Kelompok Tani “Sri Rejeki” dan Pupuk Organik “Maju Jaya”

Anjali Cahya

Anjali Cahya

Kediri (Sergap) – Kompos merupakan hasil fermentasi (dekomposisi) dari bahan-bahan organik seperti tanaman, hewan, atau limbah organik lainnya organik yang telah mengalami dekomposisi atau fermentasi. Kompos yang digunakan sebagai pupuk disebut pupuk organik karena penyusunannya terdiri dari bahan-bahan organik. Bahan yang umum dimanfaatkan sebagai kompos adalah limbah pertanian dan residunya, limbah ternak dan residunya, pupuk hijau, tanaman air, limbah industri padat dan cair, limbah rumah tangga dan sampah.

Penampilan atau sifat fisik Kompos dan Humus tidak berbeda. Perbedaannya hanya terletak proses terbentuknya. Kompos terbentuk dengan adanya campur tangan manusia, sedangkan  humus terbentuk secara alami.

Kelompok Tani “Sri Rejeki” Dusun Kandangan, Desa Pagu, Kecamatan Pagu, Kabupaten Kediri yang berdiri sejak tahun 1970, sudah memproduksi pupuk organik ini. Berawal pada tahun 2010 ketika mendapat bantuan 1 unit Granulator yaitu mesin cetak yang membuat pupuk menjadi butiran. Disusul dengan turunnya 1 paket bantuan berupa unit pengolahan pupuk organic, rumah kompos, kandang sapi beserta ternaknya berjumlah 35 ekor, APPO (Alat Pembuat Pupuk Organik) dan satu kendaraan Tossa.

“Dari situ kami bisa mengembangkan, kami bisa memenuhi kebutuhan kelompok tani yang mengalami kesulitan pupuk. Kelompok tani sekarang tidak terlalu repot, karena bisa membuat pupuk sendiri”, kata Anjali Cahya Sekretaris Kelompok Tani “Sri Rejeki ” kepada Tabloid Sergap.

Pada tahun yang sama beberapa kelompok tani di Jawa Timur mendapatkan hibah, membuat jaringan se Jawa Timur yang diberi nama Jaringan Majapahit. Ada 95 kelompok tani yang juga mendapat hibah dari Pemprov Jatim di wilayah Kabupaten Kediri jaringannya diberi nama JP40 Maju Jaya.

“Di Kabupaten Kediri jaringan JP40 Maju Jaya ini saya ketuanya. Tugas jaringan adalah membina dan mendampingi kelompok tani agar bisa membuat pupuk dengan benar”, kata Anjani menuturkan.

Tentang Kelompok Tani “Sri Rejeki”, setelah mendapatkan bantuan APPO, mempunyai unit usaha, unit ekonomi yang dinamakan UPPO (Unit Pengolahan Pupuk Organik) Sri Rejeki. Di samping memenuhi kebutuhan kelompok tani sendiri, hasil produksi pupuk organik ini dititipkan di kelompok tani di sekitaranya.

“Untuk wilayah Kecamatan Pagu, sudah mulai berjalan. Kalau yang pemasaran keluar, biasanya  kelompok tani Sri Rejeki hanya berdasarkan pesanan saja, seperti wilayah Madiun, Ponorogo, Nganjuk, Jombang, Tulung Agung, dan Blitar”, kata Anjali menjelaskan.

Pupuk Maju Jaya menggunakan Mikro Organisme Lokal (MOL)

Pupuk Maju Jaya menggunakan Mikro Organisme Lokal (MOL)

Kelompok Tani “Sri Rejeki” memempunyai SOP (Standart Operasional Produk) yang sudah paten. bahan baku pembauatan pupuk organik adalah 1 ton kotoran sapi, 2 kuintal kotoran kambing, 2 kuintal kotoran ayam, 1 kg katul/dedak, 1 liter tetes, limbah buah–buahan, mikro organisme lokal (MOL).

“Limbah buah–buahan yang dikomposer itu juga di jaual di toko yang biasa disebut CM4. MOL kita juga buat sendiri dengan bahan sisa buah-buahan, air leri (air bekas cucian beras), tetes gula, hati pohon pisang, kulit kelapa yang dicampur dan dikembangkan menjadi satu media yang kita tempatkan di tong plastik. Karena tanah di Kediri kekurangan unsur Mg dan CaCO, maka Kelompok Tani “Sri Rejeki” mengunakan MOL sekitar 20%”, kata Anjali menjelaskan.

Pemupukan dengan pupuk organik untuk tanaman musiman, dapat dilakukan bersamaan saat pengolahan lahan. Pemupukan pada tanaman tahunan, sebaiknya dibenam pada bagian ujung perakaran, dan setiap tanaman umumnya memiliki ujung akar tepat dibawah daun paling ujung dari tanaman tersebut. “Semakin banyak pupuk organik diberikan semakin meningkat kesuburan tanah”, kata Anjali sambil tersenyum.

Pupuk organik "Maju Jaya", siap dipasarkan

Pupuk organik “Maju Jaya”, siap dipasarkan

Dengan pembinaan dari Dinas Pertanian Kabupaten Kediri, Kelompok Tani “Sri Rejeki” mampu eksis dalam menjaga kebutuhan para anggotanya, termasuk dalam penyediaan pupuk organik. Saat ini kelompok tani ini diketuai oleh Rakidi, sekretaris Anjali Cahya dan bendaharanya Sutamin.

Dalam rangka memperingati Hari Tani Nasional yang ke 53, yang diperingati setiap tanggal 24 September, Kelompok Tani “Sri Rejeki” Desa Pagu Kabupaten Kediri adalah sebuah contoh semangat kita untuk berjuang mewujudkan kedaulatan pangan nasional.

Hari Tani Nasional sebagai hari peringatan petani sebagai Pahlawan Pangan ditetapkan oleh Presiden Soekarno, melalui Keputusan Presiden (Keppres) Soekarno tanggal 26 Agustus 1963 No 169/1963.

Pertimbangan untuk memilih tanggal 24 September karena 3 tahun sebelum penetapan melalui Keppres tersebut  merupakan pengesahan Undang–Undang No. 5 Tahun 1960 tentang Undang–Undang Pokok Agraria.

Undang-undang ini merupakan kebangkitan petani dari segi kepemilikan lahan dan pendistribusian lahan yang berkeadilan sesuai dengan UUD 1945 pasal 33 ayat “Bumi, air, dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara, dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat”. (dicky/tkr)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s