Pendzoliman Hak Rakyat Miskin di Desa Watugede, Kecamatan Puncu, Kabupaten Kediri

MISTUN, wanita janda berusia 70 tahun

MISTUN, wanita janda berusia 70 tahun

Kediri (Sergap) – Semrawut dan carut-marutnya Program Raskin (beras-miskin) pada tahun anggaran 2014 yang ada di Kabupaten Kediri, masih saja marak dan berkelanjutan. Program sosial yang bertujuan untuk meringankan kebutuhan sehari-hari warga tidak mampu tersebut, sungguh tidak mencerminkan pelaksanaan Pedoman 6T, yaitu Tepat sasaran penerima manfaat, Tepat jumlah, Tepat harga, Tepat waktu, Tepat adminitrasi, dan Tepat kualitas layak konsumsi.

Bukan hanya itu, pungutan liar (pungli), yang dikait-kaitkan dengan pembagian Raskin juga dilakukan oleh oknum-oknum yang terlibat dalam proses pembagiannya. Misalnya penarikan iuran dengan dalih sebagai ongkos angkut beras, karena Raskin harus dibagikan ke dusun-dusun. Juga ongkos poles beras, yang katanya agar berasnya lebih putih dan mutunya semakin baik.

Mistun, warga Desa Watugede, Kecamatan Puncu, Kabupaten Kediri, kepada Tabloid Sergap mengatakan, Raskin yang diterimanya jauh dari gambaran beras yang layak untuk dikonsumsi. “Berasnya jelek, banyak yang hancur serta warnanya kekuning-kuningan setengah hitam. Banyak yang hancur (menir ), mas…”, kata Mistun, wanita janda berusia 70 tahun, saat ditemui di rumahnya.

Mistun juga mengaku, jatah Raskinnya dikurangi, dari yang sebelumnya 10 Kg sebulan, menjadi hanya 5 Kg sebulan. “Itupun beratnya kalau saya timbang lagi, kurang dari 5 Kg”, kata Mistun menambahkan.

Harga yang harus dibayar oleh Mistun Rp. 9.000 per Kg dengan tambahan iuran Rp. 1.000,- per Kg. saat ditanya untuk keperluan apakah tambahan Rp. 1.000,- per Kg tersebut, Mistun mengatakan tidak tahu. “Pokoknya 5 Kg, saya bayarkan Rp. 50.000,- ke Pak RT”, kata Mistun dengan nada polos.

Tentang harga ini, lain lagi yang ditemukan Tabloid Sergap di Dusun Karanganyar, Desa Watugede, Kecamatan Puncu. Seorang warga yang namanya tak mau disebut, mengatakan bahwa dirinya harus membayar Rp. 12.000,- per Kg Raskin yang diterimanya.

“Saya benar mas menerima 5Kg dan saya harus membayar Rp.12.000,- per Kg ke Pak RT. Kenapa ya, dalam satu desa harga kok tidak sama?”, tanyanya kepada Tabloid Sergap.

Dalam rangka menjawab pertanyaan warga tersebut, Tabloid Sergap berupaya menemui Kepala Desa Watugede, Joko Winarno, Kamis (16/10/2014). Namun, Pak Kepala Desa tak ada ditempat.

Kepala Urusan Kesejahteraan (Kaur Kesra) Desa Watugede, yang semestinya mengetahui seluk beluk Raskin, karena menyangkut kesejahteraan warganya, justru mengatakan bahwa urusan Raskin ditangani Kepala Desa. Bahkan pamong wanita yang namanya minta dicatat sebagai Bu Denok ini, juga menolak untuk menjawab maupun memberi keterangan. “Maaf, tentang Raskin Tanya ke Pak Kades, tapi pak Kades sedang tak ada di kantor,” kata Bu Denok.

Akankah manipulasi terhadap hak-hak rakyat miskin ini akan terus terjadi? Di saat Presiden Jokowi mengumandangkan Revolusi Mental, sepantasnya jika oknum-oknum tak bertanggungjawab itu berhenti mendzolimi hak rakyat miskin. Apalagi beras adalah kebutuhan pokok rakyat miskin untuk menyambung hidupnya sehari-hari. (Yus)

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s