Gubernur Jatim Perintahkan Polisi Tangkap Pengedar Gula Rafinasi

Dr. H. Soekarwo, Gubernur Jawa Timur

Dr. H. Soekarwo, Gubernur Jawa Timur

Surabaya (Sergap) – Membanjirnya stok gula rafinasi di pasaran membuat Gubernur Jawa Timur, Soekarwo mengambil langkah tegas. Gubernur yang akrab disapa Pakde Karwo ini, memerintahkan pihak kepolisian untuk menangkap pengedar gula rafinasi di pasaran.

“Kalau sampai ada pihak industri dan importir gula mentah yang menjual gula rafinasi di pasar Jatim harus ditangkap. Saya sudah meminta pihak kepolisian menindak tegas dan menangkap pelaku jika sampai benar terjadi,” kata Soekarwo, Rabu (08/04/2015).

Sejatinya, gula rafinasi peruntukannya hanya diperbolehkan bagi industri makanan dan minuman. Dengan harga yang lebih murah, dikhawatirkannya gula rafinasi menghancurkan harga gula kristal putih  yang berbahan dasar tebu dari petani.

Dengan sendirinya, membanjirnya gula rafinasi membuat gula kristal petani di Jatim sulit terjual. Setidaknya, gula Kristal Jatim  yang biasanya dipasarkan di wilayah Indonesia Timur kini menjadi kurang diminati.

Kondisi terkini, saat memasuki musim giling tebu pada bulan Mei iini, stok gula Jatim masih menunpuk di gudang-gudang pabrik guka karena belum laku. “Hal ini menimbulkan keresahan bagi petani, dan untuk melindungi petani dari serbuan gula rafinasi yakni dengan lebih memperketat distribusi dan pengawasannya”, tegas gubernur.

Data Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) mencatat, kebutuhan konsumsi gula masyarakat Indonesia dalam setahun hanya sekitar 4,5 juta ton. Dari kebutuhan itu, produksi gula kristal putih dari tebu petani mampu memenuhi 2,5 juta. Sisanya sebanyak 2 juta ton dipenuhi dari impor gula mentah yang diolah menjadi gula rafinasi untuk industri makanan dan minuman.

Dengan kapasitas terpasang dari 11 pabrik gula rafinasi di Indonesia mencapai 5 juta ton, jika produksinya optimal masih menyisakan 3 juta ton gula rafinasi dalam setahun. Surplus 3 juta ton gula rafinasi tersebut yang diduga beredar di pasaran dan membuat gula kristal putih petani tidak laku.

Arum Sabil, Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) dan Gula Rafinasi

Arum Sabil, Ketua Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) dan Gula Rafinasi

“Kalau gula rafinasi ini terus membanjiri seluruh wilayah Indonesia, maka Indonesia bisa alami Tsunami Gula. Gula rafinasi ini memang menjadi momok bagi petani tebu. Di Jawa Timur, gula kristal putih petani sempat tersendat penjualannya sehingga banyak menumpuk di gudang bahkan mau masuk musim giling masih ada gula produksi tahun lalu di gudang,” kata Ketua APTRI, Arum Sabil.

Masih menurut Arum Sabil, semua ini terjadi tak lepas dari HPP yang ditentukan sebesar Rp 8.500 tidak bisa terpenuhi saat lelang gula karena pengaruh harga gula rafinasi yang jauh lebih murah. Agar tidak sampai produski gula rafinasi berlebih, ia meminta pemerintah lebih selektif. “Kalau perlu diaudit berapa banyak kebutuhan rafinasi bagi industri makanan dan minuman. Jangan sampai lebih dan merembes ke pasar, sehingga gula petani tidak laku,” katanya berharap. (win)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s