Tak Kembalikan Uang Nasabah, PT. Dua Belas Suku Blitar Dilaporkan ke Polisi

Suasana kantor PT. Dua Belas Suku Blitar, ketika masih berjalan normal

Suasana kantor PT. Dua Belas Suku Blitar, ketika masih berjalan normal

Blitar (Sergap) – Kepolisian Resor Kota (Polresta) Blitar, Jawa Timur, masih memeriksa  laporan belasan nasabah PT. Dua Belas Suku (PT. DBS) Blitar, karena uang yang mereka investasikan belum dikembalikan.

“Kami sudah terima laporan dari member dan sementara, kami masih dalam proses pemeriksaan saksi,” kata Kepala Satuan Reserse dan Kriminal (Kasatreskrim) Polresta Blitar AKP Naim Ishak, Rabu (25/03/2015).

Dikatakan oleh Kasatreskrim, bahwa belasan member/nasabah yang melaporkan PT. DBS Blitar mengaku telah dirugikan dengan nominal yang beragam mulai jutaan, puluhan juta, hingga miliaran rupiah. Rata-rata, uang itu adalah milik orang lain yang dititipkan. Mereka resah, sebab PT. DBS ternyata tutup dan tidak bisa dikonfirmasi kejelasan kembalinya uang mereka.

Polisi, saat ini masih memeriksa para saksi, selanjutnya pihak menejemen PT. DBS juga akan dilakukan dipanggil untuk diminta keterangannya. Namun sampai saat ini, polisi belum menetapkan tersangka dalam kasus tersebut.

AKP Naim Ishak juga mengatakan, bahwa polisi juga telah berkoordinasi dengan otoritas terkait, yaitu dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk mengetahui lebih rinci terkait PT. DBS. Hasil koordinasi itu, PT DBS ternyata tidak bisa dijerat dengan UU Perbankan, sebab bukan di bawah pengawasan dari OJK.

Bahkan Polresta Blitar juga telah berkoordinasi dengan Bareskrim Mabes Polri, untuk penanganan kasus investasi ini. “Kami juga koordinasi dengan Bareskrim untuk penanganan kasus ini. Nantinya dijerat dengan pasal 378 KUHP tentang Penipuan, sebab ranah pidana khusus (UU Nomor 10 Tahun 1998 tentang Perbankan) belum masuk,” kata AKP Naim Ishak menambahkan.

Sebagaimana tertulis di websitenya : www.12-suku.com,  PT. DBS menyatakan merupakan perusahaan yang bergerak di bidang jasa konsultan keuangan, yaitu Jasa Konsultan Tambahan Income dan Jasa Konsultan Kredit.

Komisaris dan Direksi PT. Dua Belas Suku : Jefri Christian, (duduk), berdiri dari kiri ke kanan: Rinekso Hari, Yeremia Kusumo, Natalia dan Naning Yuliati. (www.12suku.com)

Komisaris dan Direksi PT. Dua Belas Suku : Jefri Christian, (duduk), berdiri dari kiri ke kanan : Rinekso Hari, Yeremia Kusumo, Natalia dan Naning Yuliati. (www.12suku.com)

Jajaran Direksi PT. DBS terdiri atas Komisaris Utama yang dijabat oleh Jefri Christian dan Komisaris Naning Yuliati. Keduanya merupakan pasangan suami isteri. Adapun Direktur Utama dijabat oleh Rinekso Hari, Direktur Income dijabat oleh Yeremia Kusumo dan Direktur Keuangan dijabat oleh Natalia.

Sampai saat ini, kantor PT DBS yang ada di Jalan TGP Kota Blitar masih tutup. Para nasabah yang sudah terlanjur memasukkan uangnya merasa resah, sebab belum ada kejelasan kapan uang mereka kembali. Kantor itu juga sudah tidak beroperasional selama beberapa minggu ini dan tak jelas kapan akan dibuka kembali.

DBS berdiri sejak 19 Agustus 2014 dan berkantor di sebuah ruko di jalan TGP Kota Blitar. Sejak berdiri, ribuan nasabah memasukkan uangnya ke kantor tersebut. Prosedurnya, satu orang hanya satu akun dengan investasi Rp 1 juta sampai dengan Rp 250 juta. Dari nominal itu, nasabah dijanjikan mendapatkan keuntungan yang mereka sebut sebagai return deposit sebesar 30% hanya dalam jangka waktu seminggu.

Pada awalnya, para nasabah lancar dalam pengembalian uang, namun kemudian akhir-akhir, sudah tidak lancar lagi, bahkan ada yang belum dikembalikan sama sekali. Karena panik, mereka akhirnya melaporkan manajemen PT tersebut ke Polresta Blitar.

Menyalahi Perijinan

Pemerintah Kota Blitar, Jawa Timur, menilai PT Duabelas Suku telah menyalahi perizinan sebab dalam praktiknya mereka tidak menyelenggarakan kegiatan seperti yang diajukan di awal. Kepala Kantor Pelayanan Perizinan Terpadu (KPPT) Kota Blitar Suharyono, Rabu (25/03/2015), mengatakan PT. DBS benar telah mengajukan izin usaha yang diproses sejak 2014, dan izin telah dikeluarkan pada 9 September 2014, dengan izin jasa penunjang jasa keuangan.

“Izin yang diajukan sebagai jasa penunjang keuangan, dan semestinya badan usaha yang memerlukan manajemen keuangan sebagai nasabah, tapi dalam praktiknya banyak nasabah perorangan,” kata Suharyono.

Ia mengatakan banyaknya nasabah perorangan itu tidak sesuai dengan izin yang telah diajukan oleh perusahaan tersebut. Dalam praktiknya, perusahaan itu juga telah melakukan penghimpunan dana yang seharusnya mendapat pengawasan dari otoritas terkait. “Adanya pengumpulan dana harus mengajukan izin lagi ke otoritas terkait,” tegasnya.

Sementara itu, Humas PT. DBS Bagus Sujatmiko, sampai dengan berita ini ditulis, belum bisa dikonfirmasi.

Sebenarnya, apa yang dilakukan oleh PT. DBS ini yang sering disebut sebagai Aisan Berantai. Salah satunya adalah kasus Danasonic, yang menghebohkan pada tahun 1995. Jangan pernah tergiur oleh tawaran keuntungan tinggi yang tak masuk akal, jika tak ingin terjadi “mencari untung malah buntung”. (tkr/hen)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s