Polisi Kita di Masa Kini

Pemred

Pemred

SENIN 1 Juli 2013 Kepolisian Republik Indonesia (Polri) memperingati Hari Bhayangkara ke-67 yang juga telah ditetapkan sebagai Hari Jadi atau Hari Ulang Tahun Polri. Peringatan HUT Bhayangkara tahun ini mengambil tema “Sinergitas Kemitraan dan Anti KKN, Wujudkan Pelayanan Prima, Gakkum & Kamdagri Mantap Sukseskan Pemilu 2014”.

Tema tersebut sangatlah sesuai dengan kondisi terkini Polri. Di mana Polri selaku sebuah institusi penegakkan hukum dan keamanan perlu terus membangun dan mengembangkan sinergitas kemitraan dengan berbagai pihak. Dalam melaksanakan tugasnya, yaitu memberikan pelayanan prima bagi masyarakat, seperti menjaga kewibawaan hukum dan menjaga keamanan dalam negeri, Polri tak bisa melakukannya sendiri. Polri perlu bekerja sama dan membutuhkan dukungan dari berbagai pihak.

Paruh kedua pada tahun 2013 dan sepanjang tahun 2014 adalah masa-masa yang berat dan penuh ujian bagi jajaran Polri. Karena pada masa itu akan merupakan masa persiapan dari apa yang disebut sebagai pesta demokrasi, yaitu pemilihan umum legislatif dan pemilihan umum presiden. Meningginya temperatur suhu politik akan seiring pula dengan ketidakstabilan kemanan dan ketertiban serta peningkatan angka kriminalitas.

Polisi juga akan menjadi bahan rebutan oleh kekuatan politik peserta pemilu legislatif dan pemilu presiden. Berbagai trik atau modus akan dilakukan oleh para dedengkot parpol untuk mempengaruhi elit-elit Polri. Tujuannya, selain untuk meraih dukungan suara dari keluarga besar Polri dan juga tidak tertutup kemungkinan adanya maksud-maksud agar Polri terpengaruh untuk tidak independen dalam menjalankan tugasnya. Di situlah ujian berat bagi elit-elit Polri. Kita berharap dan yakin insya Allah Polri tetap berjalan pada jalur yang benar.

Pada tema itu juga ada kata-kata “Anti KKN” (anti korupsi, korupsi dan nepotisme). Semangat ini perlu terus dijaga dan dipertahankan oleh Polri. Sebab, dalam menjalankan tugasnya, Polri sangat rentan dengan praktik-praktik KKN. Karena itu membangun mental dan integritas anggota Polri secara terus-menerus adalah sebuah keharusan.

Tentu kita tak ingin praktik dugaan korupsi miliaran rupiah oleh mantan Korlantas Mabes Polri Irjen Pol Djoko Susilo terjadi lagi di masa mendatang. Kasus dugaan korupsi oleh Irjen Djoko Susilo telah mencoreng nama baik Polri. Kasus Irjen Djoko Susilo mesti menjadi pelajaran berharga bagi anggota dan elit Polri untuk terus berbenah dan terjauh dari praktik KKN sebagaimana yang tertuang dalam tema peringatan HUT Bhayangkara ke-67 tahun 2013.

polisi kejar koruptor-solopos okeKeterlibatan oknum polisi di berbagai skandal korupsi dan makelar kasus, tampaknya itu bukan dipicu oleh sedikit atau banyaknya gaji yang didapatkan oleh setiap anggota. Namun lebih pada faktor keburukan mentalitas seseorang.

Berbincang masalah mentalitas, itu menyangkut berbagai persoalan. Pertama, relijiusitas, bagaimana seseorang memiliki komitmen rohaniah untuk meyakini bahwa Tuhan itu ada. Kedua dedikasi, bagaimana seseorang dengan sepenuh hati mengabdikan dirinya untuk hal-hal yang terbaik demi kesejahteraan bersama. Dan ketiga profesionalitas, bagaimana tanggung jawab intelektual yang mesti dilakukan oleh seseorang dalam mengemban tugas dan amanah yang dipikul setiap orang.

Momentum vital sekaliber peringatan Hari Bhayangkara ke-64 kali ini sangat rugi jika tidak digunakan untuk membenahi struktur dan kelegitimasian Polri sebagai pelayan masyarakat. Bangsa ini masih dililit dengan persoalan-persoalan kebangsaan yang cukup banyak.

Jika ditinjau ke belakang, lahir dan tumbuh berkembangnya Polri tidak lepas dari sejarah perjuangan Kemerdekaan Republik Indonesia. Dalam perjuangan Kemerdekaan Indonesia, Polri telah dihadapkan pada tugas-tugas yang unik dan kompleks. Selain menata keamanan dan ketertiban masyarakat di masa perang, Polri juga terlibat langsung dalam pertempuran melawan penjajah dan berbagai operasi militer bersama-sama satuan angkatan bersenjata yang lain.

Saat itu Polri adalah satu-satunya satuan bersenjata yang relatif lebih lengkap. Hanya empat hari setelah kemerdekaan, tepatnya tanggal 21 Agustus 1945, secara tegas pasukan polisi memproklamirkan diri sebagai Pasukan Polisi Republik Indonesia yang dipimpin oleh Inspektur Kelas I (Letnan Satu) Polisi Mochammad Jassin di Surabaya.

Pada awalnya kepolisian berada dalam lingkungan Kementerian Dalam Negeri dengan nama Djawatan Kepolisian Negara yang hanya bertanggung jawab masalah administrasi, sedangkan masalah operasional bertanggung jawab kepada Jaksa Agung. Berikutnya mulai tanggal 1 Juli 1946 dengan Penetapan Pemerintah tahun 1946 No. 11/S.D. Djawatan Kepolisian Negara yang bertanggung jawab langsung kepada Perdana Menteri. Tanggal 1 Juli inilah yang setiap tahun diperingati sebagai Hari Bhayangkara hingga sekarang.

Sedangkan kemandirian Polri diawali sejak dipisahkannya Polri dari Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI) tanggal 1 April 1999. Sejak itu TNI dan Polri masing-masing menjadi instutisi yang terpisah. Sebagai bagian dari proses reformasi, maka kebijakan tersebut harus dipandang dan disikapi secara arif sebagai tahapan untuk mewujudkan Polri sebagai abdi negara yang profesional dan dekat dengan masyarakat.

Semoga peringatan HUT Bhayangkara ke-67 tahun 2013 ini dapat menjadi ajang refleksi, evaluasi dan momentum untuk mempermantap kinerja dan pengabdian Polri ke depan. Rakyat rindu dan menunggu perubahan ke arah yang lebih baik. Selamat ulang tahun dan semoga selalu dalam kondisi prima sebagai Bhayangkara Negara.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s