Membasmi Mafia Migas?

93 lapsus cvrFaisal Basri yang ditunjuk menjadi Ketua Komite Reformasi Tata Kelola Migas, mengatakan, Mafia Migas adalah para pemburu rente yang memiliki kedekatan dan pengaruh terhadap para pejabat tinggi pengambil keputusan yang berdampak pada tidak optimalnya produksi migas, inefisiensi, dan ekonomi biaya tinggi pada penyediaan BBM serta mata rantai supply gas. Hal tersebut juga difasilitasi oleh kelemahan peraturan yang berlaku. Faisal mengatakan, mafia migas inilah yang mempengaruhi kebijakan sehingga kilang minyak tidak dibangun, kapasitas tangki timbun BBM tidak ditambah, gas bumi lebih banyak diekspor, dan banyak lagi.

Ditambahkan pula oleh Faisal Basri bahwa Mafia Migas sudah masuk ke segala lini dan menanamkan pengaruhnya. “Tidak hanya di minyak, di gas juga sudah ada mafianya. Seperti alokasi gas, mau diekspor, diberikan ke PLN, untuk pupuk, atau untuk industri? Tentunya mereka senang kalau gasnya diekspor, dia dapat fee. Di situlah permainannya.”, katanya.

Istilah Mafia

Istilah Mafia, mempunyai arti sebuah perkumpulan rahasia yg bergerak di bidang kejahatan (kriminal). Ada beberapa teori mengenai asal-usul nama Mafia. Ada yang mengatakan kata Mafia berasal dari kata “mafiusu”, sebuah kata sifat dalam bahasa Sisilia, dipinjam dari beberapa kemungkinan istilah bahasa Arab “mahyas” yang artinya gertakan agresif, membual”, atau “marfud” yang artinya tertolak”, atau kata “mu’afa” yang artinya keamanan atau perlindungan.

Jika diterjemahkan secara kasar, kedua istilah pertama dapat bermakna “pelagak” atau “keberanian, gagah-gagahan”, sesuai sifat atau kesan yang dilihat orang dalam diri mafiusi-mafiusi Sisilia gaya lama. Istilah ketiga sangat berhubungan dengan sifat kerahasiaan organisasi ini. Sementara istilah yang terakhir, sepertinya adalah kemungkinan yang paling meyakinkan bila ditinjau dari kedekatan bunyi serta arti yang berhubungan dengan gaya kerja Mafia.

Mafia, juga dirujuk sebagai La Cosa Nostra (bahasa Italia: Hal Kami), adalah panggilan kolektif untuk beberapa organisasi rahasia di Sisilia dan Amerika Serikat. Mafia awalnya merupakan nama sebuah konfederasi yang orang-orang di Sisilia masuki pada Abad Pertengahan untuk tujuan perlindungan dan penegakan hukum sendiri (main hakim).

Konfederasi ini kemudian mulai melakukan kejahatan terorganisir. Anggota Mafia disebut “mafioso”, yang berarti “pria terhormat”. Mafia melebarkan sayap ke Amerika Serikat melalui imigrasi pada abad ke-20.

Kekuatan Mafia mencapai puncaknya di AS pada pertengahan abad ke-20, hingga rentetan penyelidikan FBI pada tahun 1970-an dan 1980-an agak mengurangi pengaruh mereka. Meski kejatuhannya tersebut, Mafia dan reputasinya telah tertanam di budaya populer Amerika, difilmkan di televisi dan bahkan iklan-iklan.

Belakangan ini, di tanah air kita serasa akrab dan familiar dengan kata “Mafia”. Maraknya praktek-praktek kotor yang terorganisir, sistematik dan endemik di hampir segenap lini kehidupan negara kita, tak pelak memunculkan istilah-istilah seperti Mafia Migas, Mafia Hukum, Mafia Peradilan, Mafia Pertanian, Mafia Listrik dan sebagainya.

Mafia Migas

Mafia Migas menjadi sangat penting dan menarik untuk dibicarakan, karena mampu menimbulkan dampak multi dimensional kepada kehidupan dan penghidupan rakyat kita. Tersendatnya kemajuan pembangunan dan tidak meratanya hasil pembangunan, dituding oleh banyak pihak sebagai akibat dari ulah Mafia Migas ini.

Seperti apakah “sosok” Mafia Migas ini, sedikit disampaikan oleh Direktur Eksekutif Indonesia Mining and Energy Studies (IMES), Erwin Usman, dalam diskusi bertajuk Migas Untuk Rakyat digelar KAMMI, Jakarta, Minggu (21/9/2014).

Erwin menyebut, Mafia Migas adalah salah satunya membuat Soeharto dengan Orde Barunya berjaya hingga 32 tahun lamanya. “Era booming minyak tahun 80-90an, saat itu Indonesia mampu menghasilkan 1,6 juta barel per hari (bph), benar-benar menjadikan Mafia berpesta pora,” kata Erwin.

Rezim berganti, tapi Mafia Migas justru makin menjadi. Erwin mengatakan, di Era Reformasi, Mafia Migas menggurita paska pemberlakuan Undang-Undang No 22 Tahun 2001 tentang Minyak dan Gas Bumi (Migas). “Kerja sindikasinya makin menohok ke dalam sistem negara. Dalam UU Migas ini, urusan migas didorong menjadi sangat liberal dan praktis menghilangkan kedaulatan nasional atas migas,” ucap Erwin.

Mafia Migas, sempat “vakum” di era Abdurrahman Wahid atau Gus Dur. Namun, mereka kembali masuk paska sukses mengintervensi tata kelola dan tata niaga Migas melalui UU Migas 2001.

Memiskinkan negara

Erwin menuturkan, jelas, para Mafia ini hendak merusak sistem tata kelola dan tata niaga migas. “Dipreteli perangkat aturannya, sistemnya, lalu jalankan kaderisasi mafia dan bonekanya untuk masuk seluruh jaringan tata kelola dan tata niaga migas dalam sistem negara,” lanjut dia.

Erwin menjelaskan, mereka adalah kombinasi dari kekuatan peusahaan miltunasional, jaringan birokrasi antek imperialisme, serta politisi nirnasionalisme. Mereka bergerak menciptakan kaderisasi dari hulu ke hilir. “Nama-nama Kuntoro Mangkusubroto, Purnomo Yusgiantoro, Ari Soemarni, Muhammad Reza Chalid, R Priyono, hingga Karen Agustiawan adalah sederet nama yang tak boleh dilepaskan dari perhatian kita, ketika kita mempersoalkan amburadulnya tata kelola migas Indonesia, di level hilir,” sebut Erwin, sebagaimana ditulis kompas.com.

Erwin mengutip sebuah laporan menyebutkan kerugian negara dari praktik sindikasi Mafia Migas di Indonesia per tahun minimal sebesar 4,2 miliar dollar AS atau setara Rp 37 triliun. Artinya, kata dia, kerugian negara akibat operasi Mafia Migas dalam 10 rahun terakhir sudah menyentuh Rp 370 triliun.

Erwin Usman, Poltak Sitanggang, Hendrajit, Uchok Sky Khadafi

Erwin Usman, Poltak Sitanggang, Hendrajit, Uchok Sky Khadafi

Transaksi di hulu untuk urusan minyak meliputi 850.000 barel per hari mencapai 16,5 miliar dollar AS atau sekitar Rp 196,3 triliun per hari.  “Ini baru dari migas, belum dari mafia pangan dan sektor strategis lainnya. Kasihan benar bangsa dan rakyat miskin Indonesia. Para mafia dan bonekanya berpesta pora, sementara mayoritas rakyat Indonesia hidup dalam kubangan kemiskinan, dan kemelaratan,” kata Erwin.

Poltak Sitanggang, Ketua Komite Tetap Mineral Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia. Pengelolaan sektor energi menjadi berantakan karena campur tangan pihak-pihak yang mencoba meraup keuntungan dari bisnis sektor migas. “Mafia migas ini yang harus utama diselesaikan. Sekarang mereka sudah sampai tahap mengganggu tatanan bernegara kita,” ujarnya, sebagaimana dirilis merdeka.com.

Hal senada juga disampaikan oleh Direktur Eksekutif Global Future Institute (GFI) Hendrajit melihat pergerakan bandit migas di Indonesia sudah sangat luas, bahkan masuk dalam ranah pemerintahan. Dia menuding, Mafia Migas berjalan beriringan dengan para pejabat di pemerintahan.

“Bayangkan kalau Indonesia punya presiden yang tidak paham dengan tren global. Mafia itu dasar utamanya interest group yang bukan hanya lobi pemerintah, tapi sudah menegara di pemerintahan dan di DPR,” tegas Hendrajit.

Sementara itu Uchok Sky Khadafi, Direktur Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran (Fitria) mengatakan mafia minyak dan gas akan selalu hadir dan mencari celah untuk merugikan negara. “Mafia migas pasti memiliki kekuatan yang besar.”

Uchok mengatakan modus yang digunakan para mafia adalah memanfaatkan ruang di Pertamina untuk melakukan transaksi jual-beli migas yang dapat menguntungkan dirinya sendiri. “Yang pasti negara akan selalu merugi,” ujarnya.

Menurut Uchok, Mafia Migas bercokol di jantung Pertamina. Maksudnya adalah mereka berwenang dalam setiap kebijakan dan transaksi jual-beli di Pertamina. Selain itu, mafia migas juga bergerak dan mengatur sistem Pertamina, sehingga sangat sulit untuk dilacak. jika terlacak pun akan sulit dihentikan, karena melibatkan banyak kekuatan besar di dalamnya, seperti pemerintah, internal pertamina, dan taipan besar dalam dan luar negeri.

Uchok mencontohkan, anak perusahaan Pertamina di Singapura PT Pertamina Energy Trading (Petral), sarat praktek mafia migas. Hal itu terlihat dari asal muasal migas yang dibeli Petral dari NOC Thailand. “NOC Thailand itu broker minyak, tidak punya sumber minyak sendiri, dan yang punya orang Indonesia,” katanya.

Uchok mengatakan membeli minyak di broker itu harganya lebih mahal dan tentu saja merugikan kas Pertamina karena tidak efisien. Seharusnya, kata Uchok, Pertamina membeli minyak mentah kepada produsen langsung saja untuk mendapatkan harga yang lebih murah, meskipun memang cukup sulit bernegosiasi dengan produsen minyak langsung. “Bayangkan siapa saja yang terlibat dalam transaksi ini,” katanya.

Mafia migas di Indonesia sudah ada sejak zaman Orde Baru. Mereka diduga beroperasi dengan menjadikan Pertamina dan anak-anak usahanya sebagai ladang bisnis empuk untuk memperkaya diri sendiri dan menguatkan kelompok mereka.

Memerangi Mafia Migas

Pada hari Minggu, 16 November 2014, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Sudirman Said, mengangkat Faisal Basri sebagai Ketua Tim Reformasi Tata Kelola Minyak dan Gas Bumi, yang sering disebut oleh media massa sebagai Tim Anti Mafia Migas.

Rini Soemarno, Faisal Basri dan Sudirman Said

Rini Soemarno, Faisal Basri dan Sudirman Said

Masyarakat menyembut baik pembentukan tim ini, karena sebelumnya banyak yang meragukan, bahwa Jokowi-JK akan berani melakukan pembersihan dan pembenahan tata kelola migas, yang sudah amburadul sejak jaman Orde Baru itu.

Ada empat ruang lingkup tim ini selama bertugas, yakni mengkaji ulang seluruh proses perizinan dari hulu ke hilir, menata ulang kelembagaan yang terkait dengan pengelolaan minyak dan gas, mempercepat revisi Undang-Undang Migas, dan merevisi proses bisnis untuk mencegah adanya pemburu rente (pencari fee).

Bicara tentang target, Faisal Basri –sebagaimana ditulis Majalah Tempo- timnya akan memberikan rekomendasi yang tepat bagi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral untuk memberantas praktek mafia Migas dalam enam bulan. “Jangan sampai setelah enam bulan bekerja, sektor Migas masih dinikmati kelompok tertentu,” kata dia.

Menurut Faisal, salah satu target timnya adalah rekomendasi penguatan sektor industri berbasis Migas. Dia mencontohkan, jika pemerintah bisa memproduksi kondensat dan meningkatkan olahan produk petrokimia, maka biaya impor plastik dan bahan kimia organik bisa ditekan.

Mantan Komisioner KPK

Dalam rangka memperkuat upaya memerangi Mafia Migas, selanjutnya Pemerintah menunjuk Amien Sunaryadi, sebagai Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksanaan Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas), meggantikan Rudi Rubiandini yang telah divonis 7 tahun penjara, karena kasus suap. Amien ditunjuk Presiden Jokowi untuk menduduki jabatan strategis ini pada hari Rabu, 19 Nopember 2014.

Amien Sunaryadi

Amien Sunaryadi

Sebagaimana diketahui, Amien Sunaryadi adalah mantan Komisioner KPK periode 2003-2007. Penunjukkan Amien ini, mendapatkan apresiasi dari KPK. “Kami berharap dengan terpilihnya Pak Amien Sunaryadi sebagai Kepala SKK Migas, proses reformasi pengelolaan bisnis migas semakin cepat, akuntabel, dan transparan,” ujar Juru Bicara KPK Johan Budi.

Amien sendiri, menyadari tugasnya adalah mengemban amanat presiden untuk memerangi Mafia Migas. “Saya mengetahui ada 300 perusahaan kontraktor kontrak kerja sama (K3S) yang diberi kontrak dan 1.500 kontraktor. Ini transaksinya banyak, dan agar transaksi cepat perlu proses yang jelas,” ujar Amien kepada wartawan.

Giliran selanjutnya, pemerintah juga merombak Pertamina. Menteri BUMN Rini Soemarno, mengumumkan Dwi Soetjipto, sebagai Direktur Utama Pertamina yang baru. “Dwi Soetjitpto mulai tanggal 28 November 2014 diangkat menjadi Direktur Utama Pertamina periode 2014-2019,” ujar Menteri BUMN di kantornya.

Giliran Pertamina

Dwi Soetjipto yang sebelumnya dikenal sebagai Direktur Utama (dirut) PT Semen Indonesia, yang juga bekas atlet pencak silat ini, berprestasi mengubah persaingan antara Semen Gresik, Semen Padang, dan Semen Tonasa menjadi pertarungan bersama untuk melawan raja-raja semen asing yang masuk ke Indonesia. Waktu itu, investor asing menguasai saham beberapa perusahaan semen nasional. Saham Indocement dikuasai Heidel Cement Group, Semen Cibinong dikuasai Holderbank Cement Swiss, dan perusahaan Prancis, Lafarge, menguasai PT Semen Andalas.

Dwi Soetjipto

Dwi Soetjipto

Dirut baru, Dwi Soetjipto menyatakan berkomitmen memberantas praktik mafia minyak dan gas bumi, termasuk di perusahaan yang mulai dipimpinnya. “Tentu saja kami akan me-review seluruh proses bisnis yang ada, dan kami melaksanakan mapping proses-proses apa yang sudah masuk pada best practices internasional maupun domestik,” kata Dwi kepada wartawan, usai diumumkan namanya sebagai dirut di Kantor Kementerian BUMN, Jakarta.

Bila proses bisnis di Pertamina ada yang tak sesuai best practices tersebut, Dwi berjanji akan melakukan transformasi. Dia juga berjanji manajemen akan segera melakukan kajian terbaik dan menentukan prioritas perusahaan ke depan.

Dwi tak menampik bila tata kelola migas tengah menjadi sorotan kecurigaan banyak orang. Sebagai perusahaan migas milik negara yang mendominasi aktivitas migas, aku dia, Pertamina pun tak luput dari sorotan itu.

“Saya menyambut baik apa yang akan dilakukan oleh KPK, ataupun BPK maupun pihak-pihak yang terkait, bagaimana membuat BUMN ini bisa berjalan lebih transparan dan lebih GCG (good corporate governance),” kata Dwi.

Mantan Dirut PT Semen Indonesia (Persero) Tbk itu pun tak khawatir jika Pertamina dimintai komitmen memberantas Mafia Migas. “Saya kira sejauh kita memang memiliki integritas sebaik-baiknya, saya kira tidak perlu khawatir dengan kerja sama ini. Bahkan kerja sama ini akan membuat manajemen bergerak lebih aman lagi dalam mengembangkan perusahaan,” tegasnya.

Harapan kepada Pertamina

Pengamat energi Universitas Gadjah Mada (UGM), Fahmy Radhi, mengatakan, salah satu tugas pertama dirut baru perusahaan minyak plat merah itu yakni membenahi korporasi dalam kesesuaiannya dengan tata kelola migas. “Tugas pertama dalam waktu dekat tentu saja membersihkan mafia migas karena ia dari luar tidak punya beban,” ucap Fahmi saat dihubungi wartawan, Senin (1/12/2014).

Tugas selanjutnya, kata Fahmi, memperbaiki sisi GCG Pertamina, yang terutama adalah pembenahan skema bisnis yang saat ini sarat mengakomodir para pemburu rente/broker migas yang hanya ongkang-ongkang kaki namun menikmati margin besar.

“Soal broker migas itu juga kritik yang saya sampaikan ke Pertamina. Bukan hanya di sisi minyak dan LPG, bahkan anak usahanya yang baru dibentuk pada akhir tahun 2010 pun, seperti Pertagas misalnya, kan selama ini selalu menjual gas kepada para trader dan broker, bukan langsung ke konsumen. Fokus di hulu dengan cara peningkatan kemampuan lokal seperti itu akan mempercepat Pertamina bertransformasi menjadi perusahaan kelas dunia,” tegasnya.

“Mari kita dukung pemerintah untuk menjadikan Pertamina sebagai National Oil Company kebanggaan Indonesia, yang fokus dalam peningkatan kinerja di sektor minyak dan penguasaan hulu migas,” tandasnya.

Kantor Pusat PT Pertamina (Persero) Jakarta

Kantor Pusat PT Pertamina (Persero) Jakarta

Melalui akun Facebooknya yang diunggah pada 29 Nopember 2014, Presiden Joko Widodo menjelaskan alasan terpilihnya Dwi Sutjipto sebagai Direktur Utama Pertamina yang baru. Ia berharap di tangan Dwi Sutjipto, Pertamina bisa meloncat jauh sebagai perusahaan energi terbesar di Asia.

“Penunjukkan Bapak Dwi Sutjipto sebagai Dirut Pertamina melalui Menteri BUMN Ibu Rini Soemarno, tentunya mengandung harapan besar membawa Pertamina bukan hanya revitalisasi atas manajemen yang runtut, tapi juga bagaimana membawa Pertamina meloncat jauh ke depan menjadi Perusahaan energi terbesar di Asia,” tulis Jokowi.

Ia mengatakan Pertamina adalah BUMN terbesar di Indonesia, perusahaan yang awalnya didirikan pada masa Pemerintahan Bung Karno pada tahun 1957 dengan nama PT Permina (Perusahaan Minyak Negara).

Impian terbesar Bung Karno saat itu menjadikan Permina sebagai Perusahaan Minyak Terbesar di Asia bahkan menjadi pemain besar di dunia. Namun impian Bung Karno kandas karena perkembangan politik pada saat itu yang tak lepas dari dialektika dan dinamika geopolitik internasional.

Lika liku sejarah Pertamina sendiri seolah serupa dengan sejarah bangsa ini, ada masa jatuhnya, ada masa bangunnya. Kini Pertamina menjadi perusahaan terbaik dunia ke-122 dari 500 perusahaan besar dunia. “Tentunya kita ingin lebih dari itu. Dengan sumber daya manusia Indonesia yang sudah kampiun cerdasnya, dengan mengembangkan inovasi-inovasi baru maka Pertamina harus ngebut untuk menjadi perusahaan minyak terbesar di Asia, setidak-tidaknya di Asia Tenggara,” kata Jokowi.

Gendering perang sudah ditabuh. Lembaga dan institusi terkait dengan tata kelola migas sudah diisi oleh kader bangsa terbaik. Sektor hulu (SKK Migas) diisi mantan orang KPK dan sektor hilir (Pertamina), juga diisi oleh orang yang berprestasi.

Pertanyaan besarnya, akankah mereka semua akan mampu memberantas Mafia Migas yang sudah puluhan tahun mengakar di negeri kita?

Sebagaimana diketahui, Mafia Migas juga ada di partai-partai politik. Bisa jadi langkah Jokowi-JK yang bertekad memberantas Mafia Migas ini, akan mendapat perlawanan secara politik, karena patut diduga partai politik juga mendapatkan gelontoran dana dar Mafia Migas. Bisa jadi, suasana politik akan menjadi hiruk-pikuk dan gaduh yang secara langsung maupun tidak langsung bertujuan untuk mengganjal upaya memberantas Mafia Migas.

Sebagai rakyat, tugas kita adalah mendukung upaya pemerintah untuk memerangi Mafia Migas ini, agar bumi, air dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya dikuasai oleh Negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat, sebagaimana amanat pasal 33 UUD 1945 dapat terwujud.

Sudah saatnya rakyat yang makmur, bukan para boss Mafia Migas yang menjadi kaya raya dengan cara merampas hak konstitusi rakyat terhadap kekayaan tanah air tercinta. (Tkr)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s