Kartini di Era Global

Pemred

Pemred

Modernitas menjadi tantangan berat bagi kaum perempuan untuk eksis dan berperan sebagai seorang Kartini masa kini. Himpitan ekonomi jadi penyumbang terbesar terkurasnya perhatian seorang perempuan untuk bisa  menampilkan jati diri sebagai seorang Kartini, selain dari gencarnya media menampilkan sosok perempuan idaman masa kini yang cenderung jauh dari nilai-nilai yang bisa memuliakan perempuan itu sendiri.

Tayangan-tayangan infotainment, sinetron-sinetron tidak bermutu dan film layar lebar lebih banyak didominasi oleh “perempuan-perempuan sakit” yang menonjolkan sosok yang jauh dari sosok seperti Kartini. Benar memang ada pula film-film dan sinetron yang menampilkan sosok yang ideal dan patut untuk dijadikan contoh, tetapi karena gaungnya tidak sedahsyat film dan sinetron murahan tersebut menjadikannya hanya sebagai hiburan sepintas lalu, belum cukup untuk menancapkan jejak yang cukup mendalam dihati masyarakat kita.

Peran media massa cukup signifikan untuk mendorong hadirnya sosok perempuan yang menjadi ikutan dimasyarakat, televisi menjadi pendorong utama dalam membangun image perempuan yang dimaksud. Segala tingkah laku perempuan yang sedang jadi sorotan televisi bisa dengan serta merta dijadikan model oleh masyarakat (perempuan) sebagai sebuah trend dan gaya hidup. Lalu adakah sosok Kartini yang ikut menjadi trend dan idola perempuan melalui tayangan televisi yang ada?

Kalau sebuah keluarga sudah dibekali pembentengan yang kuat dalam memfilter hal-hal yang negatif dari tayangan televisi tentu akan sangat membantu meminimalisir efek sampingnya, tetapi bagaimana dengan keluarga-keluarga yang tidak punya benteng itu sama sekali?. Maka yang terjadi adalah menelan bulat-bulat tayangan yang ada sebagai sebuah hal yang baik dan tidak ketinggalan zaman.

kartini di era globalDibutuhkan kesadaran yang tinggi dan solidaritas yang kuat dari perempuan-perempuan yang tidak terkooptasi oleh hal-hal yang merusak dari tayangan televisi terhadap perempuan-perempuan yang berada dalam kendali penetrasi ideologi media massa yang merusak. Seperti yang dilakukan oleh Mpok Geboy dalam mengusir preman kampung yang doyan berjudi dipos ronda, hal ini juga bisa dilakukan oleh perempuan untuk membangun solidaritas dan menuntut media massa khususnya televisi untuk menghentikan tayangan yang tidak mendidik dan merusak pola pikir remaja dan perempuan secara keseluruhan.

Karena perempuan/ibu sebenarnya menjadi benteng pertama dalam keluarga bagi anak-anaknya khususnya perempuan yang rentan terhadap pengaruh luar seperti televisi, sehingga mendidik mereka dengan pendidikan yang bisa mengarahkan menjadi Kartini-Kartini masa kini sangat dibutuhkan.

Sebenarnya ada contoh yang jauh lebih baik dari Kartini dalam hal menjadikan dirinya sebagai sosok perempuan yang mulia dihadapan manusia dan dihadapan Rabb-Nya, yaitu Khadijah, Fathimah dan isteri-isteri para salafusshalih serta perempuan-perempuan muslimah yang masih memegang teguh tali agama dengan kuat ditengah hingar-bingarnya dunia ini. Namun mereka seolah tenggelam diantara perempuan-perempuan yang lebih mengutamakan penampilan fisik daripada penampilan hati dan tindak-tanduknya yang santun.

Peran kuat seorang pemimpin negeri ini tentu akan sangat dibutuhkan untuk menopang terjadinya proses kultural dan struktural dalam hal memunculkan Kartini-Kartini masa kini yang jauh lebih baik dan tidak keropos disatu sisinya, alias hanya memperjuangkan emansipasi belaka tanpa mencukupinya dengan semangat religius didalamnya.

Selamat Hari Kartini.

Dimuat di Tabloid Sergap Edisi 59, April 2010

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s