Ternyata Gunung Raung Sudah Meletus

Gunung Raung dan Kalderanya yang curam

Banyuwangi, Sergap – Gunung Raung yang terdapat di Desa Sumber Arum, Kecamatan Songgon, Kabupaten Banyuwangi yang selama ini dinyatakan berstatus siaga level 3, ternyata sudah meletus terjadi sejak 21 Oktober lalu.

Hal tersebut diungkapkan Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Surono ketika memberikan penjelasan kepada sejumlah pihak berada di Aula Minak Jinggo, , Minggu (4/11/2012).

Surono menyampaikan, bahwa sesuai dengan data yang telah terekam dari GPS maupun seismik menunjukkan Gunung Raung sudah mengalami letusan. Tepatnya mulai pada tanggal 19 Oktober lalu diketahui energi tremor Gunung Raung mulai terus naik secara signikan dari 4 mm, hingga langsung meningkat sampai 14 mm dan mencapai peak pada 26 mm.

“ Jika dilihat dari data kenaikannya cepat sekali. Akan tetapi, sekitar pada tanggal 29 sudah mulai turun mencapai peak 25, 24 sampai dengan 22 dan sekarang masih tetap,”ungkap Surono.

Menurutnya, letusan yang terjadi pada Gunung Raung tersebut juga terungkap dari satelit milik Amerika Serikat. Namun, secara kasat mata mengenai letusan Gunung setinggi 3.332 meter itu tidak terlihat. Kemungkinan saat itu hanya terlihat kepulan asap yang terdapat di puncaknya.

Hal ini dikarenakan Gunung Raung memiliki kawah yang sangat dalam mencapai 400 meter dan kaldera yang sangat luas. Sehingga, ketika saat meletus, baik lava maupun material lainnya tumpah lagi kedalam kaldera tersebut.

“ Hal ini sebagai perbandingan Gunung Merapi yang ada di Jogja. Kedalaman  kawahnya tidak sampai 100 meter, sehingga disaat mengalami letusan terlihat dahsyat. Sedangkan jika dibandingkan dengan Gunung Raung sangat dalam, hal ini juga seringnya masyarakat yang bermukim disekitar Gunung Raung merasakan getaran dan suara gemuruh”, ungkap Surono.

Foto satelit Gunung Raung dan sekitarnya

Ditambahkanya, hingga sampai saat ini erupsi yang terjadi dari Gunung Raung masih terus berlangsung. Meskipun, cenderung menurun tapi didalam penurunan itu tidak signifikan.

“ Masyarakat tidak perlu panik dan diharapkan agar supaya masyarakat tidak beraktifitas dalam radius 3 kilometer dari puncak Gunung Raung. Untuk diluar radius 3 km, masyarakat bisa menjalankan aktivitasnya seperti biasanya,” kata Surono.

Sejarah Letusan Gunung Raung

Letusan pertama yang tercatat tahun 1586. Letusan tersebut tercatat sebagai letusan hebat. Mengakibatkan wilayah disekitarnya rusak dan memakan korban jiwa. Sebelas tahun kemudian, atau pada tahun 1597 Gunung dengan nama lain Gunung Rawon itu meletus lagi. Letusan hebat tersebut kembali memakan korban jiwa. Letusan hebat berikutnya kembali terjadi pada tahun 1638. Letusan mengakibatkan banjir besar dan lahar di daerah antara Kali Setail Kecamatan Sempu dan Kali Klatak Kecamatan Kalipuro, Banyuwangi.

Letusan yang paling dahsyat terjadi di tahun 1730. Tercatat erupsi eksplosif disertai dengan hujan abu serta lahar. Bahkan wilayah terdampak erupsi meluas dibanding letusan pertama, kedua dan ketiga. Korban jiwa pun berjatuhan lagi di saat itu.

Antara tahun 1800 hingga 1808 di waktu pemerintah Residen Malleod (Hindia Belanda) terjadi letusan lagi. Namun tidak sampai mengakibatkan korban jiwa.

Sekali lagi letusan terjadi antara tahun 1812 hingga 1814. Direntang empat tahun itu letusan disertai hujan abu lebat dan suara bergemuruh. Setahun kemudian, di tahun 1815 antara 14 hingga 12 April terjadi hujan abu di Besuki, Situbondo dan Probolinggo.

Selama 44 tahun Gunung Raung relatif tenang. Aktivitas vulkaniknya kembali meningkat pada tahun 1859. Tanggal 6 Juli 1864 terdengar suara gemuruh dan di siang hari menjadi gelap. Baru pada tahun 1881, 1885, 1890, 1896, terjadi aktivitas vulkanik meliputi suara gemuruh, Paroksisma, hujan abu tipis di kawasan Banyuwangi. Dan gempa bumi di kawasan Besuki, Situbondo. 16 Februari 1902 muncul kerucut pusat.

Surono, doktor lulusan Perancis

Pada tahun 1913 antara bulan Mei hingga Desember Gunung Raung kembali bergemuruh, bahkan terjadi dentuman keras. Hal yang sama terjadi tiga tahun berturut-turut. Yakni tahun 1915, 1916 dan 1917. Aliran lava di dalam Kaldera terjadi tahun 1921 dan 1924.

Pada tahun 1927 kembali meletus, letusan asap cendewan dan hujan abu sejauh 30 kilometer keluar dari puncaknya. Ditahun yang sama, tepatnya 2 Agustus-Oktober terdengar dentuman bom dan terlontas sejauh 500 meter.

Hanya tenang setahun, pada 1928 terlihat celah merah di dasar kaldera dan mengeluarkan lava. Fenomena yang sama masih terjadi di tahun 1929. Tahun 1933 hingga 1945 hanya terjadi peningkatan aktivitas. Tidak tercatat adanya kejadian, hanya ada aliran lava di kaldera.

Gunung yang memiliki bibir kaldera seluas 1.200 meter persegi ini kembali meletus, dari 31 Januari hingga 18 Maret, puncak gunung semburkan asap membara dengan guguran. Tinggi awan letusan mencapai 6 kilometer di atas puncak. Abunya menyebar hingga radius 200 meter.

Empat tahun kemudian, 13-19 Februari 1956 terjadi paroksisma. Tercatat pula adanya tiang asap 12 kilometer. Tahun-tahun berikutnya hanya ada peningkatan aktifitas. Namun tahun 1986 letusan asap terjadi di bulan Januari hingga Maret.

Yang terbaru aktivitas vulkanik kembali meningkat pada 17 Oktober 2012. Status Gunung Raung dari normal naik menjadi waspada sehari kemudian. Pada 22 Oktober 2012 statusnya kembali naik menjadi siaga.

PVMBG menyatakan bila sebenarnya Gunung Raung sudah meletus, namun masuk kategori erupsi minnor. Letusan tidak sampai keluar dari kaldera. Itu terlihat dari pantauan setelit Amerika Serikat. Gunung Raung sendiri, gunung api dengan karater berbeda.  “Bila aktivitasnya cepat naik, turunnya pasti sangat pelan. Malu-malu,” kata Surono.

PVMBG sendiri bahkan harus memasang 7 alat untuk penguatan data aktivitas vulkanik Gunung Raung. Itu perlu dilakukan mengingat Sejarah buruk Gunung yang berdiri di perbatasan Kabupaten Banyuwangi, Jember, Bondowoso dan Situbondo ini. “Kita tidak mau sejarah buruknya terulang. Gunungnya gede dan tinggi,” tandas doktor yang akrab disapa Mbah Rono ini. (tim biro besuki)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s