Masihkah Kita Jalesveva Jayamahe?

Pemred

Setiap tanggal 15 Januari kita peringati Hari Dharma Samudra untuk mengenang Peristiwa Laut Aru yang menenggelamkan KRI Matjan Tutul yang mengakibatkan gugurnya Komodor (sekarang disebut Laksamana Pertama, perwira tinggi berbintang satu) Yos Soedarso.

Peringatan Hari Dharma Samudera bukan hanya sekedar kegiatan yang bersifat rutinitas dan seremonial belaka, akan tetapi terdapat makna sejarah dan semangat juang yang tinggi serta dapat diambil suri tauladan bagi generasi berikutnya.

Komodor Yos Sudarso telah meninggalkan kita, namun pesan tempurnya “Kobarkan semangat pertempuran” tidak dapat kita lupakan. Pada era globalisasi dewasa ini pesan tersebut dapat kita maknai bahwa setiap diri hendaknya mempunyai semangat membara dalam upaya membangun Indonesia menuju negeri maritim (kepulauan).

Kenyataan yang ada, 2/3 wilayah negeri kita ini berupa lautan. Memiliki garis pantai sepanjang 81.000 kilometer, terpanjang kedua di dunia setelah Kanada. Luas laut 5,8 juta kilometer persegi, luas kawasan laut tersebut terdiri dari wilayah Zona Ekonomi Ekslusif Indonesia (ZEEI) seluas 2,7 juta kilometer persegi dan Laut Teritorial seluas 3,1 juta kilometer persegi dan bertabur pulau-pulau yang jumlahnya sekitar 17.504 pulau besar maupun pulau kecil.

Keistimewaan ini menjadikan Indonesia sebagai negara dengan laut terluas di dunia, letak geografis Indonesia juga menempatkan negeri ini pada posisi geopolitis yang penting yakni Lautan Pasifik dan Lautan Hindia, sebuah kawasan paling dinamis dalam percaturan politik, pertahanan dan keamanan dunia. Jadi sangat wajar jika kita punya semboyan : Di Laut Kita Jaya, Jalesveva Jayamahe…

Namun sangat disayangkan studi sejarah di Indonesia sampai saat ini lebih banyak menyoroti peristiwa yang terjadi di darat. Padahal kalau kita lihat dari perspektif ilmu sejarah, nenek moyang kita adalah bangsa pelaut.

Bahkan sampai diciptakan sebuah lagu dengan judul nenek moyangku seorang pelaut  nyanyian itu pastinya tidak lagi asing di telinga kita. Betapa tidak, dari kecil kita sudah diajari oleh guru kita tentang dendangan lagu itu semenjak kita SD.Tapi apakah kita sadar,ternyata nyanyian itu tidak hanya sekedar nyanyian belaka.

Kita bisa ambil contoh dari Kerajaan Sriwijaya dan Majapahit yang disebut-sebut kerjaan terkuat dan terbesar di Asia Tenggara pada masanya. Kegiatan perdagangan yang terjadi pada masa itu juga lebih banyak mengguanakan jalur laut daripada darat dikarenakan jalur darat masih berupa hutan-hutan lebat sehingga sulit unutk dilalui.

Mayoritas orang Indonesia tidak menyadari bahwasanya kita tinggal di kepulauan, tetapi karena pulau-pulaunya yang besar seperti Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi dan Papua sehingga masyarakat kita tidak terbiasa dengan air atau bahkan phobia dengan air. Kita bisa lihat dalam kehidupan sehari-hari banyak masyarakat Indonesia yang tidak dapat berenang.

Kita pasti sepakat bahwa peranan laut dalam sejarah bangsa Indonesia sangat besar. Namun, ironis sekali saat ini rakyat Indonesia kuran memanfaatkan potensi sumber daya laut yang sangat melimpah ini.

Sebagai perbandingan konsumsi rata-rata ikan orang Indonesia masih dibawah 30kg/orang/tahun. Bandingkan dengan penduduk Malaysia, Thailand, dan Singapura yang konsumsi ikannya sudah melebihi 40 kg per kapita per tahun, atau Amerika Serikat yang sekitar 80 kg. Apalagi dengan Jepang dan Korea Selatan yang mencapai hingga 140 kg per kapita per tahun. Sebagai patokan, standar dari FAO adalah 30kg/tahun.

Kita juga lebih sering berwisata ke darat daripada kelaut. Padahal laut mempunyai potensi wisata yang tidak kalah dengan daratan. Contohnya perairan Bunaken yang terkenal dengan keindahan bawah lautnya hingga ke seluruh dunia. Karena itu diperlukan usaha dan perencanaan yang matang dari seluruh komponen masyarakat kita untuk memberdayakan potensi kelautan bangsa. Agar kita menjadi bangsa dengan jumlah pulau terbanyak di dunia dengan hasil laut terbesar di dunia bukan sebaliknya, sebagaimana diberitakan beberapa media massa kita telah kecolongan mengimpor ikan laut, di antaranya Ikan Kembung, jenis ikan yang banyak dihasilkan oleh nelayan kita. (kontan.co.id, 28 Jan 2012). Belum lagi impor garam yang sangat memalukan itu.

Pembahasan Rancangan Undang-Undang (RUU) tentang Kelautan di DPR RI belum tuntas hingga saat ini. Jika hal ini berlarut-larut dibiarkan maka tidak heran jika kalimat seharusnya bangsa Indonesia hidup dengan dan dari laut hanya sebatas “lips service”. Padahal Undang-Undang ini memiliki fungsi yang sangat strategis untuk membangun kemampuan maritim nasional menjadi kekuatan maritim internasional. Masihkah bangsa kita ini dengan bangga berkata, di Laut Kita Jaya?

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s