Pelabuhan Sorong, Pintu Masuk Masa Depan Indonesia

PELABUHAN ROTTERDAM BELANDA Seluas inilah Pelabuhan Sorong jika sudah selesai dibangun.

PELABUHAN ROTTERDAM BELANDA
Seluas inilah Pelabuhan Sorong jika sudah selesai dibangun.

Masih ingat janji Jokowi di masa kampanye Cepres 2014? Salah satu gagasannya untuk membangun tol laut. Dan gagasannya itu diungkap dalam acara debat capres yang ditayangkan secara live di salah satu stasiun televisi swasta.

Tol laut adalah solusi Jokowi untuk menjawab keluhan mengenai tingginya harga kebutuhan pokok masyarakat Papua. Harga semen di wilayah paling timur Indonesia itu mencapai Rp 1,5 juta per zak. Demikian juga harga BBM, sembako dan lainnya yang rata-rata empat sampai lima kali lipat dari harga barang yang sama di daerah lainnya.

Dalam sebuah kesempatan Presiden Jokowi mengungkapkan bahwa pembangunan tol laut yang menjadi program andalannya, akan dimulai dari sisi timur Indonesia, tepatnya di Sorong, Papua Barat. Keuntungan membangun pelabuhan di Sorong adalah kemudahan untuk akses keluar masuk barang. Sorong akan menjadi daerah pertama yang dibangun pelabuhan dengan fasilitas deep sea port, karena dari sini dapat langsung berhubungan dengan lautan lepas, sehingga jalur pengiriman barang antar negara semakin mudah.

“Standardnya seingat saya kedalaman lebih 12 meter. Sehingga kapal-kapal besar. Mother vessel-nya bisa masuk ke pelabuhan itu. Secara hitung-hitungan secara global, sehingga kapal itu tidak masuk ke lautan kita,,” jelas Jokowi di Balai Kota DKI Jakarta, Jumat (26/9/2014), sebagaimana dikutip Kantor Berita Antara.

Mengenai dana pembangunan tol laut ini, Jokowi tidak akan menganggarkan dana terlebih dahulu dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Sebab pembangunannya akan diserahkan pertama kali kepada PT. Pelabuhan Indonesia (Pelindo). “Oh ndak, itu nanti urusan Pelindo, sudah nggak usah pakai APBN bisa,” tutupnya.

Rencana presiden ini, senada dengan Ketua Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Danang Parikesit mengusulkan pelabuhan-pelabuhan di bagian timur Indonesia dijadikan sebagai gerbang masuk barang-barang impor. Menurut Danang, ada beberapa pelabuhan yang dapat dijadikan pintu masuk barang-barang impor tersebut. Pelabuhan-pelabuhan itu diantaranya, Pelabuhan Sorong di Papua dan Bitung di Sulawesi Utara.

“Kawasan timur Indonesia seharusnya dijadikan pintu masuk kapal yang membawa barang-barang impor dari Eropa, Asia dan Australia,” ujar Danang, dalam keterangan tertulisnya seperti dilansir kompas.com, Kamis (25/9/2014).

Danang menyebutkan bahwa kedua pelabuhan tersebut, yaitu Pelabuhan Sorong di Papua, dan Bitung, Sulawesi Utara, bisa dijadikan pintu masuk bagi 14.000 kapal yang setiap harinya keluar masuk di wilayah Indonesia.

Langkah tersebut, dinilai oleh Danang, akan berdampak positif bagi distribusi barang di Indonesia. Pertama, membuat distribusi terjadwal; kedua mengurangi biaya distribusii; dan ketiga, mendorong transportasi dari darat ke laut. “Target kita ambisius, meruntuhkan dominasi Malaysia dan Singapura,“ ujar Danang.

Menurut Danang, gerbang masuk kapal-kapal barang dari Eropa kebanyakan melalui kedua negara di kawasan Asia Tenggara tersebut.

Sebagaimana sering diberitakan, mahalnya biaya logistik di Indonesia Timur menjadi tugas berat pemerintah selama ini. Sebenarnya, tahun lalu Menteri Perdagangan Gita Wiryawan, sudah mewacanakan untuk membangun pelabuhan khusus untuk impor di Sorong, agar menekan harga barang beredar.

“Bagaimana kalau dibangun pelabuhan transhipment saja di wilayah Timur di Sorong. Agar kedatangan barang-barang diseluruh dunia itu masuk ke timur, misalnya kita bangun di Sorong,” ungkap Gita saat acara workshop logistik dengan tema “Tantangan dan Peluang Logistik Indonesia Menghadapi Pasar Global” di Auditorium Kementerian Perdagangan, sebagaimana ditulis oleh detikfinance.com, Rabu (10/4/2013).

Hal tersebut tentunya bukan tanpa alasan. Menurut Gita, dengan masuknya barang dari timur akan ada keseimbangan pada perdagangan dalam negeri. “Agar nanti perdagangannya dari timur ke barat dan dari barat pasti akan membawa barang yang sangat dibutuhkan kawan-kawan kita di sebelah timur,” jelasnya.

Dengan begitu menurutnya, dapat mengatasi biaya logistik yang terlalu mahal. Dimana, menurut Gita juga akan mengatasi disparitas harga yang sering terjadi. “Ini akan sangat membantu untuk pengurangan biaya logistik,” cetusnya.

Namun, Gita juga menyatakan persoalan ini sangatlah tidak mudah, posisinya sebagai Menteri Perdagangan, tidak cukup kuat untuk melakukan inisiasi. “Tapi nggak bisa segampang gitu, harus secara bersama dan memerlukan biaya, tentunya ini diluar poksi kementerian perdagangan yang hanya bisa ngurusin masalah bawang,” ujarnya saat itu.

PT Pelindo II atau sekarang bernama Indonesian Port Corporations (IPC), sudah merencanakan pembangunan Pelabuhan di Sorong, Papua Barat. Pelabuhan ini dirancang sebagai pelabuhan bertaraf internasional yang diharapkan dapat menjadi pelabuhan pengumpul (Hub Port) bagi daerah di sekitar Papua, sekaligus menjadi pelabuhan transit (transshipment port) bagi lintasan jalur perdagangan Asia Timur menuju Australia, dan negara-negara di Kepulauan Pasifik Barat.

“Tahap I pelabuhan Sorong akan dibangun di Pulau Teleme. Nantinya, akan ada dermaga sepanjang 500 meter, dengan lapangan penumpukan seluas 24 hektar. Pelabuhan tersebut merupakan pelabuhan internasional berkapasitas 500 ribu TEUs setahun,” kata Direktur Utama IPC, RJ Lino.

Sebagai gambaran, pelabuhan Sorong akan jauh lebih besar daripada pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya. Pelabuhan Sorong akan mampu melayani kapal yang bisa membawa 3.000 kontainer, sedangkan pelabuhan Tanjung Perak yang besar itu, baru bisa dimasuki kapal dengan kemampuan mengangkut 1.300 kontainer.

Sejatinya, sejak pertengahan 2013 pelabuhan ini sudah bisa beroperasi jika saja IPC diperkenankan mulai membangun sejak 2011. Pelabuhan tersebut juga diharapkan dapat menjadi contoh pelabuhan yang dikelola secara profesional sejak awal. “Sebab, kami akan mengelola pelabuhan itu dari awal secara profesional. Tak lagi sekadar pembenahan belaka,” ujar Lino kepada jurnalmaritim.com, 12 Juli 2014.

Luas lahan yang dipatok juga tak main-main. Pemerintah Kabupaten Sorong disebut telah menyanggupi permintaan IPC dengan menyediakan lahan seluas 7.500-10.000 hektar. Areal seluas itu setara dengan luas Pelabuhan Rotterdam di Belanda, pelabuhan terbesar di Eropa dan kedua tersibuk di dunia, setelah Shanghai, Cina.

Lokasi pembangunan pelabuhan, tepatnya berada di Pulau Teleme, Kecamatan Seget, Kabupaten Sorong, Provinsi Papua Barat. Lokasi tersebut dikatakan masih berjarak 100 kilometer dari Pelabuhan Kota Sorong.

Pulau Teleme adalah pulau tak berpenghuni yang dipisahkan selat selebar 200 meter dari daratan Papua. Di kecamatan Seget sendiri, tidak terlihat banyak kampung, sehingga memudahkan relokasi untuk dibangun kawasan industri.

Selain itu, perairan sekitar Teleme memiliki kedalaman sekitar 18-30 meter, sehingga ideal bagi kapal kargo bermuatan ribuan hingga puluhan ribu TEUs. “Dengan kedalamannya di atas 18 meter, pelabuhan ini dapat menampung kapal-kapal berukuran besar hingga 100 ribu DWT,” papar Zuhri Iriansyah, pemimpin proyek pembangunan Pelabuhan Sorong.

Dengan tambahan lahan seluas 7.500-10 ribu hektar diharapkan dapat tumbuh kawasan Industri baru di Indonesia bagian Timur, khususnya Papua. Selain itu, adanya pelabuhan juga dapat memperkuat konektivitas antar pulau di Indonesia yang selama ini terputus untuk wilayah Papua, karena terbatasnya infrastruktur pelabuhan memadai.

Semoga dengan terealisasinya pelabuhan ini, harga semen di Papua sudah tidak lagi 20 kali lipat dari harga semen di Jawa. Industri secara bertahap juga dapat berpindah ke daratan Papua, yang selama ini hanya menumpuk di Pulau Jawa.

Sebagai presiden negeri maritim ter-besar di dunia, Presiden Jokowi sudah mengikrarkan Jalesveva Jayamahe, di Laut Justru Kita Jaya. Pelabuhan Sorong adalah langkah pertama paling strategis untuk menuju kejayaan Indonesia di masa depan. (red/jemmy)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s