Misteri Situs Gunung Padang

ICON Lapsus wpSitus Megalithic Gunung Padang masih menyimpan misteri. Penyelidikan terhadap situs ini juga belumlah selesai. Namun penemuan-penemuannya, membuat kita tercengang, karena secara ilmiah terbukti lebih tua dibandingkan peradaban Mesopotamia, lembah Sungai Indus, China, Mesir, dan Yunani yang selama ini dianggap sebagai induk peradaban manusia modern. Benarkah Nusantara kita ini merupakan pusat peradaban dunia?

87 lipsus misteri g padangSitus Gunung Padang merupakan situs prasejarah peninggalan kebudayaan Megalitikum di Jawa Barat. Tepatnya berada di perbatasan Dusun Gunung Padang dan Panggulan, Desa Karyamukti, Kecamatan Campaka, Kabupaten Cianjur. Lokasi dapat dicapai 20 kilometer dari persimpangan kota kecamatan Warungkondang, di jalan antara Kota Kabupaten Cianjur dan Sukabumi.

Luas kompleks situs ini ±900 m², terletak pada ketinggian 885 m dari permukaan laut, dengan areal situs sekitar 3 ha, menjadikannya sebagai kompleks punden berundak terbesar di Asia Tenggara. Pada bagian Pendahuluan dalam buku Peninggalan Tradisi Megalitik di Daerah Cianjur, Jawa Barat , susunan Haris Sukendar, tertulis :

“Penemuan kembali bangunan berundak oleh tiga petani, Endi, Soma dan Abidin di Gunungpadang yang dilaporkan kepada Kepala Seksi Kebudayaan Kabupaten Cianjur R. 87 lokasi situsAdang Suwanda pada tahun 1979,  telah menggugah para arkeolog untuk mengadakan penelitian. Bangunan ini telah dicatat oleh N.J. Krom pada tahun 1914, tetapi penelitian yang intensif belum pernah dilaksanakan. Pada tahun 1979 tim Puspan yang dipimpin oleh D.D. Bintarti mengadakan penelitian  di daerah tersebut. Selajutnya pada tahun 1980 diadakan pula penelitian ulang yang dipimpin oleh R.P. Soejono.

Dr. N.J. Krom sudah menulisnya pada tahun 1914 dalam Rapporten Oudheidkundige Dienst tahun 1914 (Laporan Layanan Kepurbakalaan), sebagai berikut : “Op dezen bergtop nabij Goenoeng Melati vier door trappen van ruwe steenen verbonden terrassen, ruw bevloerd en met scherpe opstaande zuilvormige andesict steenen versierd. Op elk terras een heuveltje (graf), met steenen omzet en bedekt en voorzien van twee spitse steenen.”

Sumber lain yang menyebutkan keberadaan Situs Gunung Padang adalah sebuah buku berjudul Oudheden van Java yang disusun oleh R.D.M. Verbeek dan diterbitkan oleh Landsdrukkerij pada tahun 1891, atau 23 tahun sebelum laporan yang dibuat oleh N.J. Krom.

Rogier Diederik Marius Verbeek

Rogier Diederik Marius Verbeek

Rogier Diederik Marius Verbeek (1845-1926) adalah orang pertama yang melakukan penelitian tentang gunung Krakatau yang dimulainya 7 minggu setelah letusannya yang yang mengguncang dunia itu pada 27 Agustus 1883. Hasil penelitiannya yang mendalam ini dibukukan dengan judul Krakatau (Government Printing Office, Batavia, 1886) dan masih menjadi acuan utama untuk penelitian-penelitian tentang gunung  Krakatau selanjutnya.

Buku Oudheden van Java ini merupakan kumpulan catatan tentang artefak-artefak peninggalan kebudayaan Hindu di Java. Di sini telah disebutkan mengenai keberadaan situs Gunung Padang berdasarkan kunjungan dan laporan oleh De Corte pada tahun 1890.

Catatan itu diberi sub judul Goenoeng Padang, District Peser, afdeeling Tjiandjoer, Blad K. XIII yang kutipannya sebagai berikut :  “Op den bergtop Goenoeng Padang, nabij Goenoeng Melati, eene opeenvolging van 4 terrassen, door trappen van ruwe steenen verbonden, met ruwe platte steenen bevloerd en met talrijke scherpe en zuilvormige rechtopstaande andesietsteenen versierd. Op ieder terras een heuveltje, waarschijnlijk een graf, met steenen omzet en bedekt, en van boven met 2 spitse steenen voorzien. In 1890 door den heer De Corte bezocht.”

Buku Oudheden van Java

Buku Oudheden van Java

Kurang lebih terjemahannya  adalah : “Di puncak Gunung Padang, di dekat Gunung Melati, sebuah undakan yang terdiri dari 4 buah teras dihubungkan oleh jalan setapak berbahan batu kasar, batu datar yang diatur, lalu berhenti pada kolom andesit yang disusun berdiri. Pada gundukan teras mungkin terdapat sebuah kuburan yang ditutupi oleh batu2an dan di atasnya terdapat dua buah batu tajam, (seperti yang dilaporkan) kunjungan De Corte pada tahun 1890.

Melihat salinannya ternyata tidak jauh berbeda dengan yang ditulis dalam laporan N.J. Krom. Jadi kemungkinannya, N.J. Krom mencatat menggunakan bahan dari buku Verbeek ini namun tanpa menyebutkan sumber baik Verbeek maupun De Corte sehingga lama dikira bahwa penemuan pertama situs Gunung Padang adalah sesuai dengan catatan N.J. Krom, tahun 1914.

Lokasi situs ini berbukit-bukit curam dan sulit dijangkau. Kompleksnya memanjang, menutupi permukaan sebuah bukit yang dibatasi oleh jejeran batu andesit besar berbentuk persegi. Situs ini dikelilingi oleh lembah-lembah yang sangat dalam. Tempat ini sebelumnya memang telah dikeramatkan oleh warga setempat. Penduduk menganggapnya sebagai tempat Prabu Siliwangi, raja Sunda, berusaha membangun istana dalam semalam.

Bukit buatan manusia

Pada bulan Sejak Maret 2011, Andi Arif, Staf Khusus Presiden Bidang Bantuan Sosial dan Bencana, membentuk Tim Peneliti Katastrofi Purba, yang melakukan survei gempa bumi untuk melihat aktifitas sesar aktif Cimandiri yang melintas dari Pelabuhan Ratu sampai Padalarang melewati Gunung Padang.

Andi Arief

Andi Arief

Ketika tim melakukan survei bawah permukaan Gunung Padang diketahui tidak ada intrusi magma. Kemudian tim peneliti melakukan survei bawah permukaan secara lebih lengkap dengan metodologi geofisika, yakni geolistrik, georadar, dan geomagnet di kawasan situs tersebut.

Hasilnya, semakin meyakinkan bahwa Gunung Padang sebuah bukit yang dibuat atau dibentuk oleh manusia. Pada November 2011, tim yang dipimpin oleh Dr. Danny Hilman Natawidjaja yang terdiri dari pakar kebumian ini semakin meyakini bahwa Gunung Padang dibuat oleh manusia masa lampau yang pernah hidup di wilayah itu.

Hasil survei dan penelitian kemudian dipresentasikan pada berbagai pertemuan ilmiah baik di tingkat nasional maupun internasional, bahkan mendapat apresiasi dari Prof. Dr. Oppenheimer.

Kemudian Tim Katastrofi Purba menginisiasi pembentukan tim peneliti yang difokuskan untuk melakukan studi lanjutan di Gunung Padang, di mana para anggota penelitinya diperluas dan melibatkan berbagai bidang disiplin ilmu dan berbagai keahlian.

Dr. Ali Akbar

Dr. Ali Akbar

Sebut saja misalnya Dr. Ali Akbar seorang peneliti prasejarah dari Universitas Indonesia, yang memimpin penelitian bidang arkeologi; Pon Purajatnika, M.Sc, memimpin penelitian bidang arsitektur dan kewilayahan; Dr. Budianto Ontowirjo memimpin penelitian sipil struktur dan Dr. Andang Bachtiar seorang pakar paleosedimentologi, memimpin penelitian pada lapisan-lapisan sedimen di Gunung Padang.

Seluruh tim peneliti itu tergabung dalam Tim Terpadu Penelitian Mandiri (TTRM) Gunung Padang yang difasilitasi kantor Staf Khusus Presiden Bidang Bantuan Sosial dan Bencana. Menariknya seluruh pembiayaan penelitian dilakukan secara swadaya para anggota tim peneliti.

Berbagai temuan tim terpadu penelitian mandiri Gunung Padang ini akhirnya dilakukan uji radiometrik karbon (carbon dating, C14). Hasil uji karbon pada laboratorium Beta Miami, di Florida AS, menemukan bahwa karbon yang didapat dari pengeboran pada kedalaman 5 meter sampai dengan 12 meter itu berusia 14.500-25.000 tahun.

Itu artinya, peradaban di Situs Gunung Padang lebih tua dari peradaban Mesopotamia dan Pyramid Giza di Mesir, yang selama ini dipercaya sebagai peradaban tertua di dunia. Sehingga temuan Situs Gunung Padang yang hingga saat ini masih dalam proses penelitian tersebut, bisa mengubah peta peradaban dunia.

Prof. Danny Natawidjaja

Prof. Danny Natawidjaja

Koordinator TTRM Gunung Padang, Prof. Danny Natawidjaja juga mengatakan, “Peradaban dunia yang dikenal manusia itu ‘kan yang majunya baru sekitar 6.000 tahun, Mesopotamia, kemudian yang di Mesir, (Piramida) Giza itu, yang 2.500-2.800 tahun Sebelum Masehi. Itu yang dianggap sebagai peradaban tertua di dunia. Kalau kita bilang Gunung Padang usianya 13.000 tahun, tumbang semua. Itu tentunya akan menjadikan kita (Indonesia) yang menjadi pusat peradaban di masa lalu.”

Prof. Danny Hilman Natawidjaja juga mengatakan, berdasarkan penelitian yang dilakukan selama ini terlihat bahwa susunan batu pada Situs Gunung Padang sudah cukup maju. Susunan batu tersebut mirip dengan teknologi Situs Machu Pichu di Peru. Menurut Danny, yang lebih mengejutkan dari penemuan Situs Gunung Padang ini yaitu umur susunan batu yang berbeda-beda dari setiap lapisannya.

Situs Machu Pichu di Peru

Situs Machu Pichu di Peru

Lapisan teratas berumur lebih muda, yaitu 500 tahun Sebelum Masehi, ada pula lapisan yang berumur 7.000 tahun Sebelum Masehi. Bahkan, jika dihitung hingga lapisan terbawah, Situs Gunung Padang diperkirakan usianya sekitar 13.000 tahun.

“Gunung Padang itu suatu monumen yang besar. Punden berundaknya yang lapisan pertamanya itu tingginya sampai 100 meteran, jadi luasnya 150 hektar, yang jelas 10 kali lebih besar dari bangunan Candi Borobudur”, kata Prof. Danny menambahkan.

Cawan raksasa dan ruang kosong

Dengan teknologi geolistrik, tim menemukan struktur high resistivity (batuan keras) berbentuk seperti cekungan atau “cawan raksasa” di perut Gunung Padang.  Posisi cawan ini kira-kira sekitar 100 meter dari puncak, atau setara level tempat parkir di permulaan tangga untuk naik ke situs.

Kejutan lain yang membuat para ahli terperangah adalah penampakan tiga tubuh “very-high resistivity” di bawah situs.  Dalam konteks struktur di sekitarnya, yang paling mungkin penampakan itu adalah ruang kosong atau chamber.

Perkiraan perbandingan Candi Borobudur dan Situs Gunung Padang

Perkiraan perbandingan Candi Borobudur dan Situs Gunung Padang

Apa fungsi kamar itu belum terjawab. Danny mengatakan, perlu penelitian lanjutan membongkar fungsi kamar besar itu. “Belum bisa diketahui karena tidak ada catatan. Tim tidak ingin berspekulasi sebelum bisa membukanya,” katanya.

Apapun itu, naluri keilmuwan tim menuntut rahasia itu dikuak. “Kami ingin membuka tabir chamber ini. Kami tidak peduli isinya apa, karena dengan terkuaknya chamber (kamar, red), apapun misteri akan bisa dipecahkan,” kata ahli gempa LIPI itu. Selain memperkuat kesimpulan awal, tim juga mencari jalan masuk ke ruang itu.

Tak sekedar ruang kosong, hasil survei geomagnet memperlihatkan anomali magnetis yang tinggi di beberapa lokasi.  Salah satunya persis di samping struktur yang diduga chamber besar. Untuk diketahui, anomali magnetis tinggi bisa berasosiasi dengan timbunan barang-barang terbuat dari bahan metal atau logam.

Anggota tim lainnya, Dr Boediarto Ontowirjo mengatakan, dari survei pencitraan bawah permukaan yang sudah dilakukan, ada indikasi struktur bangunan tidak hanya setinggi 15  meteran di bagian atasnya saja, tapi sampai setinggi 100 meteran ke bawahnya, sampai level parkir-pintu masuk. Atau bahkan sampai 300 meteran ke Level Sungai Cimanggu.

“Ini memang masih perlu survei yang lebih komprehensif. Tapi kalau ternyata hal ini benar, maka dia sesuatu yang “truly extraordinary”,” kata dia. Singkatnya, Situs Gunung Padang ini bukan produk artefak dari masyarakat purba yang masih primitif. Ia adalah produk peradaban tinggi, mahakarya arsitektur dari zaman pra-sejarah.

Semen purba

Yang lebih mengejutkan adalah ditemukannya material pengisi di antara batu-batu kolom ini. Bahkan di antaranya ada batu kolom yang sudah pecah berkeping-keping, namun ditata dan disatukan lagi oleh material pengisi, atau kita sebut saja sebagai semen purba.

Makin ke bawah kotak gali, semen purba ini terlihat makin banyak, dan merata setebal ±2 cm di antara batu-batu kolom. Selain di kotak gali, semen purba ini juga sudah ditemukan pada tebing undak antara teras satu dan dua, dan juga pada sampel inti bor dari kedalaman 1 sampai 15 meter dari pemboran yang dilakukan oleh tim pada tahun 2012 lalu di atas situs.

Dr. Andang Bachtiar

Dr. Andang Bachtiar

Ahli geologi tim yang juga pembina pusat Ikatan Ahli Geologi Indonesia pusat, Dr. Andang Bachtiar mengatakan, berdasarkan hasil analisis kimia yang dilakukannya pada sampel semen purba dari undak terjal teras satu ke dua, menemukan fakta lebih mengejutkan lagi. Ternyata material semen ini mempunyai komposisi utama 45% mineral besi dan 41% mineral silika. Sisanya adalah 14% mineral lempung, dan juga terdapat unsur karbon. Ini adalah komposisi bagus untuk semen perekat yang sangat kuat.

Barangkali ia menggabungkan konsep membuat resin, atau perekat modern dari bahan baku utama silika, dan penggunaan konsentrasi unsur besi yang menjadi penguat bata merah. Tingginya kandungan silika mengindikasikan semen ini bukan hasil pelapukan dari batuan kolom andesit di sekelilingnya yang miskin silika.

Kemudian, kadar besi di alam, bahkan di batuan yang ada di pertambangan mineral bijih sekalipun umumnya tak lebih dari 5% kandungan besinya, sehingga kadar besi “semen Gunung Padang” ini berlipat kali lebih tinggi dari kondisi alamiah.

Oleh karena itu dapat disimpulkan material di antara batu-batu kolom andesit ini adalah adonan semen buatan manusia. Artinya, teknologi masa itu kelihatannya sudah mengenal metalurgi. Doktor Andang menjelaskan, bahwa satu teknik umum untuk mendapatkan konsentrasi tinggi besi adalah dengan melakukan proses pembakaran dari hancuran bebatuan dengan suhu sangat tinggi. Mirip pembuatan bata merah, yaitu membakar lempung kaolinit dan illit untuk menghasilkan konsentrasi besi tinggi pada bata tersebut.

Metalurgi purba

Indikasi adanya teknologi metalurgi purba ini diperkuat lagi dengan ditemukannya segumpal material seperti logam sebesar 10 cm oleh tim Ali Akbar pada kedalaman 1 meter di lereng timur Gunung Padang. Material logam berkarat ini mempunyai permukaan kasar berongga-rongga kecil dipermukaannya. Diduga material ini adalah adonan logam sisa pembakaran (“slug”) yang masih bercampur dengan material karbon yang menjadi bahan pembakarnya, bisa dari kayu, batu bara atau lainnya. Rongga-rongga itu kemungkinan terjadi akibat pelepasan gas CO2 ketika pembakaran. Tim akan melakukan analisa lab lebih lanjut untuk meneliti hal ini.

Tim Ahli sedang melakukan pengeboran

Tim Ahli sedang melakukan pengeboran

Yang tidak kalah mencengangkan adalah perkiraan umur dari semen purba ini. Hasil analisis radiometrik dari kandungan unsur karbonnya pada beberapa sampel semen di bor inti dari kedalaman 5 – 15 meter yang dilakukan pada 2012 di Laboratorium bergengsi BETALAB, Miami, USA pada pertengahan 2012 menunjukan umur dengan kisaran antara 13.000 sampai 23.000 tahun lalu. Kemudian, hasil carbon dating dari lapisan tanah yang menutupi susunan batu kolom andesit di kedalaman 3-4 meter di Teras 5 menunjukkan umur sekitar 8700 tahun lalu.[18]

Sebelumnya hasil carbon dating yang dilakukan di laboratorium BATAN dari pasir dominan kuarsa yang mengisi rongga di antara kolom-kolom andesit di kedalaman 8-10 meter di bawah Teras lima, juga menunjukkan kisaran umur sama yaitu sekitar 13.000 tahun lalu.

Fakta itu sangat kontroversial karena pengetahuan secara umum sekarang belum mengenal atau mengakui ada peradaban (tinggi) pada masa se-purba ini, di manapun di dunia, apalagi di Nusantara yang konon masa pra-sejarahnya banyak diyakini masih primitif walaupun alamnya luar biasa indah dan kaya, sementara di wilayah tandus gurun pasir Mesir orang bisa membuat bangunan piramida yang sangat luar biasa itu. Tapi fakta di Gunung Padang berbicara lain. Rasanya bukan mustahil lagi bangsa Nusantara mempunyai peradaban yang semaju peradaban Mesir purba, bahkan pada masa yang jauh lebih tua lagi.

Struktur bangunan dari susunan batu-batu kolom berdiameter sampai 50 cm dengan panjang bisa lebih dari 1 meter ini sudah sangat spektakuler karena bagaimanakah masyarakat purbakala dapat menyusun batu-batu besar yang sangat berat ini demikian rapi dan disemen pula oleh adonan material yang istimewa.

Ini hasil penelitian dan ekskavasi arkeologi yang dilakukan pada bulan Agustus 2012, Maret 2013, dan terakhir Juni-Juli 2013. Bahkan sebenarnya lapisan kedua ini sudah terlihat ketika penggalian arkeologi yang dilakukan oleh Balai Arkeologi Bandung tahun 2005, hanya waktu itu disalah-tafsirkan sebagai batuan dasar alamiah (quarry) karena belum ditunjang oleh penelitian geologi yang komprehensif dan tidak ditunjang oleh survei geofisika bawah permukaan.

Lapisan kedua ini juga disusun oleh batu-batu kolom andesit yang sama dengan yang diatasnya namun susunannya terlihat lebih rapi dan kelihatannya menggunakan semacam material semen atau perekat.

Semen purba ini mempunyai komposisi 45% mineral besi, 40% mineral silika dan sisanya mineral lempung dan sedikit karbon. Komposisi ini tidak bisa ditafsirkan sebagai tanah hasil pelapukan batuan atau hanya merupakan infiltrasi material yang dibawa air ke dalam tanah.

Hasil analisa umur dengan radiokarbon dating dari beberapa sampel bor menunjukkan bahwa umur lapisan budaya di bawah permukaan ini adalah sekitar 4.700 tahun SM atau lebih tua.

Sampai lapisan kedua saja sudah cukup alasan agar Situs Gunung Padang menjadi prioritas nasional dan benar-benar ditangani secara sangat serius untuk menjadi proyek pemugaran situs kebanggaan nasional.

Terlebih lagi temuan ini adalah hasil kerja bangsa sendiri tanpa bantuan pihak asing. Penemuan lapisan budaya kedua ini sudah akan merubah sejarah tidak hanya Indonesia dan Asia Tenggara tapi sejarah peradaban dunia!

Peradaban tinggi di masa lalu

Tim peneliti yang bergabung dalam TTRM, mulai disorot saat meneliti Gunung Sadahurip di Garut, Jawa Barat, yang diduga sebagian kalangan mengandung bangunan piramida di bawahnya.

Awalnya, soal dugaan piramida di Sadahurip itu pernah diungkap Yayasan Turangga Seta. Itu adalah lembaga yang peduli kegemilangan sejarah nenek moyang di masa lalu.

Selain Sadahurip, Turangga Seta juga menyebut adanya piramida di Gunung Lalakon, Soreang, Bandung, Jawa Barat. Keraguan pun muncul. Apalagi, Turangga Seta dianggap memadukan unsur mistis dalam pencarian piramida, dengan istilah keren yang mereka pakai: parallel existence.

Bantahan  tajam diungkap oleh ahli geologi, Sujatmiko. Di Bandung, dia mengatakan bentuk piramida dari Gunung Sadahurip adalah hasil alamiah. Sadahurip, kata Sujatmiko, adalah gunung jenis cumulo dome yang terbentuk dari aliran lava, batuan intrusif, dan piroklastik. Pro dan kontra pun kian ramai.

Btuan megalitik berserakan di Gunung Padang, diperkirakan merupakan reruntuhan bangunan ritual berusia hingga 13.000 SM

Batuan megalitik berserakan di Gunung Padang, diperkirakan merupakan reruntuhan bangunan ritual berusia hingga 13.000 SM

Menjawab hal itu, Prof Danny mengatakan tujuan tim bukanlah berburu piramida. Mereka meneliti siklus bencana, yang terjadi di Nusantara sejak masa lalu. Dalam penelitian itu, tim juga menelisik jejak peradaban lama yang musnah akibat bencana. Itu penting, kata Danny, agar pola mitigasi bencana dipahami.  “Tim ini terbentuk, bukan dibentuk. Kami juga hanya difasilitasi dalam melakukan penelitian ini,” ujar Danny Hilman.

Itu sebabnya, mereka menelisik dari Banda Aceh di ujung Sumatera, Batujaya di Karawang, dan Trowulan di Jawa Timur. Temuan sejumlah penelitian itu membuat  para peneliti itu percaya ada peradaban tinggi di Indonesia di masa lalu. “Raflles pernah bilang, kerajaan di Sumatera dan Jawa lebih mundur dari pendahulunya,” ujar Danny, mengutip Sir Thomas Stamford Bingley Raffles (1781-1826), Gubernur Hindia Belanda di abad ke-19.

Sedangkan Gunung Padang, kata Danny, adalah ‘kompleks bangunan’ besar terletak di dekat patahan Cimandiri, sebuah patahan aktif. Sebagai bekas peradaban megalitikum, mereka ingin melihat adakah bencana purba menghancurkan peradaban di gunung itu. Pengeboran di Gunung Padang dilakukan setelah hasil survei geolistrik, geomagnet, dan georadar. Hasilnya: ada tanda-tanda tak alamiah di bawah permukaan Gunung Padang.

“Mungkin selama ini arkeolog meneliti berdasarkan ‘what you see is what you get’. Tapi di geologi berbeda. Kami harus melakukan pengeboran agar mendapatkan apa yang tak terlihat di permukaan,” kata Danny Hilman.

Andang Bachtiar mengatakan tak begitu peduli anggapan orang yang menyebut timnya mencari piramida. “Masih terlalu dini juga menyebut piramida,” ujarnya. Andang berharap penelitian lanjutan akan terus dilakukan di Gunung Padang. “Ini memang dari dana kami sendiri, karena itu hasilnya masih terbatas. Alat yang digunakan pun masih pinjaman, karena itu hanya bisa mengebor sampai kedalaman sekitar 25 meter,” tutur peraih gelar Master of Science dari Geology Department, Colorado School of Mines di Amerika Serikat pada 1991 ini.

Untuk menjernihkan pelbagai tudingan, Danny Hilman dan Andang Bachtiar mengungkap hasil penelitian Tim itu pada acara diskusi di Gedung Krida Bhakti, Sekretariat Negara, Jakarta, Selasa, 7 Februari 2012. Di acara ini, keduanya memaparkan tujuan, metode, dan hasil penelitian awal mereka.

Struktur piramida?

Dikatakan, hasil survei georadar, geolistrik dan geomagnet di Gunung Padang diketahui adanya struktur bangunan besar dan masif.  Ini juga terbukti dengan pengeboran geologi. “Kami menemukan struktur batuan hingga kedalaman 20 meter. Ada seperti sesuatu yang dipangkas,” kata Danny Hilman.

Andang Bachtiar mengatakan hal serupa, “Ini constructed. Dari kedalaman 18 meter ke atas, ini merupakan bangunan. Jadi bukan sesuatu yang natural.” Di acara diskusi ini, tim kemudian menyorot teknologi konstruksi bangunan.

Sebelumnya, ada dugaan batu itu terbentuk secara alami dari proses vulkanik, yaitu columnar joint basalt. Tapi menurut Andang, dugaan itu gugur. Soalnya, columnar joint basalt tidak ditemukan di sekitar situs Gunung Padang.

Hal menarik lain dari penelitian tim itu adalah cara bangunan ini disusun. Dari temuan bebatuan yang menjadi pemisah Teras 1 dan Teras 2, terlihat ada bahan perekat menyambung bangunan. “Ini bukan pelapukan andesit, tapi semacam semen purba,” Andang menambahkan.

Ada dugaan kuat, jika bangunan purba itu menerapkan semacam teknologi penahan gempa. Ini terlihat dari adanya lapisan buatan yang materinya adalah pasir. “Ini hasil ayakan sangat halus, dan jelas bukan terbentuk secara alami,” jelas Andang. Pasir ditemukan dalam satu lapisan, di kedalaman 8 hingga 10 meter. “Ini seperti teknologi yang mampu menahan gempa”.

Lebih tua dari Machu Picchu

Tim juga menjelaskan hasil carbon dating yang dilakukan terhadap sisa akar tanaman dan sisa arang bekas pembakaran, yang didapat dari hasil pengeboran. Menurut Danny Hilman, hasil carbon dating memperlihatkan bahwa situs Gunung Padang berasal dari 6.700 tahun lalu. “Berarti sekitar tahun 4.700 Sebelum Masehi,” tutur Danny.

Carbon dating adalah analisis kimia yang digunakan untuk menentukan umur bahan organik berdasarkan konten mereka dari radioisotop karbon-14, yang dapat dipercaya bisa mendeteksi umur bahan organik  sampai dengan 40.000 tahun.

Jika hasil carbon dating itu tepat, hasil ini terbilang menakjubkan. Artinya, di masa prasejarah, sudah dikenal teknologi bangunan maju di wilayah nusantara. “Ini seperti Machu Picchu, di Peru. Tapi ini berasal dari abad yang jauh lebih tua. Bisa jadi teknologi Machu Picchu juga berasal dari sini,” kata Danny menambahkan. Machu Picchu diperkirakan berasal dari abad 14 atau 15.

Ilmuwan lain menyambut baik temuan ini. Arkeolog Universitas Indonesia, Ali Akbar, misalnya, mengatakan perlu dilakukan penelitian lanjutan untuk melihat konteks hasil pengeboran dengan lapisan budayanya. “Ambil sampelnya di mana, kedalaman berapa ditemukan pasir itu. Apa ada hal serupa di titik lain. Ini perlu diketahui lagi untuk mengetahui konteks lapisan budaya dengan bangunannya,” ujar Ali Akbar. “Sebaiknya dicek lagi di teras lain,” lanjutnya.

Pusat peradaban dunia

Dugaan tentang struktur apa yang dikandung di Gunung Padang menarik didiskusikan. Ahli kompleksitas Hokky Situngkir, menyebut adanya kemungkinan bentuk piramida kecil di Gunung Padang. Dengan metode kompleksitas, Hokky mencari dugaan keterkaitan Gunung Padang dengan situs megalitik lain.

Dari perspektif Arkeo-Geografi, Hokky mereka-reka suatu struktur piramida kecil yang dapat dicocokkan dengan lanskap geografis Gunung Gede. Struktur piramida ini sendiri sekarang terlihat reruntuhannya di Teras 1, yang ada di Gunung Padang.

Mengenai bentuk piramida,  perdebatan masih mencuat: apakah Gunung Padang bukit buatan berbentuk piramida (piramidal), atau ia hanya struktur bangunan akibat kontur geografis gunung yang terbentuk secara alami.

Danny Hilman menyebut Gunung Padang adalah buatan manusia (man-made) hingga kedalaman 20 meter. Namun, kesimpulan ini dibuat dengan catatan pengeboran baru dilakukan hingga kedalaman sekitar 25 meter. Danny yakin bukit ini tak terbentuk alamiah. “Ada yang bilang ini gunung purba, tapi saya melihat tidak ada intrusi magma,” ujar Danny.

Ahli geologi Awang Satyana mengatakan struktur punden berundak punya bentuk sama dengan piramida berjenjang atau step pyramid. “Piramida adalah bangunan yang semakin kecil mendekati puncak,” jelas Awang. Dia mencontohkan Borobudur yang juga punya struktur piramida.

Arkeolog UI Ali Akbar juga mengatakan model piramida sudah dikenal sejak masa prasejarah di Indonesia. “Tapi bukan seperti di Mesir. Di sana kan bangunan di tanah datar yang ditumpuk ke atas,” kata Ali Akbar. “Di Indonesia bentuknya seperti punden berundak yang biasa ambil lokasi di gunung alami. Sehingga batu yang dibutuhkan tidak sebanyak yang di Mesir. Jadi lebih memanfaatkan alam,” jelasnya.

Ali menambahkan, ekskavasi Gunung Padang bakal makan waktu lama. Pelan-pelan, sedikit demi sedikit lapisan tanah disingkap, agar batu yang ada tak bergeser. “Kami harapkan ini bisa ditindaklanjuti oleh para pemangku kepentingan. Bisa dibayangkan, saat Borobudur ditemukan kondisinya sama, tertutup tanah, ditumbuhi pohon-pohon. Butuh puluhan tahun untuk membukanya, lalu dipugar, dan baru bisa dinikmati. Itu kerja besar yang melibatkan berbagai disiplin ilmu. Kecanggihan teknologi memudahkan pengungkapan,” kata Ali Akbar.

Dalam buku Eden In The East, Oppenheimer menyimpulkan bahwa Indonesia merupakan pusat peradaban dunia

Dalam buku Eden In The East, Oppenheimer menyimpulkan bahwa Indonesia merupakan pusat peradaban dunia

Heboh piramida ini juga menarik ahli asing, semisal Profesor Stephen Oppenheimer, seorang mahaguru dari Universitas Oxford Inggris. Penulis buku laris “Eden in The East” ini pernah mengatakan kawasan Nusantara sebagai daerah peradaban tinggi di masa lalu.

Eden in The East adalah buku yang memberikan wacana yang berbeda dengan tulisan sejarah yang dianut selama ini. Sejarah selalu mencatat bahwa induk peradaban manusia modern itu berasal dari Mesopotamia, lembah Sungai Indus, China, Mesir, dan Yunani karena wilayah ini menyimpan banyak artefak dan peninggalan tertulis.

Namun, kini, tampaknya orang mulai berpikir ulang sejak kehadiran buku “Atlantis” karangan Arysio Nunes dos Santos yang menyebut Atlantis, yang tenggelam dengan peradaban tingginya, ada di Asia Tenggara. Buku Atlantis kini diperkuat dengan Eden In The East karangan Profesor Stephen Oppenheimer, seorang mahaguru dari Universitas Oxford Inggris. Dalam buku Eden In The East, Oppenheimer menyimpulkan bahwa Indonesia merupakan pusat peradaban dunia.

Artinya nenek moyang bangsa-bangsa di dunia ini atau induk peradaban modern sekarang ini berasal dari Indonesia dan menyebar ke seluruh penjuru Bumi. Dalam teorinya, Semenanjung Malaya, Sumatra, Jawa, dan Kalimantan dulu menjadi satu kesatuan dengan sebutan Sundaland. Karena mengalami banjir berkali-kali akibat melelehnya es di Kutub, wilayah ini terpisah oleh lautan.

Tapi soal piramida, dia mengatakan, perlu hati-hati. Soalnya, sulit membedakan struktur monumen hasil modifikasi manusia, dengan struktur geologis oleh alam. “Anda bisa menghabiskan waktu memburunya dan ternyata kemudian adalah gunung, jelas Anda akan mendapat malu,” lanjut Oppenheimer.

Laporan resmi ke presiden

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menerima laporan Tim Terpadu Riset Mandiri Gunung Padang pada, Sabtu 3 Agustus 2013. Menurut Andi Arief, inisiator Tim, Presiden menyatakan hasil riset ini bisa jadi “Big Bang” atau dentuman besar sejarah Indonesia.

Andi menyatakan, dalam siaran pers melalui akun jejaring sosialnya, secara khusus melaporkan perkembangan hasil riset dan ekskavasi arkeologi, pengeboran, dan tomografi sesmik ke Presiden yang berlangsung sejak awal Juli 2013 lalu. Presiden SBY terus memantau riset ini dan mengatakan bangga terhadap apa yang telah dilakukan oleh para periset dari berbagai lintas ilmu.

“Presiden menyetujui rekomendasi pemugaran di dua lapisan kebudayaan, yaitu lapisan terasering seperti Machu Pichu (lapisan berusia 600 tahun sebelum Masehi) dan lapisan budaya II (4.900 tahun sebelum Masehi). Untuk dua lapis kebudayaan 11.500 SM dan 25.000 SM, Presiden SBY menyebut ini Big Bang sejarah Indonesia,” kata Andi.

Sementara itu, tim geofisika yang melakukan tomografi seismik juga sudah mendapatkan beberapa hal penting yang memperkuat dugaan tentang adanya rongga yang sudah dilakukan pemindaian sebelumnya.

Bahkan ada “bonus” kejutan yang masih harus diselidiki lebih lanjutan dari hasil tomografi seismik. Tim menggunakan hampir semua teknologi dan metode ilmiah yang ada. Dengan kehati-hatian, setiap perkembangan dianalisis serius agar dapat disimpulkan dengan akurat.

Temuan Lengkap TTRM Gunung Padang

Dalam siaran persnya, TTRM menyatakan, penelitian Situs Gunung Padang bukan kasus cagar budaya dan riset biasa. Penelitian Gunung Padang adalah untuk menggali peradaban Nusantara secara multidisiplin dan menggunakan metodologi-teknologi mutakhir di bidang eksplorasi geologi-geofisika. Akumulasi hasil riset TTRM yang dilakukan dalam 2 tahun terakhir berhasil membuktikan bahwa situs ini sangat luarbiasa bahkan di luar yang bisa dibayangkan oleh para penelitinya.

Temuan pertama : Situs megalitik ini berupa struktur teras-teras yang tersusun dari batu-batu kolom basaltik andesit yang terlihat di permukaan bukan hanya menutup bagian atas bukit seluas 50×150 meter persegi saja, tapi menutup seluruh bukit seluas minimal 15 hektare. Hal ini sudah terbukti tanpa keraguan lagi setelah dilakukan pengupasan alang-alang dan pohon-pohon kecil di sebagian lereng timur oleh Tim Arkeologi pada bulan Juli 2013.

Batu-batu kolom penyusun ini berat satuannya ratusan kilogram, berukuran diameter puluhan sentimeter dan panjang sampai lebih dari satu meter. Dapat dibayangkan mobilisasi dan pekerjaan menyusun kolom-kolom batu ini sama sekali bukan hal yang mudah.

Kemudian tim  melakukan lagi uji radiocarbon dating dari sampel tanah di dekat permukaan. Hasilnya menguatkan umur radiokarbon sebelumnya bahwa umur dari situs yang terlihat di permukaan ini adalah dalam kisaran 500 sampai 1000 tahun sebelum Masehi. Jadi lapisan atas Gunung Padang adalah monumen megah bergaya seperti Machu Pichu di Peru tapi umurnya jauh lebih tua dan berada pada masa prasejarah Indonesia.

Temuan ini saja sudah luar biasa karena selain monumen megalitik yang besarnya sampai 10x Candi Borobudur juga umurnya membuktikan sudah ada peradaban tinggi di Indonesia pada masa prasejarah yang selama ini dianggap zaman berbudaya masih sederhana.  Dengan kata lain hal ini akan mengubah sejarah Indonesia dan Asia tenggara.

Temuan kedua : Ada struktur bangunan yang lebih tua lagi, berlapis-lapis sampai puluhan meter ke bawah. Situs megalitik Gunung Padang tidak hanya satu lapisan di permukaan saja, seperti disimpulkan oleh penelitian Balai Arkelogi dan Arkenas sebelumnya. Keberadaan struktur ini sudah diidentifikasi dengan baik oleh survei arkeologi, geologi, pengeboran dan geofisika bawah permukaan.

Struktur lebih tua ini bukannya lebih sederhana tapi kelihatannya malah struktur bangunan besar yang dibuat dengan teknologi yang lebih tinggi  dari kenampakan geometri dinding dan ruang-ruang besar. Struktur ini adalah hasil karya sipil-arsitektur purba yang luar biasa hebat.

Temuan ketiga : Telah membuktikan secara visual keberadaan lapisan budaya kedua yang hanya tertimbun satu sampai beberapa meter di bawah permukaan.

Temuan keempat : Struktur lebih tua yang tertutup oleh lapisan budaya kedua kemungkinan akan lebih fantastis lagi.

Tim menemukan keberadaan dinding dan rongga-rongga besar yang diidentifikasi melalui survei geolistrik berupa zona resistivity yang sangat tinggi (puluhan ribu sampai lebih dari 100 ribu ohm) dan juga terefleksikan oleh citra georadar.

Tim juga sudah melakukan survei tomografi seismik.  Hasilnya mengkonfirmasi adanya dinding dan rongga besar di bawah situs yang dicirikan oleh “low seismic velocity zone”.

Temuan kelima : Pengeboran untuk pengambilan sampel pada bulan Februari 2013 di lokasi yang berdekatan dengan dugaan rongga terjadi “partial water loss” yang cukup besar pada kedalaman 8 sampai 10 meter.

Diduga karena bor menembus ‘tunnel‘ yang berisi pasir.  Pengeboran selanjutnya, pada bulan Ramadan 2012 lalu, lebih mengejutkan lagi karena mengalami  “total water lost” yang sangat banyak sampai 32.000 liter air hilang begitu saja ketika menembus kedalaman yang sama (8-10m).

Kemungkinan besar air mengalir mengisi rongga yang besarnya minimal  32 meter kubik atau 4x4x2 meter. Analisa radiocarbon dating  dari tanah yang menimbun lapisan bangunan berongga ini menunjukkan: Umur 6.700 tahun SM.  Jadi umur dari bangunan berongga ini harus lebih tua dari penimbunnya. Umur 9.600 tahun SM. Pada karbon dalam pasir yang mengisi rongga yang ditembus bor 2. Umur 11.000 sampai 20.000 tahun SM. Hasil radiokarbon dating dari beberapa sampel tanah/semen di antara batu-batu kolom pada kedalaman dari 8 sampai 12 meter.

Walaupun demikian, umur-umur ini sebaiknya diuji lebih lanjut dengan analisa radiokarbon dating atau metoda pengujian umur absolut lainnya yang lebih komprehensif karena angka-angka ini memang “beyond imagination” alias seperti tidak masuk akal karena tidak sesuai dengan pengetahuan sejarah dan perkembangan peradaban manusia yang dipercaya umum pada saat ini.  Oleh karena itu pembuktiannya pun harus ekstra yakin.

Gambar asumsi yang dilaporkan TTRM kepada presiden

Gambar asumsi yang dilaporkan TTRM kepada presiden

Karena itu, TTRM menyimpulkan: 1. Gunung Padang adalah mahakarya arsitektur dari peradaban tinggi kuno yang hilang atau belum dikenal saat ini. 2. Temuan bangunan di bawah Gunung padang adalah “breakthrough“ (terobosan, red) untuk dunia ilmu pengetahuan dan sekaligus dapat menjadi tonggak kebangkitan bangsa dan kebanggaan nasional yang tidak ternilai. 3. Keberadaan ruang-ruang memberi harapan untuk menemukan dokumen atau apapun yang dapat menguak misteri sejarah masa lampau.

Selanjutnya, TTRM merekomendasikan pemugaran situs dan pengembangannya untuk wisata dan pusat kebudayaan. Kemudian dilakukan survei lebih detail menyingkap rongga-rongga di bawah tanah termasuk dengan memakai kamera. (Tkr-dari berbagai sumber)

VIDEO TERKAIT :  GUNUNG PADANG – BEYOND IMAGINATION – MAHAKARYA LELUHUR

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s