Penggunaan Anti Biotik di Jawa Timur Mengkhawatirkan

dr. harsono

dr. Harsono, Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur

Surabaya (Sergap) – Cara penggunaan obat antibiotik yang dilakukan di dunia medis saat ini sudah cukup mengkhawatirkan, karena sering disalahartikan setiap pasien sakit selalu mengonsumsi antibiotik. Hal ini akan membawa dampak tersendiri bagi beberapa organ tubuh kita.

“Terlebih lagi bila diberikan kepada bayi dan anak-anak, karena sistem tubuh dan fungsi organ pada bayi dan anak-anak masih belum tumbuh sempurna. Gangguan organ tubuh yang bisa terjadi adalah gangguan saluran cerna, gangguan ginjal, gangguan fungsi hati, gangguan sumsum tulang, gangguan darah dan sebagainya,” ungkap dr. Harsono, Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur, Rabu (18/11/2015).

Pemakaian antibiotik berlebihan atau irrasional juga dapat membunuh kuman yang berguna yang ada didalam tubuh kita. Sehingga tempat yang semula ditempati oleh bakteri bermanfaat ini akan diisi oleh bakteri jahat atau oleh jamur atau disebut “superinfection”. Pemberian antibiotik yang berlebihan akan menyebabkan bakteri-bakteri yang tidak terbunuh mengalami mutasi dan menjadi kuman yang resisten atau disebut “superbugs”.

“Akibat lainnya adalah reaksi alergi karena obat. Gangguan tersebut mulai dari yang ringan seperti ruam, gatal sampai dengan yang berat seperti pembengkakan bibir atau kelopak mata, sesak, hingga dapat mengancam jiwa atau reaksi anafilaksis,” papar Kepala Dinas yang pernah menjabat sebagai Bupati Ngawi ini.

Terkait hal itu, Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Jawa Timur segera membuat regulasi bagi kalangan insan kesehatan terkait penggunaan antibiotik yang akan diberikan kepada pasien sebagai salah satu metode pengobatan. “Banyak di antara petugas medis yang sering menggunakan antibiotik yang dimasukkan di salah satu resep obat kepada pasien,” tegasnya.

Saat ini, tingkat resistensi pasien di RS Dr. Sutomo terhadap antibiotik berkisar antara 31 sampai dengan 45 persen. Angka tersebut cukup tinggi jika dibandingkan dengan luar negeri yang hanya berkisar antara 5 persen saja. Kalau kondisi ini terus dibiarkan, tidak menutup kemungkinan obat yang diberikan kepada pasien tidak akan berfungsi dengan maksimal.

“Oleh karena itu, kami terus melakukan sosialisasi dan juga membuat regulasi terkait dengan penggunaan antibiotik supaya penggunaannya bisa dikendalikan,” kata Kadinkes menegaskan.

Dokter yang pernah menjabat Bupati dua peiode ini juga menginformasikan, bahwa masalah penggunaan antibiotik, bukan satu-satunya yang saat ini menjadi perhatian khusus Dinas Kesehatan Pemprov Jawa Timur.

Permasalahan lainnya seperti banyaknya laboratorium yang tidak menyediakan tenaga antimikroba yang menangani masalah antibiotik ini juga patut menjadi perhatian. Peranserta dari pemerintah kabupaten dan kota di daerah di masing-masing sangat dibutuhkan supaya pengendalian antibiotik ini bisa segera dilakukan.

“Dan yang terakhir, yaitu budaya atau mengubah pola pikir masyarakat terkait dengan penggunaan antiobiotik yang berlebihan saat terkena penyakit juga perlu dikendalikan dengan serius,” kata dr. Harsono mengakhiri perbincangan. (win)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s