Mendiang Hugo Chavez, Presiden Venezuela Pengagum Bung Karno

Hugo Rafael Chávez Frías

Hugo Rafael Chávez Frías

SELASA dini hari, 5 Maret 2013. Sebuah kematian selalu menyisakan kehilangan. Suara Wakil Presiden Venezuela Nicolas Maduro pun bergetar saat mengumumkan berita duka itu. “Kami baru saja menerima kabar duka. Pagi ini, pukul 04.25 (waktu setempat) Presiden Hugo Chavez Frias meninggal dunia. Ini sungguh menyakitkan,” ujarnya.

Sang commanders itu akhirnya menyerah setelah dua tahun berjuang melawan kanker yang menggerogoti tubuhnya. Chavez didiagnosis mengidap kanker pada Juni 2011. Setelah itu ia harus sering mondar-mandir Caracas-Havana, Kuba untuk menjalani perawatan. Ia sering menghilang dari publik selama berminggu-minggu.

Namun dalam sakitnya, pria 58 tahun ini sempat berkampanye untuk Pemilu Oktober 2012. Ia bahkan berhasil menang mudah. Namun setelah itu kondisinya memburuk, hingga ia harus menjalani operasi untuk yang keempat kalinya.

Seolah menyadari waktunya sudah dekat, sebelum berangkat ke Havana, Desember 2011 lalu Chavez menunjuk Nicolas Maduro sebagai ‘pengganti’ jika memang maut menjemputnya. Operasi kali ini ternyata tak berjalan seperti yang diharapkan.

Jutaan rakyat mengangisi kepergian sang peminpin tercinta

Jutaan rakyat mengangisi kepergian sang peminpin tercinta

Presiden Venezuela Hugo Chavez, menghembuskan nafas terakhirnya setelah berjuang melawan kanker selama dua tahun. Warga Venezuela berduka cita akan kepergian presiden mereka. Presiden Chavez merupakan sosok yang dekat dengan rakyat dan mensejahterakan rakyat dengan uang hasil ekspor minyak untuk mendukung kebutuhan sandang, pangan, papan penduduk Venezuela.

Hugo Rafael Chávez Frías, lahir pada tanggal 28 Juli 1954,  di rumah berlantai tanah dan berkamar tiga. Ia dari kalangan keluarga kelas pekerja di Sabaneta, Barinas. Hugo adalah anak kedua dari tujuh bersaudara. Adán Chávez adalah anak paling bungsu. Orang tua mereka hidup miskin, sehingga mereka mengirim Hugo dan Adán untuk tinggal bersama neneknya, yang Hugo sebut sebagai “sosok yang murni kasih sayang tulus, kebaikan sejati.”

Chavez saat dilantik sebagai perwira muda dengan pangkat Letnan Dua

Chavez saat dilantik sebagai perwira muda dengan pangkat Letnan Dua

Neneknya adalah penganut Katolik Roma dan Hugo menjadi putra altar di gereja setempat. Hugo menyebut masa kecilnya miskin dan sangat bahagia dan mengalami minder, kemiskinan, rasa sakit, kadang tidak bisa makan, serta ketidakadilan dunia.

Mengenyam pendidikan di Sekolah Dasar Julián Pino, hobi Chávez adalah menggambar, melukis, bermain bisbol, dan mempelajari sejarah. Ia sangat tertarik dengan jenderal federalis abad ke-19 Ezequiel Zamora. Kakek buyutnya pernah berdinas bersama Zamora. Pada pertengahan 1960-an, Hugo, abang, dan neneknya pindah ke kota Barinas supaya keduanya bisa bersekolah di SMA satu-satunya di negara bagian pedesaan ini, SMA Daniel O’Leary.

Pada usia 17 tahun, Chávez masuk Akademi Ilmu Militer Venezuela di Caracas. Di Akademi, ia menjadi anggota kelas pertama yang mengikuti kurikulum baru bernama Andrés Bello Plan. Kurikulum ini dicetuskan oleh sekelompok perwira militer progresif dan nasionalis yang percaya militer butuh perubahan.

Saat menetap di Caracas, ia malah melihat lebih banyak kemiskinan endemik yang dihadapi kaum pekerja Venezuela, mirip dengan kemiskinan yang dulu ia rasakan. Ia bersikeras bahwa pengalaman ini menjadikannya lebih semangat mengejar keadilan sosial.

Ia juga mulai terlibat dalam serangkaian aktivitas lokal di luar sekolah militer, bermain bisbol dan sofbol bersama tim Criollitos de Venezuela, melaju bersama mereka ke Kejuaraan Bisbol Nasional Venezuela. Hobi lain yang ia jalankan pada masa itu adalah menulis puisi, cerita, dan drama teater, melukis, dan mempelajari kehidupan dan pemikiran politik revolusioner Amerika Selatan abad ke-19 Simón Bolívar. Ia juga tertarik dengan revolusioner Marxis Che Guevara (1928–19667) setelah membaca memoarnya, The Diary of Che Guevara, padahal buku biografi yang ia baca sangat beragam.

Ketika Chavez sudah menjadi perwira militer, merasa tidak puas dengan sistem politik Venezuela, ia mendirikan organisasi rahasia Revolutionary Bolivarian Movement pada awal 1980-an yang bertujuan menggulingkan pemerintahan. Chávez memimpin MBR-200 dalam aksi kudeta pemerintahan Presiden Carlos Andres Perez dari Partai Aksi Demokrasi pada tahun 1992, sayangnya gagal dan ia dipenjara.

Hugo Chavez dengan baju kebesaran sebagai Presiden Venezuela

Hugo Chavez dengan baju kebesaran sebagai Presiden Venezuela

Setelah bebas dari kurungan selama 2 tahun, ia mendirikan partai politik demokrasi sosial bernama Gerakan Republik Kelima. Ia kemudian terpilih sebagai Presiden Venezuela pada tahun 1998. Chávez langsung memperkenalkana konstitusi baru yang menambah hak-hak kaum terpinggirkan dan mengubah struktur pemerintahan Venezuela. Ia terpilih lagi pada tahun 2000. Pada masa pemerintahannya yang kedua, ia memperkenalkan sistem Misi Bolivarian, Dewan Komunal, koperasi pekerja, dan program reformasi tanah, sambil menasionalisasikan sejumlah industri penting di Venezuela. Ia terpilih lagi dengan jumlah suara 60%. Pada 7 Oktober 2012, Chávez memenangkan pemilu presiden untuk keempat kalinya, mengalahkan Henrique Capriles, dan terpilih untuk masa jabatan selama enam tahun.

Hugo Chavez dikenal sebagai sosok pemimpin yang memiliki kebijakan luar negeri anti Amerika Serikat, ia menggunakan minyak sebagai soft power yang memungkinkan negara lain untuk turut tidak tunduk dan patuh terhadap ideologi maupun kekuatan militer AS. Chavez telah membangun aliansi menjauh dari AS bersama dengan Cina, Iran, Kuba, dan Belarusia. Chavez juga membuat kegiatan paralel anti-AS pada Pertemuan Puncak Amerika OAS, menciptakan Aliansi Bolivarian untuk Amerika (ALBA), CELAC, dan perjanjian perdagangan yang tidak mendukung liberalisasi dan privatisasi, serta berdiskusi dengan Rusia untuk penggelaran rudal baik di Kuba maupun Venezuela.

Untuk kepentingan masyarakat miskin di dunia, Chavez mengeluarkan belanja internasional yang besar dengan menawarkan banyak bantuan, investasi, dan subsidi kepada negara lain sebanyak mungkin. Menurut PBB, investasi langsung Venezuela di luar negeri melampaui 8 persen dari APBN dan lebih besar 2 persen dibandingkan rata-rata negara penghasil minyak. Chavez pernah mengunjungi Indonesia untuk membantu para korban Tsunami Aceh dengan dana bantuan 2 juta dollar AS untuk bidang pendidikan, kesehatan, dan perumahan.

Pengagum Bung Karno

Hugo Chavez ternyata sangat mengagumi pemikiran Bung Karno, terutama gagasan menyatukan bangsa dari berbagai negara di kawasan Amerika Selatan dan Afrika.

Chavez menjadi pemrakarsa utama organisasi negara-negara Amerika Selatan dan Afrika (ASA) yang digagas dalam pertemuan di Nigeria pada 2006 dan pertemuan di Venezuela pada 2009. Pada tanggal 22 Februari 2013, dalam kondisi kesehatan yang memburuk, Hugo Chavez mengirimkan sepucuk surat kepada 63 delegasi negara Amerika Latin dan Afrika yang tengah menggelar pertemuan ke-3 ASA di Equatorial Guinea.

Dalam surat itu, Chavez mengajak semua negara ASA membangun jaringan kerja yang otentik dan permanen untuk menemukan strategi pembangunan berkelanjutan yang menguntungkan kedua benua. “Adalah di benua kita, di mana terdapat sumber alam yang cukup, juga sumber sumber politik dan sejarah… untuk menyelamatkan planet dari kekacauan yang ditimbulkan oleh sistem kapitalisme,” ujarnya dalam surat yang dibacakan Menteri Luar Negeri Elias Jaua, sebagaimana dikutip dari http://www.venezuelanalysis.com.

Dia mengajak agar negara-negara anggota ASA tidak kehilangan kesempatan untuk menyatukan kapasitas dalam sebuah kutub kekuatan yang sesungguhnya. Kekuatan Barat, bukanlah sumber dari solusi yang komprehensif dan definitif yang dapat digunakan untuk menyelasaikan berbagai persoalan yang kini ada.

Hal ini ditegaskan oleh Duta Besar Venezuela untuk Indonesia, Darwin Tovar, dalam sebuah pertemuan dengan Rachmawati Soekarnoputri di Universitas Bung Karno (UBK), Selasa (9/4/2013). “Presiden Chavez sangat mengagumi perjuangan Bung Karno di masa lalu. Gagasannya tentang ASA juga dipengaruhi oleh perjuangan Bung Karno menggelar Konferensi Asia Afrika tahun 1955 lalu,” ujarnya saat itu.

Dubes Tovar yakin, keberanian Bung Karno dan pemimpin-pemimpin Asia-Afrika lainnya kala itu juga menginspirasi pemimpin-pemimpin negara dunia saat ini yang ingin menjalin kerjasama damai dan saling menguntungkan dengan negara lain tanpa tekanan dan kecurangan.

Rachmawati mengatakan, kendati Perang Dingin sudah berakhir, namun ajaran-ajaran Bung Karno terasa masih sangat relevan. Dalam praktik hubungan antar-bangsa dan antar-negara, ujar Rachma, masih ada penindasan yang terjadi. Terkadang penindasan itu berlangsung dengan cukup halus dan tanpa terasa.

rachmawati

Duta besar Venezuela saat menerima buku “Di Bawah Bendera Revolusi” dari Rachmawati Soekarnoputri.

Sebagai kenang-kenangan Rachmawati memberikan buku Di Bawah Bendera Revolusi yang telah dialihbahasakan ke dalam bahasa Inggris menjadi Under the Banner of Revolution kepada Dubes Tovar.

Dubes Tovar mengunjungi Rachmawati untuk menjajaki kemungkinan membentuk sebuah organisasi persahabatan yang menghubungkan masyarakat kedua negara. Rachma yang merupakan pendiri Perhimpunan Persahabatan Indonesia-Korea Utara mengatakan, sudah sepatutnya masyarakat kedua negara didekatkan melalui sebuah wadah persahabatan.

Setelah Chavez meninggal dunia, wakil presiden Nicolas Maduro, terpilih untuk menggantikannya. Sebelum meninggal dunia, Chavez berpesan agar Maduro melanjutkan kekuasaannya.

Dalam pertemuan dengan Rachmawati itu, Dubes Tovar juga mengatakan bahwa kaum oposisi di negaranya menjadi kepanjangan tangan dari negara-negara asing yang ingin menguasai kekayaan alam Venezuela dan terganggu dengan sikap Venezuela selama ini dalam melindungi kekayaan alam itu. “Venezuela adalah negara dengan cadangan minyak bumi terbesar di Amerika Latin. Kami juga memiliki pertambangan mineral. Pertanian dan peternakan kami juga cukup maju,” ujarnya lagi.

Sementara itu, sekitar setahun sebelumnya, keluarga Hugo Chavez juga menyempatkan diri mengunjungi Blitar tepatnya lokasi pemakaman Bung Karno di kelurahan Bendogerit, Kecamatan Sananwetan, sekitar 2 km ke arah utara pusat Kota Blitar. Dalam rombongan itu, tampak adik Presiden Venezuela Hugo Chavez, Gualberto Chavez. Dia ditemani sejumlah kerabat termasuk istrinya Lenny Chavez, Rafael Nazar, Suzanne Ortiz. Rombongan kecil ini dipimpin oleh putra Soekarno, Guruh Soekarnoputra, Sabtu (21/2/2012).

Mengenakan batik warna merah, Gualberto Chavez datang sekitar pukul 15.00 WIB di makam Bung Karno. Disana, mereka berdoa bersama-sama dan menaburkan bunga diatas makam. Setelah itu, mereka berkeliling melihat lokasi museum dan perpustakaan Bung Karno yang berada tak jauh dari lokasi makam.

Di sana mereka melihat-lihat lukisan dan sketsa perjalanan kemerdekaan RI. Namun satu yang paling menarik hati rombongan itu adalah lukisan diri Soekarno yang konon hidup karena ada detak jantung’ dari lukisan tersebut. Gualberto bahkan cukup penasaran dengan ‘detak jantung’ ini karena bolak-balik dia melihat dari depan dan dari belakang, apa yang menyebabkan lukisan tersebut berdetak.

Kedatangan rombongan kecil ini merupakan kunjungan pribadi. Sebelum mengunjungi Blitar, rombongan ini mengunjungi pabrik Sritex di Solo dan menghadiri rapat koordinasi PDIP Jatim di gedung Arif Rahman Hakim Surabaya. Di sana, mereka diperkenalkan sebagai pemantau dari Venezuela.

Dalam perjalanannya, mereka mengunjugi pabrik Gudang Garam di Kediri. Di sana mereka bertemu dengan jajaran direksi serta diajak berkeliling ke lokasi pelintingan rokok. Di sini, mereka juga tidak ingin terekspose sebagai keluarga Presiden Venezuela dan oleh Guruh, disebut sebagai kawan keluarga.

Keluarga Presiden Venzuela Hugo Chavez terlihat antusias dan tertarik dengan kunjungannya ke Indonesia terutama di makam Bung Karno. Tak banyak yang bisa dikorek dalam kunjungan tersebut. Adik presiden Chavez, Guelbarto Chavez hanya mengharapkan Guruh bisa membalas kunjungannya ke Venezuela. ‘’Memang benar bahwa Presiden (Hugo Ghavez, red) menjadi pengagum atas filosofi dan pikiran-pikiran Soekarno. Saya berharap Guruh juga mengunjungi Negara kami pertengahan Maret mendatang,’’ ujar Guelbarto lewat penerjemahnya, Rafael Nazar.

Guruh menambahkan bahwa keluarga ini merupakan pengagum akan pikiran-pikiran Soekarno. ‘’Memang presiden maupun orang tua Chavez merupakan pecinta Bung Karno dan dalam prakteknya juga mengadopsi dan menerapkan Pancasila dalam kehidupan sehari-hari,’’ ujarnya.

Hal ini membuatnya prihatin karena di dalam negeri sendiri, sudah banyak yang tidak memahami nilai-nilai Pancasila dan UUD 1945. Banyak pula produk hukum yang makin lepas dari akar Pancasila dan semangat UUD 1945. ‘’Yang membuat saya prihatin adalah banyak generasi muda yang hanya mengenal dan mencintai sosok Bung Karno namun tidak tahu persis soal sejarah dan ajaran Bung Karno,’’ ujarnya. (Tkr-dari berbagai sumber)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s