Memikatnya Festival Gandrung Sewu 2014 di Banyuwangi

Gerak tari yang dinamis dan pakaian merah menyala, memikat yang melihatnya

Gerak tari yang dinamis dan pakaian merah menyala, memikat yang melihatnya

Banyuwangi (Sergap) – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Banyuwangi, kembali menggelar Festival Gandrung Sewu di Pantai Boom pada Sabtu (29/11/2014) yang melibatkan lebih kurang 1.200 penari gandrung.

“Seperti tahun-tahun sebelumnya, Festival Gandrung Sewu akan menyuguhkan pemandangan yang memukau, di mana ribuan penari dengan busana dominan merah tampak menawan terkena semburan sinar sunset (matahari saat tenggelam),” kata Yanuarto Bramuda, Plt. Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Pemkab Banyuwangi.

Tari Gandrung adalah salah satu tarian khas Banyuwangi yang telah ditetapkan sebagai “Warisan Budaya Bukan Benda” oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pada 2013.

Pada penyelenggarannya yang ketiga, Festival Gandrung Sewu mengangkat tema “Seblang Subuh” yang dikemas lebih lengkap dengan iringan musik rancak dan sentuhan teatrikal. Adapun Seblang Subuh bermakna permohonan ampun kepada yang maha kuasa.

Pertunjukan kolosal itu akan diawali dengan munculnya beberapa lelaki yang membawa penjor. Mereka adalah mantan prajurit-prajurit Blambangan yang tengah berusaha mengumpulkan rekan-rekan seperjuangannya di masa lalu.

Setelah terkumpul beberapa orang, mereka menasbihkan diri sebagai Gandrung Marsan (Gandrung laki-laki). Kemunculan Gandrung Marsan ini tepat pada masa pemerintahan Bupati ke-5 Banyuwangi, yakni Bupati Pringgokusumo.

Pada awalnya, penari Gandrung memang dibawakan seorang laki-laki atau yang biasa disebut Gandrung Marsan. Lambat laun Gandrung berkembang dan lebih banyak dibawakan perempuan. Penari Gandrung perempuan pertama adalah Gandrung Semi.

Dalam Festival Gandrung Sewu ini, adegan munculnya Gandrung Semi diikuti ribuan penari gandrung berkostum merah yang menghambur dari berbagai arah dan kemudian menyatu di satu titik juga dipentaskan.

Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas

Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas

Dengan menggelar Festival Gandrung Sewu secara rutin setiap tahun, Pemkab Banyuwang Provinsi Jawa Timur, akan lebih intensif menggarap pariwisata budaya untuk menggaet kunjungan wisatawan.

Pariwisata budaya akan membuat orang ingin mencari tahu mengenai seni budaya yang ada di suatu daerah. “Salah satu tren wisata yang semakin berkembang adalah pariwisata budaya, yakni jenis pariwisata yang mengandalkan kebudayaan khas sebuah tempat, mulai dari tradisi, kesenian, upacara, hingga kuliner, yang bisa memberikan pengalaman tentang keanekaragaman dan identitas dari sebuah masyarakat. Ini yang sedang kami garap di Banyuwangi,” kata Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas, di lokasi acara.

Selain Festival Gandrung Sewu, Banyuwangi Ethno Carnival, Batik Festival, atau Festival Kebo-Keboan dan Festival Rujak Soto, adalah potret secara lengkap tentang kebudayaan Banyuwangi. “Pendekatan pariwisata budaya memberi titik tekan pada inisiatif lokal untuk diangkat ke skala nasional dan global, yang nantinya bisa berujung pada peningkatan pergerakan ekonomi rakyat berbasis seni budaya,” kata bupati menambahkan. (af/adv)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s