Sosialisasi Pembangunan Jalan, Tingkatkan Peranserta Warga Magetan

Warga Desa Temboro secara sukarela bergotongroyong membantu perbaikan ruas jalan Temboro-Taji

Warga Desa Temboro secara sukarela bergotongroyong membantu perbaikan ruas jalan Temboro-Taji

Magetan (Sergap) – Kabupaten Magetan adalah sebuah kabupaten di Provinsi Jawa Timur, Indonesia. Ibu kotanya adalah Magetan. Kabupaten ini berbatasan dengan Kabupaten Ngawi di utara, Kota Madiun dan Kabupaten Madiun di timur, Kabupaten Ponorogo, serta Kabupaten Karanganyar dan Kabupaten Wonogiri (keduanya termasuk provinsi Jawa Tengah). Kabupaten Magetan terbagi atas 18 kecamatan, yang terdiri dari 208 desa dan 27 kelurahan.

Luas Kabupaten Magetan adalah 688,85 km²,yang terdiri dari 18 kecamatan, 208 desa, 27 kelurahan, 822 Dusun/Lingkungan, dan 4.575 Rukun Tetangga. Kecamatan- Kecamatan tersebut adalah : Kecamatan Barat, Kecamatan Bendo, Kecamatan Karangrejo, Kecamatan Karas, Kecamatan Kartoharjo, Kecamatan Kawedanan, Kecamatan Lambeyan, Kecamatan Magetan, Kecamatan Maospati, Kecamatan Ngariboyo, Kecamatan Nguntoronadi, Kecamatan Panekan, Kecamatan Parang, Kecamatan Plaosan, Kecamatan Poncol, Kecamatan Sidorejo, Kecamatan Sukomoro, dan Kecamatan Takeran.

Pemerintah Kabupaten Magetan mempunyai visi “Terwujudnya Kesejahteraan Masyarakat Magetan yang Adil, Mandiri dan Bermartabat. Sedangkan misinya adalah Meningkatkan kualitas keimanan dan ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara; Mewujudkan kepemerintahan yang baik dan peningkatan sumberdaya manusia yang profesional dilandasi semangat pelaksanaan otonomi daerah; Menggairahkan perekonomian daerah, melalui berbagai program pengungkit dan optimalisasi pengembangan SDM serta pengelolaan SDA yang berwawasan lingkungan; Mewujudkan sarana dan prasarana infrastruktur yang memadai guna menunjang pertumbuhan perekonomian daerah; Mewujudkan suasana aman dan damai melalui kepastian, penegakan dan perlindungan hukum.

Sistem Pendekatan Pembangunan yang dilakukan Pemerintah Kabupaten Magetan adalah Pendekatan manusia (people centre); Pendekatan berkemampuan (empowering); Pendekatan partisipasi (partisipatif); Pendekatan berkelanjutan (sustainable).

Dalam rangka mensinergikan Sistem Pendekatan Pembangunan tersebut, salah satu langkahnya adalah sosialisasi pembangunan. Sosialisasi Pembangunan adalah penyebarluasan informasi (progam, peraturan, kebijakan) dari satu pihak (pemilik progam) ke pihak lain (masyarakat umum) dan proses pemberdayaan, dimana diharapkan dapat menumbuhkan kesadaran kritis, menumbuhkan perubahan sikap, dan perilaku masyarakat. Oleh sebab itu, sosialisasi harus terintregasi dalam aktifitas pemberdayaan dan dilakukan secara terus menerus untuk memampukan masyarakat menanggulangi masalah–masalah secara mandiri dan berkesinambungan.

Dengan dilaksanakannya sosialisasi, diharapkan menerapkan beberapa pendekatan yang didasarkan atas perbedaan khalayak sasaran, pendekatan yang dilakukan, diharapkan bisa membangun keterlibatan masyarakat melalui pertukaran pengalaman, pengetahuan, dan pemahaman untuk menemukan kesepakatan – kesepakatan bersama yang berpijak pada kesetaraan, kesadaran kritis dan akal sehat.

Dinas Pekerjaan Umum Bina Marga dan Cipta Karya (Dinas PU-BMCK) Kabupaten Magetan, sudah melaksanakan Sosialisasi Pembangunan ini dalam program-programnya. Salah satunya dalam pembangunan ruas jalan Temboro-Taji, di Desa Temboro, Kecamatan Karas.

Sosialisasi dilaksanakan pada tanggal 5 Agustus 2015, dimulai pada jam 19.30 WIB bertempat di Balai Desa Temboro. Dihadiri oleh Kepala Bidang (Kabid) Bina Marga, Dinas PU-BMCK, Mohtar Wahid, ST dan Kepala UPTD Pemeliharaan Jalan, Jembatan dan Keciptakaryaan Wilayah V, H. Aziz, ST, serta Kapala dan Perangkat Desa, Tokoh Agama, Tokoh Masyarakat dan warga Desa Temboro.

Dalam sosialisasi yang berlangsung lesehan, suasananya santai tapi serius. Kabid Bina Marga, Mohtar Wahid, ST menyampaikan dengan bahasa Jawa beberapa point penting dengan nada akrab, beberapa hal yang bisa menjadi kendala pembangunan, seperti misalnya persoalan ganti rugi terkait pelebaran jalan.

“Nek saget kula ambakne sami kalih lebare jembatan, langkung sae. Dipun wiyaraken kados jembatan setuju, nggih?, Tanya Mohtar Wahid. Dijawab yang hadir, “Setujuuu…..”

Dengan sosialisasi yang efektif, kegotongroyongan sebagai budaya lelulur bangsa muncul dalam bentuk yang sangat membanggakan

Dengan sosialisasi yang efektif, kegotongroyongan sebagai budaya lelulur bangsa muncul dalam bentuk yang sangat membanggakan

Pola sosialisasi di mana pejabat turun ke bawah dan langsung berdialog dengan penuk kekeluargaan dan keakraban seperti ini, membawa dampak yang sangat baik. “Warga terlibat sejak awal dan akan membawa akibat melok andharbeni (ikut memiliki), sehingga meminimalkan kendala dalam program pembangunan setempat. Sosialisasi seperti ini kita lakukan bebrapa kali, sesuai kebutuhan,” kata Mohtar Sahid di sela-sela acara kepada Tabloid Sergap.

Suksesnya sosialisasi tampak nyata dalam pelaksanaan pembangunan ruas jalan Temboro-Taji. Di lokasi pembangunan jalan yang melewati pemukiman ini, warga secara sukarela membantu.

Tampak puluhan warga turut mengusung pasir, aspal panas dan menebar kerikil di jalan yang diperbaiki itu. Mereka melaksanakan itu dengan gembira dan penuh kegotongroyongan.

Martono, salah seorang warga mengungkapkan rasa gembiranya, Karena jalan di depan rumahnya diperbaiki lagi. “Saya merasa bersyukur, karena jalan sudah diperbaiki. Gotongroyong ini sangat menyenangkan. Terima kasih kepada Dinas PU,” katanya dengan wajah berseri.

Kepala UPTD Pemeliharaan Jalan, Jembatan dan Keciptakaryaan Wilayah V, H. Aziz, ST juga berharap kegotongroyongan ini akan berdampak kepada meningkatnya tanggungjawab warga dalam menjaga agar jalan agar tidak mudah rusak lagi. “Warga iku menjaga dengan membatasi kendaraan yang lewat, sesuai dengan kekuatan kelas jalan ini,” kata H. Aziz menutup perbincangan dengan Tabloid Sergap. (hadi/adv)

Pemeliharaan Jalan ke Pemukiman, Pemkab Magetan Diapresiasi Warga

Sugino, ST (kiri). Perbaikan jalan di ruas jalan Krajan-Lembeyankulon

Sugino, ST (kiri). Perbaikan jalan di ruas jalan Krajan-Lembeyankulon

Magetan (Sergap) – Jalan sebagai bagian sistem transportasi nasional mempunyai peranan penting terutama dalam mendukung ekonomi, sosial budaya, lingkungan, politik, serta pertahanan dan keamanan.

Dari aspek ekonomi, jalan sebagai modal sosial masyarakat merupakan katalisator di antara proses produksi, pasar, dan konsumen akhir. Dari aspek sosial budaya, keberadaan jalan membuka cakrawala masyarakat yang dapat menjadi wahana perubahan sosial, membangun toleransi, dan mencairkan sekat budaya.

Dari aspek lingkungan, keberadaan jalan diperlukan untuk mendukung pembangunan berkelanjutan. Dari aspek politik, keberadaan jalan menghubungkan dan mengikat antardaerah, sedangkan dari aspek pertahanan dan keamanan, keberadaan jalan memberikan akses dan mobilitas dalam penyelenggaraan sistem pertahanan dan keamanan.

Tingkat perkembangan antar wilayah yang serasi dan seimbang merupakan perwujudan berbagai tujuan pembangunan. Tingkat perkembangan suatu wilayah akan dipengaruhi oleh potensi wilayah yang bersangkutan.

Pada prinsipnya, perkembangan semua wilayah pengembangan perlu dikendalikan agar dicapai tingkat perkembangan yang seimbang. Usaha pengendalian tersebut pada dasarnya merupakan salah satu langkah penyeimbangan dalam pengembangan wilayah yang dapat dilakukan secara langsung atau tidak langsung, misalnya dengan memberikan kesempatan kepada beberapa wilayah pengembangan yang tergolong kecil dan lemah untuk mengelompokkan diri menjadi lebih besar dan kuat.

Pemerintah Kota dan Kabupaten sebagai bagian dari pemegang kekuasaan pemerintahan negara mempunyai kewenangan menyelenggarakan jalan. Penyelenggaraan jalan, sebagai salah satu bagian penyelenggaraan prasarana transportasi, melibatkan unsur masyarakat dan pemerintah.

Agar diperoleh suatu hasil penanganan jalan yang memberikan pelayanan yang optimal, diperlukan penyelenggaraan jalan secara terpadu dan bersinergi antar sektor, antar wilayah sehingga kemajuan masyarakat dapat terbagi secara relatif lebih merata.

Jalur ini merupakan jalan akses utama masyarakat di wilayah Lembeyan dan sekitarnya, jika berpergian ke Kota Magetan

Jalur ini merupakan jalan akses utama masyarakat di wilayah Lembeyan dan sekitarnya, jika berpergian ke Kota Magetan

Pemerintah Kabupaten Magetan, mengupayakan pemerataan kemajuan masyarakat melalui sistem transportasi secara merata, dengan mengambil kebijakan pembangunan dan pemeliharaan jalan, dengan akses ke berbagai wilayah.

Dinas Pekerjaan Umum Bina Marga dan Cipta Karya (Dinas PU-BMCK) Kabupaten Magetan, juga melakukan pemeliharaan yang terencana akses jalan yang menuju ke pemukian warga.

Salah satunya adalah pemeliharaan jalan di ruas jalan Krajan-Lembeyankulon, yang merupakan prioritas berikutnya. Jalur ini merupakan jalan akses utama masyarakat di wilayah Lembeyan, ketika hendak berpergian ke Kota Magetan.

Kepala Dinas PU-BMCK Kabupaten Magetan Ir. Hegunadi, MT melalui Kepala UPTD Pemeliharaan Jalan, Jembatan dan Keciptakaryaan Wilayah VI, Sugino, ST mengatakan akses jalan yang aman dan nyaman akan meningkatkan rasa aman, karena tak ada lubang sekecil apapun dan nyaman karena jalannya beraspal sangat mulus.

“Dengan terciptanya rasa aman dan nyaman, tentunya kesejahteraan warga juga meningkat, karena dapat menikmati fasilitas jalan dengan kualitas prima,” kata Sugino, ST kepada Tabloid Sergap.

Rupanya perbaikan jalan Krajan-Lembeyan ini sudah sangat ditunggu-tunggu warga. Dengan spontan warga menyediakan kue dan minuman kepada para pekerja yang giat bekerja tanpa menghiraukan teriknya matahari.

“Rupanya warga ingin mengungkapkan rasa syukur dan gembira, karena jalan akses ke pemukimannya ditingkatkan kualitasnya. Kami mewakili Pemkab Magetan, tentu saja sangat haru dan berterima kasih atas antusias warga ini,” kata Sugino, ST.

Lebih lanjut, pria berkumis ini berharap agar warga juga bisa mempunyai rasa memiliki, sehingga mereka bisa ikut juga menjaga agar jalan yang mulus ini bisa awet, dengan tidak melewatinya dengan kendaraan yang melebihi tonase.

Dengan semboyan “Memayu Hayuning Bawana Suka Ambangun”, Kabupaten Magetan terus-menerus dan berkelanjutan bekerja keras untuk terwujudnya kesejahteraan masyarakat Magetan yang adil, mandiri dan bermartabat. (hadi/adv)

Magetan Maksimalkan Jalan Sebagai Sistem Transportasi Secara Merata

Suroto, ST (kiri). Pemeliharaan jalan ruas Karangsono-Teguhan, Magetan

Suroto, ST (kiri). Pemeliharaan jalan ruas Karangsono-Teguhan, Magetan

Magetan (Sergap) – Jalan sebagai salah satu prasarana transportasi yang merupakan urat nadi kehidupan masyarakat mempunyai peranan penting dalam usaha pengembangan kehidupan berbangsa dan bernegara. Dalam kerangka tersebut, jalan mempunyai peranan untuk mewujudkan sasaran pembangunan seperti pemerataan pembangunan dan hasil-hasilnya, pertumbuhan ekonomi, dan perwujudan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Pembangunan jalan dalam rangka pemenuhan kebutuhan masyarakat atas angkutan barang dan jasa (orang) yang aman, nyaman, dan berdaya guna benar-benar akan dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.

Tersebarnya lokasi, baik sumber alam, tempat produksi, pasar maupun konsumen akhir, menuntut diikutinya pola efisiensi dalam menghubungkan tempat-tempat tersebut yang digambarkan dengan terbentuknya simpul pelayanan distribusi.

Dalam rangka itu semua, maka Pemerintah Kabupaten Magetan berupaya sekuat tenaga agar jalan sebagai bagian dari sistem transportasi dapat berfungsi secara maksimal di seluruh penjuru wilayah Kabupaten Magetan.

Dengan kata lain, jaringan jalan di Kabupaten Magetan harus mampu menghubungkan seluruh desa yang ada, sehingga tak ada lagi desa terpencil di Kabupaten Magetan. Sehingga semua aspek, baik itu ekonomi, sosial, budaya, lingkungan, politik serta pertahanan dan keamanan, mampu tersebar secara relatif merata.

Sebagaima diketahui, Bupati Magetan, Drs. H. KRA Sumantri Noto Adinagoro, MM sudah memerintahkan, agar semua jalan di wilayahnya, harus mampu mendongkrak tingkat perekonomian warganya.

Dengan semangat tidak mengenal hujan dan panas akan selalu berkarya, dan dengan motto "Ayo Kerja", secara terus menerus dan berkelanjutan melakukan perbaikan dan pemeliharaan jalan

Dengan semangat tidak mengenal hujan dan panas akan selalu berkarya, dan dengan motto “Ayo Kerja”, secara terus menerus dan berkelanjutan melakukan perbaikan dan pemeliharaan jalan

Menindaklanjuti perintah itu Dinas Pekerjaan Umum Bina Marga dan Cipta Karya (Dinas PU-BMCK) Kabupaten Magetan, dengan semangat tidak mengenal hujan dan panas akan selalu berkarya, dan dengan motto “Ayo Kerja”, secara terus menerus dan berkelanjutan melakukan perbaikan dan pemeliharaan semua jalan di wilayah kerjanya.

Kepala Dinas PU-BMCK Kabupaten Magetan Ir. Hegunadi, MT melalui Kepala UPTD Pemeliharaan Jalan, Jembatan dan Keciptakaryaan Wilayah IV, Suroto, ST mengatakan perbaikan dan pemeliharaan jalan merupakan prioritas Satuan Tugas Pemerintah Daerah di mana ia ditugaskan.

“Saat ini saya sedang menjalankan tugas untuk melakukan pemeliharaan jalan ruas Karangsono-Teguhan. Sedangkan tujuan dari pemeliharaan jalan ini adalah untuk memperlancar lalu lintas, perekonomian dan pendidikan di wilayah Kabupaten Magetan sisi Timur yang menghubungkan Kabupaten Magetan dan Kabupaten Madiun.

Ditambahkan oleh Suroto, ST bahwa pemeliharaan jalan ruas Karangsono-Teguhan tersebut juga memperlancar akses ke stasiun Barat, yang merupakan satu-satunya stasiun Kereta Api di Magetan, dan juga ke lembaga pendidikan seperti SMP dan SMA.

Kepala Dinas PU-BMCK melalui Kepala UPTD  Wilayah IV berharap, pemeratan perawatan berbagai jalan di Kabupaten Magetan dapat dinikmati semua lapisan masyarakat, sehingga perekonomian bisa meningkat dari waktu ke waktu.

Dengan semboyan “Memayu Hayuning Bawana Suka Ambangun”, Kabupaten Magetan terus-menerus dan berkelanjutan bekerja keras untuk terwujudnya kesejahteraan masyarakat Magetan yang adil, mandiri dan bermartabat. (hadi/adv)

Pemkab Magetan Terus Tingkatkan Akses Jalan Menuju Area Wisata

Suyitno, ST (kiri). Ruas jalan Bangsri-Plaosan, jalur alternatif menuju Telaga Sarangan

Suyitno, ST (kiri). Perbaikan ruas jalan Bangsri-Plaosan, jalur alternatif menuju Telaga Sarangan

Magetan (Sergap) – Tidak dapat dipungkiri bahwa hampir diseluruh daerah Indonesia terdapat potensi wisata. Namun semua potensi itu membutuhkan infrastruktur untuk dapat berkembang dan menimbulkan dampak ekonomi. Yang pada gilirannya, akan mampu mendorong peningkatan kesejahteraan warga di sekitarnya.

Infrastruktur tersebut tentunya adalah sarana dan prasarana tersebut yang dapat memberikan dukungan akses ke area wisata dan sarana yang mendukung keamanan dan kenyamanan wisatawan, sehingga dapat menikmati potensi wisata yang ada.

Sarana transportasi, adalah sarana pariwisata yang utama dan pertama harus disediakan oleh pemerintah untuk dapat mengembangkan potensi wisata, sehingga mampu berkembang menjadi komoditas yang mampu memberi dampak ekonomi yang positif.

Pemerintah Kabupaten Magetan sangat menyadari hal ini, sehingga peningkatan dan pembangunan jalan akses menuju tujuan wisata tak pernah henti dilakukan dari tahun ke tahun.

Pemerintah Kabupaten Magetan di bawah kepemimpinan Bupati Drs. H. KRA Sumantri Noto Adinagoro, MM, dalam Program Prioritas Pembangunannya mendudukkan Bidang Pariwisata pada posisi ketiga, setelah Pendidikan dan Pertanian.

Terkait itu maka jalan-jalan menuju area wisata menjadi prioritas pula bagi Dinas Pekerjaan Umum, Bina Marga dan Cipta Karya (Dinas PUBMCK) Kabupaten Magetan. Kepala Dinas PUBMCK Ir. Hegunadi, MT melalui Kepala UPTD Pemeliharaan Jalan, Jembatan dan Keciptakaryaan Wilayah II, Suyitno, ST mengatakan bahwa, salah satu jalan prioritas yang menjadi tanggungjawabnya adalah ruas jalan Bangsri-Plaosan.

“Perbaikan dan pemeliharaan ruas jalan Bangsri-Plaosan, sepanjang 5 Kilometer ini juga menjadi prioritas utama. Sebagaimana kita ketahui jalan tersebut adalah jalur alternatif menuju ke area wisata Telaga Sarangan. Bapak Bupati berharap dengan perawatan yang bagus dan rutin, jalan-jalan di Magetan mulus, sehingga para wisatawan yang berkunjung akan terus bertambah,” kata Suyitno, ST kepada Tabloid Sergap.

Jika jalan-jalan di Magetan mulus, wisatawan yang berkunjung akan terus bertambah

Jika jalan-jalan di Magetan mulus, wisatawan yang berkunjung akan terus bertambah

Pemasukan restribusi dari area wisata Telaga Sarangan ini, merupakan andalan utama Pemerintah Kabupaten Magetan dalam mendukung PAD dari Bidang Pariwisata.

Telaga Sarangan, juga dikenal sebagai Telaga Pasir, adalah telaga alami yang berada di ketinggian 1.200 meter di atas permukaan laut dan terletak di lereng Gunung Lawu, Kecamatan Plaosan, Kabupaten Magetan, Jawa Timur. Telaga ini berjarak sekitar 16 kilometer arah barat Kota Magetan. Telaga ini luasnya sekitar 30 hektare dan berkedalaman 28 meter. Dengan suhu udara antara 15 hingga 20 derajat Celsius, Telaga Sarangan mampu menarik ratusan ribu pengunjung setiap tahunnya.

Telaga Sarangan juga memiliki beberapa kalender event penting tahunan, yaitu Labuh Sesaji pada Jumat Pon bulan Ruwah, liburan sekolah di pertengahan tahun, Ledug Sura 1 Muharram, dan Pesta Kembang Api di malam pergantian tahun.

Pemerintah Kabupaten Magetan, telah menunjukkan komitmennya untuk mewujudkan jalan sebagai salah satu prasarana transportasi yang merupakan urat nadi kehidupan masyarakat yang mempunyai peranan penting dalam usaha pengembangan kehidupan berbangsa dan bernegara.

Dalam kerangka tersebut, jalan mempunyai peranan untuk mewujudkan sasaran pembangunan seperti pemerataan pembangunan dan hasil-hasilnya, pertumbuhan ekonomi, dan perwujudan keadilan sosial bagi warga Kabupaten Magetan.

Dengan semboyan “Memayu Hayuning Bawana Suka Ambangun”, Kabupaten Magetan terus-menerus dan berkelanjutan bekerja keras untuk terwujudnya kesejahteraan masyarakat Magetan yang adil, mandiri dan bermartabat. (hadi/adv)

PJU Magetan, Untuk Tingkatkan Keamanan dan Kenyamanan Pengguna Jalan

Penerangan di Alun-Alun, ruang publik tempat rekreasi warga yang murah meriah (kiri). Bunderan Selosari diberi penerangan cukup untuk keselamatan pengguna jalan (kanan).

Penerangan di Alun-Alun, ruang publik tempat rekreasi warga yang murah meriah (kiri). Bunderan Selosari diberi penerangan cukup untuk keselamatan pengguna jalan (kanan).

Magetan (Sergap) – Penerangan Jalan Umum (PJU) juga dapat diartikan sebagai Lampu Penerangan yang dipasang untuk sebesar-besarnya bagi kepentingan umum, kepentingan bersama dan bersifat kepentingan publik. PJU yang dimaksud adalah lampu-lampu dipasang pada ruas-ruas jalan yang dianggap perlu untuk diberikan fasilitas penerangan, PJU juga dapat dipasang pada tempat umum lain seperti taman-taman kota, monumen, alun-alun dan sebagainya.

Di Provinsi Jawa Timur, pengelolaan PJU menjadi wewenang dan tanggungjawab Pemerintah Kabupaten dan Pemerintah Kota setempat. Pemerintah Kabupaten/Kota kemudian menugaskan senuah instansi untuk mengelola PJU, mulai dari perencanaan, penambahan, perluasan, pemasangan jaringan, pemeliharaan, perbaikan, dan pengawasannya. Singkat kata instansi Pemerintah Kabupaten/Kota tersebut berwenang dan bertanggung jawab penuh atas PJU. Mulai dari pecahnya bola lampu, rusaknya tiang lampu, sampai pembayaran rekening PJU.

Pemerintah Kabupaten Magetan menugaskan Dinas Pekerjaan Umum Bina Marga dan Cipta Karya (PUBMCK) untuk mengelola PJUnya. Dengan pertimbangan bahwa PJU memang sebagaian besar berada di sepanjang jalan raya di wilayah Pemerintah Kabupaten Magetan.

Kepala Dinas PUBMCK Ir. Hegunadi, MT melalui Kepala Bidang PJU dan Peralatan,  Muslich, ST mengatakan bahwa PJU di wilayah kerja Pemerintah Kabupaten wajib selalu siap pakai. “Dengan Penerangan Jalan Umum yang prima, maka diharapkan dapat memperlancar lalu lintas terutama pada waktu malam hari. Pengendara dapat melihat dengan lebih jelas jalan yang akan dilalui pada malam hari, sehingga dapat meningkatkan keselamatan lalu lintas dan keamanan dari para pengguna jalan,” kata Muslich, ST menjelaskan.

PJU di Pasar Baru, Stadion dan Bunderan Patung Gubernur Suryo Magetan

PJU di Pasar Baru, Stadion dan Bunderan Patung Gubernur Suryo Magetan

Dengan tujuan mengutamakan keselamatan dan kelancaran lalu lintas pula, maka Dinas PUBMCK Kabupaten Magetan melakukan penambahan PJU di beberapa lokasi yang penting. Di antaranya adalah di tikungan-tikungan dan jalan-jalan yang berbatasan dengan Provinsi Jawa Tengah dan juga yang berbatasan dengan kota-kota lain di sekitar Magetan.

“Di sekitar Area Wisata Cemoro Sewu kita tambah titik-titik PJUnya, sehingga para pemakai jalan yang biasa melakukan perjalanan malam hari, merasa nyaman dan aman,” tambah Muslich, ST kepada Tabloid Sergap.

Lebih lanjut dijelaskan bahwa, PJU adalah bagian dari upaya tak pernah berhenti dari Pemerintah Kabupaten Magetan di bawah kepemimpinan Bupati Drs. H. KRA Sumantri Noto Adinagoro, MM untuk mewujudkan sarana dan prasarana infrastruktur yang memadai guna menunjang pertumbuhan perekonomian daerah.

Dengan semboyan “Memayu Hayuning Bawana Suka Ambangun”, Kabupaten Magetan terus-menerus dan berkelanjutan bekerja keras untuk terwujudnya kesejahteraan masyarakat Magetan yang adil, mandiri dan bermartabat. (hadi/adv)

Kades Balegondo Magetan, Melantik Dua Kamituwo

Kamituwo Nurhasan dan Kamituwo Heru Pramono sesaat setelah dilantik

Kamituwo Nurhasan (kiri) dan Kamituwo Heru Pramono sesaat setelah dilantik

Magetan (Sergap) – Bertempat di Pendapa Desa Balegondo, Kecamatan Nagriboyo, Kabupaten Magetan, Kepala Desa Siti Matoyah melantik 2 orang Kamituwo, yaitu Nurhasan sebagai Kamituwo Babatan dan Heru Pramono sebagai menjadi Kamituwo Kuyangan.

Pelantikan yang berlangsung hari Jumat siang, 23 Oktober 2015 itu dihadiri oleh Muspika Ngariboyo, Pengurus BPD, tokoh masyarakat dan undangan lainnya. Dalam sambutannya Kepala Desa mengatakan, pelantikan dua Kamituwo ini berdasarkan Surat Persetujuan Camat Ngariboyo, nomor : 141/565/403.402/2015, tertanggal 21 Oktober 2015.

“Saya percaya bahwa sudara akan melaksanakan tugas dan kewajiban sebaik-baiknya. Semoga Allah SWT selalu memberikan bimbingan dan petunjuk kepada kita sekalian,” kata Kepala Desa. Selanjutnya Kepala Desa mengambil sumpah jabatan yang diteruskan dengan penandatanganan berita acara pelantikan.

Dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia (PPRI) Nomor 72 Tahun 2005 tentang Pemerintahan Desa disebutkan bahwa Kepala Desa adalah pejabat pemerintah yang bertugas menyelenggarakan urusan pemerintahan, pembangunan, dan kemasyarakatan di tingkat desa.

PPRI di atas adalah merupakan pelaksanaan dari ketentuan pasal 216 ayat (1) Undang Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah. Dalam memimpin penyelenggaraan pemerintahan, Pemerintah Desa berdasarkan kebijakan yang ditetapkan bersama Badan Perwakilan Desa (BPD).

Kesehariannya Kepala Desa dibantu dengan Perangkat Desa, salah satunya adalah Kamituwo. Kamituwo adalah perangkat yang membantu Lurah Desa di wilayah bagian Desa atau Dusun/Dukuh. Karena itu Kamituwo juga disebut Kepala Dusun.

Kamituwo mempunyai tugas menjalankan sebagian kegiatan Kepala Desa dalam kepimimpinan Kepala Desa di wilayah kerjanya.  Fungsi Kamituwo antara lain  adalah : Melaksanakan kegiatan pemerintahan, pembangunan dan pemasyarakatan, serta ketentraman dan ketertiban wilayah kerjanya; Melaksanakan peraturan Desa di wilayah kerjanya dan Melaksanakan kebijakan Kepala Desa.

Selamat dan sukses untuk bapak Kamituwo Nurhasan dan bapak Kamituwo Heru Pramono. Selamat bekerja membangun Desa Balegondo, dengan semangat Memayu Hayuning Bawana Suka Ambangun untuk menjadikan Kabupaten Magetan menjadi lebih baik dan sejahtera. (Hadi/adv)

SERGAP VIDEO

Pemeliharaan Jalan Untuk Tingkatkan Kesejahteraan Warga

Subani, ST. Pemeliharaan dan perbaikan jalan Karya Dharma,Desa Ringinagung, Kabupaten Magetan.

Subani, ST. Pemeliharaan dan perbaikan jalan Karya Dharma,Desa Ringinagung, Kabupaten Magetan.

Magetan (Sergap) – Dalam sejarahnya, berbagai macam teknik digunakan untuk membangun jalan raya. Dapat dikatakan, pemakaian bahan aspal sudah dikenal sejak milenium ke 3 sebelum Masehi, terbukti di Mahenjo Daro, Pakistan, terdapat penampung air berbahan batu bata bertambalkan aspal.

Konstruksi berikutnya yang kemudian terkenal dirancang oleh John Loudon Mc Adam (1756-1836). Konstruksi jalan ini di Indonesia dikenal dengan nama jalan Makadam itu, lahir berkat semangat membuat banyak jalan dengan biaya murah. Jalan tersebut berupa batu pecah yang diatur padat dan ditimbun dengan kerikil. Jalan Makadam sangat praktis, batu pecah digelar tidak perlu disusun satu per satu dan saling mengunci sebagai satu kesatuan.

Di akhir abad ke XIX, seiring dengan maraknya penggunaan sepeda, pada 1824 dibangun jalan aspal namun dengan cara menaruh blok-blok aspal. Jalan bersejarah itu dapat disaksikan di Champ-Elysess, Paris, Perancis. Jalan aspal yang bersipat lebih plastis atau dapat kembang susut yang baik terhadap perubahan cuaca dan sebagai pengikat yang lebih tahan air.

Di Skotlandia, hadir jalan beton yang dibuat dari semen portland pada 1865. Sekarang banyak jalan tol dengan konstruksi beton (tebal minimum 29 cm) dan tahan hingga lebih dari 50 tahun serta sangat kuat sekali memikul beban.

Jalan Aspal modern merupakan hasil karya imigran Belgia Edward de Smedt di Columbia University, New York. Pada tahun 1872, ia sukses merekayasa aspal dengan kepadatan maksimum.  Pada saat ini sedikitnya 90 % jalan utama di perkotaan selalu menggunakan bahan aspal.

Pada dasarnya pembangunan jalan raya adalah proses pembukaan ruangan lalu lintas yang mengatasi pelbagai rintangan geografi. Proses ini melibatkan pengalihan muka bumi, pembangunan jembatan dan terowong, bahkan juga penebasan hutan.

Muka bumi harus diuji untuk melihat kemampuannya untuk menampung beban kendaraan. Berikutnya, jika perlu, tanah yang lembut akan diganti dengan tanah yang lebih keras. Lapisan tanah ini akan menjadi lapisan dasar. Seterusnya di atas lapisan dasar ini akan dilapisi dengan satu lapisan lagi yang disebut lapisan permukaan. Biasanya lapisan permukaan dibuat dengan aspal ataupun semen.

Jalan raya dapat meningkatkan kegiatan ekonomi di suatu tempat karena menolong orang untuk pergi atau mengirim barang lebih cepat ke suatu tujuan. Dengan adanya jalan raya, komoditi dapat mengalir ke pasar setempat dan hasil ekonomi dari suatu tempat dapat dijual kepada pasaran di luar wilayah itu.

Selain itu, jalan raya juga mengembangkan ekonomi lalu lintas di sepanjang lintasannya. Contohnya, di pertengahan lintasan jalan raya utama yang menghubungkan kota-kota besar, penduduk setempat dapat menjual makanan kepada pengendara yang lewat di situ.

Dinas PU-BMCK Kabupaten Magetan, melayani masyarakat dalam penyediaan infrastruktur yang menunjang peningkatan kesejahteraan rakyat

Dinas PU-BMCK Kabupaten Magetan, melayani masyarakat dalam penyediaan infrastruktur yang menunjang peningkatan kesejahteraan rakyat

Pemeliharaan jalan tak kalah penting, dengan pembangunan jalan. Apalah gunanya jika sudah dibangun, jika kemudian tak dipelihara. Akhirnya akan rusak dan tidak bermanfaat bagi kepentingan masyarakat luas.

Terkait hal di atas maka, maka Dinas Pekerjaan Umum Bina Marga dan Cipta Karya (PU-BMCK) Kabupaten Magetan, memprogramkan pemeliharaan jalan sebagai salah satu prioritas kerjanya.

Hal ini sesuai dengan visi dan misi Bupati Magetan Drs. H. KRA Sumantri Noto Adinagoro, MM, yang menginginkan jalan-jalan di wilayah Kabupaten Magetan mampu mengangkat perekonomian warga.

“Semua jalan di Kabupaten Magetan, harus dimaksimalkan fungsinya sehingga memberi dampak positif bagi peningkatan perekonomian warganya,” kata Ir. Hegunadi, MT melalui Subani, ST, Kepala UPTD Pemeliharaan Jalan dan Jembatan Wilayah 1.

Tak peduli sengatan teriknya matahari kemarau panjang, para pekerja dan petugas pemeliharaan jalan itu menjalankan tugasnya dengan penuh pengabdian. Tekad jajaran Dinas PU-BMCK Kabupaten Magetan ini hanyalah, bagaimana melayani masyarakat dalam penyediaan infrastruktur yang menunjang peningkatan kesejahteraan rakyat. (hadi/adv)

99 foto link PUBMCK magetan

Gelar Budaya Kerja Untuk Tingkatkan Kinerja Aparatur Pemerintah di Pemkab Magetan

Plt Sekdakab Mei Sugiartini, SH dan peserta Gelar Budaya Kerja Pemkab Magetan 2015

Plt Sekdakab Mei Sugiartini, SH dan peserta Gelar Budaya Kerja Pemkab Magetan 2015

Magetan (Sergap) – Sebagai upaya peningkatan kinerja aparatur pemerintah dan mendukung program reformasi birokrasi yang tengah gencar gencarnya dilaksanakan, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Magetan telah melaksanakan Gelar Budaya Kerja di Lingkungan Pemerintah Kabupaten Magetan pada tanggal 30 September 2015 yang lalu.

Bertempat di Gedung PPI Kabupaten Magetan, Jl Jaksa Agung Suprapto, Magetan, berlangsung pada jam 08.00 wib s/d selesai dibuka dan oleh Plt. Sekretaris Daerah Kabupaten (Sekdakab) Magetan Mei Sugiartini, SH, dengan tim juri instruktur gugus kendali mutu dari Dinas Perindustrian dan Perdagangan Propinsi Jawa Timur, Ir. Putro Triono dan Nur Avida.

Maksud penyelenggaraan Gelar Budaya Kerja ini adalah,  1) Untuk meningkatan profesionalisme kinerja aparatur pemerintah. 2) Sebagai ajang seleksi pengiriman peserta Gelar Budaya Kerja tingkat provinsi. 3). Merupakan rangkaian kegiatan dalam rangka memperingati Hari Jadi ke 340 Kabupaten Magetan Tahun 2015.

Sedangkan tujuannya adalah untuk mengetahui perkembangan penerapan budaya kerja di lingkungan instansi pemerintah.

Kegiatan ini ini diikuti oleh 8 Kelompok Budaya kerja (KBK), yaitu KBK Cheerful (SMPN 2 Magetan), KBK Mustika (SMAN 1 Parang), KBK Kopling Gas (SMAN 1 Karas), KBK Senyum (SMKN 2 Magetan), KBK Tunas Cendekia (SMAN 1 Magetan), KBK Sembada (SMKN 1 Bendo), KBK Kanesma (SMKN 1 Magetan), KBK Formasi (Badan Kepegawaian Daerah).

Dalam sambutan pembukaannya, Plt Sekdakab Magetan Mei Sugiartini, SH mengatakan, bahwa tujuan dan kondisi birokrasi yang diinginkan oleh pemerintah telah tercantum dalam Peraturan Presiden Nomor 81 Tahun 2010 tentang Grand Design Reformasi Birokrasi 2010–2025.

“Reformasi birokrasi adalah kerja berat yang hasilnya baru terlihat nyata dalam jangka panjang, dan ini merupakan wujud dari komitmen berkelanjutan pemerintah”, kata Plt Sekdakab Magetan menegaskan.

Untuk mewujudkan komitmen tersebut, diperlukan upaya luar biasa untuk menata ulang proses birokrasi dan aparaturnya dari tingkat tertinggi hingga terendah. Diperlukan suatu perubahan paradigma yang memberikan kemungkinan ditemukannya terobosan atau pemikiran baru, di luar kebiasaan/rutinitas yang ada.

Peserta menyimak penyajian dari instruktur Gugus Kendali Mutu Dinas Perindustrian dan Perdagangan Propinsi Jawa Timur, Ir. Putro Triono

Peserta menyimak penyajian dari instruktur Gugus Kendali Mutu Dinas Perindustrian dan Perdagangan Propinsi Jawa Timur, Ir. Putro Triono

Selain terobosan atau pemikiran baru, juga diperlukan perubahan pola pikir (mind set) dan budaya kerja (culture set). Untuk menjaga keberlanjutan hasil terobosan atau pemikiran baru tersebut. Penekanan pola pikir dan budaya kerja dalam kebijakan reformasi birokrasi, dinyatakan sebagai salah satu area dari area perubahan yang harus dilakukan oleh Pemerintah Daerah.

“Perubahan pola pikir dan budaya kerja dalam konteks reformasi birokrasi inilah yang menjadi sebuah pertaruhan besar bagi bangsa Indonesia dalam menyongsong tantangan abad ke-21”, kata Plt Sekdakab menambahkan.

Birokrasi pada dasarnya bertujuan untuk menciptakan birokrasi pemerintah yang profesional dengan karakterilstik adaptif, berintegritas tinggi, berkinerja profesional, bersih dan bebas dari KKN, mampu melayani publik, berdedikasi, dan memegang teguh nilai-nilai dasar dan kode etik aparatur negara.

Pemkab Magetan berharap, ke depan Program Budaya Kerja dapat diterapkan di setiap unit kerja dan lembaga sekolah, sehingga setiap permasalahan yang ada, bisa dicari jln keluarnya dengan cepat, tepat dan logis. Di samping itu diharapkan terwujudnya peningkatan produktivitas kerja, dapat membuka seluruh komunikasi keterbukaan, cepat menemukan kesalahan dan cepat pula memperbaikinya, serta mengurangi kesalahan laporan dan informasi yang kurang akurat.

Pelaksanaan Program Budaya Kerja di jajaran Pemkab Magetan ini juga berperan sebagai pendorong terhadap kualitas kinerja untuk mewujudkan pemerintahan yang baik (good governance).  (hadi/adv)

Pasukan Pemadam Kebakaran Magetan Unjuk Kemampuan di Lomba Baris-Berbaris

PMK Kabupaten Magetan dengan seragam biru kebanggaannya

PMK Kabupaten Magetan dengan seragam biru kebanggaannya

Magetan (Sergap) – Masih dalam rangkaian peringatan Hari Jadi Kabupaten Magetan yang ke 340, digelar juga Lomba Baris Berbaris yang dilaksanakan selama 3 hari, mulai tgl 21 sampai dengan tanggal 23 September 2015. Pesertanya adalah dari seluruh dinas dan instansi di lingkup Pemkab Magetan.

Tujuan diadakannya Lomba Baris Berbaris ini, antara lain adalah untuk meningkatkan tingkat kedisiplinan di jajaran Pemkab Magetan.

Dewan Juri terdiri dari personil Kodim, Polres dan TNI Angkatan Udara di Lanud Iswahyudi, sehingga netralitas dan profesionalisme penilaian tidak disangsikan lagi.

Sementara itu, Dinas Pekerjaan Umum Bina Marga dan Cipta Karya (PUBMCK) mengirimkan Pasukan Pemadam Kebakaran (PMK), sebagai peserta dalam lonba ini, yang dipimpin oleh Wawang.

PMK Kabupaten Magetan tampil rapi, serempak dan kompak, mencerminkan kedisilpinan yang mutlak diperlukan dalam menjalankan tugasnya.

PMK Kabupaten Magetan tampil rapi, serempak dan kompak, mencerminkan kedisilpinan yang mutlak diperlukan dalam menjalankan tugasnya.

Dengan seragam biru kebanggaannya, PMK Kabupaten Magetan tampil rapi, serempak dan kompak. Kekompakkan yang mencerminkan kedisilpinan yang memang menjadi tuntutan profesi sebagai sebuah tim yang tugasnya menanggulangi bencana kebakaran.

Pemenang Lomba Baris Berbaris ini, akan diumumkan pada saat Upacara Hari Jadi Kabupaten Magetan ke 340, yang akan dipimpin oleh Bupati Magetan Drs. H. KRA Sumantri Noto Adinagoro, MM. Pemenang lomba ini juga berhak untuk mendapatkan tropi dan uang pembinaan dar bupati.

Sebagaimana diketahui, Kabupaten Magetan lahir pada tanggal 12 Oktober 1675, ketika Basah Suryaningrat menerima tanah persembahan dari Ki Ageng Mageti dan mengangkat Basah Gondokusumo menjadi bupati pertama di daerah yang saat itu bernama Magetian, dengan gelar Bupati Yosonegoro.

Selamat Hari Jadi Kabupaten Magetan ke 340. Semoga Kabupaten Magetan, tetap jaya dalam Memayu Hayuning Bawana Suka Ambangun. (hadi/adv)

98 link youtube

Bupati, Walikota dan Perusahaan Terima Penghargaan dari Gubernur Jatim

Pakde Karwo saat memberikan sambutannya

Pakde Karwo saat memberikan sambutannya

Surabaya (Sergap) – Penghargaan sebagai Pembina Terbaik Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) diberikan kepada 10 Bupati dan Walikota dan 405 Perusahaan juga menerima penghargaan Sistem Manajemen K3 (SMK3) dan Kecelakaan Nihil (Zero Accident) oleh Gubernur Jawa Timur H. Soekarwo, dalam sebuah acara di Gedung Grahadi, Surabaya, Rabu (22/4/2015).

“Zero accident adalah salah satu faktor utama penentu kualitas perusahaan secara global. Dengan berlakunya zero accident berarti kualitas perusahaannya baik, juga kualitas buruhnya. Itu berarti perusahaan mampu menangkap informasi dan mengimplementasikan di lapangan,” kata Pakde Karwo dalam sambutannya.

Soekarwo memaparkan, bukan hanya gaji naik yang menentukan kualitas baik buruknya perusahaan, akan tetapi tidak adanya kecelakaan kerja justru lebih penting. Hubungan yang dibangun di dalam perusahaan harus berbasis pada keamanan dan kenyamanan semua pihak.

Jumlah perusahaan di Jatim saat ini mencapai 35 ribu dengan jumlah tenaga kerja sebanyak 2,8 juta jiwa. Sementara jumlah kepesertaan perusahaan yang mengikuti penilaian kecelakaan nihil lima tahun terakhir masih jauh dari harapan.

“Walaupun hanya sebagian kecil perusahaan yang ikut penilaian kecelakaan nihil, tapi saya bersyukur karena tahun ini terjadi peningkatan jumlah perusahaan yang menerima penghargaan Zero Accident,” tambah gubernur.

Lebih lanjut disampaikan, tahun 2011 penerima penghargaan sebanyak 144 perusahaan, 2012 sebanyak 213 perusahaan, 2013 sebanyak 275 perusahaan, dan tahun 2014 meningkat menjadi 346 perusahaan. “Saya mengapresiasi kepada seluruh perusahaan yang ikut mendaftar dalam penilaian zero accident, karena itu berarti ikut menyukseskan program pemerintah,” tuturnya.

Pemprov Jatim memberikan penghargaan kepada 10 Bupati dan Walikota sebagai Pembina K3 terbaik di Jatim, yakni Bupati Sidoarjo, Bupati Gresik, Bupati Pasuruan, Walikota Surabaya, Bupati Lamongan, Bupati Blitar, Bupati Sumenep, Bupati Tuban, Bupati Mojokerto, dan Bupati Lumajang.

Pemberian penghargaan kepada Bupati dan Walikota sebagai Pembina K3 di Jatim, menurutnya, sebagai upaya pembudayaan K3 perusahaan di wilayahnya. Serta usaha untuk lebih meningkatkan motivasi dan komitmen seluruh pimpinan perusahaan di jatim, menuju “Indonesia berbudaya K3 tahun 2015”.

Untuk mewujudkannya, dibutuhkan kerja keras untuk dapat mengimplementasikan budaya K3 dan zero accident di perusahaan, dan tentu dibutuhkan biaya banyak. Akan tetapi K3 akan menjamin setiap sumber daya produksi dapat dipakai secara aman dan efisien. Untuk itu pelaksanaan K3 dan SMK3 di perusahaan tidak dapat diabaikan, dan menjadi salah satu kewajiban yang harus dipenuhi perusahaan. ”Sosialisasi akan terus kami lakukan dengan harapan tahun 2015 jumlah penerima penghargaan zero accident mencapai 400 perusahaan,” pungkasnya.

Kepala Dinas Tenaga Kerja Transmigrasi dan Kependudukan Pemprov Jatim, Edi Purwinarto mengatakan, tujuan pemberian penghargaan untuk lebih membudayakan K3 di Perusahaan di Jatim sehingga tercipta tempat kerja yang aman, nyaman, sehat dan produktif. “Dari jumlah 346 perusahaan yang meneriman penghargaan terbagi dalam 200 perusahaan besar, 110 perusahaan menengah, dan 36 perusahaan kecil,” jelasnya. (win/ADV)