Kapal CPO Dirompak, Kerugian Rp 21 Milyar

Pelabuhan Sampit, Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah

Pelabuhan Sampit, Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah

Sampit (Sergap)  – Kapal Srikandi 515 yang bermuatan minyak kelapa sawit atau crude palm oil (CPO) yang bertolak dari Sampit Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah, dirompak saat dalam perjalanan menuju Gresik. “Kapal Srikandi 515 mengangkut 3.100 ton minyak sawit berangkat pada 8 Oktober dan digiring kapal pandu ke luar muara pada 9 Oktober. Seharusnya, paling tiga hari sudah sampai Gresik, tapi kemudian kami dikonfirmasi pada tanggal 17 Oktober lalu bahwa kapal itu belum sampai ke Gresik,” kata Kepala Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Sampit, Benny Noviandinudin di Sampit, Sabtu malam (25/10/2014).

Begitu mendapat kabar tersebut, KSOP Sampit langsung melaporkan kejadian itu kepada Kementerian Perhubungan yang kemudian menyebarkan informasi itu ke seluruh pelabuhan dan instansi terkait di seluruh Indonesia.

Penelusuran beberapa hari oleh seluruh pelabuhan, belum juga mendapatkan perkembangan positif terkait hilangnya kapal tersebut. KSOP Sampit juga berkoordinasi dengan pihak lain untuk mencari informasi terkait keberadaan kapal yang diawaki sebelas orang itu.

Kapal tersebut sebelumnya tambat di Muara Sungai Mentaya Sampit untuk membawa CPO yang diangkut tongkang dari pelabuhan Sampit. Usai bongkar muat di laut, kapal yang diawaki 11 Anak Buah Kapal (ABK) berlayar. Tapi tiba-tiba dirampok di tengah laut. Setelah dikuasai para perompak, kapal itu pun dibawa ke laut lepas.

Selama 13 hari, ABK disekap dalam kapal tersebut dengan mata tertutup. Mereka tidak bisa melawan, karena para pelaku menggunakan senjata api dan tajam. Pada 22 Oktober 2014, para perampok membebaskan 11 ABK dengan dihanyutkan menggunakan kapal karet.

Para ABK itu terombang-ambing selama 2 hari. Pada Jumat (24/10) pukul 20.50 WIB, mereka ditemukan terapung di tengah lautan Pulau Yu, Trengganu, Malaysia.

Kerugian Rp. 21 Milyar

Sementara Kapal Srikandi 515 yang penuh dengan CPO itu tidak diketahui keberadaannya. Akibat peristiwa itu, perusahaan yang bergerak di bidang kelapa sawit yang ada di Kotim itu mengalami kerugian mencapai ± Rp 21 miliar. Informasinya, CPO yang diangkut kapal tanker itu berasal dari perusahaan perkebunan yang ada di Desa Pundu, Kecamatan Cempaga Hulu, Kotim.

Dirpolair Polda Kalteng Kombes Pol Alex Fauzi Rasad, membenarkan adanya peristiwa itu. “Saat ini kami sudah membentuk tim untuk menelusuri asal kapal yang dirompak,” tegasnya, Sabtu (25/10/2014).

Alex mengakui, pihaknya kesulitan untuk melacak dari mana asal kapal yang memuat CPO,  karena kapal tersebut belum ada laporan dari pihak perusahaan setelah mereka berlayar. “Saat ini kami masih meminta keterangan dari pihak yang terkait untuk memastikan asal usul kapal itu. Katanya, kapal itu berasal dari perairan Kotim mengangkut CPO,” ungkapnya.

Dikatakannya, perompakan terhadap kapal pengangkut CPO itu baru diketahui setelah polisi mendapat informasi dari Mabes Polri,  bahwa ada sebelas ABK asal Indonesi ditemukan terapung di tengah yang masuk wilayah Malasysia. “Informasi yang kami terima saat ini kejadian perompakan itu terjadi pada 8 Oktober 2014 lalu,” akuinya.

Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Kuala Lumpur, Jumat (24/10/2014), sebagaimana diberitakan detik.com menjelaskan bahawa kesebelas ABK yang berusia antara 24-45 tahun tersebut terapung di perairan Trengganu dengan perahu karet. Saat ini mereka berada di rumah sakit setempat untuk pemeriksaan kesehatan. Keseluruhan ABK itu dinyatakan dalam keadaan baik dan tidak mengalami cidera apapun. Para ABK itu juga memiliki dokumen lengkap.

Berdasarkan informasi dari Kantor Polisi Chendering, ABK tersebut diselamatkan oleh kapal nelayan pada Kamis (23/10/2014) sekitar pukul 20.00 waktu setempat. Lalu pada Jumat (24/10) sekitar pukul 02.50 waktu setempat, tiba di pelabuhan Chendering.

Setelah mendapatkan informasi dari Kepolisian Trengganu, Dubes RI untuk Malaysia Herman Prayitno menugaskan Tim Satgas Perlindungan WNI agar berkoordinasi dengan aparat setempat untuk penanganan lebih lanjut. Tim Satgas Perlindungan hari ini akan menemui para korban dan membawa mereka ke Kuala Lumpur.

Herman Prayitno juga menugaskan Tim Satgas untuk berkoordinasi dengan instansi terkait di Indonesia guna melakukan pendalaman atas peristiwa perompakan tersebut.

Berdasarkan keterangan nakhoda kapal Van Swandi (32), dia dan 10 ABK lainnya menjadi korban perompakan di perairan Kalimantan Tengah, pada tanggal 9 Oktober 2014 dalam perjalanan dari Sampit ke Gresik. Menurutnya, kapal yang dinakhodai adalah kapal pengangkut CPO SPOB Srikandi 515 dengan muatan 3.100 ton CPO.

Nama-nama ABK yang berhasil diselamatkan: 1. Van Swandi (32). 2. Simon Peter Kamasi (29). 3. Mapparenta (38). 4. Wahyudi (31). 5. Febrian Indo Albias (25). 6. Tri Endarjono (45). 7. Thohari (44). 8. Arkilaus (43). 9. Irwan Purwanto (32). 10. Taufik Surya Pharma (29). 11. Agung Ari Wibowo (29).  (Harry/Benny/Red)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s