Semburan Lumpur Gresik “Berbau” Rupiah

Semburan lumpur di Desa Metatu Gresik

Gresik, Sergap – Hingga hari Sabtu, 17 Nopember 2012 siang, semburan lumpur bercampur minyak dan gas masih terus keluar di areal waduk kering milik Desa Metatu, Kecamatan Benjeng, Gresik, Jatim. Jika disbanding sebelumnya, tampak bahwa intensitas semburan semakin tinggi. Diameter pusat semburan pun sudah mencapai 1,5 meter dengan ketinggian sekitar 1 meter dan material lumpur, air, dan minyakpun semakin banyak di sekeliling pusat semburan dan mengalir ke selatan. Namun, karena tanggul setinggi 2 meter dengan radius 100 meter dari pusat semburan sudah rampung dikerjakan. Lumpur bercampur minyak mentah itu pun akhirnya bisa terisolasi karena tertahan tanggul.

Bau minyak yang menyengat terasa sekali di sekitar lokasi, namun dianggap tidak berbahaya ketika dihirup manusia. Hanya saja kandungan gas Metana sebesar 34 low explosive limit (LEL) membuatnya mudah terbakar. Karena itu di beberapa tempat di lokasi dipasang papan bertuliskan dilarang merokok. Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Gresik mewaspadai hal ini, dengan telah nenetapkan tanggap darurat, karena dikhawatirkan akan mengganggu kesehatan warga sekitar semburan dan pengunjung yang semakin banyak.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Gresik, sehari sebelumnya (Jumat, 16/11/2012) bersama relawan Taruna Tanggap Bencana (Tagana) sudah membagikan ribuan masker kepada warga, dipimpin langsung Kepala BPBD Hari Sucipto.

“Sebagai tahap awal, telah dibagikan tiga ribu masker sumbangan PMI. Hari ini (kemarin) kami bagikan 8 ribu,” kata Bupati Gresik Sambari Halim Radianto, kepada wartawan di lokasi semburan.

Juga Berbau Rupiah

Pemkab Gresik, kata bupati, belum bisa memastikan munculnya semburan lumpur minyak itu sebagai bencana. Sebab, pemerintah desa setempat menganggap semburan tersebut sebagai berkah. “Sebab, kata Pak Nurhudi Kades Metatu, semburan itu berbau rupiah,” jelas bupati. Karena anggapan itulah, pemerintah tidak melarang masyarakat untuk melihat semburan. “Tapi, tetap di radius 100 meter dari pusat semburan,” ujarnya.

Warga tampak menyemut di sekitar pusat semburan sejak munculnya fenomena alam yang langka tersebut. Akibatnya, padagang dan parkir dadakan yang dikelola pemuda desa setempat ketiban rezeki. Tarif sekali parkir sepeda motor Rp 2.000-Rp 3.000. “Setiap tim yang terdiri atas 3-4 orang bisa mendapat Rp 600 ribu-Rp 1 juta dalam sehari,” kata Setiawan, salah seorang pemuda Desa Metatu.

Pada hari kelima, munculnya semburan itu. Namun, pemerintah belum bisa memastikan jenis dan jumlah kandungan minyak yang keluar dari perut bumi tersebut. Meski, Bupati Sambari terus mencoba menghubungi Joint Operating Body (JOB) Petrochina East Java yang telah melakukan uji kandungan lumpur minyak tersebut. “Minggu depan, mungkin hasilnya baru bisa diketahui,” katanya.

Bupati Gresik optimistis semburan lumpur minyak di Bendungan Metatu tersebut mengandung minyak. Karena itulah, dia sudah memerintah operator ekskavator untuk melebarkan pematang sawah dari semula satu meter menjadi 10 meter. Pelebaran pematang itu, selain untuk mempermudah gerak petugas keamanan, dilakukan sebagai antisipasi bila hasil uji laboratorium menyatakan bahwa kandungan minyak di semburan lumpur Metatu layak dieksplorasi. “Kalau nanti dinyatakan kandungan minyak di sini layak dieksplorasi, investor yang menggarap biar tidak sulit memasukkan alat beratnya,” jelas bupati.

Namun, sumber di lingkungan operator migas menduga, meski bau minyak cukup kuat, kandungan migas di pusat semburan tidak terlalu besar. “Kalau dilakukan eksploitasi, tidak feasible. Sebab, biaya operasi lebih besar dibanding kandungan minyaknya. Itu berdasar pengalaman, untuk memastikan perlu observasi lebih mendalam” katanya.

Sejak munculnya semburan lumpur minyak, Desa Metatu menjadi pusat perhatian masyarakat. Mereka datang berbondong-bondong untuk melihat semburan lumpur minyak dari dekat. Tidak hanya dari Gresik, banyak pula yang datang dari Surabaya, Lamongan, serta Mojokerto.

Berjubelnya warga mengakibatkan ruas Jalan Raya Metatu”Balongpanggang yang biasanya lengang mendadak ramai. Polisi pun harus menutup ruas jalan raya tersebut untuk kendaraan roda empat selain angkutan umum. Kapolsek Benjeng AKP Imam Syafi”i menyatakan, penutupan ruas jalan itu tidak permanen. “Melihat kondisi massa di sekitar lumpur,” ujarnya kemarin.

Mengantisipasi ramainya “obyek wisata” dadakan ini, maka mobil barang dari Cerme atau Duduksampeyan yang menuju Balongpanggang lewat Metatu sementara dialihkan melewati Jalan Raya Benjeng. “Dari arah sebaliknya (dari Balongpanggang ke Cerme atau Duduksampeyan), juga kami arahkan lewat jalur yang sama,” kata Kapolsek menjelaskan. (win)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s