Jalan Wayo (Poligami) di Sidoarjo, Jawa Timur

jalan wayo

Jalan Wayo di Desa Kedungbanteng, Tanggulangin, Sidoarjo, Jawa Timur

Saat ini memang praktik berpoligami di Desa Kedungbanteng, Tanggulangin, Sidoarjo, Jawa Timur ini sudah tidak marak lagi. Sehingga julukan Kampung Poligami pun sudah tak dianggap tepat lagi sebagai julukannya.

Ditemui di kantornya, Selasa (17/10/2017), Sekretaris Desa Kedungbanteng Nurul Rohman mengatakan, di tahun 1990-an memang ada sebagian warga Jalan Wayo yang melakukan poligami, yang kebanyakan dilakukan dengan perempuan dari desa lain.

“Jalan Wayo itu panjangnya sekitar 300 meter dan hanya ada 30 kepala keluarga. Kalaupun ada warganya yang menikah lagi secara siri itu ada, tapi tidak tinggal se kampung,” katanya.

Banyaknya pria yang melakukan poligami, lanjut Nurul, terjadi puluhan tahun silam. Seiring perkembangan zaman, saat ini praktik serupa sudah tak dilakukan warganya.

“Jalan Wayo ada sekitar tahun 1990-an, kalau diartikan Wayo sering melakukan poligami itu tidak benar,” ujarnya.

Seorang warga RT/RW 2 Desa Kedung Banteng, Ainur Rofiah (48) juga mengamininya. Terlebih lagi, Rofiah merupakan salah satu korban dari poligami. Namun itu terjadi sekitar 15 tahun yang lalu.

“Memang benar dulu beberapa warga sini ada yang Wayo, makanya jalan ini diberi nama jalan Wayo,” jelasnya.

Nama Jalan Wayo diambil dari kata Wayuh, dalam Bahasa Jawa berarti mempunyai istri lebih dari satu. Nama jalan ini diberikan secara sepontan oleh para pemuda Desa Kedung Banteng tahun 1990-an karena banyaknya warga yang melakukan poligami. Sampai saat ini, papan nama jalan ini masih terpasang.

Pernah ada seorang pamong desa yang keberatan. Istilah itu dianggap merugikan. Pandangan orang terhadap kampung itu akan terus negatif. Suatu ketika pamong itu mencopot plang nama Jalan Wayo yang terbuat dari kayu dan membakarnya.

Tetapi,kemudian  warga menggantinya dengan seng agar lebih kuat. Alhasil nama Jalan Wayo tetap terpampang sampai sekarang.

Berdasarkan data yang diperoleh VIVA.co.id dari Kelurahan Kedung Banteng dari jumlah 60 kepala keluarga yang tinggal di Jalan Wayo, 55 kepala keluarga di antaranya adalah mereka yang hidup berpoligami.

(win)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s