Pelaku Pedofilia Berantai di Kediri, Pantas Dihukum Mati

Sofyano Cs

Sofyano Zakaria bersama Ferdinand Hutahean (paling kiri) dan M. Hatta Taliwang

Kediri (Sergap) – Tim Peduli Kediri (TPK) yang dipimpin oleh Sofyano Zakaria menyambangi Pengadilan Negeri (PN) Kota Kediri, pada Kamis (12/05/216) yang lalu. Kepada Tabloid Sergap, Sofyano Zakaria yang juga Direktur Pusat Kebijakan Publik (Pusketi) Jakarta ini, tidak bisa menyembunyikan kegeramannya terhadap kasus Pedofilia berantai yang terjadi di Kediri.

“Sony Sandra  yang diduga melakukan pemerkosaan terhadap 58 anak yang masih dibawah umur ini sungguh biadab. Dia pantas dihukum mati,” kata Sofyano yang didampingi oleh M. Hatta Taliwang dan Ferdinand Hutahean dua aktifis dari Jakarta yang mendukung pembentukkan Tim Peduli Kediri.

Ditambahkan oleh Sofyano, bahwa terdakwa Sony Sandra itu melakukan perbuatannya dengan direncanakan dan memang punya niat mencari anak usia SD, maksimal Kelas II SMP, diiming-imingi uang, disuruh minum obat kemudian dibawa ke hotel dan melakukan persetubuhan dengan 2 sampai 5 anak di bawah umur.

“Menurut info dari Yayasan (Yayasan Kekuatan Cinta, red) yang ada di sini, dalam satu kamar ada 5 perempuan. Itu kan luar biasa….,” kata Sofyano dengan nada tinggi.

Sofyano berpendapat dalam UU Perlindungan Anak, ancaman hukumannya belum bisa memenuhi rasa keadilan masyarakat. Sebagimana diketahui ancaman tertinggi dalam UU Perlindungan Anak ini, adalah 15 tahun penjara.

“Melihat kasus di Kediri ini, maka untuk memenuhi rasa keadilan, ancaman hukumannya tertingginya hukuman mati, minimalnya seumur hidup,” kata Sofyano menegaskan.

Dalam rangka itu semua maka Sofyano Zakaria dan kawan-kawannya akan mendatangi Mahkamah Agung, Komnas HAM, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Kejaksaan Agung untuk menyampaikan kondisi luar biasa dalam kasus Pedofilia yang tersangkanya Sony Sandra, seorang pengusaha kontraktor kaya raya, Direktur Utama PT Triple’s ini. “Kasus ini sudah nyampai ke Pak Jokowi,” kata Sofyano menambahkan.

Jauh sebelumnya, Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Asrorun Niam sudah memberikan peryataannya bahwa dari sisi banyaknya jumlah korban, maka kasus pencabulan anak yang terjadi di Kediri, Jawa Timur sudah bisa digolongkan massif, terstruktur dan sistematis. (baca : KPAI : Pencabulan Anak di Kediri, Massif, Terstruktur dan Sistematis).

Hal ini disampaikan Asrorun Niam saat bertemu Walikota Kediri Abdullah Abu Bakar di rumah dinas walikota, Sabtu (01/08/2015). “Dari sisi korban sudah memenuhi kualifikasi, kalau bahasa MK (Mahkamah Konstitusi) itu, massif, terstruktur dan sistimatis,” kata Asrorun Niam yang didampingi oleh dua komisioner KPAI lainnya. (lihat video pernyataan Ketua KPAI)

Sementara itu, Sudiman Sidabukke, Penasehat Hukum Sony Sandra saat diminta komentarnya mengatakan, “Saya akan lebih prefer kasih comment, setelah putusan ya….karena tentu putusan itu memuat tentang fakta persidangan. Namun sebagai pendahuluan saya harus katakan bahwa berita yang beredar selama ini tidak benar, sepihak dan menyudutkan saudara Sony. Ada pemberitaan yang tidak berimbang,” kata pengacara asal Surabaya melalui Whatsapp, Minggu (15/05/2016) sore.

Sebelumnya, dalam kunjungannya ke Kejaksaan Negeri Ngasem Kabupaten Kediri pada tanggal 18 April 2016, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Yohana Susana Yembise juga sudah meminta secara khusus agar Jaksa menuntut dengan hukuman maksimal. (baca : Menteri Yohanna Minta Terdakwa Pencabulan Anak Dituntut Maksimal)

Sebagaimana diketahui, kemudian Kejaksaan Negeri Ngasem Kabupaten Kediri pada tanggal 09 Mei 2016, mengajukan tuntutan 14 tahun dan denda Rp300 juta, subsider 6 bulan kurungan. (baca : Kejari Ngasem Menuntut 14 Tahun dan Menolak Pembelaan Sony Sandra)

Sebelumnya, Kejaksaan Negeri Kota Kediri, sudah mengajukan tuntutannya pada tanggal 14 April 2016 kepada Majelis Hakim Pengadilan Kota Kediri, agar Sony Sandra alias Koko dihukum 13 tahun penjara dan denda Rp.250 juta, subsider 6 bulan kurungan. (baca : Sony Sandra Dituntut 13 Tahun Penjara di Pengadilan Kota Kediri)

demo ss3

Berbagai komponen masyarakat Kediri termasuk ibu-ibu, menuntut Sony Sandra dihukum mati

Berbagai unjuk rasa juga dilakukan oleh LSM dan Ormas di Kediri, karena kekhawatiran Sony Sandra akan mengatur proses hukum dirinya. Maklum saja, karena Sony Sandra dikenal sebagai pengusaha kaya raya, yang bahkan mampu lolos dari jeratan hukum dalam sebuah perkara korupsi terkait pembangunan Monumen Simpang Lima Gumul Kabupaten Kediri. (Tkr)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s