Mengganggu Tetangga, Penggergajian Kayu di Desa Sidorejo Tetap Jalan. Mengapa?

94 penggergajian kayu

Usaha Penggergajian Kayu di Dusun Kertoharo, Desa Sidorejo Kecamatan Pare Kabupaten Kediri

Kediri (Sergap) – Suara bising mesin penggergajian kayu yang berada tepat di samping rumahnya, membuat Yatno Budi Santoso, warga Dusun Kertoharo, Desa Sidorejo RT 02 RW12 Kecamatan Pare Kabupaten Kediri, Jawa Timur merasa sangat terganggu dan ketenangan hidupnya dirampas oleh Didik Sutrisno, pemilik tempat usaha penggergajian kayu tersebut.

Ditemui di rumahnya, Senin pagi (10/03/2015) Yatno Budi Santoso menjelaskan bahwa suara mesin dan gergaji kayu yang melengking-lengking itu sungguh-sungguh telah membuat dirinya dan seluruh anggota keluarganya sangat-sangat terganggu.

Sepanjang pagi sampai dengan sore, tiada henti suara yang terdengar sangat keras tersebut telah membuatnya stress. “Kami sekeluarga sangat terganggu. Saat bicara di dalam rumah dengan istri dan anak-anak saya saja, saya harus berteriak supaya dapat didengar. Sampeyan dapat bayangkan betapa stressnya saya”, kata Yitno kepada Tabloid Sergap.

Ditambahkan oleh Yatno bahwa selain kenyamanan sudah hilang di rumah tempat tinggalnya, ia merasa bahwa kesehatannya juga semakin terganggu pula. “Saya tidak dapat beristirahat dengan nyaman di rumah saya sendiri. Sudah 7 bulan lamanya saya tidak bisa tidur siang, untuk melepas lelah setelah sejak pagi ada di sawah”, jelas Yatno.

Menjawab pertanyaan Tabloid Sergap, Yatno mengatakan bahwa dirinya tidak pernah diminta untuk tanda tangan untuk menyetujui adanya penggergajian kayu itu. “Saya tidak setuju ada mesin penggergajian yang jaraknya hanya 5 meter dari rumah saya. Karena jarak yang dekat itu, selain suara bising  juga tercium bau tak sedap dari limbah penggergajian”, kata Yatno menjelaskan.

Memang yang paling tersiksa oleh usaha penggergajian itu ada Yatno sekeluarga. Namun bukan berarti para tetangga lainnya tak terganggu. “Sebenarnya tetangga lainnya juga terganggu. Tapi saya yang paling parah, karena itu saya yang paling protes keras”, tambah Yatno.

Dalam kasus seperti di atas, sebenarnya negara mewajibkan para pelaku usaha untuk mempunyai Surat Izin Gangguan dan biasa disebut HO (Hinderordonnantie). Surat Izin Gangguan/HO adalah surat keterangan yang menyatakan tidak adanya keberatan dan gangguan atas lokasi usaha yang dijalankan oleh suatu kegiatan usaha di suatu tempat.

Semua kegiatan usaha baik pribadi maupun perusahaan yang beroperasi di lokasi tertentu yang berpotensi menimbulkan bahaya kerugian dan gangguan, ketentraman dan ketertiban umum, wajib mendapatkan persetujuan dari para tetangga dan warga sekitarnya.

Dasar hukum izin ini adalah Staatsblad Tahun 1926 Nomor 226 yang telah beberapa kali diubah dan ditambah, terakhir dengan Staatsblad Tahun 1940 Nomor 450. Kewenangan pemberian Izin HO ini merupakan kewenangan masing-masing pemerintah daerah, sesuai dengan pasal 2 ayat (1) Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 27 Tahun 2009 tentang Pedoman Penetapan Izin Gangguan di Daerah.

Dalam rangka menelusuri perijinan ini, maka Tabloid Sergap pada hari Rabu pagi (11/03/2015) menemui Robin Utomo, Kepala Desa Sidorejo di rumahnya. Robin mengatakan bahwa dirinya tak banyak tahu tentang proses perijinan penggergajian kayu milik Didik Sutrisno itu. Pak Kades ini mengatakan bahwa dirinya belum menjabat saat izin itu diurus.

Bahkan Pak Kades, sangat mendukung upaya Yatno Budi Santoso untuk melakukan protes atau upaya hukum agar penggergajian tersebut ditutup. “Saya tak tahu tentang proses perijinannya, tapi saya mendukung upaya Pak Yatno yang keberatan atas gangguan akibat mesin gergaji itu, karena itu memang hak dari Pak Yatno”, kata Robin Utomo menegaskan.

Sementara itu, Al Indah Kepala Bidang Perizinan, Kantor Pelayanan dan Perizinan Terpadu (KPPT) Kabupaten Kediri, saat ditemu di kantornya di hari yang sama, membenarkan bahwa Usaha Penggergajian Kayu milik Didik Sutrisno telah mempunyai Ijin Gangguan/Izin HO. Ijin dikeluarkan karena secara teknis dan administratif sudah memenuhi syarat.

Al Indah, Kabid Perizinan KPPT Kabupaten Kediri (kiri). Didik Sutrisno, pemilik Usaha Penggergajian Kayu

Al Indah, Kabid Perizinan KPPT Kabupaten Kediri (kiri). Didik Sutrisno, pemilik Usaha Penggergajian Kayu

Tentang telah dikeluarkannya Izin HO, sementara tetangga paling dekat (Yatno Budi Santoso) tidak tanda tangan. Anehnya, tim teknis yang datang ke lokasi sebelum Izin HO dikeluarkan, diminta mampir ke rumah Yatno Budi Santoso juga tak mau, sehingga dapat dipastikan tim teknis itu tak dapat memberikan penilaian dan pertimbangan yang obyektif.

Al Indah mengakui bahwa, Yatno Budi Santoso memang belum setuju. Sedangkan tim teknis tidak mau datang ke rumah Yatno, karena Yatno belum tanda tangan. “Siapa tahu, suatu saat nanti dia setuju, karena belum setuju bukan berarti tidak setuju. Tim juga mempunyai pertimbangan sendiri, karena belum ada tanda tangan,” jawab Al Indah.

Alasan lain KPPT Kabupaten Kediri, tetap mengeluarkan Izin HO dasarnya adalah pasal 7, Staatsblad Tahun 1926 Nomor 226 yang berbunyi : Apabila dengan persyaratan-persyaratan dapat diusahakan hilangnya keberatan tentang bahaya, kerugian atau gangguan, maka izin itu diberikan dengan bersyarat.

Namun kenyataannya, gangguan tersebut masih sangat dirasakan oleh keluarga Yatno Budi Santoso selama 7 bulan lebih. Karena itu Yatno Budi Santoso, sampai dengan berita ini ditulis,  tetap menyatakan tidak setuju dengan adanya mesin penggergajian kayu yang hanya berjarak 5 meter dari rumahnya itu.

Menanggapi hal ini, Al Indah memastikan akan dikirimkan tim evaluasi untuk mengevaluasi terkait gangguan-gangguan yang dirasakan oleh Yatno Budi Santoso. “Tim evaluasi akan terjun ke lokasi sebanyak 3 kali. Jika sudah dievaluasi sebanyak 3 kali, namun masih juga tidak ada perubahan yang dilakukan pemilik usaha maka usaha tersebut akan ditutup”, kata Al Indah menegaskan.

Ada rumor juga bahwa proses pengurusan Izin HO tersebut, diwarnai dengan penyuapan. Untuk mengkonfirmasinya Tabloid Sergap hari Jumat sore (13/03/2015) menemui Didik Sutrisno, pemilik usaha penggergajian kayu di rumahnya.

“Saya mengurus izin sudah sesuai prosedur dari KPPT tanpa ada suap. Musyawarah sudah berkali-kali kita lakukan, tapi Pak Yatno tetap tidak setuju sampai dengan sekarang”, kata Didik Sutrisno.

Didik juga mengakui bahwa dirinya juga ditawari lahan oleh Yatno Budi Santoso saat akan membuka usahanya, namun ia beralasan lahan itu tidak ada akses jalam masuk untuk truk-truk pengangkut kayunya. “Lahan yang ditawarkan tidak ada jalan masuk untuk ngangkut kayu, jadi saya tak mau. Lagi pula lahan itu menurut hitung-hitungan saya, kurang membawa rejeki bagi usaha saya”, kata Didik berkilah. Didik juga menambahkan bahwa dirinya bersedia, jika harus bermusyawarah lagi dengan Yatno Budi Santoso.

Saat Tabloid Sergap melihat lokasi yang ditawarkan oleh Yatno Budi Santoso kepada Didik Sutrisno tersebut, ternyata lahan itu punya akses yang cukup lebar, sehingga truk berukuran besarpun tak akan kesulitan untuk melewatinya.

Apapun yang terjadi, tak terbantahkan bahwa gangguan yang berpotensi menimbulkan kerugian bagi keluarga Yatno Budi Santoso telah terjadi. Semuanya itu dapat terjadi karena KPPT Kabupaten Kediri, patut diduga telah ceroboh dan tidak obyektif dalam memproses Izin HO, dengan mengabaikan keberatan yang sejak awal telah disampaikan oleh keluarga Yatno Budi Santoso. (wen)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s