Unggah Foto Teman Sekerja di WhatsApp, Dokter Dilaporkan ke Polisi

Dokter Antarestawati Acip Tjokro (facebbok)

Dokter Antarestawati Acip Tjokro (facebook)

Malang (Sergap) – Dokter Antarestawati Acip Tjokro (31) yang berdinas di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kanjuruhan, Kepanjen, Kabupaten Malang, Jawa Timur, telah dilaporkan ke polisi karena mengunggah di grup aplikasi pesan instan WhatsApp di internal RSUD Kanjuruhan, foto seorang wanita bertuliskan “Buka Lapak… Rp 150 ewu/jam”.

Dokter Antarestawati dilaporkan ke Polres Malang oleh si pemilik foto tersebut, Khoiriatul Masruroh (28) seorang warga Dusun Krantil, Desa Karangrejo, Kecamatan Kromengan, Kabupaten Malang. KM sehari-hari sebagai bekerja menjadi karyawan di RSUD Kanjuruhan, satu tempat kerja dengan Dokter

Khoiriatul menuding Antarestawati mengunggah foto selfie dirinyal tanpa izin di grup WhatsApp. Grup tersebut beranggotakan beberapa para karyawan RSUD Kanjuruhan.

Khoiriatul semula tidak mengetahui foto dirinya dipasang Antarestawati di grup WhatsApp. Dia baru ngeh setelah seorang temannya memberi tahu. Antarestawati memposting foto Khoiriatul yang mengenakan replika jersey klub sepak bola Paris Saint Germain dan diberi tulisan, “Buka Lapak… 150 ewu/jam”.

Kasatreskrim Polres Malang AKP Wahyu Hidayat, Senin (16/03/215), membenarkan kejadian yang menggunakan media sosial WhatsApp tersebut.

Postingan foto Khoiriatul tersebut mendapat komentar bernada miring oleh sesama anggota grup. “Barang bukti yang kami terima berupa lembaran cetakan percakapan di grup media sosial itu dan foto pelapor yang diunggah pihak terlapor. Pelapor mengaku merasa terhina, sedih, dan malu,” kata Wahyu menjelaskan.

“Korban menilai hal itu adalah pelecehan. Saat ini polisi masih terus melakukan pemeriksaan pada korban dan beberapa saksi. Besok kami akan panggil lagi korban dan pelakunya untuk diperiksa,” tambah Wahyu.

Menurut Wahyu, perbuatan Dokter Antarestawati Acip Tjokro tersebut mengarah pada pelanggaran Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) Pasal 45 ayat 1, dengan ancaman lima tahun penjara. “Tetapi, kami masih terus dalami dan akan meminta keterangan saksi ahli,” tambahnya lagi.

Direktur RSUD Kanjuruhan, dokter Harry Hartanto tidak bersedia memberikan keterangan. “Maaf, saya belum tahu kasusnya seperti apa,” kilahnya. Sementara itu Kabag Humas RSUD Kanjuruhan Eti Nurhayati, pelapor dan terlapor sedang tidak masuk kerja. “Tidak ada di sini. Tidak ada jadwal, dan pihak RSUD masih akan mendalami dan memanggil kedua belah pihak, mengapa sampai dilaporkan ke polisi dan apa motif foto itu di-upload di media sosial,” katanya.

Hingga kini, pelapor masih belum bersedia ditemui wartawan, ketika dihubungi via telepon juga tidak dijawab dan tidak ada respons. (en)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s