Siapa Pembunuh Yasser Arafat?

ICON Lapsus wpYasser Arafat,  adalah simbol perjuangan dan nasionalisme Palestina selama hampir setengah abad. Nama lengkapnya adalah Mohammed Abdel Raouf Arafat al-Qudwa al-Hussaeini. Dia lebih dikenal sebagai Yasser Arafat atau Abu`Ammar. Misteri kematian mantan pemimpin Palestian Yasser Arafat kembali menjadi bahan pemberitaan. Pasalnya, temuan terbaru pakar radiofisika dari Univeritas Lausanne, Swiss, Francois Bachud menunjukkan, pemimpin legendaris itu dibunuh menggunakan racun kimia jenis Polonium 210 yang mengandung radioaktif.

86 lipsus cvrHanya beberapa hari sebelum diterbangkan ke Paris, Mohammed Yasser Abdel Rahman Abdel Raouf Arafat alias Yasser Arafat masih sangat bersemangat. Padahal kala itu, akhir Oktober 2004, kondisi tubuhnya sebenarnya sudah jauh melorot. Memorinya hilang-timbul, seiring cuma umurnya yang sudah sepuh, 75 tahun dan penyakit juga semakin sering menghampiri. “Bahkan, dua bulan sebelum kolaps, dia sudah harus dibantu untuk mengikat tali sepatu dan dipapah saat berjalan,” ujar seorang pengawalnya.

Seperti linglung, dia menyantap obat dan vitamin apa saja yang diberikan oleh tamu-tamunya. “Serahkan semuanya kepada Allah,” Arafat menjawab santai saat ditanya pengawalnya mengapa dia menyikat habis semua obat yang tak diresepkan dokter tersebut.

Semua bermula pada 12 Oktober 2004 malam. Hanya empat jam setelah bersantap malam di kantor Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) di Ramallah, Yasser Arafat alias Abu Ammar mengeluh sakit perut dan muntah-muntah. Berulang kali dia harus ke toilet karena mengalami diare berat. Selama lebih dari dua pekan, gejala penyakit itu tak kunjung sembuh.

Arafat yang sakit saat dibawa ke bandara

Arafat yang sakit saat dibawa ke bandara

Berat badan Arafat melorot hampir 4 kilogram. Semula, tim dokter dari Mesir hanya menyangka Arafat terkena flu. Namun kondisinya semakin parah. Pemeriksaan oleh tim dokter Tunisia menemukan trombosit dalam darahnya  terus turun. Tapi dokter tak kunjung bisa menemukan apa penyebabnya. Karena tak juga membaik, dengan pesawat pemerintah Prancis, Arafat diterbangkan ke Paris pada akhir Oktober 2004.

“Aku hanya akan berada di sana dua hari… jangan khawatir, aku akan kembali,” kata Arafat kepada Saeb Erekat, juru runding Palestina. Kondisi Arafat sempat membaik, bahkan dia sudah bisa berjalan-jalan. Tapi, pada 3 November, Arafat malah kolaps dan koma. Dia mengalami perdarahan di beberapa organ dalam tubuhnya. Setelah lebih dari sepekan berjuang, pada 11 November 2004 pagi sembilan tahun lalu, pejuang Palestina itu berpulang.

Menurut hasil penelusuran New York Times setahun kemudian, walaupun sudah melakukan pelbagai tes, termasuk uji keracunan standar, dokter Percy Military Training Hospital, Prancis, tetap tak bisa menyimpulkan apa penyakit yang menyebabkan perdarahan Arafat. “Kasus ini benar-benar sebuah teka-teki besar,” ujar seorang dokter ahli infeksi.

Sejak semula, orang-orang terdekat Arafat sudah curiga bahwa Abu Ammar meninggal bukan karena sakit biasa. “Dia bukan lagi seperti Arafat yang aku kenal,” Ashraf al-Kurdi, dokter pribadinya, menuturkan. “Dia mengeluh sakit perut dan daerah sekitar ginjalnya, juga tak punya selera makan. Kulitnya kekuningan dan ada lingkaran kemerahan di wajahnya. Sebagian besar dokter akan mengatakan kepada kalian bahwa itulah tanda-tanda keracunan. ” Tapi dugaan itu hanya menjadi bahan pergunjingan.

Yasser Arafat diracun

Pada akhirnya, selembar demi selembar, selapis demi selapis teka-teki kematian Yasser Arafat mulai terungkap. Setahun lalu, atas restu dari Suha Arafat, istri Abu Ammar, stasiun televisi Al-Jazeera meminta tim peneliti dari Universitas Lausanne bersama University Center of Legal Medicine, Swiss, dipimpin oleh Francois Bochud menguji catatan medis dan beberapa barang peninggalan Arafat.

Suha Arafat

Suha Arafat

Dalam laporan yang dilansir Huffingtonpost, Selasa (15/10/2012) Francois Bochud dan timnya menemukan fakta mengejutkan. Pengujian terhadap beberapa barang pribadi Arafat, seperti kafiyeh, sikat gigi, dan bajunya, menunjukkan ada jejak Polonium-210. “Aku bisa mengkonfirmasi penemuan Polonium-210 di atas normal pada beberapa barang pribadi Arafat,” kata Francois Bochud, Direktur Laboratorium Fisika Radiasi di Universitas Lausanne, saat itu.

Pada sikat gigi Arafat, mereka menemukan jejak Polonium sebesar 54 millibecquerel. Bahkan, pada noda air kencing di celana dalam Arafat, kadar Poloniumnya mencapai 180 millibecquerel. Padahal, di celana dalam Arafat lainnya, hanya ditemukan Polonium sebesar 6,7 millibecquerel. Unsur Polonium memang bisa ditemukan bebas di alam, tapi, Bochud menyimpulkan, Polonium pada pakaian Arafat bukan berasal dari sumber alamiah.

Melihat hasil uji laboratorium itu, Suha meminta pemerintah Palestina menggali kuburan suaminya dan memeriksa ulang penyebab kematiannya. Makam yang terletak di jalan masuk ke kantor presiden di Ramallah, Tepi Barat, itu ditutup sejak Senin (12/11/2012) sebagai persiapan penggalian.

“Sejak Senin pagi, makam Arafat ditutup sebagai persiapan penyelidikan atas kematiannya,” kata Tawfiq Tirawi, kepala komite penyelidikan Palestina atas kematian Arafat, kepada kantor berita AFP. Penggalian yang dimulai dengan membongkar beton dan keramik di seputar makam diperkirakan berlangsung sekitar 15 hari.

Sampel dari makam Arafat dikirim ke Prancis, Swiss, dan Rusia. “Apa pun hasilnya sangat penting untuk mengetahui kebenaran,” kata Suha saat itu.

Setahun setelah makam Arafat digali, sebagian uji laboratorium itu kelar. Tawfik Tirawi, Kepala Tim Investigasi kematian Arafat yang ditunjuk oleh pemerintah Palestina, mengatakan mereka telah menerima hasil penelitian dari tim peneliti Swiss dan Rusia. Namun hasil tes forensik oleh tim dari Prancis belum sampai ke tangannya.

Francois Bochud dan Patrice Mangin saat jumpa pers

Francois Bochud dan Patrice Mangin saat jumpa pers

Pekan lalu, Al-Jazeera menulis laporan lengkap soal hasil uji forensik tim peneliti Swiss atas sampel dari makam Arafat. Uji forensik lanjutan ini semakin memperkuat hipotesis sebelumnya bahwa Arafat mati karena keracunan polonium-210.

Dalam laporan 108 setebal halaman itu, Patrice Mangin, Francois Bochud, dan timnya memaparkan penemuan jejak polonium pada tulang iga dan panggul Arafat, serta tanah makam Abu Ammar.

Tingkat Polonium pada tulang rusuk Yasser Arafat sekitar 900 millibecquerel atau sekitar 18 atau 36 kali rata-rata radioaktif normal dalam tubuh. Mangin dan timnya 83 persen yakin Arafat meninggal karena keracunan polonium-210.

Dengan semua hasil yang didapatkan tim peneliti Swiss tersebut, Dave Barclay, mantan ahli forensik dan detektif Inggris, juga percaya Arafat memang meninggal karena diracun menggunakan Polonium.

“Hasil penelitian ini menghapus semua keraguan. Sudah terbukti secara ilmiah bahwa Arafat tak meninggal secara alamiah. Bukti ilmiah ini membuktikan bahwa dia mati dibunuh,” kata Suha Arafat pekan lalu. Jari Suha tak menunjuk siapa “tersangka” utama yang meracuni suaminya. Tapi, seperti biasa, Israel menjadi tertuduh pertama.  Selain merupakan seteru terbesar Palestina, agen-agen rahasia Israel punya pengalaman dalam urusan meracuni musuh. Khaled Meshal, salah satu pemimpin Hamas, pernah menjadi korban racun intel Israel.

Dagan Plant

Israel sendiri sejak lama telah berusaha membunuh pemimpin Palestina ini. Komitmen ini disampaikan sendiri oleh Ariel Sharon ketika baru menjabat perdana menteri pada 2001 lalu. Dalam tulisannya di The New Yorker 12 tahun lalu, wartawan Jeffrey Goldberg, mengatakan bahwa Arafat mengaku Sharon 13 kali mencoba membunuhnya.

Jeffrey-Goldberg

Jeffrey-Goldberg

“Sharon menghabiskan waktu dan energinya untuk Arafat. Arafat menghitung sendiri, Sharon mencoba membunuhnya 13 kali. Sharon tidak menghitungnya, tapi dia mengatakan bahwa kesempatan itu selalu muncul,” tulis Goldberg.

“Seluruh pemerintah Israel selama bertahun-tahun, Partai Buruh, Likud, semuanya, berusaha-saya mencoba mencari kata yang sopan untuk pembaca Amerika-memusnahkannya dari peradaban kita. Tapi kami tidak pernah sukses,” ujar Sharon, dituliskan kembali oleh Goldberg.

Global Research tahun lalu menuliskan, pembunuhan Arafat adalah bagian dari Dagan Plant yang dibuat tahun 2001, pada pemerintahan Sharon. Targetnya adalah menghancurkan Otoritas Palestina, memecah belah internal Fatah, maupun antara Fatah dan Hamas.

Dalam tulisan lainnya, pembunuhan Arafat telah menjadi agenda jangka panjang pemerintah Israel. Tanya Reinhart, professor di Universtas Tel Aviv, dalam sebuah tulisannya mengatakan bahwa pembunuhan Arafat telah direncanakan Israel sejak tahun 1996 di bawah “Operasi Medan Berduri.”

Dalam tulisannya berjudul “Evil Unleashed-Israel’s move to destroy the Palestinian Authority is a calculated plan, long in the making”, Pada tahun 2000, Perdana Menteri Israel kala itu, Ehud Barak, mengatakan bahwa “Arafat, pribadi, adalah ancaman besar bagi keamanan negara (Israel) dan kerusakan akibat kehilangannya akan lebih kecil dibanding bencana jika dia tetap ada.”

Akhirnya pada tahun 2003, berdasarkan laporan Michel Chossudovski, professor Universitas Ottawa di Global Research, 7 Maret 2003, Kabinet Israel secara resmi memerintahkan pembunuhan Arafat yang menurut mereka “penghambat perdamaian”.

Israel membantah

Pemerintah Israel membantah berada di balik kematian Arafat. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Israel, Yigal Palmor, malah mengkritik uji forensik sampel dari makam Arafat. “Lebih mirip opera sabun ketimbang sains,” ujarnya.

Yigal Palmor

Yigal Palmor

Menurut Palmor, hanya peneliti Prancis yang netral dalam kasus ini. Sebab, peneliti Swiss dipilih oleh Suha, sementara peneliti Rusia direkomendasikan oleh pemerintah Palestina. Sudah lama diketahui, Suha tak terlalu akur dengan teman-teman seperjuangan Arafat. “Ada banyak bolong dalam teori itu, lebih banyak ketimbang lubang di keju Swiss.”

Menurut Paddy Regan, profesor fisika di Universitas Surrey, Inggris, Polonium-210 hanya punya waktu paruh 128 hari. Padahal sampel itu diambil setelah 8 tahun Arafat dikubur, sehingga sangat sulit untuk menghitung berapa banyak kandungan Polonium saat Abu Ammar berpulang. “Itu seperti orang buta yang memegang ekor gajah dan diminta menaksir berapa berat total gajah itu,” Paddy memberikan analogi.

Sekilas Polonium 210

Biasanya Polonium 210 dihasilkan dalam reaksi di reaktor nuklir. Unsur ini sangat radioaktif dan mematikan. Polonium 210,  250.000 kali lebih beracun ketimbang hidrogen sianida. Sedikit saja terpapar, bisa berujung maut. Jejaknya akan tertinggal di ginjal, hati, dan sumsum tulang. Polonium 210 memiliki waktu paruh 138 hari, artinya setiap 138 hari, tingkat radio aktifnya akan berkurang separuhnya.

Keunggulan Polonium 210 adalah tak berasa dan beraroma, sehingga bisa dicampurkan dengan makanan atau minuman. Pemindai di bandara pun tak mampu mengendusnya. Penggunaan Polonium itu untuk tujuan pembunuhan pernah digunakan dua tahun kemudian atau pada 2006. Korbannya adalah mantan agen rahasia Rusia, Alexander Litvinenko. Hasil investigasi menunjukkan, terdapat kandungan Polonium tinggi pada minuman teh yang diminum Litvinenko di sebuah hotel di London, Inggris sebelum meninggal.

Biografi Yasser Arafat

Mohammed Abdel Rahman Abdel Raouf Arafat al-Qudwa al-Husseini lahir di Kairo, Mesir, 24 Agustus 1929 – meninggal di Paris, Perancis, 11 November 2004 pada umur 75 tahun, adalah seorang pemimpin Palestina dan seorang penerima Penghargaan Nobel.

Yasser Arafat saat remaja

Yasser Arafat saat remaja

Ibu Arafat meninggal ketika dia berusia lima tahun. Jadi, ia dikirim untuk tinggal bersama paman dari pihak ibu di Yerusalem. Sangat sedikit yang diketahui tentang masa kecilnya. Arafat menghabiskan empat tahun di Yerusalem. Kemudian ayahnya membawanya ke Kairo. Di sini, seorang kakak merawatnya dan saudara-saudaranya. Bahkan sebelum ia berusia 17, Arafat adalah seorang penyelundup senjata api ke Palestina. Hal inilah yang akan digunakan melawan Inggris dan Yahudi.

Pada tahun 1947, Arafat masuk ke Universitas Raja Faud I (kemudian berganti nama menjadi Universitas Kairo) dan belajar teknik. Selama bertahun-tahun kuliahnya Arafat mengadopsi nama ‘Yasser’. Dalam bahasa Arab, ‘Yasser’ berarti ‘santai’.

Ketika Yasser berusia 19, perang pecah antara Yahudi dan negara-negara Arab. Yasser meninggalkan universitas dan bersama dengan warga Palestina lainnya, berusaha untuk memasuki Palestina untuk memperjuangkan kemerdekaan Palestina. Tetapi pasukan militer Mesir menolak untuk mengizinkan partisan kurang terlatih untuk memasuki zona perang. Jadi, Yasser Arafat dilucuti dan ditarik kembali oleh pasukan. Ini membuat Yasser putus asa.

Dia mengajukan permohonan visa untuk belajar di University of Texas. Yasser selalu bermimpi untuk tanah air Palestina yang merdeka. J  adi, ia mengembalikan semangatnya dan entah bagaimana kembali ke Universitas Faud (Kairo).

Setelah kembali ke universitas, Arafat bergabung dengan Ikhwanul Muslimin dan menjabat sebagai presiden dari Persatuan Mahasiswa Palestina 1952-1956. Meskipun ia menghabiskan sebagian besar waktunya dalam kegiatan politik, ia berhasil lulus dengan gelar sarjana di bidang teknik sipil dan menjabat sebagai Letnan Dua di tentara Mesir selama Krisis Suez.

Setelah bekerja sebentar di Mesir, Yasser Arafat ditempatkan di Kuwait. Pada awalnya, ia bekerja di departemen pekerjaan umum. Beberapa waktu kemudian, ia berhasil menjalankan perusahaan kontrak sipil sendiri.

Yasser memiliki cukup banyak teman dan pengikutnya. Pada tahun 1958, ia dan teman-temannya mendirikan Al-Fatah, sebuah organisasi yang didedikasikan untuk pembentukan negara Palestina merdeka di tempat Israel dan Yordania (yaitu, Palestina bersejarah). Al-Fatah memiliki sel jaringan bawah tanah rahasia.

Pada akhir tahun 1964, Yasser Arafat telah menjadi seorang revolusioner sepenuhnya. Seiring waktu yang sama, ia meninggalkan Kuwait dan mulai mengorganisir Fatah ke Israel dari Yordania. Serangan ini dimulai dengan usaha yang gagal untuk meledakkan sebuah pompa air Israel. Setelah ini, Al-Fatah meluncurkan puluhan serangan terhadap sasaran sipil Israel dari Yordania, Lebanon dan Mesir-Gaza yang diduduki.

Logo PLO

Logo PLO

Pada tahun 1964, Liga Arab mensponsori pembentukan Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) sebagai alat dalam perang melawan Israel. Ini membawa bersama sejumlah kelompok kerja untuk membebaskan Palestina. Fatah muncul sebagai yang paling kuat dari kelompok yang menyusun PLO.

Ketika kudeta terjadi di Suriah pada tahun 1966, pemimpin baru adalah appointet untuk kepala Fatah, tapi dia dibugkam. Arafat ditangkap oleh Suriah. Namun tak lama, dia dibebaskan. Selanjutnya, ia melarikan diri ke Beirut dengan lingkaran asosiasi dalamnya.

Pada Perang 1967, pasukan Arab harus menghadapi kekalahan memalukan. Akibatnya, PLO memutuskan bahwa hal itu tidak bisa bergantung pada negara-negara Arab untuk mencapai tujuannya dalam menghancurkan Israel. Sementara itu, Fatah telah mendirikan basis di kota Karameh, Yordania. Pada tanggal 18 Maret 1968 ada serangan teroris di sebuah bus sekolah yang penuh anak-anak yang menewaskan dua dan melukai 28. Tiga hari kemudian, Israel menjatuhkan selebaran pada peringatan Karameh dari serangan yang akan datang dan menasihati warga sipil untuk meninggalkan kota.

Tetapi ketika pasukan Israel tiba, mereka bertemu perlawanan tak terduga dari pasukan tentara reguler Yordania. Karena ‘kemenangan’ di Karameh, Arafat memperoleh prestis yang ia butuhkan untuk memberikan pengaruh yang lebih besar atas PLO.

Pertemuan Dewan Nasional Palestina pada tahun 1968 mengadopsi komitmen Fatah untuk membebaskan Palestina dengan perjuangan bersenjata saja. Setahun kemudian, pada tahun 1969 Dewan bertemu lagi. Dan Arafat menjadi ketua komite eksekutif PLO.

Arafat mengembangkan PLO menjadi negara dalam negara Yordania. Itu kekuatan militernya sendiri. Dalam beberapa bulan ke depan, sebagian besar faksi militan Palestina di bawah payung PLO. Jordan menganggap hal ini merupakan ancaman terhadap kedaulatan dan keamanan. Oleh karena itu, ada upaya untuk melucuti senjata milisi Palestina.

Pada tanggal 12 September 1970, militan Palestina terbang dengan tiga pesawat yang dibajaknya ke Yordania dan meledakkan mereka. Empat hari kemudian, Raja Hussein dari Yordania menyatakan darurat militer dan perang saudara pun terjadi. Tentara Yordania mengalahkan pasukan Palestina. Arafat menyamar sebagai pejabat Kuwait dan melarikan diri ke Suriah, dan kemudian ke Lebanon.

Namun, perubahan lokasi tidak mempengaruhi komitmen Arafat untuk beraksi. Pada bulan September 1972, tentara Fatah membunuh 11 atlet Israel pada Olimpiade Munich Games. Pada tanggal 2 Maret 1973, anggota PLO membunuh Cleo Noel, Duta Besar AS untuk Sudan. Pembunuhan ini tidak diragukan lagi untuk menarik perhatian internasional dalam perjuangan Palestina, namun PLO juga dikutuk karena taktik yang brutal.

Meninggalkan terorisme

“Sekarang, Arafat memutuskan untuk mengubah strategi PLO dengan tetap berkomitmen untuk pembebasan Palestina melalui perjuangan bersenjata. Tetapi tidak melalui kegiatan teror yang ketat. Sebaliknya, organisasi memutuskan untuk melakukan perang diplomatik terhadap Israel.

Pada tanggal 13 November 1974, Yasser Arafat tampil di depan PBB. Dia menyatakan, “Hari ini, saya telah datang membawa sebuah cabang zaitun dan pistol pejuang kemerdekaan ini. Dan jangan biarkan cabang zaitun ini jatuh dari tanganku.”. Setelah itu, Arafat mengadopsi diplomatik tingkat tinggi. Lebanon, pada waktu itu, memiliki pemerintah pusat yang lemah. Karena ini, PLO mampu beroperasi hampir sebagai negara merdeka (disebut ‘Fatahland’ oleh Israel).

Pada September 1982, Amerika Serikat memediasi kesepakatan gencatan senjata di mana Arafat dan para pendukungnya dikirim ke Tunisia. Kemudian Tunisia menjadi basis operasi mereka untuk dekade berikutnya.

Pahlawan Bangsa Palestina

Pahlawan Bangsa Palestina

Yasser Arafat adalah pengembara yang luas, bergerak dari satu negara ke negara lain, mempromosikan perjuangan Palestina. Dia dianggap sebagai juru bicara Palestina di dalam dan di luar wilayah. Sebagian besar negara memahami hal ini dan bersedia untuk bekerja dengan Arafat. Tetapi Israel dan Amerika tidak menyetujui hal ini.

Eropa menekankan Israel untuk menerima Arafat sebagai mitra negosiasi. Di sisi lain, Arafat menolak untuk menggunakan teror dalam mencapai tujuannya. Hal ini membuat mustahil bagi setiap politisi Israel pada umumnya untuk memulai pembicaraan dengan Arafat.

Selama tahun 1980, Arafat menerima bantuan dari Irak, dan merekonstruksi PLO yang babak-belur. Gerakannya, serta rincian apapun tentang kehidupan pribadinya, selalu dirahasiakan. Begitu banyak sehingga pernikahannya dengan Suha Tawil, warga Palestina yang berusia setengah dari usianya, terungkap hanya setelah 15 bulan. Pasangan ini dikaruniai seorang anak perempuan, yang bernama Arafat Zahwa.

Sementara itu pada tanggal 13 Desember 1988, PBB menyelenggarakan sesi khusus di Jenewa, Swiss. Yasser Arafat menyampaikan pidato di mana ia menerima 242 Resolusi Dewan Keamanan PBB. Dia menyatakan bahwa PLO telah meninggalkan terorisme dalam segala bentuknya, termasuk terorisme negara. Arafat mendukung ‘hak semua pihak dalam konflik Timur Tengah untuk hidup dalam perdamaian dan keamanan, termasuk negara Palestina, Israel dan tetangga lainnya.

Hadiah Nobel Perdamaian

Gerakan Arafat ini adalah cukup untuk membuka dialog antara PLO dan Amerika Serikat. Prospek untuk perjanjian perdamaian dengan Israel mulai nampak cerah. Pada tanggal 2 April 1989, Arafat terpilih oleh Dewan Nasional Palestina Pusat (badan dari PLO) sebagai presiden Negara menyatakan Palestina, sebuah entitas yang mengklaim seluruh Palestina seperti yang didefinisikan oleh Mandat Inggris.

Dalam Perang Teluk Persia tahun 1991, PLO mendukung Irak. Setelah ini, proses perdamaian dimulai. Selama Konferensi Madrid tahun 1991, Israel melakukan perundingan terbuka dengan PLO untuk pertama kalinya. Ini menyebabkan Persetujuan Oslo tahun 1993. Pada tanggal 13 September 1993, Deklarasi Prinsip antara Israel dan Palestina ditandatangani di Washington, DC.

Saat menerima Nobel Perdamaian

Saat menerima Nobel Perdamaian

Pada tahun 1994, Yasser Arafat mendapat Penghargaan Nobel untuk Perdamaian dengan dua orang Israel, Perdana Menteri Yitzhak Rabin dan Menteri Luar Negeri Shimon Peres. Mereka menerima penghargaan atas upaya bersama mereka untuk membawa perdamaian di Timur Tengah. Namun, penghargaan itu kontroversial dan menghasilkan banyak kritik.

Sekretaris Komite Nobel, Geir Lundestad, mengatakan: “Hadiah Nobel bukanlah pemberian kesucian Ada banyak pemenang dengan hal-hal gelap tentang masa lalu mereka, tetapi mereka telah berhasil meningkatkan diri di atas mereka.”. Sesungguhnya, Arafat, Peres dan Rabin, semua naik di atas prasangka dan permusuhan yang telah memisahkan mereka untuk waktu yang lama.

Pada tanggal 1 Juli 1994, Yasser Arafat tiba di Gaza dan memegang kendali atas entitas Otoritas Palestina sementara yang diciptakan oleh Persetujuan Oslo. Pada tanggal 20 Januari 1996, Arafat terpilih presiden Otoritas Palestina, dengan mayoritas 83 persen.

Sekarang, jelas bahwa Israel juga ingin mencapai kesepakatan damai. Kemudian Presiden Amerika Bill Clinton menyerukan pertemuan puncak dengan Yasser Arafat dan Perdana Menteri Israel Ehud Barak di Camp David pada 11-14 Juli 2000.

Barak siap untuk menawarkan kemerdekaan kepada Palestina. Dia menyarankan serangkaian formulasi untuk menyelesaikan isu-isu utama. Dia bahkan setuju untuk menciptakan sebuah negara Palestina dengan Yerusalem Timur sebagai ibukotanya. Konsesi yang harus dibuat Arafat adalah mengakui kedaulatan Israel atas bagian dari Tembok Barat yang signifikan untuk orang-orang Yahudi. Para perunding Palestina ingin menerima kesepakatan, namun Arafat menolaknya. Akibatnya, Bill Clinton menyalahkan kegagalan KTT pada Arafat.

Dan apa yang diikuti selama beberapa bulan berikutnya adalah serangkaian serangan teror, bom bunuh diri termasuk di Yerusalem dan Haifa. Menteri Pariwisata Israel Rehavam Zeevi dibunuh. Perdana Menteri Israel baru, Ariel Sharon, mengirim pasukan ke markas Arafat pada tanggal 22 Desember 2001, untuk membatasi gerakan di kantornya.

Arafat diisolasi di markasnya di Ramallah selama beberapa tahun. Meskipun ia terus memerintah PA, ia kehilangan posisinya di panggung dunia. Setelah gelombang baru teror, tank-tank Israel meluncur ke kota-kota besar di Tepi Barat pada tanggal 28 Maret 2002, sekitar mereka dan memberlakukan jam malam. Langkah ini disebut ‘Operasi Perisai Pertahanan. ”

Penurunan popularitas Arafat diperkuat oleh penolakan Israel untuk bernegosiasi dengan dia. Pada tanggal 24 Juni 2002, Presiden Amerika George Bush menggelar rencana yang menyerukan Palestina untuk menggantikan Arafat sebagai pemimpin mereka. Dia mendesak mereka untuk mereformasi institusi pemerintahan dari Otoritas Palestina, mengakhiri terorisme dan mengadopsi prinsip-prinsip demokrasi dan pasar bebas.

Di bawah tekanan internasional, Arafat kemudian diangkat Mahmud Abbas (Abu Mazen) menjadi Perdana Menteri Otoritas Palestina. Tetapi untuk semua tujuan praktis, Arafat mempertahankan otoritas atas semua pengungkit utama kekuasaan, khususnya, layanan keamanan. Dalam keadaan frustrasi, Abbas mengundurkan diri dan digantikan oleh Ahmed Korei (Abu Alaa). Tetapi bahkan Ahmed Korei tidak mampu untuk mengambil alih kontrol Otoritas Palestina dari Arafat.

Secara bertahap, Yasser Arafat telah menjadi simbol dari gerakan nasional Palestina. Dia selalu terlihat pada seragam untuk kekuatan proyek dan komitmennya terhadap perjuangan bersenjata. Kaffiyeh-nya (sorban) akan disampirkan di bahunya dengan cara yang unik, dalam bentuk Palestina.

Selama hari-hari terakhirnya, Arafat gagal dalam menjaga kesehatan. Dia juga selamat dalam upaya pembunuhan oleh beberapa badan-badan intelijen Israel (Mossad) selama bertahun-tahun, serta kecelakaan di sebuah pesawat saat badai pasir di gurun Libya pada 7 April 1992. Dia bahkan telah pulih dari stroke yang serius.

Yasser Arafat dikabarkan akan menderita penyakit Parkinson. Pada bulan Oktober 2004, kondisinya menjadi lebih buruk. Israel setuju untuk mengizinkan dia untuk dipindahkan ke sebuah rumah sakit di Paris pada tanggal 29 Oktober. Istrinya tinggal di sisinya sampai ia meninggal pada tanggal 11 November 2004, pada usia 75.

Setelah kematiannya, tubuh Arafat diterbangkan dari Paris ke Kairo, di mana upacara diadakan untuk menghormatinya dihadiri oleh banyak pejabat asing. Sisa waktu Arafat kemudian diterbangkan ke Ramallah di mana ia dimakamkan di kuburan dekat markasnya. (Tkr, dari berbagai sumber)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s