 1 Blitar dan jalan Pahlawan No. 314 Tulungagung dan dalam bulan ini segera membuka cabang lagi di kota Malang.

Pengundian “Gebyar Undian Benar-Benar Berhadiah (BBB) 2014”, disaksikan oleh Forumpimka, Kepala Kelurahan Kepanjenkidul, perwakilan Nippon Paint, para undangan lainnya.

Hadiah pertama berupa 3 unit motor, diraih oleh Mujiono, warga Desa Bagelenan RT 02, RW 01 Kecamatan Srengat, Kabupaten Blitar, Sulistiyoningsih, Desa Ngrendeng, Kecamatan Selopuro, Kabupaten Blitar dan Budiono, Jalan Raya Purwokerto, Ngadiluwih, Kabupaten Kediri.

“Gebyar Undian Benar-Benar Berhadiah (BBB) akan kami adakan setiap tahun, untuk berbagi kebahagiaan dan memanjakan konsumen. Semoga konsumen dan langganan kami tetap setia dan terus menjalin kerjasama yang makin erat pula”, kata Heri Prasetyo saat memberi sambutan.  dengan senyum ramah. Selamat Ulang Tahun, semoga sukses selalu. (oke/adv)

Bapemas Kabupaten Blitar Siap Sambut UU Tentang Desa

Joni Setiawan, S.Sos, M.Si

Joni Setiawan, S.Sos, M.Si

Blitar (Sergap) –Terkait pemberlakuan Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa pada tahun depan, Badan Pemberdayaan Masyarakat (Bapemas) Kabupaten Blitar mempunyai tugas dan tanggung jawab yang cukup besar dengan 220 Desa di wilayahnya. Untuk mempersiapkan itu, Bapemas Kabupaten Blitar gencar menggelar berbagai macam sosialiasi, pelatihan dan diklat kepada para Kepala Desa, para Perangkat Desa serta Lembaga-lembaga Desa. Diharapkan Pemerintahan Desa nantinya dapat memahami secara benar pengelolaan dan penggunaan penggunaan anggaran.

Plt. Kepala Bapemas Kabupaten Blitar, Joni Setiawan, S.Sos, M.Si beserta tim fasilitasi sedang merumuskan Penghasilan Tetap (Siltap) Kades beserta perangkat desa lainnya. “Perumusan Siltap secepatnya diselesaikan dan dibuat Peraturan Bupatinya. Mengingat waktunya sangat singkat, mengingat rumusan Siltap penting bagi desa, maka Siltap itu diambilkan dari Dana Alokasi Desa (ADD) yang bersumber dari dana pembagian pusat dan daerah untuk tahun 2015. Untuk itu Pemkab Blitar mengalokasikan Rp140 milyar dan nantinya dana tersebut dialokasikan kepada 220 desa,” katanya saat ditemu Jumat (5/12/2014).

Selanjutnya Joni Setiawan, S.Sos, M.Si mengatakan bahwa, UU Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa, juga mengatur pembatasan unsur perangkat di desa. Komposisi perangkat desa berdasarkan unsurnya dibatasi maksimal 3 unsur. Namun ternyata pembatasan unsur perangkat tersebut, justru tidak mengurangi jumlah perangkat yang dipekerjakaan seperti yang sudah ada saat ini, bahkan bisa jadi lebih banyak.

Tiga unsur dalam komposisi perangkat desa yakni unsur kesekretariatan, teknis dan kewilayahan. Untuk unsur kesekretariatan misalnya maksimal, 3 Kaur seperti Kaur Keuangan, Kaur Umum dan Kaur Perencanaan. Demikian juga untuk unsur teknis yang maksimal dibatasi 3 seksi. Sedangkan untuk unsur kewilayahan sendiri tergantung pada jumlah dusun di desa. “Terkait hal ini Pemkab Blitar akan merumuskan lebih lanjut, apalagi petunjuk tehnis yang mengatur hal tersebut hingga kini juga belum turun,” kata mantan Kabaghumas ini menjelaskan.

Mengenai status Sekretaris Desa dari PNS, Joni mengatakan hingga kini pemerintah belum dapat mengambil keputusan apapun soal keberadaan Sekdes PNS di desa, apakah akan ditarik ke Pemkab Blitar atau tidak. Namun sampai ketentuan dari pusat turun, Sekdes diminta untuk tetap bekerja seperti biasa. “Terkait UU Desa yang mengembalikan posisi Sekdes pada Perangkat Non PNS yang diambilkan dari warga setempat, jabatan Sekdes akan diisi melalui seleksi di tingkat desa, dimana Kepala Desa-lah yang mempunyai kewenangan penuh untuk menentukan siapa yang akan menempati posisi sebagai Sekdes,” kata Joni. (oke/adv)

Banyak Gedung Pemkab Blitar Diduga Tak Ber-IMB

CONTOH BURUK. Kantor Bupati dan Sekretariat Daerah, di jalan Kanigoro Blitar. Belum punya IMB sudah tetapi sudah dibangun

CONTOH BURUK. Kantor Bupati dan Sekretariat Daerah, di jalan Kanigoro Blitar. Belum punya IMB sudah tetapi sudah dibangun

Blitar (Sergap) – Jika warga masyarakat mendirikan rumah dan belum punya Ijin Mendirikan Bangunan (IMB), adalah sesuatu yang masih bisa dimaklumi, karena mungkin karena tak tahu. Bagaimana jika Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Blitar, membangun gedung dengan biaya puluhan milyar, dan ternyata belum ada IMBnya?

Tentu saja akan menjadi sangatlah lucu dan mengada-ada, jika alasannya tidak tahu. Karena peraturan tentang kewajiban mengantongi IMB ini, justru adalah sebuah Peraturan Daerah (Perda) Kabupaten Blitar Nomor 13 Tahun 2012, tentang Ijin Mendirikan Bangunan (IMB).

Di dalam Perda yang dibuat bersama-sama oleh Pemerintah dan DPRD Kabupaten Blitar ini, pada intinya mewajibkan semua bangunan fisik permanen maupun semi permanen yang berdiri diatas tanah, untuk mengurus IMB sesuai kategorinya, sebelum pelaksanaan bangunan tersebut dikerjakan.

Beberapa bangunan gedung milik Pemkab Blitar, yang patut diduga tidak memiliki IMB, di antaranya adalah gedung Sekretariat dan Kantor Bupati, gedung Kantor Lingkungan Hidup, serta gedung Kantor Kependudukan dan Catatan Sipil Kabupaten Blitar. Semua gedung-gedung ini dibangun pada tahun anggaran 2014 ini.

Kepala Bagian Validasi Data, Dinas Pelayanan Terpadu Satu Pintu (KPTSP) Kabupaten Blitar Basro, membenarkan bahwa IMB gedung Sekretariat dan Kantor Bupati Blitar, masih dalam proses. Sementara untuk Kantor Kependudukan dan Catatan Sipil serta Kantor Lingkungan Hidup Kabupaten Blitar, satupun belum ada yang mengajukan perijinan IMB.

“Gedung Sekretariat dan Kantor Bupati Blitar, IMBnya masih dalam proses, sedangkan untuk gedung Kantor Kependudukan dan Catatan Sipil serta Kantor Lingkungan Hidup belum masuk permohonan IMBnya. Tapi untuk jelasnya, menghadap saja ke kepala ya…”, kata Basro saat ditemui di ruang kerjanya.

Sementara itu, menurut informasi yang didapat Tabloid Sergap di lapangan, patut diduga pula bahwa gedung-gedung milik Pemkab Blitar, sangat diragukan memiliki IMB sebagaimana ketentuan Perda Nomor 13 Tahun 2012.

Ketika warganya, dikejar-kejar untuk mengurus IMB yang tentu saja harus membayar, dan belum tentu warga punya uang yang cukup. Sedangkan Pemkab Blitar sendiri, saat mendirikan bangunan dengan biaya puluhan milyar uang rakyat, ternyata belum/tidak ada IMBnya.

Maka tentu saja masyarakat akan bertanya-tanya, dikemanakan uang biaya pengurusan IMBnya? Demi pencegahan dan pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, sudah selayaknya polisi dan/atau kejaksaan melakukan penyelidikan terhadap kasus ini. (oke)

Kota Blitar Akan Bangun Kompleks Perkantoran Koperasi

Blitar (Sergap) – Disebabkan padatnya acara di Kota Blitar,  maka Tasyakuran HUT Koperasi Indonesia ke-67 tahun 2014 baru dapat terlaksana pada hari Sabtu tanggal 23 Agustus 2014 yang lalu dan sekaligus Halal Bihalal Gerakan Koperasi se-Kota Blitar bertempat di gedung Kusuma Wicitra Kota Blitar.

Acara dimulai tepat pukul 20.00 WIB. Diawali dengan laporan Ketua Panitia dan Tausiyah oleh Kyai Moch. Mantob dari Pondok Pesantren Cangkring, Ponggok, Kabupaten Blitar, dan seterusnya diisi sambutan-sambutan.

Dari kanan, Ketua Dekopinda Kota Blitar, Slamet Sutanto SE, MM, Walikota Blitar, Muh. Samanhudi Anwar SH, Kadin Koperasi dan UKM Daerah Kota Blitar, Drs. Ec. Teteng Rukmo Condrono.

Dari kanan, Ketua Dekopinda Kota Blitar, Slamet Sutanto SE, MM, Walikota Blitar, Muh. Samanhudi Anwar SH, Kadin Koperasi dan UKM Daerah Kota Blitar, Drs. Ec. Teteng Rukmo Condrono.

Kepala Dinas Koperasi dan UKM (Kadinkop UKM) Kota Blitar, Drs. Ec. Teteng Rukmo Condrono dalam sambutannya mengatakan bahwa, terkait dengan berlakunya Globalisasi Masyarakat Ekonomi Asean pada tahun 2015, gerakan koperasi agar terus belajar dan memperbaiki managemen koperasi.

“Untuk menghadapi Globalisasi Masyarakat Ekonomi Asean, gerakan Koperasi harus terus belajar untuk meningkatkan mutu, managerial dan rajin melakukan pelatihan-pelatihan” kata pak Teteng, panggilan akrabnya.

Selanjutnya dalam amanatnya Walikota Blitar Moh. Samanhudi Anwar, SH mengajak agar Gerakan Koperasi Kota Blitar untuk tidak takut menghadapi Globalisasi Masyarakat Ekonomi Asean, karena Koperasi IKM dan UKM di Kota Blitar dalam era Ekonomi kerakyatan sudah kuat. “Awal tahun 2015 nanti, kran Ekonomi Kreatif akan saya buka, bagaimana bentuknya nanti tunggu tanggal mainnya, karena saat ini sudah mulai saya siapkan SDM-nya” kata walikota dismbut tepuk tangan hadirin.

Walikota menginformasikan, tahun depan akan dibangun Blitar Town Square di lahan bangunan Dipayana di Jalan Merdeka, hotel bertingkat 8 dengan predikat bintang lima dan koperasi se-kota Blitar akan dipusatkan di Pasar Pon jalan Kartini. “Pasar Pon saya jadikan komplek perkantoran koperasi yang ada di Kota Blitar, dan saya sudah sediakan dana sebesar Rp. 800 miliar. Jadi setiap Koperasi disediakan dana Rp. 5 miliar, dengan bunga yang sangat rendah sekali. Dengan harapan Koperasi dan UKM di Kota Blitar semakin maju,” kata Samanhudi dengan lantang. (oke)

Gelar Parade Jaranan 2014, Untuk Pertahankan Seni Tradisional Bangsa

Blitar (Sergap) – Dalam rangka nguri-nguri budaya Jawa, khususnya seni tradisional Jaranan, Dinas Kominparda Kota Blitar pada Minggu (23/08/2014) yang lalu, mulai pukul 09.00 WIB menggelar Parade Jaranan bertempat di Istana Gebang Kota Blitar.

Penmpilan salah satu peserta Parade Jaranan 2014

Penampilan salah satu peserta Parade Jaranan Kota Blitar 2014

Kabid Plt Seni Budaya Kominparda Kota Blitar Supraptono, SH, selaku Ketua Panitia Parade Jaranan 2014, mengatakan bahwa even ini bertujuan untuk menggali potensi kesenian tradisional Jaranan, sekaligus memperingati HUT RI ke 69.

“Maksud dan tujuan diadakan parade jaranan ini adalah untuk memelihara, melestarikan dan meningkatkan kesenian tradisional jaranan sebagai asset pariwisata dan kasanah budaya daerah dalam menunjang kebudayaan nasional, meningkatkan fungsi kesenian daerah sebagai penangkal masuknya budaya asing yang tidak sesuai dengan nilai-nilai luhur budaya bangsa dan sebagai ajang untuk mendorong kreativitas seniman dalam kiprahnya secara positif, responsif dalam berkesenian yang lebih baik dan berkualitas,” jelas Supraptono kepada Tabloid Sergap.

Ketua Pakoja (Paguyuban Kelompok Jaranan) Kota Blitar, Eko Purwanto, SPd, ada 9 group Jaranan yang menjadi peserta, setiap kecamatan mengirimkan 3 group yang belum pernah menjadi juara.

Mereka adalah Gesang Megantoro Putro, Turonggo Sekar Wijoyo, dan Sido Muncul Putro dari Kecamatan Sananwetan. Kuda Taruna Putra, Turonggo Putro Wiro Yudho dan Turonggo Giono Mudho dari Kecamatan Kepanjenkidul. Rukun Budoyo, Turonggo Tmtomo Mudo dan Turonggo Mudo Utomo dari Kecamatan Sukorjo.

Dari kiri Kadin Kominparda Wikandrio SH, Kepala UPT. PIPP Heru Santoso S. Sos, PLT Kabid Seni Budaya Dinas Kominparda Supraptono SH

Dari kiri Kadin Kominparda Wikandrio SH, Kepala UPT. PIPP Heru Santoso S. Sos, PLT Kabid Seni Budaya Dinas Kominparda Supraptono SH

Juri menilai 3 group terbaik non rangking dan berhak mendapatkan trophy dan piagam penghargaan dan berhak tampil setiap Sabtu malam, di PIPP dan Minggu pagi di Istana Gebang secara bergantian.

Kepala Dinas Kominparda Kota Blitar, Wikandrio, SH mengatakan bahwa kesenian jaranan banyak tersebar di Jawa Timur, yang menjadi dengan trade merk, Barongan dan Pecut. Untuk itu diharapkan agar Jaranan Kota Blitar dapat melakukan kreasi sehingga dapat menjadi ciri khas Jaranan kota Blitar. “Kami harapkan agar kelompok Jaranan yang diwadahi oleh Pakoja semakin berkreasi dan berkembang untuk dapat menunjukkan kepada masyarakat, eksistensi seni Jaranan di Kota Blitar,” katanya berpesan.

Wikandrio menambahkan, bahawa acara ini diadakan rutin setiap tahun, dan diharapkan jika jika tahun ini pesertanya 9 group, maka tahun depan dapat lebih banyak lagi pesertanya. Tampak hadir dalam acara ini, lurah dan camat se Kota Blitar, seniman dan warga.

Sudah menjadi kewajiban kita semua, untuk mempertahankan dan menghargai budaya warisan nenek moyang kita ini. Bukan hanya kemudian marah-marah ketika kemudian kesenian ini diklaim oleh negara tetangga. (oke)