Serba Tertutup, Serba Cepat, Sidang PK Sony Sandra

sidang istimewa oke

Sony Sandra (63th) dan Ruang Sidang Cakra PN Kota Kediri

Kediri (Sergap) – Kasus Pedofilia dengan terpidana pengusaha konstruksi Sony Sandra selalu menjadi perhatian publik. Saat sidang perkara pokoknya di dua pengadilan negeri di Kediri, juga mendapat liputan meriah dari berbagai jenis media massa baik lokal maupun nasional.

Tak kurang dari Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Yohana Susana Yembise, Ketua Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Asrorun Niam, Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak, Arist Merdeka Sirait datang ke Kota Tahu ini. (baca : Menteri Yohanna Minta Terdakwa Pencabulan Anak Dituntut Maksimal)

Di tengah kasus ini sedang berjalan pengadilan negeri itu, keluarlah Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perppu) Nomor 1 Tahun 2016, tentang Perubahan Kedua Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak .

Presiden Joko Widodo, mempertimbangkan  bahwa kekerasan seksual terhadap anak semakin meningkat secara signifikan yang mengancam dan membahayakan jiwa anak, merusak kehidupan pribadi dan tumbuh kembang anak, serta mengganggu rasa kenyamanan, ketenteraman, keamanan, dan ketertiban masyarakat, pemerintah memandang sanksi pidana yang dijatuhkan bagi pelaku kekerasan seksual terhadap anak belum memberikan efek jera dan belum mampu mencegah secara komprehensif terjadinya kekerasan seksual terhadap anak.

Sebagaimana kita ketahui, Perppu dikeluarkan salah satu syaratnya adalah dalam hal ihwal kegentingan yang memaksa. Secara politik hukum, negara menganggap pedofilia adalah sebuah situasi dan kondisi darurat.

Salah satu cara yang ditempuh oleh presiden adalah dengan memperberat ancaman hukuman bagi para pelakunya. Misalnya dalam perubahan pasal 81 ayat (5) tertulis “Dalam hal tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 76D menimbulkan korban lebih dari 1 (satu) orang, mengakibatkan luka berat, gangguan jiwa, penyakit menular, terganggu atau hilangnya fungsi reproduksi, dan/atau korban meninggal dunia, pelaku dipidana mati, seumur hidup, atau pidana penjara paling singkat 10 (sepuluh) tahun dan paling lama 20 (dua puluh) tahun.”

Sebagaimana yang sudah kita ketahui pula, korban terpidana Sony Sandra yang tercantum dalam putusan pengadilan yang sudah mempunyai kekuatan hukum tetap, adalah 5 orang anak-anak. (baca : Pelaku Pedofilia Berantai di Kediri, Pantas Dihukum Mati)

Sony Sandra yang sudah diadili di semua tingkat peradilan di Indonesia ini, kemudian mengajukan Peninjauan Kembali PK, kepada Mahkamah Agung melalui Pengadilan Negeri (PN) Kota Kediri.

Sidang pertama dilaksanakan pada Kamis, 19 Oktober 2017, yang dilaksanakan secara tertutup. Sidang kedua dilaksanakan pada Kamis, 26 Oktober 2017, seminggu berikutnya. Sidang ketiga yang ternyata adalah sidang terakhir, dipercepat menjadi hari Senin, 30 Oktober 2017.

Bukan hanya itu, pada hari yang sama Berita Acara Sidang dan Berita Acara Pendapat ditandatangani oleh pemohon, jaksa dan majelis hakim, hanya kurang lebih 2 jam, setelah sidang terakhir itu selesai.

Pendapat Majelis Hakim PK Mempengaruhi Putusan MA

Kedua berita acara inilah yang dijadikan bahan pertimbangan bagi Mahkamah Agung, untuk menolak atau mengabulkan permohonan PK Sony Sandra. Memang benar, yang berwenang memanglah Mahkamah Agung, tapi berita acara dari Majelis Hakim PK di PN Kota Kediri juga menentukan, karena dalam Berita Acara Pendapat tersebut berisi pendapat dan penjelasan Majelis Hakim PK tentang sidang PK yang dipimpinnya.

Dengan kalimat lain, secara fisik Hakim Agung ada di Jakarta, maka Hakim Agung meminjam mata, telinga dan penilaian dari para hakim di PN Kota Kediri, sehingga dilakukan sidang PK untuk menguji novum dan argumentasi pemohon PK. Hasil dari meminjam inilah yang dituangkan dalam Berita Acara Pendapat. Logikanya, tentu saja sangat mempengaruhi keputusan Hakim Agung di Jakarta.

Sony Sandra di kantin oke

Sony Sandra (bertopi dan berkemeja putih) saat “menunggu” di kantin belakang pengadilan. (foto : Facebook)

Saat sidang selesai, terpidana Sony Sandra ternyata tidak langsung kembali ke lembaga pemasyarakatan (LP). Dikawal ketat oleh aparat keamanan dia tampak masih berada di dalam kantin belakang pengadilan.

Sekitar jam 13.30 WIB, Sony Sandra dengan tetap dikawal ketat dengan didampingi Eko Budiono, SH, MH penasehat hukumnya, kembali memasuki ruang sidang Cakra kembali. Pintu ruang sidang kemudian ditutup lagi. Tak lama kemudian, terpidana 13 tahun dan denda Rp. 250 juta ini keluar dan menuju mobil yang dikawal mobil Patwal meninggalkan pengadilan. (baca : Kajari Berjanji Tidak Ada Lagi Perlakukan Istimewa Buat Sony Sandra)

Penandatangan Berita Acara Sidang dan Berita Pendapat  yang hanya dalam hitungan jam, setelah sidang berakhir ini, dibenarkan oleh Humas PN Kota Kediri, Dwi Hananta, SH, MH. “Benar, tadi sudah ditandatangani Berita Acara Sidang dan Berita Acara Pendapat,” katanya saat dikonfirmasi di ruang kerjanya.

Sebenarnya PN Kota Kediri mempunyai waktu 30 (tiga puluh) hari terhitung sejak sidang PK berakhir, untuk mengirim berkas sidang PK itu ke Mahkamah Agung (Pedoman Teknis Administrasi dan Teknis Peradilan Pidana Umum dan Pidana Khusus, Buku II, Edisi 2007, Mahkamah Agung RI, Jakarta, 2008, hlm. 8-11, sumber : http://pn-madiun.go.id/prosedur-peninjauan-kembali-pidana/informasi/prosedur-peninjauan-kembali-perkara-pidana).

Sebelumnya, LSM Kekuatan Hati dan Satgas PPA Kediri Raya, memprotes pelaksanaan sidang PK yang dilaksanakan secara tertutup, dengan alasan perkara asusila. Pengunjuk rasa berpendapat sidang PK iru hanya memeriksa novum saja, tidak lagi memeriksa para saksi pada pokok perkara.

Kemudian sidang dipercepat, yang biasanya digelar hari Kamis, dilaksanakanakan hari Senin. Penandatanganan berkas yang sebenarnya diberi waktu 30 hari, hanya sekitar 2 jam setelah sidang terakhir selesai, sudah beres.

Maka, jika Sidang PK dengan termohon Sony Sandra ini terkesan istimewa, mungkin ada benarnya juga. (Tkr)

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s