Menyanyikan “Oplosan” Eny Sagita Terancam Hukuman 7 Tahun

Eny Sagita dan Nur Bayan

Eny Sagita dan Nur Bayan

Nganjuk (Sergap)Penyanyi dangdut Eni Setyaningsih, (28) alias Eni Sagita asal Desa Pacekulon, Kecamatan Pace, Kabupaten Nganjuk, hari Senin (20/01/2014) dihadapkan di meja hijau karena dituduh melanggar Pasal 72 ayat 1 dan 2 Undang-Undang Nomor 19 tahun 2002 tentang Hak Cipta, karena dianggap telah menyanyikan lagu Oplosan ciptaan Nur Bayan, seorang seniman asal Kediri.

Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejaksaan Negeri (Kejari) Nganjuk Luchas Rohman mengatakan, Eny Sagita yang bernama dijerat dengan pasal pelanggaran hak cipta dengan ancaman hukuman yang cukup berat. Sesuai Undang-Undang Hak Cipta, terdakwa bisa dijatuhi hukuman penjara maksimal 7 tahun serta denda sebesar Rp 5 miliar jika terbukti bersalah. “Terdakwa telah menyanyikan lagu karya orang lain, merekam, kemudian menggandakan tanpa mendapatkan ijin dari penciptanya. Terdakwa terancam hukuman penjara maksimal 7 tahun, serta denda maksimal Rp. 7 milyar,” kata Luchas dalam dakwaannya.

Kasus berawal ketika Nur Bayan melaporkan Eny Sagita ke Polda Jatim, kemudian oleh Polda Jawa Timur dilimpahkan ke Kejaksaan Tinggi (Kejati) Jatim di Surabaya sekitar awal tahun 2013. Karena tempat kejadian perkaranya di wilayah hukum Kabupaten Nganjuk, maka berkas perkara dan barang bukti berupa 8 keping CD yang berisi lagu Oplosan yang dinyanyikan Eni Sagita diiringi Orkes Dangdut Sagita yang dipimpinnya.

“Terdakwa tidak kami tahan, dengan pertimbangan, yang bersangkutan punya anak kecil, berjanji tidak akan melarikan diri, tidak akan menghilangkan barang bukti, dan dijamin oleh orang tuanya,” jelas Lucas Rohman kepada wartawan, usai sidang di Pengadilan Negeri Nganjuk.

Dikonfirmasi terkait kasus dugaan perampasan hak cipta yang melibatkan dirinya, Eni Sagita menuturkan, dirinya merasa tidak bersalah sama sekali. Ia hanya menyanyikan lagu berjudul Oplosan itu saat pentas dalam acara Expo tahun 2011 lalu. Dia mengelak telah dituduh merekam dan menggandakan untuk dijual bebas.

Eni mengakui, saat menyanyikan lagu Oplosan tersebut tidak minta ijin atau menyebutkan penciptanya. Masalahnya, sejak mulai menjadi penyanyi sekitar 1996, Eni tidak pernah minta ijin kepada pencipta lagu-lagu yang dia bawakan. Yang dia lakukan sebagai artis penyanyi, hanyalah menyanyikan lagu-lagu karya orang lain seperti penyanyi-penyanyi lainnya. “Saya tidak tahu kalau harus ijin atau menyebutkan nama penciptanya. Yang menyanyikan lagu Oplosan itu bukan saya saja, penyanyi-penyanyi lain juga menyanyikan, tapi kenapa kok cuma saya saja yang kena,” jelas Eni kepada wartawan.

Penasehat hukum Eny, Bambang Sukoco menambahkan, kasus ini sangat memukul Eny. Selain kewajiban memimpin grup musiknya, dia juga harus menghidupi anak tunggalnya yang saat ini duduk di kelas 3 SD. Sementara sejak tiga tahun lalu dia sudah menjalani pisah ranjang dengan sang suami. “Eny berharap tak dipenjara terkait lagu Oplosan yang dinyanyikannya”, katanya.

Sebelum dikenal masyarakat seperti sekarang ini, lagu tersebut sudah dipopulerkan oleh penciptanya sendiri bersama grup Trio Gimix. Namun demikian, lagu tersebut ternyata tidak begitu populer karena hanya dikenal di kalangan pecinta kesenian jaranan di Kediri. “Lagu itu memang bentuk aslinya musik jaranan,” kata Bambang.

Sejak itu pula, banyak penyanyi lain yang menyanyikannya secara bebas. Salah satunya adalah Eny yang kerap membawakannya dalam bentuk Dangdut Koplo bersama Orkes Dangdut Sagita. Dan tanpa diduga, lagu tersebut meledak hingga dinyanyikan para artis di stasiun televisi. Lagu tersebut bak mengulang ketenaran Iwak Peyek yang juga pernah Eny populerkan. “Harusnya Nur Bayan berterima kasih kepada Eny,” Bambang menambahkan.

Masih menurut Bambang, hingga kini pihak Nur Bayan selaku pelapor juga belum bisa membuktikan bahwa lagu tersebut adalah ciptaannya, atau setidaknya didaftarkan sebagai hasil kreatifnya. Ini berarti siapa pun bebas menyanyikannya di atas panggung. “Penyanyi lain juga banyak yang menyanyikan, sampai di televisi,” tambah Bambang.

Namun demikian, dia mengakui bahwa kliennya memang bukan pencipta lagu tersebut. Hanya, bukan berarti ketika menyanyikan di panggung dia harus mengajukan izin terlebih dulu kepada penciptanya.

Soal keberadaan keping tersebut, Bambang membantah kliennya melakukan pembajakan. Sebab, hingga kini tak ada upaya sama sekali dari Eny Sagita untuk merekam dan memperjualbelikan lagu itu ke masyarakat. VCD yang beredar merupakan rekaman aksi panggung Eny ketika tampil secara terbuka. Adapun rekaman itu dibuat oleh orang lain yang kemudian memperjualbelikannya.

Lagu Oplosan makin dikenal setelah ditampilkan di acara YKS TransTV. Lirik Oplosan sarat makna yang berisi ajakan untuk menghentikan konsumsi minuman keras yang dicampur (dioplos) dengan kandungan lain hingga meningkatkan kadar alkoholnya di atas kemampuan tubuh. (acs)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s