Masih Saktikah Pancasila Kita?

Pemred

Pemred

Tanggal satu juni merupakan hari bersejarah bagi bangsa Indonesia, di mana pada tanggal 1 Juni 1945 para pendiri bangsa ini berdebat untuk melahirkan sebuah dasar bagi negara Indonesia yang akan diproklamasikan kelak.

Setelah beberapa orang dari peserta rapat BPUPKI berpidato tentang dasar negara yang di antaranya adalah Supomo dan M. Yamin, beliau berdua mnyampaikan tentang dasar negara yang relatif sama walau redaksi agak berbeda. Soekarno-pun menyampaikan pidatonya yang isinya juga relatif sama dengan pidato dua orang lainnya dan beliau menamakan dasar negara itu adalah PANCASILA.

Setelah negara Indonesia diproklamasikan pada tanggal 17 Agustus 1945 oleh Soekarno-Hatta maka keesokan harinya tanggal 18 diadakan rapat untuk membentuk UUD Negara Indonesia. Pada UUD yang di bentuk itu isi dari PANCASILA termaktub dalam PEMBUKAAN UUD 45. Sejak itulah Pancasila menjadi dasar berbangsa dan bernegara bagi seluruh rakyat indonesia.

Perjalanan bangsa ini dari semenjak kemerdekaannya membentuk dinamika terhadap penghayatan Pancasila sebagai dasar negara. Pada masa Soekarno Demokrasi Terpimpin atau juga lebih dikenal dengan jaman ORLA, Soekarno menjadikan Pancasila sebagai alat REVOLUSI. Dalam masa Soekarno Pancasila benar benar menjadi penyatu unsur bangsa dalam awal membangun negara ini walau dalam praktiknya Soekarno juga melakukan pelanggaran terhadap Pancasila dan UUD.

Setelah Soekarno dipaksa mundur dari jabatannya dan pemerintahan beralih kepada penguasa baru yaitu Soeharto yang juga dikenal sebagai rezim ORBA juga menetapkan Pancasila sebagai alat kekuasaan dalam menjalankan pemerintahannya.

PIGURA 82Soeharto memaksakan nilai-nilai Pancasila di dalam setiap aktifitas berbangsa dan bernegara rakyat Indonesia. Pancasila dijadikan azas tunggal dalam berpolitik maupun berorganisasi anak bangsa. Nilai-nilai Pancasila yang sebenarnya ada di dalam setiap sendi kehidupan masyarakat dipaksakan dalam setiap aktifitas politik masyarakat. Soeharto dengan pemaksaan nilai-nilai Pancasila malah dalam menjalankan kekuasaannya lebih banyak menyimpang dari nilai-nilai Pancasila itu sendiri.

Pecahnya Reformasi pada tahun 1998 dan jatuhnya Soeharto membuka pintu kebebasan yang selama masa Soeharto hanya menjadi impian rakyat. Pancasila seakan luntur dan hilang dari kehidupan masyarakat. Era Reformasi hari ini terasa menjadikan Pancasila hanya sebagai pajangan penghias dinding.

Berbagai kejadian dan peristiwa yang terjadi ditanah air ini seakan membuktikan kebenaran bahwa Pancasila tidak mampu lagi menjadi dasar bagi negara ini dalam berbangsa dan bernegara.

Secara formal, Pancasila disosialisasikan melalui pelajaran di sekolah. Namun keberadaan sub-bidang studi yang berusaha mengkaji Pancasila lebih dalam, makin lama makin terdegradasi. Pelajaran “Pendidikan Moral Pancasila” diganti dengan “Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan” kemudian “Pendidikan Kewarganegaraan”. Pendidikan Kewarganegaraan dirasa kurang, atau sama sekali tidak mengkaji Pancasila, yang dikaji hanyalah perihal berwarganegara. Selain itu, Pancasila hanya diucapkan semata ketika upacara bendera, tanpa ada usaha/program sekolah yang berusaha untuk mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Namun demikian keluarga (khususnya orangtua) berusaha menanamkan nilai-nilai Pancasila kepada anak-anak mereka, meski penyampaiannya tidak secara eksplisit. Para orangtua selalu menasehati anak mereka untuk hidup gotong royong, saling menghargai, toleran, dan lain sebagainya tanpa mengucap bahwa itu adalah nilai-nilai Pancasila. Jadi, secara formal kita memperoleh sosialisasi tentang Pancasila ketika kita duduk di bangku sekolah, sedangkan secara praktis kita memperolehnya dari orangtua kita.

Banyak pihak sudah mengetahui fakta bahwa nilai-nilai Pancasila semakin lama semakin terkikis. Namun sedikit pihak yang mau bangkit dan bertindak memperbaiki fakta tersebut. Adakah Pancasila mulai tergeser oleh ideologi lain? Ataukah Pancasila mulai digerogoti oleh mental “tidak sehat” dari oknum-oknum tidak bertanggungjawab? Hal tersebut bukan fokus kami karena sebagai anak muda generasi bangsa, kami merasa bahwa tindakan konkrit untuk membangkitkan kembali semangat Pancasila lebih penting.

Pancasila dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, kami menemukan bahwa para pemimpin bangsa ini kurang mengamalkan Pancasila. Terlihat dari pembuatan kebijakan yang seringkali menguntungkan satu golongan dan merugikan golongan lain. Bahkan pembuatan kebijakan tersebut tidak dilandasi dengan semangat musyawarah mufakat, melainkan voting. Belum lagi fenomena korupsi yang sedang marak di negara ini. Gambaran pemimpin yang seperti itu sungguh jauh dari semangat Pancasila.

Sudah selayaknya seluruh komponen bangsa ini membaca ulang negara ini agar perjalanan bangsa ini tidak makin lari dari cita cita berdirinya negara Indonesia. Pancasila harga mati bagi demokrasi bangsa, kembalikan Pancasila kepada fungsi awalnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s