Inilah Tanda Awal Terjadinya Putting Beliung

puting beliung

Kerusakan yang dapat terjadi akibat puting beliung (ilustrasi)

Surabaya (Sergap) – Kepala Seksi Data dan Informasi Badan Metereologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Juanda, Taufiq Hermawan menjelaskan hujan lebat disertai petir dan angin kencang atau puting beliung lebih sering terjadi pada masa transisi atau musim pancaroba.

“Baik pada transisi dari musim kemarau ke hujan atau sebaliknya,” kata Taufiq dalam keterangan tertulisnya kepada wartawan di Surabaya, Jawa Timur, Rabu, 8 Maret 2017.

Masyarakat sebenarnya bisa mengenali tanda-tanda puting beliung. Termasuk pada kejadian angin kencang di Surabaya dan sebagian Sidoarjo, Senin, 6 Maret 2017. “Sehari sebelumnya (hujan lebat dan angin kencang), udara malam sampai pagi terasa panas dan gerah. Itu diakibatkan adanya radiasi matahari yang cukup kuat,” ujarnya.

Hal itu, menurut dia, ditunjukkan oleh nilai perbedaan suhu udara antara pukul 10.00 dan 07.00, yaitu LT (> 4.5 derajat celsius) disertai dengan kelembapan yang cukup tinggi, ditunjukkan oleh nilai kelembapan udara di lapisan 700 mb (> 60 persen).

Sekitar pukul 10.00 WIB, sebelum angin kencang dan hujan lebat terjadi, awan Cumulus (awan putih berlapis-lapis) tumbuh di langit Surabaya. Di sela-sela itu, terdapat awan bergaris tepi abu-abu menjulang tinggi seperti bunga kol.

“Tahap berikutnya awan berubah cepat berwarna abu-abu atau hitam. Awan tersebut disebut Cumulonimbus atau CB,” kata Taufiq.

Sebelum puting beliung betul-betul datang, ranting-ranting dan daun pepohonan terlihat bergoyang-goyang mengikuti arah angin. Sentuhan angin dingin akan dirasa oleh siapapun yang berada di sekitarnya. “Biasanya hujan turun pertama kali langsung deras. Jika gerimis, berarti puting beliungnya di lokasi jauh,” ujarnya.

Dia menjelaskan sifat puting beliung. Selain durasinya singkat, puting beliung bersifat lokal, terasa dalam radius lima sampai sepuluh kilometer. Biasanya, puting beliung terjadi pada siang atau sore, terkadang menjelang malam hari. “Hanya berasal dari awan CB, tapi tidak semua awan CB menghasilkan puting beliung,” ujar Taufiq.

Kendati bisa dikenali tanda-tandanya, namun secara spesifik puting-beliung sulit diprediksi kedatangannya. “Hanya bisa diprediksi 0,5 sampai satu jam sebelum kejadian dari tanda-tandanya dengan tingkat keakuratan 50 persen,” kata Taufiq.

Kota Surabaya dan sebagian Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, pada Senin, 7 Maret 2017 sore diguyur hujan deras yang disertai angin kencang. Pohon-pohon bertumbangan di 22 titik jalan, sejumlah bangunan rusak, dan menimbulkan satu korban jiwa karena tertimpa tembok yang roboh diterjang pohon tumbang. (win)

Iklan

Komjen Buwas Siap Tembak Mati Pengedar Narkoba

buwas

Ketua Badan Narkotika Nasional Komjenpol Budi Wasesa

Surabaya (Sergap) – Dalam acara ‘Ngopi Bareng Buwas-Pimred Media’ di Surabaya, Rabu malam (09/11/2016), Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) Komjen Pol Budi Waseso (Buwas) menegaskan, bahwa pihaknya siap menembak mati pengedar narkoba, karena tindakannya sudah merusak jutaan generasi muda dan mengancam masa depan negara.

“Kami tidak ngawur, karena tindakan tegas itu juga terukur, sebab akan kami lakukan pada pengedar yang kami sudah punya data pelanggaran hukumnya. Kalau sudah begini masih direhabilitasi justru kita yang kalah, karena mereka pasti cari mangsa lagi,” tegasnya. Mantan Kabareskrim Polri ini juga menjamin, bahwa tindakannya tidak akan melanggar hukum dan HAM.

“Pernyataan Presiden bahwa Indonesia berstatus darurat narkoba itu sudah di atas UU, bahkan Presiden menyatakan perang pada narkona. Selain itu juga ada Perkap (Peraturan Kapolri). Tindakan mereka yang merusak jutaan generasi muda itu justru lebih melanggar HAM,” katanya.

Untuk itu, pihaknya telah menyiapkan tim khusus yang akan bertindak tegas pada pengedar narkoba yang merusak jutaan generasi muda itu. “Kami tinggal menunggu senjata standar yang kami pesan dan akan datang pada bulan November,” katanya.

Alasannya, katanya, saat ini tercatat 40-an orang per hari yang meninggal dunia akibat menjadi pengguna narkoba yang menggerogoti sistem metabolisme pada organ tubuh mereka, sedangkan bandar besar yang diuntungkan umumnya ada di luar negeri.

Sementara itu, Kapolda Jatim Irjen Pol Anton Setiadji mengakui kendala paling berat dalam penegakan hukum untuk kasus narkoba adalah melawan ‘musuh’ dari dalam. “Kalau musuh di luar itu gampang mengatasi, tapi kalau ‘musuh’ itu ada di dalam itulah yang paling sulit, karena setiap tindakan kita bisa bocor kepada musuh di luar, sehingga penegakan hukum pun bisa berantakan (gagal). Mereka juga layak ditembak mati, karena merusak citra Polri,” katanya.

Dalam kesempatan itu, Ketua PWI Jatim Akhmad Munir menilai Komjen Buwas dalam penegakan hukum di Tanah Air merupakan sosok yang memiliki daya kejut. “Bagi wartawan, tentu hal itu sangat layak untuk diberitakan, apalagi untuk pemberantasan narkoba yang patut mendapat dukungan media,” katanya.

Tampak juga hadir dalam acara ini, Wakil Gubernur Jatim H. Saifullah Yusuf, Kepala Staf Kodam V/Brawijaya, Brigjen TNI Rahmad Pribadi, Kepala Staf Armada Timur, Laksamana Pertama TNI I.N.G. Ariawan dan Kepala Staf Garnisun Tetap III Surabaya, Brigadir Jenderal TNI (Mar) Amiruddin Harun. (win)