Warga Sangat Bisa Jadi Jurnalis

Pemred

Pemred

BERKEMBANGNYA ilmu pengetahuan dan teknologi, terlebih internet, semakin mendorong seseorang untuk saling berbagi dalam menyampaikan informasi. Inilah mungkin faktor utama munculnya citizen journalism. Pepih Nugraha, seorang wartawan senior Kompas dalan bukunya yang berjudul “Journalism, Pandangan, Pemahaman, dan Pengalaman”, memberi pengertian citizen journalism sebagai salah satu kegiatan jurnalistik yang dilakukan oleh warga biasa yang tidak terlatih sebagai wartawan profesional, namun dengan peralatan teknologi informasi yang dimilikinya bisa menjadi saksi mata atau sebuah peristiwa yang terjadi di sekitarnya, meliput, mencatat, mengumpulkan, menulis, dan menyiarkannya di media oneline karena memiliki semangat berbagi dengan pembaca lainya.

Tipe jurnalisme seperti ini akan menjadi paradigma dan tren baru tentang bagaimana pembaca atau pemirsa membentuk informasi dan berita pada masa mendatang.

Perkembangannya di Indonesia dipicu ketika pada tahun 2004 terjadi tragedi Tsunami di Aceh yang diliput sendiri oleh korban tsunami. Terbukti berita langsung dari korban dapat mengalahkan berita yang dibuat oleh jurnalis profesional.

Perkembangan jurnalisme warga memang tak bisa lepas dari perkembangan teknologi. Teknologi komunikasi dalam bentuk kamera digital, handphone berkamera, facebook, blog, menjadi media efektif untuk menyalurkan hasrat menjadi jurnalis. Media ini dekat dengan masyarakat. Handphone bahkan hampir dibawa setiap saat sehingga memungkinkan masyarakat untuk bisa menjadi jurnalis seketika itu juga.

Selanjutnya, Pepih Nugraha menginstruksian dua hal penting yang harus dimiliki oleh setiap orang ketika hendak melakoni citizen journalism. Kedua hal itu adalah curiosity dan skeptic. Curiosity adalah keingintahuan yang tinggi terhadap segala hal, fakta maupun peristiwa. Sedangkan skeptic adalah sikap ragu atas fakta maupun peristiwa yang terjadi. Selain itu, Pepih juga mengutip lima langkah memulai citizen journalism dari seorang profesor jurnalisme Amerika, Tony Rogers, antara lain: lakukan riset mendalam, temukan media yang cocok sebagai sarana mempublikasi, bangun media yang ada dengan mempelajari karakteristik setiap media citizen journalism, bawalah alat yang diperlukan secukupnya saja (komputer atau ponsel berinternet), dan temukan sumber berita yang cocok untuk diliput.

Gaya penulisan soft news dengan pendekatan feature lebih cocok diaplikasikan dalam penulisan berita citizen journalism. Berita yang ditulis menggunakan gaya feature ini memiliki tiga kelebihan. Pertama, penulis tidak terlalu diburu waktu dan tidak membutuhkan kecepatan khusus dalam penyajianya. Kedua, laporan bertutur dalam bentuk feature dituliskan sebagaimana penulis tersebut bercerita pada kawan dekat ataupun keluarga, melalui sudut pandang orang pertama seperti “saya” atau “kami” untuk menunjukkan kedekatan penulis berita dengan objek yang ditulisnya.

Ketiga, feature terkesan lebih lugas dan memiliki lead pembuka yang elastis serta dinamis. Dalam citizen journalism, satu hal yang perlu diingat adalah unsur SW (so what?). Bukan hanya 5W+1H. Perlunya unsur so what? (lalu apa?) ini karena berita yang ditulis oleh warga dianjurkan memiliki manfaat bagi pembaca. Penggunaan unsur so what? dapat berisi tambahan informasi atau pesan kepada pembaca dalam berita yang dituliskan.

Warga yang hendak menyelami citizen journalism juga dianjurkan untuk tidak melakukan trolling dan flaming serta tetap menaati etika berinternet (netiket). Trolling berisi tulisan atau pesan singkat menghasut dan tidak relevan dengan topik yang dibicarakan di komunitas online. Sedangkan flaming adalah interaksi yang saling bermusuhan dan saling menghina antara pengguna internet. Ada tujuh dosa besar yang harus dicegah oleh warga yang melakukan kegiatan citizen journalism. Ketujuh dosa besar ini antara lain adalah: penyimpangan informasi, dramatisasi fakta, serangan privasi, pembunuhan karakter, eksploitasi seks, meracuni pikiran anak, dan penyalahgunaan kekuasaan.

Yang juga harus dipahami adalah peraturan perundang-undangan yang sudah ada saat ini, sebagai acuan agar tidak terjadi pelanggaran hukum, hanya karena ketidaktahuan. Sehingga terjerat dalam kesulitan, sebagaimana yang telah pernah menimpa Prita Mulyasari.

Seperti misalnya, Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik. Juga Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers, dan juga memahami Kode Etik Jurnalistik sebagai acuan dalam menghargai tata nilai, baik hukum, sosial budaya maupun kema-nusiaan.

Selamat Hari Pers Nasional ke 67. Pers bermutu, negara maju.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s