Edward Snowden, Mimpi Buruk Amerika Serikat

ICON Lapsus wp

snowden cvr

Edward Joseph Snowden tampil di headline berbagai media massa dunia

Edward Snowden baru berusia 30 tahun, namun telah membuat geger dunia. Dia sebelumnya hanyalah seorang tenaga kontrak, yang bekerja sebagai teknisi komputer di Badan Keamanan Nasional Amerika Serikat (NSA). Snowden terbang dari Hawai menuju Hongkong dengan alasan cuti. Snowden kemudian membocorkan sebagian data yang dimilikinya kepada dua media massa besar The Guardian dan Washington Post, yang menurunkan tulisan tentang penyadapan besar-besaran terhadap jaringan telpon dan internet oleh NSA. Kontan hal ini membuat para petinggi Amerika Serikat kalang-kabut. Selanjutnya Snowden terbang ke Moscow dan mendapatkan suaka untuk tinggal di Rusia. Banyak pengamat berpendapat, peristiwa ini dapat berpotensi menimbulkan Perang Dingin Jilid II antara dua negara adi daya ini.

PENYADAPAN percakapan telepon yang dilakukan oleh NSA (National Security Agency) Badan Keamanan Nasional Amerika Serikat, tak hanya mengguncang Amerika Serikat (AS), namun juga dunia. Kecaman dari berbagai pihak makin meluas karena menunjukkan rentannya hak-hak sipil warga AS dan siapapun yang terlibat pembicaraan telpon dengan warga AS.

Skandal yang melukai hak sipil ini terkuak setelah harian Inggris, The Guardian, Edisi Rabu, 5 Juni 2013 menurunkan tulisan terkait dokumen rahasia mengenai perintah pengadilan kepada operator telepon Verizon agar menyerahkan metadata percakapan kepada NSA. Verizon adalah salah satu operator telepon terbesar di AS.

Metadata itu meliputi nomor telepon kedua pihak, International Mobile Subscriber Identity (IMSI) untuk telepon seluler, nomor telepon yang digunakan, dan durasi waktu panggilan. Data kemudian diserahkan kepada kepada NSA untuk dianalisis. Selain Verizon, diduga NSA juga melakukan hal serupa terhadap operator lainnya. Selama tujuh tahun belakangan, NSA dengan izin pengadilan, telah mengumpulkan jutaan metadata percakapan telepon.

Penyadapan selanjutnya adalah berupa apa yang disebut sebagai Proyek Prism. Proyek Prism adalah proyek intelijen yang diduga melibatkan Badan Keamanan Nasional (NSA) Amerika Serikat dan FBI serta sembilan perusahaan teknologi informasi top di AS.

snowden prism power point

Dokumen dalam format Power Point yang dibocorkan Snowden kepada The Guardian dan Washington Post

Proyek rahasia ini terungkap besar-besaran berkat laporan dari koran The Guardian dan Washington Post. Bermula dari sebuah slide presentasi menggunakan Powerpoint yang memperlihatkan gambaran tentang proyek ini.

Jika ini benar, maka inilah mega skandal informasi di dunia teknologi informasi terbesar dalam abad ini. The Guardian, Edisi Jumat 7 Juni 2013, menulis bahwa NSA memperoleh hak akses langsung ke sistem server dari sembilan perusahaan ternama di AS bahkan di dunia, karena sebagian besar jaringan internet dunia melalui Amerika Serikat yang memang lebih murah biayanya. Akses khusus yang dinikmati NSA itu buah dari program intelijen bernama Prism. Dalam Proyek Prism ini, membolehkan para pejabat untuk mengoleksi material berupa search history, isi percakapan email, file yang ditransfer, percakapan livechat, dan dokumen.

Sebagaimana Washington Post, redaksi The Guardian juga mendapatkan materi bocoran ini dari sebuah slideshow presentasi Powerpoint yang diklasifikasikan sebagai “top secret with no distribution to foreign allies”. Dokumen itu biasanya digunakan untuk mentraining para operator intelijen.

Prism dalam dokumen tersebut dinyatakan memiliki akses langsung ke server-server sembilan perusahaan internet raksasa di AS. Tentu saja ini mengguncang jagat data center dunia karena sebagian besar server dunia berada di AS. Timbul pertanyaan bagaimana keamananan data di sana.

The Guardian dan Washington Post menggambarkan apa itu Proyek Prism, siapa yang terlibat, dan apa saja yang disadap. Proyek ini diklaim untuk menjamin keamanan AS dari serangan teroris.

Tak tanggung-tanggung, NSA dalam dokumen itu disebut memiliki akses langsung ke server raksasa penguasa internet dunia. Kesembilan raksasa penguasa dunia maya yang diduga disadap adalah Microsoft, Yahoo, Google, Facebook, PalTalk, AOL, Skype, YouTube, dan Apple.

Proyek Prism ini sudah dijalankan sejak tahun 2007 dan telah menjadi sumber utama rujukan intelijen yang diberikan kepada Presiden AS Barack Obama.

Washington Post, Edisi Jumat, 7Juni 2013 memberitakan bahwa badan inteljen Amerika Serikat secara rahasia menyadap server sembilan perusahaan internet untuk melacak orang. Tetapi raksasa-raksasa internet AS membantah memberikan agen-agen AS akses langsung ke server pusat mereka.

Di dalam negeri, berita ini menimbulkan kegelisahan tentang seberapa jauh Pemerintah Amerika Serikat harus menyusup ke privasi warga demi keamanan nasional.

Letjen James Robert Clapper

Letjen James Robert Clapper

Menanggapi hal itu, Direktur Dinas Inteljen Amerika Serikat, Letnan Jendral James Robert Clapper hanya mengatakan bahwa berita yang dimuat Washington Post dan the Guardian tersebut banyak yang tidak akurat, tanpa menjelaskan lebih detil pernyataannya.

Ia mengatakan program pengumpulan komunikasi itu dirancang untuk memfasilitasi akuisisi informasi intelijen asing menyangkut orang non AS yang tinggal di luar Amerika Serikat. Menurutnya, program itu tidak bertujuan untuk menyasar warga negara AS atau siapa saja yang berada dalam wilayah Amerika Serikat. “Program tersebut didukung Pasal 702 Undang-Undang Pengintaian Intelijen Asing yang telah disetujui ulang oleh Kongres sesudah rapat dengar pendapat dan debat. Informasi yang dikumpulkan dalam program ini termasuk yang paling penting dan informasi intelijen paling berharga, dan digunakan untuk melindungi negara kita dari berbagai ancaman”, katanya, Kamis, 6 Juni 2013.

Jenderal Keith Alexander

Jenderal Keith Alexander

Direktur National Security Agency (NSA), Badan Keamanan Nasional Amerika  Serikat, Jenderal Keith Alexander saat memberi keterangan di hadapan Kongres hari Rabu, 12 Juli 2013, mengatakan bahwa badan yang dipimpinnya sedang menyelidiki bagaimana Edward Snowden mendapat izin yang memungkinkannya melihat informasi tentang pemantauan NSA atas hubungan komunikasi telepon dan pesan-pesan yang dikirim melalui Internet, walaupun ia putus sekolah di perguruan tinggi dan bekerja di beberapa tempat sebagai karyawan tingkat rendahan.

Alexander sangat prihatin mengenai bagaimana seorang tenaga kontrak yang mempunyai pendidikan dan pengalaman kerja yang terbatas, diijinkan memperoleh akses ke rincian-rincian penting program pengintaian pemerintah, lalu membocorkan informasi itu kepada dua surat kabar.

Meskipun demikian, Alexander membela program pengintaian NSA. “Dengan program itu telah berhasil dihentikan puluhan kegiatan teroris di Amerika Serikat dan di negara-negara lain dalam beberapa tahun ini”, katanya.

Industri IT Membantah

Menurut laporan situs Gigaom, beberapa petinggi industri TI AS menolak berkomentar, sebagian mengatakan tak mengetahui proyek tersebut. Yahoo mengklaim tak menyediakan akses langsung. “Yahoo! memperlakukan privacy pengguna sangat serius. Kami tak menyediakan akses langsung kepada agen pemerintah ke server, sistem, atau jaringan kami.”

Apple menolak bahwa mereka terlibat. “Kami tak pernah mendengar Prism. Kami tak pernah menyediakan akses langsung ke server kami untuk agen pemerintahan. Jika ada agen pemerintahan yang ingin mengoleksi data kustomer, dia harus mendapatkan izin dari pengadilan” Menurut laporan The Guardian, Apple sebelumnya menolak terlibat program. Namun akhirnya bergabung pada 2012, setahun setelah meninggalnya pendiri Steve Jobs.

Facebook mengatakan tak menyediakan akses langsung. “Kami tak menyediakan akses langsung bagi agen pemerintahan ke server Facebook. Ketika Facebook diminta data atau informasi tentang spesifik individu, kami akan berhati-hati menerima permintaan itu, seperti harus disertai dengan bukti diperbolehkannya oleh hukum, dan menyediakan informasi hanya jika diminta oleh hukum.” Sementara itu, laporan The Guardian mengungkapkan, Facebook bergabung dengan Prism pada tahun 2009.

Google menyatakan tak punya “pintu belakang” untuk agen pemerintah. “Google peduli sangat terhadap keamanan data pengguna kami. Kami menyimpan data pengguna dari pemerintah sesuai ketentuan hukum. Kami akan mereview dengan hati-hati jika ada permintaan semacam itu. Dari waktu ke waktu, orang-orang menduga kami telah membuatkan “pintu belakang” bagi pemerintah untuk mengakses sistem kami. Tapi, Google tak punya pintu belakang bagi pemerintah untuk mengakses data privat pengguna.”

Paltalk sempat menolak berkomentar. “Kami tak pernah mendengar Prism. Pengalaman Paltalk sangat peduli dalam menjaga dan mengamankan data pengguna. Kami hanya merespons permintaan pengadilan atas nama hukum. Paltalk tak pernah menyediakan agen pemerintah manapun untuk mengakses langsung server kami.”

Microsoft mengatakan tak pernah menyuplai data ke PRISM. “Kami menyediakan data pengguna hanya jika ada permintaan resmi sesuai jalur hukum, dan tak pernah memberikan begitu saja. Kami hanya menyediakannya dengan perintah pengadilan untuk permintaan akun spesifik aatu identitas spesifik. Jika pemerintah memiliki program untuk memperoleh data kustomer secara besar-besaran, kami tak ikut terlibat di dalamnya.”

Dropbox, yang masuk dalam list “coming soon” dalam presentasi NSA, menolak bahwa mereka bagian dari program itu. “Kami telah melihat laporan bahwa Dropbox mungkin akan diminta berpartisipasi dalam program pemerintah yang disebut Prism. Kami bukan bagian dari program itu dan tetap berkomitmen untuk melindungi privacy pengguna kami.”

Pertemuan di Hongkong

Bagaimanakah kisah awal sehingga Snowden membuat buat geger orang-orang penting dunia? Berikut ini saduran dari The Guardian Edisi Kamis, 6 Juni 2013 yang dimuat di tempo.co, 22 Juni 2013.

Glenn Greenwald

Glenn Greenwald

Edward Snowden diyakini tiba di Hongkong pada pada hari Senin, 20 Mei 2013. Di sini dia bertemu Glenn Greenwald dan Laura Poitras. Greenwald adalah wartawan penulis kolom komentar media Inggris, The Guardian. Poitras adalah pembuat film dokumenter.

Pertemuan Hongkong itu sudah disiapkan lama. Januari, Snowden mengontak Poitras. Pertengahan Februari, ia mengirim email ke Greenwald di Brazil. Tak yakin dengan tawaran soal bocoran dokumen rahasia, Greenwald tak bertindak untuk menanggapi tawaran tersebut. Baru bulan Maret, Poitras menelpon dan meyakinkan Greenwald untuk menerima tawaran Snowden.

Greenwald lantas ke New York, Amerika Serikat, untuk berbicara dengan pemimpin redaksi The Guardian di sana, pada 31 Mei 2013. Hari berikutnya, ia dan Poitras terbang ke Hongkong. “Dia memiliki beberapa skema rumit untuk bertemu,” kata Greenwald.

Snowden menyuruhnya pergi ke sebuah lokasi di lantai tiga sebuah hotel dan bertanya dengan suara keras ke mana arah menuju restoran. Lalu mereka pergi ke sebuah ruangan berisi buaya besar tiruan, dan bertemu pria membawa Kubus Rubik.

Laura Poitras

Laura Poitras

Greenwald dan Poitras terkejut ketika yang ditemuinya laki-laki 29 tahun, jauh dari seperti yang dibayangkannya: laki-laki beruban, seorang veteran, yang usianya 60 tahunan. “Ini perjalanan sia-sia,” pikir Greenwald dalam hati, saat itu. Setelah satu jam mendengarkan informasi dari Snowden, pandangan Greenwald berubah dan iapun mulai percaya.

Greenwald, dan Poitras, mewawancarai Snowden di kamar yang ia sudah huni selama sekitar dua pekan, dan berita pertamanya muncul di Guardian Kamis, 6 Juni 2013. Snowden memutuskan untuk tidak menjadi sumber anonim karena ia tak ingin keluarga dan teman-temannya direpotkan oleh aksi ‘berbahayanya’ ini. “Saya tidak punya niat untuk menyembunyikan siapa saya karena saya tahu saya tak berbuat salah,” katanya.

Saat berita itu keluar dan namanya disebut, ia tahu dalam bahaya. Minggu 9 Juni 2013, Snowden memberikan wawancara terakhirnya, sebelum akhirnya keluar dari hotel dan menghilang. Dua hari sebelumnya, Presiden Amerika Barack Obama memberikan konferensi pers yang membela program penyadapan NSA.

Hongkong dipilih sebagai tempat berlabuh karena, kata Snowden, “Karena memiliki komitmen untuk menghormati kebebasan berbicara dan berbeda pendapat politik”. Ia percaya bahwa Hongkong adalah salah satu dari sedikit tempat di dunia yang bisa menolak didikte Amerika.

Snowden Jadi Buronan

Setelah itu Snowden bak primadona yang sangat dicari para wartawan media dunia. Para aktifis pembela HAM di Hongkong menggelar demo mendukung Snowden BBC Edisi Selasa, 11 Juni 2013 menulis, Snowden mengatakan Amerika telah mengancam demokrasi. Ia juga mengatakan skala

Hotel Mira Hongkong. Di sini diperkirakan Snowden terakhir menginap sebelum menghilang

Hotel Mira Hongkong. Di sini diperkirakan Snowden terakhir menginap sebelum menghilang

pengintaian yang dilakukan Amerika Serikat sudah berada di level menakutkan. “Kami dapat menaruh alat penyadap di mesin-mesin. Begitu masuk ke jaringan, saya dapat mengidentifikasi mesin itu. Anda akan tidak pernah bisa selamat seberapa besar perlindungan yang dilakukan”, kata Snowden.

“Saya tidak ingin tinggal dalam masyarakat yang melakukan hal seperti itu. Saya tidak ingin hidup di dunia di mana semua yang saya lakukan dan katakan direkam. “Bila mereka ingin menjaring Anda, mereka akan lakukan itu,” kata Snowden.

Dia juga menyatakan kekhawatirannya tentang Pemerintah Amerika Serikat akan bertindak agresif terhadap siapapun yang mengenalnya. “Itulah yang membuat saya terjaga pada malam hari”, katanya.

The Wallstreet Journal Edisi Jumat,  14 Juni 2013 juga menulis, akibat Snowden lari dan bersembunyi di Hongkong ini, maka Pemerintah RRC dicurigai terlibat kongkalikong.

Dua anggota Komite Intelijen Dewan Perwakilan Rakyat Amerika Serikat menduga Edward Snowden, bekerja sama dengan pemerintah RRC. Dugaan itu masih belum disertai bukti. Mike Rogers dan Dutch Ruppersberger, pemimpin komite tersebut, mempertanyakan kemungkinan bahwa Snowden membelot ke Hong Kong dan memiliki hubungan tertentu dengan Cina. “Jelas, kami akan memastikan bentuk koneksinya dengan Cina,” kata Roger. Seraya menyebut Snowden sebagai pengkhianat, Rogers menyatakan, “Kita perlu bertanya lebih banyak tentang motif dan koneksinya, di mana ia berada, mengapa ia di sana, bagaimana ia bertahan di sana, dan apakah pemerintah Cina betul-betul bekerja sama”

Pernyataan itu terlontar menyusul rapat tertutup komite dengan Jenderal Keith Alexander, Direktur NSA sekaligus Kepala Komando Cyber AS. Dalam rapat iru, Alexander memberikan lebih banyak perincian mengenai dua program NSA yang dibocorkan Snowden ke sejumlah surat kabar tersebut.

Hong Lei, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri pada Kamis 13 Juni 2013 sudah menegaskan mereka adalah korban, bukan pihak yang bertanggung jawab atas peretasan.

Uni Eropa Protes Keras

Menyusul The Guardian dan Washington Post, sebuah majalah Jerman, Der Spiegel hari Minggu, 30 Juni 2013 meluncurkan berita yang ditulis berdasarkan dokumen rahasia Badan Keamanan Nasional Amerika (NSA), yang diperoleh dari Edward Snowden, yang kini menjadi buronan. Dokumen

Martin Schulz

Martin Schulz

bulan September 2010 itu merinci bagaimana NSA memasang mikrofon-mikrofon di kantor-kantor Uni Eropa di Washington, PBB dan Brussels, dan bagaimana badan intelijen itu menyusup ke jaringan komputer Uni Eropa dengan mengakses email-email dan dokumen-dokumen.

Kontan saja hal ini membuat Ketua Parlemen Eropa, Martin Schulz, merilis sebuah pernyataan, sebagaimana dimuat Voice of America, yang meminta klarifikasi berita itu dan informasi lebih lanjut dari pihak berwenang Amerika. Schulz mengatakan jika benar, berita itu akan berdampak buruk pada hubungan Uni Eropa dan Amerika.

Sehari kemudian, Presiden Perancis Francois Hollande juga menunjukkan rasa tidak sukanya. Dalam berita yang dimuat BBC tanggal 1 Juli 2013, ia menegaskan tidak akan ada negosiasi atau transaksi dengan Amerika Serikat di bidang apa pun sampai ada jaminan bahwa AS tidak memata-matai para pejabat Uni Eropa.

“Kami tak bisa menerima perilaku semacam ini antara mitra dan teman. Kami tahu ada sistem yang perlu dipantau, terutama dalam perang melawan aksi teror. Tapi saya kira resiko ini tak ada di dalam kedutaan besar kami atau Uni Eropa. Semua unsur telah dikumpulkan guna menuntut penjelasan. Kami ingin ini dihentikan secepatnya,” kata Hollande.

Presiden Francois Hollande

Presiden Francois Hollande

Selanjutnya, Menteri Luar Negeri Prancis Laurent Fabius memanggil Duta Besar AS di Paris untuk meminta penjelasan lebih jauh mengenai masalah itu. Pemerintah Prancis mengaku marah karena AS ternyata juga memata-matai koleganya di NATO.

Menlu Fabius, dalam pernyataan persnya,  3 Juli 2013 menyebutkan dirinya sudah menanyakan itu kepada mitranya, Menlu AS John  Kerry. Ia menegaskan, tak ada pembenaran sama sekali , jika benar Amerika melakukan penyadapan terhadap sekutunya negara-negara Uni Eropa. “Perancis sama sekali tak bisa menerima hal ini,” tegasnya

Kanselir Jerman Angela Merkel, melalui juru bicaranya, Steffen Seibert juga menyatakan tidak bisa menerima tindakan mata-mata yang diduga kuat telah dilakukan oleh Amerika Serikat. “Kami tidak bisa menerima tindakan Amerika, kami tidak hidup di era Perang Dingin”, Steffen Seibert kepada pers.

Sementara itu, Menteri Luar Negeri Italia, Emma Bonino, mengatakan Roma sudah meminta klarifikasi Washington soal kegiatan AS memantau komunikasi para pejabat Uni Eropa.

Kanselir Angela Merkel

Kanselir Angela Merkel

Menanggapi protes negara-negara Uni Eropa ini, Presiden Barack Obama mengecilkan kontroversi terkait mengenai apakah Amerika telah memata-matai sekutu-sekutu Eropa-nya, dan mengatakan semua badan intelijen di seluruh dunia juga berupaya memahami apa yang dipikirkan negara lain.

Berbicara di Tanzania, Obama mengatakan Amerika masih mempelajari laporan dalam media mingguan Jerman Der Spiegel tentang program pengintaian itu dan akan menghubungi mitra-mitranya di Eropa untuk memberikan semua informasi yang mereka minta.

Pemerintahan Presiden Barack Obama benar-benar berada dalam situasi yang berbau skandal, ketika warganya sendiri dan negara-negara sahabatnya memprotes program penyadapan yang sebenarnya dibuat di era Presiden George Bush yang mencanangkan perang terhadap terorisme, menyusul serangan terhadap menara kembar World Trade Center di New York pada 9 September 2001.

Amerika Minta Ekstradisi

Begitu mengetahui secara pasti keberadaan Edward Snowden, pihak Gedung Putih telah menghubungi Hong Kong untuk mengekstradisi buronan intelijen AS, Edward Snowden, yang dinilai telah membocorkan rincian aktifitas mengawasan rahasia.

Menlu Emma Bonino

Menlu Emma Bonino

Sebagaimana diberitakan oleh BBC, Sabtu 22 Juni 2013 Pemerintahan Obama telah meminta Snowden agar diekstradisi atas dasar persetujuan antara pemerintah Amerika Serikat dan Cina. Pejabat senior pemerintah AS itu mengatakan, “Jika Hong Kong tidak segera bertindak, ini akan mempersulit hubungan bilateral kami dan menimbulkan pertanyaan tentang komitmen Hong Kong terhadap aturan hukum.”

Sebelumnya, Departemen Kehakiman AS telah mengajukan tuntutan pidana terhadap mantan pengamat dari National Security Agency (NSA) ini. Tuduhan itu termasuk spionase dan pencurian properti pemerintah.

Pejabat setempat mengatakan bahwa tuntutan pidana terhadap Snowden telah diajukan pada Pengadilan Federal di Distrik Timur Virginia. Selain itu, dokumen pengadilan juga telah dibuat dan surat perintah penahanan sementara telah dikeluarkan, kata para pejabat.

Namun ternyata Snowden mendapatlan dukungan dari warga Hongkong. Seperti dilansir AFP, Sabtu, 15 Juni 2013  para demonstran ini terdiri atas berbagai lapisan masyarakat, termasuk anggota parlemen pro-demokrasi, para aktivis dan para ekspatriat yang tinggal di Hong Kong. Mereka melakukan long march ke gedung Konsulat AS sambil membawa spanduk dan meneriakkan tuntutan mereka.

‘Defend Free Speech’, ‘Protect Snowden’, ‘No Extradition’, dan ‘Respect Hong Kong Law’ merupakan beberapa tulisan dalam spanduk mereka. Selain itu, para demonstran juga mengenakan topeng bergambarkan wajah Snowden sambil meniup peluit.

Unjuk rasa di Hongkong menolak upaya ekstradisi Snowden oleh Pemerintah Amerika Serikat

Unjuk rasa di Hongkong menolak upaya ekstradisi Snowden oleh Pemerintah Amerika Serikat

“Hari ini, kami semua meniup peluit (merujuk pada kata whistleblower yang disandangkan pada Snowden),” teriak salah satu demonstran bernama Tom Grundy, yang juga blogger dan aktivis asal Inggris yang tinggal di Hong Kong.

Salah satu demonstran bahkan membawa poster terkenal bergambar Presiden Barack Obama dengan tulisan ‘Hope’ yang sering digaungkannya. Namun poster tersebut diedit menjadi seorang mata-mata dengan headphone besar di kepalanya. Sebuah poster lain bertuliskan: “Betray Snowden, Betray freedom.”

Hong Kong yang merupakan Daerah Administratif Khusus China dan memiliki sistem hukum tersendiri yang berbeda dengan Cina daratan. Wilayah ini menandatangani perjanjian ekstradisi dengan AS pada tahun 1998. Namun beberapa politisi Hong Kong malah memilih untuk memberi dukungan pada Snowden.

Wakil rakyat dari sayap kiri, Leung Kwok Hung, mengatakan bahwa Beijing seharusnya memerintahkan pihak yang berwenang untuk melindungi Snowden, dan para penduduk seharusnya “turut berpartisipasi” melindunginya.

Sementara itu Wartawan BBC di Hong Kong, Juliana Liu mengatakan bahwa Beijing sepertinya tidak akan ikut campur pada tahap awal dari hal yang bisa menjadi sengketa hukum yang panjang ini.

Juiana Liu melaporkan bahwa Snowden meninggalkan sebuah hotel di Hong Kong pada tanggal 10 Juni 2013 setelah mengijinkan beberapa surat kabar untuk menyebutkan namanya sebagai sumber pembocoran data.

“Keberadaannya saat ini tidak diketahui. Kebocoran ini telah menyebabkan publik tahu bahwa AS secara sistematis merampas sejumlah besar data telepon dan internet di bawah program NSA yang dikenal sebagai Prism. Snowden juga menuduh bahwa intelijen AS telah meretas jaringan komputer Cina”, tulis Yuliana Liu.

Snowden Terbang ke Moscow

Ketika Amerika Serikat sedang getol mengusahakan ekstradisinya, justru tersiar kabar bahwa Edward Snowden ternyata sudah secara diam-diam meninggalkan Hongkong dan sedang menuju Moscow.

Koran South China Morning Post memberitakan dengan mengutip seorang “sumber terpercaya” yang menyebut bahwa Snowden telah meninggalkan Hongkong dan dijadwalkan tiba di Moskow pada Minggu (23/06/2013) sore waktu setempat. Koran itu juga mengatakan bahwa Moskow tidak akan menjadi tempat pelarian terakhir bagi Snowden.

Pemerintah Teritorial RRC membenarkan bahwa buronan intelijen Amerika Serikat, Edward Snowden, telah terbang meninggalkan Hong Kong. “Edward Snowden meninggalkan Hong Kong hari ini (23/06/2013) atas kemauannya sendiri menuju ke negara ketiga melalui jalur yang normal dan sah,” seorang pejabat pemerintah di Hong Kong menyatakan.

Dalam pernyataan itu pejabat RRC juga mengatakan, “Karena pemerintah administratif Hong Kong tidak memiliki cukup informasi untuk memproses permintaan penahanan itu, tidak ada landasan hukum untuk melarang Snowden meninggalkan Hong Kong.

Leung Chun Ying

Leung Chun Ying

Kepala Daerah Administrasi Khusus Hong Kong, Leung Chun Ying, dalam pernyataan resminya, Senin (24/06/213) mengatakan tidak ada dasar hukum untuk mencegah Edward Snowden meninggalkan kota itu. “Snowden meninggalkan Hongkong sementara pihak berwenang masih memproses permintaan ekstradisi Amerika dan sedang meminta Washington untuk menyediakan informasi penting lebih lanjut mengenai kasus tersebut”, kata Leung Chun Ying kepada wartawan.

Leung menambahkan, keberangkatan Snowden dari Hongkong dengan menumpang pesawat Rusia ke Moskow adalah contoh yang baik tentang kepatuhan wilayah itu terhadap aturan hukum berdasarkan prinsip satu negara dua sistem. Di bawah sistem itu, China memberi Hongkong otonomi yang tinggi tetapi berhak mengontrol urusan kebijakan luar negeri.

Tentu saja hal ini sangat mengecewakan Amerika Serikat. Diberitakan oleh BBC bahwa Juru bicara Dewan Keamanan Nasional Amerika Caitlin Hayden, mengatakan Washington kecewa dengan keputusan untuk mengizinkan Snowden meninggalkan Hongkong. “Amerika telah mengajukan permintaan yang sah menurut hukum kepada Hong Kong agar menangkapnya guna keperluan ekstradisi berdasarkan perjanjian bilateral”, katanya.

Hayden juga mengatakan Amerika mengajukan “keberatan yang kuat” kepada Pemerintah Hongkong dan China dan mencatat bahwa perilaku seperti itu sebagai merugikan hubungan Amerika-Hongkong dan Amerika-China.

Wakil Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, William Burns, mengaku kecewa dengan sikap Cina yang tidak menyerahkan pembocor rahasia intelijen AS Edward Snowden ketika ia melarikan diri ke Hong Kong.

Yang Jiechi

Yang Jiechi

Namun Menlu Cina, Yang Jiechi, membela langkah Beijing dalam kasus Snowden yang tudingannya atas penyusupan AS ke jaringan internet Cina telah memicu kehebohan di Beijing.

“Pemerintah pusat Cina selalu menghormati langkah pemerintah otonomi khusus Hong Kong dalam menangani kasus-kasus sesuai dengan hukum yang berlaku,” kata Yang Jiechi.

Sebagaimana diberitakan oleh surat kabar South China Morning Post, sebelum meninggalkan Hongkong Snowden mengatakan bahwa NSA memantau telekomunikasi RRC dengan taget utama Universitas Tsinghua, salah satu universitas bergengsi yang terkenal karena melatih beberapa pemimpin terkemuka RRC. Universitas ini mengelola salah satu dari enam jaringan yang menjadi tulang punggung internet China, The China Education and Research Network.

Benjamin Koo, seorang profesor di Departemen Teknik Mekanik Universitas Tsinghua mengatakan, jika tuduhan-

Prof Benyamin Koo

Prof Benyamin Koo

tuduhan Snowden itu benar, menunjukkan bahwa Amerika mungkin telah mengakses sejumlah besar data personal dan akademis. Bukan sekedar pelanggaran kekayaan intelektual tapi juga gagasan yang mungkin ingin kita simpan sendiri”, ujar Benjamin Koo.

Parahnya, tuduhan-tuduhan Edward Snowden ini muncul menjelang KTT antara Amerika dan China (US-China Strategic and Economic Dialogue) yang dijadwalkan bulan Agustus 2013, di mana keamanan dunia maya akan menjadi isu utama.

Justru sejak tahun 2011 pemerintahan Obama telah menuduh China sebagai sumber sejumlah besar serangan dunia maya terhadap komputer badan-badan pemerintah dan bisnis di Amerika. Tuduhan Snowden bahwa Amerika meretas China ini, tentu saja mencoreng muka para petinggi negeri Paman Sam ini.

Mengajukan Suaka Politik

Kemudian Snowden yang dikabarkan terbang ke Rusia telah tiba Bandara Sheremetyvo Moscow dan saat itu masih berada di ruang transit.

Koran The New York Times, Edisi Selasa, 26 Juni 2013 menulis, keberadaan Snowden tersebut dibenarkan oleh Presiden Rusia Vladimir Putin. Presiden Putin juga mengatakan bahwa Snowden bermaksud terbang menuju Kuba untuk kemudian ke Ekuador guna mendapat suaka.

Tekait dengan ekstradisi yang diminta Amerika Serikat, Putin menyatakan negaranya tidak akan mengekstradisi Snowden ke Amerika. Senada dengan dia, Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov kemarin mengatakan keinginan Amerika untuk mengekstradisi pembocor rahasia Badan Keamanan Amerika (NSA) Edward Snowden tidak berdasar dan tidak bisa diterima. Dia juga menyebut Rusia tak punya kaitan dengan rencana penerbangan mantan anggota CIA, demikian The New York Times memberitakan.

Tampaknya penolakan Rusia atas permintaan Amerika itu menandakan Negeri Beruang Merah itu tidak mau didikte Amerika atas kasus melibatkan intelijen. Terlebih lagi Snowden yang masih berada di bandara di Moskow lebih dari satu hari bisa menimbulkan spekulasi Rusia tengah mengorek informasi lebih banyak dari dia atau kedua negara tengah melakukan tawar-menawar soal Snowden.

Ketika “tinggal” di ruang transit Bandara Sheremetyvo dan aktifis dari LSM Human Right Watch dan seorang pengacara Anatoly Kucherena, yang membantu Snowden.

Dengan bantuan aktifis dari LSM Human Right Watch inilah diperkirakan, Snowden mengajukan permohonan suka ke berbagai negara.

Brazil, Finlandia, Jerman, India, Polandia adalah negara yang langsung menolak permohonan suaka politik mantan tenaga kontrak NSA itu. Bolivia, Cina, Kuba, Perancis, Italia, Belanda, Nicaragua, Russia, Venezuela, belum memberikan tanggapannya. Sedangkan, Austria, Ekuador, Eslandia, Irlandia, Norwegia, Spanyol, Swiss mengatakan Snowden harus berada di wilayahnya dulu untuk dapat mengajukan permohonan suaka.

Presiden Evo Morales

Presiden Evo Morales

Gara-gara aktifitas Snowden yang meminta suaka ke berbagai negara ini, maka sempat terjadi empat negara Amerika Selatan mengatakan akan menarik duta besarnya dari sejumlah negara Eropa.

Langkah ini dilakukan menyusul tindakan sejumlah negara Eropa yang melarang pesawat Presiden Bolivia, Evo Morales melewati wilayah udara mereka, karena dicurigai membawa pembocor Edward Snowden.

Saat itu Evo Morales saat itu tengah melakukan perjalanan pulang dari Moskow, sebaimana diketahui Snowden berada lebih dari sepekan di ruang transit Bandara Sheremetyvo Moscow. Menteri Luar Negeri Bolivia, David Choquehuanca yang berada di satu pesawat mengatakan Prancis dan Portugal menutup wilayah udara mereka karena kecurigaan Snowden ada di pesawat. Pesawat jetnya sempat diperbolehkan mengisi bahan bakar di Spanyol sebelum akhirnya mendarat di Wina, Austria. Presiden Morales terpaksa menjadwal ulang perjalanan pulangnya dari ruang transit bandara Wina.

Pasca kejadian tersebut empat negara Amerika Selatan, yaitu Brasil, Argentina, Venezuela dan Uruguay mengatakan bahwa insiden tersebut telah melanggar hukum internasional. Mereka mengatakan akan memanggil pulang duta besar mereka dari Prancis, Spanyol, Portugal dan Italia.

Negara-negara di Eropa mengatakan insiden itu sebagai kesalahpahaman. Prancis telah meminta maaf dan menyalahkan munculnya informasi tidak akurat itu. Sementara Spanyol mengatakan bahwa mereka telah menerima informasi yang salah bahwa Snowden ada di pesawat yang ditumpangi oleh Presiden Morales.

Menteri Luar Negeri Uruguay, Luis Almagro dalam pidatonya di pertemuan tingkat tinggi di Montevideo mengatakan tindakan yang dilakukan oleh pemerinta negara-negara Eropa sebagai sebuah tindakan yang tidak berdasar, diskiminatif dan sewenang-wenang.

Menanggapi geger internasional tentang dirinya itu, Edward Snowden melalui situs Wikileaks yang dikutip BBC, menuding Presiden AS Barack Obama menghilangkan haknya untuk mencari suaka.

Tudingan Snowden ini merupakan pernyataan pertamanya sejak ia kabur ke Rusia dari Hong Kong pada 23 Juni 2013 lalu. Presiden Obama menurut Snowden telah menekan sejumlah negara yang jadi sasaran permintaan suakanya. Snowden melukiskan dirinya sebagai warga tanpa negara, dengan menuding pemerintah AS menghalanginya mendapatkan hak dasarnya, mencari suaka.

“Presiden memerintahkan wakilnya untuk menekan pimpinan sejumlah negara yang sudah jadi lokasi permintaan suaka politik saya agar negara itu menolak. Kebohongan semacam ini dari seorang pemimpin dunia bukan bentuk keadilan, hukuman tambahan luar pengadilan untuk seorang yang mengasingkan diri juga bukan keadilan,” tulis Wikileaks mengutip mantan analis data rahasia ini.

Presiden SBY juga disadap?

Irjen Pol Boy Salammudin

Irjen Pol Boy Salammudin

Ternyata Pemerintah Amerika Serikat juga sempat meminta bantuan polisi internasional, termasuk Polri, untuk memburu pelaku pembocoran program intelijen Badan Keamanan Nasional AS (NSA), Edward Snowden. Kadiv Hubungan Internasional Polri, Irjen Pol Boy Salammudin mengatakan, pihaknya telah menyiapkan satuan tugas jika Snowden masuk ke Indonesia.

“Dalam hal Snowden ini memang ada teman-teman dari sana (Amerika Serikat) yang memang meminta bantuan kita untuk melakukan penangkapan. Itu apabila Snowden transit di Indonesia,” kata Boy di Markas Besar Polri, Jakarta Kamis (8/8/2013), sebagaimana diberitakan oleh detik.com.

Sebelumnya, Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) mengakui Snowden sebagai orang yang membocorkan penyadapan terhadap Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono.

“Itu sudah jelas. Kan kita juga punya agen kita di Inggris, dari agen kita yang di Inggris kita tahu. Kemudian agen kita yang di Australia juga ada, sampai pemberitaan itu akhirnya diangkat,” ujar Kepala BIN Letjen Marciano Norman di Jakarta, Jumat, 2 Agustus 2013 lalu.

Letjen TNI Marciano Norman

Letjen TNI Marciano Norman

Sebagaimana kita ketahui, berbagai media telah memberitakan adanya penyadapan atas Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan rombongan saat KTT G-20 di London pada tahun 2009. Bahkan Jumat, 26 Juli 2013 koran harian terkemuka Australia, Sydney Morning Herald – sebagaimana dikutip ABC News – melaporkan Perdana Menteri Australia, Kevin Rudd, memperoleh keuntungan atas kegiatan mata-mata ini.

Beberapa anggota DPR RI mendesak pemerintah Indonesia meminta permintaan maaf dari pihak-pihak yang terlibat, namun ada juga yang menyarankan agar pemerintah cukup membuat pernyataan terbuka dalam kasus itu.

Namun, Juru Bicara Kantor Kepresidenan untuk Urusan Luar Negeri, Teuku Faizasyah, mengatakan bahwa masih perlu dikukuhkan lebih lanjut kebenaran dari laporan tersebut.

“Faktanya atau keakurasiannya masih harus kita uji kembali. Nanti kita memiliki mekanisme interaksi hubungan antara komunitas intelijen dan juga tentunya interaksi secara formal melalui Kementrian Luar Negeri masing-masing Pada dasarnya mana ada yang mengakui bahwa pihaknya menyadap pihak lain,” kata Teuku Faizasyah sebagaimana dikutip ABC News.

Snowden Mendapat Suaka

Kantor Berita Perancis AFP yang kemudian dikutip Kantor Berita Antara, melaporkan seorang pejabat imigrasi Rusia, pada hari Senin, 15 Juli 2013 mengatakan buronan Amerika Edward Snowden telah mengajukan permohonan suaka sementara selama satu tahun di Rusia, sebelum kemudian disalurkan ke negara lain.

snowden bersama lsm

Edward Snowden didampingi Sarah Harisson dari Wikileaks (kiri) dan aktivis HAM saat jumpa pers di Bandara Moscow

Pejabat itu, yang berbicara kepada wartawan Rusia dan internasional dengan syarat identitasnya dirahasiakan, mengatakan Sarah Harrison seorang aktivis WikiLeaks yang mendampingi Snowden telah menyerahkan permohonan suaka itu ke Konsulat Rusia di zona transit bandara Sheremetyevo, Moskow Minggu malam.

Dikabarkan pula oleh AFP bahwa Presiden Rusia Vladimir Putin mengatakan negaranya belum pernah mengekstradisi siapa pun sebelumnya dan bahwa buronan Amerika Edward Snowden boleh tetap berada di Moskow jika ia berhenti membocorkan informasi.

Putin juga mengatakan, “Jika Snowden ingin tinggal di Rusia, ia harus berhenti merugikan mitra kami, Amerika – tidak peduli kalau pernyataan ini mungkin terdengar aneh karena datang dari saya”. Presiden Rusia mengatakan mantan tenaga kontrak NSA itu bukan agen Rusia dan menegaskan kembali bahwa dinas intelijen Rusia tidak bekerja sama dengan Snowden.

Akhirnya, pada Kamis (1/8/2013), Edward Snowden meninggalkan zona transit bandara Sheremetyevo, Moskwa, yang menjadi tempat tinggalnya selama satu bulan terakhir ke tempat yang dirahasiakan dengan alasan keamanan.

Snowden meninggalkan bandara setelah Pemerintah Rusia memberinya suaka politik sementara selama satu tahun di Rusia. “Snowden sudah meninggalkan bandara Sheremetyevo. Dia baru saja menerima dokumen resmi yang memberi dia suaka sementara di Rusia selama satu tahun,” kata Pengacara Snowden, Anatoly Kucherena dikutip oleh AFP.

Presiden Obama Marah

Presiden Amerika Serikat Barack Obama pada Rabu, 7 Agustus 2013 memutuskan untuk membatalkan pertemuan bilateralnya dengan Presiden Rusia Vladimir Putin yang dijadwalkan akan dilangsungkan bulan depan di Moskow.

Juru Bicara Gedung Putih Jay Carney, yang dikutip Kantor Berita Reuters, menjelaskan bahwa pembatalan terjadi karena kekesalan pemerintah AS terhadap keputusan Rusia yang memberikan suaka Edward Snowden. Bekas tenaga kontrak NSA itu dinilai Gedung Putih telah membeberkan informasi sensitif soal pengumpulan data intelijen oleh AS.

Gedung Putih mengatakan merasa kecewa terhadap Rusia dalam hal kemajuan masalah-masalah seperti kebijakan menyangkut Afghanistan, Iran, Korea Utara dan perlucutuan senjata dan juga tentang bagaimana Rusia menangani masalah Snowden.

snowden paspor

Dengan dokumen semacam paspor ini, Snowden dapat tinggal selama setahun di Rusia

“Karena tidak adanya kemajuan dalam masalah-masalah seperti pertahanan peluru kendali dan pengawasan senjata, perdagangan dan hubungan dagang, masalah-masalah keamanan global, dan hak asasi manusia serta masyarakat madani dalam dua belas bulan terakhir ini, kami telah memberi tahu Pemerintah Rusia bahwa menurut kami akan lebih baik untuk menunda pertemuan puncak itu sampai kita mencapai lebih banyak hasil dari agenda-agenda yang kita miliki,” kata Jay Carney.
“Keputusan mengecewakan yang diambil Rusia dengan memberikan suaka sementara kepada Edward Snowden juga menjadi faktor yang membuat kami harus mempertimbangkan situasi hubungan bilateral kita saat ini,” ujar Jay Carney menambahkan.

Tiga hari kemudian, Presiden Amerika Serikat Barack Obama, saat jumpa pers di Gedung Putih Washington DC membantah kalau pembatalan pertemuannya dengan Presiden Rusia Vladimir Putin, karena hubungan AS dan Rusia sedang buruk. “Tapi kebenarannya adalah bahwa kita berada di kesepahaman yang sama dan seringkali itu sangat produktif,” kata Obama, dikutip Reuters, Sabtu, 10 Agustus 2013.

Sementara itu, banyak pihak menilai hubungan AS-Rusia jatuh ke salah satu titik terendah sejak Perang Dingin dan berpotensi memicu Perang Dingin Jilid II, dikarenakan Rusia berikan suaka sementara kepada Edward Snowden. Atas hal itu, Obama menanggapinya dengan santai. “Saya pikir ada selalu ketegangan dalam hubungan AS-Rusia setelah jatuhnya Uni Soviet,” ucapnya.

Kremlin Juga Kecewa

Keputusan AS itu membuat pihak Kremlin kecewa berat. Penasehat Bidang Luar Negeri Presiden Rusia, Yuri Ushakov mengatakan, langkah tersebut menandakan, Negeri Paman Sam itu tak bisa mengembangkan hubungan dengan Rusia atas dasar kesetaraan.

Apalagi, kata dia, Rusia tak bisa disalahkan terkait urusan Snowden. “Keputusan AS jelas terkait situasi mantan agen, Edward Snowden, yang sama sekali bukan ditimbulkan pihak kami,” kata dia, seperti dimuat BBC, 7 Agustus 2013.

Juga bukan salah Rusia yang tak mengekstradisi Snowden ke negara asalnya. “Selama bertahun-tahun AS selalu menghindar terkait penandatanganan perjanjian ekstradisi,” kata Ushakov. “Dan mereka selalu merespon negatif permintaan kami yang mengajukan ekstradisi terhadap sejumlah orang yang melakukan tindakan kriminal di teritori Rusia.”

Namun, dia menambahkan, undangan untuk pertemuan bilateral masih terbuka. “Wakil Rusia siap untuk terus bekerja sama dengan mitra Amerika di semua isu-isu kunci dalam agenda bilateral dan multilateral,” kata Ushakov.

Produser Flim Tertarik Kisah Snowden

Phillip Noyce

Phillip Noyce

Edward Joseph Snowden, lahir 21 Juni 1983 dan dibesarkan di Wilmington, North Carolina, sebelum pindah ke Ellicott City, Maryland. Ibunya, Wendy, adalah wakil kepala petugas administrasi dan teknologi informasi di Pengadilan Federal di Baltimore. Ayahnya, Lonnie, mantan perwira Coast Guard yang tinggal di Pennsylvania.

Dia tidak menyelesaikan kuliahnya, tapi belajar komputer dan mendapatkan ijazah. Snowden menghabiskan empat bulannya sebagai tentara cadangan Angkatan Darat, dari Mei sampai September 2004. Ia mengaku dipecat setelah kakinya patah akibat kecelakaan.

Pria lajang ini benar-benar menyedot perhatian dunia. Phillip Noyce, produser yang terkenal sering menghasilkan film-film spionase dan petualangan menegangkan yang telah mengungkapkan ketertarikannya pada kisah sang tenaga kontrak yang oleh para aktifis HAM dianggap sebagai pahlawan kebebasan berbicara ini.

Kepada NBC News, produser film “Salt” dan “Patriot Games” itu mengungkapkan telah membaca banyak artikel berita tentang Snowden. Noyce menyatakan kisah tersebut dapat dengan mudah difilmkan karena mengandung unsur menegangkan yang dibumbui elemen komedi.

Presiden Amerika Serikat Barack Obama dan Presiden Rusia Vladimir Putin

Presiden Amerika Serikat Barack Obama dan Presiden Rusia Vladimir Putin

“Kisah Snowden adalah sebuah film yang sedang dimainkan di depan mata kita, meskipun kita tidak dapat melihat apapun. Kita tidak dapat membedakan seorang pahlawan atau musuh pada karakter utama. filmnya. Kita akan terdorong untuk berspekulasi tentang motivasinya, apakah karena niat yang didasari keyakinan untuk melindungi kepentingan masyarakat dunia ataukah dia sendiri telah menjadi korban bahwa dengan menjadi tokoh antagonis dia akan terus dikenang,” urai Noyce.

Lepas dari apakah Snowden itu pahlawan atau pengkhianat, faktanya dia telah membuat Presiden dan pejabat tinggi Amerika Serikat kalang-kabut. Sebuah mimpi buruk yang terwujud dalam sebuah kenyataan yang mungkin tak terbayangkan oleh sebuah negara adidaya Amerika Serikat. (Tkr-dari berbagai sumber)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s