Tantangan Pramuka di Era Global

Pemred

GERAKAN PRAMUKA secara resmi diperkenalkan kepada seluruh rakyat Indonesia pada tanggal 14 Agustus 1961 bukan saja di Ibukota Jakarta, tapi juga di daerah-daerah. Di Jakarta sekitar 10.000 anggota Gerakan Pramuka mengadakan Apel Besar yang diikuti dengan pawai pembangunan dan defile di depan Presiden Sukarno dan berkeliling Jakarta. Peristiwa perkenalan tanggal 14 Agustus 1961 ini, kemudian dilakukan sebagai HARI PRAMUKA yang setiap tahun diperingati oleh seluruh jajaran dan anggota Gerakan Pramuka.

Saat ini, ketika Gerakan Pramuka sudah berusia 51 tahun, Pramuka bukannya semakin hebat, namun justru Gerakan Pramuka, yang lazim disebut Pramuka itu sudah mulai ditinggalkan.

Sekolah – sekolah, yang sebenarnya sebagai tempat utama yang diharapkan dapat menjadi motor penggerak kegiatan Pramuka, juga sudah mulai meninggalkan kegiatan ini. Kurikulum dan persaingan yang hanya mementingkan prestasi akademik, semakin membuat Pramuka bukan lagi kegiatan ekstrakurikuler penting bagi menejemen sekolah. Sekolah lebih berpacu bagaimana mengejar nilai ujian nasional daripada Gerakan Pramuka yang banyak mengembangkan nilai-nilai kemanusiaan, kegotongroyongan, suka menolong, cinta alam dan sebagainya.

Kalupun ada aktifis-aktifis Gerakan Pramuka, ternyata didominasi oleh orang-orang yang telah lama berkecimpung dalam Gerakan Pramuka. Tak tampak lagi muka-muka baru dalam kegiatan praktis Gerakan Pramuka di lapangan. Kalaupun ada, hanya karena disuruh atau karena ikut ikutan atau bahkan karena daripada tidak ada kegiatan.

Banyak yang berpendapat bahwa Gerakan Pramuka itu sudah ketinggalan jaman. Memang, di era globalisasi saat ini, bukan jamannya lagi orang diharuskan dapat berkemah, menghidupkan api unggun, atau mendaki gunung. Di dalam era globalisasi ini, orang dituntut untuk dapat bersaing dalam segala hal. Sekarang teknologi juga lebih canggih. Orang tidak perlu bersusah-susah berkomunikasi dengan menggunakan morse atau semaphore seperti dalam Pramuka. Toh, sekarang sudah ada yang lebih canggih seperti handphone, email.

Orang juga tidak perlu lagi memiliki jiwa yang ksatria dan bermoral. Lihat saja, orang sekarang lebih mementingkan kekayaan seseorang daripada moralnya. Orang tidak perlu lagi melakukan segala hal yang membuat capek. Toh, sekarang ada teknologi yang lebih canggih.

Sepertinya minat generasi muda terhadap Pramuka semakin berkurang. Karena semakin sedikitnya orang yang meminati gerakan pramuka, maka generasi muda tersebut ikut ikutan pula tidak meminati pramuka. Daya tarik Pramuka sekarang sudah jauh melemah. Orang hanya meminati kegiatan Pramuka hanya pada saat-saat tertentu saja. Misalnya saja, pada saat ada Lomba Pramuka atau saat Hari Pramuka saja.

Sekarang jamannya menuntut seseorang untuk dapat bersaing. Sekarang jamannya menuntut seseorang untuk memiliki kekayaan karena dengan kekayaan orang bisa melakukan apa saja. Kita tak perlu lagi bersusah payah. Kini kegiatan berkemah, berapi unggun, naik gunung dan sebagainya hanyalah dilakukan seorang militer. Tak ada lagi anggota Pramuka yang mau melakukan kegiatan tersebut.

Jaman sekarang sudah semakin canggih seakan akan membuat Pramuka semakin ketinggalan jaman. Mungkin cita-cita Lord Baden Powel, pendiri Pramuka Dunia, yang menginginkan agar pemuda memiliki jiwa ksatria, tangguh dan disiplin tinggal cita cita. Pemuda seakan sudah melupakan hal itu semua

Gerakan Pramuka yang begitu populer di era Orde Baru kini lesu di Jaman Reformasi.  Kenyataan mengatakan, tak hanya anggapan identik dengan Orde Baru saja yang membuat gerakan Pramuka di negeri ini lesu, tapi juga konstruksi pikir remaja Indonesia telah bergeser. Modernisasi, teknologi dan trend kapitalis juga menjadi penyebabnya.

Pramuka, bagi sebagian besar remaja Indonesia menjadi “benda” kuno yang dianggap tak lagi sesuai dengan trend mereka. Di sekolah-sekolah, ekstrakurikuler Gerakan Pramuka sedikit peminat, berbeda dengan bidang lain. Satu contoh, pramuka kalah tenar dengan kegiatan pemandu sorak yang dianggap keren.

Tentu lantas muncul pertanyaan, kenapa Pramuka yang dulu begitu “gagah” dan digandrungi, kini loyo dan dianggap kuno? Jika ditilik kembali, gerakan Pramuka yang menempel pada sistem pendidikan formal terlihat terlalu menekankan pemahaman akademis dan kurang menyenangkan.

Dengan kata lain, gerakan Pramuka di era modern ini perlu inovasi kreatif agar tetap mampu menarik perhatian siswa. Menjadi gerakan yang fleksibel, menyenangkan, dan tentu tak meninggalkan fungsinya menjadi media pendidikan karakter, pendidikan kebangsaan & kewargaan, serta pengajaran dan pelatihan soft-skill, seperti komunikasi, kepercayaan diri, dan kepemimpinan.

Metode pembelajaran dan kegiatan, mutlak harus dimodifikasi. Gerakan Pramuka juga tak bisa dipungkiri harus mengikuti perkembangan teknologi.

Dengan mendapatkan sokongan penuh dari pemerintah melalui APBN dan APBD dan perlindungan hukum dengan disahkannya Undang-undang Nomor 12 Tahun 2010 Tentang Gerakan Pramuka, seharusnya Pramuka bisa lebih melebarkan sayap.

Tantangan perkembangan zaman kini secepatnya harus dijawab. Dongkrak popularitas Pramuka dengan revitalisasi gerakan. Sesegera mungkin menginovasi diri dan membaur dalam moderenitas.

Pramuka harus mampu menjadi motor penggerak pendidikan karakter pemuda bangsa. Harus juga mampu menjadi pendobrak terkikisnya rasa nasionalisme.  Salam Pramuka !!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s