Menjadi Wartawan Pemula

BANYAK orang bercita-cita menjadi dokter, insinyur, pengusaha atau bahkan jadi presiden. Artinya, persaingan untuk menggapai cita-cita seperti ini, juga makin sulit. Tapi, tidak banyak orang bercita-cita menjadi penulis ternama atau wartawan terkenal. Kenapa tidak memilih yang sedikit ini?

Menulis itu gampang, bagi yang sudah melakukannya. Tapi, bisa susah setengah mati buat mereka yang baru mulai. Nah, bagaimana caranya, atau apa yang harus dilakukan seorang penulis atau wartawan pemula?

Pertama, tanamkan sugesti positif. Ini untuk memompa semangat dan mensugesti diri sendiri. Katakan pada dirimu, Ayo, kamu pasti bisa! Saya ingin menjadi penulis ternama. Semangat menulis ini harus dijaga agar jangan sampai kendor. Seperti kata pepatah, dimana ada kemauan, disitu ada jalan.

Kedua, rajinlah membaca. Sebab, membaca adalah jendela ilmu pengetahuan. Dengan membaca, kita bisa memahami gaya bahasa, sistimatika dan cara menuliskannya secara runtun, mudah dicerna, menarik dan tidak bertele-tele. Membaca bagi orang penulis atau wartawan, ibarat bensin pada sepeda motor. Membaca akan melahirkan inspirasi. Kemampuan mengembangkan inspirasi ininlah seni menulis atau mengarang.

Ketiga, belajar menulis itu ibarat belajar berenang atau naik sepeda. Sebanyak apapun teori berenang atau belajar sepeda, tidak ada gunanya kalau Anda tidak mencobanya. Dengan kata lain, Anda tidak akan bisa menulis kalau tidak menuliskan pena di kertas. Kuncinya adalah, berlatih dan terus berlatih. Ingatlah kata Thomas Alva Edison, “Jenius itu satu persen inspirasi, 99 persen cucuran keringat”. Maka dari itu, mulailah menulis.

Keempat, tekad dan motivasi yang kuat, ulet, tidak mudah putus asa, terus berlatih dan berlatih, mengembangkan ide dan kemampuan, merupakan modal dasar bagi penulis pemula. Anda bisa melakukan menulis bebas (free writing), temannya apa saja, termasuk uneg-uneg masalah di sekitar kita. Jangan berharap langsung bagus. Hasilnya didiskusikan dengan teman dekat kita. Lalu lakukan penulisan ulang sekaligus editing, agar tulisan itu enak dibaca, padat, tidak ada kata-kata mubazir dan tidak bertele-tele.

Kelima, seorang penulis haruslah orang yang berwawasan luas yang diperoleh dari membaca. Sebagai penulis, ada baiknya Anda mengumpulkan referensi atau rujukan. Bisa berupa kliping artikel, cerpen, puisi atau apa saja yang menarik bagi Anda. Setelah itu, belajarlah mencintai buku dan lama-lama kelamaan bisa mempunyai perpustakaan pribadi. Seorang penulis juga seorang intelektual yang selalu haus dengan ilmu pengetahun. Tapi harus diingat, jangan menjiplak atau jadi plagiator.

Nah, anggaplah kini anda sudah mulai menulis. Setiap kejadian yang anda lihat atau alami serta dirasakan bisa ditulis. Termasuk apa yang dibicarakan orang, direkam di kepala atau dicatat menjadi bahan karangan. Apapun yang anda tulis, jangan langsung puas. Setelah itu, tulisan tadi dikoreksi, dibaca, diteliti dan direnungkan Lalu, kemana tulisan anda dikirim? Anda bisa mengirimkan ke surat kabar sebagai surat pembaca. Misalnya, tulisan tentang keluhan anak-anak SLTP atau SMU yang selalu kepanasan saat bubaran sekolah menuggu angkutan lantaran tidak ada halte. Atau, masalah-masalah lain yang Anda amati dilingkungan Anda. Biasanya, surat pembaca berupa tulisan yang menyangkut kepentingan orang banyak. Tentu saja redaktur surat kabar itu tidak akan memuat tulisan Anda tentang ungkapan kekecewaan terhadap pacar Anda atau surat cinta. Ini pasti akan masuk keranjang sampah. Atau, bisa saja tulisan Anda dikumpulkan, lalu mulailah membuat majalah dinding di sekolah.

Nah, bagaimana kalau mau menjadi wartawan pemula? Seorang wartawan haruslah memiliki sifat dasar seperti sikap kritis, rasa ingin tahu yang besar, pengetahuan luas, pikiran terbuka, pekerja keras dan cerdas. Ia juga harus tekun dan terus belajar. Di kepalanya, selalu ada pertanyaan dan tidak membunuh pertanyaan itu.

Tentu saja seorang wartawan harus menguasi teknik jurnalistik seperti; menulis berita, menulis artikel atau feature, teknik wawancara dan reportase atau laporan pandangan mata. Ia harus menguasi bidang liputan dan menaati Kode Etik Jurnalistik. Kenapa wartawan punya kode etik? Sebab, wartawan adalah profesi yang mulia, sama seperti dokter atau pengacara yang juga harus mematuhi kode etik.

Menulis berita secara sederhana diartikan sebagai laporan sebuah peristiwa atau kejadian menarik. Alur peristiwa itu biasanya dilaporkan dengan konsep WHAT (apa) WHO (siapa) WHERE (dimana) WHEN (kapan) WHY (mengapa) dan HOW (bagaimana). Rumusan ini biasanya disebut 5W + 1 H. Dengan rumus ini, bisa kita susun peristiwa APA, yang terlibat SIAPA, terjadi KAPAN dan lokasinya DIMANA, serta MENGAPA bisa terjadi serta BAGAIMANA ceritanya.

Dalam menulis sebuah berita, biasanya dipakai struktur piramida terbaik, yang terdiri dari judul, teras berita (lead) isi tubuh berita dan penutup. Ini dilakukan agar bagian yang penting masuk ke dalam seluruh berita dan bagian yang kurang penting (yang bisa dipangkas atau dibuang redaktur) dibagian bawah. Yang tidak boleh diabaikan saat menulis berita ada tiga hal. Yakni, akurasi, akurasi dan akurasi. Sebab, kalau beritanya tidak akurat, asalan-asalan dan salah, media massa itu tidak akan dipercaya pembacanya dan tidak akan laku. Hasil kerja liputan wartawan, selalu dievakuasi dalam rapat redaksi.

Ada beberapa cara untuk mendapatkan berita. Antara lain melalui wawancara dengan nara sumber dan melaporkan hasil wawancara itu, reportase yakni melaporkan peristiwa dari pandangan mata. Saat inilah wartawan bekerja menggunakan panca indranya, menggambarkan suasana dan sebagainya.

Ada pula yang disebut hasil riset, yakni anda meneliti dan membaca dokumen, sumber-sumber kepustakaan dan data-data lainya. Data dan informasi itu disajikan secara sederhana sehingga mudah dimengerti pembaca. Ingat, pembaca surat kabar adalah orang yang hanya tamat SD sampai professor.

Dan yang terakhir adalah investigasi. Cara kerja wartawan investigasi ini mirip kerja detektif yang secara terus menerus dan tak kenal lelah mengumpulkan data dan fakta untuk mengungkap sebuah kasus.

Investigasi adalah karya jurnalistik yang bernilai paling tinggi. Misalnya, anda meliputi kasus korupsi yang merugikan negara, penjualan ABG dan kasus-kasus besar lainnya. Jika ingin tahu bagaimana kerja wartawan investigasi ini, Anda bisa menonton film “All the President Man” yang membongkar kasus presiden Amerika. Atau tulisan majalah Tempo soal skandal pembelian kapal bekas, yang membuat majalah ini kemudian ditutup oleh pemerintahan orde baru saat itu.

Kendati sekilas jadi wartawan itu sesuka hati, dalam bekerja wartawan harus disiplin. Sebab, wartawan punya jadwal kerja yang ketat dan dikenal dengan istilah dead line (batas akhir) sebelum media tersebut dicetak. Sekali ia molor, akan merusak jalur distribusi dan akan terlambat sampai ke pembaca.

Seorang wartawan juga harus punya perencanaan kerja dan kreativitas yang tinggi. Ia juga harus bisa bekerja sama dalam tim, punya tanggungjawab dan daya juang dan daya jelajah, jujur dan bekerja berdasarkan hati nurani.

Modal bakat saja, tidak cukup untuk menjadi wartawan. Seorang wartawan harus menyadari, ia mencari, mengolah, menyimpan dan ,menyampaikan informasi kepada masyarakat yang memiliki hak untuk mengetahui (right the know) membela keadilan dan kebenaran. Wartawan juga harus memiliki kemampuan yang terukur dan makan sekolahan.

Dalam menjalankan profesinya, wartawan profesional memiliki landasan moral bersama yang disebut etika jurnalistik sebagai koridor wartawan menjalankan tugasnya. Etika tersebut menyakut aturan, kaidah, norma-norma dan kesusilaan yang mengikat suatu masyarakat.

Wartawan juga harus menghormati sumber berita seperti informasi off the record, melindungi identitas sumber berita (hak tolak) apabila membahayakan bagi dirinya serta check dan recheck untuk menjaga akurasi berita. Wartawan adalah manusia yang juga bisa sehingga ia harus melayani hak jawab dan hak koreksi apabila ia salah dalam menuliskan sesuatu. Wartawan tidak boleh menghakimi orang (trial by press) dan selalu mengedepankan azas praduga tak bersalah serta memahami UU Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers.

Karir seorang wartawan, juga berjenjang. Mulai dari calon reporter atau reporter yang bertugas memburu berita di lapangan, menempati pos-pos liputan dibawah koordinator liputan. Lalu, ada redaktur yang mengedit dan mengolah berita-berita tersebut yang dikomandani redaktur pelaksana, dan pengecekan terakhir dilakukan Wakil Pimpinan Redaksi atau Pimpinan Redaksi.

Nah, tidak mudah menjadi wartawan bukan? Tapi, juga tidak sesulit yang Anda duga. Dalam pelatihan ini, paling tidak Anda sudah mendapatkan gambaran secara umum bagaimana menjadi penulis dan wartawan pemula. Sebagus apapun teori-teori ini, tidak ada manfaatnya kalau Anda tidak pernah mencoba menulis. Nah, dari sekarang, mulailah menulis. (tkr)

Mengunduh artikel ini dalam format pdf, klik : Menjadi Wartawan Pemula

Iklan

22 thoughts on “Menjadi Wartawan Pemula

  1. Nah, salah satu yang saya susah pelajari adalah menulis runtut seperti ini. Tapi, yakin, bisa. Hehe. Optimis.

    • Menulis runtut, adalah buah dari latihan menulis yang tiada henti. Kecintaan terhadap tulis-menulis adalah modal utamanya…. Teruslah berlatih dan berlatih. Satu tips yang sangat berguna…buatlah buku harian…tulislah yang kamu alami setiap hari…lakukan dengan gembira…. Selamat berlatih…

  2. Makasih atas artikelnya, belajar menulis memang perlu dicoba dan dipraktekkan. Sama seperti belajar naik sepeda dan berenang.

  3. Saya hoby nulis..hal yg paling sering saya tulis adl kesimpulan sebuah buku yg saya baca perbabnya..saat orang lain bicara atau dlm suatu forum diskusipun sy sering menulisnya..bgmn cara mengembangkan hoby saya? Tolong minta masukannya..makasih☺

    • Supaya lebih teratur dalam menulis, punyailah buku harian yang tidak barus secara fisik berbentuk buku. Bisa juga laptop, desktop maupun tab. Tulislah semua yang kamu alami selama sehari, saat sebelum tidur. Maka kegiatan menulis itu akan menjadi sebuah kebiasaan yang rutin dan dengan sendirinya akan mengasah kemampuan anda. Selamat mencoba…….

  4. Mjd seorang wartawan adalah suatu pekerjaan/pelayanan yang mulia,kalu di manfaatkan dengan baik.
    Mjd wartawan juga suatu pekerjaan yg tak kenal lelah,penuh resikho,pengorbanan hak bahkan juga nyawa dlm menghadapi darurat di lapangan.
    Tapi semuanya itu di anggap sebuah fenomena yg biasa demi membela kebenaran.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s