Pemotongan Dana Bencana G. Kelud Marak di Sekolah, Dikporakab Kediri Tutup Mulut

Ketika Gunung Kelud meletus dengan sangat dahsyat pada tanggal 13 Pebruari 2014, tentu saja membawa dampak bagi seluruh daerah sekitarnya. Termasuk para siswa di Kabupaten Kediri yang sekolahnya berada di lereng gunung berapi aktif ini. Pemerintah Provinsi Jawa Timur, menetapkannya letusan Gunung Kelud sebagai Bencana Provinsi dan memberikan bantuan uang tunai, kepada para siswa terdampak bencana sebesar Rp. 1 juta per siswa. Namun tragisnya, duit itu disunat dengan berbagai dalih oleh oknum-oknum Kepala Sekolah dan para gurunya.

Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kabupaten Kediri

Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kabupaten Kediri

Kediri (Sergap) – Ketika Tabloid Sergap melakukan konfirmasi, setelah mendapat informasi dari masyarakat tentang pemotongan Dana Bantuan Bencana Alam akibat Letusan Gunung Kelud (Bansos) ini, para Kepala Sekolah terkait, sudah memperlihatkan sikap tertutup. Para pejabat pendidikan ini menolak untuk menjelaskan proses penyaluran uang milik rakyat itu, seakan-akan duit itu milik nenek moyangnya.

Kepala Sekolah mengaku wartawan    

Bahkan, Kepala Sekolah SDN Sepawon I, Kecamatan Plosoklaten, Kabupaten Kediri yang bernama Basori, SPd dengan arogan menolak untuk berkomentar dan mengaku bahwa dirinya seorang wartawan. “Saya juga seorang wartawan, mas”, katanya dengan nada ketus, tanpa menunjukkan kartu persnya. Selanjutnya, Basori membantah telah terjadi pemotongan dana Bansos di sekolahnya. “Itu semua tidak benar,” kata Basori masih dengan suara ketusnya.

Setali tiga uang yang dilakukan oleh para kepala sekolah lainnya. Seakan sikap menolak/merahasiakan segala data tentang Bansos ini, merupakan sikap bersama yang sudah disepakati sebelumnya.

Semua tutup mulut

Seperti yang terjadi di SDN Sugihwaras II, Kepala Sekolah Wiji Rohayati, SPd tak bersedia bicara sepatah katapun tentang uang negara yang berupa dana bencana alam itu. “Saya sedang repot, banyak kegiatan,” katanya sambil berlalu.

Demikian pula yang terjadi di ketika Tabloid Sergap mencoba konfirmasi ke SDN Satak II, Kecamatan Puncu, SDN Satak I, Kecamatan Puncu, SDN Sepawon I, Kecamatan Plosoklaten, SDN Kebonrejo I, Kecamatan Kepung, SDN Besowo II, Kecamatan Kepung, Kabupaten Kediri.

Semua kepala sekolah tersebut di atas, tidak bersedia menjelaskan tentang penyaluran dana Bansos di sekolahnya, yang bertujuan untuk meringankan beban hidup korban bencana letusan Gunung Kelud itu.

Demikian pula yang terjadi di SDN Sempu II, Kecamatan Ngancar, Kabupaten Kediri. Kepala Sekolah Tutut Indiarto, SPd, juga menolak untuk ditemui. Namun Ketua Komite Sekolah, Sutaji membenarkan bahwa di SDN Sempu II yang muridnya 110 siswa dan mendapatkan Bantuan Bencana Alam sebesar Rp. 1 juta per siswa.

Tentang pemotongan, Sutaji juga membenarkan bahwa ada pemotongan terhadap uang Rp 1 juta tersebut, dengan rincian sebagai biaya buka rekening Rp. 100.000,-, biaya administrasi Rp. 50.000, dan dipotong lagi untuk diberikan kepada Kelas 1 yang belum masuk dalam data Rp. 50.000,-. “Itu kebijakan sekolah bersama komite, ” kata Sutaji menjelaskan.

Dikpora juga tutup mulut

Dikarenakan gelap-gulitanya proses penyaluran Bansos tersebut, maka Tabloid Sergap mencoba untuk bertanya kepada Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Dikpora) Kabupaten Kediri, Drs. Djoko Pitojo, MPd, sebagai penanggungjawab bidang pendidikan di wilayah Kabupaten Kediri.

Untuk menjaga etika dan akurasi pertanyaan, maka Tabloid Sergap berkirim secara tertulis daftar pertanyaan terkait dengan dugaan maraknya pemotongan dana bantuan bencana alam di sekolah-sekolah di Kabupaten Kediri tersebut.

Surat konfirmasi bernomor : 132.29/Sgp/XI/2014, dengan lampiran 1 (satu) lembar, tertanggal 25 Nopember 2014 tersebut, hari itu juga sudah diterima oleh staf Dikpora bernama Saroni. Namun sampai dengan berita ini ditulis, belum ada jawaban terhadap surat konfirmasi tersebut.

Isi surat konfirmasi tersebut antara lain adalah :

Terkait dengan pembagian Bantuan Sosial sebesar Rp. 1 juta/siswa Sekolah Dasar Terdampak Letusan Gunung Kelud, kami menemukan indikasi penyelewengan dalam proses pembagiannya, sehingga patut diduga telah terjadi kerugian terhadap keuangan negara dan kerugian pula bagi siswa penerima bantuan tersebut, di beberapa Sekolah Dasar Negeri, antara lain :

  1. SDN Sugihwaras II, Kecamatan Ngancar, Kabupaten Kediri. Di sekolah milik negara ini, tiap siswanya hanya menerima Rp. 750.000,-. Dipotong oleh sekolah yang bersangkutan dengan rincian sbb : Dipertinggal Rp. 100.000,- dalam rekening, administrasi 40.000,-, sisanya Rp. 110.000,- untuk biaya membangun pagar sekolah.
  1. SDN Sempu II, Kecamatan Ngancar, Kabupaten Kediri. Di sekolah milik negara ini, tiap siswanya hanya menerima Rp. 700.000,- Dipertinggal di rekening siswa Rp. 100.000,- Administrasi Rp. 50.000,- Diberikan kepada siswa Kelas 1 Rp. 50.000/ siswa. Sisanya Rp. 150.000,- untuk pembangunan pagar sekolah.
  1. SDN Satak II, Kecamatan Puncu, Kabupaten Kediri. Di sekolah milik negara ini, tiap siswanya hanya menerima Rp. 690.000,-. Dipotong oleh sekolah yang bersangkutan dengan rincian sbb : Dipertinggal Rp. 100.000,- dalam rekening, sisanya Rp. 210.000,- untuk biaya perbaikan kantor dan pembelian kursi kerja kepala sekolah.
  1. SDN Satak I, Kecamatan Puncu, Kabupaten Kediri. Di sekolah milik negara ini, tiap siswanya hanya menerima Rp. 800.000,-. Dipotong oleh sekolah yang bersangkutan dengan rincian sbb : Dipertinggal Rp. 100.000,- dalam rekening, sisanya Rp. 100.000,- untuk biaya administrasi dan pembangunan. Bahkan beberapa hari kemudian saldo Rp. 100.000,- disuruh oleh guru masing-masing untuk diambil di bank dan diminta Rp. 15.000,- per anak oleh guru masing-masing.
  1. SDN Sepawon I, Kecamatan Plosoklaten, Kabupaten Kediri. Di sekolah milik negara ini, tiap siswanya hanya menerima Rp. 675.000,-. Dipotong oleh sekolah yang bersangkutan dengan rincian sbb : Dipertinggal Rp. 100.000,-, administrasi Rp. 50.000, uang seragam siswa Rp. 100.000,-, dan Rp. 75.000,- untuk pembangunan.
  1. SDN Kebonrejo I, Kecamatan Kepung, Kabupaten Kediri. Di sekolah milik negara ini, tiap siswanya hanya menerima Rp. 850.000,-. Dipotong oleh sekolah yang bersangkutan dengan rincian sbb : Dipertinggal Rp. 100.000,-, administrasi Rp. 50.000,-
  1. SDN Besowo II, Kecamatan Kepung, Kabupaten Kediri. Di sekolah milik negara ini, tiap siswanya hanya menerima Rp. 750.000,-. Dipotong oleh sekolah yang bersangkutan dengan rincian sbb : Dipertinggal Rp. 100.000,-, administrasi Rp. 50.000,- sisanya untuk kepentingan sekolah.

Informasi yang masuk di redaksi, sebenarnya masih ada SD Negeri yang juga menerima bantuan sejenis.

Dalam kedudukan Dikpora sebagai penanggungjawab SD-SD tersebut di atas, maka ada beberapa hal yang perlu kami konfirmasikan, sbb:

  1. Berapa sebenarnya jumlah SD Negeri dan berapa jumlah siswa SD Negeri di wilayah Kabupaten Kediri, yang menerima dana Bansos?
  2. Apakah Kepala Dikpora Kabupaten Kediri, sudah memberikan pengarahan teknis tentang prosedur pembagian dana Bansos itu?
  3. Sejauh mana Kepala Dikpora Kabupaten Kediri, memantau pembagian dana Bansos tersebut di atas?
  4. Pada hari Kamis, tanggal 20 Februari 2014, Kepala Kejaksaan Tinggi Jawa Timur, Arminsyah, SH, MSi, mengeluarkan statemen agar tidak menyelewengkan dana bantuan korban Gunung Kelud. Kajati mengancam akan menuntut Hukuman Mati, bagi siapa saja yang terbukti korupsi dana bantuan bencana tersebut. (Kliping Tabloid Sergap, Edisi 88, halaman 7, terlampir). Apa tindakan bapak, dengan terjadinya pemotongan tanpa dasar hukum yang jelas, di sekolah-sekolah di bawah tanggungjawab bapak ini?

Empat pertanyaan tersebut tak kunjung mendapatkan jawabannya.

Surat konfirmasi diterima staf Dikpora Kabupaten Kediri tgl 25 Nopember 2014

Surat konfirmasi diterima staf Dikpora Kabupaten Kediri tgl 25 Nopember 2014

Ki Hajar Dewantara, Bapak Pendidikan Nasional mengajarkan Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani.

Dikaitkan dengan pemotongan Bansos di sekolah-sekolah, ajaran Tokoh Bangsa ini jadi kehilangan makna. Kucuran dana puluhan trilyun rupiah duit rakyat setiap tahun, kepada dunia pendidikan, bisa jadi juga kehilangan manfaat, jika para pejabat pendidikan menganggap ajaran Ki Hajar Dewantara tersebut, hanya sebatas slogan belaka. (Yus/Tkr)

CATATAN : Tabloid Sergap sudah mendatangi Kejalsaan Negeri Ngasem Kabupaten Kediri, untuk mengkonfirmasi sikap jajaran Kejaksaan terhadap pemotongan Dana Bencana Gunung Kelud. Klik di sini untuk melihatnya.

BERITA TERKAIT :   Jangan Main-Main Dengan Bantuan Bencana Alam

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s