Eli Cohen, Agen Mossad yang Nyaris Jadi Presiden Suriah

LIPSUS 77 Eli Cohen cvr

Eli Cohen

Eli Cohen

ELI COHEN yang mempunyai nama lengkap Eliyahu ben Shaul Cohen dikenal sebagai pahlawan, agen mata-mata Israel paling terkenal. Ia lahir di wilayah pemukiman Yahudi, di kota pelabuhan  Alexandria pada 16 Desember 1924. Ayahnya, Shaul Cohen, berimigrasi dari Aleppo, Suriah ke Mesir pada tahun 1914.

Eli sangat pandai dalam pendidikan sekolahnya terutama pada bidang matematika dan bahasa, dua ilmu penting dalam spionase. Ketika Mesir mulai terlibat dalam Perang Dunia II, ia sempat mendaftarkan diri ke Angkatan Bersenjata Mesir, namun ditolak dengan alasan loyalitas yang diragukan, sebagaimana bangsa Yahudi lain di berbagai negara.

Ketika di Mesir ia sudah dicurigai, karena melakukan kegiatan mata-mata. Bahkan pada tahun 1952, ia pernah terlibat aktivitas mendukung Zionisme dan ditangkap oleh aparat keamanan Mesir. Ketika di Mesir inilah ia mengerjakan tugas-tugas yang membuat hubungan Mesir dengan dunia Barat memburuk. Beberapa contoh aksi yang ia lakukan adalah membantu operasi intelijen Mossad melakukan sabotase di kedutaan besar Inggris dan Amerika. Pada tahun 1956, Mesir melakukan kampanye anti Yahudi dan memaksa Cohen meninggalkan negeri piramida tersebut. Cohen berhasil keluar menuju Naples lalu masuk ke Israel.

Israel sudah sejak lama ingin menguasai Dataran Tinggi Golan yang menjadi perbatasan dan benteng alam, Suriah – Israel. Selain strategis secara pertahanan, Dataran Tinggi Golan menyediakan sekitar 30% sumber air untuk Israel, bahkan tiga anak sungai utama Sungai Yordan; Dan, Baniyas, dan Hatzbani semua berasal dari sana. Nilai vital Dataran Tinggi Golan ini yang menyebabkan Israel berkeinginan untuk menguasainya.

Dataran tinggi Golan yang hijau dan subur. Wilayah Suriah yang sekarang dikuasai Israel

Pada waktu itu, Suriah yang dibantu oleh Soviet, sedang mencoba untuk mengalihkan sumber sungai Yordan dengan tujuan agar Israel tidak mendapatkan sumber air untuk negaranya. Hal ini menyebabkan perencana Departemen Pertahanan Israel membutuhkan data yang akurat dari seorang intelijen mengenai proyek pengalihan air, rencana rekayasa, diagram, peta dan rincian lainnya meliputi rencana modernisasi militer Suriah. Hingga akhirnya pada 1960 mereka memutuskan untuk merekruit Eli Cohen sebagai agen dan menerjunkannya dalam operasi spionase ke Suriah setahun kemudian.

Eli sudah cukup dikenal karena terlibat dalam Hacherut, sebuah organisasi gerakan pemuda Yahudi Mesir. Kemudian, Eli juga terlibat dalam Operasi Goshen, sebuah sandi operasi penyelundupan (pemulangan) ribuan orang Yahudi ke Palestina selama 1945-1948.

Setelah diusir dari Mesir dan dipulangkan ke Israel akibat beberapa operasi militer & intelijen Israel terhadap Mesir, ia dipekerjakan di unit kontra-spionase di Departemen Pertahanan Israel. Hingga pada akhirnya ia meminta terjun ke lapangan karena tidak tahan bekerja di belakang meja, dan kemudian direkrut oleh Mossad, dinas Intelijen Israel yang terkenal itu.

Agen Mossad

Logo Mossad

Logo Mossad

Setelahitu Eli Cohen dikenal dengan identitas baru bernama samaran Kamel Amin Tsa’abet, lahir di Beirut, Lebanon dari orangtua asli Suriah. Dalam perjalanan hidup fiktif dan sesuai misi intelijen pertamanya, dikatakan Kamel Amin Tsa’abet bermigrasi ke Argentina dan berdagang tekstil.

Dalam misi pertamanya di Argentina, ia berkenalan dengan Kolonel Amin Al-Hafaz (Amin Al-Hafez), atase militer Kedutaan Besar Suriah, yang kelak terpilih menjadi Presiden Suriah melalui kudeta tak berdarah pada tahun 1963. Ini pula yang menyebabkan Eli Cohen bisa masuk ke lingkaran kekuasaan Suriah.

Di Argentina ia bergaul dan menjadi akrab dengan komunitas Suriah di negara Amerika Latin tersebut. Bahkan tak satu pun orang bisa mengenalinya, bahwa Kamel Amin Tsa’bet sesungguhnya adalah Eli Cohen, seorang Yahudi yang sedang bekerja untuk dinas intelijen Israel, Mossad.

Kolonel Amin Al-Hafaz (1965)

Kolonel Amin Al-Hafaz (1965)

Hanya dalam waktu yang sangat singkat, ia sudah sangat akrab dengan komunitas Suriah di Argentina. Tak hanya itu, Eli Cohen bahkan sudah mulai berpengaruh dalam komunitas tersebut. Maklum, semua ini memang telah dirancang, dan Mossad tentu saja tidak ingin semua investasi yang telah ditanam dalam diri Cohen sia-sia.

Ada pepatah, “Seorang agen yang baik sama nilainya dengan satu divisi tentara”. Eli Cohen dianggap berjasa bagi Mossad dan Israel terutama kontribusinya dalam Perang Enam Hari (1967). Ia mendapatkan data rinti tentang posisi meriam, jumlah pasukan, tank, artileri udara Suriah sepanjang Dataran Tinggi Golan, data bunker, membangun hubungan baik di lingkungan bisnis, militer, dan partai Ba’ath.

Pada tahun 1961, Suriah dilanda kemelut politik yang melahirkan kudeta militer. Cohen pergi dari Argentina dan kembali Israel, kemudian masuk ke Damaskus dan menjadi salah satu anggota partai Baath dan menjadi seorang pejuang Arab yang militan tanpa seorang pun mengetahui bahwa ia sebenarnya adalah seorang Yahudi, agen Mossad. Ia mendapatkan rekomendasi dari pejabat di kedutaan Suriah di Argentina untuk pulang dan memberi manfaat kepada Suriah.

Di dalam partai Baath ia menjadi orang yang sangat berpengaruh. Ia bahkan terlibat dalam Muktamar Nasional keenam yang dilakukan oleh partai Baath pada 5 Oktober 1963 yang dihadiri tokoh pendiri partai Baath sendiri. Michael Afflaq, sang pendiri partai bahkan berjanji menemui Eliahu Cohen.

Maurice Cohen

Maurice Cohen

Keterlibatannya dalam elit politik di Suriah, membuat Cohen mengumpulkan informasi yang sangat kaya. Sepanjang tahun 1962 sampai 1965, ia menyuplai Israel dengan berbagai informasi, mulai dari foto, sketsa pertahanan, nama-nama dan strategi militer Suriah. Dan data-data yang dikumpulkan oleh Cohen ini sangat berguna bagi Israel pada peristiwa Perang Enam Hari antara negara-negara Arab dan Israel.

Eli Cohen hampir terpilih sebagai Deputi Menteri Pertahanan Suriah dalam kabinet Presiden Amin Al-Hafez yang sebenarnya dia dipersiapkan untuk jadi Menteri Pertahanan, karena itupula Eli Cohen selalu mendapatkan informasi teraktual dan rinci tentang militer Suriah.

Menurut keterangan Maurice Cohen, saudara sekaligus temannya sesama agen Mossad, Eli hanya tinggal tiga langkah lagi menjadi Presiden Syria pada saat terbongkarnya kegiatan mata-mata yang ia lakukan.

Perannya dalam Perang 6 Hari

Karena kedekatannya dengan lingkaran penguasa Suriah saat itu, ia adalah satu-satunya warga sipil yang diperbolehkan foto di lingkungan instalasi militer Suriah. Eli menyarankan pada pejabat milliter Suriah untuk menanamkan pohon Kayu Putih (Eucalyptus) di Dataran Tinggi Golan dengan alasan kamuflase sekaligus peneduh bagi pasukan militer.

Setelah sarannya disetujui oleh militer Syria, ia segera memberikan informasi tersebut ke dinas intelijen Israel. Selama Perang Enam Hari, informasi berharga ini digunakan oleh Angkatan Udara Israel (IAF) yang dengan mudahnya menghancurkan sebagian besar bunker Syria yang terlindung dibalik pepohonan. Pepohonan Eucalyptus ini sampai sekarang masih terlihat di Dataran Tinggi Golan dan menjadi saksi bisu sejarah kekalahan Syria.

Eli Cohen digantung di Alun-alun Kota Damaskus

Eli Cohen digantung di Alun-alun Kota Damaskus

Selama di Syria, Cohen juga banyak memperoleh dan mengumpulkan informasi tentang pilot-pilot pesawat tempur Angkatan Udara Syria. Termasuk nama asli mereka, nama alias beserta keluarganya. Banyak pihak mengatakan bahwa informasi dari Cohen inilah yang digunakan oleh Mossad selama Perang Enam Hari ketika ada dua buah jet tempur Syria yang akan membom Tel Aviv. Ketika kedua jet ini sampai pada sasarannya, Mossad memperingatkan mereka melalui gelombang radio bahwa mereka mengetahui identitas para pilot tersebut, beserta keluarganya dan jika mereka tetap membom, keluarganya akan dibunuh. Para pilot begitu terkejut sekaligus ketakutan yang akhirnya menjatuhkan bom-bomnya ke laut dan kembali ke pangkalan dengan mengatakan target telah dibom.

Terbongkarnya penyamaran Cohen terjadi di bulan Januari 1965. Saat itu puncak dari keluhan operator radio dari kedutaan besar India yang terletak dekat dari apartemen Eli Cohen, mengadu pada polisi karena ada gangguan komunikasi dengan sinyal tinggi di wilayah ini.

Di saat yang bersamaan, aparat intelijen Suriah dibantu dengan para penasehat dari Soviet, curiga dengan adanya pengiriman melalui transmisi radio tanpa ijin. Mobil unit pemindai dikerahkan untuk melakukan pelacakan namun tidak berhasil karena waktu pengiriman berita yang dilakukan Eli Cohen sangat singkat. Selain itu, kecurigaan ini muncul karena beberapa kejadian yang seharusnya informasinya sangat rahasia, ternyata sudah diketahui oleh pihak Israel.

Kisah hidup Eli Cohen difilmkan tahun 1987 dengan judul ''Impossible Spy''

Kisah hidup Eli Cohen difilmkan tahun 1987 dengan judul ”Impossible Spy”

Beberapa hari sebelum penangkapannya, tanpa sepengtahuan Eli Cohen, aparat keamanan Suriah mematikan listrik untuk wilayah tersebut. Eli Cohen yang saat itu akan mengirimkan informasi ke Israel, memutuskan untuk menggunakan baterei. Ini pula yang menjadi kesalahan fatalnya sehingga sinyal radio yang seharusnya tidak ada karena pemadaman listrik menjadi terbaca jelas oleh petugas pemindai.

Setelah mengalami beberapa pertimbangan, Dinas Kontra Intelijen melakukan penyergapan dan menemukan perangkat spionase milik Eli Cohen seperti pemancar, bahan peledak mini dengan daya ledak tingkat tinggi. Berakhir sudah perjalanan “the impossible spy”. Eli Cohen dihukum gantung di Martyr’s Square, di tengah kota Damaskus tanggal 18 Mei 1965. Hingga saat ini jenazahnya belum dipulangkan ke Israel.

Permintaan dari pihak keluarga agar jenazah Cohen dikembalikan ke Israel ditolak mentah-mentah oleh pemerintah Syria (Mei 2006). Pada bulan Februari 2007, pejabat Turki mengkonfirmasikan bahwa pemerintahnya siap menjadi mediator untuk pengembalian jenazah Cohen.

Sebenarnya banyak agen intelijen Israel (Mossad) yang hebat, namun diantaranya adalah Eli Cohen yang paling fenomenal. Kisah hidupnya di filmkan dengan judul, The Impossible Spy (1987). Eli Cohen menjadi Pahlawan Nasional di Israel karena berkat infonya Israel meraih kemenangan telak dalam Perang Enam Hari tahun 1967.

Mental korup para pejabat 

Tapi bukanlah itu yang paling merusak dalam kegiatan Cohen. Kamel Amin Tsa’bet alias Eliahu Cohen telah membuat akhlak dan mental para petinggi di jajaran sipil dan militer Suriah rusak dengan suap dan korupsi, zina dan penyelewengan yang ia fasilitasi. Cohen membawa masuk peralatan komunikasi teknologi tinggi dari Israel, melalui bandara-bandara Suriah dengan cara menyuap pejabat-pejabatan imigrasi di sana. Dan dengan leluasa, peralatan tersebut ia gunakan untuk mentransfer berbagai informasi langsung ke Israel dari rumahnya.

Pengaduan kepada polisi karena ada gangguan komunikasi dengan sinyal tinggi, sebenarnya sudah lama masuk. Tapi laporan-laporan tersebut tidak pernah ditindaklanjuti, karena selain segan pada posisi Eli Cohen, polisi setempat juga telah memakan suap yang disiapkan Cohen untuk melancarkan penyamarannya.

Berita penangkapan Cohen baru muncul dan ramai menjadi perhatian media, beberapa bulan kemudian, saat sebuah radio, Sout al Arab menyiarkan berita yang menghebohkan ini kepada dunia Arab.

Kerusakan yang dihasilkan oleh operasi Cohen ini sungguh luar biasa. Bukan saja pada ranah politik dan pertahanan, keamanan dan rahasia negara, tapi lebih jauh dari itu, Cohen telah berhasil menanamkan jiwa-jiwa korup dalam tubuh birokrasi dan militer di Suriah. Dan ini adalah kerusakaan yang bersifat laten, lebih bahaya dari sekadar serangan militer.

Sit Fadilah Supari

Sit Fadilah Supari

Kondisi yang kurang lebih sama, sedang melanda Indonesia. Korupsi dan penyelewengan kekuasaan, menjadi air bah yang besar dalam pusat politik Indonesia. Dr Siti Fadilah Supari, mantan Menteri Kesehatan pada kabinet periode lalu, tahu benar apa jawaban dari pertanyaan ini. “Indonesia dihancurkan melalui sistem. Seharusnya sistem berpihak pada rakyat, tapi malah menyengsarakan dan menghancurkan pondasi negara. Semuanya sudah masuk dalam sektor kehidupan, entah itu masuk ke wilayah ekonomi, perdagangan, pendidikan, atau kesehatan. Dalam segi kesehatan saya sudah bersusah payah ternyata diubah semuanya melalui sistem neoliberalisme. Konspirasi dari sistem kenegaraan sudah terjadi lama sekali,” tandas Siti Fadilah Supari pada acara diskusi Kajian Zionis Internasional di Gedung Dakwah Muhammadiyah, Jakarta pada akhir Desember 2009.

Bagi Siti Fadilah, hasil dari neoliberalisasi adalah kehancuran bagi yang lemah dan kemenangan bagi yang kuat. Awal 2010 Indonesia masuk wilayah FTA (free trade area). “Banyak pejabat atau pembesar negara menandatangani kebijakan yang menguntungkan pihak asing, hampir 90% dari kekayaan alam sudah bukan milik kita, 90% bank yang ada bukan milik kita. Semuanya sudah dimiliki pihak asing tanpa meninggalkan kepada anak bangsa. Sistem yang berjalan merupakan gurita yang menghancurkan Indonesia,” terangnya lagi.

Abdullah Hehamahua

Abdullah Hehamahua

Sistem yang jelas-jelas salah, seringkali masih digunakan dalam pemerintahan kita. Anggota Penasihat Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Abdullah Hehamahua mengataka, merajalelanya korupsi  di Indonesia karena program kerja jangka pendek, menengah dan jangka panjang pemerintah tidak merujuk pada UUD 1945. Sistem dan program yang dibentuk tidak komprehensif dan tidak mencerminkan aspek kesejahteraan bagi rakyat.

“Sebab korupsi adalah karena program kerja jangka pendek, menengah, jangka panjang, yang disusun oleh pemerintah tidak merujuk pada UUD 1945,” ujar Abdullah di Jakarta, Selasa (31/1). Contohnya gaji PNS saat ini lebih kecil daripada tunjangannya yang berlipat ganda. Gaji pensiun PNS sangat sedikit. “Makanya sebelum pensiun PNS banyak mencari uang agar siapkan masa pensiun. Itu akar korupsi,” ujarnya, sebagaimana dirilis mediaindonesia.com

Guru Besar bidang Sosiologi, Pembangunan Sosial dan Kesejehateraan dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof Dr Susetyawan, mengatakan siapapun dapat terjebak pada praktik korupsi di Indonesia. Tidak saja kalangan alumnus dari perguruan tinggi. Hal itu disebabkan karena sistem sosial dan budaya di Indonesia saat ini memberi peluang bagi siapapun untuk melakukan korupsi.

Dia mencontohkan sistem yang berlaku pada pembahasan hingga penetapan APBN dan APBN-P. Setelah APBN-P ditetapkan, pencairan anggaran yang mencapai ratusan triliunan rupiah tersebut biasanya dilakukan pada bulan September dan Oktober. Sementara Desember sudah harus dilaporkan pertanggungjawaban penggunaan anggaran tersebut.

“Bagaimana bisa duit triliunan itu bisa habis dalam 1-2 bulan. Sementara ada tuntutan penilaian kinerja efektif salah satunya dari sisi penyerapan anggaran. Situasi sistem inilah yang memberi peluang korupsi. Sehingga siapapun yang masuk dalam sistem ini, meskipun dia merupakan orang yang sangat baik, pasti akan terjebak melakukan korupsi. Jadi korupsi ini soal sistem,” jelas Susetyawan, sebagaimana ditulis  detik.com, Selasa (8/5/2012).

Masih banyak lagi contoh sistem bobrok namun dipertahankan, misalnya  betapa hukum tumpang-tindih, hanya membela kepentingan orang-orang kaya, tata kelola kekayaan alam yang didominasi asing, pendidikan yang tidak berdasarkan karakter bangsa yang berPancasila, pasti banyak yang setuju bahwa itu tidak benar dan akan merongrong kehidupan berbangsa dan bernegara. Namun, mengapa masih tetap terjadi?

Joserizal Jurnalis

Joserizal Jurnalis

Joserizal Jurnalis, Presidium Mer-C, berpendapat bahwa maraknya korupsi di negara kita ini adalah sebuah konspirasi internasional yang distilahkannya sebagai  invisible hand (tangan misterius). “Invisible hand merupakan kekuatan yang tidak terlihat mencoba untuk mengatur negara di bidang ekonomi, politik intelijen atau yang lainnya. Jika suatu negara kuat dalam sisi militer, tangan misterius ini masuk ke dalam isu HAM. Jika suatu negara kuat dalam dalam sisi ekonomi, dia masuk dalam isu kapitalis (pasar bebas). Dan jika dalam suatu negara maju dalam sisi teknologi, maka mereka masuk dalam isu dampak senjata nuklir”.

Joserizal percaya, salah satu program kerja the invisible hand di Indonesia adalah melakukan rekayasa degradasi moral. “Beberapa contohnya adalah memasukan narkoba ke sendi-sendi kehidupan,  mental korupsi, perzinahan, penyebaran penyakit. Sehingga mengakibatkan pejabat tidak memiliki intergritas terhadap apapun,” tuturnya.

Semakin marak isu korupsi dipermasalahkan dewasa ini. Tidak hanya di wilayah dalam negeri saja, tapi sekarang korupsi telah meluas hingga melewati batasbatas negara menjadikannya sebagai kejahatan transnasional.

Masalah korupsi sudah merupakan ancaman yang bersifat serius terhadap stabilitas dan keamanan masyarakat nasional dan internasional dan telah melemahkan institusi dan nilai-nilai demokrasi serta nilai-nilai keadilan serta membahayakan pembangunan berkelanjutan dan penegakan hukum. Pernyataan ini sudah merupakan prinsip umum hukum internasional dalam pencegahan dan pemberantasan korupsi.

Apakah itu semua adalah aksi spionase internasional untuk melemahkan bangsa kita, dengan memanfaatkan mental korup pejabat-pejabat tertentu? Eli Cohen, si Agen Mossad itu, 45 tahun yang lalu telah membuktikan bahwa ia bisa memanfaatkan strateginya itu di Suriah. (Tkr, dari berbagai sumber)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s