Djarum Kudus Belum Beli Tembakau di Bojonegoro

Tembakau Jawa

Bojonegoro, Sergap – Kesulitan petani tembakau dalam menjual hasil panennya juga terjadi di Kabupaten Bojonegoro. Tembakau Virginia Voor Osgt (VO) dan Tembakau Jawa sejak awal September masih menumpuk di petani dan pedagang, belum bisa dijual ke pabrikan yang biasa melakukan pembelian tembakau.

Seorang pedagang tembakau di Desa Ngrandu, Kecamatan Kedungadem, hari Sabtu (01/09/2012) mengatakan, belum ada pabrik rokok besar yang melakukan pembelian tembakau, kecuali PT Noroyono yang membuka pembelian di Desa Medalem, Kecamatan Baureno. Pembelian yang dilakukan PT Noroyono itupun terbatas, hanya memilih tembakau yang kualitasnya bagus. “Tembakau yang kualitasnya rendah tidak dibeli,” katanya.

Saat ini panen tembakau berlangsung secara merata di sejumlah sentra, baik yang sudah diproses petani maupun yang sudah dibeli pedagang lokal. Namun, menurut dia, pedagang masih kesulitan menjual tembakaunya, karena belum ada pabrik rokok besar yang melakukan pembelian tembakau.

Ia yang memiliki 1 ton tembakau rajangan yang belum bisa terjual, karena belum ada pembeli. Bahkan, enam bal tembakau Virginia VO rajangan, dengan berat sekitar 50 kilogram/bal, yang disetorkan ke PT Noroyono, hanya dibeli dua bal dengan harga rata-rata Rp. 10.000 per kilogram.

“Harga tembakau Rp. 10 ribu per kilogram itu, jauh lebih rendah dibandingkan harga tahun lalu yang bisa mencapai Rp. 25 ribu per kilogram, untuk kualitas yang sama,” kata Suhadak.

Sementara ini, harga tembakau daun basah petikan tengahan yang merupakan kualitas paling bagus di tingkat petani hanya sekitar Rp. 700/kilogram, sedangkan rajangan maksimal hanya Rp. 10.000/kilogram.

Sarif Usman, Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Bojonegoro, mendesak, pabrik rokok besar, seperti PT Djarum Kudus, juga pabrik tokok lainnya, secepatnya melakukan pembelian tembakau, untuk mengamankan harga.

Sebab, lanjutnya, panen sudah berlangsung merata, namun pembelinya baru sebuah perusahaan rokok yaitu PT Noroyono. “Penyebab rendahnya harga tembakau, disebabkan pabrik besar belum melakukan pembelian tembakau,” ujarnya.

Sebelum itu Kepala Dinas Kehutanan dan Perkebunan (Dishutbun) Bojonegoro Achmad Djuparti, optimistis produksi tanaman tembakau di wilayahnya yang luasnya mencapai 9.000 hektare lebih bisa terserap pabrikan.

Pertimbangannya, lanjutnya, pabrik rokok lokal di daerahnya melaporkan akan melakukan pembelian tembakau kering sekitar 12.000 ton.”Kebutuhan tembakau itu, paling tidak membutuhkan areal tanaman tembakau seluas 10.000 hektare,” ucapnya. (pon)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s