Pemerintah Pertimbangkan Evakuasi Anak-Anak Terdampak Asap

Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Luhut Binsar Panjaitan

Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Luhut Binsar Panjaitan

Jakarta (Sergap) – Pemerintah tengah mempertimbangkan untuk mengevakuasi anak-anak dan bayi yang terimbas kabut asap di Sumatera dan Kalimantan, kata Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Luhut Binsar Panjaitan.

Kepada sejumlah wartawan, seusai menggelar rapat koordinasi dengan beberapa menteri, Luhut mengatakan rencana evakuasi sedang dipertimbangkan mengingat Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) di banyak kawasan menunjukkan angka yang tinggi.

Khusus di Kota Palangkaraya, Kalimantan Tengah, ISPU memperlihatkan konsentrasi partikulat PM10 berada pada taraf 1.430 mikrogram per meter kubik, Kamis (22/10/2015) pukul 14.00. Sehari sebelumnya, pengukuran partikulat serupa berada di atas 3.000 mikrogram per meter kubik.Padahal, angka 300 telah dikategorikan berbahaya.

Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Luhut Binsar Panjaitan mengatakan evakuasi akan dilakukan ke provinsi yang memiliki kualitas udara baik.

“Kalau memang ISPU-nya begitu parah, tiada ruangan lagi yang ISPU-nya normal, kita mempertimbangkan untuk bawa ke provinsi di selatan yang ISPU-nya baik, misalnya Banjarmasin,”kata Luhut.

Apabila di tempat evakuasi, tingkat pencemaran udara masih parah, Luhut mengatakan pemerintah akan menyiapkan kapal-kapal sebagai tempat tinggal sementara.

“Kalau masih lebih parah, kita mungkin sudah mempertimbangkan untuk menggunakan kapal perang atau kapal Pelni, untuk mereka tinggal di situ sampai keadaan membaik,” ujarnya.

Kapal perang akan digunakan sebagai tempat tinggal sementara, kata Luhut.

Sebelumnya, dalam wawancara dengan BBC Indonesia di Palangkaraya, Menteri Kesehatan Nila F Moeloek mempertanyakan langkah evakuasi.

“Kalau evakuasi, saya melihat, di Kalimantan ini penyebaran penduduk luas sekali. Bagaimana kita melakukan evakuasi? Itu juga harus dipikirkan. Atau di daerah Riau. Begitu banyaknya manusia, kita mau evakuasi (mereka) ke mana?” tanyanya.

Dalam laporan kajian organisasi lingkungan hidup, World Resources Insitute, emisi karbon akibat kebakaran hutan dan lahan di Indonesia telah melampaui rata-rata emisi karbon harian Amerika Serikat selama 26 hari dari 44 hari sejak awal September.

Catatan tersebut praktis menunjukkan lonjakan signifikan. Pasalnya, selama ini AS merupakan sumber gas rumah kaca kedua setelah Cina. Adapun Indonesia biasanya dikategorikan WRI pada peringkat lima.

Sumber : BBC Indonesia

Akibat Asap, Produk Sinar Mas Diboikot di Singapura

Akun RedMart di Favebook

Akun RedMart di Favebook

Akibat “kiriman” asap dari Indonesia yang sampai ke wilayah Singapura, maka toko-toko di Negeri Singa ini memboikot produk Asia Pulp and Paper (APP). APP adalah anak perusahaan Sinar Mas Group yang dituduh sebagai biang keladi kebakaran hutan di Indonesia.
Setelah NTUC FairPrice and Sheng Siong yang menolak produk dari APP, kini toko online RedMart juga mengumumkan untuk tidak menjual lagi produk APP. Pada Senin (19/10/2015), mereka memutuskan untuk menarik semua produk APP.
RedMart menyatakan dalam akun Facebooknya bahwa penarikan produk APP itu dilakukan dengan inisiatif sendiri. Mereka memutuskan hal tersebut setelah adanya penyelidikan Singapore Environment Council dan the National Environmet Agency (NEA).
“Keputusan ini juga diambil setelah adanya penundaan sementara dari sertifikasi Green Label, dari distributor eksklusif APP yakni, Universal Sovereign Trading,” kata pihak RedMart, dalam pernyataannya, yang dikutip The Straits Times, Selasa (20/10/2015).
Produk yang ditarik terebut adalah produk di bawah merk dagang Paseo dan NICE. RedMart mengikuti langkah dari FairPrice, Sheng Siong dan Prime yang berhenti menjual produk kertas APP.
Sementara The Dairy Farm group yang mengoperasikan toko seperti 7-Eleven, Giant dan Cold Storage, juga mengumumkan untuk tidak lagi membeli produk dari APP. Namun keputusan itu baru akan dilakukan setelah stok yang The Dairy Firm miliki sudah habis.
Sebelumnya, The Straits Times memaparkan dalam grafis pada 16 Oktober 2015 yang menunjukkan keterkaitan APP dalam kebakaran hutan yang melanda Indonesia. Asap dari kebakaran hutan menjalar ke Singapura, Malaysia hingga Thailand.
“Sebagian besar dari wilayah kebakaran dan titik api di Indonesia, berada di lahan yang dimiliki oleh perusahaan itu (APP) dengan konsensi hutan yang diperoleh dari Pemerintah Indonesia. APP juga tengah dalam tekanan Pemerintah Indonesia dan LSM,” sebut grafis The Straits Times.
“Konsensi-konsesi yang dimiliki APP ini, mencatat jumlah titik api tertinggi dibanding perusahaan lain,” lanjut grafis tersebut.
The Straits Times mencatat hanya ada 19 produk APP yang ditarik dari FairPrice. Sementara 19 produk itu diperkirakan masih tersedia di Cold Storage, 7-Eleven, Giant dan beberapa toko lainnya.
Secara resmi, FairPrice menyatakan 18 produk APP ditarik dari gerainya. Tetapi menurut The Straits Times, produk APP yang hanya dijual di toko FairPrice Xtra juga telah ditarik dari peredaran.
(Tkr- sumber:The Straits Times)

NASA Potret Parahnya Kabut Asap di Indonesia

Foto kabut asap oleh satelit Terra di wilayah Kalimantan dan Sumatera (NASA)

Foto kabut asap oleh satelit Terra di wilayah Kalimantan dan Sumatera (NASA)

National Aeronautics and Space Administration (NASA), lembaga antariksa milik Amerika Serikat, mempublikasi foto satelit yang menampilkan bencana kabut asap yang menyelimuti wilayah Pulau Sumatera, Kalimantan, serta sebagian wilayah Singapura dan Malaysia.

Foto-foto yang dipublikasi lewat akun Twitter NASA Earth (@NASA_EO) pada 1 Oktober 2015 lalu disebut NASA sebagai kabut asap yang menyesakkan nafas.

Foto yang diambil dengan teknologi pencitraan Moderate Resolution Imaging Spectroradiometer (MODIS) yang dimiliki satelit Terra milik NASA itu menampakkan kabut asap yang bersumber dari pembakaran hutan di Pulau Sumatera dan Kalimantan. Kabut asap terlihat tertiup angin ke arah utara, sehingga turut menyelimuti wilayah Singapura dan Malaysia. Titik-titik api juga ditandai dengan lingkaran merah dalam citra foto tersebut.

Foto kabut asap dan titik-titik api di di Pulau Sumatera oleh satelit Terra. (NASA)

Foto kabut asap dan titik-titik api di di Pulau Sumatera oleh satelit Terra. (NASA)

Menurut ilmuwan NASA di situs Earth Observatory, kondisi kabut asap dan kebakaran hutan yang terjadi di Indonesia tahun ini menjadi sangat buruk karena dipengaruhi oleh gelombang udara panas El Nino yang memperpanjang musim kemarau, dan mengurangi curah hujan, sama seperti tahun 1997 lalu.

“Kita sedang berada di pola yang sama dengan tahun 1997,” ujar Robert Field, ilmuwan NASA yang berasal dari Columbia University.

Menurutnya, kondisi di Sumatera dan wilayah selatan Singapura sama dengan kondisi El Nino tahun 1997 lalu, dimana beberapa wilayah hanya memiliki jarak pandang kurang dari 1 kilometer dalam satu minggu.

Di Kalimantan bahkan lebih parah lagi, jarak pandang di beberapa wilayah tersebut dilaporkan hanya 50 meter saja.

Data yang dikoleksi oleh MODIS juga menghitung partikel aerosol yang dikandung udara di wilayah tersebut. Menurut NASA  jumlah partikel asap tahun ini menyamai kabut asap 2006 lalu yang juga tak kalah parah kondisinya.

Bedanya, level tertinggi kandungan partikel asap tahun ini terjadi beberapa minggu lebih cepat dibandingkan pada tahun 2006 lalu. “Jika musim kemarau terus berkepanjangan tahun ini, maka 2015 menjadi salah satu tahun terburuk kabut asap yang terjadi di wilayah tersebut,” ujar Field.

Sumber: NASA

“Apakah Pemerintah Menunggu Anak-anak Kami Mati Karena Asap?”

Pencemaran udara di Pekanbaru yang tercatat pada angka 1000 Indeks Standar Pencemar (PSI) mengancam kesehatan masyarakat, terutama bayi dan anak-anak.

Di ruang yang dilengkapi pengatur udara di lantai tiga Balai Kota Pekanbaru, Apriyani memandang bayinya yang berusia empat bulan, tidur nyenyak.

Di ruang yang dilengkapi pengatur udara di lantai tiga Balai Kota Pekanbaru, Apriyani memandang bayinya yang berusia empat bulan, tidur nyenyak.

Perempuan berusia 35 tahun ini adalah satu dari empat ibu yang mengungsi di tempat perawatan bayi darurat yang disediakan pemerintah kota Pekanbaru. Ini merupakan upaya melindungi bayi dari asap beracun akibat kebakaran lahan dan hutan yang sudah terjadi sejak berbulan-bulan.

“Di sini bayi saya bebas dari asap. Tidak seperti di rumah. Sewaktu kami tinggal di rumah, bayi saya ini batuk terus. Kalau di sini, ruangannya tertutup, dan ada pemurni udara.” kata Apriyani.

Pencemaran udara di Pekanbaru tercatat pada angka 1000 Indeks Standar Pencemar (PSI). Padahal 100 PSI saja sudah digolongkan tak sehat, dan kalau lebih dari 300 sudah dianggap berbahaya.

“Bayilah yang paling menderita. Bayi sama ini tak hentinya batuk-batuk”

Di sana ada tempat-tempat tidur bayi yang disewa, dan tabung oksigen, tapi Afriyani mengatakan ia tak ingin tinggal di sana lama-lama.

“Maunya, pemerintah bekerja lebih keras untuk menghilangkan asap, agar anak-anak kami tidak kesusahan bernafas tiap waktu. Karena kan jelek untuk kesehatan mereka, kan?

Dr Helda Suryani, kepala dinas kesehatan di Pekanbaru mengatakan, tempat penampungan itu diperuntukkan terutama bagi keluarga-keluarga miskin yang rentan.

“Orang kaya memiliki AC sendiri, dan bisa mencari sendiri tempat yang lebih aman. Sedangkan tempat ini bagi mereka yang rumahnya kami lihat setiap harinya dipenuhi asap yang berbahaya.

Ketika ditanya mengapa sesudah begitu lama pemerintah baru menyediakan tempat penampungan ini, ia tertawa kecut.

“Mengapa begitu lama? Kami sudah berdoa meminta hujan, dan waktu tentara datang membantu, udara lebih bersih selama dua hari. Tapi sekarang begini lagi. Jadi akan begini terus.”

Adapun bagi Desi, penampungan ini terlalu terlambat. Ibu muda ini duduk bersama anaknya yang berusia satu tahun di Rumah Sakit Santa Maria. Ia didiagnosa terserang infeksi paru-paru.

“Saya menjaga anak saya di dalam ruangan sepanjang waktu. Kami tidak ke mana-mana karena asap ini, tapi tetap saja anak saya kena radang paru-paru. Kenapa pemerintah tak berbuat apa-apa?” tanyanya

“Apakah pemerintah menunggu anak-anak kami mati karena asap?”

(Sumber: BBC Indonesia)

LSR-PMT Palangkaraya Bagikan 1.500 Masker Gratis

Ketua Umum LSR-LPMT, Gatis Agatisansyah saat membagikan masker secara gratis di Bundaran Besar Palangkaraya

Ketua Umum LSR-LPMT, Gatis Agatisansyah saat membagikan masker secara gratis di Bundaran Besar Palangkaraya

Palangkaraya (Sergap) – Sebuah organisasi masyarakat (ormas) yang selama ini bergerak di bidang keamanan dan ketertiban masyarakat, sosial dan kemanusiaan, bernama LSR-LPMT (Lembaga Swadaya Rakyat – Laskar Pembela Masyarakat Tertindas), tampak membagikan masker gratis kepada para pengguna jalan.

Pembagian 1.500 masker secara cuma-cuma tersebut, dilaksanakan di sekitar Bundaran Besar Palangkaraya, dipimpin langsung oleh oleh Ketua Umum LSR-LPMT, Gatis Agatisansyah, pada Kamis pagi (10/9/2015).

Pembagian masker secara gratis ini, bertujuan untuk membantu masyarakat, untuk mengurangi dampak bencana kabut asap, sehingga terhindar dari Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA). Kepada Tabloid Sergap, Humas LSR LPMT Gusti Pahriansyah mengatakan, bahwa kegiatan sosial ini adalah respon cepat LSR-PMT, sebagai wujud kepedulian terhadap masyarakat, sesuai dengan visi dan misi organisasi.

“Mengantisipasi dampak bencana kabut asap adalah tanggung jawab kita semua. Untuk itu LSR-LPMT melakukan koordinasi Kesbangpol dan Dinas Kesehatan Pemprov Kalteng, serta Polres Palangkaraya Kota, sehingga kegiatan sosial ini dapat berjalan lancar”, kata Gusti menjelaskan.

Sementara itu, Ketua LSR-LPMT Gatis Agatisansyah mengatakan bahwa pihaknya sangat prihatin, terhadap dampak kabut asap yang menimpa masyarakat. “Kabut asap ini telah nyata-nyata merugikan banyak orang, mengancam kesehatan masyarakat. Karena itu kami pemerintah untuk segera mencegah, mengatasi dan mengurangi dampak kabut asap ini. Semua pihak yang dengan sengaja membakar hutan atau kebun, harus ditindak dengan tegas”, kata Gatis.

Selanjutnya Gatis berharap, pembagian masker secara gratis ini, dapat memberi inspirasi kepada semua pihak, untuk melakukan tindakan nyata mengatasi bencana kabut asap yang sudah menjadi tragedi dan bencana nasional ini.

“Di masa mendatang, kami berharap bencana kabut asap tidak terulang kembali. Dibutuhkan kerjasama yang melibatkan pemerintah, pengusaha dan masyarakat secara gotongroyong”, pungkas Gatis. (AB)

Air Terjun Sedudo Longsor, 3 Orang Meninggal

Kondisi pemandian di bawah air terjun setelah longsor dan evakuasi korban oleh petugas dan pengunjung.

Kondisi pemandian di bawah air terjun setelah longsor dan evakuasi korban oleh petugas dan pengunjung. (sumber : BBM)

Nganjuk (Sergap) – Dalam suasana libur Lebaran, terjadi musibah longsor di objek wisata air terjun Sedudo, Nganjuk, Jawa Timur, sekitar pukul 16.00 WIB, Selasa (21/7/2015).

Menurut Kapolres Nganjuk, AKBP Muhammad Anwar Nasir ada 12 korban yang terkena efek dari longsor air terjun. Sedangkan ada 3 korban meninggal dunia yang terdata oleh pihak RSU Nganjuk dan RS Bhayangkara Nganjuk.

“Tiga pengunjung meninggal dunia dan 9 penguinjung luka ringan. Semua korban saat ini sedang dirawat di dua rumah sakit, yaitu RSU Nganjuk dan RS Bhayangkara Nganjuk, Jawa Timur,” kata AKBP Muhammad Anwar Nasir.

Masih menurut Kapolres, tiga nama korban yang meninggal dunia itu adalah M. Sofiyah Sahmi (25) Warga Kapas Jaya Surabaya. Kedua, Subhan Anas Masbowo (35) warga Jepara Surabaya. Ketiga, Hendra Pramana Setiawan (13), warga Dipenogoro Karang Waru, Tulungagung, Jawa Timur.

Kedua korban meninggal dunia yang berasal dari Surabaya yang bernama M. Sofyan dan Subhan dirawat di RSU Nganjuk. Sedangkan, korban meninggal dunia Hendra dirawat di RS Bhayangkara, Nganjuk, Jawa Timur.

Ditanya soal kronologi kejadian longsor yang mengakibatkan korban luka dan meninggal dunia yang menimpa pengunjung wisata air terjun Sedudo, Kapolres Nganjuk mengatakan bahwa debit air di air terjun Sedudo dalam kondisi stabil, dan tidak ada tanda-tanda akan longsor.

“Dilaporkan oleh saksi mata, bahwa 3 korban yang meninggal persis di lokasi air terjun. Korban meninggal akibat tertimpa pohon kecil dan bebatuan yang jatuh diatas air terjun dengan ketinggian 103 meter,” terangnya.

“Dua orang langsung meninggal di TKP, sedangkan 1 orang sempat dirawat dan akhirnya meninggal di RS Bhayangkara Nganjuk,” tambah Kapolres.

Sedangkan untuk korban luka ringan dan berat, Kapolres Nganjuk belum bisa mendata lebih detail. Namun, beberapa korban luka berasal dari beberapa daerah di Jatim. “Korban yang luka ringan dan berat berasal dari Kediri, Surabaya, Madiun, dan Nganjuk,” katanya.

Saat ini, pihak Polres Nganjuk terus mendata korban longsor baik yang luka ringan, berat dan meninggal dunia. Sedang, untuk penutupan tempat wisata air terjun Sedudo pihak Polres Nganjuk masih berkoordinasi dengan pihak Perhutani.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Nganjuk Sukoyono, material yang jatuh dari atas air terjun Sedudo itu berupa pepohonan. “Saat itu, ada pohon jatuh dan kebetulan ada beberapa pengunjung yang mandi, sehingga mereka tertimpa,” kata Sukoyono.

Sukoyono menambahkan, pohon dengan diameter 30 sentimeter tiba-tiba jatuh dari ketinggian 90 meter dan tepat mengenai para pengunjung yang mandi di bawahnya.

Dengan kejadian ini, maka kawasan air terjun Sedudo, Nganjuk, dalam kurun 9 tahun sudah tercatat 4 kali longsor.

Pertama, terjadi pada 8 Januari 2007. Akibat dari longsor tersebut menyebabkan 14 bangunan kios, dua gazebo dan pepohonan di sekitar air terjun hancur, termasuk tangga utama dan pagar besi menuju lokasi air terjun. Kedua, 21 Januari 2011, longsor mengakibatkan ribuan warga di empat dusun di daerah itu terisolasi Ketiga, 13 Februari 2013 batu besar yang berada di kawasan wisata Sedudo jatuh ke jalan akibat tanah longsor. Akibatnya, jalan menuju lokasi wsiata ditutup dan dilakukan evakuasi memindahkan batu besar yang mengahalangi jalan. Yang keempat, terakhir 21 Juli 2015 tadi sore. (tim)

Update berita : 

Ada 9 korban yang teridentifikasi yang mengalami luka berat patah tangan, dan luka ringan di bagian kepala dan pelipis akibat kejatuhan pohon dan batu tersebut adalah M Hasim (20), Mohammad Rifai (29), Bagus (29) warga Semare Kernel Nganjuk, Prasetyo (15), Hafidz (20) warga Desa Peluh Kridosono, Siti Manggison (38), Rosita (35) warga Surabaya, Galuh (27) warga Lamongan dan Subekti (37) warga Jakarta Selatan mengalami luka berat dan patah tangan kanannya.

Gunung Raung yang Sedang Meraung

Asap tampak keluar dari kawah Gunung Raung (foto : Antara)

Asap tampak keluar dari kawah Gunung Raung (foto : Antara)

Banyuwangi – Gunung Raung pada Jumat, tgl 3 Juli 2015 petang, tampak mengelauarkan semburan lava pijar terlihat keluar dari kawah gunung. Hujan abu masih terasakan cukup deras mengguyur beberapa dusun di lereng gunung berketinggian 3.332 mdpl itu, hingga Sabtu 4 Juli 2015.

“Semburan abu lebih tebal hari ini dibandingkan kemarin, biasanya hanya pagi saja, tapi sekarang sampai pukul 09.00 masih pekat,” kata Ahmad warga Bondowoso yang sedang berada di Lapangan Kecamatan Sumber Wringin.

Menurutnya, hujan abu itu dirasakan cukup deras pada warga yang menghuni yaitu Dusun Legan dan Dusun Sipanas, dua dusun di Kecamatan Sumberwringin yang dekat dengan kawah Raung.

Di dua dusun itu, dampak aktivitas Raung lebih terasa dibandingkan dusun lain. Dua dusun itu ada di radius 7 km dari kawah, dari sini semburan lava dan abu vulkaniknya paling terasa dibandingkan dusun lain.

Laporan  kondisi terkini Gunung Raung menyebutkan asap kelabu dalam status sedang, yang berlangsung sejak Sabtu dini hari hingga pukul 06.00. Asap membumbung dengan ketinggian hingga 400 meter ke arah Tenggara. Gunung Raung juga mengeluarkan suara gemuruh lemah, dengan tremor menerus dengan amplitudo antara 6 hingga 32 mm.

“Sampai saat ini status kami masih siaga, hingga 14 hari terhitung sejak naik status dari 29 Juni 2015,” kata Hendri Widotono, Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Bondowoso.

Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM Surono juga mengatakan, status Gunung Raung tetap Siaga. Hingga pukul 18.00 WIB, Sabtu, 4 Juli 2015, secara visual cuaca terang, angin tenang dan puncak Gunung Raung jelas meski kadang tertutup kabut.

“Tampak asap putih tipis, tekanan lemah, tinggi 100 meter, condong ke Tenggara. Terdengar suara gemuruh sedang,” katanya, Sabtu (04/07/2015).

Sementara, hasil pengamatan secara seismik terjadi tremor vulkanik terus menerus. Ini menandakan aktivitas tremor vulkanik masih tetap tinggi. “Kesimpulan, aktivitas tremor vulkanik masih tinggi. Gunung Raung tetap Siaga,” kata Surono menambahkan.

Akibat semburan abu vulkanik Gunung Raung pada tanggal 3 dan 4 Juli 2015, berdampak pada terganggunya jalur penerbangan domestik dan mancanegara. Direktur Manajemen Lalu Lintas Penerbangan AirNav Indonesia Wisnu Darjono mengatakan, abu vulkanik Raung bergerak ke arah tenggara dengan kecepatan 10 knots.

Dengan begitu, jalur penerbangan yang perlu menjadi perhatian adalah Jalur W-33 dan W-13 yaitu penerbangan yang melayani rute atau jalur-jalur domestik. Seperti, Denpasar-Jakarta, Denpasar-Surabaya, juga Denpasar-Yogyakarta.

Selain jalur penerbangan domestik, jalur penerbangan internasional atau dengan kode rute M 635 juga ikut mengalami kendala. Jalur itu, ialah jalur penerbangan Denpasar-Singapura, Denpasar-Malaysia.

Sementara itu BPBD Jawa Timur menyebut, sudah melakukan pemetaan daerah potensi terdampak dan menyiapkan 33 jalur evakuasi bagi warga yang bermukim di sekitar Gunung Raung tepatnya di Banyuwangi, Jember, dan Bondowoso. ‎( arif)

Menteri Sosial Tinjau Banjir di Palangkaraya

Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa didampingi Wakil Walikota Palangkaraya Mofit Saptono Subagio saat meninjau banjir di jalan Mendawai Palangkaraya

Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa didampingi Wakil Walikota Palangkaraya Mofit Saptono Subagio saat meninjau banjir di jalan Mendawai Palangkaraya

Palangkaraya (Sergap) – Banjir yang melanda Kota Cantik Palangkaraya tahun ini, lebih parah jika dibandingkan tahun yang lalu. Contohnya, pemukiman rumah warga di jalan Tjilik Riwut Komplek Pasar Kahayan, terendam air setinggi 50-80 cm. hal ini menyebabkan sekitar 60 KK terpaksa harus mengungsi.

Selain air yang tinggi, sudah sekitar satu minggu banjir juga tak kunjung surut. Sekolah-sekolahpun juga dengan terpaksa meliburkan para siswanya.

Terendamnya sejumlah kawasan permukiman di Palangkaraya, menjadi perhatian banyak pihak. Termasuk di antaranya, Menteri Sosial Chofifah Indar Parawangsa, yang pada hari Senin (23/2/2015), melakukan peninjauan ke Jalan Mendawai Palangkaraya yang cukup parah terdampak oleh banjir.

Pada kesempatan itu Menteri Sosial menyebut bahwa penggundulan hutan adalah penyebab utama musibah banjir yang melanda sejumlah daerah di Indonesia, tidak terkecuali Kalimantan Tengah.

Oleh sebab itu, ia menyarankan pemerintah daerah segera membuat pemetaan wilayah serta menggalakkan program reboisasi hutan dan lahan. “Untuk penyebab banjir mung­kin ada variabel lain, misalnya hutan kita sudah gundul, ini persoalan serius. Mulai sekarang pemerintah daerah harus melakukan pemetaan wilayah,” ujarnya

Selain penggundulan hutan, Khofifah menyebut pendangkalan sungai juga berpengaruh terhadap terjadinya banjir. “Banyak sungai mengalami pendangkalan, kalau tidak dikeruk, pendangkalan terjadi setiap hari dan air akan merembes ke permukiman penduduk.”

Selain meninjau banjir di jalan Mendawai, Mensos Jalan Pelatuk dan juga memberikan bantuan kepada warga.

Sementara itu Pemprov Kalimantan Tengah, dengan koordinator Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) terus berupaya meringankan beban warga yang menjadi korban banjir.

Dengan dibantu Tim-Tagana juga relawan BPK Damkar mendirikan posko dan tenda sebagai tempat evakuasi pengungsian dengan menyiapkan dapur umum dan tim medis. Tim medis dikerahkan, karena akibat banjir yang berkepanjangan ini, beberapa warga mulai terjangkiti diare dab gatal-gatal.

Para relawan dengan menggunakan perahu karet, juga tak kenal lelah masuk ke gang-gang untuk mengevakuasi warga beserta barang-barangnya, mengantar-jemput anak-anak sekolah yang sekolahnya kebetulan tak kebanjiran.

Sebelumnya, pada Jumat (20/2/2015) Wakil Gubernur Kalimantan Tengah, H Achmad juga memberikan bantuan berupa 10 ton beras kepada korban banjir di Palangkaraya, langsung saat meninjau lokasi banjir.

“Ya bantuan yang diberikan hari ini, baru 10 ton, nanti jika diperlukan kami akan tambah sepuluh ton lagi. Saya minta jangan sampai korban banjir kelaparan, ” katanya saat mengunjungi korban banjir di Jalan Kalimantan, Kelurahan Pahandut Kecamatan Pahandut Palangkaraya

Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah, berupaya untuk membantu korban banjir yang ada di bantaran Sungai Kahayan dengan menggunakan sistem tanggul. Namun, tentu dalam pelaksanaanya memerlukan banyak dana, sehingga perlu mengajukan permohonan kepada pemerintah pusat untuk membantu dalam penanggulangannya.

Hingga, Selasa (24/2/2015) kondisi banjir sudah semakin surut, sehingga semua warga yang rumahnya terendam saat ini, sudah kembali ke rumahnya masing-masing.

Wakil Gubernur Kalteng, H Achmad Diran, mengatakan, selayaknya warga pinggiran sungai direlokasi, tetapi karena banyak yang tidak bersedia, pihaknya mengusahakan untuk meminta bantuan pusat untuk menanggulanginya dengan sistem tanggul.”Kami akan usulkan ke pusat bantuan itu,” katanya. (ab)

Angin Puting Beliung Kembali Terjang Grobogan

Empat ruang kelas Pondok Pesantren Darul Istiqomah roboh

Empat ruang kelas Pondok Pesantren Darul Istiqomah roboh

Grobogan (Sergap) – Angin puting beliung kembali menerjang Kabupaten Grobogan. Kali ini, Kamis (13/11/2014) angin kencang yang disertai hujan lebat itu menghempas Desa Sambung Kecamatan Godong, sekitar jam 15.30 WIB.

Tercatat 67 rumah rusak, dan 38 rumah rusak parah. Salah satunya adalah Pondok Pesantren Darul Istiqomah, di mana 4 ruang kelas bangunan kayu itu roboh. Tidak ada korban luka ataupun meninggal dan kerugian diperkirakan sekitar Rp. 46 Juta.

Selanjutnya Warga bersama sama bergotong-royong memperbaiki rumah warga yang terkena musibah dibantu anggota Koramil Godong. “Setiap ada bencana kita harus siap,” kata Serma Bambang, Bintara Pembina Desa (Babinsa) Sambung, Kecamatan Godong.

Suradi (60th), warga Desa Sambung yang rumahnya ikut terkena bencana sangat berharap pemerintah dan masyarakat lainnya segera memberikan bantuan, untuk meringankan upaya perbaikan yang dilakukan warga. “Hujan deras dan genting rumah terbang kemana-mana seperti debu,” kata Suradi kepada Tabloid Sergap.

Dalam satu bulan terakhir, sudah 7 desa di Kabupaten Grobogan yang merasakan hempasan angin puting beliung. Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Grobogan Titi Rahayuningsih melalui Kasi Kedaruratan Masrikan mengatakan angin puting beliung berpotensi merusak di 50-an desa. Bukan sekadar memprediksi, BPBD telah mengalkulasi data kejadian serupa seenjak tahun 2008.

“Ada beberapa desa yang jadi langganan angin puting beliung. Diantaranya, dua desa di Kecamatan Toroh yakni Krangganharjo dan Bolo. Dua desa di Kecamatan Penawangan yakni Pengkol dan Karangwader dan Desa Pulokulon Kecamatan Pulokulon. Yang lainnya bersifat sporadis,” kata Masrikan, Selasa (4/11/2014) yang lalu.

Dari Data BPBD, tren puting beliung tiap tahunnya meningkat. Jumlah rumah rusak akibat angin juga cukup banyak. Faktor penyebabnya adalah kemarau yang ekstrem, bertambahnya hutan yang gundul sehingga desa minim penahan angin. Bertambahnya, perumahan yang menempati lokasi di pinggir atau yang sebelumnya, merupakan area persawahan. Sehingga angin yang bertiup kencang dengan mudah  menerpa rumah.

“Kewaspadaan harus ditingkatkan mengingat saat ini baru memasuki bulan November. Intensitas hujan juga masih jarang turun. Diperkirakan, angin puting beliung akan terjadi di sejumlah wilayah langganan dan wilayah lain yang berpotensi,” kata Masrikan mengingatkan. (Ans)

Status Darurat Bencana Kekeringan di Trenggalek Diperpanjang

Warga antri air bersih

Trenggalek, Sergap – Dikarenakan masih tingginya permintaan air bersih dari berbagai pelosok kawasan kritis yang ada di daerah tersebut, maka Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Trenggalek, memperpanjang status darurat bencana kekeringan. “Status darurat kekeringan ini sudah mengalami sekali perpanjangan, yakni sejak tanggal 26 Oktober hingga 26 November. Sepertinya, status kesiagaan ini belum akan dicabut karena permintaan air bersih masih terus mengalir,” ujar Sekretaris BPBD Trenggalek, Suprapto, Rabu (24/10).

Suprapto mengatakan, daerah tambahan yang mengalami kekeringan adalah Desa Ngrambingan Kecamatan Panggul, Desa Watulimo Kecamatan Watulimo, Desa Bogoran Kecamatan Kampak, Desa Duren, Kecamatan Tugu serta Desa Kayen Kecamatan Karangan. “Total yang mengalami kekeringan ada 22 desa dari tujuh kecamatan,” tandasnya.

Pemkab Trenggalek sendiri terus menyalurkan bantuan air bersih ke desa-desa yang diidentifikasi terdampak bencana kekeringan. Tak kurang dari 878 tengki berkapasitas 5.000 liter dikerahkan untuk menyuplai kebutuhan air bersih penduduk.

Ditambahkan oleh Suprapto, walaupun hujan telah beberapa kali mengguyur kawasan tersebut. Namun tanda-tanda perubahan cuaca tersebut dinilainya belum cukup membuat persediaan air tanah kembali pulih, setelah hampir enam bulan dilanda kekeringan. Kondisi tersebut semakin parah karena fenomena hujan yang sempat mengguyur Kabupaten Trenggalek dan sebagian besar kawasan pesisir selatan lainnya tidak lagi terjadi dalam beberapa hari terakhir.

Akibatnya, air tanah diindikasikan kembali menyusut, bahkan sebagian lainnya mengering. Tim penanggulangan bencana kekeringan dari BPBD sejauh ini telah aktif melakukan survei ke sejumlah daerah krisis air bersih. Sehingga jumlah desa yang mengalami kekeringan diperkirakan justru semakin meluas. Tidak hanya dialami 30 desa di 10 kecamatan yang rutin mendapat pasokan air bersih, tapi juga di 12 desa lainnya.

Tak kurang dari 878 tengki berkapasitas 5.000 liter dikerahkan untuk menyuplai kebutuhan air bersih penduduk. Selain pengiriman air bersih menggunakan mobil tangki, BPBD mengusulkan beberapa jenis bantuan ke provinsi, di antaranya pengajuan dana pembelian air sebesar Rp500 juta, 141 unit tandon air kapasitas dua ribu liter, 2.160 jerigen, serta pipanisasi 120 ribu meter untuk 24 desa.

Sampai kondisi air tanah meningkat, sumber air, sungai, dan sumur-sumur penduduk kembali pulih seperti sedia kala, pihak BPBD dan PDAM Trenggalek masih akan terus menyuplai air bersih ke desa-desa yang mengalami kekeringan dengan kategori kritis.
Namun BPBD belum menambah jatah distribusi air bersih karena belum ada permintaan langsungd dari masyarakat setempat. “Mungkin karena warga masih bisa mengakses sumber air di sekitar permukiman mereka. Kami prinsipnya terus siaga, demikian juga dengan PDAM selaku mitra kami dalam upaya penanggulangan bencana kekeringan ini,” terang Suprapto.

Alasan perpanjangan status darurat bencana kekeringan tersebut selain didasari masih terus mengalirnya permintaan air bersih, juga didasari pada surat keputusan siaga kekeringan yang dikeluarkan Gubernur Soekarwo untuk sejumlah daerah di Jawa Timur. “Belum ada keputusan pencabutan status siaga kekeringan dari gubernur, jadi kami jalan terus,” tandasnya. Sebagaimana diketahui Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), perubahan cuaca benar-benar baru akan terjadi sekitar pertengahan November. (yudi/thoni)