Kumuhnya Pasar Besar Setonobetek Kota Kediri

Pasar Besar Setonobetek berada di tengah Kota Kediri

Pasar Besar Setonobetek berada di tengah Kota Kediri

Pasar Setonobetek menempati lahan yang sebelumnya adalah lapangan sepakbola seluas 36.717m2 adalah sebuah pasar tradisional yang tergolong pasar besar. Pasar paling luas lahannya dibandingkan dengan 9 pasar tradisional lainnya di Kota Kediri. Namun pasar besar ini, kondisinya saat ini sungguh memprihatinkan. Jorok, kumuh, pengap dan bau anyir di dalamnya, sungguh tidak menggambarkan sebuah pasar yang pantas dan layak untuk melakukan transaksi jual beli yang paling tidak mendekati nyaman. Mengapa pasar yang diresmikan oleh Gubernur Jawa Timur pada tanggal 7 Februari 1981 ini menjadi sedemikian buruk kondisinya? Berikut laporannya.

Pasar Besar Setonobetek adalah pasar besar yang diresmikan oleh Gubernur Jawa Timur

Pasar Besar Setonobetek adalah pasar besar yang diresmikan oleh Gubernur H. Soenandar Prijosoedarmo

Kediri (Sergap) – Dengan kondisi yang sedemikian buruknya, maka wajarlah jika menimbulkan akibat buruk pula bagi para pedagang yang berada di dalamnya. Tabloid Sergap menelusuri pasar yang lokasinya di tengah Kota Kediri ini, mulai dari pintu gerbang depan hingga ke belakang, untuk mendapatkan informasi langsung dari baik pedagang maupun pengunjung. Semua nama yang ditulis, atas permintaan nara sumber adalah bukan nama yang sebenarnya.

Selasa siang (09/09/2014) yang cerah itu, jarum jam baru menunjukkan pukul 11.45 WIB. Namun suasana pasar tradisional yang terletak di jalan Patimura ini tampak lengang sebagai sebuah pasar besar. Tak banyak mobil dan motor yang terparkir di area parkir yang cukup luas ini. Depot “Suko Marem” yang dulu merupakan ciri khas pasar ini rupanya sudah tak buka lagi cukup lama. Hal ini nampak dari bangunannya yang tak terawat dan sampah yang dibiarkan menumpuk begitu saja. “Sudah kira-kira 5 bulan tidak buka pak”, kata juru parkir saat ditanya Tabloid Sergap.

Depot Sukomarem yang identik dengan Pasar Besar Setonobetek itu sekarang tutup.

Depot Sukomarem yang identik dengan Pasar Besar Setonobetek itu sekarang tutup.

Sebelah selatan depot terdapat kios-kios yang menjual pakaian. Susanti (30), penjual pakaian dalam wanita, mengatakan pasar ini sedikit ramai hanya di pagi hari. “Jam 12.00 seperti ini pasar sudah sepi. Sore juga sepi pak, dan ini sudah berlangsung kira-kira 4 tahunan”, katanya.

Saat ditanya penyebabnya, ia menjawab pasar ini sudah terlalu tua bangunannya. Jadi sudah tidak menarik lagi. “Kalau hujan parkiran ini juga banjir, gotnya berbau tak sedap, mungkin itu penyebabnya ya. Coba lihat ke dalam, banyak kios yang tutup pak. Sepi sih…pedagangnya pada rugi…”, katanya.

Ketika Tabloid Tabloid Sergap masuk ke dalam, memang benar banyak kios yang tertutup rapat. Jika dilihat dari debu yang tebal menempel di situ, tampaknya kios-kios tersebut sudah lama tidak digunakan oleh para pemiliknya.

Puluhan kois tutup di Zona Konfeksi

Puluhan kios tutup di Zona Konfeksi

Wiwit, wanita paruh baya penjual konfeksi mengatakan teman-temannya pedagang ada yang sudah bangkrut dan ada yang tidak berjualan lagi di pasar, tapi masih menggunakan kiosnya sebagai tempat menyimpan barang. “Teman-teman berjualan di luar pak. Misalnya kalau ada pameran atau ada buka giling. Hanya buka kios kalau menjelang hari raya saja”, kata wanita berjilbab ini menjelaskan.

Sementara itu aroma anyir tak sedap terus saja menyerang hidung, padahal jarak dengan zona ikan basah dan ayam masih sekitar 100 meter. Ketika mendekat, bau itu tentunya semakin menyengat.

Penjual ayam, yang minta dipanggil Bu Khoir mengatakan bahwa dirinya sudah terbiasa dengan bau itu, jadi tak berpengaruh lagi baginya. Tapi ada pemandangan menjijikkan ketika tikus-tikus sebesar kelinci wara-wiri di siang hari bolong dan tak takut dengan manusia.

Bau anyir, pengap dan tikus-tikus sebesar kelinci berkeliaran di siang hari.

Bau anyir, pengap dan tikus-tikus sebesar kelinci berkeliaran di siang hari.

“Tikusnya memang banyak pak, bekal makanan ditinggal ke toilet sebentar saja pasti dimakan tikus. Makanya bekal makanan saya tempatkan keranjang,” kata Bu Khoir sambil menunjukkan keranjang dari plastik tertutup rapat tempat dia menyimpan bekal makan siang.

Makin ke belakang, kondisi pasar semakin kumuh, pengap dan gelap. Siang hari banyak lampu yang dinyalakan. Kesimpulannya, Pasar Besar Setonobetek yang legendaries, yang dulu buka 24 jam, kini sudah lenyap.

Yang ada adalah tempat kumuh dan tak sehat bagi orang-orang yang ada di dalamnya. Bagaimana mungkin proses jual beli bisa terjadi dalam kondisi menyedihkan ini. Ketika diperhatikan, ternyata pengunjung lebih suka belanja pada pedagang-pedagang yang menggelar tikar di luar bangunan pasar, di luar halaman samping timur beratapkan langit terbuka. Pedagang berkiospun sebagian ikut berjualan dengan cara itu.

Kumuh, kotor, pengap dan gelap di Zona Palen (P&D)

Kumuh, kotor, pengap dan gelap di Zona Palen (P&D)

Bisa dibilang, para pedagang di Pasar Besar Setonobetek itu telah turun derajat. Dari pedagang mapan berjualan di kios, menjadi padagang kali lima yang menggelar tikar. Sungguh ironis, ini terjadi di sebuah pasar yang berstatus Pasar Besar.

Zahinar Dian, Koordinator Pasar Besar Setonobetek saat ditemui di kantornya tak membantah bangunan induk pasar itu sudah tua dan tidak memenuhi syarat kenyamanan dan kebersihan, namun dia tak mau disebut membiarkan hal itu terjadi. “Kami punya 7 orang tenaga kebersihan, dan untuk perbaikan kecil-kecil seperti talang bocor dan sebagainya, kami harus mengusulkan dulu ke pusat, yaitu PD Pasar. Saya hanya koordinator yang memutuskan pusat. Bangunan induk memang sudah berusia 33 tahun, tapi kami berusaha merawatnya”, kata Dian menjelaskan.

ZAHNIAR DIAN Koordinator Pasar Besar Setonobetek.

ZAHNIAR DIAN
Koordinator Pasar Besar Setonobetek.

Tentang pasar yang sepi di saat jam 12.00 siang, Dian mengatakan pasar ini ramai saat pagi hari. “Jam 07.00 atau jam 08.00 pasar sudah sepi. Tapi pemasukan restribusi trendnya masih naik walaupun persentasenya relatif kecil,” kata pria yang mengaku baru jadi koordinator sejak awal tahun 2014.

Ditemui di kantornya, Direktur Perusahaan Daerah (PD) Pasar Kota Kediri, Drs. H. Saiful Yazin, MM mengatakan bahwa perbaikan untuk Pasar Besar Setonobetek harus secara total. “Perbaikan atau rehab kecil-kecil tidak akan menyelesaikan masalah secara tuntas di Pasar Setonobetek. Sejak tahun 2010, sembilan pasar di Kota Kediri dikelola oleh Perusahaan Daerah Pasar, jadi Pemerintah Kota Kediri sudah tidak memberikan kontribusi kepada Perusahaan Daerah. Bahkan kita diwajibkan untuk memberi pemasukkan untuk PAD (Penghasilan Asli Daerah, red). Karena keuangan perusahaan belum mampu melakukan pembenahan skala besar, kami membuat terobosan untuk dapat dana dari Kementrian Perdagangan,” kata Yasin menjelaskan. Tahun 2009 pernah mengajukan melalui Dinas Perindagtamben, namun tidak berhasil, dan sudah diajukan lagi melalui Dinas Koperasi dan UKM. “Insya Allah, kalau semuanya lancar, tahun depan ada realisasi,” tambahnya.

Terkait dengan perawatan pasar, Yasin mengatakan bahwa saat ini masalah itu berat baginya. “Untuk bayar gaji karyawan dan operasional perusahaan, kami sudah mampu. Namun untuk perawatan harus menyesuaikan dengan kemampuan keuangan, sehingga harus diberlakukan skala priotitas, karena pasar lain juga membutuhkan perawatan,” katanya.

H. SAIFUL YAZIN Direktur PD Pasar Kota Kediri

H. SAIFUL YAZIN
Direktur PD Pasar Kota Kediri

Namun sebagai Direktur PD Pasar Kota Kediri, H. Saiful Yazin percaya bahwa Pasar Besar Setonobetek masih menyimpan potensi ekonomi. “Pasar Setonobetek sudah merupakan trade merknya Kota Kediri dan potensinya masih sangat menjanjikan,” katanya menutup wawancara dengan Tabloid Sergap.

Pasar tradisional merupakan tempat bertemunya penjual dan pembeli serta ditandai dengan adanya transaksi penjual pembeli secara langsung dan biasanya ada proses tawar-menawar, bangunan biasanya terdiri dari kios-kios atau gerai, los dan dasaran terbuka yang dibuka oleh penjual maupun suatu pengelola pasar. Kebanyakan menjual kebutuhan sehari-hari seperti bahan-bahan makanan, pakaian maupun jasa.

Pasar modern tidak banyak berbeda dari pasar tradisional, namun pasar jenis ini penjual dan pembeli tidak bertransakasi secara langsung melainkan pembeli melihat label harga yang tercantum dalam barang (barcode), berada dalam bangunan dan pelayanannya dilakukan secara mandiri (swalayan) atau dilayani oleh pramuniaga. Barang-barang yang dijual, sebagian besar adalah barang yang dapat bertahan lama. Contoh dari pasar modern adalah hypermart, pasar swalayan (supermarket), dan minimarket.

Pasar tradisional tidak harus identik dengan kotor, kumuh dan kesemrawutan. Di kota-kota besar, pasar tradisional ada di dalam gedung bertingkat nan megah, seperti Pasar Tanah Abang di Jakarta dan Pasar Atoom di Surabaya. Yang membedakan hanyalah cara transaksinya, di pasar tradisional ada tawar-menawar dan di pasar modern harganya pas.

Namun tak dapat dipungkiri, pasar tradisional lebih memberikan kesempatan kepada pedagang kecil dan menengah. Mulai penjual dawet sampai restoran, penjual sumbu kompor sampai penjual kulkas, tukang sepuh emas sampai salon kecantikan dapat mengais rejeki di sini. Di sebuah pasar tradisional semua strata ekonomi dapat mengembangkan potensinya. Bukan hanya pedagang yang bermodal kuat saja. Jadi sila keadilan sosial dapat terwujud.

Pasar fungsinya adalah memberi fasilitas perdagangan sehingga memungkinkan terjadinya distribusi dan alokasi sumber daya dari dan kepada masyarakat. Pasar mengizinkan semua item yang diperdagangkan untuk dievaluasi dan mendapatkan harga.

Menurut proses terjadinya, sebuah pasar dapat muncul karena spontanitas atau sengaja dibangun oleh interaksi manusia untuk memungkinkan pertukaran hak (kepemilikan) jasa dan barang. Secara historis, seringkali dari sebuah pasar, secara fisik berkembang menjadi komunitas, bahkan kemudian menjadi cikal bakal sebuah kota.

Pasar Besar Setonobetek, dulunya merupakan pindahan dari tiga pasar. Yaitu Pasar Panjonan di Kelurahan Jagalan dan Pasar Pon di Kelurahan Pakelan serta Pasar Sepeda di Kelurahan Singonegaran.

Pasar Panjonan menempati bagian depan, menyediakan kebutuhan pangan dan pakaian, sedangkan Pasar Pon dan Pasar Sepeda yang menyediakan kebutuhan material logam bangunan dan spare parts kendaraan, menempati bagian belakang yang kemudian juga menyediakan burung kicau dan ikan hias, sehingga lebih dikenal sebagai pasar burung.

Dengan sejarah yang panjang ini, maka menjadi kewajiban Pemerintah Kota Kediri melalui instansi terkait untuk memulihkan kembali kejayaan Pasar Besar Setonobetek sebagai sentra ekonomi kebanggaan masyarakat Kota Kediri dan sekitarnya.

Akankah Pemkot Kediri di bawah kepemimpinan Walikota Abdullah Abu Bakar dan para wakil rakyat yang baru saja dilantik di DPRD Kota Kediri peduli dengan Pasar Besar Setonobetek? Ataukah hanya memperbanyak mall dan minimarket di Kota Kediri? Dari situ kita bisa lihat kadar kepedulian para pejabat itu kepada rakyat kecil. (tkr)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s